A SHORT JOURNEY: Family, Happiness and Hurt
AUTHOR: naranari
Casting: Sehun and Luhan
Genre: Angst, Romance, Family, Drama
Rating: T
Warning: Gender-bender, typo(s)
Author's note below, please
.
.
.
.
Summary: Oh Sehun tidak mengenal cinta sejati. Sejak kecil ia selalu diabaikan oleh orang yang sangat dibutuhkannya. Dan ketika ayahnya pergi dengan taksi itu, Sehun telah berjanji untuk tidak memperdulikan apapun. Xi Luhan juga menolak cintahidupnya selalu dibawah bayang-bayang sebuah rahasia besar. Tidak mempunyai teman dan selalu menyendiri.
Ketika akhirnya Sehun dan Luhan bertemu, mereka menyembunyikan perasaan mereka. Tapi takdir berkata lain untuk mereka. Cinta mulai tunbuh tanpa mereka pedulikan. Dan saat mereka menyerah, disanalah mereka berlabuh. Pada cinta mereka.
Setelah ribuan hari esok, mereka tetap saling mencintai. Tapi harus ada harga yang harus dibayar pada cinta mereka.
.
.
chapter 5
.
.
Sehun terengah-engah menggendong Luhan sepanjang jalan menuju rumah gadis itu. Suara cekikan dan napas satu-satu semakin terdengar oleh pendengaran Sehun. Luhan asma, Sehun yakin itu. Tetapi jenis asma apa yang membuat si pasien seperti menjelang ajalnya. "Sebentar lagi, tahan sebentar lagi Luhan."
Sehun menggedor pintu depan rumah Luhan dengan brutal, pasalnya ia sudah diujung kepanikan. Suara cekikan sudah tidak terdengar lagi dan itu membuat Sehun memikirkan sesuatu yang buruk.
"Ibu Luhan! Ibu Luhan! Ibu Luhan!"
Sehun terus berteriak kesetanan. Anggaplah ia tidak sopan saat ini, tapi ini adalah jalan satu-satunya. Pintu terbuka dan wanita paruh baya keluar dari sana. "Astaga!" Ibu Luhan menutup mulutnya. "Itu…Luhan?" tanyanya.
"Nyonya maaf, tapi bisakah aku masuk? Anakmu sekarat."
Ibu Luhan menggeser badannya dan membantu Sehun masuk kedalam. Sehun menaruh Luhan disofa panjang diruangan depan. "Luhan kambuh. Suamiku! Cepat kemari dan tolong bawakan rompi Luhan."
Sehun menyerngit, rompi?. Dari tangga atas turun seorang lelaki—yang Sehun yakini itu ayah Luhan—sambil membawa sebuah rompi. Ibu Luhan mengangkat tubuh anak gadisnya dan menyandarkannya pada punggung sofa. Dibantu dengan suaminya ibu Luhan memakaikan rompi pada Luhan.
Rompi itu bukanlah rompi biasa, karena Sehun melihat didalam bagian rompinya terdapat sebuah alat yang menghentak di sekitaran dada Luhan. Sehun tidak mengerti bagaimana cara kerja rompi itu atau alasan mengapa Luhan harus memakai rompi.
Sehun melirik jam tangannya, sudah hampir satu jam Luhan memakai alat rompi itu. Wajahnya masih pucat pasi tapi nafasnya berjalan normal kembali. Sehun menarik satu kesimpulan, rompi itu adalah alat untuk memudahkan Luhan jika ia kesulitan bernapas.
Asma.
atau penyakit lainnya.
Sehun masih memikirkan penyakit apa yang sedang diderita Luhan ketika tiba-tiba saja ia mendengar Luhan berteriak sangat kencang. Disana Sehun melihat Luhan yang sedang dipukuli punggungnya oleh ayahnya. Tentu saja hal itu membuat Sehun bertanya-tanya, ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Luhan dipukuli?
Teriakan Luhan selanjutnya membuat Sehun tersadar dan seperti mengerti perasaan Luhan ia mencoba menghentikan ayah Luhan. "Paman berhenti! Kenapa kau memukuli anakmu sendiri?" Sehun memegangi tangan ayah Luhan. "Ada apa denganmu, Nak!" ayah Sehun menghentakkan tangannya. "Kau memukulnya! Seharusnya aku yang bertanya ada apa denganmu?"
Ibu Luhan sudah berada diantara Sehun dan suaminya, mengelus lengan atas suaminya dan menggumankan kata tidak apa-apa. Sehun mengalihkan perhatiannya pada Luhan yang sedang memegangi dadanya. Kulitnya bertambah pucat dan tatapan matanya menjadi sayu. Sehun belum pernah melihat seorang gadis cantik tapi begitu lemah.
Juga menyimpan suatu rahasia. Misterius.
.
.
.
.
Ibu Luhan menghampiri Sehun yang sedang duduk termenung di teras depan rumahnya dengan membawa nampan yang berisi segelas air minum dan beberapa kukis. "Silahkan diminum, Nak." Sehun agak terkejut mendengar suara Ibu Luhan tapi ia langsung menguasai dirinya. Ia mengambil gelas dan meminumnya. Ibu Luhan masih menatapnya sehingga Sehun merasa agak risih.
"A-Ada apa?" Sehun menggaruk kepala belakangnya, benar-benar merasa gugup. Tapi Ibu Luhan tetap tenang dan melempar senyum pada Sehun. "Kau temannya Luhan?" Sehun tersentak dan mengangguk kaku.
"Luhan kami adalah gadis periang dan suka tertawa," Sehun mendengarkan seksama perkataan Ibu Luhan, "Dari kecil ia selalu sendirian dan tidak mempunyai teman, tetapi ia tidak pernah merasa kesepian. Luhan selalu bilang padaku kalau hidupnya memang sudah ditakdirkan untuk selalu sendirian, jadi ia harus menerima semua itu. Luhan mempunyai kembaran, tetapi kembarannya meninggal setelah dua puluh jam lahir." Ibu Luhan mengusap air mata yang hendak mengalir, "Ia juga sempat mempunyai adik, tetapi dua tahun yang lalu adik Luhan juga meninggal. Mulai saat itu Luhan menjadi sedikit berubah walaupun ia berusaha untuk menutupinya tapi aku tahu, Luhan kesepian."
Sehun terus memikirkan perkataan Ibu Luhan tadi siang. Jika sebelumnya kembaran dan adik Luhan meninggal pasti ada sesuatu yang menimpa mereka. Atau mereka mengidap suatu penyakit yang sangat parah sehingga mereka meninggal. Sehun mempercayai opsi kedua, dilihat dari Luhan—yang sepertinya mempunyai penyakit—sudah pasti kembaran dan adik Luhan juga mempunyainya. Anggap saja itu penyakit keturunan, tetapi Ibu maupun Ayah Luhan terlihat sehat dan tidak mempunyai riwayat satu penyakit.
"Jadi sebenarnya ada apa dengan Luhan?"
Sehun mengacak rambutnya merasa frustasi juga lelah. Ponsel Sehun berbunyi ada panggilan dari ibunya. Sudah dua hari ini ia tidak pulang kerumah, pasti ibunya dan juga Seyoung merindukannya. Setelah hari dimana ayahnya kembali ke rumah Sehun memang tidak pulang dan tidak juga mengangkat panggilan dari ibunya. Sehun menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponselnya pada telinga.
"Halo Ibu, kau merindukanku?"
.
.
.
.
Luhan membuka jendela kamarnya dan membiarkan angin malam menyapu permukaan kulit wajahnya yang halus. Pertemuannya dengan Sehun tadi siang masih membekas dalam ingatannya. Juga genggaman tangan Sehun, Luhan masih bisa merasakanya. Dan Luhan tersenyum lebar mendapati dirinya sedang mengelus pergelangan tangannya yang tadi siang digenggam Sehun.
"Wah, ada apa denganku?" Luhan memukul kepalanya pelan. Ia tertawa sendiri, menertawakan dirinya yang seperti anak remaja yang baru mengenal lelaki. Tiba-tiba saja ia teringat wajah Sehun saat dirinya sedang dipukuli oleh ayahnya. Ia melihat raut cemas dan kasihan pada wajah Sehun siang tadi. Sehun pasti sudah salah paham dengan dirinya dan juga ayahnya.
Luhan menghela napasnya, ia harus bertemu Sehun dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
.
.
To be continued
.
.
Apa yang akan Sehun dan Luhan lakukan kali ini?
.
.
Hai, apa kabar? Aku minta maaf banget ya ceritanya jadi pendek banget dan update nya juga lama banget. Tapi aku kan udah ngejelasin semuanya di chapter sebelumnya jadi aku ga perlu menjelaskan lagi ya.
Thanks to:
Lisnana1, HunHan's Real, HyunRa. Seunluan, lulittledeer20, RZHH 261220, xievaeah, Peter Lu, LayChen Love Love 2, CuteManlydeer. Oh Sera Land, candra, fuawaliyaah, seunluan, zoldyk
