Aku belum mengenal tempat ini, tempat asing yang katanya persembunyian pertama. Minato-san membawaku ke sini, katanya demi melindungiku dari kejaran orang-orang yang berniat membunuhku. Katanya aku masih berada incaran mereka, karena aku adalah satu-satunya masih hidup di keluarga Hyuuga.

Hyuuga, keluarga luar biasa. Di mana anggota keluarga pandai melakukan hal yang masuk akal di bawah kendali Ayahku, Hiashi Hyuuga. Beserta Pamanku dan kakak sepupuku bernama Neji Hyuuga.

Sepintas yang aku tahu, sebelum aku sembunyi. Aku diajak pergi oleh Neji-nii ke tempat tidak diketahui oleh orang-orang termasuk pembunuh-pembunuh itu. Dia membawaku ke tempat yang belum pernah kukenali.

Dia mengangkat tubuhku ke atas dan berbisik di depanku, "Hinata, kamu di sini baik-baik. Jangan pergi ke mana-mana. Mengerti?" Pesan dari Neji-nii setelah meninggalkanku di sini.

Kemudian, aku tidak tahu bagaimana kabar Neji-nii sekarang. Apakah dia dibunuh atau melarikan diri? Kata Minato-san, hanya aku yang selamat. Yang lainnya, meninggal dunia dengan tebasan pedang tajam. Berceceran di mana-mana.

Kata Minato-san, Ayahku dan Ibuku juga Hanabi, adikku, telah meninggal. Ada ditusuk tepat di jantungnya, contohnya Ayahku. Hanabi, katanya ditebas kepalanya hingga dibuang ke tong sampah. Ibuku diperkosa oleh salah seorang anak buah pembunuh itu dan dibuang ke sungai terdekat.

Sedangkan Pamanku, Hizashi, kedua tangannya dipotong. Neji-nii, dicekek mati oleh anak buah orang itu.

Aku tidak sanggup mengingatnya lagi. Membayangkannya terasa seperti mau muntah saja. Jika itu terjadi padaku, apa aku masih bisa hidup di tangannya? Aku belum siap mati. Aku belum bisa membalaskan dendam keluargaku.

Aku takut…

.

Without You

.

DISCLAIMER: NARUTO belong to Masashi Kishimoto

Warning: Alternate Universe, Out Of Characters, Miss typo, Deskripsi seadanya. Kalimat Italic adalah Hinata POV (1st POV). Kalimat normal adalah orang ketiga (3rd POV). Genre: Crime, Mystery, Romance and Family.

.

Chapter 04: Investigate The Escort

"Kamu sudah pulang, Naruto?"

Suara serak menghentikan langkah kaki lelaki berambut kuning jabrik yang tengah menenteng ransel yang berisi benda-benda tajam termasuk pedang kesayangannya. Dia menoleh ke arah suara, memasang wajah datar seperti biasanya.

"Ya, Kakek. Aku pulang." Naruto menunduk.

Kakek berusia puluhan tahun menyeringai melihat cucunya telah bertumbuh besar, sambil menghembuskan asap rokok. "Kamu sudah besar. Sudah sepantasnya kamu mencari pegangan hidup, mencari calon isteri."

"Menurut Kakek, aku harus menikah di usiaku 28 tahun ini?"

Kakek Naruto tertawa. "Hahaha! Kamu memang berusia 28 tahun. Kamu seharusnya mencari salah seorang gadis yang cocok dengan kriteriamu atau kamu mau dijodohkan oleh calon Kakekmu ini?" katanya masih tertawa geli.

Naruto terdiam, sempat berpikir. Tiba-tiba dia teringat gadis buta itu. Senyuman tersungging di bibirnya, dia mengedikkan bahu.

"Aku mempunyai calon. Apakah aku boleh membawanya ke sini, Kakek?" tanyanya sambil berdiri diam di tempat.

Kakek Naruto terkekeh geli. "Semua wanita yang kamu dapatkan boleh saja masuk ke sini. Asalkan bukan dari keturunan keluarga Hyuuga."

"Mereka sudah lama mati, Kakek." Naruto memasang wajah dingin, tidak suka mengungkit-ungkit masa lalu. "Mereka telah lama mati, di tanganku," katanya tajam.

Seringai licik terbentuk juga di bibir kakek Naruto. "Memang mereka sudah mati 10 tahun yang lalu. Tidak ada yang tahu mereka mati karena siapa. Yang mereka tahu, mereka dibunuh oleh tangan sang Uchiha. Hahahaha!" muncul gelak tawa tidak terhenti.

"Asal bukan Hyuuga 'kan? Aku masih bisa mencari selain keluarga aneh itu," kata Naruto penuh percaya diri. "Lihat saja besok-besok. Aku bakalan membawakan gadis itu di hadapan Kakek."

"Aku tunggu!"

Naruto menunduk, meminta pamit dan beranjak pergi.

.

.

GUBRAK!

Gebrakan meja oleh kedua telapak tangan kuat seorang Uchiha. Dia melirik tajam pada sepasang foto sosok lelaki berambut kuning jabrik tengah berjalan dan bertemu pengawalnya. Senyum licik terbentuk di bibir sang Uchiha.

"Akhirnya kamu kembali, Uzumaki. Kamu telah memfitnahku selama bertahun-tahun, akhirnya aku bisa mengembalikannya lagi. Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan apa yang kamu mau. Aku pastikan kamu akan jatuh di tanganku!"

Kapalan tinju it uterus memukul meja begitu kerasnya, membanting semua barang-barang di atasnya hingga terjatuh ke lantai. Barulah dia berhenti setelah salah seorang anak buahnya memberitahukan hal tidak terduga.

"Saya sudah tahu di mana sepupu Anda berada, Sasuke-sama," katanya menunduk dalam-dalam.

Sasuke, namanya, mengangkat kepalanya sontak terkejut. Kemarahannya menguap berganti keterkejutan amat sangat. "Benarkah itu? Adik sepupuku telah ditemukan? Di mana?!" teriaknya, lagi.

"Di kota ini. Di salah satu yayasan milik Namikaze, Ayah Uzumaki Naruto," jawabnya hati-hati.

Sasuke limbung. Tidak disangka-sangka adik sepupunya yang tersisa di dalam keluarga Hyuuga telah terselamatkan. Berkat Minato Namikaze. Ayah dari rivalnya selama 10 tahun terakhir ini akibat fitnah yang menyatakan bahwa keluarga Sasuke-lah yang membunuh keluarga Hyuuga. Padahal itu sangatlah tidak benar.

Selama ini Sasuke mencari-cari keberadaan Hinata dari ujung ke ujung, tetapi nihil. Tidak ada satupun berita tentang keberadaan Hinata. Semua orang menganggapnya telah mati. Tujuannya pun hancur dan kebenciannya berubah jadi bara api meletup. Membenci Naruto yang telah membunuh sebagian anggota keluarga Hyuuga. Keluarga paling disayanginya.

Sekarang dia telah mengetahui keberadaan Hinata. Lebih dari 10 tahun, Sasuke kesepian. Dia lebih memilih menyendiri ketimbang berada di luar. Karena frustasi, Sasuke menikahi sahabat kecil Hinata, Sakura, demi meredam kesepiannya yang terus menggunung.

Kepala Sasuke menatap lurus pada anak buahnya. "Suruh yang lain menjaga baik-baik adik sepupuku. Jangan biarkan dia berada di tangan yang salah selain Minato Namikaze. Mengerti?!" perintahnya.

"Baik, Sasuke-sama."

Kepergian anak buahnya memberikan lagi kemarahan pada Naruto. Inilah saatnya membalas dendam bersama Hinata di sampingnya. Hinata, anggota keluarga Hyuuga yang tersisa. Tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Semuanya pasti baik-baik saja. Itu yang diharapkannya.

.

.

Gadis berambut biru panjang mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper dan memasukkannya ke dalam lemari. Sesaat dia sedang merapikan, tiba-tiba tubuhnya bergidik. Dia waspada pada sekitarnya. Mencengkram tongkatnya kuat-kuat, siap memukul siapa saja yang berani mengganggunya.

"Masih mengingat suaraku?"

Mata Hinata terbelalak lebar-lebar. Tidak disangkanya suara itu terdengar lagi di kedua telinganya. Cepat-cepat dia memasang pertahanan diri agar orang itu tidak berniat melakukan sesuatu kepadanya.

"Tenang, Nona. Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu." Tanpa disadari Hinata, lelaki itu meraih pinggangnya, memperkecil jarak di antara mereka. "Kamu, mulai besok adalah incaranku. Kamu, akan menjadi sasaranku. Aku pastikan kamu adalah orang yang satu-satunya jadi milikku." Bibir lelaki itu berbisik di telinga Hinata. "Bersiap-siaplah, Sayang."

Sontak Hinata mengangkat tongkatnya, tetapi lelaki itu berusaha menghindar dengan menguraikan cengkraman di pinggangnya. Tidak lama setelah itu, lelaki itu keluar dari jendela mengirimkan Hinata udara sangat dingin menusuk kulit dan tulang.

Kibaran tirai jendela menjadi bukti bahwa lelaki itu memang masuk ke kamar Hinata. Menguntitnya, mengintipnya sampai mengunjunginya tanpa disadari.

Mulai sekarang, Hinata harus mulai waspada. Bahkan memasang telinga dan perasaan baik-baik apabila ada aura mengerikan di sekitarnya. Aura pembunuh. Aura yang sama dengan pembunuh 10 tahun yang lalu, di saat usianya 5 tahun.

-To be continued-

.

A/N: Ada yang masih kangen sama fict ini?
Walau masih pemula membuat pembunuhan padahal SUNSHINE sudah termasuk, tetap saja masih ada keganjalan. Atau cuman saya saja, ya? #MikirKeras :/
Makasih buat kalian yang telah membaca dan review! XD

Signature,

Zecka Fujioka

Makassar, 08 April 2014