"Aku akan mengikis kegelapanmu Naruto, aku akan melindungimu dan memberikan cahaya kepadamu, aku janji!" Sasuke melepaskan pelukannya seraya menghapus air mata Naruto yang mengalir di kedua pipinya. "Bahkan kalau kau ingin...," putus Sasuke sambil mendekati wajahnya ke wajah Naruto. "... aku akan merebut kembali adikmu dari tangan Namikaze," bisik Sasuke sambil mengecup kelopak mata Naruto. "Tidak ada yang boleh membuatmu menangis seperti ini, tidak ada yang boleh membuatmu galau bahkan merasa hancur dan sendiri seperti ini Naruto," Sasuke mengecup hidung Naruto. "Tidak boleh," Sasuke mengecup bibir Naruto.


BIG MISTAKE

DESCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

STORY : ZOMBIE

GENRE : ROMANCE, SHO-AI , HURT/COMFORT,


"Ng," iris gelap itu terbuka. Sebuah senyuman menyambut kedatangan jiwa yang sudah tertidur satu malam suntuk yang sedang terbaring dengan posisi tengkurap dan selimut yang menyelimutinya.

"Pagi, Sasuke," ucap wanita berambut panjang dengan secangkir teh ditangannya. Ia duduk dengan santai disamping ranjang pemuda tersebut. "Seperti biasa ruanganmu rapi dan wangi, dan cocok untuk acara minum teh di pagi hari," Wanita dengan iris amethyst tersebut menutup matanya sambil menyesap aroma teh coklat yang sedang ia teguk tersebut. Sasuke membalikkan kepalanya dan melihat kearah wanita tersebut.

"Hinata," ucap Sasuke sambil menegakkan tubuhnya. "Jam berapa sekarang?" tanya Sasuke sambil memegang kepalanya dan melihat jam weker elang yang yang mengembangkan kedua sayapnya. Dari jam yang ada diperut sang elang, Sasuke dapat melihat jarum jam pendek menunjuk angka 9 dan jarum panjang menujuk angka 4. "Ada apa kau datang pagi-pagi di hari minggu seperti ini Hinata?" tanya Sasuke sambil menurunkan kakinya dari atas ranjang. "Dan seperti biasa kau tidak segan-segan masuk ke kamar laki-laki seperti ini," ucap Sasuke sambil memandang Hinata dengan tatapan tidak suka. Hinata hanya tersenyum kepada Sasuke kemudian ia meletakkan cangkir tehnya diatas meja nakas tepat disamping jam weker pemuda tersebut.

"Sekarang apa masalahmu?" tanya Hinata sambil meletakkan tangannya diatas kedua pahanya. Sasuke terdiam kemudian ia meletakkan tangannya dibelakang tengkuknya dan menggosoknya sambil menundukkan kepalanya dan melirik kearah kanannya. "Kemarin saat aku mengantarkan Naruto pulang aku melihat mobil kepala keluarga Namikaze, aku yakin Namikaze Jiraiya datang menemuimu selaku Presdir dari Perusahaan dan Yayasan Pendidikan Takamanohara," ucap Hinata sambil memandang Sasuke dengan tatapan seriusnya. "Apa yang membuat dia datang ke kampus? Aneh kalau dipikir-pikir lagi," ucap Hinata sambil bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati jendela kamar Sasuke seraya membuka gorden kamar yang cukup tinggi dengan jendela besar yang menghubungkan ruangan tersebut dengan beranda yang mengarah ke arah pegunungan. "Kau tidak melakukan kesalahan bukan Sasuke?" tanya Hinata sambil meletakkan tangannya dibelakang punggungnya dan merasakan sejuknya angin pegunungan pagi itu.

"Dia datang bersama Menma, adik Naruto," ucap Sasuke sambil meremas kedua tangannya. Hinata hanya diam kemudian ia menghela nafasnya. "Memintaku untuk melepaskan Naruto dan menyerahkannya pada mereka,"

"Apa kau menerimanya?" tanya Hinata sambil membalikkan tubuhnya dan melihat kearah Sasuke. Pemuda itu hanya mengangkat bahunya. Hinata menghela nafasnya sambil memegang dahinya. "Kau menolak?" Sasuke tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya. "Kenapa? Kalau kau menolak secara langsung kau mengobarkan api peperangan dengan keluarga itu, kau tahu itu bukan Sasuke?" tanya Hinata sambil mengerutkan dahinya.

"Pastinya aku menolak, dilihat dari wajahnya saja ia tidak terima Naruto jadi bagian keluarga Namikaze, makanya aku menolak," jawab Sasuke dengan wajah malasnya. Hinata terhenyak mendengar jawaban Sasuke tersebut kemudian ia tersenyum.

"Kau tidak pernah berubah ya Sasuke, tahu saja apa yang diinginkan oleh lawan bicaramu," ucap Hinata sambil tersenyum lebar. Sasuke terdiam dengan ekspresi datarnya.

"Yah," jawab Sasuke sambil menggosok tengkuknya dengan tangan kanan. "Walaupun aku tidak tahu pasti apa yang diinginkan Jiraiya, tapi pastinya dia tidak menginginkan keberadaan Naruto, itu yang kurasakan saat ia membicarakan pemuda satu itu," ucap Sasuke sambil melepaskan tangannya dari tengkuknya. "Aku tidak tahan dengan senyum palsunya karena itu kutolak saja, walaupun aku sempat lihat wajah tidak sukanya karena kutolak permintaan cucunya," Sasuke melipat tangannya sambil menghela nafasnya.

Hinata terdiam mendengar jawaban Sasuke tersebut. "Astaga anak ini sejak kapan jadi konslet begini?" pikir Hinata sambil membalikkan tubuhnya dan memegang dahinya. "Eh tapi tunggu dulu, bukannya dia sudah konslet juga sejak Kak Itachi menguber-uber dirinya untuk mencari seorang laki-laki yang telah lama jadi incaran Geng Akatsuki, ah tidak, tidak, Sasuke tidak akan konslet hanya karena masalah mencari orang, dia kan tipenya selalu mendapatkan apa yang diinginkannya," ucap Hinata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ah jangan-jangan...," ucap Hinata sambil menggigit kuku jarinya. Ia membalikkan kepalanya dan melihat kearah Sasuke yang sedang memandang kearahnya dengan tatapan datarnya. "... dia konslet karena tidak bisa bergerak akibat lawan yang ia hadapi kemungkinan bisa menghancurkan seluruh usaha keluarganya dengan sekali tendang saja," ekspresi Hinata berubah menjadi ekspresi terkejut dan kasihan. "Ujung-ujungnya masalah ini karena Naruto, astaga," Hinata terhuyung sambil memegang dahinya.

"Eh, Hinata kau kenapa?" tanya Sasuke sambil berlari mendekati Hinata dan menangkap tubuh wanita yang hendak pingsan tersebut dan membiarkan Hinata duduk diatas karpet.

"Sasuke," tanya Hinata sambil memegang kerah piayama pemuda tersebut dengan kedua tangannya. "Kau suka pada Naruto?" tanya Hinata. Sasuke membelalakkan matanya saat ia mendengar pertanyaan Hinata yang terlihat menuntut tersebut.

"Ekh, kenapa kau menanyakan hal itu?" tanya Sasuke sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Jawab pertanyaanku Uchiha Sasuke!" tuntut Hinata sambil mengguncang-guncangkan tubuh Sasuke.

"Iya... iya... iya, aku jawab...," jawab Sasuke panik saat Hinata mulai membuatnya lehernya sakit dengan perlakuan dari wanita tersebut. Hinata menghentikan perbuatannya dan melihat Sasuke dengan tatapan wajah sedih.

"Kalau kau bisa sampai menciumnya dan berjanji akan melakukan apapun walaupun nyawa taruhannya apa itu bisa dibilang suka Hinata?" tanya Sasuke sambil menggaruk pipi kanannya dengan ujung jari telunjuk dan memalingkan wajahnya dari Hinata yang sangat terkejut mendengar jawaban dari pemuda tersebut. Wajah Sasuke merona dan ia tertawa kecil mengingat kejadian tadi malam saat bersama Naruto dipinggir pantai.

"Ukh," Hinata meremas kuat kerah piyama Sasuke. "TERKUTUK KAU UCHIHA SASUKEEEEEEE," bentak Hinata sambil menghantam perut Sasuke dengan tinjunya.

"UGH, APA SALAHKUUUU?" pekik Sasuke sambil memegang perutnya.

"Tuan Sasuke dan Hinata kenapa?" tanya Naruto pada Kiba yang sedang bermain dengan anjing putih peliharaan Kiba dibelakang kediaman keluarga Uchiha tersebut. Ia melihat kearah beranda kamar Sasuke yang kebetulan dapat dilihat dari halaman belakang rumah mewah tersebut.

"Ha... ha... ha, aku rasa Sasuke sedang kena hukum langit dari Dewi Hinata yang tiba-tiba murka," tawa Kiba sambil mengendong anjingnya yang bernama Akamaru tersebut.

"Ah?" Naruto melihat kearah Kiba dengan ekspresi kebingungan.

"Hah... hah...," Hinata menghembuskan nafasnya dengan kencang melihat kearah Sasuke yang sedang meringkuk memegang perutnya yang sakit.

"Aduh... perutku," keluh Sasuke sambil mengerutkan dahinya. "Hinata apa salahku?" tanya Sasuke sambil melihat kearah Hinata dengan wajah kesakitan dan memegang perutnya.

"Banyak," bentak Hinata sambil melipat tangannya dan berdiri dengan angkuhnya dihadapan Sasuke. Sasuke merengek sambil menggulungkan tubuhnya.

"Kau mengerikan kalau sudah marah," isak Sasuke.

"Ikh," gurat kekesalan menguar dari wajah Hinata saat melihat reaksi Sasuke yang kekanak-kanakkan dihadapannya itu. "Dengar Sasuke!" Hinata duduk dihadapan Sasuke sambil menepuk-nepuk punggung pemuda tersebut. "Kau tidak tahu apa hubungan Uzumaki dan Namikaze bukan?" tanya Hinata sambil duduk menompang dagu. "Aku tahu kau menahan diri untuk tidak ikut campur dengan urusan Naruto dengan Namikaze, dan itu keputusan yang tepat lalu menjadi keputusan yang bodoh disaat yang bersamaan karena itu membuatmu jadi kehilangan image sebagai Uchiha Sasuke yang dikenal tenang dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan demi usahanya, apa kau tidak apa-apa dengan itu semua?" tanya Hinata sambil menghela nafasnya. Sasuke terdiam dengan posisi yang sama.

"Sudah jelas mereka menolak keberadaan Naruto, aku hanya menginginkan apa yang mereka buang," jawab Sasuke sambil meremas tangannya.

"Berarti kau pemulung dong Sasuke?" tanya Hinata sambil melihat kearah Sasuke yang tiba-tiba menggigil. "Mengambil benda yang telah dibuang oleh orang dan memanfaatkannya," Sasuke melihat kearah Hinata dengan tatapan marah.

"Aku tidak peduli, aku suka karena itu aku ambil, mau dibilang pemulung bahkan gelandangan sekalipun aku tidak peduli, yang terpenting kepuasan, aku hanya ingin kepuasan dalam kehidupanku, walaupun aku sadar...," putus Sasuke.

"Manusia tidak akan pernah merasa puas," Hinata tersenyum. "Laki-laki hebat, kau mengambil keputusan tanpa berpikir dulu dan kritis," Hinata mengangkat tubuhnya dan menolong Sasuke bangkit dari posisinya. "Tapi kau pasti sudah tahukan resikonya Sasuke," tanya Hinata sambil memegang bahu pemuda yang tingginya 8 cm lebih dari dirinya tersebut. "Demi Naruto, demi Bibi Kushina aku merelakan Naruto kau lindungi Sasuke, aku mengharapkanmu," ucap Hinata sambil tersenyum dan membungkukkan tubuhnya. "Mohon kerja samanya!" Hinata menutup matanya sambil meletakkan kedua tangannya didepan roknya. Sasuke terdiam melihat reaksi dari wanita yang sekarang ada dihadapannya tersebut.

"Hinata?" ucap Sasuke bingung. "Kenapa?" tanya Sasuke dengan kening berkerut. Hinata mengangkat tubuhnya dan melihat kearah Sasuke dengan wajah polosnya. "Kenapa? Kenapa kau memintaku secara formal begini? Tanpa kau mintapun aku akan melindungi Naruto, tapi kenapa kau...," tanya Sasuke tampak kebingungan.

Hinata tersenyum. "Naruto dan Menma berada dibawah pengawasan keluarga Hyuuga atas permintaan Bibi Kushina sebelum kematiannya, Bibi Kushina adalah ibunya Naruto, ia bekerja sebagai akuntan di perusahaan kami sekaligus penjaga dari keluarga Hyuuga," jawab Hinata sambil tersenyum pada Sasuke. "Yah itu sebelum dia kabur dengan salah satu keluarga Namikaze tentunya," tawa Hinata sambil menggaruk pipinya dengan ujung jari telunjuknya.

"Kalau begitu kau pasti tahu semuanya tentang Uzumaki dan Namikaze ini, Hinata," ucap Sasuke dengan wajah terkejut. Hinata terdiam kemudian ia tersenyum sambil membuang wajahnya.

"Tidak Sasuke, aku tidak mau ikut campur urusan keluarga itu, besar resikonya," jawab Hinata sambil melihat kearah Sasuke.

"Aku yakin kau pasti tahu," desak Sasuke sambil memandang Hinata dalam. Hinata tersenyum kemudian ia meletakkan jari telunjuknya didepan bibirnya.

"Sssst, terkadang sebuah rahasia lebih baik tetap menjadi sebuah rahasia demi kelangsungan hidup kita Sasuke," jawab Hinata. "Meskipun aku tahu semuanya, bukan berarti aku akan memberitahukannya pada laki-laki yang sedang jatuh cinta pada laki-laki yang memiliki hubungan dengan musuhnya saat ini," Sasuke terdiam mendengar pernyataan Hinata tersebut.

"Jatuh cinta?" ucap Sasuke sambil mengerutkan dahinya. "Aku hanya suka pada Naruto, suka dalam artian kekaguman dan perihatin," jawab Sasuke sambil memalingkan wajahnya. Hinata terdiam mendengar pernyataan Sasuke tersebut. "Bukannya kau pernah bilang rasa suka dan cinta itu beda, jadi jangan samakan rasa sukaku dengan cinta," pinta Sasuke sambil memanyunkan bibirnya dan melipat kedua tangannya.

"Hm, benarkah?" tanya Hinata dengan tatapan mengintimidasi.

"Sumpah Hinata, aku tidak jatuh cinta pada siapapun saat ini," ucap Sasuke sambil mengangkat kedua tangannya dengan membentuk huruf V dengan jemarinya.

"Cinta dapat mengubah orang Sasuke dan Sasuke yang kukenal selama ini telah berubah, ia tidak akan bertindak nekat dengan mencium dan bersumpah akan melakukan apapun demi orang lain sampai nyawa taruhannya, lalu alasan apalagi kalau tidak lelaki yang ada dihadapanku ini sedang jatuh cinta pada teman karibku yang bernama Uzumaki Naruto," ucap Hinata sambil tersenyum lebar. Sasuke tercekat dan wajahnya langsung memerah. Dia sendiri juga tidak tahu perasaannya kepada Naruto itu diartikan seperti apa? Yang pasti ia suka melihat Naruto... rasanya nyaman, sejuk serta wangi mentari tercium dihidungnya. Hinata hanya diam melihat Sasuke yang sedang mengusap tengkuknya dengan tangan kanannya dan melirik kesana kemari karena pemikirannya sendiri yang aneh.

"Baiklah... sepertinya aku sudah menemukan jawaban dari pertanyaanku, hi... hi... hi lekas mandi, aku dan Kiba berniat membawa Naruto pergi ke danau di puncak gunung Sennin, kau mau ikut?" tanya Hinata sambil berjalan melewati Sasuke.

"Kalian menginap?" tanya Sasuke sambil berjalan menuju lemarinya. Hinata terdiam kemudian ia mencoba untuk berpikir.

"Yah, sekitar 2 atau 3 hari disana, kau tidak lupakan kalau aku punya mansion di dekat danau," Hinata membuka pintu dan tersenyum kepada Sasuke yang melihat kearahnya.

"Kalau begitu aku tidak akan melihat Naruto selama 3 hari begitu? Gak boleh," bantah Sasuke sambil menutup lemarinya dan menyandang handuk dibahu kirinya.

"Karena itu aku mengajakmu, soal pekerjaan... hm... aku akan meminta Shikamaru selaku asisten Kak Neji menangani perusahaanmu," Hinata tersenyum lebar.

"Lelaki pemalas itu? Bisa-bisa perusahaanku hancur kalau ditangani olehnya," ucap Sasuke dengan wajah tidak suka. Hinata terdiam kemudian ia berjalan kembali memasuki kamar Sasuke dan berjalan menuju beranda.

"Naruto, Sasuke tidak mengizinkanmu ikut, maaf ya sayang, kau tinggal," ucap Hinata pada Naruto yang sedang memeluk bunga mawar yang dipetik oleh tukang kebun keluarga Sasuke. Kiba melihat kearah Hinata dengan Akamaru diatas kepalanya begitupun dengan Naruto. Sasuke terkejut melihat reaksi Hinata tersebut.

"Hm," terlihat wajah kecewa dari wajah Naruto kemudian ia tersenyum dengan kening berkerut. "Ya tidak apa-apa," jawab Naruto sambil memalingkan wajahnya. Hinata terdiam melihat Naruto yang sedang menghapus matanya.

"Jangan menangis begitu dong, kau tahukan kau terikat dengan Sasuke jadi aku tidak bisa seenaknya membawamu kesana kemari seperti dulu, maaf ya," rayu Hinata sambil melirik Sasuke yang terkejut mendengar kata 'menangis' keluar dari mulut Hinata. Narutonya menangis? Narutonya menangis karena keputusannya. Merasa bersalah eh Sasuke? Pemuda itu langsung berjalan dengan cepat menuju beranda dan melihat Naruto yang sedang mengucek-ngucek matanya dengan tangan kanannya.

"Baiklah... baiklah kau boleh pergi tapi aku juga harus ikut," ucap Sasuke. Naruto terkejut kemudian ia melihat kearah Sasuke dengan mata yang basah. "Jadi jangan menangis lagi," pinta Sasuke sambil mengerutkan dahinya. Kiba dan tukang kebun yang dikenal sebagai Konan tersebut terkejut melihat ekspresi Sasuke itu. Uchiha Sasuke merasa bersalah dengan keputusannya? Tidak lucu.

"Iya Tuan, saya tidak menangis, hanya kelilipan," Naruto tersenyum lebar sambil menghapus air matanya. Sasuke terdiam mendengar jawaban Naruto tersebut kemudian ia melihat kesampingnya. Wanita yang seharusnya menjadi sumber kecemasannya terhadap Naruto tidak lagi berada disana.

"Bersiaplah, Sasuke-kyuuuuuun," ucap Hinata sambil melambaikan tangannya pada Sasuke dibalik pintu kamar Sasuke kemudian ia menutup pintu kamar tersebut.

"Hinata, kau...," ucap Sasuke dengan tubuh menggigil dan tangannya yang terkepal.

"Hi... hi... hi," Hinata tertawa cekikikan membayangkan betapa kesalnya Sasuke terhadap kelakuannya.

~Big Mistake~

"Eh," Sasuke membuka matanya dan ia melihat Naruto yang sedang duduk sambil menundukkan kepalanya dengan wajah memerah dan tubuh yang bergetar. "Apa yang...," putus Sasuke sambil menjauhi dirinya dari Naruto.

"Kau... hah... hah...," Naruto mengangkat kepalanya dan melihat Naruto dengan bulir bening membasahi kedua permata saphirenya. Ia memandang Sasuke dengan tatapan marahnya sambil menghapus ciuman Sasuke di bibirnya. "Sekarang aku dapat melihat belangmu, kau...," Naruto menjauhi Sasuke. "... kau memang brengsek," Naruto membalikkan tubuhnya. "Ibu memintaku menjadi lelaki kuat... menghadapi lelaki hidung belang memang keahlianku, tapi sampai terjerat dengan lelaki homo seperti ini... benar-benar keputusan yang salah aku mempercayai laki-laki kaya seperti dirinya, egois dan munafik, seperti laki-laki itu," umpat Naruto sambil berjalan menjauhi Sasuke dengan wajah kesal.

"Naruto... hei... tunggu... Naruto, aku bisa menjelaskan semuanya!" pinta Sasuke sambil berlari mendekati Naruto.

"Tidak perlu... aku tidak perlu mendengar penjelasanmu," ucap Naruto sambil melangkahkan kakinya menuju jalan raya. "Dari awal kau memang mengincar tubuhku, munafik," bentak Naruto. Sasuke terdiam kemudian ia berhenti dan membiarkan Naruto tetap melangkahkan kakinya menjauhi pemuda tersebut. "Kau sama dengan mereka, menjijikan," Naruto memandang kearah Sasuke dengan tatapan mengintimidasi.

"Kau apa maksudmu aku sama dengan mereka?" tanya Sasuke sambil berjalan mendekati Naruto dan menangkap tangan pemuda tersebut. "Asalkan kau tahu ya Uzumaki Naruto," Sasuke meremas tangan Naruto hingga membuat Naruto tampak kesakitan. "Aku paling benci dengan orang-orang yang membanding-bandingkan diriku dengan orang lain apalagi menyamakan dengan orang-orang yang jelas-jelas sangat jelek reputasinya, aku ya aku, mereka ya mereka jangan disamakan dan jangan dibanding-bandingkan, aku dan mereka itu berbeda, ingat itu!" Sasuke memandang Naruto dengan tatapan seekor binatang buas.

"Ikh, lalu... lalu kenapa kau menciumku?" isak Naruto. Sasuke terdiam dan ia melihat tangan Naruto yang ia remas dengan kuat tersebut. "Sakiit," keluh Naruto dengan mata yang basah karena air matanya.

"Karena kau tampak tersiksa dengan hidupmu Naruto," jawab Sasuke sambil mengambil tangan yang ia remas dan mengusap pergelangan tangan pemuda pirang tersebut. "Aku tinggal di Amerika 10 tahun lamanya, kebiasaan mencium orang lain seperti itu sudah menjadi kebiasaanku, jadi aku minta maaf telah lancang, aku lupa kalau disini bukan Amerika aku selalu mencium orang yang sedang bersedih dihadapanku jadi...," pinta Sasuke sambil menundukkan kepalanya. Naruto terdiam kemudian ia tersenyum tipis.

"Ah iya, aku pernah mendengar dari pelayan kalau anda sudah lama tinggal di Amerika, ya sudahlah... lain kali jangan dilakukan lagi, saya mohon!" pinta Naruto sambil menundukkan kepalanya. Sasuke terdiam kemudian ia melihat Naruto yang tersenyum tipis kepadanya.

"Anak ini mudah ditipu!" pikir Sasuke sambil bertompang dagu di jendela mobil milik Hinata. Semilir angin menghempaskan wajahnya dan membuat rambutnya bermain-main dengan riang. Ia mengingat kembali pertengkarannya dengan Naruto yang entah kenapa bisa berbaikan dengan waktu sekejab mata dan Sasuke sendiripun tidak menyangka akan hal itu. "Dan tentunya tidak bisa melihat orang lain memohon padanya, bisa dimanfaatkan nih," Sebuah seringai licik menghiasi wajah tampan dari Uchiha Sasuke.

"Apa yang kau pikirkan Uchiha Sasuke?" tanya Hinata sambil melirik Sasuke yang duduk disamping Naruto yang sedang tertidur diantara mereka berdua.

"Ekh," Sasuke mengangkat kepalanya dan melihat kearah Hinata dengan wajah penuh senyuman. "Tidak ada, aku hanya berpikir betapa indahnya gunung Sennin ini," ucap Sasuke sambil melihat keluar jendela.

"Hm," Hinata bergumam dengan tatapan penuh kecurigaan.

"Sialan, kenapa Hinata jadi seperti ini sih? Sejak kapan dia sensitif kalau menyangkut orang lain seperti ini, dasar sial?" Sasuke membatin sambil melihat keluar jendela.

"Ng," Naruto bergumam dan tiba-tiba mobil bergoyang kala mereka melewati jalan bebatuan.

"Eh," Sasuke merasakan sesuatu menubruk tubuhnya dari belakang. Ia membalikkan tubuhnya dan melihat Naruto yang sedang tertidur bersandar di punggungnya. Pemuda itu tersenyum kemudian ia mendorong tubuh Naruto dari bahunya tapi apa dayanya, Sang Uzumaki sudah kehilangan keseimbangannya dan kembali menubruk bahu Sasuke. "Sudahlah," Sasuke tersenyum kemudian ia mengangkat tangannya hendak memeluk tubuh Naruto dan... "PLAAAAK" Hinata memukul tangan Sasuke dan memandang kearahnya dengan tatapan membunuh. "Sialan," umpat Sasuke sambil memalingkan wajahnya. "Eh," tiba-tiba tubuh Naruto oleng dan kepalanya tepat jatuh ke paha pemuda tersebut. Sasuke melihat kearah Hinata yang hanya bisa melihatnya dengan wajah penuh tanda tanya.

Sasuke hanya diam kemudian ia tersenyum dan mengangkat tangannya seraya mengelus rambut pirang Naruto yang halus. Hinata tersenyum kemudian ia memalingkan wajahnya dan melihat keluar jendela. Kiba yang duduk disamping sopir melihat kearah Sasuke dan Naruto tersebut hanya bisa tersenyum tipis. Ia tidak pernah melihat Naruto begitu nyaman dengan orang yang baru pertama kali ia jumpai seperti saat dia bersama Sasuke. Kiba kemudian mengambil headphonenya dan memasangkannya ke telinganya seraya mendengarkan sebuah lagu sambil menutup matanya. Lelaki dengan tato tersebut lebih memilih untuk tidur daripada menikmati pemandangan yang sering ia lihat selama ini.

Lain hal dengan Hinata ia sibuk dengan pemandangan yang ada diluar dan sesekali ia mengambil foto Sasuke dan Naruto yang sedang terlelap disampingnya. Sopir Hinata hanya tertawa kecil melihat tingkah Nonanya tersebut. Hinata meletakkan telunjuknya di depan bibirnya. Memberi isyarat kepada sopirnya untuk tidak berisik dan Hinata takut itu akan membangunkan ketiga temannya.

"Sasuke, aku tidak menyangka kau bisa berubah hanya karena sahabatku ini," pikir Hinata sambil mengelus kepala Naruto. "Ah iya, Naruto kan memang begitu bisa mengubah orang-orang yang ada disekelilingnya," Hinata tersenyum melihat kearah Naruto dan Sasuke. Disaat ia sedang asyik memerhatikan Sasuke yang sedang tidur dengan posisi kepalanya sedang bersandar ke kaca jendela mobil dan Naruto yang tidur dipaha Sasuke, suara ringtone musik klasik mengalun merdu dari smartphone milik Hinata. Wanita tersebut terkejut kemudian ia mengambil tas kecil tempat dimana smartphonenya tersebut sedang berada. "Ah ya halo, Shino ada apa?" tanya Hinata seraya meletakkan handphonenya tersebut ke daun telinganya. "Hm... iya... biarkan saja, hm... tapi bilang padanya jangan macam-macam disana, meskipun dia tunangan dari Sasuke aku tidak segan-segan mengusirnya kalau dia macam-macam di mansionku sebelum aku tiba disana!" ucap Hinata dengan wajah tersenyumnya. Sasuke membuka matanya saat ia mendengar namanya disebut oleh Hinata kemudian ia melihat kearah wanita tersebut.

"Ada apa Hinata?" tanya Sasuke sambil menguap dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Hinata mematikan handphonenya dan meletakkannya kedalam tas kecilnya.

"Sakura sekarang ada di mansionku," ucap Hinata sambil menghela nafasnya. "Bersama Ino dan Chouji," Sasuke membelalakkan matanya saat mendengar nama Sakura melantun indah dari bibir Hinata. "Aku tidak menyangka ia mau datang ke pegunungan seperti ini hanya untuk menemuimu," ucap Hinata sambil melirik kearah Sasuke. "Ingat Sasuke... aku tidak akan membiarkan siapapun melukai hati Naruto, meskipun rekan kerja perusahaanku sekalipun ingat janjimu... janjimu itu harus ditepati," ucap Hinata lirih. Sasuke terdiam kemudian ia melihat kearah Naruto yang masih terlelap dipangkuannya.

"Kita lihat saja, siapa yang kusakiti untuk melindunginya Hinata," ucap Sasuke sambil mengelus kepala Naruto dan menyeringai. Hinata terdiam kemudian ia tersenyum dan melihat keluar jendela mobilnya.

"Harus ada yang dikorbankan Sasuke, apa kau ingin mengorbankan perasaan Sakura, Sasuke, kejamnya?!" ucap Hinata dengan nada sarkastik.

"Keluargaku yang kejam yang tidak memikirkan perasaanku," bantah Sasuke sambil memalingkan wajahnya.

"Kau pengecut sih, kenapa dari awal gak nolak aja!" ucap Hinata sambil tersenyum pada Sasuke.

"Hei," panggil Sasuke pada Hinata sambil memandang wanita itu dengan tatapan mengintimidasi. Hinata melihat kearah Sasuke sambil menampakkan senyuman lebar ala Putri Hyuuga pada pemuda tersebut. "Kenapa kau begitu sensitifnya kalau berhubungan dengan Naruto? Ada apa Hinata?" tanya Sasuke sambil tersenyum lebar.

"Aku hanya ingin melihat Naruto bahagia, salah?" tanya Hinata sambil tersenyum.

"Yah tidak salah sih, tapi kau hadir dan melindunginya layaknya seorang ibu kepada anaknya,"

"Lho, kau tidak tahu ya Sasuke, bagi Naruto, Hinata itu seperti ibunya sendiri," ucap Kiba sambil melihat Sasuke lewat kaca spion mobil yang sedang melaju tersebut. Hinata melihat kearah Sasuke yang terkejut mendengar ucapan Kiba tersebut. "Kekanak-kanakkan sih tapi yah begitulah Naruto, Hinata terlalu menyayangi Naruto begitupun sebaliknya, tapi ya begitulah perasaan itu hanya sebatas rasa sayang Ibu dan Anak saja, ha... ha... ha... Naruto memang manja," tawa Kiba sambil tertawa. "Hubungan kalian lucu Hinata," Kiba melihat kearah Hinata yang hanya tersenyum mendengar tawa Kiba tersebut.

"Yah, mau bagaimana lagi, aku menikmatinya, Kiba," Hinata tersenyum sambil melihat Naruto yang bergumam dipangkuan Sasuke.

"Yak, kita sampai Nona," ucap sopir yang sedang memakirkan mobilnya di parkiran didepan mansion sederhana. Hinata tersenyum kemudian ia menganggukkan kepalanya. Kiba langsung keluar dari mobil sementara Hinata membangunkan Naruto dengan mengguncangkan tubuhnya.

"Astaga anak ini, apa malam tadi dia bergadang lagi?" tanya Hinata pada Sasuke sambil mengerutkan dahinya. "Ya ampun, Kiba, kau bisa membawa Naruto ke kamarnya?" tanya Hinata sambil keluar dari mobil dan melihat Kiba yang sedang meregangkan tubuhnya yang kaku akibat duduk diatas mobil 2 jam lamanya.

"Dia tidak bisa dibanguni lagi ya?" tanya Kiba sambil berjalan menuju kearah pintu dimana Sasuke masih terduduk diatas kursinya dengan Naruto yang tampak nyaman dengan posisinya sekarang.

"Tidak usah Kiba, biar aku yang mengangkatnya," ucap Sasuke sambil tersenyum.

"Ah baiklah," Kiba memundurkan tubuhnya dan membantu sopir dan Hinata mengemas barang-barang bawaan mereka bersama seorang laki-laki berkacamata yang datang membawa tiga tamu yang diyakini Hinata sebagai tamu yang tidak di undang.

"Sasuke," ucap seorang perempuan berambut merah muda pada Sasuke yang sedang membopong Naruto yang sedang terlelap dipangkuannya.

"Sakura?" ucap Sasuke sambil mengerutkan dahinya.

"Lho, dia 'kan pelayanmu? Kenapa kau yang mengangkatnya? Harusnya sesama pelayan yang melakukannya, Hinata kau kenapa sih? Kenapa menyuruh Sasuke yang jelas-jelas merupakan Tuannya mengangkat seorang pelayan begini? Kau keterlaluan Hinata," celoteh wanita tersebut. Hinata terdiam kemudian ia tersenyum. "Bangunkan dia Kiba, dan suruh dia jalan dengan kakinya sendiri, aku tidak ingin tunanganku merasakan beratnya laki-laki yang tidak tahu sopan santun ini," Kiba terdiam mendengar perintah wanita berambut merah muda tersebut kemudian ia menghela nafasnya sambil memegang kepalanya.

"Aku hanya mematuhi perintah Hinata, Nona Sakura," jawab Kiba sambil tersenyum lebar dan merangkul bahu Hinata yang sekarang berdiri disampingnya.

"Kau juga sama saja, tidak tahu sopan santun, Hinata itu majikanmu, lihat kau memperlakukannya seolah-olah dia sederajat denganmu," Sakura mulai berceloteh tentang kasta. Hinata menghela nafasnya. Karena itulah dia tidak suka ada Sakura di sekitarnya. Selalu mempermasalahkan hubungannya dengan para bawahannya sendiri.

"Bawa Naruto ke kamar, terserah mau siapa yang membawanya yang terpenting jangan dibangunkan, aku mau istirahat di danau, siapkan teh seperti biasa ya Shino," ucap Hinata sambil menarik koper miliknya. Merasa tidak diperdulikan Sakura berjalan menyeimbangi langkah Hinata dan Sasuke dapat mendengar celoteh Sakura dari kejauhan. Protes demi protes keluar dari mulutnya terhadap sikap Hinata yang tampak sangat tidak peduli dengan semua yang sedang terjadi.

"Aku mengerti perasaanmu Sasuke," bisik Kiba sambil merangkul bahu pemuda tersebut. "Naruto masih lebih baik sih kalau kubilang, andai dia perempuan pasti sudah kulamar jadi isteriku!" hayal Kiba sambil berbalik dan membawa ransel serta tas milik Sasuke. "Lebih baik kau cepat membawa Naruto ke kamarnya, akan lebih baik dia tidur disana daripada dia tidur dipangkuanmu seperti ini," Kiba tersenyum lebar dan berjalan melewati Sasuke. "Aku akan mengantarkanmu ke kamarnya," Sasuke langsung mengikuti Kiba dari belakang. Sesampainya dikamar dengan pintu berukiran rubah ekor sembilan itu, Sasuke langsung membaringkan tubuh Naruto diatas ranjang. "Aku akan meninggalkan barang Naruto dan barangmu disini, kau letakkan sendiri barangmu di kamar sebelah dan ini kuncinya, selamat beristirahat," ucap Kiba sambil melempar kunci kamar pada Sasuke kemudian ia melenggang pergi dari kamar tersebut sambil mendengarkan lagu dari headphonenya.

"Ng, hah," Naruto terjaga dan melihat kearah Sasuke dengan matanya yang sayu. "Tuan Sasuke? Kita sudah sampai ya?" tanya Naruto sambil melihat kesekelilingnya. Sasuke melihat kearah Naruto yang sedang berusaha menegakkan tubuhnya yang terasa berat karena rasa kantuk yang masih mengerogoti tubuh dan pikirannya.

"Iya, ini kamar khusus milikmu?" tanya Sasuke sambil mendekati Naruto yang sedang duduk dengan kaki terjulur kebawah ranjang. Naruto memegang wajahnya dengan tangan kanannya.

"Tidak, ini kamarku bersama Menma," ucapnya lirih.

"Oh," Sasuke duduk disamping Naruto sambil meletakkan kedua tangannya ke belakang tubuhnya dan menompangkan tubuhnya ke tangannya tersebut. "Sepertinya adikmu yang bernama Menma ini begitu berharga sekali Naruto, apa kau berniat untuk mengambilnya kembali dan membawanya keluar dari kediaman Namikaze?" tanya Sasuke sambil melihat kearah langit-langit kamar. Polos dan berwarna putih. Naruto melihat kearah Sasuke dengan tatapan mata terkejut.

"Ah... darimana anda tahu tentang Namikaze?" tanya Naruto, Sasuke memalingkan wajahnya dan melihat Naruto dengan tatapan datarnya. Seingat Naruto tadi malam, Sasuke juga mengatakan bahwa tuannya tersebut akan membantu dirinya untuk mengambil kembali adiknya dari genggaman Namikaze. Ia tidak sempat menanyakan hal itu karena Sasuke semua pikirannya terpacu kepada emosinya kepada Sasuke yang seenaknya mencium bibirnya. Sasuke menghela nafasnya kemudian ia menegakkan tubuhnya dan mengangkat tangannya, meletakkannya dibelakang kepala Naruto seraya mendorong kepala tersebut ke dadanya. "Tuan?" ucap Naruto dengan nada bingung saat wajahnya ditutupi oleh dada sang Tuan. Matanya membelalak saat itu juga dan pikirannya berkecamuk disaat yang bersamaan kala Sasuke mengelus punggungnya tanpa kata. "Tuan... Tuan... bisa...," putus Naruto yang berusaha melepaskan pelukan Sasuke terhadap dirinya.

"Maaf," Sasuke melepaskan pelukannya. "Ingat Naruto!" ucap Sasuke sambil menutup matanya dengan tangan kanannya. Naruto terdiam melihat kearah Sasuke yang sedang memandang dirinya disela-sela jarinya. "Bagaimanapun... aku sudah berjanji kepadamu dan , Menma akan kuberikan kepadamu," ucap Sasuke sambil tersenyum dan ia bangkit dari duduknya. Naruto membelalakkan matanya saat melihat punggung Sasuke yang berjalan mendekati pintu kamar tersebut.

"Tidak...," ucap Naruto sambil bangkit dari duduknya dan berdiri sambil memandang Sasuke dengan kepalanya yang miring dan tatapan tajamnya. Sasuke membalikkan tubuhnya dan melihat kearah Naruto yang berdiri dengan aura yang begitu kelam. "... anda tidak usah ikut campur dengan urusan Namikaze," pinta Naruto sambil mengarahkan pandangannya kearah kakinya. "Jujur saja, sebenarnya saya tidak peduli kalau anda kenal Namikaze darimana atau dari siapa, tapi betapa bodohnya saya menanyakan hal itu," Naruto mendengus sambil tersenyum tipis. Sasuke terdiam melihat senyuman pemuda tersebut. "Anda tentunya mengenal keluarga itu bukan, jadi lupakan ambisi anda untuk mengambil Menma dari tangan mereka," Naruto memegang lengan kanannya dan mengalihkan pandangannya kearah kanan. "Jangan bertindak bodoh, keluarga anda hanya butiran debu bagi mereka, hanya sekali hembusan ringan kalian akan hancur sehancurnya," Sasuke mengerutkan dahinya kemudian ia memalingkan wajahnya.

"Apa kau menyerah?" tanya Sasuke sambil melipat tangannya dan menundukkan kepalanya. Naruto tersenyum kemudian ia melihat kearah Sasuke yang langsung melihat kearahnya. "Dari gelagatmu... aku tahu... kau begitu menyayangi adikmu sampai-sampai mau bekerja seperti itu, menjadi pelayan di bar dan tetap melanjutkan kuliah di pagi hari, kau berjuang untuk dapat mempertahankan hidup adikmu dan itu semua kau sia-siakan dengan membiarkan keluarga Namikaze mengambilnya, hah... jangan bercanda...," Sasuke tersenyum menyeringai sambil melihat kearah Naruto.

"Saya tidak menyerah Tuan," ucap Naruto sambil menghela nafasnya. "Hanya saja...," putus Naruto sambil memegang rambutnya yang berterbangan karena angin yang masuk dari jendela kamarnya yang terhubung kearah balkon. "... saya tak ingin melukai orang lain karena ambisi saya," ucap Naruto sambil memandang sendu kearah luar jendela kamarnya. "Butuh waktu bagi saya untuk menyerang balik mereka, setidaknya...," Naruto melihat kearah Sasuke sambil tersenyum lebar. "... biarkanlah saya melukai diri saya untuk mencapai apa yang saya inginkan," Sasuke membelalakkan matanya saat ia ia mendengar perkataan Naruto tersebut. Ia mengerti apa maksud dari pemuda pirang yang sekarang tersenyum lebar kepadanya tersebut.

"Kau akan mengorbankan dirimu sendiri untuk mencapai apa yang kau inginkan?" tanya Sasuke guna mempertegas pernyataan Naruto kepadanya tadi.

"Itu ambisi saya dan siapa lagi yang akan melakukannya kalau bukan saya Tuan," Naruto memandang sendu kearah Sasuke. "Biarkan saya dalam ambisi saya dan masalah saya, cukup sudah Tuan tahu hubungan saya dengan Namikaze, simpanlah dihati anda dan lupakan janji sepihak anda tersebut!" Naruto mengerutkan dahinya. Sasuke meremas tangannya dan menggeram, ia berjalan mendekati Naruto dan memukul wajah pemuda pirang tersebut sampai ia terjungkal jatuh ke lantai. Naruto terdiam sambil memegang pipinya dan lebih memilih untuk tidak menyingkapi perbuatan Sasuke yang tiba-tiba memukulnya tersebut.

"Lakukan apa yang ingin kau lakukan Uzumaki!" ucap Sasuke sambil membalikan tubuhnya dan pergi meninggalkan Naruto yang terdiam di tempatnya duduk.

"Kenapa dia yang marah?" tanya Naruto sambil memegang pipinya dan memandang sendu kearah pintu yang tertutup rapat setelah Sasuke membanting pintu tersebut dengan emosi yang meledak. "Aku hanya tidak ingin melukai orang lain lagi... aku hanya ingin... hanya ingin mencapai impianku dengan tidak melukai orang lain, apa itu salah?" Pemuda pirang itu menggigit bibirnya tanpa ia sadari bulir bening itu mengalir dari pipinya, kening Naruto mengkerut kemudian ia menarik kedua kakinya dan membenamkan kepalanya diantara kedua kakinya. Suara isak tangis menggema memenuhi ruangan tersebut menyelimuti kesedihan yang sedang melanda pemuda pirang yang memiliki jalan kehidupan yang begitu rumit. Kenapa? Kenapa kebahagiaan itu begitu mahal? Kenapa dalam meraih kebahagiaan itu harus mengorbankan segalanya? Apa arti bahagia baginya? Apa? Kenapa harus mengorbankan dirimu sendiri Naruto? Kenapa tidak mau berbagi? Kenapa?

~Big Mistake~

"Dasar, laki-laki bodoh," umpat Sasuke sambil melempar ranselnya keatas kasur. Tiba-tiba Sasuke terdiam setelah ia menggelengkan kepalanya dan menghela nafasnya. "Tapi... kenapa aku bisa semarah ini?" tanya Sasuke sambil melihat tangannya yang telah memukul wajah Naruto. Pemuda itu memundurkan tubuhnya dan menyandarkan tubuhnya ke ranjang besar yang ada dibelakang tubuhnya seraya melipat kaki kanannya dan menselonjorkan kaki kirinya sementara tangan kanannya ia letakkan diatas lututnya. "Apakah karena rasaku padanya yang membuatku begini?"

"Cinta dapat mengubah orang Sasuke dan Sasuke yang kukenal selama ini telah berubah, ia tidak akan bertindak nekat dengan mencium dan bersumpah akan melakukan apapun demi orang lain sampai nyawa taruhannya, lalu alasan apalagi kalau tidak lelaki yang ada dihadapanku ini sedang jatuh cinta pada teman karibku yang bernama Uzumaki Naruto,"

"Huh," Sasuke menyeringai sambil melihat kearah langit-langit kamarnya. "Apakah perasaan ini telah berubah menjadi cinta?" tanya Sasuke sambil memegang dada kirinya. "Kenapa juga aku harus peduli dengan masalahnya? Kenapa juga aku harus memukul laki-laki itu? Ya Tuhan... apalah arti semua ini?" Sasuke menghela nafasnya. "Kenapa aku berani bersumpah demi nyawaku sendiri untuk melindunginya bahkan melawan keluarga besar seperti Namikaze ini, gila, ha... ha... ha," tawa Sasuke sambil memegang wajahnya. Suara tawa yang cukup besar itu tiba-tiba melunak dan mengubah senyumannya menjadi sebuah ekspresi kesedihan. "Ya Tuhan," isaknya.

~Big Mistake~

Sementara itu Hinata berdiri didepan jendela besar di salah satu sudut kamarnya. Ia berdiri sambil meletakkan kedua tangannya dibelakang punggungnya dengan Kiba yang sedang asyik main PSP diatas sofa panjang dibelakang Hinata. Seorang laki-laki bernama Shino berdiri dibelakang Hinata dengan pakaian pelayannya, menghantarkan teko teh dengan dua cangkir teh diatas meja dorongnya.

"Ini menarik," ucap Hinata sambil menyeringai. Shino melihat seringaian dari calon pemimpin perusahaan yang setara dengan perusahaan Namikaze tersebut.

"Apa yang menarik Nona?" tanya Shino dengan kening berkerut. Hinata terdiam kemudian ia melihat kearah Shino.

"Uchiha Sasuke, sepupu jauhku, Shino," jawab Hinata sambil tersenyum lebar. Kiba yang dapat mendengar pernyataan Hinata tersebut langsung membangkitkan tubuhnya dan melihat kearah perempuan yang sedang tersenyum kepada mereka berdua.

"Kenapa dengan Sasuke?" tanya Kiba dengan wajah polosnya.

"Dia berubah Kiba," Hinata tersenyum sambil membalikkan tubuhnya. Shino dan Kiba saling lempar pandangan kemudian mereka kembali melihat kearah Hinata. "Setidaknya dia harus tahu resikonya sih kalau tetap keras kepala seperti itu," Hinata tersenyum lebar. Kiba dan Shino mengerutkan dahinya mendengar ucapan Hinata yang mereka sendiri tidak mengerti maksudnya apa.

"Haaaah, kebiasaan lamamu Hinata, terkadang aku tidak mengerti jalan pikiranmu, biarkan saja Sasuke seperti itu, dia tidak bodoh dan kau tahu itu," ucap Kiba yang kembali ke posisinya berbaring sambil memainkan PSP-nya.

"Hm, yah... itu sudah keputusannya," ucap Hinata lirih sambil membuka jendela ruangan tersebut dan berjalan menuju balkon dimana ia dapat melihat sebuah meja kecil dan dua kursi kecil disana. Shino mengikuti Hinata yang sudah duduk disalah satu kursi tersebut, ia menyajikan teh coklat untuk diminum oleh majikannya tersebut. "Sepertinya akan seru nih!" ucap Hinata sambil tertawa kecil dan mengambil cangkir tehnya.

"Kurang kerjaan kau Hinata," umpat Kiba. Hinata yang mendengar pernyataan Kiba tersebut hanya tertawa geli mendengar hal tersebut. Shino hanya menghela nafasnya melihat majikan dan sahabatnya yang tampak terlihat sangat akur tersebut.

~Big Mistake~

"Lihat! Kau bisa lihat bukan, Menma jadi seperti ini gara-gara kau memisahkannya dengan Naruto," keluh seorang wanita berambut pirang pucat. Ia berdiri didepan Jiraiya yang sedang duduk diatas kursi sambil meletakkan kedua tangannya diatas tongkatnya.

"Kau sudah memeriksa kesehatannya?" tanya Jiraiya yang tidak memperdulikan omelan wanita yang sekarang berdiri angkuh dihadapan laki-laki tersebut. Wanita tersebut menghela nafasnya kemudian ia meletakkan tangan kirinya ke pinggangnya.

"Kau kapan akan berubah Jiraiya," keluhnya. "Menma tidak apa-apa, hanya saja dia butuh Naruto, selama kau mengawasi mereka seharusnya kau tahu betapa Menma begitu bergantung pada Naruto," Jiraiya menutup matanya dan menghela nafasnya.

"Bagaimanapun juga aku tidak bisa membawa anak itu ke kediaman Namikaze, Tsunade," Jiraiya bangkit dan ia berjalan mendekati meja kerjanya.

"Haaaah, baiklah kalau begitu aku pergi, kalau ada apa-apa, kau tinggal memanggilku, aku permisi," wanita yang bernama Tsunade tersebut membungkukkan tubuhnya kemudian ia pergi meninggalkan Jiraiya yang sedang duduk dikursi kerjanya. Ia memerhatikan Tsunade dari belakang hingga wanita itu menutup rapat pintu ruangan tersebut.

Jiraiya terdiam kemudian tangannya meraih laci meja kerjanya yang cukup besar tersebut dan mengambil sebuah agenda dari laci tersebut. Ia membuka buku agendanya tersebut dan melihat sebuah potret seorang laki-laki yang memiliki perawakan yang sama dengan anaknya Namikaze Minato. Raut wajah kaku dan dingin tersebut tiba-tiba berubah. Raut kesedihan dan kehampaan menguar dari matanya yang selalu menatap tajam lawan bicaranya.

"Astaga Minato, apakah jalan yang kuambil ini salah?" isaknya sambil menutup wajahnya dengan tangannya yang ringkih dan keriput.


TBC...


Oke lumayan diriku yang hampir mengabaikan fic ini dan fic Demon Bride yang bikin aku galau setengah mampus karena diksi dan bla... bla... bla lainnnya... kita masuk kedalam sesi jawab review...

gothiclolita89 : natnya sih gitu sayang... tapi aku mau yang sedikit berbeda jadi kita lihat saja nanti yah...

Vianycka Hime : hahahahaha... tapi kan seru say... :3 rencananya sih gitu tapi lihat di chapter ini si Naruto gak suka Sasuke ikut campur dengan urusannya...

siihat namikaze natsumi : aku juga gak nyangka si Jiraiya kenapa bisa ngeganas gitu yah? ==a ssst masih rahasia gak bisa kasih spoiler soalnya... hehehehehe

kkhukhukhukhudattebayo : wah banyak banget pertanyaannya... kalau ku jawab jadi spoiler dong kan gak enak.. dibaca aja yah sampe tamat maaf

FayRin Setsuna D Fluorite : oke say...

Yuu : iya... dia terobsesi banget sama si pirang my lovely dovey honey Naruto...#hug naruto

Oke sekian... kayaknya cuman segitu hehehehe... makasih ya sudah meluangkan waktunya buat baca fic ini dan memberikan sarannya dan waktunya buat fic ini... makasih banyak semua...