"Hinata-chan!"

Panggil seseorang membalikkan tubuhku ke arah dia yang berlari menghampiriku. Gadis cantik berambut panjang datang mendekatiku dan kemudian memelukku. Sungguh aku suka aroma dia. Aroma cherry yang tidak bisa aku lupakan seumur hidupku.

"Tidak bisakah kamu memanggilku biasa saja tanpa embel-embel 'chan'." tanyaku mengerucutkan bibirku.

"Astaga, Hinata! Kamu lucu banget, sih." Sakura mencubit pipiku keras-keras sampai merah-merah. Tidak tahan pada cubitannya, aku menepis tangan itu dan mengusap pipiku yang merah.

Aku menyerah saja pada tingkah Sakura yang bikin gemes. Aku mendongak ke atas, melihat langit biru. Serasa menyejukkan. Tiba-tiba saja aku berbicara tidak jelas kepada Sakura.

"Jika aku tidak bisa melihat dunia ini dengan kedua mataku, apa aku bisa melihatnya lagi suatu saat nanti?"

"Aku akan memberikan mataku sebagai matamu yang hilang," sahut Sakura juga tiba-tiba mengerti pertanyaanku yang tidak jelas itu sambil tersenyum.

Aku menatapnya tidak percaya. "Kamu bicara apa sih?"

"Aku siap mendonorkan matamu misalkan itu terjadi padamu, sahabatku."

Raut wajah Sakura begitu berkilauan, membuatku tidak bisa banyak bicara. Walaupun tadi aku tidak bersungguh-sungguh mengatakannya, tetapi aku tahu dia bersungguh-sungguh dalam omongannya. Seperti aku merasakan sebentar lagi aku kehilangan dia untuk selamanya. Dan menitipkan sebuah mata cantik itu kepadaku.

"Dasar kamu, ya!"

Aku menjitak kepala Sakura. Kami pun tertawa bersama. Hatiku terasa pilu dan sendu apabila sahabatku ini pergi meninggalkanku. Mungkin, aku bakalan marah padanya dan meminta penjelasannya suatu saat nanti. Mungkin.

.

Without You

.

DISCLAIMER: NARUTO belong to Masashi Kishimoto

Warning: Alternate Universe, Out Of Characters, Miss typo, Deskripsi seadanya. Kalimat Italic adalah masa lalu Hinata POV (1st POV). Kalimat normal adalah orang ketiga (3rd POV). Genre: Crime, Mystery, Romance and Family.

.

Chapter 07: Unique Clocks

Di halte bus, Hinata merasakan air matanya keluar dari pelupuk matanya. Jatuh ke pipinya. Diangkat tangannya dan mengusap air itu.

"Kenapa aku menangis?"

Tidak lama kemudian, mobil berwarna hitam berhenti di depannya. Orang-orang berpakaian serba hitam dan seorang pria berambut kuning jabrik keluar dari mobil tersebut. Mereka menghampiri Hinata.

"Hinata,"

Sangat mengenal suara tersebut, Hinata berdiri. "Mi-Minato-san?"

"Ya, aku di sini."

Minato merangkul Hinata dan membawanya ke mobil. "Kita pulang. Ayah punya kabar buruk dan baik buatmu, Sayang. Aku harap kamu tegar pada masalah ini."

"Masalah? Ada apa, Minato-san?" tanya Hinata panik.

"Jangan panik. Ikut saja sama Ayah. Mengerti?" Hinata mengangguk dan masuk ke dalam mobil diikuti Minato dan beberapa orang lain yang masuk ke mobil lainnya.

Setelah dua mobil itu pergi, muncullah Naruto. Dia sengaja kembali ke halte untuk bertemu Hinata lagi. Dia tidak sabar membawanya jalan-jalan meski sekarang waktunya hampir menjelang tengah malam.

Tetapi, sosok Hinata tidak ada di sana. Padahal belum satu jam, dia meninggalkan Hinata. Padahal Hinata berjanji padanya, dia akan menunggu lelaki ini di halte selama satu jam. Kalau lewat, Hinata bakalan naik bus.

"Apa dia kabur?" decak Naruto kesal. Dia menggeleng. "Mana mungkin. Dia kan buta!"

Tidak terima gadisnya pergi meninggalkannya, Naruto memilih alternatif lain yaitu membunuh orang-orang yang tidak dikenalnya. Dia membutakan hatinya dan memunculkan dirinya yang haus akan darah. Dia membunuh dengan cara membabi buta, sampai dirinya bosan.

.

.

Aroma obat-obatan sangat dikenal Hinata, diketahui adalah Rumah Sakit, bikin dia gugup. Apa maksud Minato membawanya ke sini? Apa dia sakit? Ataukah mencari tahu cara menyembuhkan kedua matanya agar kembali normal, lagi?

Minato, Hinata dan beberapa orang-orang menjaga keduanya tiba di ruang operasi. Minato membawa Hinata ke depan lelaki yang sedih karena kehilangan belahan jiwanya, tersenyum melihat satu-satunya keluarga dimilikinya. Dia memeluknya.

"Akhirnya kamu datang, Hinata."

Sangat tahu siapa orang memeluknya, Hinata menangis. Dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan orang itu.

"Sa-Sasuke…,"

"Iya, ini aku."

"Sasuke…,"

Sasuke tidak menjawab suara itu yang tersedu-sedu menyebutnya. Sasuke tahu Hinata menangis. Membenamkan wajahnya di pundak Sasuke. Lelaki itu pun memeluknya, menenangkannya.

Sasuke menguraikan pelukannya. Menatap Hinata di manik mata. "Aku punya kabar baik untukmu. Meski aku telat melindungimu dan mendapati kamu buta, tapi aku pastikan kamu bisa melihat kembali. Kamu akan operasi pendonoran mata. Sudah ada orang yang mendonorkan mata buatmu, Sepupuku."

"Siapa?"

Sasuke menghela napas berat, tidak mampu memberikan jawaban. "Lebih baik kamu operasi saja dulu. Soal siapa orang itu, aku bakalan kasih tahu kamu. Mengerti?" Hinata mengangguk.

"Baiklah, Sasuke. Aku mengerti."

Sasuke merangkul Hinata dan membawanya ke Dokter mata, Kabuto. Dia meraih tangan Hinata dan membawanya ke ruang operasi. Pintu itu tertutup dan sebuah lampu warna merah dinyalakan, artinya operasi bakalan dimulai.

"Maafkan aku, Hinata. Setelah ini, kamu pasti sakit hati."

Minato menepuk pundak Sasuke, menenangkan. Lelaki itu mengembuskan napas berat akibat kehilangan seseorang dicintainya, selama ini bersamanya dalam suka dan duka. Ini memang berat bagi dirinya.

.

.

"Kamu dari mana, Naruto?"

Suara angkuh dan dingin menghentikan langkah Naruto. Dia tidak mau menoleh, hanya menjawab singkat. "Dari jalan-jalan." Dia masuk dan membuka jaketnya yang bernoda warna merah pekat.

Dibuang bajunya asal dan memakai baju yang baru ada di lemari. Dia sangat jengkel pada gadis itu yang meninggalkannya. Seharusnya dia membawanya ke tempat ramai, bukan tempat sesepi itu. Tetapi, dia puas karena telah membunuh orang terpenting bagi musuhnya. Mungkin sekarang dia meraung-raung dan siap membalas dendam.

"Selanjutnya adalah kamu, Uchiha Sasuke," ucapnya sembari membentuk senyuman licik.

.

.

"Bagaimana keadaannya, Dok? Kenapa dia belum bangun juga?"

Kekhawatiran Sasuke memang sangat beralasan, takut adik sepupunya kenapa-kenapa. Pemikiran tentang pemberitahuan seandainya nanti dia berbicara pada Hinata, membuatnya sangat takut pada respon adik sepupunya yang masih tertidur lelap.

"Dia butuh penyembuhan beberapa hari walaupun kedua matanya tidak ada gangguan selama operasi. Semuanya sangat lancar. Sepertinya sang pendonor ini mampu memberikan efek baik pada adik Anda."

Jawaban Dokter Kabuto membuatnya bungkam. Tentu saja siapa lagi pemilik mata yang jadi pendonor mata Hinata. Dialah satu-satunya orang sangat mengerti Hinata baik luar dalam dan juga satu-satunya orang yang mengisi hari-harinya semenjak keluarga Pamannya meninggal, dibunuh pembunuh keji.

"Sasuke…,"

Lamunan Sasuke buyar, cepat-cepat dia berbalik melihat Hinata mengangkat sebelah tangannya. Diraih tangan itu dan menggenggamnya erat.

"Kamu baik-baik saja di sini, Hinata. Ada apa?"

"Aku bermimpi," sahut Hinata lirih sehembus angina.

"Mimpi?"

"Mimpi bertemu Sakura."

Deg.

Jantung Sasuke berdetak lebih cepat. Mendengar nama dari mulut Hinata membuatnya membatu seperti patung. Lidahnya kelu. Rahangnya mengeras. Pundaknya tidak mampu memberikan beban lebih berat lagi.

"Katakan padaku, Sasuke. Donor mata ini adalah…"

Sebelum Hinata berbicara, Minato yang lebih duluan berbicara. "Itu milik Sakura, Uchiha Sakura."

Setetes air mata membasahi perban membalut kedua mata Hinata. Dia menangis. Sasuke pun akhirnya menangis. Menangisi kepergian kekasih hatinya, seorang isteri yang selalu ada di sampingnya. Seorang wanita mampu memberikan kehangatan di dalam dinginnya kehidupan.

"Sakura…,"

"Maafkan aku, Hinata. Aku—"

Genggaman tangan Hinata mengerat, mengguncang Sasuke. "Kenapa? Dan siapa?"

Merasakan arti dari pertanyaannya, Sasuke pun berkata kebenaran. Daripada berbohong, lebih baik berbicara kebenaran daripada terus berlarut-larut menanggung dosa.

"Ini ulah pembunuh keluargamu dan pefitnah diriku. Namanya Uzumaki Naruto."

Karena tidak terlalu sadar pada sekitar, sosok itu menegang mendengar nama lengkap itu. Dia tidak menyangka pembunuh gadis baik hati yang telah berkeluarga adalah anaknya sendiri. Anak yang telah diculik oleh Ayah mertuanya.

Jam dinding unik pemberian isteri tercintanya diambil dari kantung baju miliknya. Jam itu mati, menandakan sepertinya ada hal buruk terjadi. Hal buruk yang mungkin pasti tidak mungkin diambilnya.

-To be continued-

.

A/N: UPDATE!
Saya bakalan bisa mempercepat fict saya ini sampai tamat. 10 chapter cukup. Semoga saja ada sekuelnya. Doain saja, ya.
Terima kasih buat kalian telah membaca cerita saya ini.

Sign,

Zecka Fujioka

30 April 2014