"Sasuke!"

Kuberlari mengejar bocah laki-laki berusia satu tahun di atasku bersama bocah perempuan seumuran denganku. Kami sedang main anjing dan kucing. Aku senang pada permainan ini, di mana aku masih berusia 4 tahun di kala itu.

"Aku mendapatkanmu!" seru Sakura menangkap tubuhku. Aku terjungkal jatuh bersama dirinya. Aku tertawa terbahak-bahak.

Sasuke berdiri sambil melipat kedua tangan, menghela napas berat. "Kamu terlalu lamban, Hinata. Suatu saat nanti kamu pasti terjebak di dalamnya kalau terlalu lamban."

"Aku tidak lamban, Sasuke!" bantahku keras. "Aku cuman belum bisa menyaingi lari kalian!"

"Tetap saja kamu lamban, Hinata."

Aku mengerucutkan bibirku, tidak suka pada pernyataan Sasuke mengatakan aku lamban. Aku akui, aku memang lamban sehingga aku sering dimanfaatkan siapa pun yang pernah bertemu denganku. Itulah kenapa aku selalu berada di belakang punggung kedua orang terkenal kuat dan tegas.

Aku merasakan tangan seseorang sedang mengusap kepalaku. Aku menoleh melihat Sakura tersenyum lembut. Aku suka senyuman itu.

"Jangan marah, Sasuke. Biarpun dia lamban, Hinata anaknya aktif. Lihat saja, dia berusaha mencari kita. Benar kan, Hinata?"

Senyumanku melebar dan aku mengangguk. Aku memeluk Sakura yang sangat mengerti diriku. Melirik Sasuke yang mengedikkan bahu, mengalah.

Aku sangat bahagia bersama mereka. Hanya mereka yang mengetahui apa yang aku rasakan selama ini ketimbang orangtuaku sendiri.

.

Without You

.

DISCLAIMER: NARUTO belong to Masashi Kishimoto

Warning: Alternate Universe, Out Of Characters, Miss typo, Deskripsi seadanya. Kalimat Italic adalah masa lalu Hinata POV (1st POV). Kalimat normal adalah orang ketiga (3rd POV). Genre: Crime, Mystery, Romance and Family.

.

Chapter 06: LONG Distance

Pernyataan Naruto membuatnya jadi salah tingkah saat memilahnya dan mencerna setiap kata-kata tersebut. Hatinya jadi trenyuh. Dia sangat mengerti perasaan itu. Sangat mengerti. Walau ada perbandingan.

"Aku mengerti apa yang kamu katakan."

Naruto berdecak kesal, karena pertama kalinya ada orang paling mengerti dirinya. "Benarkah? Sejak kapan? Kemarin atau hari ini?" katanya ketus dan dingin.

Keberanian Hinata naik ke permukaan, tidak takut pada sikap Naruto kepadanya. "Mungkin kamu perlu disayangi makanya aku mengerti. Aku juga selalu disayangi oleh dua orang paling mengerti diriku. Makanya aku mengerti."

Naruto tersontak kaget, memalingkan muka. Suaranya berdesis kesal. Pertahanannya jadi runtuh. Tidak tanggung-tanggung dia menoleh, meraih wajah Hinata dan mencium bibir tersebut.

Sungguh kaget Hinata merasakan bibir pria di depannya menyentuh bibirnya. Dia sempat berontak. Karena pemberontakan Hinata, Naruto memperdalam ciumannya sampai Hinata terengah-engah kehabisan napas. Barulah Naruto melepaskan ciuman.

"A-apa yang kamu lakukan?!" jerit Hinata menggosok bibirnya yang memerah. Naruto menyeringai dan mengusap pipi Hinata begitu lembutnya menggunakan jarinya.

"Entah kenapa aku semakin tertarik padamu."

Hinata membeku di tempat. Walau dia merasa kesal pada perlakukan lelaki di depannya, sementara hatinya merasakan gelenyar aneh di dalam dada.

Merasakan pipi tembem gadis itu merona akibat kejadian tadi, Naruto cepat mencium pipi memerah tersebut. Hinata kembali terperangah, matanya membulat.

"Kamu manis sekali, Nona."

.

.

Di balik tempat persembunyian, Sasuke melihat semua itu tidak kalah geramnya. Melihat adik sepupunya bersama sang pembunuh dan fitnah dia. Tidak menyangka Hinata telah masuk ke dalam perangkap lelaki bernama Naruto.

"Kamu benar-benar keterlaluan!" desisnya tajam. "Kamu akan kuhancurkan! Kamu akan aku musnahkan dari dunianya ini!" kesalnya pun mampu menghabisi pohon di sampingnya hanya sekali tinju.

.

.

Dua sejoli ini bergandengan tangan. Alasan Hinata menerimanya karena dia hanya linglung pada perasaannya sendiri. Yang penting ini bukan cinta pandangan pertama melainkan jatuh cinta—mungkin—terharu pada kisah lelaki yang terpaut jauh usia dengannya.

Lelaki berambut durian tersebut terus melirik Hinata sekilas. Mata perak sendunya sangat mengunggah hati. Entah kapan, yang penting dia sangat tertarik pada gadis ini. Walau pertama dia sempat ketakutan karena mencium bau darah di gang waktu itu.

"Kamu tidak takut padaku?"

Tiba-tiba saja Naruto berkata seperti itu. Langkah Hinata terhenti membuat Naruto juga berhenti di tempat kemudian berbalik.

"Kalau misalkan hati kita terpaut jauh, bukan berarti aku takut padamu. Aku mungkin merasa kagum padamu walau masa lalumu begitu kelam. Terlalu sendirian. Kesepian." Kalimat Hinata tertunda kemudian dilanjutkan. "Tapi, aku memahaminya…"

"Kamu memang hebat."

Tanpa segan-segan dan meminta izin, Naruto mencium kening Hinata. Tetapi pas menarik kepalanya, kedua pasang mata biru langitnya menangkap sosok yang sudah lama dinantikannya berkat fitnahannya. Senyum Naruto terbentuk menyerupai seringai licik. Dipeluk pinggang Hinata dan membawanya duduk di halte bus.

"Kamu di sini dulu. Kalau aku belum kembali, kamu naik bus duluan. Tidak usah menungguku selama sejam. Mengerti, Sayang?"

Canggung mendengar Naruto memanggilnya 'Sayang', Hinata menunduk dan mengangguk. Senyum lelaki itu pun terbentuk dan terakhir dia mencium puncak kepala Hinata.

"Aku pergi. Sampai jumpa lagi."

Meskipun Hinata tidak bisa melihat, tetapi langkah Naruto bisa didengarnya. Tanpa diketahui nama lelaki tersebut, Hinata tersenyum dan bersemu merah karena malu. Tetapi perasaannya sungguh tidak enak. Dia merasakan sebentar lagi dia bakalan kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya.

.

.

"Aku tidak menyadari bahwa kamu terus mengikutiku bersama Nonaku."

Berdirilah Naruto begitu angkuhnya di depan Sasuke, lelaki yang merupakan korban fitnahan Naruto setelah kejadian tragis meninggalnya seluruh anggota keluarga Hyuuga. Bersamaan beberapa pengawal yang tidak mungkin Naruto takuti. Semakin menambah jumlah korban yang akan dia habisi sebentar lagi.

"Kamu sebut dia apa? Nonamu? Tidak salah, he?" decak Sasuke seakan-akan menyindir.

"Dia bakalan jadi milik aku seutuhnya, Uchiha."

"Dia bukan mainanmu!" geram Sasuke tidak bisa menahan kesabarannya.

"Lalu, apa hubungan dia denganmu? Hah?" teriak Naruto juga tidak suka lelaki di depannya berteriak seperti itu seolah-olah Hinata adalah miliknya.

Sasuke bungkam. Tidak mau dan takut sekali Hinata jadi incaran Uzumaki Naruto. Sebagai seorang anggota keluarga Hyuuga yang tersisa. Anak itu, sepupunya, harus hidup dan tidak boleh meninggal di tangan Uzumaki Naruto.

"Dia bukan siapa-siapa aku," ucap Sasuke lirih, merasa bersalah.

Naruto mengangkat alis, tersenyum kecut. "Well, tidak usah berdebat hanya karena dia. Selamanya dia tetap milik aku, Uchiha." Sasuke mengepalkan tinjunya, merasa kesal dan serba salah. "Tapi…," Naruto mengeluarkan senjata kesayangannya dan meluncur siap membunuh orang di depannya. "Lebih baik kamu mati terlebih dahulu, Uchiha Sasuke. Karena aku tidak mau diganggu olehmu!"

Tanpa aba-aba dan kewaspadaan, Sasuke tidak bisa mengelak dari serangan tersebut. Kecepatan Naruto berada di atas rata-rata dalam penggunaan pertarungan. Dengan senjata di pegangnya begitu erat, siap menebasnya.

Namun, di saat Naruto siap menusuk Sasuke dengan mata pedangnya. Sosok bayangan muncul di hadapan Sasuke, siap menjadikan dia tameng. Mata pedang itu pun menusuk tajam tepat di dadanya. Menembus jantungnya, hingga mengarah tepat di dada Sasuke. Hampir mengenai dada lelaki berambut biru tersebut.

Bersamaan darah mengucur keluar. Tubuh itu terpaku di tempat. Naruto yang dibutakan akan darah, pun mencabut mata pedangnya dari dada sosok itu. Tubuh itu pun jatuh ke belakang, ditahan oleh kedua lengan Sasuke yang juga membeku.

Memandangi orang dicintainya tadi melindungi dari serangan Naruto membuat kalap. Darah mengucur deras dari dadanya sampai mengenai baju seragamnya. Sekarang dia tahu bahwa orang yang melindunginya, tidak lain adalah isteri tercintanya.

"Sa-Sakura…"

"Untuk saat ini kamu bebas, Uchiha Sasuke." Tanpa menyesali perbuatannya, Naruto meninggalkan sepasang sosok itu.

Merasakan tubuh gadisnya dingin, dan tidak ada tanda kehidupan lagi. Barulah Sasuke sadar, Sakura telah meninggalkan dirinya. Diraba wajah gadis itu yang memejamkan mata, menangisi kepergiannya tanpa air mata. Sasuke berteriak di hamparan kegelapan dekat pelabuhan. Bersamaan suara keberangkatan kapal.

-To be continued-

.

A/N: Ha ha ha #KetawaHambar
Ini berasa kayak sinet, ya =_= berteriak karena kehilangan seseorang. Astaga! Sakura meninggal dunia akibat pedang Naruto. Maafkan saya para penggemar Sakura, saya tidak sengaja. Ini sudah resiko author yang menjalankan cerita biar berkembang. Ha ha ha…

Sign,

Zecka Fujioka

21 April 2014