Setelah memasuki rumah milik Minato-san, aku berkenalan dengan Tenten dan beberapa anak yang lain. Semuanya sangat ramah dan murah senyum, walau aku tidak sepenuhnya bisa melihat apa yang dilakukan selanjutnya. Kedua mataku semakin buram.

Semenjak diperiksa Dokter, sahabat Minato-san, aku terus menjaganya agar bisa sembuh setiap saat. Tapi, kedua mataku tidak bisa mengikuti keinginanku lagi.

Seandainya ada keajaiban dan bertemu Sasuke, sepupu kesayanganku, aku mungkin bisa meminta tolong padanya. Sayangnya, aku terlalu jauh dari dia. Jauh. Yang memisahkan kami hanya lautan luas membentang.

Ingin kupeluk Sakura, berharap dia ada di sini saat aku sendirian dan kesepian. Tapi mereka tidak ada di sini bersamaku, orang-orang aku sayangi selama ini.

Telapak tangan membelai kepalaku dan satu menyentuh pundakku. Aku melihat Minato-san di kiri dan Tenten di sebelah kananku. Aku bersyukur memiliki mereka walau suatu saat nanti aku tidak bisa melihat lagi.

Semoga saja saat aku kembali ke Jepang, tanah kelahiranku, aku bisa mengetahui Sasuke dan Sakura berada dan meminta pertolongan mereka.

.

Without You

.

DISCLAIMER: NARUTO belong to Masashi Kishimoto

Warning: Alternate Universe, Out Of Characters, Miss typo, Deskripsi seadanya. Kalimat Italic adalah masa lalu Hinata POV (1st POV). Kalimat normal adalah orang ketiga (3rd POV). Genre: Crime, Mystery, Romance and Family.

.

Chapter 05: Miracle

Gadis berambut biru panjang terdiam membeku di tempat. Dia sengaja membeku karena di depannya bisa dirasakannya sosok tadi malam, seorang pria berambut kuning jabrik.

Tadi dia ingin pergi jalan-jalan tanpa ditemani Tenten, sahabatnya. Dikira bisa sendirian melakukannya, ternyata dia tidak menduga bisa bertemu pria itu lagi. Pria tidak diketahui namanya walaupun auranya bisa dikenali.

"Ka-kamu mau apa, lagi?" tanya Hinata was-was.

Terbentuk seringai puas di bibir pria bernama Naruto, nama tidak diketahui Hinata. Dia melangkah mendekati Hinata. Gadis itu merasakan jantungnya berhenti berdetak, merasakan langkah-langkah pria itu terus mendekatinya.

"Jangan ke sini!" perintah Hinata mundur beberapa langkah seiring mendekatnya Naruto.

Sesaat Hinata berbalik badan, tetapi lengannya malah ditarik dan dibalikkan tubuhnya menghadap Naruto. Aroma maskulin milik lelaki di depannya menghanyutkan batin Hinata. Ingin berontak, tetapi tidak bisa dilakukan.

"Sekali-sekali kamu pergi, aku akan terus mengejarmu," katanya berbisik di telinganya saat menundukkan kepalanya.

Dirangkul Hinata pergi meninggalkan tempat itu. Hinata berusaha menyesuaikan langkah-langkah kaki panjang Naruto. Didengar gemuruh orang-orang berjalan-jalan di sekitarnya. Suara-suara deru mobil dan klaksonnya yang berisik. Dan beberapa orang-orang berbicara.

Serasa déjà vu! Seperti dirasakannya waktu keluarganya mengajaknya jalan-jalan ke tempat ini. Kenangan terindah yang tidak akan dilupakannya seumur hidup.

"Kamu menangis?"

Hinata merasakan air membanjiri pipinya yang tembem, menghapusnya menggunakan punggung tangannya tetapi ditepis oleh Naruto. Digantikan sebuah ibu jarinya.

"Apa kamu tidak suka kalau aku mengajakmu ke sini?" tanyanya menyesal.

Hinata cepat-cepat menggeleng. "Bu-bukan begitu. Aku hanya merindukan tempat ini saja."

"Begitu, ya." Alis sebelah Naruto terangkat. Kembali menyeringai. Kembali ditariknya Hinata mengitari jalan-jalan ramai itu.

Entah kenapa setiap mengikuti jalan-jalan paling diingatnya karena ada suara samar-samar diketahuinya membuat dirinya tidak mampu menahan rasa kerinduan di masa lalu. Masa-masa di mana kebahagiaan itu belum direnggut.

"Kita makan di sini," kata Naruto menghentikan langkahnya dan menguraikan tangan gadis itu.

Hinata yang terpaku membisu tidak merespons ajakan Naruto. Dia melirik ke gadis tersebut.

"Kamu tidak mau?"

Hinata menggeleng, tidak menjawab.

Seringai terbentuk di bibir Naruto kemudian dia berbisik di telinga Hinata. "Kalau kamu tidak mau makan, aku pastikan kamu mati perlahan-lahan," katanya lirih.

Hinata bergidik seketika bergerak mundur. Tubuhnya mengantisipasi jika sewaktu-waktu lelaki di depannya melakukan sesuatu padanya. Justru Naruto terkekeh geli melihat sikap waspada Hinata.

"Kamu tidak usah takut padaku. Kamu tidak bakalan aku makan…," Naruto menyeringai. "… jika aku lapar," godanya geli.

"Jangan sekali-sekali kamu bercanda seperti itu. Kamu pasti akan menyesal terus menerus jika itu terjadi," katanya spontan tiba-tiba saja keluar dari mulut Hinata. Pasang mata itu berubah jadi dingin, berdecak kesal. Rahangnya mengatup keras.

"Kamu bilang apa tadi?" tanyanya mengangkat alis, tidak suka pada pernyataan berupa ancaman itu. "Kamu tidak suka aku mencandai kamu? He?" Wajah Naruto maju, Hinata bisa merasakan hembusan napas di hidungnya.

Hinata berdiri kaku, ketakutan dan waspada. Kedua mata peraknya tidak bisa mengetahui seperti apa wajah mengerikan itu, tetapi mata hatinya bisa mengetahuinya bahwa lelaki di depannya sedang marah dan kesal.

"Kamu harus ikut denganku! Mengerti?"

Diraihnya tangan Hinata dan membawanya pergi. Kejadian itu direkam oleh salah seorang anak buah Uchiha Sasuke tanpa sepengetahuan Naruto. Kejadian itu harus disaksikan atau semuanya mungkin bakalan berakhir.

.

.

"APA KATAMU?!" teriak lelaki berambut biru langit malam yang menggeram marah mendengar hasil penyelidikan itu dari anak buahnya. "Dia sudah menemukan Hinata dan membawanya pergi?! Lalu, kamu mengejarnya?!"

"Iya, Sasuke-sama. Salah satu teman kami mengikutinya dari belakang," jawabnya.

Sasuke mendesis kesal karena orang dicarinya malah dibawa pergi oleh musuh bebuyutannya. Dia mengacak-acak rambutnya kesal, kesal setengah mati. Wanita di sampingnya juga tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa berusaha menenangkannya.

"Sasuke, jangan marah-marah. Pasti ada jalan keluarnya," katanya menyentuh pundak lelaki yang merupakan suaminya. Lelaki itu pun tenang.

"Maafkan aku, Sakura. Aku terlalu marah hanya karena masalah begini," ucapnya meraih tangan isterinya dan menggenggamnya erat supaya ada energi positif diberikannya.

"Aku mengerti. Ini karena sepupu kesayanganmu yang juga sahabatku." Sakura memberikan Sasuke pelukan. Lelaki biru dongker memejamkan matanya, merasakan kehangatan pelukan isteri tercintanya.

Sambil memeluk isterinya, dia melirik ke orang-orang yang masih berdiri menunggu perintah darinya. "Jangan biarkan dia merusaknya. Awasi dia dan jangan biarkan dia teralih oleh kita."

"Baik!"

Mereka pun pergi keluar ruangan, siap menuntaskan pekerjaan mereka demi mendapatkan gadis itu kembali. Gadis yang selama ini mereka cari-cari.

.

.

"Haah…"

Rasa lega meliputi perasaan batin Naruto. Dia duduk di sebuah bangku taman setelah makan bersama gadis berambut biru panjang di sampingnya. Dia makan terlalu banyak makanya jadi kekenyangan.

"Enak sekali masakan di sini. Aku belum pernah makan di tempat seperti itu."

Hinata yang merasakan perasaan ajaib, mungkin karena kebahagiaan orang di sampingnya seketika menoleh. "Kamu belum pernah makan di tempat itu? Bukannya kamu orang Jepang?" tanyanya.

"Aku pergi ke luar negeri untuk sekolah makanya aku meninggalkan Jepang," sahutnya tanpa menoleh ke Hinata. "Aku yang tidak kenal orangtuaku memilih tinggal di keluarga asing. Keluarga yang mendidikku keras sampai begini. Kehidupan sangat keras sampai-sampai aku tidak tahu apa kasih sayang, cinta dan juga kebahagiaan. Yang aku rasakan hanyalah kekerasan dan kekejaman."

Uraian kalimat diutarakan Naruto mengiris hati Hinata. Sepertinya lelaki ini benar-benar orang yang baik, tetapi kehidupan itulah yang membuatnya jadi keras, kejam, dingin dan kaku. Dia belum merasakan kasih sayang.

"Seandainya ada keajaiban, mungkin aku bisa merubah kebiasaanku ini," kata Naruto melihat telapak tangannya seakan-akan telapak itu penuh dengan darah. "Keajaiban yang membimbingku menemukan cinta dan kebahagiaan."

Hinata tidak menjawab. Tetapi, dia tahu sesuatu yang bisa membuat lelaki di sampingnya bisa merasakan kebahagiaan. Juga cinta. Hanya dialah yang bisa melakukannya walau kemungkinan ada perasaan ganjil di dalam benaknya untuk tidak melakukan hal tersebut.

-To be continued-

.

A/N: Ada yang kangen sama fict ini? Doakan saya supaya saya bisa update lagi setiap hari kalau tidak ngaret dan update-nya di tengah malam atau subuh. Hahaha...
Untuk saat ini saya belum bisa balas review kalian, alasannya adalah saya capek dan mau tidur. Fufufu.. :P

Signature,

Zecka Fujioka

Makassar, 12 April 2014