Di lorong yang gelap, ada sosok bayangan seorang gadis menelusuri jalan itu. Kedua tangannya menyentuh tembok agar langkah kakinya tidak kenapa-kenapa. Soalnya kedua pasang mata tersayangnya tidak bisa digunakan lagi karena telah buta sepenuhnya meski itu belum 100%.

Karena ingin terbiasa dalam langkahnya, itulah mengapa gadis itu terus berjalan tanpa henti. Sampai suara itu menghentakkannya.

"Hinata?"

Langkahnya terhenti mengakibatkan dia tersandung ke depan. Tidak ada suara jeritan, sepasang pergelangan tangan menangkap tubuhnya sebelum jatuh menimpa tanah keras. Napas keduanya terdengar lega.

"Kenapa kamu keluar malam-malam begini?"

Mencari penyangga, Hinata mendongak ke Minato. "Aku hanya mau hirup udara saja, Minato-san."

"Kamu bisa meminta bantuan Tenten, apalagi matamu—"

"Aku baik-baik saja," sahut Hinata keras kepala memotong kalimat Minato. "Aku ingin terbiasa dalam keadaanku seperti ini."

"Maafkan aku, Hinata." Minato mengusap rambut Hinata yang pendek. Gadis itu memakluminya karena ini adalah tanda kasih sayang dari orang ini.

Merasakan Hinata limbung akibat kantuk berat, Minato memapahnya menuju ke kamar. "Saatnya putri kecil Ayah tidur. Kamu tidak mau tidur di lorong gelap ini, Hinata."

Hinata terkekeh geli. "Baiklah, Minato-san. Aku akan tidur. Toh, aku sudah terbiasa merasakan suasana gelap."

Minato mengangguk, tersenyum sedih. Akhirnya dibawa Hinata kembali ke kamar.

Malam ini adalah malam di tanggal yang sama tahun berbeda di mana tepatnya usia Hinata di usia 16 tahun. Malam yang menentukan nasibnya, bersama mata Sakura.

.

Without You

.

DISCLAIMER: NARUTO belong to Masashi Kishimoto

Warning: Alternate Universe, Out Of Characters, Miss typo, Deskripsi seadanya. Kalimat Italic adalah masa lalu Hinata. Kalimat normal adalah orang ketiga (3rd POV). Genre: Crime, Mystery, Romance and Family.

.

Chapter 09: On The Wing

BRAAKK!

"Ada apa, Naruto-sama?"

Pelayan pribadi pemuda berambut kuning jabrik berlari ke kamar dan mendapati ruangan kamarnya serba berantakan. Kaca-kaca pecah berserakan. Tempat tidur dibiarkan terbalik. Selimut penuh noda tinta hitam dan sobek-sobek. Jendela terbelah dua. Pintu hancur karena didobrak sangat keras. Dan sebuah pedang dikeluarkan dari sabuknya mencincang foto berpigura di samping nakas tempat tidurnya.

"Na-Naruto-sama…,"

Pemuda itu berbalik, menatap pelayannya bersama pengawal kakeknya, menatapnya tajam. Mereka semua bergidik ngeri. Karena mata itu bukanlah mata yang pernah mereka kenal. Itu mata pembunuh sangat haus akan darah.

"Apa kalian mau mati?"

Tubuh keempat orang itu membatu seperti batu. Tidak bisa bergerak. Setelah Naruto melangkah mendekat, dia melayangkan pedangnya ke atas dan menebas kepala keempat orang itu. Darah muncrat dan mengenai pakaiannya juga wajahnya.

Senyuman iblis muncul. Dia sangat senang menghabisi orang-orang di depan matanya. Tinggal dia harus membunuh seseorang yang telah mengganggu hidupnya.

Pemuda itu melihat ke jendela, tetapi dia harus melakukan sesuatu dulu sebelum pergi ke tempat orang itu. Yaitu, ke tempat kakeknya.

.

.

Suasana hening ada di rumah keluarga Uzumaki benar-benar bikin bulu bergidik ngeri. Di saat semua orang pergi dari rumah itu, langkah kaki yang tidak disadari orang sekitarnya pergi ke tempat ruang kerja paling ditakuti penghuni keluarga Uzumaki.

Langkahnya terhenti di depan pintu. Dia menebas pintu tersebut dan memberikan efek kaget buat laki-laki paruh baya tengah duduk bersama pelayan setianya. Pelayan setianya tiba-tiba terguncang akibat aura pembunuh dilontarkan pemuda di depannya.

"Na-Naruto-sama…"

Pemuda itu tidak mendengarnya. Dia malah memiringkan kepalanya sambil tersenyum menyeringai dengan wajah bersimbah darah. Mata biru penuh kebencian dan haus darah. Dia langsung menebas kepala pelayan pribadi kakeknya dan bikin kakeknya memandanginya tidak percaya.

"Apa yang kamu lakukan, Naruto!"

Tidak mau mendengar kata-katanya. Pemuda itu menyingkirkan meja yang menghambat langkahnya menggunakan kakinya untuk menendang meja itu ke pinggir. Kakeknya terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa. Lidahnya kelu. Tubuhnya gemetar. Baru kali ini dia harus berhadapan dengan iblis sesungguhnya di rumah ini padahal pemuda di depannya sering takut padanya.

"Kamu membuat kakek takut, Naruto."

"Aku… tidak… pernah takut… padamu… tua Bangka." Senyum itu tersungging di bibirnya. Mata kakeknya melotot lebar, marah.

"Apa kamu bilang?! Berani-beraninya—Gyaa!" Sebelum kakeknya bersuara lancang karena mengeluarkan amarah, pemuda itu pun akhirnya menusuk dadanya tepat di jantungnya. Tubuh itu meluruh dan tidak bertenaga. Suara detak jantung tadi berdetak sangat hebat kemudian melemah perlahan-lahan akhirnya berhenti.

Pemuda itu mencabut pedangnya menimbulkan darah hingga bertebaran membasahi lantai tatami. Tubuh tidak bernyawa kakeknya bikin dia tertawa terbahak-bahak. Sudah tidak ada lagi orang yang menentang keputusannya dan suka mendidiknya keras.

Di rumah gelap tidak berpenghuni karena salah satu anggota keluarga Uzumaki telah membunuh penghuni rumah itu. Tubuh mereka berceceran di lorong rumah memberikan darah segar dan bau anyir bikin hidung sakit.

Sementara itu, pemuda itu mengganti pakaiannya dan keluar dari jendela. Melompati pohon demi pohon untuk menemukan target selanjutnya, yaitu Uchiha Sasuke.

"Kamu pasti aku temukan, Uchiha."

.

.

Sasuke tersenyum melihat Hinata memakan makanannya sangat lahap. Dia mengira hidupnya tidak akan bertemu Hinata, tetapi Kami-sama memberikan ujian agar Sasuke menemukannya. Dia sungguh sangat bersyukur meski tidak ada wanita terkasihnya di sampingnya.

"Jangan terlalu banyak makan, Hinata. Nanti kamu keselek." Sasuke menyapu pipi Hinata penuh noda makanan menggunakan tisu. Hinata tersenyum mengangguk.

Mereka ada di panti yayasan milik Minato. Sengaja Sasuke ada di sini supaya bisa melindungi Hinata, namun takdir berkata lain. Terdengar sangat kencang suara pecahan kaca dan teriakan anak-anak di luar. Sasuke dan Hinata terkejut bukan main.

Tenten berlari menghampiri keduanya, menarik lengan Hinata pergi dari sana. "Ayo kita pergi dari sini, Hinata. Kekacauan aneh terjadi di luar. Kata anak-anak, semuanya dibunuh tanpa pandang bulu."

"Apa kamu bilang?!" Yang pertama memberikan respons adalah Sasuke. Dia beranjak dari sana, ingin sekali Hinata mengikuti. Tetapi, Sasuke mencegahnya. "Kamu di sini saja, Hinata. Pergilah bersembunyi. Jangan biarkan ada orang lain mencarimu. Mengerti?!" Hinata mengangguk ragu. Sasuke menatap Tenten. "Tolong jaga Hinata."

"Aku mengerti."

Sasuke berlari meninggalkan Hinata dan Tenten bersamanya. Secepat mungkin dia berlari ke lorong dan menghilang di balik cahaya. Hinata mau mengejarnya, tetapi dihentikan oleh Tenten.

"Kamu mau ke mana? Di sana sangat berbahaya, Hinata!" sela Tenten menarik Hinata pergi dari kantin.

.

.

Suara senyap mengguncang ketakutan Tenten dan Hinata. Mereka bersembunyi di lorong gelap. Tubuh Tenten gemetaran, Hinata memeluknya.

"Kita pasti akan baik-baik saja, Tenten," ucapnya menenangkan.

Baru selangkah ingin keluar, suara Sasuke menyentak keduanya. "Kalian cepat lari dari sana! Cepaat!"

Sesaat mau berlari, dada Tenten kena tusukan amat dalam oleh ujung pedang entah dari mana. Mata hijau perak Hinata melihat bercak darah keluar dari dada Tenten, mundur selangkah. Kedua matanya terus focus pada wajah Tenten yang membelalak lebar, lalu tersungkur di tanah.

Hinata melihatnya, menutup mulutnya tidak mampu berteriak. Ini sama seperti kejadian 6 tahun yang lalu, di mana usianya 10 tahun.

Tenten yang terlentang sambil bermata nyalang, mengakibatkan Hinata duduk lemas. Untung saja lengan kokoh menopangnya. Dia melihatnya, melihat Minato memeluk tubuhnya. Air mata meluncur membasahi pipi mulusnya.

"Mi-Minato-san…, Tenten…"

"Maafkan aku, Hinata. Aku belum sempat menyelamatkannya," kata Minato mengusap punggung Hinata, menenangkan.

"Jangan sentuh dia, sialan!"

Geraman suara mengakibatkan Hinata dan Minato mendongak dan menatap sosok pemuda tinggi mengacungkan ujung pedang ke arah mereka. Hinata tahu siapa orang di depannya. Orang yang sama waktu mereka bertemu kemarin.

"Hentikan hal ini, Naruto! Kamu telah membunuh banyak orang!" teriak Minato.

"Bukan urusanmu, sialan!" geram Naruto menendang dada Minato hingga pria itu terlempar jauh. Hinata menjerit.

"Minato-san!"

Naruto ingin meraih Hinata, tetapi ditepis oleh Sasuke. "Jangan sentuh dia! Kamu pembunuh orangtuaku dan Hinata! Juga pembunuh Sakura! Kamu tidak pantas hidup di dunia ini!"

Mata Hinata melotot mendengar kalimat Sasuke, menoleh ke Naruto. "Kamu… membunuh Sakura? Kamu… adalah seorang pembunuh waktu itu…?" isaknya lirih.

Naruto tersenyum tidak berdosa mendengar kalimat pertanyaan itu. "Benar, itulah aku."

Kejadian muncul berbarengan, mimpi-mimpi buruk tidak seharusnya datang muncul kembali. Hinata menangis tanpa bersuara. Akhirnya dia bertemu sang pembunuh. Pembunuh semua keluarganya dan Sakura, sahabatnya.

-To be continued-

.

A/N: Chapter 9 update! Saatnya mendekati ending. Apakah ini berakhir atau tidak? Saya tidak tahu. Saya bingung memikirkannya, bagaimana kelanjutan kisah ini. Apa berakhir tragis bahagia atau sesak menguras emosi? Kita tunggu saja, ya! #Wink

Sign,

Zecka Fujioka

02 Mei 2014