"Kenapa dengan anak saya, Dok?"

Aku mendengar suara Minato-san berbicara dengan seorang dokter mata. Dokter mata ini merawatku dengan sungguh-sungguh, mengecek kondisiku yang tidak bisa melihat ini.

Akhir-akhir ini, entah kenapa aku tidak bisa melihat sekitarku. Padahal selama dua bulan ini, aku masih seperti dulu, masih baik-baik saja walau kedua mataku agak rabun. Apakah mungkin aku mempunyai suatu penyakit.

Desahan sang dokter membuyarkan lamunanku, aku memasang telingaku baik-baik agar aku tahu di mana letak penyakitku sebenarnya.

"Dia mendapatkan pembengkakan di kedua retina matanya. Bisa disembuhkan, hanya saja…," kalimat dokter tersebut terpotong. Aku bisa mendengar dentingan detak jantung Minato-san walau samar-samar. "Kita butuh donor mata buat kesembuhan anak ini sampai usianya 20 tahun. Melewati itu, dia akan buta untuk selama-lamanya karena pembengkakan ini," katanya.

DEG!

Aku buta?!

Benarkah?

Kenapa ini bisa terjadi padaku?

Tidak kuketahui, air mataku membasahi pipiku. Aku merasa dipeluk oleh lengan yang besar berusaha menenangkanku, mengelus punggungku.

"Tenang, Hinata. Ayah ada di sini untukmu. Kamu pasti baik-baik saja. Kamu pasti bisa sembuh."

Kalimat-kalimat Minato-san menyadarkanku. Iya! Aku tidak sendirian. Aku masih bisa sembuh. Sembuh sebelum usiaku 20 tahun. Jadi, tinggal beberapa tahun lagi sejak kejadian di masa-masa aku berusia 5 tahun.

Aku mengangguk, mengusap air mataku menggunakan punggung tangan, mendongak melihat Minato-san yang tersenyum lembut ke arahku.

"Aku pasti sembuh, Minato-san."

.

Without You

.

DISCLAIMER: NARUTO belong to Masashi Kishimoto

Warning: Alternate Universe, Out Of Characters, Miss typo, Deskripsi seadanya. Kalimat Italic adalah Hinata POV (1st POV). Kalimat normal adalah orang ketiga (3rd POV). Genre: Crime, Mystery, Romance and Family.

.

Chapter 03: Can't Wait Till New Year

Penerbangan menuju Jepang menggunakan pesawat Qatar Airlines membuat penerbangan ini mendarat secepat yang tidak diduga Minato dan anak-anak dibawanya. Meskipun hanya Hinata yang tidak tahu di mana dia berada, tetapi dia sangat menghapal bau tempat tinggalnya dulu.

Selagi mengambil barang-barang, Hinata berjalan-jalan mengitari bandara Internasional Narita, Jepang. Bau yang dilupakannya selama bertahun-tahun, kembali ke permukaan. Tidak disangkanya tempat dipilih Minato adalah tempat kelahirannya dulu.

Minato dan teman-temannya tidak tahu menahu keberadaan Hinata, karena gadis itu terus berjalan tanpa mengetahui di mana dia berada. Untunglah ada seseorang meraih pinggangnya dan membawanya ke tempat sunyi.

"Kamu masih mengenalku, Nona?"

Suara familiar itu begitu bening di telinganya walau ada rasa dingin menimpa pendengarannya. Hinata mundur selangkah, mengulurkan tangannya demi meneliti siapa wajah di depannya.

Wajah dingin dan kaku. Ada sebuah tiga goresan kiri kanan mirip kumis kucing. Rambut jabrik yang bikin tangan ditusuk-tusuk. Telinga yang tegap. Alisnya yang agak tebal berwarna kuning. Bibir yang menawan. Dan mata biru langitnya yang menajam namun lembut, hanya untuk Hinata.

Telapak tangan dan buku-buku jarinya terus menelusuri setiap lekuk wajah lelaki di depannya walau dua hari yang lalu mereka hanya bertemu tanpa saling menyentuh. Tetapi pendengaran dan perasaan Hinata merasa yakin bahwa dia pernah bertemu lelaki ini.

"Ya…, aku tahu kamu. Kamulah orang yang membawa tongkatku, bukan?"

Senyum geli tersunggingnya di bibirnya. "Benar, Nona. Inilah aku. Akulah orang yang tidak sengaja membawa tongkatmu."

Hinata menurunkan tangannya, menggenggam tongkatnya. "Apa kamu mau mengambil tongkatku lagi?" tanyanya hati-hati.

Lelaki itu tertawa geli. "Hahaha. Buat apa aku mengambil tongkatmu. Aku hanya ingin bertemu denganmu saja." Lelaki itu mencondongkan kepalanya, berbisik di telinga Hinata. "Aku sangat merindukanmu, Nona."

Semburat merah terpancar di wajah Hinata. Dia menunduk malu. Lelaki itu malah tersenyum geli menahan tawa.

Pancaran mata biru langitnya memandang Hinata sangat ganjil. Ada sebuah tanda tanya, kenapa lelaki ini terus merindukan gadis ini walau mereka baru bertemu dua hari. Apakah mungkin…

"Aku harus kembali," kata Hinata buru-buru membalikkan tubuhnya pergi dari sana. Lelaki itu menahannya dengan meraih pinggangnya. Hinata memberontak. "Bisa kamu lepaskan aku?!" katanya setengah berteriak.

"Apa kita saling kenal?" tanyanya menundukkan kepalanya dan berbisik di telinga Hinata. "Wajahmu sangatlah familiar di ingatanku. Sepertinya kita pernah saling kenal."

Tubuh Hinata menegang, tetapi berusaha menyembunyikannya. Hinata memberontak sekali lagi hingga lelaki itu melepaskan pinggangnya, menyerah. Hinata balik badan, namun kedua matanya tetap terfokus pada sang target meski tidak sampai.

"Aku tidak pernah sekalipun mengenalmu. Aku hanya bertemu denganmu dua hari yang lalu," sela Hinata cepat-cepat keluar dari sana. Dia berlari untuk meninggalkan tempat yang bikin dirinya bergidik.

Lelaki itu masih di tempatnya, menyeringai. Dia sangat tertarik pada wanita itu, wanita yang sangat dikenalnya walau agak buram. Wanita yang merupakan orang pernah berhubungan dengannya di masa lalu. Entah masa lalu apa.

.

.

"Hinata!"

Panggilan itu menyita pikiran Hinata yang kalut. Dia menengok kanan kiri mencari-cari orang yang memanggilnya. Untunglah orang yang memanggilnya menyentuh kedua bahunya sekalian menenangkannya.

"Kamu tidak apa-apa, Hinata?"

"Mi-Minato-san." Kelegaan sarat muncul di benak Hinata. Dia pun memeluk orang yang pernah menyelamatkannya. "Aku takut, Minato-san. Ada orang yang mengincarku. Dia sepertinya kenal denganku," katanya serak.

Minato mendorong tubuh Hinata, memandangnya ingin tahu. "Siapa, Hinata? Apa dia orang yang sama telah membunuh kedua orangtuamu?" Hinata menggeleng.

"Aku tidak tahu, Minato-san. Aura dia sangat dingin, kaku dan penuh aura membunuh. Tapi aku merasa dia sepertinya mengincarku seolah-olah dia sangat mengetahui aku," kata Hinata menahan tangisnya yang tidak bisa ditahannya.

"Siapa orang itu, Hinata? Apa kamu bisa mengenalnya lewat sentuhanmu?" tanyanya pelan-pelan.

Hinata mengangguk sekilas. "Menurutku, dia memiliki rambut yang sama denganmu, Minato-san. Meski dia punya 3 kumis di dua sisi, kanan dan kiri. Juga punya mata yang sama dan aku melihatnya lewat mata hati."

Minato terperangah dan membeku. Dia terdiam tidak bisa berbicara selanjutnya, lagi. Lengannya terurai, turun. Hinata tidak tahu wajah Minato pun terlihat sedih.

Anaknya. Buah hatinya dengan isteri tercintanya. Dia yang masih kecil menunggu di ruang tamu untuk bertemu dengannya dan mengatakan akan mengajaknya dan isterinya ke taman tahun baru. Namun, di kala mereka bersama. Kushina, isteri Minato, meninggal dunia akibat serangan mendadak di acara tahun baru.

Acara menyenangkan berubah menjadi acara mengerikan. Banyak pembunuh berceceran di sana. Banyak korban terjatuh akibat serangan tersebut, termasuk Kushina.

Anaknya paling kecil dibawa oleh kelompok salah satu pembunuh tersebut, merekalah orang-orang suruhan Ayah Kushina. Meskipun Kushina tidak pernah sekalipun membunuh dan lebih memilih kabur dan tinggal bersama Minato demi menyembunyikan identitasnya.

Karena marah dan benci akibat anak satu-satunya meninggal, Ayah Kushina menculik dan membawa anak satu-satunya Minato. Bernama Naruto. Entah ke mana mereka membawanya. Apakah mereka menjadikannya pembunuh juga? Ataukah…

"Minato-san?"

Lamunan Minato hancur dan dia pun kembali ke Bumi. Mata biru langitnya menatap Hinata yang melihatnya sedih. Tangannya terulur dan membelai rambut Hinata yang lembut.

"Ayah tidak apa-apa, Hinata. Kita kembali ke tempat yang lainnya, ya." Hinata mengangguk, tersenyum.

Baru saja Minato melangkah, kedua matanya menangkap sosok yang terus memandangi Hinata. Sosok dirindukannya selama 22 tahun belakangan ini. Entah berapa usia anaknya. Yang jelas dia bertambah dewasa. Dan wajah cerianya pun berubah menjadi wajah dingin dan kaku.

Minato pun bersedih, membawa Hinata ke tempat orang-orang dikasihinya. Membiarkan anak itu terus memandangi Hinata sampai menghilang di balik kerumunan orang-orang.

Mungkin di tahun ini, mereka pasti menunggu sampai tahun baru tiba. Di mana sang penentuan itu datang di Jepang ini, yang sekarang banyak pembunuhan.

Kedua mata biru langit penuh ketajaman, tersenyum tipis melihat wanita incarannya menghilang. Dia pun berbalik badan pergi dari sana menuju para pengawalnya telah menunggu di parkiran bandara.

-To be continued-

.

A/N: Chapter 3 update!
Maaf lama, soalnya saya harus menunggu tengah malam buat update. Ini soal kuota internet di hp saya. Harap dimaklumi. Juga buat fict ini, ada tiga fict yang drabbles atau ficlet yang belum saya publish di sini. Dulunya Oneshot, tetapi berubah jadi multichapter. Sesuai apa yang ada, saya membuatnya jadi ficlet atau drabbles. Hehe...

Makasih pada kalian yang telah membaca! XD

Signature,

Zecka Fujioka

Makassar, 07 April 2014