Aku tidak tahu ke mana aku dibawa pergi oleh seseorang belum kukenal. Dia hanya menggendongku, yang saat ini sedang tertidur di pelukannya. Hangat, memang. Tetapi, aku sangat ketakutan mengingat masa-masa mimpi buruk. Pandanganku kosong, tetapi mataku terbuka.
"Sepertinya kamu terlalu trauma, Nak."
Kudengar suara asing berbisik di depan wajahku. Ingin sekali kufokuskan kedua mataku, siapa orang yang membawaku pergi. Tetapi karena aku terlalu lelah, aku tidak bisa.
Bisa kulihat bibirnya terbentuk senyum tipis. "Tenang saja. Aku pastikan kamu selalu selamat. Ini adalah janjiku pada orangtuamu dan isteriku."
Isteri? Orangtuaku?
Benarkah itu?
Seperti membaca pikiranku, dia tersenyum walau samar-samar. Kedua mata birunya yang hangat. "Benar, Nak. Mulai sekarang, akulah pengganti orangtuamu. Panggil aku, Minato. Terserah untukmu, Nak."
Minato? Minato-san?
Entah kenapa aku merasa lega karena ada orang dipercaya orangtuaku. Aku pun menutup kedua mataku. Yang aku rasakan, aku terbawa jauh dari tempat masa lalu kelamku. Tidak akan balik ke belakang, lagi. Mungkin untuk selamanya.
.
Without You
.
DISCLAIMER: NARUTO belong to Masashi Kishimoto
Warning: Alternate Universe, Out Of Characters, Miss typo, Deskripsi seadanya. Kalimat Italic adalah masa lalu Hinata POV (1st POV). Kalimat normal adalah orang ketiga (3rd POV). Genre: Crime, Mystery, Romance and Family.
.
Chapter 02: Beginning In Paris
Hari indah yang cocok berjalan-jalan ke jalanan ramai sering dipadati para pejalan kaki. Di tanah Paris. Tempat tinggal yang cocok sebagai tempat persembunyian, karena tempat inilah memiliki banyak rahasia unik di baliknya.
Gadis yang digandeng oleh teman sebelahnya, membawanya pergi ke tempat-tempat bagus untuk terakhir kalinya. Mereka mengunjungi berbagai tempat walau gadis berambut biru panjang tidak bisa melihat, tetapi dia bisa merasakan, mendengar dan menghayati lewat hatinya.
Suara-suara berisik orang-orang di kunjungan tempat mereka berada, bikin hati gadis bernama Hinata tersenyum lebar. Tenten, sahabatnya, membantunya ke sana kemari agar tidak jalan sendiri atau terjatuh. Dia membimbing ke mana pun Hinata pergi, karena mereka sejalan.
"Lihatlah, Hinata. Kamu pasti senang bisa mengenakannya," kata Tenten merentangkan kain bercorak unik ke depan tubuh Hinata. Dia merabanya, tersenyum. Mengetahui bahwa Hinata tidak setuju untuk membelinya, Tenten mengerti. "Kamu tidak suka? Kenapa kamu bisa tahu kalau corak begini sangatlah tidak bagus?"
"Bukan begitu." Hinata menggeleng, mengeratkan tongkat bantu erat-erat. "Aku tidak cocok memakainya. Itu terlalu mewah." Hinata menggantung kalimatnya, mendesah berat. "Itu terlalu aneh buatku. Aku tidak mau jadi beban Minato-san."
"Aduuh, Hinata." Tenten menepuk jidatnya. "Apakah kamu tahu, Minato-san tidak keberatan kamu memakainya. Yang penting kamu senang."
Hinata menggeleng cepat. "Tidak, Tenten. Aku tidak mau memberatkan Minato-san. Dia sudah terlalu banyak membantuku. Dia juga sudah kuanggap sebagai Ayahku. Minato-san menganggapmu dan lainnya adalah anak-anaknya. Dia pasti ingin menyenangkanmu juga, jadi lebih baik kamu yang beli hanya untukmu saja."
"Kamu keras kepala, Hinata."
"Biarlah," jawab Hinata spontan.
"Kalau begitu, aku bayar dulu. Kamu jangan ke mana-mana," pinta Tenten kepada Hinata. Gadis itu mengangguk, mengerti.
Gadis bercempol dua berjalan ke kasir meninggalkan Hinata di tengah toko pakaian. Dia tidak menyadari bahwa sekumpulan orang-orang sedang mengejar sosok yang berlari kencang, akhirnya—tidak sengaja tongkat Hinata terambil—menabrak Hinata hingga terjatuh.
Sosok itu ingin meminta maaf, tetapi dia sangat terburu-buru. Hinata yang merasakan tongkatnya tidak ada, memilih mengejar sosok—pencuri tongkat—yang berlari.
Mendengar suara sekumpulan orang-orang mengejar sosok itu, Hinata mengetahui sekumpulan tersebut masuk gang sempit dan gelap. Hinata mengikuti langkah-langkah kaki mereka. Kedua tangannya juga membantu meraba-raba tembok agar dirinya bisa berjalan dengan baik.
Merasakan tanah basah dan becek, Hinata terus melaju. Terdengar suara desahan orang-orang akibat berlari. Hinata berhenti di tempat karena teriakan keras menggelegar membentur Bumi.
"Hei, bocah! Keterlaluan sekali kamu! Kembalikan milik kami!" teriaknya.
Sosok itu menyeringai dalam bayangan. "Ini bukan milik kalian. Kalian terlalu bodoh buat memiliki benda ini." Dia mengacungkan genggaman tangannya. Di sana sebuah benda unik di atas telapak tangannya. "Ini cocok buatku."
"Apa katamu?!" geram seseorang, salah satu sekumpulan orang-orang itu.
"Jika kalian masih mau memilikinya, kemarilah. Aku senang hati memberikannya pada kalian," ucap sosok itu santai.
Keempat orang merupakan kelompok menghadang sosok itu dan siap menghajarnya. Namun, suara aneh terdengar di telinga Hinata. Suara mengerikan, sama seperti lima tahun yang lalu. Suara tebasan pedang.
Benar! Sosok itu mengeluarkan pedang panjang—entah dari mana datangnya—menebas tubuh tiga minus satu dalam sekali sabetan. Darah terciprat dan tertanda di dinding-dinding bata. Bau anyir tercium.
Sisa kelompok itu, ketakutan. Dia gemetar sampai-sampai kedua kakinya lemas. Dia terjatuh. Dia tidak sanggup berdiri. Teman-temannya merupakan orang penduduk Paris meninggal seketika.
Sosok itu mencondongkan tubuhnya, melihat orang di depannya. "Kamu kelihatan menakutkan. Apa kamu mau ikut dengan mereka atau mau hidup?" tanyanya menyeringai.
"Sa-saya… masih mau… hidup," katanya terbata.
"Kalau begitu, pergilah," usirnya halus.
Orang bule itu bangkit. Saat memutar tubuh, sosok itu mengacungkan pedang panjangnya dan menusuk tubuh orang bule tersebut. Tubuh lelaki itu bersimbah darah, mengenai tanah basah gang itu.
Sosok itu tersenyum puas. Dan meletakkan kembali pedang panjangnya ke saku celananya. Sepertinya pedang itu bisa diperkecil.
Kedua matanya yang bening menangkap sosok Hinata yang berdiri membatu di tempat. Sosok itu mendesis kesal. Dia harus membunuh gadis itu sebelum dia mengetahui semuanya.
"Kamu sepertinya salah alamat, Nona." Sosok tersebut mengeluarkan lagi pedangnya.
Hinata yang bergeming, tidak merespon perkataan sosok di depannya tengah berjalan ke arahnya sambil mengacungkan pedang panjang. Ujung pedang memancarkan cahaya kilauan, tidak juga membuat Hinata gemetar.
"Apa kamu bisa pergi?" tanyanya kepada Hinata.
"Aku…,"
"Ya?"
"Itu…,"
Tidak suka dengan kalimat terputus-putus, sosok tinggi tersebut mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Dia siap menebas kepala Hinata. Tetapi satu kalimat itu menghentikannya.
"Aku mau kamu kembalikan tongkatku."
Tongkat?
Kedua matanya melirik ke bawah di mana sebuah tongkat berada di dalam genggamannya. Akhirnya dia memberikan tongkat itu pada gadis di depannya. Hinata menerimanya dengan cara mencari-cari.
Baru menyadari bahwa gadis di depannya buta, sosok itu menjauhkan benda yang diminta Hinata. Kedua tangan Hinata kesusahan mencari-cari keberadaan tongkatnya.
"Bisa kamu kembalikan tongkatku? Aku tidak bisa pulang kalau tidak ada itu," katanya memohon.
"Kamu buta?" gumamnya lirih dan itu bisa didengar oleh Hinata.
Kegiatan Hinata mencari-cari tongkatnya terhenti sejenak. Kedua mata peraknya berharap bisa fokus pada sosok di depannya. "Benar! Aku buta! Kenapa kalau aku buta?!" katanya ketus.
Seringai lucu terbentuk di bibir sosok di depan Hinata. Dia meraih tangan Hinata, memberikan tongkat tersebut. Dia masih memandang Hinata lekat-lekat, tidak bisa dilepaskan.
"Kamu sungguh hebat," gumamnya dalam keadaan berbisik.
"Apa yang kamu katakan? Aku tidak bisa mendengarnya."
"Bukan apa-apa."
Sosok itu melewati Hinata. Sebelum menghilang di balik ujung gang, sosok itu meraih tangan Hinata dan mengajaknya keluar dari sana. Cahaya menusuk mata muncul.
Hinata merasakan genggaman tangan itu terlepas. Tangan yang dingin dan kokoh. Dan Hinata belum mengenal siapa orang itu.
"Siapa dia sebenarnya?"
Tenten berusaha mencari Hinata, menemukannya sedang berjalan. Tenten lega. Dia tidak bicara banyak karena dia tahu Hinata menyadari kedatangannya lewat langkah kakinya. Dia merangkul Hinata dan membawanya pulang.
Di ujung jalan sana, dia melihat Hinata dan Tenten. Senyum tersungging di bibirnya yang tegas.
"Suatu saat kita bertemu lagi, Nona."
-To be continued-
.
A/N: Chapter 2 update!
Lagi berusaha mempercepat supaya fict satunya lagi bisa dipublish. Tapi karena ada masalah, jadi fict ini update dua hari sekali. Dimohon maklumi ya, soalnya saya sibuk banget. Heu heu heu...
Makasih buat kalian yang sudah membaca, ya. ^^
Signature,
Zecka Fujioka
Makassar, 06 Maret 2014
