A SHORT JOURNEY: Family, Happiness and Hurt
AUTHOR: naranari
Casting: Sehun and Luhan
Genre: Angst, Romance, Family, Drama
Rating: T
Warning: Gender-bender, typo(s)
Author's note below, please
.
.
.
.
Summary: Oh Sehun tidak mengenal cinta sejati. Sejak kecil ia selalu diabaikan oleh orang yang sangat dibutuhkannya. Dan ketika ayahnya pergi dengan taksi itu, Sehun telah berjanji untuk tidak memperdulikan apapun. Xi Luhan juga menolak cintahidupnya selalu dibawah bayang-bayang sebuah rahasia besar. Tidak mempunyai teman dan selalu menyendiri.
Ketika akhirnya Sehun dan Luhan bertemu, mereka menyembunyikan perasaan mereka. Tapi takdir berkata lain untuk mereka. Cinta mulai tunbuh tanpa mereka pedulikan. Dan saat mereka menyerah, disanalah mereka berlabuh. Pada cinta mereka.
Setelah ribuan hari esok, mereka tetap saling mencintai. Tapi harus ada harga yang harus dibayar pada cinta mereka.
.
.
Chapter 4
.
.
Guys, sebelumnya biar ga ada kesalah-pahaman dan untuk sedikit pengetahuan kalian semua, nara akan menjelaskan sedikit tentang Fibrosis Sistik.
Fibrosis sistik adalah suatu penyakit keturunan yang menyebabkan kelenjar tertentu menghasilakn sekret abnormal, sehingga timbul beberapa gejala; dan yang paling penting adalah yang menyerang paru-paru dan saluran pencernaan. Gejala bisa dilihat dari adanya lendir yang menyumbat saluran udara kecil yang kemudian mengalami peradangan. Lama-lama bronkial mengalami penebalan sehingga terjadi infeksi di saluran pernapasan. Semua perubahan itu menyebabkan berkurangnya kemampuan pau-paru untuk memindahkan oksigen kedalam darah.
Intinya, setiap penderita CF harus melakukan pengeluaran cairan/lendir yang berada didalam pernapasannya. Caranya beragam. CF berbeda dengan pneumonia dan sinusitis (atau kalian bisa searching di mesin pencarian), tetapi gejalanya hampir sama bedanya hanya pada cairan/lendir itu. Pasien CF tidak boleh melakukan kegiatan yang memacu kecepatan kerja jantung, tidak boleh kelelahan. Juga tidak boleh terkena debu atau asap.
Oke guys, semoga sedikit info ini bermanfaat ya.
Oiya, aku sengaja langsung mempertemukan Sehun dan Luhan disini, karena sepertinya kalian pada ga sabar ya, hahaha. Masih kaku? Iya, sengaja. Biar keliatan natural. Kalo langsung door kan ga enak dan ga kena feel-nya. Biar kedekatan mereka mengalir saja sesuai cerita.
Enjoy the story
.
.
.
Sehun tiduran nyalang dikamarnya. Pertemuannya dengan Luhan beberapa jam yang lalu masih membekas dalam ingatannya. Luhan. Pertama kali melihatnya Sehun seperti merasa Luhan adalah gadis yang misterius. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan Luhan. Tapi Sehun tidak tahu apa yang disembunyikan gadis cantik itu. Sehun memperhatikan lagi bunga akasia putih yang diberikan Luhan.
'Oh Sehun, jadilah temanku'
Kata-kata Luhan masih jelas terngiang di telinga Sehun. Selama delapan belas tahun hidupnya belum ada yang mengajak Sehun untuk berteman. Sehun memang mempunyai teman tapi itu tidak lebih dari teman sejawat. Belum ada yang benarbenar menjadi temannya. Setidaknya itu yang dipikirkan pemuda tampan itu.
Tapi hari ini tiba-tiba saja seorang gadis cantik yang tidak sengaja ditemuinya meminta dirinya untuk menjadi teman dari gadis itu.
Bunyi dering ponsel membuyarkan lamunan Sehun. Setelah melihat nama ibunya tertera dilayar ponsel Sehun segera mengangkat panggilan dari ibunya itu.
"Ada apa, Bu?"
"Sehun, kau dirumahmu?"
"Iya." Sehun mendengar ibunya menarik napas disana.
"Ayahmu datang."
.
.
.
.
Sehun membuka keras-keras pintu rumahnya hingga menimbulkan bunyi berdebam yang kencang. Ibunya langsung menghampiri Sehun dan memeluk anak lelakinya itu seraya mengucapkan untuk tidak menggunakan emosinya saat ini. Saat berhadapan dengan ayahnya. Sehun maju selangkah, tidak memerdulikan ibunya yang masih memluknya.
"Kenapa kau datang?"
Helaan napas dan tundukkan kepala menjadi jawaban pertanyaan Sehun. "Maafka aku, Sehun."
"Maaf katamu" kata Sehun sarkatis. "Apa kau hanya tahu kata 'tidak' dan 'maaf' didunia ini?"
Ayahnya menunduk lagi.
"Apa kau tidak memikirkan kata-katamu dulu saat kau… meninggalkan kami?"
Ibu Sehun sudah menangis sesegukan sementara Seyoung mengintip para orang dewasa dari celah pintu kamarnya.
"Aku minta maaf Sehun. Aku benar-benar menyesal telah meninggalkan kalian semua. Hidupku… hidupku benar-benar hancur saat itu." Air mata Jung Sook telah mengalir. Tapi Sehun tetap bergeming, tidak melihat sama sekali ayahnya.
Sehun kembali ke kamar—dirumah ibunya, dan mencoba tidur sejenak. Matanya memang terpejam tetapi pikirannya tetap melalang buana. Pikirannya tetap terpusat pada sosok ayah yang ia akui begitu dirindukannya. Delapan tahun sudah ia berpisah dengan ayahnya, walaupun masih memendam benci terhadap ayahnya Sehun tetaplah seorang anak. Seorang anak lelaki yang masih butuh sosok ayah dalam hidupnya.
Sehun bersyukur setidaknya delapan tahun adalah waktu yang tidak terlalu lama untuk ayahnya menyadari kesalahannya. Tetapi rasa benci itu masih ada. Dan Sehun tidak berjanji pada dirinya untuk memaafkan ayahnya. Saat ingin memejamkan mata, pintu kamar Sehun terbuka dan Seyoung menampakkan kepalanya dari balik pintu itu.
"Kakak" Seyoung berbisik, Sehun tersenyum lalu bangkit dari tidurnya. "Masuklah." Seyoung segera menghampiri kakaknya. Sehun sedikit menggeser duduknya sehingga Seyoung bisa duduk ditepi ranjang. "Apa dia itu Oh Jung Sook. Ayah kita?"
Sehun menghela napasnya dan mengelus rambut panjang sang adik. "Ya," jawabnya. Seyoung sedikit mengembangkan senyum dan matanya berkaca. Sehun menghentikan usapannya pada kepala Seyoung saat melihat air mata adiknya jatuh menuruni pipinya. "Aku…aku tidak tahu harus berkata apa, Kak. Ini pertama kalinya aku melihat…ayah." Bibir Seyoung bergetar saat mengucapkan kata 'ayah'.
"Maafkan aku Seyoung. Aku tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu." Seyoung merengkuh Sehun dalam pelukannya dan menangis disana.
.
.
.
.
Luhan selalu menyiram tanaman yang ada di kebun di belakang rumahnya setiap sore. Kegiatan ini menjadi salah satu yang paling disukainya, selain membantu ayahnya di klinik hewan miliknya. Luhan yang menanam semua bunga yang ada di kebunnya. Saat sedang menyiram bunga akasia tiba-tiba Luhan teringat dengan Sehun. Pipinya merona dengan sendirinya ketika ia memikirkan pemuda tampan itu.
"Astaga Luhan, kau lucu sekali."
Luhan terkesiap begitu mendengar suara pria di dekatnya. Ia segera menoleh ke samping kanan dan matanya menemukan sosok pemuda yang sedang dipikirkannya tadi. Luhan kembali merona.
"Oh Sehun sejak kapan kau disana?" Luhan memalingkan wajahnya.
Sehun melompat melewati tanaman bunga akasia dengan hati-hati. Luhan kembali memandang Sehun tetapi sesuatu diwajah Sehun membuatnya menyerngitkan kening. "Ada apa dengan wajahmu?" Sehun segera menyetuh wajahnya sebelum Luhan sempat menyentuhnya. Tiba-tiba tatapan Sehun mendingin. "Aku tidak apa-apa."
Luhan merinding, suara Sehun benar-benar menyeramkan. Sehun terlihat sangat berbeda. Sehun sadar dengan keadaannya beberapa saat kemudian, ia berdehem lalu menatap Luhan. "Maafkan aku." Tangan Luhan terkepal kuat disamping tubuhnya, tidak sanggup menatap Sehun.
"Tidak." Lirih Luhan. Dengan segala keberanian yang Sehun miliki, ia menggapai tangan Luhandan menggenggamnya. Luhan kaget dengan perlakuan tiba-tiba Sehun. Ketika ia ingin meminta penjelasan lelaki tampan itu sudah membawanya pergi.
.
.
.
.
"Kita mau kemana Sehun?" Tanya Luhan. Mereka masih berjalan menyusuri ladang hijau yang terhampar di belakang rumah Luhan. Masih dengan tangan yang bertautan erat. Sehun sedikit memperlambat jalannya ketika ia mendengar suara seperti tercekik ketika Luhan berbicara tadi.
"Kau tak apa?" Sehun menurunkan pandangannya untuk melihat wajah Luhan yang tertunduk. Luhan menggeleng pelan kemudian ia melepaskan tautan tangan mereka. Sehun sedikit kecewa ketika kehangatan dari tangannya menghilang. "Kau aykin tidak apa-apa?" tanyanya lagi. "Aku baik-baik saja Sehun." Luhan mendongak dan menampilkan senyuman paling cantiknya.
Sehun tertegun lagi. Wajah cantik itu kini dihiasi dengan rona merah manis dan senyuman indah. Membuat dada Sehun berdebar kencang dan darahnya berdesir. Ada perasaan hangat dalam hatinya ketika ia ikut tersenyum juga. Sehun kembali meraih tangan Luhan.
"Mau kutunjukkan sesuatu yang indah?"
Luhan tersenyum melihat tangan mereka yang bertautan dan wajahnya kembali memerah. Luhan benar-benar gadis yang manis. Dadanya berdegup kencang ketika kelembutan kulit Sehun bertemu dengan kulitnya. Seperti mereka memang diciptakan untuk menyempurnakan kelembutan itu.
"Apa?"
Sehun kemudian menarik tangan Luhan untuk berlari bersamanya. Ketika mereka berlari perasaan itu masih ada bahkan lebih. Perasaan senang bercampur gugup karena mereka sangat dekat satu sama lain. Mereka terus berlari dengan ditemani tawa riang keduanya. Sampai akhirnya Sehun merasakan sesuatu yang hangat dari tangannya menghilang.
Sehun menoleh ke belakang dan matanya terbelalak kaget melihat Luhan yang sudah ambruk diatas tanah. "Luhan!" Sehun kembali ke tempat Luhan. Sehun merengkuh tubuh lemas Luhan.
"Luhan bangunlah! Kau kenapa Luhan!" Sehun terus menguncang tubuh Luhan, berharap gadis cantik itu setidaknya membuka matanya. "Luhan kumohon!"
Luhan membuka sedikit matanya, napasnya memendek dan menjadi satu-satu. Matanya memerah, wajahnya pun demikian. Sehun panik bukan main, pasalnya ia belum pernah menangai orang yang sakit, sekalipun itu adiknya sendiri. Dan sekarang ia sedang dihadapkan keadaan yang sangat genting dan sialnya ia tidak tahu harus berbuat apa.
"Luhan bicaralah padaku! Katakan sesuatu Luhan!"
"Sa…kit…"
Sehun merengkuh lagi tubuh Luhan. Sejujurnya ia tidak sanggup melihat Luhan seperti ini. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menggendong Luhan dan membawanya kembali kerumah. Sehun berharap kedua orangtua Luhan bisa mengatasi Luhan. Dan ia akan bertanya banyak hal tentang Luhan. Sehun bertekad dalam hati.
.
.
To be continued
.
.
Annyeong…
Mulai saat ini nara memutuskan untuk menjadikan cerita ini menjadi sebuah 'drabble'.
Daripada nara harus hiatus lama lagi demi mengumpulkan ide, lebih baik nara berikan apa adanya cerita ini. Tapi nara janji akan tetap mengoreksi dan memperbaiki diksi atau jalan cerita ini.
Thanks to
Lisnana1, HunHan's Real (say bisa re-invite onni ga?), HyunRa. Seunluan, lulittledeer20, RZHH 261220, xievaeah, Peter Lu, LayChen Love Love 2, CuteManlydeer.
Annyeong!
