Perkenalkan namaku Ino Yamanaka. Aku adalah gadis biasa yang tinggal di sebuah panti asuhan di pinggir kota Tokyo. Banyak orang bilang wajahku mirip Barbie. Rambut blonde dengan mata biru aquamarine yang bersinar. Wajah cantikku sering disamakan dengan artis terkenal bernama Tsunade Senju. Aku memiliki tubuh berisi dengan tinggi 162 cm. Hobi makan membuat teman-temanku sering memanggilku "pig". Sekarang aku berusia 18 tahun. Aku berada di tahun terakhir masa SMA. Masa yang menurutku adalah masa dimana aku menghuni neraka. Masa yang ingin cepat aku lalui. Kalian pasti bertanya 'kenapa?'. Baiklah, akan aku ceritakan kisahku dari awal.
.
.
.
Hang
Naruto by Masashi Kishimoto
Story by DarkChoffa™
Warning : Alternative Universe, Out Of Character, Typo, Membosankan, Banyak Percakapan, Penuh Adegan Drama, Hanya Menggunakan Ino Pov. etc.
Rating : T
Pairing : Little bit Ino-Sai
DON'T LIKE? DON'T READ!
No Copy Paste
Enjoy Reading
.
.
.
Part 2 End
Tokyo Senior High School….
Aku memutuskan keluar dari klub seni. Aku begitu muak dengan ketua baru yang dijabat Shimura Sai. Aku tak memperdulikan jabatanku sebagai sekertaris yang disegani dan dikagumi semua anggota. Sai Shimura—laki-laki itu dengan seenaknya sendiri bertindak asal dan memarahi junior-junior yang belum begitu mahir. Klub seni menjadi klub yang begitu menjengkelkan. Anggotanya berkurang satu persatu. Kegiatannya-pun menjadi monoton dan membosankan.
"Kau keluar dari klub seni, pig?" Sakura bertanya padaku saat jam istirahat di kantin sekolah.
"Ya, aku lebih tertarik klub sastra. Disana aku bisa mengembangkan imajinasi liarku."
"Yak… imajinasimu pasti penuh dengan hal kotor."
"Kau menghinaku, Jidat. Jangan mentang-mentang kau ketua klub sains sehingga dengan mudahnya mengejekku."
"Kau tak ada masalahkan dengan manusia vampire itu? Jangan sekali-kali membuat masalah dengannya. Orang tuanya adalah orang paling berpengaruh di kota ini. Si Sai juga pasti punya banyak pengaruh di sekolah ini. Semua murid termasuk guru-guru tunduk padanya."
"Kau tenang saja. Aku tak mau masuk kandang singa. Lagipula dia tak mengenalku."
.
.
Hari menjelang sore. Awal musim dingin membuat siswa-siswa pulang lebih awal dan memilih menghangatkan diri di rumah. Aku merapatkan mantelku. Dingin sekali. Hidungku terus terasa ingin bersin—Mungkin aku terkena gejala flue.
Aku baru saja mengikuti kegiatan di klub sastra. Menyenangkan sekali bisa berinteraksi dan berbagi ilmu bersama mereka. Aku jadi termotivasi untuk menjadi seorang penulis. Beban di otakku serasa hilang jika sudah berhadapan dengan tulisan yang menjadi imajinasiku.
Di ujung koridor aku melihat siluet seorang murid laki-laki. Dia berdiam diri disana.
"Kau Yamanaka Ino! aku mau berbicara denganmu!" dia menarikku tanganku secara paksa.
Aku terkejut melihat siapa yang mengajakku berbicara. Shimura Sai?
"Anggota klubku bersedih karena kau mengundurkan diri. Apa kau tak punya rasa tanggung jawab hah? Dasar gadis bebal." Ia berbicara sambil menatapku jijik.
"Aku merasa lebih cocok menjadi anggota klub sastra" aku berbicara seperlunya. Aku berusaha mengendalikan emosi. Tanganku mengepal erat.
"Baiklah,aku paham maksudmu. Tapi aku penasaran alasan orang penting sepertimu keluar dari klub seniku."
"Aku sudah menyebutkan alasannya tadi."
"Aku yakin itu bukan alasannya. Aku akan mengikutimu sampai aku tau apa alasan kau keluar."
"Terserah kau saja. Aku rasa kau tak akan kuat mengikutiku. Orang sepertimu seharusnya melakukan hal yang lebih berguna." aku berkata sedikit kasar padanya.
"Oh…. kau berani padaku? apa kau tak takut padaku. Aku bisa saja membuat hidupmu menderita"
"Hidupku selalu menderita. Jadi aku tak kaget."
"Menarik sekali. Kalau begitu aku akan membuat hidupmu lebih menderita."
"Terserah!" aku berlari menghindar dari orang idiot di hadapanku ini.
.
.
.
Ini gila!Benar-benar gila. Si senyum palsu itu benar-benar mengikutiku. Dia berdiri di ambang pintu kelas. Aku kira perkataannya tempo hari hanya bercanda. Perutku mual melihatnya. Tolong siapa saja! jauhkan dia dariku!
"Hai Yamanaka-san, aku rasa hari ini kita bisa berjalan-jalan, kita bisa ke rumahmu. Menghabiskan waktu disana. Aku harap orang tuamu tak ada di rumah." Sai tersenyum menyeringai.
"Oh benarkah? ayo kita ke rumahku. Orang tuaku juga tak ada dan tak pernah ada di rumah" aku berkata dengan nada menyindir. Aku ingin sekali memukulnya.
Kami berdiri di halte bus. Bus akhirnya datang. Kami berdua masuk kedalam bus. Iapun duduk bersebelahan denganku. Ingin sekali aku memukul kepalanya dengan tas punggungku. Tiba-tiba ada seorang nenek masuk ke dalam bus. Tidak ada tempat duduk yang tersisa.
"Hei idiot, berikan tempat dudukmu pada nenek itu!"
"Untuk apa? salahnya sendiri sudah tua, masuknya ke bus yang sudah penuh."
"Kau punya hati nurani tidak sih?"
"Aku ini orang penting. Tidak ada orang yang boleh memerintahku!"
Aku benar-benar marah pada sikapnya yang sok berwenang. Aku berdiri dan meyuruh nenek tadi duduk di bangkuku. Nenek tadi berulang kali berterima kasih padaku. Aku terus menggerutu sepanjang perjalanan. Si Sai itu benar-benar menyebalkan. Aku berharap bus ini cepat mengantarkanku ke tempat tujuan. Akhirnya aku sampai di depan panti asuhan. Akupun turun dari bus diikuti Si bodoh di belakangku.
"Dimana rumahmu?" Sai berkata dengan nada bingung.
Aku menunjuk bangunan panti asuhan di depanku.
"Kau anak pemilik panti asuhan ini?" tanyanya polos.
'PLETAK'
Aku menjitak kepalanya.
"Kau bodoh atau apa sih? panti asuhan ini milik negara bukan milik pribadi. Jelaslah aku anak yatim yang tinggal disini"
"Pantas saja… wajahmu sudah mencerminkan wajah orang payah dan miskin."
Grrrrrrrr!
Saat akan masuk ke kamarku, banyak anak-anak bertanya siapa lelaki yang aku bawa. Aku yang tidak tahan dengan pertanyaan mereka, menyuruh Sai duduk menunggu di aula depan bangunan gedung. Aku akhirnya masuk kamar dan berganti pakaian. Aku segera turun ke aula depan. Kulihat ia sedang duduk ditemani beberapa anak kecil berusia 5 sampai 8 tahun. Aku sedikit tersenyum melihatnya. Orang idiot itu bisa juga sok dekat dengan anak-anak.
"Ino-chan, pacarmu ini baik sekali padaku. Dia memberiku permen" ujar salah seorang anak kecil sambil mengangkat permennya.
"Michan! Sudah kakak bilang jangan menerima barang dari orang tidak dikenal" aku berkacak pinggang.
"Hei sudahlah, paling cuma permen. Aku bisa membelikan yang lebih banyak untukmu." Sai berkata dengan nada mengejek.
.
.
.
Aku mengajaknya berkeliling panti asuhan. Aku bermaksud membuatnya muak dengan menunjukan sisi lain panti asuhan ini. Tak kusangka ia malah begitu antusias. Dia seperti senang sekali melihat anak-anak. Anak-anakpun menyukainya. Aku semakin sebal melihatnya. Aku yang capek hati dan pikiran akhirnya mengajak duduk di tepi lapangan basket.
"Kau menyukai anak-anak?"
"Ya"
"Kenapa?"
"Apa butuh alasan?"
"Tidak, aku hanya penasaran."
"Aku dulu memiliki adik. Aku sangat menyayanginya. Dia meninggal karena sakit. Jika melihat anak-anak aku seperti melihat adikku kembali."
"Maaf… kau pasti sedih jika mengingatnya"
Tak aku sangka Si idiot ini punya sisi lain. Setidaknya dia tak memiliki sikap kasar pada anak-anak. Tapi jika mengingat sikap kasarnya pada nenek di bus tadi membuatku kembali membencinya.
.
.
Malam ini dia ikut makan malam bersamaku dan penghuni panti asuhan lainnya. Ia duduk di sebelahku. Menyebalkan! Kenapa juga ia tak pulang-pulang? aku begitu jengah. Apalagi penghuni panti sangat menyukai kehadirannya. Nona Kurenai saja tertipu oleh penampilan luarnya. Nona Kurenai berteriak histeris saat mengetahui Sai adalah anak dari Shimura Rei. Lagi-lagi aku mengetahui fakta bahwa ayah Sai adalah donator panti asuhan ini—nona Kurenai yang memberi tahuku. Ternyata selama ini secara tak langsung aku makan dan hidup dengan uang milik keluarga Sai. Iuhhh… menjijikan! aku harus cepat keluar dari panti asuhan ini.
"Apa tak ada makanan lain disini?" Sai menatap malas makanan di depannya.
"Makan Sukiyaki-mu! Banyak orang tidak bisa makan di luar sana. Bersyukurlah sedikit"
"Aku biasa mendapatkan makanan yang lebih enak dari ini"
"Seharusnya kau tak ikut makan malam disini. Ini panti asuhan bukan restoran"
"Aduh… manisnya pasangan muda ini. Oh ya Sai,apa Ino pacarmu?" nona Kurenai berbicara tepat di hadapan kami.
'Uhuk..uhuk' aku tersedak makanan mendengarnya.
"Bukan, dia hanya temanku" ujar Sai dengan santai.
'Syukurlah.. Tapi apa? Teman? aku tak sudi berteman dengannya.' batinku jengkel.
"Jadi tujuanmu kesini untuk apa?" Nona Kurenai sepertinya terkena virus penasaran akut.
"Aku hanya berkeliling kota. Aku ingin melihat seperti apa panti asuhan terbesar di kota ini. Apalagi ada temanku yang tinggal disini. Aku juga harus melihat perkembangan tempat-tempat yang dibiayai ayahku" ujarnya sambil tersenyum
'pembohong yang licik'
Makan malam selesai. Kami para penghuni panti asuhan kembali ke kamar masing-masing. Si bodoh itu masih saja mengikutiku. Aku masuk kamarku. Dan..Arggg! Dengan lancangnya dia menerobos masuk kamarku.
"Kecil sekali kamarmu? Kau sendirian disini? Mana teman sekamarmu?"
"Aku disini sendiri, Sakura sudah pindah dari sini." jawabku ketus.
"Wah… Tokyo terlihat jelas dari sini" dia berdiri di depan jendela.
"Kampungan sekali kau, cepat keluar dari kamarku dan pulanglah. Aku mau fokus belajar malam ini!"
"Sabarlah, aku sudah menelpon supirku. Dia akan menjemputku sebentar lagi."
.
.
.
Keesokan harinya….
Tak kusangka aku mendapat nilai sempurna di mata pelajaran ekonomi. Aku tertawa sendiri melihat nilai seratus terpampang jelas di kertas ulanganku. Ternyata aku tak bodoh-bodoh amat. Tapi aku kembali murung melihat kertas ulangan kimiaku, empat puluh. Aku melirik kertas milik Sakura. Kimia seratus dan Ekonomi Sembilan puluh. Aku menghela napas. Cita-citaku kuliah di universitas Tokyo sepertinya harus aku kubur dalam-dalam.
Hari ini aku memutuskan pulang lebih awal. Ini hari Jumat. Aku akan menghabiskan malam ini untuk bekerja. Sekarang aku sudah sampai di tempatku bekerja. Aku memakai celemek dan mulai menata buku. Aku mendekati rak buku anak-anak. Aku membuka salah satu majalah anak-anak, Kids. Aku sudah mendapat ijin nenek Chiyo tentunya. Kubuka halaman 36. Ceritaku! Ceritaku di muat lagi…. Aku berlonjak gembira. Aku berteriak saking senangnya. Semua pengunjung menatapku aneh. Aku minta maaf pada mereka semua atas kelakuan bodohku.
Setelah masuk klub sastra, aku semakin hobi menulis. Beban pikiranku berkurang saat aku menulis. Akhir-akhir ini aku rajin mengirim cerita fantasi ke berbagai majalah anak. Beberapa diantaranya dimuat dalam majalah dan aku mendapat bayaran yang cukup untuk pekerjaanku ini. Sakura sering mengejekku karena aku lebih suka menulis cerita anak dari pada cerita romance yang dianggapnya keren. Tapi tak apa, aku masih dalam proses belajar. Suatu hari nanti aku pasti akan menulis cerita romance seperti Sakura katakan. Aku tertawa sendiri membayangkannya. Saat aku mendongakan kepala, aku berteriak lagi.
"Kyaaaaahh!… apa yang kau lakukan disini!"
"Aku hanya ingin melihatmu bekerja dan tak kusangka kau bekerja disini hanya untuk membaca majalah anak-anak"
"Pergi dari sini, Sai! Aku mau melanjutkan pekerjaanku"
Aku membenci Sai. Dia benar-benar menguji kesabaranku. Dia selalu mengikutiku di luar jam sekolah. Dia menungguku kerja sambilan di toko buku. Nenek Chiyo akrab dengannya dan aku semakin muak dengannya. Saat pagi hari aku bekerja mengantar koran dan susu. Lagi-lagi dia mengikutiku. Dia juga sering menginjungi panti asuhan tempatku tinggal. Jika dilihat Sai bukan orang yang jelek. Sejujurnya dia tampan. Aku jijik mengatakannya. Perawakannya hampir mirip Sasuke. Rambutnya berwarna hitam klimis dengan kulit yang sangat putih. Matanya hitam seperti milik Sasuke. Tapi kelakuan busuknya membuatku membencinya.
.
.
Disinilah aku sekarang berada. Merayakan festival tahun baru dan sialnya aku terjebak bersama lelaki sialan bernama Sai. Temanku yang lain merayakan tahun baru dengan pasangan mereka masing-masing. Batapa sialnya aku yang tak pernah punya pacar. Menunggu pesta kembang api dengan orang yang paling aku benci.
"Apa yang kau makan?"
"Takoyaki"
"Makanan apa itu?"
"Astaga. Kau ini hidup di jaman apa? Kau tak pernah makan makanan seperti ini?"
"Belum, ayahku selalu melarangku jajan sembarang sejak kecil"
Entah mengapa aku merasa kasihan pada laki-laki di sebelahku ini. Dia seperti tak pernah mengalami hal-hal yang biasa dilakukan banyak orang. Tiba-tiba saja aku menawarinya takoyaki dan menyuapinya. Aku menepuk jidatku. Apa yang kau lakukan Ino-pig!
"Ini pertama kalinya aku melihat kembang api bersama banyak orang"
"Emang apa saja yang kau lakukan selama ini? Apa selama ini kau tinggal di hutan rimba? Ha..haha..ha.." aku tertawa mendengar penuturan polosnya.
"Kau menghinaku. Aku biasanya membuat kembang api sendiri di resort mewah milik keluargaku"
"Woow… orang kaya.."
Tiba-tiba orang berteriak takjub. Duarr! duarr! Duarrr! Aku mendongakkan kepala ke langit. Kembang apinya mulai menyala dengan indah. Aku takjub melihatnya. Aku lalu mengepalkan kedua tangan di depan dadaku dan berdoa.
'Semoga tahun ini menjadi lebih baik dari tahun lalu dan keluargaku hidup bahagia'
Acara festival dan perayaan tahun baru selesai. Aku sudah mencoba beraneka ragam permainan di festival itu. Tapi sialnya aku tak pernah mendapat hadiah di setiap permainanku. Berbeda dengan Sai yang selalu berhasil menang dan mendapatkan hadiah. Mungkin ini memang belum rejeki-ku. Aku memutuskan pulang. Si idiot itu mengikutiku di belakang.
"Ino.. Kau cantik dengan yukatamu malam ini"
"Jangan merayuku, Idiot. Itu tak mempan"
"Emmm… ngomong-ngomong apa kau sudah punya pacar?"
"Kau selalu mengikutiku setiap hari. Apa kau percaya jika aku mengatakan kalau aku sudah punya pacar?"
"Tentu tidak"
"Baguslah kau paham. Dan kenapa kau menanyakan ini? Jangan katakan kau menyukaiku dan berharap aku mau menjadi pacarmu"
"Jangan bermimpi! Aku tak sudi punya pacar sepertimu. Aku juga menjamin tak ada laki-laki yang mau berpacaran denganmu."
"Jadi kau mengutukku?"
"Bukannya dulu aku janji akan membuatmu menderita? Itu kutukan dariku. Aku menjamin tak ada laki-laki yang mendekatimu"
"Aku yakin suatu hari.. ya walaupun masih lama, pasti ada seseorang yang mencintaiku apa adanya. Dan laki-laki itu akan membuatmu malu dan ketakutan. Itu kutukkan balik dariku!"
"Cih.. lihatlah kujamin tak hanya laki-laki yang menjauhimu. Semua orang akan membenci dan mengutukmu"
Malam itu kadar kebencianku pada Sai semakin bertambah.
.
.
.
Semenjak malam tahun baru itu aku jarang bertemu Sai. Walaupun kadang-kadang dia masih mengunjungiku di toko buku. Aku mulai bersikap biasa padanya. Aku mulai memaafkannya. Terlalu membenci seseorang memang tidak baik. Aku juga mulai menerimanya menjadi teman. Ya… walaupun masih ada rasa benci semenjak perkataannya tempo hari.
Ada sedikit rasa kasihan padanya. Walaupun ayahku sudah meninggal dan ibu kandungku entah kemana. Aku mendapat kasih sayang dari keluargaku, tapi lain lagi dengannya. Orangtua Sai bercerai. Ayahnya memang terlihat peduli dan selalu membagi hartanya kepada banyak orang. Sai bilang ayahnya hanya ingin dianggap berkuasa dan hebat oleh orang lain. Padahal yang sebenarnya Ayah Sai adalah orang yang egois dan kaku. Dia tak pernah mendapat kasih sayang. Apalagi saat adiknya sakit lalu meninggal, ayahnya tak memperhatikan mereka dan tak datang melayat. Sedangkan Ibunya berada di Prancis dan mereka hilang kontak selama 10 tahun.
.
.
.
Aku melihat brosur yang tertempel di papan pengumuman sekolah. Aku membaca dengan seksama tulisan itu. Aku sedikit terseyum membaca tulisan itu. 'LOMBA MENDESAIN FAREWELL PARTY'. Aku tertarik sekali untuk mengikutinya. Hadiah yang diberikan tak tanggung-tanggung. Lima juta ditambah biaya gratis pendidikan hingga lulus SMA. Aku pernah mencoba mengikutiku lomba itu tahun lalu tapi aku kalah. Tak salahnya mengikuti lomba itu lagi.
.
.
.
Sekarang aku berdiri di depan gedung Star Hall di daerah Shinjuku. Aku sebut ini kegilaan yang menggila. Aku berdiri diantara ratusan manusia. Kami semua mengikuti jumpa pers peluncuran film baru 'Nothing'. Sebenarnya aku tak tau tentang apa film ini dan masa bodoh dengan jumpa pers ini. Aku memiliki tujuan tersendiri untuk hadir disini. Aku ingin melihat secara langsung seperti apa Tsunade Senju itu. Apalagi acara ini diselenggarakan secara gratis tanpa pungutan.
Aku berada di barisan kedua dari depan. Aku datang lebih awal sehingga bisa mendapatkan posisi yang kurasa nyaman. Para pemain film Nothing berkumpul berbaris di meja depan. Mereka semua mempromosikan film itu. Yang membuat film ini menjadi fenomenal adalah adu akting yang dilakukan duo ibu-anak. Siapa lagi kalau bukan Tsunade Senju dan putri 14 tahunnya, Shion. Aku masih ingat pesan ayahku untuk tidak berurusan dengan ibu kandungku. Aku ingat pesan itu dan aku akan mematuhi nasehat ayahku. Dengan hadirnya aku di acara ini bukan berarti aku berkhianat pada omongan ayahku. Aku cuma ingin melihat seperti apa ibuku secara dekat. Lagipula aku tak akan menyapa dan menghampirinya.
Berita infotaiment dan tabloid sering mengungkapkan kehidupan Tsunade Senju. Aku sudah membaca semua hal tentangnya. Dia debut diusia 22 tahun. Tepat satu tahun setelah melahirkan dan meninggalkanku. Dia begitu populer dan terkenal. Tubuh seksi dan bakat akting membuatnya begitu fenomenal. Dia dinikahi seorang produser terkenal bernama Jiraiya di usia 25 tahun. Mereka dikarunia dua anak bernama Shion dan Koha Senju. Walaupun sudah menikah dan berkeluarga, karier Tsunade tak pernah surut. Malah semakin menanjak. Namun hal yang membuatku sedih adalah Tsunade menyembunyikan fakta bahwa dia pernah menikah sebelumnya dan memiliki putri seperti aku.
Aku duduk di tepi sungai. Aku berdiam diri memandang langit. Si idiot Sai ternyata mengikuti jumpa pers itu juga. Dia bertemu denganku. Dia bilang ada artis favoritnya disana. Alasan yang menjijikan untuk mengikutiku.
"Ini! Tadi fotomu terjatuh" dia memberikan sebuah foto padaku.
Aku membalakkan mataku. Itu foto yang diberikan ayahku saat umur 10 tahun. Foto Tsunade yang menggedongku saat baru dilahirkan. Aku langsung merebut foto itu darinya.
"Dia seperti artis Tsunade Senju. Apa bayi itu kau?"
"Kalau aku bilang itu Tsunade Senju dan bayi itu aku, apa kau percaya?"
"Ya aku percaya" dia tersenyum palsu.
"Cihh…." aku benci mendengar jawabannya.
"Kalian memiliki banyak kesamaan"
"Banyak orang bilang begitu. Wajahku memang mirip dengannya." aku berujar percaya diri.
"Bukan, bukan wajahmu. Tapi dadamu. Dadamu pasti sama besar dengan dadanya."
"Yak! Kurang ajar kau idiot!"
.
.
Ujian Kenaikan kelas semakin dekat. Aku semakin giat belajar akhir-akhir ini. Aku harus mempersiapan ujian ini dengan matang. Apalagi setelah ujian selesai akan diadakan farewell party untuk anak kelas tiga. Bukan! aku tak berantusias untuk mengikutinya. Aku bukan adik kelas gila yang akan rela mengikuti pesta itu hanya untuk mengungkapkan cinta terpendam pada kakak kelas. Aku juga bukan orang penting yang dikenal kakak kelas. Pesta itu untuk anak kelas tiga tentunya. Aku tak akan ikut-ikutan. Lebih menyenangkan mengikuti festival musim semi saat libur semesteran. Lupakan semua itu! Aku hanya berharap akan memenangkan lomba mendesain farewell party. Dengan bakat menggambar dan imajinasiku aku optimis bisa memenangkan lomba ini. Apalagi aku membuat konsep sederhana yang cukup berbeda dengan yang lain.
.
.
Menjelang ujian aku selalu menginap di apartemen milik Sasuke. Jangan berpikiran negative. Sakura tinggal dengan Sasuke. Aku belajar kelompok bersama Sakura dan beberapa teman perempuan kami. Kalian pasti bertanya bagaimana dengan Sasuke? Jangan ditanya. Dia tak pernah belajar—itu faktanya. Sasuke lebih memilih berkumpul bersama teman satu band-nya dari pada belajar. Itulah dunia. Sasuke yang tak pernah belajar selalu mendapat peringkat satu. Sedangkan Sakura yang mati-matian belajar mendapat peringkat dua. Bagaimana dengan aku? itu sangat memalukan. Jangan dibicarakan. Aku mengenaskan.
Jadilah aku bebas di aparteman Sasuke. Apartemennya sangat mewah. Pantas saja Sakura betah disini. Barang-barang disini bermerk semua. Fuihh…aku jadi berkhayal suatu hari nanti punya pacar kaya raya. Aku pasti akan ikut kaya raya juga. Fu..fu..fu… aku tertawa sendiri membayangkannya.
.
.
Farewell party diadakan pertengahan bulan Februari. Mungkin bertepatan dengan kelulusan anak kelas tiga. Pihak panitia atau kita sebut saja OSIS menghubungiku jauh-jauh hari sebelum ujian kenaikan kelas. Mereka memintaku bertanggung jawab secara langsung untuk menyelenggarakan farewell party. Itu artinya ideku untuk lomba diterima. Aku memenangkan lomba! ini benar-benar di luar nalarku. Aku seperti orang gila. Aku tertawa sendiri di sela-sela jam pelajaran. Aku tak berhenti tersenyum.
Aku membuat konsep yang sebenarnya cukup sederhana. Temanya umum seperti tema-tema lainnya. Namun berbeda dengan sentuhanku. Ruangannya bernuansa merah muda bercampur warna putih karena bulan Februari bertepatan dengan Valentine. Kumpulan foto anak kelas tiga dibuat bingkai dan ditempel sepanjang ruang pesta. Ruang pesta mengggunakan aula sekolah yang luas. Air mancur dibuat di tengah-tengah ruangan. Air mancur nantinya akan diberi lampu-lampu yang indah dan anak kelas tiga diperbolehkan melempar koin ke dalamnya. Aku terinpirasi oleh tempat-tempat di Eropa sana. Dengan melempar koin di harap anak kelas tiga dapat berdoa dan keinginannya terkabul. Air mancur itu akan dibuat anak-anak klub sains.
Yang paling istimewa adalah latar belakang panggung yang akan dibuat anak-anak klub seni. Aku sudah membuat sketsa gambarnya. Gambar ini yang kata panitia membuat kepala sekolah memilihku untuk menangani acara ini. Gambar karikatur dengan beragam aktivitas anak SMA pada umumnya. Anak klub paduan suara akan menyumbangkan beberapa lagunya dalam acara ini. Lain lagi dengan klub memasak, mereka akan memberikan ide terbaik untuk makanan dan minuman dalam pesta ini. Semua warga sekolah akan bahu membahu dalam pesta ini. Semua persiapan selesai. Pesta ini akhirnya berjalan dengan sukses. Murid kelas tiga sangat puas dengan pesta ini. Aku merasa sangat bahagia melihat semua orang dapat merasakan kebahagiaan lewat acara ini.
"Tak kusangka orang sepertimu bisa memenangkan lomba seperti ini" Sai berkata dengan nada sinis.
"Ya tentu saja. Aku mempersiapkan ini semua dengan sempurna."
"Kurasa tidak. Tidak ada kata sempurna untukku. Apalagi untukmu."
"Terserahlah, aku malas berdebat dengan orang kolot."
"Mulai sekarang aku tak mau berdebat lagi denganmu. Aku tak akan mendekatimu. Anggap saja kita tak saling kenal. Lupakan yang tanda perpisahan dariku, tunggulah tahun ajaran baru nanti. Sebuah kejutan menarik untuk orang yang berani merendahkan dan memalukanku!"
"Apa yang kau maksud? Aku tak pernah melakukan kesalahan apapapun terhadapmu. Jangan asal menuduh"
"Intropeksi-lah dirimu sampai libur kenaikan kelas selesai. Jika kau tak tahan dengan kejutanku, bersujudlah di hadapanku. Menangis dan mengemislah maaf padaku!"
"Dasar gila, omonganmu semakin ngelantur."
.
.
Ujian kenaikan kelas telah selesai. Libur panjang di depan mata. Tiga minggu ini aku gunakan untuk bekerja sambilan. Jadwal bekerjaku di toko buku berganti Senin sampai Jumat dari siang hingga sore hari. Aku masih tetap menjadi pengantar susu dan koran di pagi hari. Aku tak mau berkhayal muluk-muluk tentang liburan dengan tempat penuh refreshing yang menyenangkan. Selama waktuku tak terbuang tak ada masalah untukku. Sebenarnya Sakura menawariku untuk ikut dengannya ke Kanada. Mengunjungi orang tua Sasuke. Tapi aku menolaknya. Aku merasa akan menjadi obat nyamuk di antara mereka berdua. Walaupun aku yakin Sasuke bukan orang jahat yang akan menganggapku sebagai pengganggu. Ia sangat menghargaiku sebagai sahabat Sakura.
Lain lagi dengan Sai. Aku tak melihatnya semenjak Farawell Party. Ternyata ia tak main-main dengan omongannya tempo hari. Aku sedikit bahagia karena ia tak lagi datang menggangguku. Tapi disisi lain aku sedikit kehilangannya. Sedikit! ingat itu! Aku sudah menganggapnya menjadi teman. Aku bingung dengan perkataannya tentangku. Aku tak tau apa penyebab ia berkata kasar padaku. Seharusnya aku mendengarkan perkataan Sakura untuk tidak berurusan dengan Sai. Aku tidak mau akhirnya hanya terjadi kesalahpahaman pada kami. Aku memang gadis menyebalkan, tapi aku bukan tipe orang yang akan membuat orang-orang di dekatku celaka dan menderita.
.
.
Tahun ajaran baru dimulai. Musim semi datang menjelang. Pohon-pohon sakura bermekaran menyambut suka cita murid-murid untuk memulai sekolah kembali. Aku berdiri diantara banyak siswa di lapangan sekolah. Aku mengikuti upacara pembukaan tahun ajaran baru. Aku sedikit sedih saat tau aku tak sekelas lagi dengan Sakura. Sakura memilih masuk kelas khusus untuk mempersiapkan diri kuliah di universitas ternama seperti Hardvard, Oxford atau Colombia. Dia berkeinginan menuntut ilmu di negeri orang. Apalagi Sasuke mendukung dan mau menunggunya hingga kembali ke Jepang. Benar-benar romantis.
Aku sendiri bingung akan melanjutkan studi kemana. Tak ada bayang-bayang untuk kuliah. Apalagi uang tabungan kuliah yang disiapkan ayahku sudah tidak ada. Sepertinya aku memilih bekerja saja sehabis SMA. Emm.. atau menikah saja? aku memukul kepalaku sendiri. Pacar saja tak punya apalagi calon suami. Ha..haha..ha.
Hariku berjalan seperti biasa. Hanya sedikit sepi karena Sakura tak lagi sekelas denganku. Tapi kami masih tetap bersama. Kalian pasti bertanya kenapa aku tak mengambil kelas khusus saja seperti Sakura? Hello? Aku terlalu malas untuk bergabung dengan murid-murid jenius yang sangat berambisius. Ya, itu termasuk Sakura. Apalagi aku tak punya bayangan untuk pergi merantau keluar negeri. Hidup di negeriku saja aku kesusahan apalagi pergi ke negeri orang.
.
.
Awalnya semua baik-baik saja. Sampai sebuah berita membuat diriku seperti terjun dari atap gedung bertingkat seratus. Berita yang dimuat di mading sekolah berhasil membuatku menjadi bahan pembicaraan sekolah. Harga diriku serasa menghilang mendengar berita itu. Aku tak tau siapa yang menyebarkan berita seperti itu. Berita itu memang benar. Tapi berita itu berlebihan dan dibuat-buat selebihnya. Apalagi banyak fotoku ditempel disana. Awalnya aku menganggap peristiwa itu sebagai kerjaan orang iseng. Tapi setiap waktu tulisan di mading itu berubah. Seperti jalan cerita yang runtut. Beritanya memuat segala peristiwa yang dibuat penuh kebohongan tentangku.
Orang yang membuat berita itu seperti mengerti segala hal tentangku. Awalnya berita itu hanya membahas keluargaku yang terlilit hutang dan bangkrut. Tapi aku menjadi geram saat tau dalam berita itu memuat berita bohong bahwa ayahku meninggal bunuh diri dengan meninggalkan hutang yang begitu banyak. Berita berlanjut dengan foto ibuku yang sedang depresi dan alasan ia depresi karena ayahku meninggalkan hutang sebelum dia bunuh diri. Beberapa hari kemudian berita lain beredar. Kakakku, Konan-neechan disebut sebagai pelacur. Disana dikatakan kakakku bekerja sebagai pemuas nafsu untuk membayar hutang keluargaku. Konan-neechan dituduh sebagai perayu Itachi Uchiha. Kakak laki-laki Sasuke yang ternyata seorang pengusaha kaya. Dikatakan pula alasan aku tinggal di panti asuhan karena keluargaku yang berantakan dan aku yang malu mengakui mereka sebagai keluarga.
Aku cukup sabar menghadapi berita itu. Sekarang murid-murid mulai menganggapku rendah. Mereka menjauhiku satu persatu. Mereka berpikir kalau aku adalah orang yang tak tau malu. Keluargaku yang berantakan membuatku dicap tidak baik. Ayolah! Keluargamu yang berantakan bukan jaminan kau juga orang yang berantakan dan tidak berguna.
Aku bersyukur. Sakura masih bersamaku disaat orang-orang menjauhiku. Aku tak tau kenapa mereka menjauhiku karena alasan sepele tentang latar belakang keluargaku yang dibuat-buat. Mereka terlihat kasihan dan iba padaku— itu terlihat dari sorot mata mereka, tetapi perilaku kasar mereka terhadapku seperti dipaksakan. Mereka seperti terpaksa membenciku. Aku yakin pasti ada dalang dibalik peristiwa ini. Aku harus mencarinya!
Aku selalu berpikir persahabatanku dengan Sakura akan baik-baik saja. Sampai mading memuat foto-fotoku bersama Sasuke di sebuah pusat perbelanjaan dan fotoku saat berkunjung apartemennya. Foto itu diambil saat aku diminta Sasuke secara langsung untuk membantu memilih kado ulang tahun Sakura beberapa hari lalu. Sasuke memintanya karena ia mengaggapku sebagai sahabat baik kekasihnya. Tapi dalam berita itu dikatakan bahwa aku adalah seorang gadis murahan yang berusaha merebut pacar sahabatnya. Berkencan dengan Sasuke secara diam-diam. Aku sangat kaget membaca tulisan itu. Aku tak semurahan itu. Aku tak pernah punya niatan untuk membuat sahabatku sendiri tersakiti. Dan fotoku di apartemen Sasuke, dikatakan aku adalah wanita penggoda yang tak berbeda jauh dari pelacur di luar sana. Sama seperti kakakku.
"Tak kusangka sahabatku selama ini mengkhianatiku dari belakang." ucap Sakura dengan nada sinis.
"Itu tak seperti yang kau bayangkan. Kau tau sendirikan aku tak menyukai Sasuke."
"PEMBOHONG! KAU MENIPUKU! aku sangat mencintai Sasuke. Kenapa kau mau merebutnya dariku! Kau benar-benar jahat."
"TIDAK! aku tak berbohong."
"Bisa jadi alasan Sasuke selama ini fokus pada bandnya hanya kebohongan. Dia sering keluar rumah bukan karena latihan band. Tapi berkencan dengan JALANG sepertimu!"
"CUKUP!"
"JALANG tak tau diri"
'PLAK'
Aku membelalakan mataku. Tiba-tiba Sasuke datang dan menampar Sakura.
"Kau mau membelanya Sasuke. Membela Jalang sepertinya? Apa kau sudah termakan rayuannya sehingga berani menamparku?"
"Hentikan omongan ngawurmu Sakura! Seharusnya kau tak percaya begitu saja dengan berita itu. Aku akan menjelaskan yang sebenarnya terjadi padamu." Sasuke berkata menyakinkan pada Sakura.
"Tidak! Aku sudah tau kebenarannya. Aku membencimu Ino!"
Sakura pergi meninggalkanku. Aku jatuh terduduk di tanah dan menangis. Sasuke berusaha membantuku bangun.
"Kejar Sakura! Aku tak mau kalian berpisah karena masalah sepele ini. PERGI DARI SINI SASUKE! aku tak mau Sakura salah paham lagi!"
Aku hanya bisa menatap nanar punggung Sasuke yang mulai menjauh. Sasuke pergi mengejar Sakura. Kenapa seperti ini? aku kembali menangis mengingat keadaanku.
.
.
Semua hal dalam hidupku memburuk semenjak beredarnya mading menyesatkan itu. Murid-murid menjauhiku. Aku tak punya satupun teman. Aku hanya bisa melamun di kelas. Sakura juga ikut membenciku. Dunia seperti neraka bagiku. Anak laki-laki sering mengerjaiku. Mereka bahkan melecehkan, menggoda dan mengaggapku seperti seorang perempuan murahan. Anak perempuan tak kalah sadisnya dengan mereka. Mereka tak segan mendorongku ke tembok dan mengataiku 'bitch'. Mereka menarik rambutku, menyembunyikan barang-barangku dan pernah juga mengunciku di gudang sekolah. Aku menerima Pembullyan disana-sini. Siswa disini sering melemparku dengan telur busuk dan tepung. Ember berisi air kotor sering mereka siram tepat di wajahku. Permen karet selalu ada di bangkuku setiap hari. Lokerku penuh dengan sampah saat aku membukanya. Siapapun yang berani berteman denganku akan menerima perlakuan yang sama seperti yang aku alami. Tak ada yang berani membelaku. Aku membenci semuanya. Semua siswa tanpa terkecuali.
Aku tau siapa dalang yang melakukan semua ini padaku. Shimura Sai—entah apa yang menyebabkan lelaki setan itu membenciku.
"Aku tau kau pasti disini" aku menemukan Sai berada di atap sekolah.
"Bagaimana? Apa menyenangkan? Atau kurang?"
"Ya cukup menyenangkan…UNTUKMU!BUKAN UNTUKKU!" sekarang aku marah padanya.
"Kau tau sendirikan.. semua orang di Tokyo tunduk padaku. Mengontrol semua warga sekolah untuk membencimu adalah hal yang sangat mudah."
"Aku semakin muak dengan hidupku sendiri."
"Penderitaanmu tidak sebanyak penderitaanku. Aku akan menunggumu menyerah. Temui aku lagi jika kau sudah bosan dengan hidupmu saat ini. Minta maaf dan menangislah padaku. Aku akan membuat semua orang kembali berbaik hati padamu."
"Cih! Aku tak sudi." Aku berjalan menjauhinya. Menjauhi seorang berkepribadian ganda di depanku.
.
.
Tak terasa sudah satu semester aku habiskan hari-hariku dengan berbagai macam pembullyan. Aku sudah terbiasa dengan ini. Aku tak melawan mereka. Bukannya aku takut, semakin aku melawan semakin senang mereka mengerjaiku. Aku menjadi seorang yang pendiam dan anti sosial sekarang. Aku muak dengan semua membenci orang yang memiliki tatapan merendahkanku. Tak ada doa selain doa agar aku cepat lulus. Aku ingin mereka semua pergi dari hadapanku. Kadang aku ingin menangis. Entah kenapa aku tak pernah bisa menangis. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menangis. Aku tak akan pernah menangis lagi untuk hal seperti ini. Aku tak akan menangis untuk hal yang tidak berguna.
Aku selalu menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah. Aku kadang ingin tertawa sendiri melihat keadaanku. Sekarang perilakuku seperti murid nerd yang selalu berada di pojok perpustakaan, minus penampilanku tentunya. Jika dilihat dari penampilanku, aku lebih cocok menjadi gadis centil yang suka tebar pesona dan suka mem-bully murid lain. Tapi nyatanya tak seperti itu. Aku yang menjadi objek pembullyan. Dunia memang aneh.
Untuk mengurangi ketegangan otakku, aku lebih memilih menghabiskan banyak waktu dengan bermain bersama anak-anak di panti asuhan. Aku berhenti bekerja di toko buku karena sebentar lagi aku akan menghadapi ujian kelulusan dan ujian masuk universitas. Aku ingin memfokuskan diri untuk belajar. Tapi aku masih bekerja sebagai pengantar susu dan koran. Pekerjaan itu menurutku cukup mudah. Aku hanya perlu bangun pagi untuk mengantarkan koran dan susu di perumahan dekat panti asuhan. Hal lain yang aku lakukan adalah menulis. Aku mengungkapkan semua emosiku disana. Aku tak lagi mengirim cerita fantasi ke majalah anak. Sudah banyak ceritaku yang dimuat disana. Aku lebih memilih menulis fanfiction dan mengirimnya di blog terkenal. Aku rasa dengan menulis fanfiction aku dapat mengasah kemampuanku menulis cerita romance. Aku ingin menujukan pada Sakura bahwa aku juga bisa menulis cerita yang sangat disukainya itu.
Mengingat Sakura aku menjadi semakin sedih. Persahabatan kami sudah hancur. Tidak ada lagi kepercayaan yang kami miliki. Sebenarnya Sakura berulang kali pergi menemuiku. Berkali-kali ia meminta maaf padaku. Ia juga berkata bahwa ia adalah sahabat terburuk untuk orang sebaik aku. Ia menyadari bahwa ia terbawa suasana dan dengan bodohnya mempercayai berita itu tanpa mengetahui kebenarannya. Ia juga tidak tega melihat aku yang selalu dibully setiap hari. Ia membelaku. Tapi ia malah menjadi target pembullyan. Beruntung ada Sasuke disisinya. Semua anak takut pada Sasuke dan mereka tak lagi mengganggu Sakura. Aku berandai-andai memiliki sosok laki-laki seperti Sasuke yang melindungiku. Aku jadi teringat laki-laki yang menolongku dari gerombolan anak buah Pain. Seandainya sekarang ini ia berada disampingku, apa ia akan menolongku dan melindungiku? Atau ia malah berbalik membenciku? Entahlah… mengigau tentang cinta pertama membuatku merasa bodoh.
"Bagaimana? Apa kau sudah menyerah?" Sai menghampiriku di pojok perpustakaan.
"Kurasa tidak…"
"Kau orang terkeras kepala yang pernah aku temui. Kurasa kau orang terlama yang menjadi kelinci percobaanku. Aku sudah menunggumu selama enam bulan."
"Kurasa jika ditambah tiga bulan lagi kau kan mendapatkan seorang bayi."
"Kau benar-benar menghinaku. Lihatlah! Aku tak sabar melihatmu bersujud meminta pertolongan padaku."
"Dalam mimpimu, Bajingan!"
Laki-laki itu benar-benar memiliki kepribadian ganda. Ia membenciku. Aku tahu itu. Ia tak menyukai seseorang yang berani atau tanpa sengaja melakukan kesalahan padanya. Aku termasuk didalamnya. Ia mengetahui apa alasanku memutuskan keluar dari klub seni. Ia tahu dulu aku membencinya. Ia mendekatiku untuk mengungkap fakta itu. Ia akan menyingkirkan siapa saja yang berani membuat hatinya gusar. Sudah banyak korbannya. Ketua klub basket kakinya patah akibat dikeroyok orang suruhan Sai. Padahal ketua klub basket hanya menghinanya saat pelajaran olahraga. Sai tak bisa bermain basket saat itu.
Lain lagi dengan gadis cerewet bernama Shizune Umino. Gadis itu mengatakan pacarnya lebih tampan dari Sai. Keesokan harinya, pacar yang ia katakan tampan itu babak belur dipukul Sai. Yang cukup naas adalah Chouji Akimichi. Lelaki bertubuh gempal dan hobi makan itu tak sengaja menumpahkan makan siangnya ke baju seragam Sai. Chouji yang ketakutan dengan bodohnya memilih keluar dari sekolah. Padahal ia adalah murid besiswa seperti aku. Sekarang ia berjualan ramen bersama Ibunya. Aku tak heran jika banyak orang mengatakan Sai adalah penguasa sekolah. Banyak korban yang tak bisa aku sebutkan satu persatu.
Alasan lain Sai membenciku adalah tentang lomba mendesain farewell party yang diadakan tahun lalu. Aku berhasil memenangkannya dan ia iri. Sungguh demi apapun, dia sangat kekanak-kanakan. Dia dihina dan dibicarakan dari belakang. Dia bisa saja menangkap dan membuat jera semua murid. Tapi tanpa aku yang memenangkan lomba, murid-murid tak akan menghinanya. Aku katakan 'AKU ADALAH SUMBER MASALAHNYA'. Lupakan tentang juri dan panitianya. Aku mungkin lebih menarik untuk dianiyaya Sai daripada mereka. Tahun-tahun sebelumnya, lomba itu selalu dimenangkan ketua klub seni atau anggota klub seni. Berturut-turut sejak sekolah ini dibangun. Ini terdengar konyol dan tak masuk akal. Tapi nyatanya seperti itu. Mereka punya daya imajinasi lebih dari anak-anak klub lain. Tapi tahun ini berbeda. Aku bukan ketua klub seni dan bukan anggota klub seni. Itu sebabnya Sai merasa kalah dan iri. Apalagi jabatan sebagai ketua klub seni membuatnya di banding-bandingkan—aku mengetahui berita ini dari Sakura saat ia berulang kali meminta maaf padaku.
"Ino-pig…." Sakura memanggilku di lorong sekolah. Semua murid memperhatikan kami. Aku berbalik arah menjauhi Sakura. Sakura mengejarku.
"Pig, ayo kita ke kantin bareng." Sakura memegang tanganku.
"Lepaskan! Menjauh dariku!"
Memang terdengar jahat. Aku tak mau lagi berteman dengan Sakura. Bukannya aku membencinya. Aku takut murid-murid lain mengganggunya. Aku tak ingin seorangpun mengalami hal buruk seperti yang aku alami. Cukup aku saja yang mengalaminya.
.
.
Hari ini adalah hari kelulusan yang aku tunggu-tunggu. Disaat semua siswa menangis sedih karena berpisah dengan teman-temannya, aku tersenyum bahagia. Setidaknya aku akan meninggalkan sekolah yang aku sebut neraka dan bisa memulai hidup yang baru yang berbeda. Aku berjalan di antara gerombolan siswa. Aku ingin cepat pulang dan menghabiskan waktu di rumah. Saat aku berjalan menuju gerbang, tiba-tiba Sai menghadangku.
"Aku menunggumu di farewell party. Kau tak datang kesana?"
"Aku tidak mau merusak acara."
"Sebenarnya aku ingin mengajakmu berdansa dan mengucapkan salam perpisahan."
"Aku sangat tertarik dengan salam perpisahan."
"Aku akan kuliah di Prancis. Aku dikirim ayahku karena aku sering berbuat onar disini."
"Benarkah? Aku senang mendengarnya. Ayahmu adalah ayah terhebat"aku menyinggungnya.
"Oh ya? Jangan harap aku akan melepaskanmu. Tunggu empat tahun lagi. Aku akan kembali dan tak akan melepaskanmu. Kau akan menjadi milikku!"
Tubuhku menegang mendengar kalimat yang dia lontarkan. Aku hanya gadis biasa yang sebenarnya sangat ketakutan. Aku takut pada Sai. Aku takut dia melukai dan mencelakaiku. Aku takut dia berbuat tidak-tidak pada orang di sekitarku. Selama ini aku menutupinya. Aku tidak ingin dianggap lemah olehnya. Aku adalah Ino yang kuat. Aku selalu mengatakan kalimat itu pada diriku sendiri.
"Aku tak akan menjadi milikmu Sai-san." aku berkata dengan nada bergetar.
"Lucu sekali kau… Aku tertarik padamu dari dulu. Kadang aku berharap kita punya kisah seperti kisah negeri dongeng. Nyatanya kau selalu ketakutan saat melihatku. Ha..ha..ha." Ia tertawa sambil mengacak asal rambutku.
"Kau sendiri yang membuatku ketakutan."
"Aku berharap dengan orang-orang menjauhimu, kau hanya akan bersamaku. Nyatanya kau malah memilih sendirian. Aku sebenarnya sudah lelah menunggumu selama hampir 2 tahun lamanya. Tak kusangka aku akan meninggalkanmu empat tahun ke depan."
Mataku terbelalak mendengar pengakuannya. Jadi selama ini Sai menyukaiku?
"Mungkin caraku mencintaimu salah Ino… Aku bukan laki-laki romantis yang bisa mengungkapkan perasaan. Aku malah membuat orang yang aku cintai mengalami penderitaan."
Aku membenci situasi seperti ini. Aku berniat pergi dari hadapannya. Tiba-tiba ia menarik tanganku dan memelukku erat.
"Aku berjanji setelah kembali dari Paris, aku akan menjadi Shimura Sai yang lebih baik dan membahagiakanmu."
Tanpa aku sangka ia mencium keningku dengan lembut, lalu kedua pipiku kemudian beralih menuju bibirku—Aku mendorong tubuhnya.
"KAU GILA SAI!"
Ia diam menatapku. Aku merasa dilecehkan sekarang.
"Saat terakhirpun aku masih sempat ditolak. Sungguh malang nasibku."
Aku cukup iba mendengar perkataannya. Aku memilih menjauh darinya. Aku berlari menjauh darinya.
"Tunggu aku Ino! empat tahun lagi!" aku mendengar teriakannya dari jauh.
Cih.. Aku benar-benar muak. Aku tak akan sudi menunggumu.
.
.
.
Nona Kurenai memberikan selembar surat padaku. Dia tak menyebutkan siapa yang mengirim surat ini. Dia hanya bilang orang itu mencariku tempo hari. Surat itu diberikan tadi siang saat aku pergi. Aku mengambil surat itu. Surat berwarna pink yang terlihat cute. Aku membawanya ke kamarku. Aku membaca surat itu di pinggir jendela.
'Aku adalah sahabat terburuk untukmu Ino. Berjuta maaf yang aku lakukan tak akan membuat kesalahanku hilang. Kesalahanku padamu sangat banyak. Aku sangat menyayangimu Ino. Kau sahabat pertama dan selamanya untukku. Aku hanya ingin melihatmu untuk terakhir kali sebelum aku pergi ke Amerika. Aku tak ingin meninggalkan Jepang dengan perasaan bersalahku padamu. Aku berharap kau mau menemuiku. Aku tunggu besok di Bandara Narita pukul 10.00. Salam sayang, Sakura."
Aku menutup surat itu. Aku juga menyayangimu Sakura. Aku yang jahat padamu Sakura. Aku menolak permintaan maafmu berkali-kali. Aku menangis. Aku mengusap air mataku. Tidak! aku tidak boleh menangis lagi. Aku sudah berjanji pada diriku untuk tidak menangis lagi.
.
.
.
Pagi ini aku sudah berada di bandara Narita. Aku berkeliling bingung disini. Aku sudah disini sejak pukul sembilan. Tak lucu jika aku kesini tanpa menemukan Sakura. Aku duduk disalah satu bangku bandara. Aku sudah mencari penerbangan menuju Amerika. Mencari Sakura diantara ribuan orang ternyata sama susahnya dengan mencari jarum ditumpukan jerami. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.
"Jidat!" Aku berbalik. Kulihat Sakura di belakangku. Aku langsung memeluknya erat.
"Aku yakin kau pasti datang Pig."
"Selamat Sakura! Kau akan menjadi mahasiswa universitas Stanford. Kau pasti akan menjadi dokter yang hebat!"
"Aku pasti akan merindukanmu Ino…"
"Kita masih bisa berkirim surat. Kita gunakan video call juga."
"Aku minta maaf Ino. Dulu aku menuduhmu dan berbuat jahat padamu."
"Iya, tak apa Sakura. Lupakan yang telah berlalu. Kita disini adalah sahabat dan akan seperti itu selanjutnya."
Kamipun saling melepaskan pelukan. Aku melihat Sasuke di belakang Sakura. Mereka berpelukan. Akhirnya aku dan Sasuke mengantarkan Sakura hingga pintu penerbangan. Aku melambaikan tangan pada Sakura.
"Kalian berdua! Selama aku pergi jangan main api di belakangku!"
Aku dan Sasuke tertawa mendengar teriakan Sakura.
.
.
.
.
Tiga tahun kemudian….
Selama tiga tahun ini banyak hal yang sudah aku lewati. Sekarang aku bekerja sebagai penulis cerita fiksi. Royaltinya cukup besar untukku. Aku hanya berdiam diri di rumah dan menuangkan imajinasiku. Aku menerbitkan novelku tiga bulan yang lalu. Sekarang aku sedang menyelesaikan proyek novelku selanjutnya.
Tiga tahun lalu aku sempat putus asa saat gagal masuk universitas Tokyo. Duniaku seperti runtuh saat gagal mengikuti ujian seleksi itu. Sakura menyemangatiku lewat surat yang ia kirim. Aku akhirnya memutuskan masuk Tokyo Arts University. Aku diterima disana dan mendapatkan beasiswa. Aku mengambil jurusan seni dan sastra.
Aku keluar dari panti asuhan setelah lulus SMA. Aku memutuskan menyewa apartemen kecil di kawasan padat penduduk di daerah Shibuya. Satu tahun berselang aku kembali tinggal bersama kakak dan Ibu di rumah warisan ayah kami. Ibu sudah dapat menerima keberadaanku. Ia tak lagi melakukan kekerasan padaku seperti dulu. Tapi kebersamaan kami tak bertahan lama. Kakak dan Ibu memutuskan kembali ke kampung halaman mereka di Yokohama. Walaupun Yokohama sangat dekat dengan Tokyo, aku sedih mendengar keputusan mereka. Kakak bilang tak ingin merepotkanku. Kakakku divonis menderita leukemia semenjak 1 tahun lalu. Aku sempat sedih mendengar berita itu. Ia ingin memfokuskan pengobatannya bersama Ibu di Yokohama. Aku harus menghargai keputusan mereka.
"Maafkan Nee-chan, Ino. Nee-chan selalu merepotkanmu."
"Tidak. Kita saudara dan semestinya kita saling membantu."
"Walaupun kau bukan adik kandungmu, tapi aku sangat menyayangimu Ino."
"Aku tau itu Nee-chan."
"Kuliahlah dengan benar dan jaga kesehatanmu."
"Nee-chan juga harus rutin minum obat dan rajin melakukan pemeriksaan. Aku akan mengumpulkan uang untuk biaya pengobatan Nee-chan."
"Tidak Ino, kau selalu merepotkan dirimu sendiri."
Jadilah aku tinggal sendirian di rumah mewah milik ayah. Rumah yang besar membuat biaya perawatannya memerlukan banyak uang. Sebenarnya aku ingin menjual rumah ini. Tapi ayahku pernah berpesan untuk menjaga rumah ini dan jangan sampai rumah ini dijual. Aku juga memikirkan biaya pengobatan leukemia kakakku. Aku mengiriminya uang setiap bulan. Aku hidup sendiri sehingga tak mungkin aku meminta bantuan siapapun. Aku mengalami pembengkakan keuangan di usia 21 tahun. Itu beberapa bulan yang lalu sebelum aku menjadi penulis. Aku bekerja sambilan dimana pun. Lalu aku memutuskan keluar dari bangku universitas. Aku melepaskan beasiswaku begitu saja. Padahal tinggal dua semester lagi aku menyelesaikan studiku. Aku tak bisa lagi membagi waktu antara bekerja dan kuliah. Apalagi nilaiku semakin menurun.
Aku memberanikan diri mendatangi penerbit buku terkenal. Disana aku bertemu Uzumaki Karin. Wanita itu memberi pengarahan padaku. Akhirnya aku dapat menerbitkan novel perdanaku. Novel berjudul 'Life Is Not Easy'. Novel yang sebenarnya menceritakan diriku sendiri dengan banyak perubahan disana sini. Tak disangka respon masyarakat terhadap novelku cukup baik. Aku sangat senang melihatnya.
Kini kehidupanku mulai membaik. Sekarang aku sedang mengumpulkan uang untuk biaya operasi sum-sum tulang belakang kakakku. Aku juga sedang mengumpulkan uang untuk biaya kuliahku yang sempat terhenti. Semoga tuhan mempermudah jalanku ke depan. Semoga novelku selanjutnya bisa cepat terselesaikan.
Aku berterima kasih pada kehidupanku saat ini. Walaupun banyak masalah yang aku hadapi. Aku masih sanggup menghadapinya. Aku dapat melewatinya. Aku berterima kasih pada semua orang yang pernah aku temui. Mereka memberikan arti hidup yang sebenarnya padaku. Bagaimana kita menghadapi masalah dan menyelesaikan masalah. Kehidupan ini berisi hal yang beragam. Individu yang berbeda. Sehingga cerita yang dimiliki setiap orang pasti berbeda dengan cerita dimiliki orang lain. Inilah cerita yang sudah aku lewati selama 21 tahun hidupku. Cerita yang kalian baca dan kalian ikuti.
The End
Selesai juga….
Gajekah? #tertawa garing
Author rencananya akan membuat cerita tentang kehidupan Ino setelah ini. Author sudah membuat beberapa chapter dan siap diterbitkan :D Tapi nunggu mood terkumpul dulu.
Pairing yang akan bersama Ino nanti bukan Sai. Author minta maaf kalau Sai disini terkesan jahat. Bukan maksud ngebash,itu memang tuntutan jalan cerita. Toh disetiap cerita butuh tokoh antagonis. Tapi Sai sebenarnya baik kok -_- latar keluarganya aja yang bikin dia gitu.
Author nanti bakal buat crack pairing untuk sekuel cerita ini. Author sudah bosen sama pairing yang itu-itu saja. Padahal author sendiri penggemarnya Sasusaku :D
See ya! Silahkan Review bagi yang berminat…
