"Minato-san punya anak?"

Aku menanyakan perihal sesuatu yang selalu membebani pikiran pria di sebelahku setiap kali aku bertanya soal keluarganya. Biarpun dari kemarin dia tidak mau menjawab pertanyaanku, aku yakin hari ini dia mau menjawab semuanya.

Senyuman pria berambut kuning jabrik (baca: sebelum Hinata buta) tersenyum ke arahku. Dia mengusap kepalaku lembut dan berjongkok di sampingku.

"Dulu, aku memiliki anak. Usianya masih kecil dan sangat rentan mempercayai sekitarnya," katanya memasang wajah sedih.

"Dulu? Artinya dia sudah—" sebelum aku bertanya lebih lanjut, Minato-san memotongnya.

"Dia masih hidup dan aku tidak tahu di mana dia."

Kupeluk leher Minato-san dan membenamkan wajahku di pundaknya yang tegap. "Aku ada di sini, Minato-san. Aku sudah menganggapmu Ayahku, Kakakku dan orang paling aku percayai."

"Terima kasih, Hinata."

Eratnya pelukan ini membuatku harus menahan air mataku agar tidak jatuh. Kutarik tubuhku dari pelukannya dan bertanya yang bikin aku terus penasaran.

"Siapa nama anakmu, Minato-san?"

Senyum kesedihan terbentuk di bibirnya. Dia memalingkan wajah dan mendongak menatap langit. Aku tidak bisa mengalihkan perhatianku darinya sembari menunggu jawaban itu.

Hembusan napas bersatu dengan suara miliknya, aku mendengarnya samar-samar meskipun agak tidak jelas di telingaku.

"Namanya Naruto, Namikaze Naruto."

.

Without You

.

DISCLAIMER: NARUTO belong to Masashi Kishimoto

Warning: Alternate Universe, Out Of Characters, Miss typo, Deskripsi seadanya. Kalimat Italic adalah masa lalu Hinata POV (1st POV). Kalimat normal adalah orang ketiga (3rd POV). Genre: Crime, Mystery, Romance and Family.

.

Chapter 08: Over My Head

Hinata, Sasuke dan Minato begitu pula Tenten yang menemani Hinata, berkunjung ke makam wanita yang batu nisan bertuliskan:

R.I.P

Haruno/Uchiha Sakura

Tokyo, 02-10-20xx

Mereka berempat dijaga ketat oleh beberapa pengawal yang mengawasi. Hinata, beberapa hari yang lalu telah membuka kedua matanya dan bisa melihat pemandangan telah lama tidak dilihatnya. Menggantikan mata perak walau perak bening itu masih ada di bola mata hijau berbatu emerald.

Dia membawakan sebuah buket bunga cantik dan menaruhnya di depan batu nisan itu. Mengulurkan tangannya dan mengelus batu tersebut. Air matanya menetes jatuh seiring isakan yang ditahannya setengah mati.

"Maafkan aku, Sakura. Maafkan aku."

Sentuhan lembut di dua bahunya mengiringi tangisan hebat yang tidak tertahankan. Dipeluk tubuh sahabatnya selama 5 tahun ini. Dia benar-benar tidak sanggup kehilangan sahabat sejak kecilnya, sahabatnya yang menemani di kala gundah. Seharusnya dia bertemu dengannya sebelum sahabatnya meninggal, tetapi Kami-sama berkata lain.

"Kami-sama, kenapa…,"

Minato mengelus punggung Hinata, menenangkannya. "Jangan salahkan Kami-sama, Hinata."

"Tapi…,"

"Kami-sama pasti mempunyai cara lain yang terbaik buat kita."

Tangisan Hinata semakin keras, terus dipeluk tubuh Tenten dan membenamkan tangisannya di sana. Sampai baju Tenten basah karena air mata Hinata.

"Ke-kenapa… harus dia yang dibunuh? Ke-kenapa bukan… aku? Bukankah aku yang… seharusnya dia bunuh?" isaknya sedih sambil tergagap dalam tangisan.

Kapalan tinju erat memberikan efek putih dan nadi yang berkerut. Menahan amarah ditahannya selama seminggu ini. Rahangnya mengatup keras. Sipitan matanya akan kejadian seminggu yang lalu membuatnya tidak tahan ingin membunuh laki-laki itu.

"Kita pulang, Hinata," ajak Minato mengulurkan tangan dan membawa gadis itu bangkit berdiri.

Dalam keadaan terhuyung hampir limbung, Hinata sempat melihat mata kemarahan Sasuke. Dia tidak bisa membantu agar Sasuke tenang kembali. Itu bukan haknya. Itu hak Sakura. Sayangnya, dia tidak ada di sini.

"Aku… pulang, Sasuke."

Sahutan terjawab berupa decakkan. Mengerti, Hinata sangat mengerti. Sasuke butuh sendiri. Tentu saja, buat dia juga butuh sendiri dan memastikan jawaban itu dari mulut Minato yang membawanya kembali pulang ke rumah. Ke tempat yayasan itu.

.

.

Sudah seminggu, Naruto mengawasi tempat ini. Tempat tinggal Hinata yang dihuni beberapa anak-anak kecil yatim piatu. Entah kenapa, dia sangat merindukan gadis itu. Gadis yang mengerti kondisi hatinya selama ini.

Baru saat dia beranjak pergi, sebuah dua buah kendaraan berhenti di depan rumah tersebut. Naruto menunggu dan mengawasi. Dia terkejut melihat laki-laki berambut sama dengannya merangkul gadis paling dirindukannya selama seminggu ini.

"Dia…,"

Sesaat pikirannya tertuju pada pria yang merangkul Hinata agar tidak pingsan. Dia belum menyadari bahwa Hinata kondisinya tidak fit. Buru-buru keluar dari tempat persembunyian setelah dua mobil berisi pengawal-pengawal telah pergi. Langkah ketiga orang itu sontak terhenti. Yang kaget justru Minato.

"Kamu…,"

"Kenapa kamu ada di sini?"

Bukan jawaban didapatkan Minato saat memandangi lelaki di depannya. Wajahnya sangat mirip, kedua mata birunya sama dengannya, dan warna rambutnya seperti matahari.

"Bukannya kamu sudah mati?!"

Hinata yang sepenuhnya sadar walau setengah-setengah, merindukan suara yang hilang selama seminggu. Suara sering bikin dia ketakutan, jengkel, gelisah dan tidak mau bertemu tetapi dia sangat merindukannya.

"Kamu…,"

Hinata mengangkat wajahnya, menatap sosok lelaki tampan memiliki wajah kaku, dingin dan angkuh. Siap membunuh kapan-kapan saja. Merasakan aura yang sama seperti lelaki yang selalu bersamanya seminggu yang lalu.

Tetapi tatapan Naruto tidak tertuju pada Hinata, tetapi fokus matanya kepada Minato yang menatapnya sedih, marah, rindu dan hancur. Geraman pada giginya membunyikan bunyi gemeletuk.

"Bukannya kamu sudah mati?!" tanyanya bengis.

"Benar. Tapi, aku menolong diriku sendiri," jawabnya biasa, tidak takut pada pertanyaan bengis itu.

"Kamu sudah menghancurkan hidupku, kau tahu itu!"

"Takdir tidak bisa dirubah, Nak."

"Aku bukan anakmu, sialan!" geram Naruto memuntahkan amarahnya. Hinata terkejut melihatnya, memeluk erat Minato yang menegang. Naruto menyipitkan kedua mata biru langitnya. "Seandainya aku masih bisa menyelamatkan Ibu, aku tidak mungkin jadi seperti ini. Kamu benar-benar pecundang, sialan!" teriaknya.

"Jangan marahi, Minato-san!"

"Bukan urusan— kamu…"

Kalimat buat gadis yang mencegahnya untuk berkata kasar pada Minato terhenti. Dilihat baik-baik—gadis dirindukannya—menatapnya tajam. Tetapi ada yang aneh pada kedua matanya. Itu bukan perak, tetapi hijau seperti baju emerald.

"Matamu…,"

Sama seperti mata gadis dibunuh seminggu yang lalu. Mata gadis menatapnya tajam dan berusaha melindungi suaminya yang hampir dibunuh. Merasakan sesuatu menghantam hatinya, Naruto berbalik pergi dan tidak menoleh lagi ke belakang.

Hinata yang terengah-engah karena memarahi laki-laki itu, terhuyung ke belakang. Untung ada Tenten dan Minato menangkap tubuhnya.

Hinata mendongak menatap Minato, meminta kepastian. "Kamu mengenal dia, Minato-san?"

Pertanyaan itu menghancurkan Minato, dia memalingkan muka. Hinata mencengkram kain kemeja dipakai Minato, meminta dia memandanginya. Minato menerimanya dan menatapnya sendu.

"Dia anakmu?"

"Aku tidak bisa bilang apa-apa, Hinata. Aku seorang Ayah yang telah menyia-nyiakan anaknya begitu saja. Diculik kepada orang yang telah membuang Ibunya dan menghancurkan kehidupan keluargaku, dulu."

Hinata berusaha bangkit dan duduk di depan Minato. "Apakah dia orang bikin kamu ada di sini, Minato-san? Orang yang bakalan kamu selamatkan? Apakah dia orang yang memiliki nama yang sama seperti dikatakan Sasuke, Minato-san?" tanyanya bertubi-tubi dengan suara selembut mungkin.

Belum ada jawaban. Hinata menghembuskan napas, mengerti. Sesak dan berat.

Dia menolehkan wajahnya di jalan di mana lelaki itu pergi. Sosok itu menghilang dengan gelapnya awan menutupi matahari. Dia tidak menyangka lelaki itu, lelaki yang bersamanya selama beberapa hari seminggu yang lalu adalah anak Minato. Apakah dia adalah orang yang memiliki hubungan dengan kejadian menimpa Sakura dan keluarganya?

Dia belum tahu dan dia bisa memastikan itu. Secepatnya.

"Kita masuk, Minato-san. Sebentar lagi hujan," ucap Tenten membuyarkan lamunan keduanya. Meraih tangan mereka dan beranjak dari sana.

Sebentar-sebentar Hinata menoleh ke jalan dilalui lelaki itu. Ada rasa rindu, marah, sedih, kesal, benci dan… dendam. Bercampur jadi satu. Apakah mungkin ini adalah akhirnya. Kepalanya jadi sakit. Hari ini adalah hari menyedihkan.

-To be continued-

.

A/N: Chapter 8 update!
Tinggal dua chapter lagi. Adakah mau menggambarkan apa yang terjadi selanjutnya? Lebih baik jangan deh, takut kalian sakit kepala. Pembunuhan mungkin dimulai di chapter ke depan. Hahaha… tapi itu rahasia.

Terima kasih sudah pada mau membaca, review, follow dan favourite.

Sign,

Zecka Fujioka

30 April 2014