Please, Akashi-kun!

Disclaimer : Kurobasu bukan milikku.

WARNING : SHO-AI, YAOI, ABAL, TDAK SESUAI EYD YANG BENAR, NISTA, DKK

Genre : Romance, Hurt/Comfort.

Pair : AkaKuro, KiKuro, slight HaiKuro & ImaSaku

Start!

.

.

.

"Te―Tetsuya?"

Kuroko juga ikut mematung di tempat. Dia menatap Akashi yang sedang menatapnya dengan tatapan kosong.

"Akashi-kun, sedang apa?" tanya Kuroko hati-hati.

Sebenarnya Kuroko sudah tau jawabannya saat melihat di depan Akashi terdapat layar besar di kedua tangan Akashi memegang light stick berwarna biru tua.

Mati kau Akashi, seseorang sudah mengetahui rahasia nistamu.

Akashi tetap bergeming. Dia mengambil remot dan mematikan layar di depannya kemudian meletakan light sticknya di sembarang tempat.

Akashi menghampiri Kuroko dan menarik lengan pemuda itu untuk masuk ke dalam kamar itu lalu menutup pintu dan menguncinya.

"Aka―"

Belum sempat Kuroko menyelesaikan kata-katanya, Akashi mengunci kedua lengannya ke tembok.

"Anggap saja kau tidak melihat apa-apa dan tidak mendengar apa-apa," perintah Akashi dingin, mata heterokromnya mengawasi wajah datar Kuroko.

Kuroko hanya terdiam, dia tengah berpikir.

'Sepertinya Akashi-kun adalah orang yang ditakuti Haizaki-kun,'

'Apa aku minta tolong saja padanya agar Haizaki-kun tidak menggangguku? Sebagai gantinya, aku tidak membeberkan rahasia memalukannya.'

"Ya, baiklah." kata Kuroko yang sadar dari memutar pikiran di kepalanya. "Asalkan..."

"Asalkan?" Akashi mengernyit.

"Aku akan tutup mulut asalkan Akashi-kun mau membantuku," kata Kuroko dengan wajah datarnya.

Kedua alis Akashi bertautan. "Kau berani memerintahku, Tetsuya?"

"Bukan seperti itu, Akashi-kun. Aku hanya minta tolong, kalau Akashi-kun tidak mau, tak masalah." kata Kuroko tetap mempertahankan wajah datarnya.

"Aku tidak jamin akan melupakan kejadian barusan," lanjut Kuroko.

"Setelah memerintahku, sekarang kau berani mengancamku?" Akashi mulai emosi, dia mencengkram keras lengan Kuroko.

Kuroko berjengit berusaha menahan rasa sakit di lengannya. Dia harus bisa meluluhkan hati Akashi agar mau menolongnya.

Cengkraman tangan Akashi di lengan Kuroko makin keras. Kuroko yang mulai kesakitan berbisik, "Ukh... sakit."

Mata heterokrom Akashi terbelalak saat melihat wajah datar Kuroko langsung berganti dengan wajah kesakitan yang entah kenapa terlihat indah di mata Akashi.

"Aku akan membantumu," kata Akashi dengan seringai.

Kuroko langsung terlonjak kaget.

"Yang benar?"

"Yaah, tapi syaratnya kau harus jadi budakku."

"Eh?"

Butuh waktu lama untuk Kuroko mencerna kata-kata Akashi.

Budak?

Yang benar saja.

"Tapi itu tidak adil, Akashi-kun." kata Kuroko.

"Berani membantah?" tanya Akashi dingin tatapan matanya menusuk bola mata aquamarine di depannya.

Kuroko meneguk ludahnya. Dia panik sekarang. Ternyata orang di depannya sangat susah diajak kerja sama.

Apa dia terima saja tawaran Akashi? Pasti Akashi tidak akan melakukan hal-hal yang aneh padanya mengingat dia memegang rahasia Akashi. Dan poin pentingnya dia bisa lepas dari jerat Haizaki.

"Ya-yaah, baiklah." kata Kuroko. "Tapi tidak selamanya aku jadi budakmu kan, Akashi-kun?"

"Tentu saja tidak, Tetsuya. Aku akan melepaskanmu ketika aku sudah bosan denganmu," Akashi menyeringai.

Kuroko mengernyit, kemudian Akashi melanjutkan, "Jangan khawatir, aku ini orang yang mudah bosan."

"Baiklah, karena aku sudah setuju berarti giliran Akashi-kun yang membantuku," kata Kuroko dengan sedikit nada protes pada suaranya.

Akashi mendengus sebal. "Apa?"

"Aku ingin Akashi-kun membantuku untuk membuat Haizaki-kun menjauh dariku."

"Hah?"

"Kenapa? Akashi-kun tidak mau membantuku?" tanya Kuroko.

"Aku akan membantumu, Tetsuya. Shugou bukan apa-apa di mataku," jawab Akashi.

"Terima kasih banyak, Akashi-kun." Kuroko senang sekarang, akhirnya dia bebas dari Haizaki.

"Bisakah kau melepaskanku? Lenganku sakit."

"Oh-ya, maaf." kata Akashi langsung melepaskan lengan Kuroko.

Kuroko merasa lega kemudian mengusap lengannya yang meninggalkan bekas merah.

"Ah, aku harus pulang." kata Kuroko buru-buru.

"Menginaplah disini." perintah Akashi.

"Eh, tapi―"

"Aku tidak terima penolakan. Lagipula, kau ini budakku sekarang. Jadi harus melakukan apa yang aku katakan," kata Akashi dengan seringai yang terlihat menyebalkan di mata Kuroko.

Baru saja beberapa saat yang lalu Kuroko jadi budak Akashi, pria bersurai crimson itu sudah meluncurkan perintah pertamanya.

"Baiklah. Terserah Akashi-kun saja," kata Kuroko seraya mengikuti Akashi keluar dari kamar nista itu menuju kamar tidurnya.

Akashi menyeringai tipis.

Saat tiba di kamar Akashi, Kuroko langsung duduk di pinggiran kasur king size milik Akashi.

"Kau sedang apa, Tetsuya?" tanya Akashi heran melihat Kuroko yang tiba-tiba duduk di kasurnya. 'Kau minta di serang, huh?'

"Aku mengantuk. Ingin cepat-cepat tidur," jawab Kuroko, kemudian menguap kecil dan langsung menarik selimut untuk tidur. "Oyasumi, Akashi-kun."

Akashi mengeluarkan kedut di dahinya. Orang di depannya lupa atau bagaimana, ini, 'kan kamar Akashi kenapa dia tidak ada sungkan-sungkannya? Berani sekali anak ini, pikir Akashi.

Dengan cepat dia menarik selimut Kuroko-Akashi- sehingga pemuda bersurai baby blue itu terjungkal jatuh ke lantai.

"Itte..." keluh Kuroko sambil menggosok bokongnya yang menghantam keras lantai. "Apa yang kaulakukan, Akashi-kun?"

"Harusnya aku yang bilang begitu, Te-tsu-ya." geram Akashi, tetap berekspresi dingin.

"Hee... Kalau aku, tentu saja ingin tidur. Akashi-kun tidak lihat?" kata Kuroko sambil memasang wajah poker face andalannya.

Akashi menggertakkan giginya menahan emosi, kemudian menghela nafas panjang.

"Itu kasurku, Tetsuya. Kau tidur di sana," kata Akashi sambil menunjuk ke arah sofa yang tidak jauh dari kasurnya.

"Kenapa kita tidak berbagi kasur saja, Akashi-kun?" tanya Kuroko polos.

"Tidak tidak, Tetsuya. Cepat minggir, aku mau tidur." perintah Akashi.

"Akashi-kun pelit," kata Kuroko, kemudian menuju sofa sambil membawa selimut Akashi. "Biasanya di fanfic lain, Akashi-kun yang memaksaku tidur bersama."

"Tetsuya itu selimutku!" Akashi setengah berteriak. Wajah dinginnya diganti dengan wajah jengkel.

Akashi mengambil selimut cadangan di lemarinya kemudian melemparkannya ke arah Kuroko. "Kau pakai yang ini."

"Tidak mau," kata Kuroko singkat. "Bukannya sama saja? Selimut tetap selimut, Akashi-kun."

Sekarang banyak kedut yang keluar dari kepala Akashi. Pemuda crimson itu menarik selimutnya yang berada di tangan Kuroko.

"Kembalikan!" perintah Akashi sambil menatap sengit Kuroko.

"Tidak mau. Memang apa bedanya selimut ini dan itu?" Kuroko mempertahakan selimut Akashi.

Sebenarnya Kuroko tertawa dalam hati melihat kelakuan ketua OSISnya yang seperti anak kecil, padahal di sekolah pemuda bersurai merah itu menyeramkan dan sangat ditakuti.

Kuroko menyipitkan mata saat melihat ada goresan tinta kecil di ujung selimut Akashi. Apa itu? Seperti sebuah tanda tangan...

Atsuko Maeda?

Atsuko Maeda mantan personil AKB48?

Oh, sekarang Kuroko tau kenapa Akashi keras kepala mempertahankan selimutnya.

Kuroko melepaskan selimut Akashi yang sedang ditarik oleh empunya membuat pria bermanik heterokrom itu terjungkal keras di lantai, kemudiam Kuroko tertawa.

"Puhh..." Kuroko menutup mulutnya menahan tawa.

Akashi yang melihat Kuroko tertawa mendengus kesal, ada yang aneh. Perasaan hangat mengalir di dada Akashi. Akashi menyentuh dadanya, mencoba mencari tahu apa yang terjadi tapi tidak menemukan jawaban.

"Jadi, oshinya Akashi-kun, Atsuko Maeda, ya puhhh..." lanjut Kuroko yang masih menahan tawa.

Mendengar tawa―yang sepertinya ejekan―Kuroko, Akashi terdiam lalu dia berdiri membetulkan pakaiannya yang agak berantakan kemudian beranjak menuju tempat tidurnya dan tidak lupa membawa selimut berharganya itu.

Kuroko menghentikan tawanya saat melihat tingkah aneh Akashi. Apa dia sudah kelewatan? Jangan-jangan Akashi marah? Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepala Kuroko.

Akashi sudah memposisikan tubuhnya untuk tidur tapi memunggungi Kuroko. Kuroko mendesis khawatir.

"A―Akashi-kun?" Dengan hati-hati Kuroko memanggil pemuda bersurai merah itu.

"Hm?" sahut Akashi―masih memunggungi Kuroko.

"Kau marah?" tanya Kuroko pelan.

"Tidak." jawab Akashi singkat.

"Ya―yang benar?" Kuroko memastikan.

"Ya, Tetsuya. Cepat tidur. Jangan sampai besok kau anemia seperti tadi." kata Akashi dengan nada rendah.

"Baiklah, Akashi-kun. Oyasu―"

"Tetsuya," potong Akashi.

"Ya, Akashi-kun?" Kuroko kaget karena Akashi memanggil namanya dengan nada lembut yang belum pernah dia dengar sebelumnya.

Akashi menyentuh dadanya lagi. Ah, perasaan aneh itu datang lagi. Perasaan hangat yang tiba-tiba datang itu mengusik pikiran Akashi.

Apa semua ini karena Kuroko Tetsuya? Pikir Akashi. Hanya Kuroko yang berani berbicara seperti tadi pada Akashi dan anehnya, Akashi tidak bisa melempar Kuroko dengan gunting seperti yang dia lakukan pada orang lain jika mengejeknya.

"Kau tidak takut padaku?" tanya Akashi, akhirnya.

"He? Kenapa aku harus takut pada Akashi-kun?" Kuroko malah balik bertanya dengan nada polos dan muka datar seperti biasanya.

Kedut yang mengerikan keluar lagi di kepala Akashi, Akashi merasa jengkel sekarang. "Mataku... mataku menyeramkan, bukan? Kau harusnya takut saat aku menatapmu."

"Aku tidak melihat mata Akashi-kun. Yang aku lihat punggung Akashi-kun," kata Kuroko polos diselingi kekehan kecil. Senangnya bisa menjahili Akashi. Mungkin ini bisa jadi hobi barunya.

"Nih, lihat mataku! Seram, 'kan!?" Akashi membalikan tubuhnya, lalu menatap Kuroko tajam tapi Kuroko hanya terkekeh.

Perasaan hangat itu datang lagi. 'Akh, aku tak mengerti.' gerutu Akashi. Akashi membalikan tubuhnya lagi memunggungi Kuroko.

"Menurutku mata Akashi-kun tidak terlihat menyeramkan," kata Kuroko sambil memejamkan matanya. "Malah terlihat seperti sedih dan kesepian."

Manik heterokrom Akashi membulat mendengar perkataan Kuroko. Seorang Akashi sedih? Kesepian?

"Oyasumi, Tetsuya." gumam Akashi.

.

.

.

"Ayah, Sei dapat nilai 90 di ulangan matematika!"

"90? Lalu, kau sudah puas? Kau harus sempurna, Sei."

"Tapi, ayah―"

"Dengarkan ayah, Sei. Kau harus selalu sempurna, dimanapun dan kapanpun."

"..."

"Kalau keperluanmu cuma itu, lebih baik kau pergi sekarang. Ayah sedang sibuk."

"Ayah..."


Akashi membuka matanya perlahan lalu memegang pipinya yang basah. Dia menangis dalam tidur.

"Mimpi itu lagi," bisik Akashi sambik menggertakan giginya.

Dia meraih jamnya, sudah jam 6 pagi. Waktunya bersiap untuk pergi ke sekolah.

Akashi menghampiri Kuroko yang terlelap di sofa, hendak membangunkan Kuroko.

"Tetsuya," panggil Akashi.

Kuroko tidak bergeming, pemuda baby blue itu masih terlarut dalam mimpi indahnya.

Akashi mengelus pipi putih Kuroko. Wajah tidur Kuroko memang manis. Jadi, tidak salah kan kalau Akashi mengelus pipi Kuroko dengan lembut.

Akashi langsung menepis tangannya dari pipi Kuroko kemudian bergumam, " Apa yang kulakukan?"

"Tetsuya, bangun!" perintah Akashi sambil menarik selimut Kuroko.

Kuroko berjengit dan matanya membulat.

"Ngh, Akashi-kun? Jam berapa sekarang?"

"Jam 6 lebih 10 menit, Tetsuya," kata Akashi. "Cepat bersiap-siap."

Kuroko mengangguk menuruti perkataan Akashi. Dia memakai baju sekolah yang di sediakan Akashi.

Setelah sarapan mereka langsung berangkat sekolah menggunakan mobil mewah milik Akashi.

Di perjalanan menuju sekolah itu berlangsung lama dan hening. Kuroko terlalu fokus dengan novelnya sementara Akashi menatap keluar jendela, sesekali menatap Kuroko.

"Sedang baca apa?" tanya Akashi yang mulai dilanda rasa bosan.

"Ini novel Akashi-kun," jawab Kuroko datar.

"Aku juga tahu kalau itu novel," Akashi mendengus kesal.

Perlahan Akashi mendekati Kuroko untuk melihat novel apa yang pemuda baby blue itu baca. Akashi langsung menyeringai mengerikan saat melihat judul novel yang bertuliskan 'First Kiss'.

"First Kiss itu seperti apa ya?" tanya Akashi dengan nada yang dibuat-buat seperti anak kecil.

Kuroko menaikan satu alisnya. "Entahlah, Akashi-kun. Aku belum pernah berciuman."

Akashi menyeringai makin lebar. Ini saatnya membalas perlakuan kurang ajar Kuroko semalam.

Akan kucuri ciuman pertamanya. Pikir Akashi.

"Tetsuya," Akashi memanggil nama Kuroko kemudian merebut novel yang dibaca Kuroko.

Kesal karena diganggu, Kuroko mencoba merebut novelnya kembali dengan paksa.

Akashi tertawa kecil melihat tingkah Kuroko. Pemuda bersurai merah itu membuka kaca jendela mobilnya kemudian membuang novel Kuroko ke luar jendela.

"Novelku!" jerit Kuroko saat melihat novelnya dibuang Akashi.

Akashi tertawa lagi, tapi kali ini tawa yang menyeramkan. "Aku akan mengembalikan novelmu Tetsuya, tapi kau harus menciumku dulu."

"Tidak mau," kata Kuroko ketus, dia kesal.

"Kau berani menolak? Ingat, statusmu sekarang adalah budakku," Akashi menyeringai kemudian mengelus bibir Kuroko dengan lembut.

"Pokoknya aku tidak mau," Kuroko meninggikan suaranya sedikit kemudian menepis tangan Akashi.

Kedua alis akashi bertemu, keras kepala sekali Kuroko tapi jangan lupa siapa Akashi Seijuurou. Dia bisa mendapatkan semua yang dia inginkan.

"Menciumku atau dicium Haizaki?" Akashi bertanya dengan seringai khasnya.

"Tidak dua-duanya," jawab Kuroko datar. Dia sudah pasrah dengan nasib novelnya.

"Menciumku atau aku tidak akan membantumu."

Deg!

Yang benar saja? Mau tidak mau Kuroko harus mencium Akashi.

Cuma ciuman singkat tidak apa, 'kan?

Kuroko meneguk ludahnya kemudian menghela napas pasrah. "Ba―baiklah, Akashi-kun. Tapi hanya kecupan kecil saja."

"Ya, tidak apa." kata Akashi sambil menutup matanya. "Ayo, cepat."

Kuroko mengernyit.

Sekarang? Di dalam mobil? Kalau nanti supir keluarga Akashi melihat, bagaimana? Memalukan sekali.

"Tenang saja. Supir itu tidak akan mengintip, Tetsuya." kata Akashi sambil menyeringai, sepertinya dia tahu apa yang ada di pikiran Kuroko. "Kalau dia mengintip, aku akan memecatnya."

Supir yang mendengar perkataan Akashi merinding di tempat.

Kuroko mengangguk, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah akashi sampai beberapa senti sebelum bibir mereka bertemu.

Seluruh tubuh Kuroko gemetar, bagaimana pun juga ini ciuman pertamanya.

Cup

Dengan cepat Kuroko menempelkan bibirnya pada bibir Akashi dan dengan cepat pula Kuroko menarik diri, melepaskan ciumannya.

Akashi membuka matanya dan melirik Kuroko yang sedang memerah sempurna. Akashi tertawa kecil.

Kemudian hening.

Kuroko menatap kosong kaca jendela, dia kesal saat ini. Novelnya di buang, ciuman pertama diambil pula.

"Tetsuya," panggil Akashi.

Karena kesal Kuroko tidak menghiraukan panggilan Akashi.

Melihat Kuroko sedang ―sepertinya― ngambek, Akashi menyeringai. "Di ciuman tadi, gigi kita terbentur."

Kuroko langsung terlonjak kaget. Wajahnya kembali memerah. "A―apa boleh buat! Itu pertama kalinya buatku."

"Itu juga pertama kali buatku," kata Akashi sambil mengacak surai baby blue Kuroko. "Kalau aku, pasti melakukannya lebih baik darimu."

"Mana mung―"

Kalimat Kuroko terputus saat Akashi mencium bibirnya. Kuroko berusaha mendorong Akashi agar melepaskan ciumannya tapi sia-sia, Kuroko makin terpojok dan Akashi makin memperdalam ciumannya.

Awalnya cuma ciuman biasa, lama kelamaan lidah Akashi melesak ingin masuk ke mulut Kuroko. Kuroko yang sadar lidah Akashi akan memasuki mulutnya langsung membungkam bibirnya.

Akashi mengernyit, digigitnya bawah bibir Kuroko sehingga pemuda baby blue itu mau tak mau harus membuka mulutnya karena kesakitan.

Saat lidah Akashi berhasil memasuki rongga mulut Kuroko, lidah itu dengan liar menjelajahi setiap sudut mulut Kuroko.

"Haa... dhhi... kuhhh! Henn... hmphh!" desah Kuroko di sela-sela ciuman panas itu.

Akashi makin memainkan lidahnya saat bertemu lidah Kuroko, mengajaknya untuk memperpanas ciumannya.

Tapi lidah Kuroko tetap bergeming, kemudian Akashi menghisap lidah Kuroko membuat pemuda baby blue itu mendesah pelan.

Kuroko yang mulai kehabisan napas berusaha meronta untuk mengambil oksigen, tapi Akashi rupanya belum ingin menghentikan ciuman itu. Buktinya Akashi sedang mengulum kuat lidah Kuroko.

Saliva keluar dari ujung bibir keduanya.

Karena merasakan napas Kuroko mulai melemah, Akashi melepaskan ciumannya. Benang saliva menghubungkan bibirnya dengan bibir Kuroko.

Kuroko terdiam, napasnya terengah engah, wajahnya memerah dan berantakan. Akashi menyeringai dan membersihkan sisa saliva di bibirnya dengan sapu tangan.

"Bagaimana, Tetsuya?"

Akashi malah tertawa kecil penuh kemenangan. Dia mengelus pelan pipi Kuroko dan bersiap untuk ciuman panas ronde 2.

"A―Akashi-sama, kita sudah sampai." kata supir Akashi terbata-bata.

Akashi mengangguk kemudian keluar dari mobil sebelum supir itu keluar untuk membukakan pintu.

"Ayo, Tetsuya." perintah Akashi sambil menarik tangan Kuroko keluar dari mobilnya.

Karena tenaga Akashi lumayan lebih besar jadi Kuroko tertarik dengan cepat keluar dari mobil.

Kesal.

Itu yang dirasakan Kuroko sekarang. Dia mengekspresikan kesalnya dalam diam.

Apa sih yang dipikirkan Akashi? Kenapa dia mencium Kuroko seperti itu? Ini sama saja keluar dari lubang buaya masuk lubang harimau, lepas dari Haizaki malah jatuh ke jerat Akashi.

Akashi terus menarik lengan Kuroko sehingga menimbulkan banyak pertanyaan di dalam benak orang yang melihat mereka, terutama saat Akashi tiba di gerbang masuk Teiko.

Tentu saja Akashi tidak memperdulikannya, justru Akashi malah menyeringai penuh kegirangan sambil menarik Kuroko. Kuroko yang sedang kesal hanya bisa mengikuti Akashi melangkah.

Sampailah di kelas Kuroko, 1-B.

Akashi masuk ke dalam kelas Kuroko dan mengantarkan pemuda baby blue itu ke kursinya yang paling belakang. Desas desis aneh mulai terdengar di ruang kelas Kuroko.

Kuroko menepis tangan Akashi lalu duduk di kursinya tanpa menatap Akashi. Pemuda crimson itu tertawa pelan dan sesaat Kuroko melirik wajah Akashi yang sedang tertawa, meski sebuah tawa kecil.

Tampan.

Wajah Akashi memang sudah tampan dari sananya, sekarang di tambah senyuman makin tampan lagi, bukan?

Kuroko buru-buru memalingkah wajahnya yang memerah.

"Kurokocchi~!" muncul suara berisik milik pemuda blonde yang berasal dari ambang pintu kelas Kuroko.

"Kise-kun, ohayou." sapa Kuroko saat melihat Kise berdiri di depan pintu.

Kise blushing dan tidak sanggup menahan dirinya untuk tidak menerjang ke arah Kuroko dengan pelukan mautnya. Dia berlari ke arah Kuroko dan memeluk erat pemuda mungil itu.

"Ohayou, Kurokocchi! Semalam menginap dimana-ssu? Tadi pagi aku jemput Kurokocchi malah tidak ada," rengek Kise sambil mengalungkan lengannya di leher Kuroko.

"Semalam Tetsuya menginap di rumahku," ekspresi Akashi mendadak dingin.

Kise menatap Akashi. Dia baru sadar Akashi ada di sana.

"Eh, begitukah?" kata Kise dengan suara rendah.

Kuroko menepis tangan Kise yang tiba-tiba memeluknya makin erat seolah-olah Kuroko akan pergi jauh.

"Sesak, Kise-kun."

"He, gomen Kurokocchi~!" Kise mengusap pelan tengkuknya.

Entah kenapa Kise merasa ngilu di dadanya. Detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya, hanya karena Kuroko menginap di rumah Akashi.

Teng Teng

Bel masuk berbunyi, mau tidak mau Kise dan Akashi harus kembali ke kelas mereka masing-masing.

Akashi langsung kembali ke kelasnya tanpa basa-basi. Dia merasa jengkel dengan pemuda blonde yang bernama Kise Ryota. Akashi makin jengkel saat mengingat tadi Kise memeluk erat Kuroko, tampaknya hubungan mereka sangat erat. Teman? Mungkin...

Kise juga kembali ke kelasnya, dia berjalan menuju kelasnya dengan kaki yang di sentak-sentakan dengan keras membuat para wanita―fansnya― terheran. Kise-kun kenapa, ya? Itulah yang terdengar dari gadis-gadis fansnya Kise saat pemuda blonde itu melewati mereka.

Guru matematika memasuki kelas 1-B.

Pagi-pagi sudah disuguhi pelajaran matematika membuat Kuroko mual, dia tidak suka pelajaran sesat itu.

Bayangkan saja, kita mempelajari hal yang kita tidak tahu kapan akan di gunakan untuk kehidupan sehari-hari.

Helaan napas panjang Kuroko terdengar. Dia melirik ke arah jendela, menatap malas burung yang hinggap di pohon, sesekali melirik ke lapangan tempat para murid sedang berolahraga.

Untungnya hawa keberadaan Kuroko tipis sehingga guru yang mengajar tidak melihat Kuroko sedang melamun sambil menatap keluar jendela.

Kejadian tadi pagi terus-terusan berputar di benak Kuroko, dimana Akashi menciumnya dengan paksa.

Dia kesal sangat kesal, ternyata Akashi sama seperti Haizaki. Kuroko tidak mau bicara pada Akashi lagi sebelum menemukan alasan dari perlakuan kurang ajar Akashi.

Sementara jam terus berputar, Kuroko makin tenggelam dalam lamunannya sampai―

Teng teng

―bel istirahat berbunyi di barengi suara berisik yang tiba-tiba muncul.

"Kurokocchi makan siang bareng yuk!" Kise menghampiri Kuroko. Kise datang berbarengan dengan bel istirahat siang.

Kuroko merapikan bukunya, dan dia ingat kalau dia tidak membawa bekal. "Aku tidak membawa bekal, Kise-kun."

"Aku bisa berbagi bekal dengan Kurokocchi~" kata Kise sambik menarik lengan Kuroko keluar dari kelasnya.

Alasan Kise cepat-cepat membawa Kuroko pergi adalah dia tidak mau kalau si Ketua OSIS absolute mencuri start duluan. Pasti saat istirahat siang Akashi menghampiri Kuroko yang sekarang merupakan budaknya.

Dan firasat Kise benar, Akashi mendatangi kelas Kuroko tapi dia telat langkah, dia mendengus kesal saat melihat kelas 1-B tidak ada Kuroko. Akashi langsung menyimpulkan Kiselah yang sudah membawa Kuroko terlebih dahulu.

Akashi langsung menuju ruang rapat OSIS dengan ogah-ogahan ketika mendapat panggilan, dia batalkan niat mencari Kuroko.

Kuroko dan Kise makan di belakang gudang sekolah. Jangan tanya alasan Kise memilih tempat absurd ini, sudah pasti agar Akashi tidak menemukan mereka.

Kise, kau lupa siapa Akashi?

"Kurokocchi ada hubungan apa dengan Akashicchi-ssu?" tanya Kise dengan nada memelas setelah selesai menghabiskan makan siangnya.

Kuroko yang sedang makan tersedak hebat, dengan segera dia mengambil air dan menenggaknya.

Pertanyaan Kise tidak bisa Kuroko jawab. Kuroko tidak bisa bilang kalau hubungannya dengan Akashi seperti―kira-kira―majikan dan budak. Bayangkan betapa malunya Kuroko kalau sampai Kise tahu.

"Cuma teman biasa," jawab Kuroko.

"Lalu, kenapa Kurokocchi menginap di rumahnya-ssu?" tanya Kise lagi.

Kuroko juga tidak bisa bilang kalau Akashi menyelamatkannya dari pelecehan Haizaki.

"Berhentilah bertanya, Kise-kun."

"Hido―!" jerit Kise sambil memanyunkan bibirnya.

Kuroko menusuk-nusuk pipi Kise. Kalau Kise sedang ngambek Kuroko pasti menusuk pipi Kise yang menggemaskan itu.

Seketika kegiatan Kuroko menghentikan kegiatannya saat mendengar ada yang bercakap-cakap di gudang.

"Kau mau melakukannya disini?"

"Tentu saja."

"Dasar mesum."

"Kita kemari untuk itu, 'kan?"

Deg!

Kuroko merasakan firasat buruk saat mendengar percakapan ambigu itu. Begitu pula Kise yang wajahnya menjadi panik dan memerah.

Sepertinya Kuroko mengenal salah satu suara mereka.

Kuroko bangkit dan mengintip dari jendela memastikan tebakannya benar atau tidak.

Dan tebakannya benar, teman sekelasnya bernama Sakurai Ryo sedang berciuman panas dengan laki-laki berkacamata yang Kuroko tahu dia adalah Imayoshi, kakak kelasnya.

Kise yang melihat Kuroko mematung menatap jendela langsung ikut-ikutan mengintip karena penasaran. Wajah Kise memerah sempurna melihat pemandangan di depan matanya.

Kise langsung menarik lengan Kuroko untuk segera duduk kembali. Kise tidak ingin pikiran Kuroko teracuni.

"Kurokocchi tidak boleh lihat-ssu," kata Kise pelan.

Kuroko tidak mendengarkan, otaknya masih mencerna hal yang terakhir dia lihat. Dia melihat Sakurai dengan keadaan topless sementara Imayoshi mengulum nipelnya.

"Hnnngg, Imayoshi-kun, sebaiknya kita hentikan,"

"Kita sudah sejauh ini, mana bisa ku hentikan?"

"AAKH!"

"Ada pasangan gila!" jerit Kise dalam hati.

Kise menutup wajahnya yang memerah, rasanya ia ingin kabur dari sana sambil menarik Kuroko tapi kakinya tidak bisa bergerak.

Kenapa ini?

Kuroko juga sama. Wajahnya memerah tapi tetap memasang muka temboknya.

Mereka berdua terdiam tidak ada yang terdengar selain desahan demi desahan yang terdengar dari dalam gudang.

"Imaa Akkhh hen..tii.. Aakhh!"

Jantung Kuroko dan Kise berdegup sangat kencang. Kuroko mencengkram erat dadanya berharap Kise tidak mendengar degup jantungnya.

"Ukhhh..aaah..huuuf aahh!"

Desahan dari dalam gudang makin keras. Kise mulai panik dia membuang muka ke arah yang berlawanan dengan Kuroko. Dia tidak ingin Kuroko melihat ekspresinya. Ekspresi Kise sekarang terlihat seperti orang yang sedang 'ingin'.

"Aku ingin kelu... Aaaakhh!"

Kuroko ikut memalingkan wajahnya yang sudah memerah sempurna. Tubuhnya gemetar. Padahal dia tidak melihat hanya mendengar.

Akhirnya Imayoshi dan Sakurai keluar berbarengan. Mereka mengenakan seragam mereka dan langsung meninggalkan gudang itu tanpa tahu dua orang mengetahui perbuatan nista mereka.

Hati Kuroko mencelos lega. Dia segera menatap Kise yang memunggunginya.

"Ki―Kise-kun?"

Tidak ada jawaban dari Kise. Kuroko mulai khawatir pemuda blonde itu tidak menjawab panggilannya.

Tiba-tiba Kise langsung menoleh ke arah Kuroko membuat Kuroko tersontak kaget.

"Ada apa, Kise-kun?" tanya Kuroko ragu-ragu.

"Tidak ada apa-apa, Kurokocchi," kata Kise, ekspresinya kembali seperti semula.

Kuroko menghela napas.

"Kurokocchi kenal mereka-ssu?" tanya Kise. Semburat merah terlihat lagi di wajahnya.

"Ya. Mereka itu teman sekelasku dan kakak kelas kita," jawab Kuroko datar. Wajahnya kini kembali datar lagi.

"Oh begitu-ssu."

"Aku bingung," kata Kuroko, "Baru pertama kali aku mendengar itu secara langsung."

Suara Kuroko terdengar panik dia menenggelamkan surai baby bluenya di sela lututnya.

"Aku tidak tahu harus bagaimana kalau aku bertemu dengan Sakurai-kun," lanjut Kuroko.

Rupanya Kuroko hanya bingung bagaimana dia bisa bicara dengan Sakurai seperti biasa setelah kejadian tadi.

"Pura-pura tidak tahu saja-ssu," saran Kise.

Benar juga. Kuroko mengangguk dalam sela lututnya. Dia kemudian berpikir, waktu itu dia pernah hampir melakukan seks dengan Haizaki kalau saja Akashi tidak menolongnya.

"Seks itu.." Kuroko melanjutkan, "seperti apa ya?"

Kata-kata itu keluar saja dari mulut Kuroko membuat pemuda blonde di sebelahnya terlonjak kaget.

Kise meneguk ludahnya, "Kurokocchi, ingin tahu-ssu?"

Kuroko mengangkat wajahnya kemudian menatap Kise yang wajahnya sedang memerah.

"Ki―Kise-kun!"

.

.

.

To Be Continued!

(A/N) : maaf minna numpang nye pam bentar -_- *di timpuk*

sebenarnya ini fanfic adalah wujud balas dendamku pada ulangan yg terus menghantuiku *lebai*

tapi saat melihat banyak yang meminta di lanjutkan ―serius aku kaget― aku lanjutkan xD

untuk yang me review dan belum ku balas gomen se gomen gomennya (?) waktu menghambatku _- yah semoga saja kalian terhibur dengan fanfic nista ini :3

nee, mind to Read and Review? Or Oyakoro!