Pair: ChanLay
Warning: Shounen-ai
ooOoo
Yixing membuka lipatan kertas kecil di tangannya.
"Tujuh?" gumamnya, lalu menepuk kepalanya. Duduk di baris kedua, sangat tidak aman untuk mencuri baca di tengah pelajaran. Untuk tipikal murid seperti Yixing yang lebih suka duduk di belakang, ini adalah bencana.
"Ah!" Lalu terdengar suara berat, suara yang familiar sekali bagi Yixing. Sudah pasti orang itu, siapa lagi kalau bukan dia yang suka berteriak.
"Kenapa, Yeol? Dapat nomor 42 lagi?" Tanya Baekhyun.
"Tidak, kali ini 18."
"Kenapa pakai teriak segala?" Tanya Jongin.
"Bukankah dia selalu begitu?" Timpal Jongdae.
Yixing sendiri sibuk memainkan telunjuknya di udara, sedang menghitung sesuatu. Tujuhbelas, delapanbelas...
"Ah."
Yixing menepuk kepalanya lagi, namun kali ini dengan senyuman. Ya, ya, ya, itu artinya Chanyeol duduk tepat di belakangnya. Mungkin ini bukan bencana, pikirnya.
Dengan semangat Yixing menuju bangku nomor 7.
GREP
Ada yang meraih tangan Yixing dari belakang. Yixing menoleh.
"Ikut aku," katanya.
ooOoo
Chanyeol bersandar di tembok sebelahnya, matanya menatap serius catatan sejarah di mejanya. Pikirannya jadi melayang ke hari pada saat Chanyeol menerima hasil ulangannya, pulang sekolah langsung disambut dengan makanan kesukaannya di meja makan. Ternyata Ibunya sudah dengar bahwa anak lelakinya itu dapat nilai tes sejarah tertinggi.
"Ibu dengar dari Ibunya Baekhyun," jawab Ibu Chanyeol saat Chanyeol bertanya. "Tadi saat Ibunya Baekhyun mengantar makan siang, Baekhyun cerita padanya."
Chanyeol tertawa. Dasar anak mami.
Lalu Chanyeol kembali dari ingatannya, matanya menangkap sebuah coretan kecil di sudut halaman bukunya.
Tuan Penulis Zhang Yixing.
Chanyeol rasa dia harus berterimakasih pada Yixing, karena Yixing membuatnya melupakan kutukan kursi 42. Kamudian kepalanya berputar, meneliti seisi kelas untuk menemukan sosok Yixing. Di mana dia?
Tanpa sengaja Chanyeol menjatuhkan buku catatannya. Bukunya itu jatuh ke depan, ke bawah kursi orang yang duduk di depannya.
"Maaf, bisa tolong ambil bukuku? Itu jatuh di bawahmu," bisiknya.
"Oh, iya."
Dia mengambilkannya untuk Chanyeol. Chanyeol tersenyum padanya.
"Terima kasih, Choi Minho."
Chanyeol memeriksa bukunya, membolak-balik benda persegi itu. Lalu membuka halamannya satu persatu. Tiba-tiba dahinya berkerut. Kalau tidak salah, seharusnya ada...
"Saya akan memanggil nama kalian dan silakan maju ke depan untuk mengambil buku tugas yang dikumpulkan minggu lalu. Pertama, Zhang Yixing..."
Semua mata tertuju ke arah belakang, termasuk Chanyeol. Anak itu, Yixing, sedang bangkit dari kursinya.
Kursi 42.
"Hah? Dia dapat kursi 42 lagi?" gumam Baekhyun, gumamannya itu cukup keras untuk didengar seisi kelas. Sama seperti yang ada di pikiran Chanyeol. Kalau dihitung berarti sudah tiga kali Yixing dapat kursi 42. Dan sudah berkali-kali Yixing duduk di deret paling belakang. Sebegitu burukkah peruntungan seoran Zhang Yixing? Kalau dipikir-pikir Yixing itu memang tidak pernah terlihat duduk di depan, bahkan setidaknya di tengah.
Yixing berjalan ke depan tanpa mempedulikan bisikan-bisikan teman-teman yang mengarah padanya. Chanyeol terus memandanginya dengan tatapan penuh tanya, tiba-tiba Chanyeol menatap sesuatu yang tidak beres.
"Eh?" Yixing berhenti berjalan tepat di sebelah meja Chanyeol, lalu dia membungkuk, mengambil sesuatu.
"Punyamu, Yeol?" Yixing menyodorkan selembar kertas kecil. Chanyeol menerimanya, tiket gratis taman hiburan yang baru didapatnya. Yang sedari tadi dicarinya.
Yixing tersenyum, lalu kembali berjalan. Tanpa Yixing sadari mulut Chanyeol sudah menganga lebar, Yixing juga tidak sadar kalau Chanyeol sudah melihat luka di ujung bibirnya.
ooOoo
Waktu makan siang tinggal sepuluh menit lagi, Baekhyun dibuat heran oleh Chanyeol yang belum menyentuh makanannya sama sekali. Chanyeol terlihat sibuk sekali memikirkan sesuatu, dia memandang tajam nampan makanan di depan. Dan pada kenyataannya dia memang sedang memikirkan sesuatu.
Chanyeol merasa ada yang ganjil, entah kenapa perasaannya jadi tidak enak setelah melihat luka di sudut bibir Yixing. Chanyeol mencoba minta penjelasan padanya tapi Yixing itu terlalu misterius, bisa menghilang secara tiba-tiba bagai teleportasi dan tidak ada yang tahu dimana dirinya berada.
Chanyeol mengacak rambutnya. Nafsu makannya sudah lenyap tak berbekas.
Di lain sisi Jongin yang jahil mengambil udang goreangnya diam-diam. Benar-benar mengambil kesempatan dalam kesempitan, begitu omel Baekhyun, tapi Chanyeol tidak peduli, yang ada di benaknya saat ini adalah Yixing,Tuan Penulis Zhang Yixing.
Penulis?
"Waktumu kurang dari sepuluh menit lagi, Yeol, jadi cepat makan makananmu," akhirnya Baekhyun angkat bicara, tidak tahan melihat temannya seperti itu.
Sekarang Chanyeol sudah tahu di mana Yixing berada. Chanyeol akan makan lima menit dan lima menit setelahnya dia akan menuju ke tampat di mana Zhang Yixing berada.
"Ya, aku akan makan dengan baik," ujarnya.
Baekhyun menatap Chanyeol yang mulai menyuapkan makanan di seberang mejanya. Baekhyun tahu akhir-akhir ini Chanyeol terlihat berbeda dan Baekhyun juga tahu itu semua karena Yixing, murid dari Changsha itu, otomatis Baekhyun mengerti bahwa kelakuan aneh Chanyeol saat ini pasti ada hubungannya dengan Yixing.
"Yeol," panggil Baekhyun pelan. Chanyeol mendongak.
"Apa ada yang terjadi dengan Yixing?" tanyanya hati-hati. Chanyeol menghela nafas, menelan makanan di mulutnya lalu berkata, "Aku juga tidak tahu, tapi kurasa ada yang aneh."
"Kenapa tidak kautanyakan langsung saja?"
"Bagaimana mau bertanya? Orangnya saja sudah menghilang sejak bel."
"Bukankah dia duduk di depanmu?"
Dahi Chanyeol berkerut, tidak mengerti.
"Ah, kalau tidak salah dia dapat nomor tujuh, aku melihatnya sekilas tadi pagi, dan menurut perhitunganku harusnya dia duduk di depanmu." Baekhyun menerawang. "Apa mungkin aku salah perhitungan, ya?"
ooOoo
Chanyeol yakin Yixing pasti ada di sini.
Chanyeol membuka pintu perpustakaan dengan pelan, agak canggung karena jarang mengunjungi ruangan ini. Kemudian matanya berkeliaran mencari sosok yang sedari tadi dipikirkannya, namun sebenarnya dia tidak perlu melakukan itu.
"Chanyeol?"
Karena Yixing sudah berdiri tepat di depannya.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Yixing. Tangan kanannya mendekap dua, ah, tiga buku yang Chanyeol yakini buku dari perpustakaan.
"Aku mencarimu," jawab Chanyeol seadanya.
"Mencariku?"
"Ada yang ingin kutanyakan padamu."
Lalu Chanyeol merunduk, wajahnya berhadapan persis dengan wajah Yixing. Pemuda Cina itu membelalak kaget. Tidak, jarak ini terlalu dekat, refleks Yixing mundur selangkah, tapi rak buku besar menghadang punggungnya.
"Ini," tiba-tiba jemari Chanyeol sudah ada di ujung bibirnya. "Kenapa?"
Chanyeol mengusap luka Yixing lembut, tidak sadar jika orang yang ditanyainya mulai memerah.
"A-aku..."
"Siapa yang melakukan ini padamu? Tanya Chanyeol tepat sasaran, kali ini dia sedang tidak ingin bertele-tele. Chanyeol bisa membedakan mana bekas pukulan dan mana yang tidak, jadi dia tidak mau menerima jawaban bohong Yixing, Chanyeol tahu Yixing akan berbohong.
"Ah, aku baru jatuh dan–"
"Jangan berbohong, katakan siapa orangnya!"
Sebenarnya Chanyeol tidak berniat membentak, namun api emosi sudah menyulut Chanyeol dan ditambah dengan tatapan tajam darinya membuat Yixing semakin takut, dia menelan ludahnya paksa.
"Apa ini karena..."
"C-Choi Minho," ujar Yixing lirih.
ooOoo
Namanya Choi Minho, kapten tim basket yang dibanggakan sekolah. Sosoknya yang karismatik ditambah wajahnya yang tampan membuat dirinya punya banyak penggenar wanita, tubuhnya yang atletis dan kemampuan olahraganya membuat iri banyak murid laki-laki lainnya – walaupun Chanyeol yakin sebenarnya dirinya lebih keren daripada Choi Minho itu – dan Chanyeol tidak menyangka ternyata orang itu suka main tangan.
"Aku tidak mau duduk di kursi paling belakang, berikan nomor undianmu!"
Begitu bentak Minho, sesuai penuturan Yixing, sebelum meninju wajah Yixing karena sempat menerima penolakan. Lalu dengan mudah Minho merebut kertas undian dari tangan Yixing. Chanyeol sampai geleng-geleng kepala, ternyata pangeran sekolah juga punya sifat yang kekanak-kanakan macam itu.
Setelah itu Minho menambahkan ancaman pada Yixing, ancaman kekerasan, yang sontak membuat Yixing tidak dapat mengelak lagi. Dan kejadian itu sudah terjadi berulang kali, itulah alasan mengapa Yixing tidak pernah terlihat di depan. Minho dan beberapa temannya sudah memanfaatkan Yixing.
"Jangan takut, yang penting sekarang kau sudah aman," kata Baekhyun sambil membubuhkan obat merah di kapas, lalu menempelkannya perlahan di luka Yixing. "Aku kan anggota dewan murid, kami pembela kebenaran."
Chanyeol memutar matanya, sementara Yixing meringis kesakitan.
"Pelan-pelan, Baek, kau tidak lihat dia kesakitan?" protes Chanyeol.
"Aku sudah pelan-pelan!"
"Tapi dia kesakitan!"
"Sssttt, jangan berteriak! Ini ruang kesehatan," ingat Yixing, membuat Chanyeol dan Baekhyun menutup mulutnya serempak.
"Sudahlah, ini hanya luka kecil, aku baik-baik saja," Yixing meyakinkan.
"Tapi kelakuan Minho tidak bisa diterima, ini pem-bully-an!" kata Chanyeol berapi-api.
"Aku tidak apa-apa, Chanyeol, percayalah."
Dan Chanyeol bukanlah orang yang mudah percaya.
ooOoo
Sudah waktunya pulang. Yixing mengemasi buku pelajarannya di meja. Sebenarnya dia sendiri tidak masalah kalau duduk di belakang, mengingat banyak kesempatan yang dengan mudah didapatkan Yixing untuk membaca buku. Namun ada sedikit penyesalan, karena harusnya dia merasakan dua minggu belajar di dekat Chanyeol.
Kebanyakan dari seisi kelas sudah berhambur keluar, hanya ada murid yang giliran piket sedang memulai membersihkan kelas. Yixing berniat mengajak Chanyeol pulang bersamanya lagi, namun sayang anak itu sudah tidak ada.
Yixing pergi bertanya pada Baekhyun yang tengah memegang sapu di depan kelas. "Baekhyun, apa Chanyeol sudah pulang?"
"Oh, belum, dia pergi menghabisi Choi Minho."
"APA?!"
ooOoo
Yixing tidak bisa tenang, dia belum bisa pulang ke rumah sebelum melihat Chanyeol dalam keadaan utuh. Seusai piket Baekhyun berjanji untuk membawanya ke lokasi, di mana Chanyeol menghabisi Minho, karena sejujurnya Yixing terlalu takut menghadapi mereka sendirian. Di dalam benak Yixing adegan-adegan kekerasan mulai berputar. Di mana Chanyeol berusaha menghajar orang itu, namun gerakannya meleset dan orang itu berhasil membuat Chanyeol tersungkur karena tinjunya, lalu Chanyeol–
Ternyata Baekhyun berhenti di depan ruang guru.
"B-Baekhyun! Cepat bawa aku ke sana!"
"Duh, kau ini kenapa tegang begitu, sih? Dengar ya, ini bukan seperti cerita dalam novel, jangan berpikiran yang tidak-tidak!"
Baekhyun melongokkan kepalanya ke jendela ruang guru, Yixing mengikutinya. Di dalam ruangan itu terlihat Chanyeol berada di depan meja wali kelas mereka.
"Dia hanya melaporkan Choi Minho kepada Pak Guru, Yixing."
Kedua mata Yixing melebar. Hah, syukurlah, khayalan tinggi Yixing tidak benar-benar terjadi.
Sekarang Yixing sudah bisa pulang dengan tenang, dengan senyuman karena sudah ada Chanyeol yang berjalan di sampingnya.
"Apa tadi kau mengkhawatirkanku?" tanya Chanyeol memecah keheningan. Yixing menggeleng pelan.
"Oh, padahal tadi kulihat wajahmu pucat sekali, loh," Chanyeol tersenyum jahil. Yixing memalingkan wajahnya gugup.
"Tidak kok," katanya.
"Kau ini tidak pandai berbohong, Xingxing."
Xingxing? Yixing hampir tersandung batu, nama pangilan macam apa itu?
Tidak terasa sudah sampai di depan rumah Yixing, mereka berdua berhenti.
"Terima kasih sudah menemaniku pulang. Sampai jumpa," ujar Yixing tanpa menatap Chanyeol. Dia sudah ketahuan berbohong dan sekarang dia tidak punya muka lagi.
"Tunggu, Yixing."
Pergelangan tangannya ditahan dengan lembut oleh Chanyeol. Mau tidak mau dia harus berhenti melangkah.
"Kau terlihat ketakutan, aku khawatir."
Pipi Yixing makin memanas, dia tidak tahu harus berkata apa.
"Kau sudah aman, kalau kau dipukul lagi bilang saja padaku, aku akan memukulnya dengan–"
"Jangan!" potong Yixing. "Jangan berkelahi, aku tidak mau kau kenapa-kenapa."
Chanyeol tersenyum penuh arti. Dia suka pada Yixing, dia suka Yixing yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan.
"Kalau begitu kau juga jangan ketakutan lagi."
Satu tangan Chanyeol meraih tangan Yixing yang lainnya. "Nah, untuk menyegarkan pikiran, bagaimana kalau akhir pekan ini kita kencan?"
Nah. Ini ajakan kencan yang kedua kalinya. Yixing merasa Chanyeol sungguh-sungguh mengajaknya, harusnya dia tidak ragu-ragu lagi menerima ajakannya.
"Bagaimana? Kau bisa?" tawar Chanyeol lagi.
"Maaf, tapi... aku tidak bisa..." Yixing menggantung kalimatnya.
Demi apapun Chanyeol sudah pasrah mendengar jawaban Yixing.
"...untuk bilang tidak."
Note:
Sedikit mengangkat tema yang sudah seringkali dijadikan tema sinetron sampai film, tapi tema ini nggak begitu terasa di chapter ini, bullying. Haha.
Mungkin ini akan jadi fic terakhir yang saya update sebelum ujian Mei nanti, inipun harusnya saya dimarahi Bu Guru karena masih sempat-sempatnya main-main. Haha.
Terakhir, mohon doanya untuk ujian saya nanti. Selepas ujian, janji deh ide-ide di otak akan 'jadi' beneran dan post fic seperti air mengalir, jiah. Haha.
