Saat aku membuka mata, yang terlihat adalah langit berwarna biru.
...Tunggu dulu, langit berwarna biru? Tidakkah itu aneh? Bukankah tadi aku tidur di kamarku? Jelas-jelas yang terakhir kulihat adalah langit-langit kamar. Kapan aku keluar? Dan kenapa sekarang sudah siang? Bagaimana dengan kerjaku hari ini?
"Tsuna~ Ada orang yang lagi tidur di atas rumput~ Lambo-san juga mau~"
"Oi, Lambo! Jangan lari! Tunggu!"
Mendengar suara yang familier, aku segera membangunkan diri. Aku lihat 2 orang anak yang sedang berlari menuju ke arahku. Ya, tidak hanya suara mereka yang familier, tetapi sosok mereka juga familier. Anak kecil dengan baju bermotif sapi, dan anak remaja dengan rambut cokelat runcing. Tidak salah lagi. Mereka adalah Tsuna dan Lambo.
"Lambo-san tidur siang di atas rumput!"
Lambo mulai tidur-tiduran di sampingku. Oh, rasanya sedikit aneh mendengar suaraku sendiri seperti ini. Biasanya aku mendengarnya dari layar TV atau radio. Apakah karena hari ini ulang tahun Lambo, karena itu aku bermimpi seperti ini?
"Lambo, kan sudah kubilang hari ini kita cuma belanja sebentar. Ibu sudah menunggu dengan kue kesukaanmu, lho."
"Tapi Lambo-san mau main di sini! Di rumput! Empuk! Wangi!"
Sepertinya setelah ini akan ada pesta ulang tahun Lambo. Apakah aku bisa membantu Tsuna? Hemmm... Tapi kalau di dalam mimpi terkadang kita tidak bisa bicara dengan tokoh yang muncul... Ya sudahlah, coba saja dulu.
"Dik, kau pergi saja berbelanja. Biar adikmu ini aku jaga di sini."
Di luar dugaan, Tsuna langsung memutuskan untuk menitipkan Lambo dan berlari untuk pergi berbelanja. Oh, tidakkah dia curiga kalau aku ini seorang pembunuh bayaran, utusan mafia atau apalah? Ya sudahlah, memikirkan mimpi tidak akan ada akhirnya. Kaupun bisa terbang di udara jika sedang bermimpi.
"Umm... Lambo-san mau jadi pahlawan!"
Bermain hero, ya. Lucunya... Lambo memang anak kecil, ya... Anak kecil biasa tidak akan mengeluarkan pedang mainan ataupun granat asli dari rambutnya, sih...
"Oh iya, nama kamu siapa?"
"Aku Takeuchi Junko. Panggil saja Junko, ya!"sahutku sambil jongkok dan mengelus-elus rambut Lambo. Kukira rambutnya lebih terasa kasar, tapi ternyata cukup lembut juga. Walaupun kusut dan banyak isinya, sih.
"Kalau begitu Junko! Junko jadi penjahat ya!"
"Baiklah... Fuhahahaha! Akhirnya kau datang juga, Lambo asli!"
Kami saling kejar dan mengejar di sekitar taman. Kurasa orang-orang akan bingung dengan suara kami yang terdengar dari taman ini. Suara kami sama persis, (tentu saja, karena yang mengisi suara Lambo adalah aku) mereka pasti mengira ada satu orang yang sedang bermain dua peran.
"Lambo-san yang asli tidak akan kalah dengan yang palsu!"
"Coba saja kalau kau bisa. Pada akhirnya aku akan menjadi asli! ...Oh, Tsuna sudah kembali"
Aku lihat dari kejauhan Tsuna sedang berlari dari pintu taman sambil membawa kantung belanja. Ternyata lebih cepat dari yang kuperkirakan. Atau waktu sudah berlalu lama tetapi aku keasyikan?
"Ma, maaf membuat anda menjaga Lambo... Te, terima... kasih..."kata Tsuna dengan napas yang terengah-engah.
"Tidak apa-apa, justru aku yang harus berterima kasih denganmu. Aku dapat pengalaman berharga bermain dengan anak ini"
Setelah mengantar kepergian Tsuna dan Lambo, aku kembali duduk di atas rumput. Kali ini dengan menyandar ke sebuah pohon. Sepertinya aku memang sudah berumur, ya. Berlarian di taman seperti tadi terlalu melelahkan untuk tante-tante berumur 40. Kenapa ya, padahal ini hanya mimpi, tapi rasanya lelah sekali. Aku ingin tidur sekarang juga.
Dan saat itu juga, kesadaranku kembali hilang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*atogaki*
upload setelah sekian lama! akhirnya aku upload... akhirnya... aku munculin takeuchi-san di fanfic... (menunggu review dengan gemetaran ketakutan)
