Sungmin membasuh wajahnya dengan air dingin. Ia tampak sangat kacau dan shock, tidak pernah sekalipun dirinya begini mengingat pribadinya yang biasanya tenang dan fleksibel. Pria yang memiliki aroma vanilla berdiri pada cermin besar di hadapannya, menampilkan keseluruhan visual yang terpantul sempurna.

Tetesan-tetesan air dari poninya yang basah jatuh mengenai wajah mulusnya, mengalir melalui pelipis hingga dagu. Otak dan pikirannya selalu menggumamkan kata 'Apa' dan 'Kenapa'. Dua kata yang muncul memenuhi pikiran rasionalnya karena efek keterkejutan yang dialami beberapa menit lalu.

Saat sungmin tengah menenangkan diri seseorang menghidupkan kran wastafel disampingnya. Dirinya yang tengah memejamkan mata dikejutkan oleh suara bass yang samar-samar ia kenali.

"Sudah lebih tenang?"

.

.

.

Perfect

.

.

FANFICTION

Cho Kyuhyun dan Lee Sungmin

YAOI – BL

Bad diction and Typo

.

.

2

.

.

Kalimat tanya yang mungkin bagi sebagian orang menganggapnya sebagai bentuk perhatian. Tapi sepertinya harus berpikir dua kali untuk menyimpulkannya, coba lihat wajah dan nada yang digunakan! Itu lebih cocok sebagai bentuk sindiran.

"Tidak jika kau masih berada di sekitarku," ucap Sungmin memandang sosok disampingnya yang sibuk membersihkan sela-sela jarinya dengan air mengalir.

"Takut padaku?"

"Tepatnya pada ucapanmu."

Pria itu mengeringkan telapak tangannya, "Oh! Aku mengerti alur permainan ini." Ujarnya memandang Sungmin.

"Permainan? Beberapa menit lalu sesuatu yang keluar dari bibirmu hampir menghancurkan hidupku!"

"Jadi ini salahku?" tukas pria itu santai.

"Apa aku bilang ini salahku?" tanya Sungmin dengan nafas memburu. Ia tidak yakin sebenarnya apa yang membuatnya semarah ini. Wajar bukan jika pria ini pernah mengenalnya dan melontarkan apapun pada adiknya, tapi tidak dengan Sungmin di posisi ini. Ia bisa hancur dalam sekejap mata.

"Maaf Tuan. Aku hanya emosi sesaat. Anggap saja ini pertemuan pertama kita."

Pria itu menyeringai percaya diri. "Ini pertemuan ketiga. Kurasa."

"Tolong," desis Sungmin lirih

"Apa alasannya? Aku bukan orang yang bisa berpura-pura tidak mengenal seseorang yang pada dasarnya aku mengenal orang itu."

Sungmin memijat dahinya. "Lalu apa yang harus aku lakukan?"

"Aku tidak yakin aku memahami pertanyaanmu."

Pria berjas abu-abu dengan kemeja berwarna putih, tepat ditengah terpasang dasi yang warnanya senada dengan jas yang dikenakan. Bersandar di dinding, menyamankan punggungnya dan memilih menyilangkan kedua lengannya tepat di depan dada. Memperhatikan Sungmin dengan begitu rinci, tinggi Sungmin hanya sampai pada pundaknya saja, rambut hitam kecoklatan Sungmin terlihat halus dan tangan panjang miliknya gatal jika tidak mencoba merasakan kelembutannya. Mengenakan kemeja putih dengan kerah sedikit berwarna hitam. Dasi dan jas hitam yang terlampir sempurna melekat pada lekuk tubuhnya. Aroma yang selalu membuatnya mabuk sejak pertama kali menghirupnya ―vanilla.

"Tuan―"

"Cho Kyuhyun. Itu namaku."

"Dengar Tuan Cho Kyuhyun-ssi, aku merasa kita sama-sama tidak memiliki masalah satu sama lain. Dan sekarang pun kita juga seperti itu."

Kyuhyun berjalan dengan perlahan mendekati Sungmin, "Aku merasa kau memanggilku dengan panggilan yang terlalu panjang untuk pertemuan kali ketiganya bertatap muka seperti ini, Lee Sungmin."

Sungmin melihat Kyuhyun mendekat dan tanpa sadar ia memundurkan tubuhnya. "Aku anggap kau mengerti maksudku, Kyuhyun-sii."

Kyuhyun maju selangkah.

"Masih terlalu formal di pendengaranku, Sungmin."

Sungmin mundur dua langkah.

"Kau berharap aku memanggilmu apa?"

Kyuhyun menatap Sungmin tajam. Tapi tidak bersua sedikitpun, Restroom yang jadi aksi perdebatan mereka juga tanpak sunyi, karena wajar tidak ada yang masuk selain mereka berdua.

"Kau tau apa itu."

Sungmin berhenti memundurkan langkahnya, ia justru berfikir Kyuhyun sengaja menyudutkan dirinya membuatnya lengah dengan memegang 'kartu as' yang selama ini ia simpan sendiri. Sungmin mulai membuat perkiraan-perkiraan dan persepsi mengenai rasa khawatirnya jika pria di hadapannya ini melakukan sesuatu pada dirinya.

Menggelengkan kepalanya perlahan Sungmin berusaha mengusir pemikiran buruk yang ada di kepalanya. Kemudian tanpa bicara sepatah katapun lagi kepada Kyuhyun, Sungmin berlalu dari hadapan pria itu dan bermaksud keluar dari Restroom.

Memutar ganggang pintu namun benda di depannya itu tak mau terbuka. Berulangkali ia memutar pun tak ada tanda-tanda pintu bercat putih di depannya itu bergerak seinchipun.

"Fuck! Apa yang kau lakukan pada pintunya?" teriak Sungmin mulai menggedor-gedor tanda ia panik.

Kyuhyun merasa Sungmin menuduhnya secara langsung, mengingat hanya mereka berdua yang berada di dalam Restroom Perusahaan Sendbill Coorporation ini, Kyuhyun hanya tersenyum kecil dan belum bergeming dari tempatnya berdiri.

"Kenapa sepanik itu?"

"Kita terkunci. Apa yang membuatku tidak lebih panik dari ini?"

Sungmin mengecek lobang kunci, ia mengintip dari sisi dalam mencoba mencari tahu apa kunci pintu ini berada di seberang pintu luar. Namun pandangannya tak menemukan benda yang ia cari. Penglihatannya menembus tak ada benda yang menghalangi itu berarti kunci tersebut tidak berada di luar.

"Ini hanya aku atau kau memang sepanik ini jika terkunci di Restroom."

"Keduanya," jawab Sungmin belum berhenti berusaha mencari cara mengeluarkan dirinya dari dalam sini.

Senyum Kyuhyun mengembang begitu lebar. Tampak kaget sekaligus puas akan jawaban Sungmin yang begitu tiba-tiba walau perhatian pria itu 'sedikit' terganggu oleh kegiatannya dengan pintu tersebut.

"Yah, Stop it! Kau bisa menghancurkan pintu Restroom perusahaanmu sendiri, Sungmin."

"Apa itu penting sekarang? Atau kau punya cara yang lebih 'lembut' agar aku bisa keluar dari sini?"

Kyuhyun berjalan pelan mendekatkan dirinya pada Sungmin sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Terlihat seperti penguasa jagat raya, terlihat dari wajah dengan rahang tegasnya serta tatapan matanya yang tajam menghujam titik terdalam mata dan inti tubuh Sungmin.

Sungmin yang melihat Kyuhyun semakin dekat berdiri tepat dihadapannya. Aroma maskulin dengan wangi kayu ex menghantam secara langsung indera penciumannya. Terekam, tercatat dan tersimpan secara jelas ke dalam otaknya 'Ini wangi Kyuhyun'.

"Hadiah apa yang akan kudapatkan jika aku bisa mengeluarkan kita dengan cara 'lembut' seperti katamu?"

Sungmin menyipitkan kedua matanya, "Ucapan terima kasih." sahutnya.

"No, aku ingin kesepakatan."

Ini dia yang Sungmin takutkan sedari tadi. Kyuhyun punya 'kunci' atas dirinya, dan lelaki itu pasti akan membuat ia melakukan sesuatu. Apa yang Kyuhyun inginkan darinya? Bathin Sungmin bicara.

"Kau tertarik padaku? Kau mencari kesempatan dan kau lakukan saat ini."

"Apa aku segila itu? Aku mencoba menepis kalau aku tertarik padamu, Sungmin. Dan kau tau apa yang aku maksud. Kita berdua terjebak, bukan terjebak dalam artian di dalam Restroom seperti sekarang. Tapi lebih kepada dunia di luar Restroom."

"Kau lucu, Kyu."

"Oh, wow! Aku suka panggilan itu. Terdengar seksi," canda Kyuhyun.

Sungmin mencibir Kyuhyun, "Lalu, kesepakatan yang bagaimana? Apa saling menguntungkan? Kita berdua pebisnis, profit penting disini."

"Aku tahu. Tahu bagaimana kau ingin keluar dari lingkaran 'keistimewaan dan kesempurnaan' yang kau dapatkan sekarang. Tahu bagaimana kau memulai itu dengan datang setiap hari selama tiga minggu berturut-turut ke klub malam. Tahu seberapa marah dan takut secara bersamaan saat aku ingin mengatakan kita pernah bertemu di klub malam kepada adikmu."

Menggigit bibir bawahnya adalah yang saat ini Sungmin lakukan tanpa sadar. Ia akan beraksi seperti itu saat ada seseorang yang mulai mengusik segalanya, mengorek kehidupannya yang ia tutupi serapat mungkin. Jantungnya berdegup kencang kala Kyuhyun mengatakan semua ketakutan dalam dirinya.

"Lalu?" Sungmin berusahan menetralkan suaranya yang tampak bergetar. Ia berharap Kyuhyun tidak memperhatikannya.

Terlambat. Kyuhyun mengetahuinya secara langsung, pria yang bisa membaca gestur itu tampak tersenyum kecil, "Aku tidak tahu alasan utamamu melakukan itu. Tapi yang kutahu kau harus selamatkan aku dari 'lingkaran kesempurnaan' yang aku miliki dan aku akan melakukan hal yang sama padamu."

Sungmin melotot tajam, ia tahu arah pembicaraan ini, "Kau tahu jawabanku, Kyuhyun."

"Iya?"

"Tidak! kau gila. Siapa kau berani berkata seperti itu, aku baik-baik saja. Kita baru bertemu dan dengan seenaknya kau membuat kesepakatan denganku. Kesepakatan menghancurkan diriku sendiri." Nafas Sungmin tersenggal ia tidak habis pikir sekalipun terhadap pria di hadapannya itu.

"Kau pasti lakukan itu... denganku. Aku yakin."

"Apa yang membuatmu seyakin itu?"

Kyuhyun mengeluarkan benda dari dalam saku celananya. Bunyi gemerincing menyadarkan Sungmin saat benda itu tepat di depannya.

Kunci Restroom.

"Ini yang akan menentukan jawabanmu. Yes or no?" tanya Kyuhyun sambil mengguncang pelan kunci di tangannya.

"Kau memang benar-benar tidak waras. Yang harus kulakukan setelah keluar dari sini adalah menghubungi rumah sakit jiwa."

Kyuhyun terkekeh geli, "Kau lucu, Sungmin. Kita tidak akan keluar dari sini sebelum kau menjawab."

"Jawabanku masih sama."

Kyuhyun mengedikan kedua bahunya kemudian menjinjitkan kedua kakinya untuk menggantungkan kunci di salah satu paku tepat di atas pintu. Jarak tempat kunci itu berada sekarang sepuluh centimeter lebih tinggi dari tangan Kyuhyun bisa menggapainya.

"Jawabanmu masih sama?" tanya Kyuhyun menyeringai. Dapat dipastikan Sungmin merasakan aura kelam mengelilinginya. Ia dipermainkan oleh iblis dan setan secara bersamaan.

Lebih memilih fokus pada kunci, Sungmin melompat-lompat guna menggapainya. Sial! Sangat tinggi, sekalipun ia melompat sekuat tenaga. Tak kehabisan akal ia mencari sesuatu yang bisa di panjat. Mengelilingi kamar mandi dan membuka satu persatu pintu toilet setidaknya kursi kecil bisa sedikit membantunya saat ini.

Namun sialnya. Hanya ada cairan pembersih kamar mandi selain itu tak ada apapun. Sungmin menatap Kyuhyun yang terlihat geli melihat dirinya seperti anak kecil mendapatkan peti harta karun namun sulit untuk membukanya. Sungmin bersumpah hanya sedetik sejak ia menatap Kyuhyun, pria itu memandangi dirinya dengan tatapan yang sulit dimengerti.

Holy shit! Kyuhyun mengunci kedua matanya pada satu titik fokus dirinya dengan tatapan yang begitu― panas. Sungmin seketika merinding.

Sungmin tak mau berpikir macam-macam namun inti dirinya kini mulai bereaksi, ia merasa bagian bawahnya mulai tak bersahabat. Hormon Testosteronnya memang sangat tinggi, tapi ini bukan saat yang tepat dan orang yang tepat.

'Jangan 'bangun' kumohon' bathinnya mencoba menenangkan.

Percuma, 'tonjolan' itu akan begitu kelihatan meski ia tutupi dengan menyilangkan kedua kakinya sekalipun. Jalan satu-satunya adalah Sungmin membelakangi Kyuhyun dan mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi bantuan.

Adiknya.

Sungmin mulai mengutak-atik mencari ID caller Sungjin dalam ponselnya. Namun gerakannya harus sesekali terhenti. Bagian bawahnya terasa tak nyaman. Apa yang ditakutkan Sungmin sebenarnya? Kenapa begitu berlebihan hanya karena inti pusatnya 'mengeras' di dalam kamar mandi dan hanya berdua dengan seorang pria yang bergender sama dengan dirinya.

"Su... Sungjin, kau dimana?"

"Oh, hyung. Aku masih di kantor." Terdengar suara dari seberang sana membuat Sungmin menghela nafas lega.

"Hyung terkunci di dalam Restroom sekarang dekat ruangan Administrasi. Bisa bantu panggilkan office boy untuk membukakannya, Sungjin?"

"Astaga hyung! Kenapa bisa terkunci? Tunggu sebentar, akan kucoba cari bantuan. Tenang saja dulu, Sungmin hyung."

Sungmin melirik Kyuhyun yang bersedekap dengan angkuhnya membelakangi pintu Restroom menatap dirinya begitu lekat sejak tadi. Bahkan Sungmin ragu pria itu melepasnya barang sedetikpun.

"Terima kasih, Sungjin"

Panggilan itu terputus, satu masalah selesai namun masalah tubuh bagian bawah Sungmin nampaknya akan membutuhkan waktu lama. Tiap kali sungmin menatap mata Kyuhyun seluruh nadinya berdenyut, desiran darah dan pacu jantungnya aneh. Kemudian semakin diperparah dengan pusat intinya yang terkadang tak bisa diajak kerja sama.

Kenapa? Kyuhyun pria sama sepertinya. Sungmin memang pernah mengalami ini sebelumnya di depan wanita dan itu tak berlangsung lama. Tidak 'setegak dan setegang' saat ini.

Oh tidak! otak Sungmin mulai terkontaminasi akan kegilaan dan ketidakwarasan Kyuhyun.

'Aku akan baik-baik saja asal tidak menatap matanya'

"Hyung! Sungmin hyung!"

Teriakan Sungjin menghantarkan Sungmin ke dunia nyata. Ia melirik pintu yang nampak di gedor-gedor dari luar oleh Sungjin. Kyuhyun juga ikut menatap pintu tersebut namun lebih memilih mengatupkan belahan bibirnya.

"Hyung, kau didalam?"

"I... iya Sungjin. Sudah kau dapatkan kuncinya?" tanya Sungmin mulai mendekati pintu dan menempelkan daun telinga kirinya di benda bercat putih itu.

"Maaf, Sungmin sajangnim. Kunci Restroom ini hanya ada satu, namun seingat saya kunci tersebut selalu tergantung di ganggang pintu ini." Suara laki-laki paruh baya yang Sungmin tebak salah satu office boy itu menjawab takut-takut.

"Hyung, kau baik-baik saja di dalam sana kan? Sebentar, akan kuhubungi tukang reparasi kunci."

"Tidak perlu, Sungjin. Sungmin denganku saat ini."

Sungmin melotot lucu dan menatap tidak percaya pria di samping kanannya ini.

"Kyu hyung, kau di dalam juga?"

"Kunci juga sedang aku pegang."

"Bagaimana ka―"

"Kami sedang 'bermain' kesepakatan." Kyuhyun melirik Sungmin sejenak dan melanjutkan, "Tapi hyungmu ini kalah dan lari dari tanggung jawab lalu menghubungimu. Perjanjiannya adalah tinggal menjawab ya atau tidak tapi hyungmu tidak melakukan apa-apa. Aku harus bagaimana, Sungjin?"

Sungmin benar-benar harus menyeret Kyuhyun ke gereja. Pria ini harus di siram dengan do'a – do'a oleh para dewa.

"Kesepakatan apa?" tanya Sungjin.

Kesepakatan? Oh fuck ! Kyuhyun memulai membuka 'kartu as' dirinya saat ini.

"Kami sedang bersepakat. Kalau―"

Jangan... jangan lakukan itu Kyuhyun!

Sungmin memutar otaknya, apa yang harus dilakukannya saat ini? Bukankah ia sudah menjawab 'tidak' tapi sepertinya pria disampingnya ini tak puas akan pilihannya. Sungmin seperti dipaksa memilih tanpa pilihan.

Kedua mata Sungmin menyiratkan begitu banyak kebingungan. Tergambar jelas saat Kyuhyun menatapnya, menyelaminya saat ini. Foxy eyes yang dikelilingi begitu banyak tekanan dan sekarang Kyuhyun tanpa sadar menambahnya hingga mencapai tingkat tertinggi sekaligus.

"Cukup jawab 'iya' dan kita tidak perlu seperti ini lagi," bisik Kyuhyun lembut. Intensitas suaranya bak penyanyi ballad yang bisa mengoyak keangkuhan menjadi bentuk keanggunan.

"Aku... aku ingin keluar, ku mohon."

Damn! Kyuhyun bersumpah akan membuang koleksi dvd drama genre angst yang dimiliki Jonghyun saat salah satu sahabatnya itu mengatakan –kau tonton dvd ini dan hatimu seperti terkoyak akan cerita kesedihannya- tak ada yang lebih menyakitkan saat Sungmin terlihat menanggung banyak penderitaan yang Kyuhyun lihat di kedua bola matanya.

"Baik. Tapi ini belum berakhir, karena cuma kau yang bisa melakukannya denganku begitu juga aku. Ingat itu."

Menjinjitkan tubuhnya Kyuhyun mengambil kunci diatas pintu. Memasukannya ke dalam lubang kunci kemudian memutarnya hingga terdengar kunci bekerja. Namun Kyuhyun tak membuka pintu, hanya mendiamkannya seperti itu.

Sungmin mulai merespon. Tangan kanannya mulai terangkat mencoba menggenggam ganggang pintu dan membukanya. Namun kegiatannya terhenti kala ada sosok tangan besar lainnya tepat diatas― menangkup tangan mungil miliknya, menimbulkan begitu besar getaran gairah mengalir deras hingga sekujur tubuhnya. "Ganti celana bawahmu setelah keluar dari sini."

Rangsangan dan jeritan berlomba-lomba menjadi bentuk pesta kembang api di dalam degup jantung miliknya. Sungmin menggeram rendah saat ia menarik tangannya dengan cepat dari genggaman Kyuhyun.

"Jarimu tidak apa-apa. Tenang saja."

Setelah mengatakan itu Kyuhyun mendorong pintu hingga terbuka lebar. Bisa Sungmin lihat pria itu berbincang sedikit dengan Sungjin. Sungmin tidak mendengar lebih, tepatnya dirinya sedang tidak pada titik fokus saat ini. Perlakuan Kyuhyun terhadap dirinya sungguh penuh gairah, Sungmin sangat merasakan itu.

Apa yang tadi pria itu bilang? Mengganti celana bawahnya?!

Sungmin menundukkan tubuhnya guna melihat celananya. Holy damn! 'kejantanannya' kali ini benar-benar dalam ukuran maksimal, dan ia baru menyadarinya saat ini. Sungmin bergidik pelan, berpikir jika Kyuhyun mengetahui titik pusat dirinya yang tengah 'on' saat pria itu mengatakan ia harus ganti celana.

Rasanya sungmin ingin membenturkan kepalanya ke dinding atau menceburkan dirinya ke dalam es kutub. Tubuhnya saat ini bereaksi panas dan sangat tidak nyaman.

'Pria brengsek!' umpat Sungmin dalam hati.

.

.

.

"Hallo, Changmin."

"Oh, master!"

"Kirimkan lokasi restoran baru itu, kau datang dengan Vic?"

"Wow! Kau membawa seseorang?

"Ya. Aku bawa."

~o~

Dua hari berlalu sejak insiden di dalam Restroom itu kini Sungmin masih terus dibayang-bayangi akan kesepakatan yang Kyuhyun buat. Berapa kalipun Sungmin menepis, setan-setan pengikut dari iblis pria itu selalu menghantuinya.

Ini sama dengan gila jika menerima tawaran itu!

Sungmin bahkan mencari nomor telepon rumah sakit jiwa dan menyimpan nomornya dalam ponselnya. Jaga-jaga saja jika Kyuhyun melakukan hal gila lagi atau mungkin dirinya yang juga ikut merasakan kegilaannya maka ia akan langsung menghubungi rumah sakit itu.

Apa yang salah dengan hidupnya?

Orangtua dan adiknya menyayanginya. Perusahaan juga dalam kategori normal dan meningkat. Orang-orang disekitarnya yang ramah dan memuji dirinya secara positive. Ia seperti hidup di surga, lalu apa masalahnya?

Wanita. Mungkin alasan nomor kesekian jika memang itu yang tengah dipikirkannya saat ini. Tapi bukan wanita yang menjadi pokok kebingungannya.

Bosan?

Ya! Mungkin saja. Ia hidup di lingkungan yang baik, penuh kehangatan dan kasih sayang oleh orang-orang disekelilingnya, bahkan masalah pun enggan menghampirinya. Ia seperti hidup di jalan yang begitu lurus tanpa hambatan dan rintangan. Tapi bukankah itu keinginan semua orang di dunia ini? Ya, Sungmin mengakui itu ia sosok yang istimewa dan beruntung dari sekian manusia di bumi.

Namun rasa keingintahuan yang lain sering muncul di benaknya. Sekali-kali Sungmin ingin keluar dari jalur hidupnya, menghadapi takdir lain. Menemukan sesuatu yang membuatnya tau apa arti hidup sebenarnya. Mencoba menghadapi masalah yang menghantam tubuhnya, mengikuti arus jalan pintas yang tidak menjadi takdir hidupnya.

Konyol sekali pemikiran Sungmin. Ia memang harus memeriksa akal sehatnya di rumah sakit setelah ini.

"Hyung, kau masih disini? Aku izin pulang, ingin pergi dengan temanku."

Sungjin yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Sungmin untuk berpamitan membuat pria itu menghentikan lamunannya.

"Bukankah ayah menyuruhmu tidak boleh pergi sebelum jam kerja selesai?"

Terlihat Sungjin cengengesan, "Kau tahu aku hyung, jangan beritahu ayah ya. Aku mencintaimu."

Setelah mengatakan itu Sungjin menutup pintu kerja Sungmin dan berlalu begitu saja. Inilah yang membedakan dirinya dan Sungjin. Adiknya itu selalu melakukan hal-hal yang di senanginya tanpa tahu itu melanggar perintah sekalipun.

Berbeda sekali dengan Sungmin yang mengedepankan perasaan semua orang terutama orang tuanya. Semaksimal mungkin ia tidak akan pernah membuat orang-orang yang mencintainya dan mempercayainya terlihat kecewa. Sebisa mungkin jangan pernah sedikitpun melukai hati orang meski hatinya sendiripun Sungmin tak mengenalinya.

Sejak pulang dari Jepang, ia diminta mengurus perusahaan. Ya, dia lakukan itu.

Tapi ada yang berubah dari dirinya. Tiga minggu sejak Sungmin menginjakkan kaki di tanah kelahirannya adalah awal memulai jalur lain hidupnya dan keluar dari jalur aman yang bertahun-tahun tempat ia mengikuti takdir.

Sungmin kuat minum. Hanya dirinya dan Tuhan yang tahu bahkan diam-diam sejak pulang dari aktivitas di kantornya ia sempatkan mendatangi klub malam di salah satu pusat kota Seoul. Tak segampang itu memilih tempat ia memulai langkah berontaknya. Banyak kriteria dan pertimbangan yang harus dipikirkan sedemikian rupa seperti tingkat keramaiannya, Sungmin benci keramaian maka ia akan coret klub yang terlalu banyak orang.

Musik yang menghentak-hentak dan dance floor juga ia hindari. Ia hanya perlu suasana nyaman dan aman untuk dirinya dan mengasingkan diri dari orang lain, penyebabnya adalah ia tidak ingin dikenal. Apalagi sampai orang itu menceritakan seluruhnya kepada orang yang selama ini mempercayainya.

'Lee Sungmin CEO muda putra sulung Lee Chunhwa dari perusahaan Sendbill Coorporation terlihat mabuk dan mendatangi klub malam setiap hari.'

Bukan berita yang menghebohkan sebenarnya, namun cukup untuk menggemparkan keluarganya apalagi ayahnya.

Jadi selama ini sungmin diam-diam melakukan aksi keluar dari jalur aman tanpa mencoba menyakiti siapapun. Ia hanya ingin merasakan apa itu kesenangan.

Dan semua berjalan lancar selama tiga minggu ini sebelum ia bertemu Kyuhyun. Pria yang terlihat tertarik dengannya. Sungmin tidak tahu sama sekali tentang pria itu selain ia juga sama seperti dirinya dalam artian CEO dari perusahaan besar. Selain itu Sungmin sama sekali tak tahu menahu.

Pria itu menawarkan dirinya seperti perkataannya dua hari lalu. Sungmin mengerti maksud pria itu namun yang masih memenuhi pikirannya adalah kenapa harus dirinya?

Tak mau berpikir terlalu hebat, Sungmin kembali mengerjakan proposal Anggaran Rekonstruksi. Ia harus selesaikan sebelum tenggat waktu atau bahkan jauh sebelumnya. Seperti kebiasaannya, menyenangkan orang lain dan membuat bahagia karena dirinya, merupakan sesuatu yang harus dia lakukan.

.

.

.

Pukul delapanlewatempatpuluhlimamenit malam Sungmin keluar dari kantor menuju pelataran parkir. Setelah mendudukkan dirinya di dalam mobil ia membuka jas dan dasi yang melilitnya seharian ini. Dua hari sudah ia tak mendatangi klub. Alasannya adalah karena Kyuhyun. Sungmin hanya menghindari bertemu dengan pria itu.

Namun hari ini rasa rindunya akan Tequilla tak dapat terbendung lagi, rasa manis dan asam yang membakar tenggorokannya itu tampak menari-nari di dalam otaknya, bahkan perutnya pun bergejolak membayangkannya.

Tak ingin membuang waktu segera ia tancap gas sambil tersenyum begitu senang. "Malam indah aku datang."

Hanya beberapa menit saja ia sudah tiba di klub malam langganannya, pemiliknya ia mengenalinya Zhoumi namanya. Sungmin bahkan tak masalah menceritakan namanya kepada bartender satu itu. Zhoumi terlihat ramah dan bersahabat, tidak ada alasan orang tidak ingin berteman dengannya.

Sepi dan gelap.

Klub malam itu tampak lenggang, tak ada kendaraan di sekitar maupun musik yang terdengar di telinganya. Bahkan tanda-tanda di tinggalipun ia terlihat ragu.

Sungmin melepas seatbelt dan keluar dari dalam mobil, mencoba melihat lebih dekat. Sungmin bahkan mengintip melalui jendela besar, tak ada apapun ruangannya gelap dan kursi-kursi juga berada diatas meja. Sialnya ia sama sekali tidak pernah meminta nomor ponsel Zhoumi.

Tak menemukan apapun Sungmin membalikkan tubuhnya dan terlihat lesu serta tak bersemangat, kesenangannya malam ini harus tertunda. Dengan gontai ia menundukkan kepalanya berjalan pelan menuju mobilnya. Namun langkahnya terhenti kala tepat di depannya ia melihat sepasang sepatu menghalangi jalannya.

"Hey, are you okay? Do you need help me?"

Sungmin memutar bola matanya dan menghembuskan nafas kasar. Ia mengangkat kepalanya mencoba menebak suara bass yang terlalu familiar di telinganya. Siapa lagi kalau bukan.

Kyuhyun.

Kali ini bola mata Sungmin seakan ingin keluar dari tempatnya. Pria didepannya ini memang seperti yang dipikirkannya. Tapi lihat penampilannya yang begitu santai khas anak remaja. Rambut berwarna coklat karamel yang dibuat berantakan, mata tajamnya bak pisau yang diasah ribuan tahun, bibir sensualnya terlihat penuh. Kaos putih dan jaket birunya menutupi begitu tegapnya tubuh dengan aroma yang masih sama sejak terakhir kali bertemu. Namun satu hal yang belum hilang dari pria ini adalah keangkuhannya akan menguasai alam jagat raya.

"Of course, I need," gumam Sungmin tanpa sadar dan itu terdengar langsung ke dalam telinga Kyuhyun.

"Bantuan apa?"

"Bantuan... apa? Ma... maksudmu... maksudku... aku tidak minta apapun," gagap Sungmin, dirinya terlihat gugup dan memalingkan kedua tatapannya dari mata Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum lebar, walaupun tatapan Sungmin tidak menatap langsung matanya.

Sungmin bisa langsung merasakan jika pria didepannya memandanginya dalam. Seperti yang terjadi di Restroom dua hari lalu, dan malam ini Sungmin kembali merasakannya. Panas dan sensual. Tubuh Sungmin bergidik pelan.

"Zhoumi hyung pergi ke China. Dan selama beberapa waktu yang tak di ketahui klubnya sementara akan tutup. Kau tidak tahu?"

"Sekarang aku tahu." Jawab Sungmin.

Kyuhyun menyipitkan kedua matanya, "Apa rencanamu malam ini?" tanyanya kepada Sungmin.

"Pulang. Mungkin."

"Ikut denganku. Sekarang!"

Memaksa memang selalu cara Kyuhyun. Sungmin mulai memahami sifat pria satu ini.

"Aku membayangkan betapa empuknya kasurku."

"Dan melupakan kesenangan malam ini? Ikut denganku dan kau bisa merasakan sesuatu yang lebih nyaman dibanding kasurmu."

Tidak mau mengalah. Sifat kedua yang Sungmin tahu dari Kyuhyun.

"Apa yang lebih nyaman dari pada kasurku?" tantang Sungmin, setidaknya bermain kata dengan pria ini tidak terlalu buruk.

"Aku. Aku yang akan membuatmu merasakan seribu kali kenyamanan untukmu. Sekarang naik ke mobilku dan jangan banyak tanya."

Sungmin belum beranjak, ia tidak boleh mengalah begitu saja, "Mobilku. Bagaimana dengan mobilku?"

"Tinggalkan disini. Akan kusuruh orangku mengantarkannya ke kantormu."

Alasan apalagi Sungmin. Ucapkan alasan lain agar Kyuhyun berhenti mendesak seperti saat ini.

Kyuhyun geram sendiri melihat Sungmin diam terlalu lama. Ia lantas menggengam pergelangan tangan Sungmin namun sontak pria manis itu melepaskannya. Tidak! bukan karena ia benci pemaksaan dengan cara kasar meski sedikit tidak menyukainya, tapi baru saja Kyuhyun kembali membangkitkan inti dirinya. Hormonnya selalu bekerja kala Kyuhyun menyentuhnya secara lembut dan sensual dan Sungmin tidak terima itu.

Fuck! Fuck!

"Dimana mobilmu?!"

Yang bisa di lihat sekarang Kyuhyun terlihat menyeringai dan berjalan lebih dulu di ikuti Sungmin di belakangnya. Dalam hati Sungmin terus mengumpat akan hormonnya yang selalu jadi titik kelemahannya namun bagi pria dewasa di luar sana justru seperti bentuk ketegasaan pria jantan.

.

.

.

Ramai dan begitu banyak bermacam-macam bau alkohol. Terdapat dance floor dengan suasana ruangan yang begitu temaram dan lampu-lampu yang berwarna-warni menjadi hiasan tersendiri.

Banyak terdapat sekat dan sofa-sofa di dalamnya yang dipenuhi oleh orang-orang yang sedang melakukan hal menjijikan menurut Sungmin.

Di sebelah kanan pojok seorang wanita bahkan sudah melorotkan gaun merah terangnya menampilkan payudara besar di depan pria berotot yang tengah memangku wanita tersebut. Tangan pria itu bermain di selangkangan si wanita dan jangan lupa kedua wajah mereka yang menyiratkan begitu besar kenikmatan.

Sekat di sebelahnya lagi tak jauh berbeda namun kali ini dua wanita sekaligus, satunya nampak mencium si pria dan satu wanita lainnya tampak bermain di selangkangan pria tersebut.

Sungmin merinding dan bergidik pelan. Masih banyak lagi adegan lain yang begitu panas membuat 'kejantanannya' ikut merasakan begitu luar biasanya aura di ruangan ini.

"Apa yang kau lihat? Cepat kemari, Sungmin." ucap Kyuhyun mencoba menarik Sungmin agar tidak terhimpit keramaian, namun Sungmin kembali menepisnya. Ya, alasannya masih tetap sama.

"Jalan saja. Aku di belakangmu," kata Sungmin.

Kyuhyun sempat ragu sejenak namun ia kembali berjalan dan sesekali melihat ke belakang guna memperhatikan Sungmin yang tampak sulit melangkah. Wajar saja Sungmin begitu lambat, tubuhnya tak setinggi Kyuhyun, bahkan tubuh-tubuh lainnya juga beberapa lebih besar darinya dan Kyuhyun.

Bahkan sesekali Sungmin terhuyung ke samping akibat dorongan orang-orang yang berkumpul di tengah ruangan ini. Saat ada yang mendorongnya secara tidak sengaja terlalu keras dan ia hampir terpeleset, sebuah lengan besar melingkari pundaknya, tubuh orang itu melingkupinya dari belakang, terdengar suara makian dan cacian dari bibir orang itu yang mencoba menghalangi jalannya.

Ya, orang itu Kyuhyun. Yang masih melingkupi lengannya, bahkan sedikit menekannya. Sungmin tak banyak bicara lagi karena intinya benar-benar siap keluar jika begini terus terlalu lama, bahkan kepalanya mulai pusing.

Setelah menjauh dari keramain Sungmin melepas rangkulan Kyuhyun. Ia memenjamkan mata. "Kau tidak apa-apa, Sungmin? Wajahmu tampak pucat." Terdengar nada khawatir dari Kyuhyun.

"Kamar mandi... aku ingin kesana." Nafas Sungmin tersenggal dan Kyuhyun melirik celana Sungmin tepatnya di bawah perut.

"Ayo kuantar."

.

.

.

"Kenapa masih disitu?"

Sungmin yang posisinya tengah duduk di kloset salah satu toilet dan Kyuhyun yang berdiri di ambang pintu memperhatikan Sungmin.

"Kau tidak baik-baik saja kalau aku tinggal."

"Aku sungguh tidak baik-baik saja kalau kau masih disini. Keluarlah."

Kemudian Sungmin menutup pintu dan menguncinya, antisipasi jika pria itu membukanya atau bahkan orang lain mengintipnya.

"Tetap di dalam sampai aku kembali, Sungmin."

Setelah itu terdengar derap langkah menjauhi kamar mandi dan Sungmin menghela nafas lega. Kyuhyun pergi entah kemana dan akan kemana ia tidak pedulikan saat ini. Masalahnya kali ini adalah 'kejantanannya' benar-benar ereksi. Ini salah satu pengaruh hormon testosteronnya yang tinggi membuat libidonya cepat sekali meningkat, yang Sungmin bingungkan kenapa Kyuhyun? Apa yang pria itu sengatkan pada tubuhnya ketika menyentuh Sungmin.

Perlahan Sungmin mengelus gundukan di celananya. Cara pertama yang bisa dia lakukan adalah menenenangkannya hingga kembali normal tanpa perlu mengeluarkan cairannya sendiri. Percayalah blow job menggunakan tangan sendiri itu sama sekali tidak menyenangkan.

Namun sepertinya keberuntungan tak memihaknya, kejantanannya makin membesar, satu-satunya jalan adalah ia harus mengeluarkannya atau mati kesakitan menahannya.

Meringis pelan, Sungmin membuka ikat pinggang celananya, menurunkan resletingnya pelan. Nampak gundukan yang masih terlelan underware berwarna abu-abu miliknya yang sedikit basah. Sepertinya pre cumnya keluar sedikit.

Tanpa buang waktu Sungmin menurunkan celana dalamnya, menampilkan keseluruhan miliknya yang ereksi hebat. Tidak terlalu besar maupun panjang seperti lelaki dewasa lainnya. Mungkin.

Menggengam miliknya menggunakan tangan kanannya, meremas perlahan dari pangkal hingga ujungnya yang berwarna hampir merah. Terus begitu berulang-ulang dan tubuhnya kian bergetar, semakin cepat semakin kuat intinya ingin keluar. Beberapa tarikan nafas serta tubuhnya bergidik pelan meluncurlah cairan berwarna putih kental itu, mengalir deras yang ia tampung menggunakan tangan kirinya agar tidak berceceran di lantai toilet.

Setelah benar-benar habis dan mengurut miliknya sekali lagi kemudian membersihkannya dengan tisu. Memasangkan celananya seperti semula. Membuang cairannya kedalam kloset dan menyiramnya dengan air yang sangat banyak.

Sungmin bukan pria nakal atau sejenisnya yang bisa orgasme di dalam kamar mandi klub. Bahkan ini yang pertama kali dia alami. Sejarah ia bisa melakukan hal seperti ini adalah di kamar mandi rumahnya atau kamar mandi kantor di dalam ruangannya. Tempat pribadi bukan tempat umum seperti ini.

Sedang sibuk menenangkan diri, pintu toilet di ketuk. "Sungmin, kau didalam? Cepat keluar bahkan ini sudah limabelasmenit."

Suara Kyuhyun membuat Sungmin waspada, dirinya tidak ingin mengalami hal seperti ini lagi. Jangan sampai menatap mata Kyuhyun atau bersentuhan dengannya jika tidak ingin gila.

Sungmin beranjak dari duduknya kemudian membuka pintu. Tepat di depannya bungkusan putih menghalangi penglihatannya. "Ganti baju dan celanamu." perintah Kyuhyun dan Sungmin menurut kemudian mengambil bungkusan itu. Lagipula pakaiannya banjir keringat dan sangat tidak nyaman saat ini

"Terima kasih."

Setelah mengganti pakaian yang diberikan Kyuhyun untuknya Sungmin lantas keluar dari toilet dan menemukan Kyuhyun bersandar di dekat pintunya. "Cuci muka dan tanganmu juga."

Sungmin mendecak kesal, ia mencuci tangannya yang masih tercium cairannya di wastafel, membasuh dengan menggunakan sabun sampai sebersih mungkin. Mencuci mukanya yang banyak sekali mengeluarkan keringat. Menatap wajahnya di cermin ia terlihat segar, tak sengaja dari pantulan cermin Sungmin melirik Kyuhyun dan pria itu juga tampak terkejut kemudian memalingkan mukanya.

"Sementara pakai bajuku dulu. Tak ada toko pakaian di sekitar sini."

"Ini milikmu?" seru Sungmin kaget.

Tak ada jawaban kemudian Kyuhyun berjalan di depan. "Ayo, kita makan."

.

.

,

Yah! Seperti yang Sungmin bilang ini memang klub, berbeda dengan klub malam milik Zhoumi karena disini terasa asing. Sungmin memperhatikan Kyuhyun yang berjalan di sampingnya tidak berada di depannya lagi.

Sekali-kali pria itu berteriak 'minggir' pada orang-orang yang berlalu-lalang menghalanginya dan Sungmin. Bahkan sungmin seperti melangkah di jalan tanpa orang di sekelilingnya. Ia seperti...

Oh! Bahkan sejak menyerahkan baju tadi di kamar mandi dan Kyuhyun tertangkap matanya tengah memandanginya kali ini pria itu sama sekali tidak menyentuh Sungmin. Membuat Sungmin merasa tidak perlu berurusan lagi dengan yang namanya kamar mandi!

Beberapa meter di depan nampak dua orang melambaikan kedua tangannya ke arah Kyuhyun dan Sungmin. Seorang pria dan wanita yang tengah duduk di salah satu meja.

"Lama sekali untuk ukuran orang yang selalu tepat waktu seperti Cho Kyuhyun," sindir wanita itu yang mendapat kikikan dari pria disampingnya.

"Aku ada urusan Vic!"

"Oke. Alasan tidak diterima."

Kyuhyun mendudukan dirinya di salah satu kursi kemudian melirik Sungmin yang belum bergerak dari tempat berdirinya.

"Ini Sungmin kan? Ayo duduk manis," seru wanita yang dipanggil Vic oleh Kyuhyun tadi dan memegang pundak Sungmin untuk duduk di hadapannya.

Tanpa melawan Sungmin duduk di sebelah kursi Kyuhyun dan tersenyum canggung. Ia melirik Kyuhyun namun pria itu diam saja memainkan botol wine di depannya.

"Jangan takut Sungminnie, aku Victoria. Ini Changmin." Wanita itu memperkenalkan diri dan pria disampingnya.

"Senang bertemu denganmu, aku Sungmin."

"Astaga! Manis dan imut sekali."

Pekikan Victoria mendapat kekehan geli dari Changmin. Sungmin tersenyum kecil, memang banyak sekali yang menganggapnya manis dan imut. Tapi dia pria yang seharusnya di panggil tampan dan mempesona bukan.

"Ini yang kalian namakan restoran."

"Asal ada kursi, meja dan makanan bukankah itu restoran." Canda Changmin menanggapi lontaran sinis Kyuhyun.

"Lain kali asal ada tanah, cangkul dan nisan itu berarti kuburanmu."

Sungmin melihat Changmin melemparkan tisu-tisu ke muka Kyuhyun. Victoria juga ikut melemparkan lidi-lidi kecil ke arah pria di sampingnya dan Sungmin terlihat geli melihat keakraban mereka. Mungkin ini yang dinamakan bersenang-senang dengan teman-teman.

"Yah! Jangan berkelahi. Nikmati malam ini, bukankah kalian juga melanggar janji yang hanya datang setahun sekali ke klub malam."

Ucapan Victoria menimbulkan tanda tanya di kepala Sungmin.

"Sudah ku bilang ini restoran bukan klub." Lagi-lagi Changmin berkata sambil mengunyah daging asap di piringnya.

"Sungminnie, ayo makan. Mau kutuangkan wine." Tawaran Changmin membuat Sungmin menganggukan kepalanya. Ia terlihat sangat sangat sangat ingin minum setelah dua hari 'berpuasa'.

Pria manis itu seolah melupakan semuanya, bahkan dunia nyata serta jalur amannya. Ia bahkan tak menanyakan mengapa Victoria dan Changmin mengetahui namanya. Tak mempermasalahkan berbaur dengan ramainya orang-orang disini tanpa khawatir mereka mengenali dirinya. Yang terpenting malam ini ialah dirinya bisa memuaskan tenggorokan dan juga perutnya.

"Ayahmu bagaimana, Kyu? Beliau masih di Korea. Kau akan habis nantinya kalau ketahuan."

"Jangan bicarakan itu disini." Kyuhyun menatap tajam Victoria dan membuat Sungmin berhenti mengunyah daging dalam mulutnya.

"Sorry... sensi sekali."

Apa? Memang siapa ayah Kyuhyun. Kenapa setelah Victoria membicarakannya Kyuhyun tampak gelisah, tak begitu kentara namun Sungmin yang di sampingnya bisa begitu jelas melihat perubahan Kyuhyun.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Sungmin menatap kedua mata Kyuhyun. Pria itu sempat meliriknya namun dengan cepat memalingkannya.

"Aku baik, Sungmin. Memang aku kenapa?"

"Kau pucat."

Changmin yang tengah asyik ngobrol dengan Victoria ikut menatap perubahan diri Kyuhyun.

"Sudah kubilang aku tidak apa-apa. Berhenti bertanya." Tegas dan keras membuat Sungmin tersentak.

Kyuhyun yang menyadari perubahan suaranya dan nadanya dengan cepat memalingkan wajahnya hingga menghadap Sungmin. Menatap foxy eyes yang berisi keterkejutan dan sedikit kekecewaan―mungkin tergambar jelas disana.

Kyuhyun menyentuh pipi kiri Sungmin, menghusapnya perlahan hingga pandangan pria manis itu mulai mengabur. Banyak sekali kabut-kabut yang tidak Kyuhyun ketahui kala menatap manik indah dan bening itu.

Akhirnya gumaman maaf dari Kyuhyun mengembalikan pancaran mata Sungmin seperti semula, hingga tanpa sadar ledakan kembang api memenuhi perut mereka berdua. Perasaan tidak ingin menyakiti dari Kyuhyun dan tidak ingin disakiti dari Sungmin.

Semuanya terbaca oleh mata masing-masing tidak perlu mulut mereka mengeluarkan berbagai macam kata-kata. Hanya mata dan itu memiliki banyak arti.

.

.

.

Sejak beberapa menit mereka berdiam diri di dalam mobil. Kyuhyun fokus mengemudi di jalan yang memang tengah sepi ini. Wajar saja waktu menunjukan pukul dua pagi, lalu lalang kendaraan yang biasa memadati kota Seoul kini tanpak lenggang.

"Kau ingin kemana? Ke rumahmu?"

"Dalam keadaan begini? Tidak, terima kasih. Antarkan aku ke tempat mobilku berada."

Kyuhyun melaju kencang membelah kota Seoul. Awan hitam tampak menyelimuti pekatnya malam hari. Aroma air hujan dan angin kencang juga mulai berdatangan. Gerimis-gerimis kecil mulai membasahi jendela kaca mobil Kyuhyun.

'Sepertinya akan ada hujan yang sangat hebat malam ini' gumam Sungmin dalam hati.

Mobil hitam itu berhenti di perkarangan yang luas. Di depannya bangunan megah berwarna abu-abu dengan arsitektur yang sangat apik membuat Sungmin sempat kagum. Taman kecil dan pohon rindang dan bermacam-macam warna-warni bunga di sekelilingnya. Air mancur setinggi dua meter terletak di tengah-tengah mansion besar ini.

"Astaga, terawat sekali taman itu."

"Ibuku pecinta bunga, ia lebih menghabiskan waktunya di taman dengan bunga-bunganya."

Sungmin berdecak kagum, "Air mancur itu... "

"Kakakku yang mendesainnya. Ia seorang arsitek."

Kyuhyun mengamati setiap perubahan wajah Sungmin kala pria manis itu mengamati keindahan di sekelilingnya dari dalam mobil.

"Kau ingin turun atau tetap di disini?" tanya Kyuhyun sambil membuka seatbelt miliknya dan mematikan mesin mobil.

"Aku ingin... tunggu! Dimana kita?"

"Kau masih bertanya saat aku menjelaskan taman bunga ibuku dan desain air mancur kakakku?"

Sungmin melotot kala keterkejutannya kian besar. "Ini..."

"Selamat datang di rumahku, Lee Sungmin"

.

.

.

.

TBC~

Terima kasih untuk responnya di chapter 1 kemarin. Ngga tau mau ngomong apa karena sepertinya beberapa orang mulai bisa menebak jalan ceritanya kkk~

Aku justru senang karena ada yang ngerti dengan tulisanku T^T

Aku juga letakan rate M .. apa ada yang protes karena tidak sesuai? Karena jujur ceritaku juga ngga mature-mature amat #ditembak

Special thanks untuk yang review, favorite dan follow

Muaaaaaaacchh :*

Sign, Najika