Title : All Of Me

Author : strawbaek

Pairing : Chanbaek

Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kim Jongin, Oh Sehun, Kim Junmyeon, Do Kyungsoo

Rate : T

Warning: boy x boy/yaoi. If you dont like, please kindly click "X" button on your page.

Note : This is purely a yaoi fict so if you a straight couple shipper dont ever read this because youll definitely ended up with feeling weird. Eheh i'll update every chapter on twitter so you can check it on /strawbaek. Happy reading~~~~~

Here we go!

.

.

.

"aku ingin bersamamu, tidak takut akan perubahan, kita bukan bandara"

"aku ingin bersamamu, tidak takut akan perubahan, kita bukan bandara"

"aku ingin bersamamu, tidak takut akan perubahan, kita bukan bandara"

Chanyeol mengulang terus kata – kata itu sampai akhirnya ia sampai ditempat tujuannya dan...

.

.

Chanyeol terhenyak dengan nafas yang tersengal. Ia memegangi lututnya dan mulai mencari sosok mungil itu, menjelajah dengan mata bulatnya mencoba menemukan Baekhyun. Nihil. Ia tak menemukan siapapun disana. Sungai Han, tempat dimana Baekhyun dan Chanyeol sering menghabiskan waktu berdua, namun ternyata sungai yang menurutnya bersejarah baginya itu tidak mampu mengembalikan Baekhyun kedalam pelukannya. Ia mulai memutar otaknya dan berfikir, kemanakah Baekhyun pergi? Sesaat kemudian ia teringat janjinya untuk membawa Baekhyun kesuatu tempat jika mereka merayakan 6 bulan anniversary, Namsan Tower! Sebuah lampu menyala diatas kepala Chanyeol, menandakan ia mendapat sebuah ide yang menurutnya cukup cemerlang. Ia memutuskan untuk pergi ke namsan tower menggunakan bus. Sepanjang jalan ia terus memikirkan Baekhyun, apa yang harus ia katakan nantinya, apa yang harus ia lakukan supaya Baekhyun mau memaafkannya, Chanyeol memegangi kepalanya yang mulai berdenyut hebat.

Tidak butuh waktu lama, sekarang Chanyeol sudah sampai ditempat tujuannya, ia buru – buru mencari Baekhyun disekitar tower, namun seketika pandangannya jatuh kesepasang gembok. Gembok berwarna pink dan biru muda, bertuliskan nama "BaekHyun" dan "ChanYeol", Chanyeol sempat berfikir rasional jika dikorea bahkan ada ratusan orang yang bernama Baekhyun dan Chanyeol namun yang membuatnya tertegun adalah dikertas yang tergantung digembok itu ada sebuah foto yang memperlihatkan dua buah tangan yang tengah bertaut, salah satu tangan itu memakai gelang yang mirip dengan Baekhyun, sementara tangan yang satunya memakai cincin yang sama persis dengannya. Benar. Baekhyun datang kemari, batin Chanyeol. Kemudian namja jangkung itu mulai mengitari segala arah dan sudut, sampai matanya menangkap satu sosok yang berdiri membelakanginya, tubuhnya cukup mungil dan memakai jaket hitam. Chanyeol memberanikan diri untuk mendekatinya, antara takut dan berharap itu benar Baekhyun.

"Baek.." Chanyeol memeluk namja itu dari belakang dan langsung meletakkan dagunya dipundak ciut itu.

"maafkan aku Baek, aku salah. Aku sudah menyakitimu dengan sebegini dalam. Tapi kau harus tau mengapa aku melakukan ini semua. Ini tidak seperti yang kau bayangkan Baek kumohon dengarkan aku.." namja dalam pelukannya itu mencoba melepaskan diri namun Chanyeol tidak peduli dan justru mengeratkan pelukannya

"jangan lepaskan dulu dengarkan aku, aku mohon Baek.." suara Chanyeol terdengar parau, ia ingin menumpahkan apa yang ada dalam hatinya, namun namja kecil itu menarik dirinya dengan paksa dan melepaskan pelukan Chanyeol, dengan cepat ia membalik tubuhnya dan..

"maaf tuan anda sepertinya salah orang." Wajah Chanyeol memanas ketika ia menyadari itu bukan Baekhyun melainkan namja lain yang entah siapa namanya, Chanyeol buru – buru membungkukkan badannya dan berulang kali meminta maaf. "mian.. aku tidak tau kupikir kau kekasihku mian.." chanyeol merapatkan hoodie merahnya dan kemudian pergi. Perasaannya semakin berkecamuk. Dimana Baekhyun?

Chanyeol terus melangkahkan kakinya, entah kemana tujuannya sekarang ia masih terus berpikir, tempat mana saja yang mungkin Baekhyun kunjungi. Ada ribuan misscall dan jutaan sms di ponsel Chanyeol namun tidak ia pedulikan, selama itu bukan dari seseorang yang ia cari saat ini ia tidak akan peduli. Sesaat kenudian pikirannya melayang jauh ke beberapa waktu silam dimana ia dan Baek berlibur dirumah nenek Baekhyun didaerah gangwonddo yanggu. Seulas senyum muncul di bibir tebal Chanyeol, aku menemukanmu, Baek.

.

.

.

.

"ya! namja bodoh itu tidak menjawab telfonku." Suho berkata sambil membanting ponselnya diranjang miliknya, sementara Sehun dan Jongin hanya memandangnya dengan tatapan serba salah. Mereka juga mencoba ribuan kali mencoba menghubungin Chanyeol namun mereka tak mendapatkan jawaban.

"tunggu sebentar.." Jongin dan Sehun terkisap menatap Suho heran.

"dimana Kyungsoo?" dan saat itu pula kedua bayi kembar ini menyadari Kyungsoo tak menampakan batang hidungnya semenjak Chanyeol menghilang dari dorm.

"semoga simata besar itu tak memperburuk keadaan dengan kabur bersama Chanyeol." Sehun berkata datar

"aku tak segila itu." Tiba – tiba sosok Kyungsoo berdiri diambang pintu dengan mata bulatnya. Tidak. Ia tidak sedang melotot, memang seperti itulah matanya.

"lalu kau dari mana?" tanya Suho sambil duduk disamping Jongin

"membereskan apa yang harus aku bereskan." Katanya singkat mengikuti arah Suho duduk dan kemudian menjatuhkan bokong idaman Jongin itu tepat disamping sang leader. Ketiga member itu mengeryit tak mengerti dan disadari oleh Kyungsoo, "nanti kalian semua juga tau."

"tapi yang paling penting sekarang adalah dimana Chanyeol Hyung? Apa kau tau?"

"tidak usah khawatirkan namja bodoh itu, biarkan ia melakukan apa yang harus ia lakukan." Ucap Kyungsoo tenang

"tapi masalahnya ia tak memberi tau kita dimana ia sekarang. Setidaknya beri tahu kita bisa membantunya" ucap Jongin pelan

.

.

.

.

.

"annyeong halmoni, apakah Baekhyun ada disini?" Chanyeol bertanya setengah berharap

"kau..yang waktu itu datang bersama Baekhyun kan?" perempuan tua yang masih sangat terlihat bugar itu bertanya dengan eye smile-nya, membuat senyum Chanyeol merekah lebar

"ne. Halmoni masih mengingatku bukan?"

"bagaimana aku bisa lupa dengan teman baik cucu kesayanganku, ayo masuk, Chanyeolie.." ucapnya mempersilakan. Aku bukan sekedar teman baiknya halmoni, aku kekasihnya, kekasih yang sempat bodoh karena menyia – nyiakannya dan sekarang sedang mencoba memperbaiki semuanya, ucap Chanyeol dalam hati. Chanyeol masih tersenyum, hatinya hangat disambut dengan baik oleh nenek Baekhyun dan lagi ia mengingat nama Chanyeol dengan baik.

"jadi..kau pergi kemari mencari Baekhyun?" tanya sang nenek dengan menuangkan minum digelas Chanyeol yang dijawab dengan anggukan

"minumlah kau terlihat kedinginan." Ucapnya tersenyum seraya duduk didepan Chanyeol

"jadi Baekhyun tidak pergi kemari halmoni?" tanya Chanyeol, terdengar frustasi.

"tapi kau tau kan Baekhyun suka pantai, ia akan menumpahkan semua perasaannya disana." Chanyeol mengerjap, mencoba mencerna kalimat itu. Kemudian dengan buru – buru ia menenggak minumannya dan berdiri, "kalau begitu aku akan mencarinya kepantai, terimakasih halmoni." Ucapnya dengan membungkukkan tubuhnya

"kau kekasih yang baik bagi Baekhyun.." ucap sang nenek pelan namun Chanyeol tidak cukup tuli untuk tidak mendengar kalimat itu. Ia menangkup kalimat ajaib itu dari kuping dan ia salurkan ke otaknya melalui arus cinta yang mengalir dengan cepat, menciptakan reaksi cukup berlebihan karna membuat tubuhnya tersentak dan bergetar. Bagaimana nenek Baekhyun tau.

"kau tau, Baekhyun menceritakan semua tentang hubungan kalian kepadaku."

"eng- e- ne?" Chanyeol berusaha keras merespon dengan kalimat seperti 'benarkah? Apa saja yang Baek katakan?' namun malang, hanya satu kata singkat itu yang keluar dari bibirnya.

"ne.." nenek Baekhyun hanya menjawab singkat yang dihiasi dengan senyuman indah, sepertinya Baekhyun mewarisi sifat yang nenek yang ramah dan murah senyum.

"b-baik lah, kalau begitu aku permisi dulu halmoni." Ucap Chanyeol dengan membungkuk sekali lagi

"ne, hati – hati.."

.

.

.

.

Chanyeol berlari kearah pantai dengan terburu, ingin segera melihat namja pujaannya itu. Ia mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan siapapun. Chanyeol menghela nafas beratnya, ia lelah, sangat lelah dan Baekhyun belum bisa ia temukan. Ia sangat menghawatirkan Baekhyun saat ini. Ia terduduk lemas diatas pasir, memegangi kepalanya yang terasa pusing. Selama beberapa jam ini kepalanya tak berhenti memikirkan Baekhyun, memutar semua memori tentangnya dengan Baekhyun bagaikan film dalam bioskop. Sesaat sebulir air menetes dari sudut matanya, mencoba menceritakan bagaimana perasaan yang ada dalam ruang hatinya saat ini.

.

.

.

Sementara ditempat lain seorang namja kecil meringkuk dalam hoodie kebesarannya di suatu sudut. Ia mencoba meredam tangisnya yang sudah pecah sedari tadi, Baekhyun mengusap sungai kecil dipipi mulusnya dengan punggung tangan. Entaha sudah berapa lama ia menghabiskan waktu di tempat ini namun sepertinya air matanya belum mau berhenti mengalir.

"chanyeolie bodoh"

"chanyeolie jahat"

"chanyeolie keterlaluan"

"AKU BENCI CHANYEOLIE!" ia berteriak namun dengan reflek ia menutup kembali mulutnya, tidak ingin orang – orang tau tentang keberadaannya.

.

.

.

.

"pulang kau sekarang juga" Suho berkata di sambungan telfonnya dengan tenang

"tapi hyung aku belum menemukan Baekhyun.." terdengar suara frustasi Chanyeol disebrang sana

"pulang." Ucap Suho singkat

"tapi hyu-"

"kubilang pulang." Ucap Suho penuh penekanan

"n-ne Hyung aku pulang."

Sesaat kemudian...

Namja tinggi itu berjalan gontai memasuki gerbang dormnya yang berukuran cukup besar dan cukup mewah. Bangunan kokoh itu menjulang tinggi dan lampu – lampu terangnya terlihat sangat cocok dengan suasana malam kota seoul kala itu. Chanyeol berjalan menunduk dan tidak memperhatikan Hyung dan dongsaengnya yang menunggu didepan dorm, tentu saja kecuali Baekhyun.

Keempat member itu menghampiri Chanyeol yang berhenti didepan mereka dengan wajah lesu dan menepuk pundak Chanyeol dengan pelan.

"aku tidak bisa menemu-" belum sempat Chanyeol menyelesaikan kalimatnya tangan Suho mengangkat dagunya agar mendongak dan mengarahkan telunjuknya kesebuah arah. Mata Chanyeol membulat. Darahnya berdesir, namun ia mencoba untuk mengontrol sekuat tenaga dan kemudian langsung berlari kearah telunjuk Suho menunjuk. Ia menaiki tangga dengan terburu, melupakan semua rasa lelah yang ada didalam tubuh dan otaknya. Sampai akhirnya, disinilah Chanyeol, berdiri didepan namja kecil yang meringkuk dan menundukkan kepalanya. Chanyeol mencoba membersihkan tenggorokannya supaya ia bisa berbicara dengan lancar dan jelas.

"Baek.." namja kecil itu bergeming. Chanyeol mencoba mendekatinya dan berjongkok didepannya

"Baek aku mencarimu kemana mana, ke sungai han, ke namsan tower, bahkan aku mencarimu kerumah nenekmu aku benar – benar mencarimu." Chanyeol memastikan suaranya tak bergetar ketika meloloskan kalimat itu

"bodoh." Hanya kalimat itu yang Chanyeol dapatkan sebagai respon.

"bagaimana bisa kau mengatakan aku bodoh? Aku bahkan begitu jenius memikirkan tempat – tempat favoritmu" Chanyeol bertanya tak percaya

"kau bodoh. Sungai han, namsan dan rumah nenekku tak memberikan makna lebih dari balkon ini. Kau ingat disini pertama kali kau- pertama kali kita- ah sudahlah." Baekhyun berkata tanpa menatap kearah Chanyeol. Kemudian semuanya hening.

"chanyeolie.."

"eum?" Chanyeol berusaha duduk disamping Baekhyun, ia berfikir mungkin hati Baekhyun sudah melunak dengan semua pengorbanannya mencari Baekhyun

"aku tidak pernah menginginkan untuk melihatmu tidak merasa senang.." kalimat itu menggantung, Chanyeol mulai mengerutkan dahinya

"aku rasa kau juga tidak ingin melihatkan merasa tidak senang terus menerus jadi aku pikir tidak ada yang perlu kita pertahankan lagi." Kata Baekhyun sambil menatap sayu kearah Chanyeol yang tengah mengangakan mulutnya dengan lebar

"apa maksudmu Baekhyun? Kau mengatakan ini setelah semua perjalanan bodoh yang aku tempuh yang ternyata tidak menemukanmu?"

"untuk apa kau berjalan jauh demi menemukanku jika hatimu sebenarnya tidak kemana – mana? Tetap dihati Kyungsoo, untuk apa kau menghabiskan ber jam – jam waktu berhargamu untuk melihatku sementara matamu hanya bisa melihat Kyungsoo? Untuk apa kau memikirkan bagaimana cara menemukanku jika otakmu sudah dipenuhi oleh Kyungsoo, untuk apa ka-mmpp" Chanyeol menutup mulut mungil itu dengan bibir tebalnya, meraup bibir ranum itu dengan sedikit kasar, Chanyeol sudah sangat lelah dengan semua ini, dengan sikap dingin Baekhyun terhadapnya, dengan airmata Baekhyun yang nyatanya itu semua karena dia. Baekhyun mencoba menghentikan sikap Chanyeol namun sia – sia, ia tidak mempunyai cukup tenaga untuk mendorong tubuh tinggi tegap itu. Namun setelah mereka tidak punya cukup oksigen untuk bertahan hidup, tautan bibir mereka terlepas.

"dengarkan aku dan jangan berani menyela ketika aku belum selelsai bicara." Baekhyun terlihat ingin protes namun telunjuk Chanyeol sudah bertengger dimulutnya.

"pertama maafkan aku, karena Suho hyung sudah mengetahui tentang kita.." mata Baekhyun membelalak

"dan dia mengizinkan." Baekhyun bernafas lega. Tunggu, lega? Untuk apa? Bukankah ia ingin mengakhiri semuanya?

"aku memang menjahimu Baek, bukan bermaksud sudah tidak mencintaimu. Aku masih sangat mencintaimu, sangat."

Chanyeol mengehela nafas dengan tenang, tangannya masih menggenggam lembut jemari lentik Baekhyun

"kyungsoo..aku tak memiliki perasaan apapun dengannya. Aku tau kau berdua sangat dekat, aku tak mungkin melakukan itu Baek. Aku..aku hanya ingin membuatmu cemburu. Dan Kyungsoo mengetahui itu, makanya ia tak pernah dengan jelas menolakku."

"tapi kau keterlaluan!" Baekhyun setengah berteriak

"Baek dengarkan aku.."

"ani! Kau keterlal- YA!" seketika semua lampu padam. Baekhyun takut gelap, entah memori apa yang membuatnya ketakutan dengan gelap namun ya begitulah Baekhyun. Chanyeol memeluk Baekhyun dengan erat, mencoba menenangkan namja yang gemetar didalam pelukannya itu.

"SIAPA YANG BERANI MEMATIKAN LAMPUNYA DEMI APAPUN DIMUKA BUMI AKU MEMBENCIMU!" Baekhyun masih berteriak tanpa melepaskan Chanyeol, ia justru menyandarkan kepalanya di dada bidang Chanyeol. dan siapapun yang mematikan lampu demi apapun aku berterimakasih kepadamu, ucap Chanyeol dalam hati sambil tersenyum dalam diam.

Baekhyun sudah mulai tenang. Lalu samar – samar mulai terdengar petikan gitar, Baekhyun mengernyit dalam pelukan Chanyeol, sementara namja tinggi itu menyeringai. Tak berapa lama suara yang terdengar familiar mulai mengalunkan lagu mereka, don't go, Kyungsoo, itu suara Kyungsoo. Baekhyun mendongakkan matanya untuk menatap Chanyeol, walaupun semuanya gelap namun Baekhyun bisa melihat Chanyeol sedang tersenyum kearahnya. Mereka terus berpelukan selama lagu itu mengalun, entah setan apa yang merasuki Baekhyun, ia mengeratkan pelukannya kepada Chanyeol.

Seiring dengan berakhirnya lagu don't go, sebuah letupan keras mengagetkan dua insan yang tengah larut dalam perasaan masing – masing. Baekhyun mendongak dengan reflek begitupun Chanyeol, kembang api. Langit seoul yang begitu indah tampak anggun dan menawan dengan kembang api yang jelas diketahui datangnya dari arah bawah.

Chanyeol membawa Baekhyun ke tepi balkon dan mengarahkan tubuh Baekhyun menghadap dimana kembang api masih bertengger di langit, kemudian Chanyeol menyusupkan lengan kekarnya keperut Baekhyun, memeluknya dari belakang. Semburat merah muda nampak dipipi Baekhyun jika lampu tidak padam. Setelah dirasa cukup memberikan kehangatan kepada namja mungil itu, Chanyeol mulai membalik tubuh Baekhyun, ia berlutut didepan Baekhyun tanpa melepaskan pandangan matanya dari mata hazel itu. Baekhyun membeku, ia benar – benar tidak mengerti dengan semua ini. Mata bulat milik Chanyeol itu seperti menghipnotisnya.

"jadi Byun Baekhyun..maukah kau memakai kembali cincin yang kau buang tempo hari ketika pergi kebioskop? Dan mengijinkanku untuk menjadi satu – satunya orang yang menjadi tempatmu bersandar. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya Baek, ini semua tidak seperti apa yang kau bayangkan. Biarkan Chanyeol menjadi satu – satunya nama yang memenuhi otakmu, biarkan Chanyeol menjadi satu – satunya orang yang mengisi hati dan hari – harimu, biarkan Chanyeol menjadi satu – satunya alasan yang membuatmu tersenyum, biarkan Chanyeol..." Chanyeol berhenti sesaat

"biarkan Chanyeol menjadi namja bodoh selamanya." Baekhyun tersenyum

"kalau bersama Baekhyun berarti menjadi bodoh, biarkan aku menjadi bodoh selamanya." Chanyeol merentangkan tangannya bangga sementara Baekhyun tertawa sambil memutar bola matanya

"berdiri." Baekhyun menarik lengan Chanyeol

"tidak sebelum kau menjawab pertanyaanku."

"pertanyaan yang mana?" Baekhyun bingung

"Baekhyun, maukah kau menikah denganku?" Chanyeol mengambil cincin lain disaku hoodienya

"kau tadi tidak bertanya begitu!" Baekhyun terlihat protes

"tinggal jawab iya Hyung kenapa lama sekali!" terdengar suara Sehun dari bawah. Ia tidak sendiri, Baekhyun terbengong dan menghitung berapa banyak orang dibawah sana, 10. Semua member ada disana! Dan tunggu, mereka yang membuat ulah selama ini?

"YA! KALIAN YANG MEMADAMKAN LAMPUNYA? YANG MENYANYI? YANG TIBA – TIBA MEMAINKAN KEMBANG API?" mereka semua mengangguk

"YA! KAU MEMBUAT JANTUNGKU HAMPIR COPOT!"

"jantungmu hampir copot?" Jongin bertanya sedangkan Baekhyun mengangguk

"kau yakin itu semua karena ulah kami? Bukan karena namja bodoh yang tengah melamarmu?" Jongin menyeringai sementara member lain mulai tertawa pelan. Baekhyun memerah, ia memalingkan wajahnya namun salah langkah, ia justru bertemu dengan wajah Chanyeol yang masih dipenuhi oleh tanda tanya.

"umm ne." Jawab Baekhyun sambil menundukkan kepalanya

"mwo? Apanya?" Chanyeol mengerjab dan terlihat bingung

"dasar bodoh." Baekhyun mempoutkan bibirnya

"kau lebih" Chanyeol berkata jahil

"YA! Aku lebih tua darimu!"

"tapi aku jelas lebih tinggi darimu, Baek." Baekhyun kembali mempoutkan bibirnya

"ahaha arra arra" Chanyeol meraih jemari Baekhyun dan menyelipkan cincin polos itu dijari manis Baekhyun. Kemudian ia berdiri dan meraih dagu Baekhyun, menarik pout lucu itu kedalam ciuman yang lembut. Baekhyun mengalungkan lengannya ke leher Chanyeol dan mereka pun memperdalam pagutan itu, tanpa nafsu namun penuh cinta. Chanyeol terus melumat bibir bawah Baekhyun sementara Baekhyun sibuk mencumbui bibir atas Chanyeol. ciuman hangat itu diiringi oleh kembang api yang mulai merekah lagi dilangit gelap yang mulai berwarna.

"Baek, coba kau tekuk jari tengahmu. Lalu angkat jari yang lain" baekhyun mengernyit namun menuruti apa yang Chanyeol perintah. Ia nampak bingung dengan apa yang terjadi

"apa yang terjadi?" Chanyeol bertanya sedangkan Baekhyun masih mengamati, "umm pegal, jariku pegal." Baek berkata polos

"ani, amati lagi.." Baekhyun kembali mengamati jari – jarinya, kemudian ia menggeleng pelan. Chanyeol tersenyum

"kau lihat, ketika jari tengahmu kau tekuk dan jari yang lain kau angkat, jari manismu tidak bisa berdiri tegak kan? Ia masih membungkuk menemani si jari tengah?" Baekhyun mengangguk

"aku ingin kau terus menjadi jari manisku, ketika aku jatuh, kau akan terus menemaniku."

Baekhyun tersenyum, mengangguk kecil.

Chanyeol pun tersenyum.

Mereka saling memandang.

Mereka mempertipis jarak diantara mereka berdua dan kembali berpelukan. Baekhyun menyandarkan kepalanya didada kekasih- ah calon suaminya. Sementara Chanyeol menaruh dagunya diatas kepala Baek, mereka saling tersenyum dalam diam.

DUAR!

"YA!"

Semua member berlarian masuk menuju dorm sebelum Baekhyun mengumpat marah.

END.

WOW ini chapter ter gaje guys but ya semoga kalian suka. Ga fluffy fluffy amat sih tapi yang penting happy ending ya ga hahaha thanks buat readers, siders, dan yang udah leave review yang gabisa disebut satu – satu, makasih banget udah mau setia nungguin ff ini update ehehe. Jangan lupa review ya, ya ga maksa sih tapi kalo bisa ya review (?) gitudeh wkwk okedeh btw thanks sekali lagi buat kalian semua. See you in the next fanfic!