Aku nyaris terjengkal sesaat aku menabrak seorang lelaki yang 10 tahun di atasku. Aku melihat tubuhnya yang tegap, bermata dingin, angkuh, dan sangat kaku. Tubuhku bergidik ngeri melihatnya, tapi itu seakan-akan menguap seketika setelah menatap lurus-lurus bagian dalam mata birunya yang penuh kesedihan dan kesepian.
"Ngapain kamu melihat-lihat begitu?"
Tubuhku waspada. Aku kembali fokus pada pemuda di depanku. Well, dia agak berbeda. Mau tidak mau aku berkacak pinggang menatapnya tajam dan berseru kencang.
"Mau apa kamu ke sini? Dan siapa kamu?" tanyaku menantangnya. Dia terkekeh geli dan menyeringai.
"Aku mau ketemu keluargamu. Apa boleh aku masuk?"
Seperti merasakan firasat tidak enak, aku menghadangnya masuk. Menghalanginya agar tidak masuk ke kediaman keluarga Hyuuga, keluarga besarku. "Aku tidak memberikanmu izin," tantangku kepadanya seraya menatapnya tajam.
Dia mendengus. Walaupun aku tidak melihat rambutnya dengan jelas karena dia memakai topi rajutan, tapi aku bisa melihatnya sekilas seutas helai rambut mirip cahaya matahari.
"Hinata, ada apa kamu berteriak-teriak di depan pintu?"
Suara Ayahku mengembalikanku ke alam nyata. Aku menengok ke belakang dan menunjuk ke pemuda di depan, "Dia ingin menerobos masuk dan bertemu dengan Ayah," ucapku lantang.
Kedua mata perak Ayahku sontak terbelalak lebar saat mendongak melihatnya. Dia gugup kemudian berkeringat dingin. Aku heran pada Ayahku yang selalu marah pada orang asing, tapi kenapa sekarang tidak?
"Hinata, masuklah." Aku ditarik oleh tangan Ayah yang dingin, mendongak ke arahnya. Sebelum aku masuk ke dalam rumah, beliau membisikkan sesuatu di telingaku. "Bersembunyilah di tempat yang aman, Nak. Jangan biarkan orang lain menemukanmu." Itulah pesan terakhir Ayah sebelum aku menghilang ke dalam rumah. Dan saat itulah, kejadian itu muncul. Peristiwa yang menghancurkan semuanya dengan penuh noda darah yang bertebaran.
Mimpi buruk bagiku!
.
Without You
.
DISCLAIMER: NARUTO belong to Masashi Kishimoto
Warning: Alternate Universe, Out Of Characters, Miss typo, Deskripsi seadanya. Kalimat Italic adalah masa lalu Hinata POV (1st POV). Kalimat normal adalah orang ketiga (3rd POV). Genre: Crime, Mystery, Romance and Family.
.
Chapter 10: Let It Out
"Ti-tidak mungkin…"
Hinata menggeleng tidak percaya bahwa orang di depannya yang telah membunuh Tenten di depan matanya sendiri dan beberapa anak lainnya, juga telah membunuh seluruh keluarganya dan sahabatnya sendiri.
Lelaki itu menyeringai, membentuk senyuman licik yang tidak diduga oleh wanita Hyuuga. "Itulah kenyataan, Hyuuga Hinata. Setelah aku menemukanmu, aku bisa membunuhmu sekarang juga. Apa kamu senang bisa ketemu lagi dengan keluargamu di dunia sana?"
Hinata tidak mampu mencerna kalimat yang ditorehkan untuknya. Seraya dilindungi oleh sepupunya, Sasuke, Hinata terus mengingat masa-masa sebelum kejadian itu. Tubuh tegap, wajah datar dan dingin, angkuhnya kelihatan jelas dan aura membunuh terpancar. Sontak tubuhnya merinding dan mengeratkan kemeja Sasuke sebagai pelindungnya.
Dilirik Minato masih terengah-engah akibat tendangan brutal dari anaknya sendiri, Hinata tidak memercayakan penglihatannya. Bangkit berdiri kemudian menatap Naruto penuh kebencian dan—entah kenapa ada kerinduan—mendalam.
"Kamu manusia licik. Aku tidak pernah menyangka aku bisa bertemu denganmu di sini dengan bukti kamulah pembunuh sejati. Pembunuh abadi!" jeritnya yang tidak tertahankan bersamaan sakit hatinya.
Dalam hati Naruto ada terbesit rasa kerinduan pada gadis ini walau gadis ini tidak mengenalnya karena dulu dia buta. Tetapi di luar hatinya yang membusuk, dia mengacuhkan rasa kebencian gadis ini kepadanya seolah-olah kalimat itu hanyalah angin lalu.
"Silakan kamu membenciku, Hyuuga Hinata. Sementara aku membunuh saudara sepupu di sebelahmu itu," Sasuke melindungi Hinata penuh siaga, sedangkan Naruto melayangkan pedangnya ke atas dan menyerbu keduanya. "Kalian akan langsung aku bunuh!"
Secepat mungkin Sasuke melindungi Hinata menggunakan tubuhnya, membiarkan seandainya rasa sakit karena ujung pedang menembus punggungnya yang tegap. Itu tidak apa-apa daripada sebanding melihat Hinata terluka.
Tidak merasakan apa-apa dalam sedetik, juga tidak merasakan luka aneh di punggungnya. Sasuke dan Hinata menoleh ke belakang. Kedua matanya melotot lebar dan tercengang melihat sesuatu tidak pantas dilihatnya. Tubuh tegap setengah baya menjadikan dirinya tameng untuk melindungi keduanya. Tubuh yang selama ini Hinata dipeluk, disayang dan menjaganya. Air mata Hinata meluncur keluar dan suaranya tidak bisa ditahan untuk menjerit.
"Minato-saan!"
Ya! Minato menjadikan dirinya tameng demi melindungi kedua orang merupakan anggota keluarga yang tersisa. Darah segar berwarna merah membasahi kemeja yang dikenakan. Sebelum ambruk, punggung pedang tadi menusuknya dipegangnya kuat-kuat dan menatapnya anak satu-satunya penuh kerinduan, kekecewaan, rasa bersalah, penyesalan dan cinta.
"Anakku, maafkan Ayahmu ini karena tidak bisa melindungimu. Ayah harap di kala Ayah bertemu Ibumu, Ayah pastikan dia memaafkanmu. Dan Ayah mohon, jangan sakiti Hinata dan Sasuke. Mereka tidak bersalah. Hancurkan balas dendam itu, Nak."
Senyum merekah terpampang di wajahnya yang sayu. Tangan menggenggam erat punggung pedang melunglai dan jatuh. Setelah tusukan itu dia lepaskan barulah tubuh itu jatuh tersungkur bersamaan darah mencuar keluar membasahi lantai bercampur dengan darah Tenten.
Tidak tahan melihat itu, Hinata menatap tajam ke arah Naruto. "Kamu puas melakukan itu pada Ayahmu?! Dia sangat menyayangimu, tapi kamu malah membunuhnya! Kamu benar-benar tidak pantas dipanggil manusia, kamu pantas disebut Iblis!" teriaknya sambil terisak-isak. Air mata terus berlinang tiada henti.
Wajah Naruto sedari tadi hanya datar. Dia masih membeku di tempat, digenggam erat pegangan pada pedangnya. Tidak sanggup berkata-kata. Dia tetap menatap tubuh yang telah kehilangan nyawanya tersebut.
"Lebih baik kamu pergi atau bunuh saja aku!" jerit Hinata duduk bersimpuh memandangi Minato yang telah terbujur kaku.
"Hinata, kita lebih baik pergi dari sini sebelum dia melakukannya lagi," Sasuke membujuk Hinata untuk beranjak dari sana. Dengan keadaan terguncang, Sasuke merangkul Hinata dan membawanya pergi.
Karena mengetahui pergerakan itu, Naruto cepat-cepat menghadangnya dengan cara melompat. Dia mendarat tepat di hadapan mereka membuat keduanya tersentak kaget dan berjalan mundur. Masih berwajah datar, Naruto melangkah maju.
"Kalian tidak boleh ke mana-mana. Urusanku dengan kalian itu belum selesai, lho," ucapnya dingin dan tidak berperasaan.
Sasuke terus melindungi Hinata dan menatapnya waspada. Mungkin karena kecepatannya berbeda dengan Naruto, tiba-tiba saja Sasuke terlempar ke belakang sehingga membentur dinding. Hinata yang ada di sampingnya hanya bisa berdiri membatu, bergeming.
"Ja-jangan mendekat," ucap Hinata gemetaran terus melangkah mundur.
Tangan Naruto terulur dan menyentuh pipi Hinata lembut membuat gadis itu terdiam seribu bahasa. Dia mencium pipi mulus itu dan tersenyum misterius. "Kamu ikut sama aku saja, ya. Aku pastikan kamu bersamaku selamanya dan aku pastikan kamu bakalan baik-baik saja sama aku, Sayang."
"A-aku tidak mau…,"
"Tidak ada bantahan, Nona." Memanggilnya dengan sebutan 'Nona' sontak membuatnya terperangah. Ditatap kedua pasang mata biru langit tersebut. Dia tiba-tiba luluh dan rasa kangen membuncahnya. "Kamu mau, 'kan?" Naruto membujuknya dengan halus dan lembut, sama seperti Hinata ingat kebersamaan sehari dengan pemuda misterius tanpa nama.
Akhirnya Hinata mengangguk. Dibalas uluran itu, Naruto pun menariknya. Seperti terhipnotis, Hinata berjalan bersama Naruto yang merangkulnya. Terbersit rasa kerinduan yang sudah lama dirasakannya baru-baru ini. Kebencian dan ketakutan sirna sudah. Hinata adalah milik Naruto, sekarang.
Sasuke masih merasakan sakit di punggungnya akibat terbentur tembok keras, menatap Hinata yang berjalan menuju kegelapan bersama Naruto. Berusaha bangkit berdiri dan menghalangi langkah sepupunya sebelum masuk ke kegelapan lebih dalam.
"Hinata! Jangan pergi dengan dia! Sadarlah, Hinata!"
Gadis itu tidak mendengar suara itu melainkan suara yang berbisik di telinganya saat ini. "Jangan pedulikan dia, Nona. Ikutlah bersamaku. Ya?" Hinata mengangguk.
Tanpa ditanggung-tanggung lagi, Naruto menggendong Hinata dan membawanya kabur lewat jendela. Sasuke berteriak terus tanpa henti. Hinata pun di bawa lari olehnya. Harapannya pupus sudah melihat saudara satu-satunya pergi. Sasuke berteriak lantang di lorong yang gelap, merasa bersalah dan putus asa karena tidak melindungi sepupunya.
"Akan aku balas kamu, sialan Uzumaki!"
Well, bagaimana keadaan Hinata bersama Naruto selanjutnya? Apakah Naruto telah membunuhnya di suatu tempat? Ataukah membawanya pergi tanpa diketahui oleh orang lain? Tidak ada yang tahu. Mungkin.
Karena cerita ini masih terus berlanjut sampai menemukan kebahagiaan untuk keduanya.
-The End-
.
A/N: Jangan marah pada saya karena endingnya tidak sesuai diharapkan. T_T
Saya masih punya rencana lagi untuk ke depannya, jadi ditunggu saja sekuelnya. Sekuel terakhir buat mereka atau sekuel kedua. Saya tidak tahu dengan pasti. Saya masih punya rencana buat fict di fandom berbeda. Rehab dari fandom Naruto dulu. Hehehe..
Makasih buat yang review, follow dan favourite. Berkat kalian ceritanya jadi seru, mungkin. Maaf, di sini romansanya sedikit agak fluffy. Fluff kejam. Makasih sekali lagi ^^ (maaf, tidak bisa balas karena net lelet sekali).
Sign,
Zecka Fujioka
04 Mei 2014
