A SHORT JOURNEY: Family, Happiness and Hurt
AUTHOR: naranari
Casting: Sehun and Luhan
Genre: Angst, Romance, Family, Drama
Rating: T
Warning: Gender-bender, typo(s)
Author's note below, please
.
.
.
.
Summary: Oh Sehun tidak mengenal cinta sejati. Sejak kecil ia selalu diabaikan oleh orang yang sangat dibutuhkannya. Dan ketika ayahnya pergi dengan taksi itu, Sehun telah berjanji untuk tidak memperdulikan apapun. Xi Luhan juga menolak cintahidupnya selalu dibawah bayang-bayang sebuah rahasia besar. Tidak mempunyai teman dan selalu menyendiri.
Ketika akhirnya Sehun dan Luhan bertemu, mereka menyembunyikan perasaan mereka. Tapi takdir berkata lain untuk mereka. Cinta mulai tunbuh tanpa mereka pedulikan. Dan saat mereka menyerah, disanalah mereka berlabuh. Pada cinta mereka.
Setelah ribuan hari esok, mereka tetap saling mencintai. Tapi harus ada harga yang harus dibayar pada cinta mereka.
.
.
chapter 6
.
.
Begini ya, sebelumnya coba kalian sedikit aja lebih perhatian dan pengertian. Di cerita sebelumnya aku sudah bilang atau mengingatkan tentang cerita ini.
Ceritanya pendek
Ya, benar. Karena cerita ini Cuma ficlet atau drabble atau shortfict atau terserah kalian mau nyebut apa. Karena dicerita ini aku mau nampilin sesuatu yang beda. Aku Cuma memfokuskan pada cerita HUNHAN nya aja, ga yang lain. Jadi ga ada couple lain. Cuma HUNHAN. Dan jika kalian bukan HHS, ga mau baca cerita aku, ya aku ga masalah.
Dan jangan paksa aku buat ngepanjangin ceritanya ya ^^
Ada apa dengan Luhan sebenarnya?
Guys, aku udah ngejelasin masalah Luhan di chapter 4 kalo ga salah. Luhan itu sakit. Sakit fibrosis sistik. Itu penyakit apa? Aku juga udah ngejelasin ya sayang.
Nah, ini peringatan terakhir aku ya. Aku ga akan nulis yang kaya beginian lagi di chapter selanjutnya. Ga penting juga kan, hehehe. Makanya aku mohon banget untuk kalian (para pembaca) agar lebih perhatian. Khususnya pada author's note. Karena catatan dari author itu sedikit banyak penting, jadi kalian ga akan bingung kalau ada sesuatu yang bikin kalian bingung(?)
Aku juga minta maaf banget yang sedalam-dalamnya kalau aku belum bisa ngebales review kalian satu-satu.
And…..
AAAAAAAAAKKKKKKKK~~
EXO COMEBAAAAACCCCKKKK
EXO JJANG!
Someone call the doctor!
Too much neoya your love igeon OVERDOSE
Huu~~ nara ga tau harus gimana engekspresikan kegembiraan nara atas kambeknya mereka
Anjaaasssss Sehun makin ganteng aja 33
Dan lagi Baekhyun, duh nih anak kenapa tambah cakep aja ya gegara rambut itam legamnya…
Nara tuh ampe jejeritan gaje pas streaming showcase mereka (walaupun sempet macet dan itu bikin sial! Bête banget!) tapi kebayar semua hehehehe
Tinggal nabung deh buat beli albumnya :D
Udah ah, kebanyakan bacot
Gomawo
Enjoy the story
.
.
.
.
Rabu itu pada sore hari, Luhan masih asik dengan kegiatannya, menyiram tanaman. Kegiatan ini sudah ia lakukan sejak masih kecil. Ibunya yang hobi berkebun dan sangat menyukai bunga menurun pada Luhan. Luhan dan ibunya bisa menghabiskan sisa hari mereka untuk berkebun. Koleksi tanaman Luhan bulan ini bertambah. Minggu kemarin ayah Luhan membawakannya dua pot kecil kaktus. Luhan menyukai kaktus. Baginya kaktus itu tanaman yang unik.
Seperti dirinya.
Luhan teringat Sehun saat sedang menyiram bagian bunga akasia. Tiga hari berlalu sejak kejadian dimana penyakitnya kambuh, dan ia belum juga bertemu Sehun. Luhan yakin pasti Sehun sangat penasaran dengan dirinya.
Tiba-tiba Luhan mendengar suara gemerisik dibalik semak. Seperti déjà vu Luhan mengendap-endap berjalan menuju semak itu. Lalu Sehun keluar dari semak dengan merentangkan tangannya.
"Haaaa!"
"Astaga!" Luhan mengurut dadanya, "Kau mengagetkanku Sehun!"
"Hahaha, kau lucu Luhan." Sehun menutup mulutnya mencegah tertawanya lebih keras lagi. Luhan mengerang lalu menjauh dari semak dengan wajah ditekuk. Dia ngambek dengan Sehun. Sehun menghentikan tawanya dan berlari mengejar Luhan.
"Hey, jangan marah. Aku minta maaf, okay." Tapi Luhan tetap berjalan, ia tidak menghiraukan Sehun yang terus meminta maaf padanya. "Jangan ikuti aku!" walau Luhan sudah berteriak pada Sehun tetapi lelaki itu tetap berjalan di belakang Luhan.
Karena gemas dengan sikap Luhan, Sehun menarik tangan Luhan hingga gadis itu berbalik arah. Mungkin Sehun menarik tangan Luhan terlalu kencang, gadis itu sempat kehilangan keseimbangan. Tangan Sehun dengan sigap menangkap tubuh Luhan yang oleng. Luhan mematung dalam pelukan Sehun. Ia tidak siap dengan semua ini. Berada dipelukan sorang lelaki.
Dada Luhan tiba-tiba berdegup kencang.
Sehun melepaskan pelukannya saat Luhan terus bergerak resah disana. Suasana menjadi canggung setelah itu. Mereka sama-sama terdiam, tidak ada yang saling memandang juga. Luhan yang lebih dulu mancairkan suasana, ia berdehem. "A-Aku akan segera kembali"
Sehun menarik tangan Luhan lagi ketika ia akan berbalik. Dan degupan itu datang lagi. Tidak hanya Luhan, degupan itu juga terasa pada Sehun. "Kau…sudah tidak marah lagi padaku?" Sehun memberanikan diri bertanya.
Luhan hanya mengangguk kemudian berjalan lagi tanpa menoleh pada Sehun. Bukan berarti dia berbohong. Dia benar tidak marah lagi pada Sehun, hanya saja ia masih canggung setelah kejadian tadi dengan Sehun. Luhan masih tidak berani bertemu muka dengan Sehun.
.
.
.
.
"Kau suka menyiram bungamu kalau sore hari ya?" Sehun menunjuk barisan bunga di depannya. Luhan mengangguk kemudian memberikan gelas berisi sirup jeruk pada Sehun. "Aku suka dengan bunga." Luhan tersenyum senang, ia menyukai bunga sama seperti ia menyukai dirinya sendiri. Sama seperti ia menyukai kedua orangtuanya. Sama seperti ia menyukai saat-saat seperti ini.
Saat bersama Sehun.
Sehun menahan napasnya melihat senyuman cantik dari wajah Luhan. Bagaimana bisa Luhan tersenyum secantik itu padahal wajahnya sangat pucat. Sehun tertegun. Wajah pucat, pasti karena sakit. Dia berdehem sebentar kemudian menghela napas sedikit.
"Luhan," panggilnya. Luhan menoleh kearah Sehun, "Ya."
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?"
Luhan terkejut tapi ia tidak menampakkannya. Luhan tahu pasti Sehun ingin bertanya tentang penyakitnya, ia sudah tahu ini akan terjadi. "Boleh." Katanya sambil tersenyum cantik lagi.
"Sebenarnya, aku sudah lama penasaran dengan ini. Ada apa denganmu?" Luhan terdiam menunggu Sehun menlanjutkan bicaranya. "Saat pertama kali aku melihatmu aku sudah mengira kalau kau…menyimpan sesuatu. Seperti sebuah rahasia besar. Kau misterius Luhan. Dan saat kau terjatuh ketika kita berlari, aku sudah bisa menebaknya. Misterimu adalah kau mempunyai suatu penyakit. Tapi aku tidak tahu persisnya apa penyakitmu ini. Kau terlihat seperti pasien asma, tapi asma saja kupikir bukan. Ada apa denganmu sebenarnya?"
Luhan menatap Sehun dengan lembut. Kedua matanya tepat memandang pada mata Sehun. Luhan berpikir Sehun adalah lelaki yang sangat perhatian. Jarang sekali seseorang memerhatikan secara detail orang yang baru dikenalnya. Tapi Sehun tidak, ia berbeda. Luhan menarik napas.
"Aku tidak tahu ada orang yang begitu perhatian. Aku tahu cepat lambat akan ada yang bertanya tentang ini. Tapi aku tidak terkejut mengetahui teernyata orang itu kau." Luhan tertawa sebentar, Sehun masih setia mendengarkan Luhan.
"Aku…menderita fibrosis sistik." Sehun menyerngit saat mendegar nama penyakitnya. "Tidak ada yang istimewa dengan penyakit itu. Aku selalu batuk dan sesak lendir lengket yang harus dikeluarkan dari tubuhku." Luhan menengok kearah Sehun dan tersenyum, "Itulah sebabnya ayahku memukulku."
Sehun terlihat salah tingkah, "Maaf. Aku tidak tahu."
"Tidak apa-apa. Aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Kau harus melihat itu."
Sehun seakan tersadar. Matanya menatap lekat Luhan. Wajah cantik itu tidak lagi menunjukkan senyumnya. Tetapi mata Luhan juga ikut menatap Sehun. Mata indah itu terlihat sangat murni sehun bisa melihat dirinya sendiri didalam retinanya. Sehun mengerjap, ada dirinya didalam mata Luhan.
Mereka masih saling menatap.
Sehun masih asik menyelami mata Luhan. Dia merasa melihat masa depan dari mata itu. Sehun menurunkan pandangannya ke bibir Luhan. Sesuatu dalam tubuh Sehun seolah memberontak. Ia ingin sekali merasakan bibir itu.
Luhan mematung ketika Sehun perlahan mendekatkan wajahnya. Ia tidak yakin dengan apa yang dilakukan Sehun, tapi ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ini terasa tidak benar. Mereka baru kenal bahkan mereka tidak tidak bisa menjelaskan hubungan mereka. Untuk saat ini mereka menyebutnya sebagai teman. Tapi apa mungkin seorang teman akan melakukan hal yang akan mereka lakukan.
Dan memikirkan hal itu membuat Luhan tersadar. Mereka memang teman. Tangan Luhan menahan tubuh Sehun yang sudah dekat dengannya. Sehun berhenti dan membuka matanya yang tadi sempat terpejam.
"Luhan,"
"Maaf Sehun. Kau tidak bisa." Suara Luhan terdengar lirih meski demikian Sehun masih bisa mendengarnya karena jarak wajah mereka yang begitu dekat. Sehun masih tidak merubah posisinya. Ia merasa kecewa. "Kenapa aku tidak bisa?" tanyanya dengan suara yang sama lirih.
Luhan menggigit bibirnya berusaha sekuat tenaga menahan emosinya. "Kita tidak bisa Sehun. Kita hanya teman." Suara Luhan bergetar saat mengucapkan kata 'teman'. Sehun mendengus lalu menarik wajahnya kembali. "Benar, kita hanya teman."
Luhan menunduk, airmatanya tiba-tiba ingin keluar. Mendengar perkataan Sehun yang mengatakan mereka hanya teman serasa seperti ribuan jarum menusuk tepat dipunggungnya. Sehun mengusap wajahnya kasar. Ia telah melakukan hal bodoh hari ini. Ia mengutuk dirinya yang lepas kendali tadi.
"Aku pergi. Maaf."
Sehun berdiri dan mulai berjalan menjauh tanpa sekalipun melihat kearah Luhan. Dan itu membuat air mata Luhan benar-benar jatuh. Luhan menatap punggung Sehun yang semakin menjauh dengan linangan air mata.
.
.
.
.
Malam harinya Sehun tidak bisa tidur. Ia berbaring nyalang diatas ranjangnya. Bayang-bayang kejadian tadi sore masih berputar diatas kepalanya. Sehun masih menyalahkan dirinya atas tindakan bodohnya itu. Pintu kamar Sehun diketuk seseorang tiga kali setelah itu Seyoung muncl dari balik pintu.
"Kakak" panggilnya. Sehun bangun dari tidurannya, baju dan rambutnya sedikit kusut. "Ada apa?"
"Ibu menyuruhku untuk memanggilmu. Kita makan malam." Seyoung masuk lebih dalam dan duduk di pinggir ranjang Sehun. "Baiklah, aku akan segera turun." Sehun menggeser pantatnya dan bersiap untuk turun sebelum suara Seyoung menghentikannya.
"Ada ayah juga."
Wajah Sehun berubah mengeras.
Sehun melangkah perlahan keruang makan mereka. Ada ayahnya disana. Duduk di salah satu kursi makan. Ibunya menyambutnya dengan wajah yang berseri. Sehun tidak ingat kapan terakhir kali ibunya tersenyum seperti itu.
"Sehun kau sudah datang? Duduklah. Kita makan malam bersama."
Tapi Sehun tetap berdiri, tidak bergeming sama sekali. Ia hanya menatap tajam kearah ayahnya. Ibu menatap cemas kearah anak sulungnya sedangkan Seyoung berpura-pura tidak mengerti keadaan saat ini, walau sebenarnya ia memahami betul.
"Sehun,"
"Aku tidak ingin makan, Bu."
Setelah mengucapkan itu Sehun berbalik. Suara kursi berderit terdengar, ayah Sehun berdiri dari duduknya. "Duduklah sebentar. Sehun."
Darah Sehun mamanas dan tangannya terkepal. Ia menoleh,menatap bengis ayahnya. "Kapan aku mengizinkanmu memanggil namaku."
"Sehun!" Hyun Joo berteriak memperingatkan anaknya.
"Aku tidak mengenal dengan orang yang memanggilku tadi."
"Sehun cukup! Berhenti berbicara!" Hyun Joo ikut berdiri. Seyoung meremas dadanya yang tiba-tiba berdetak kencang mendengar tiga orang dewasa didepannya saling berteriak.
"Sehun, bicara yang sopan pada ayahmu!"
"Ayah! Kau bilang dia ayahku," Sehun mendengus, "Aku tidak punya ayah! Tidak akan pernah!" Dada Sehun naik turun setelah berteriak tadi. Kemarahannya tidak bisa ia tampung lagi. Sehun sudah muak dengan ayahnya.
Dengan langkah besar ia meninggalkan ruang makan itu. Hyun Joo memijat pelipisnya yang berdenyut. "Anak itu benar-benar." Jung Sik menghampiri Hyun Joo dan memijat pundaknya, "Tidak apa. Aku bisa memahami apa yang dia rasakan saat bertemu denganku. Ini semua memang salahku." Hyun Joo menyentuh tangan Jung Sik yang berada diatas pundaknya. Seolah menguatkan lelakinya itu.
Seyoung terdiam melihat ibu dan ayahnya. Ia berada di posisi yang menyulitkannya. Ia tidak tahu harus berada dipihak siapa. Seyoung sangat menyayangi kakaknya, ia ingin berada disisi kakaknya saat ini. Tapi ia juga sangat mencintai ibunya. Seyoung berdiri, "Aku sudah selesai makan, Bu."
.
.
To be continued
.
.
Thanks to:
Lisnana1, HunHan's Real, HyunRa. Seunluan, lulittledeer20, RZHH 261220, xievaeah, Peter Lu, LayChen Love Love 2, CuteManlydeer. Oh Sera Land, candra, fuawaliyaah, seunluan, zoldyk
