〃kenapa kau selalu baik-baik saja? Saat dalam kenyataannya kau tidak baik-baik saja dan terluka. Kau sakit dan perih. Katakan saja, tidak perlu menahannya.〃
.
.
.
Perfect
.
.
FANFICTION
Cho Kyuhyun dan Lee Sungmin
YAOI – BL
Bad diction and Typo
.
.
3
.
.
.
Sungmin sama sekali tidak bisa memejamkan kedua matanya, gelisah dan tidak tenang menjadi pemicu timbulnya rasa insomnia pagi ini. Bahkan hujan deras beserta guntur tak membuatnya merasa nyaman meringkuk di dalam selimut tebal di kasurnya.
Membaca do'a, menghitung anak-anak domba yang lucu melompat melewatinya bahkan tak ayal membuatnya mengantuk.
Pekerjaan untuk besok bahkan dua hari yang akan datang sudah ia selesaikan, jadi pikiran akan beban satu itu tercabut dari dalam kepalanya. Orang tuanya juga tidak bertanya atau curiga ―pikirnya, ketika ia membuka pintu rumah. Oleh karena itu tidak heran jika ibunya sampai menunggu anak-anaknya pulang ke rumah.
Tapi yang buat Sungmin merasa bersalah adalah pulang melewati angka pukul 3 pagi, tidak memberi kabar, mengenakan pakaian yang bukan miliknya dan terakhir tidak hanya ibunya dan kini lelaki paruh baya yang begitu ia hormati juga ikut serta menemani sang ibu.
Tebakan kedua akan orang tuanya bertanya-tanya 'sementara' tercabut dari pikirannya juga, setidaknya sampai pagi menjelang atau sampai dirinya duduk di meja makan nantinya.
Pukul 4 pagi dan Sungmin belum memejamkan matanya semenitpun. Perkataan akan Pria gila itu yang membuatnya begini. Pria gila yang mulai perlahan mengatur kehidupannya. Meski Sungmin sadari itu tapi ada semacam titik terkecil yang tak nampak membuka peluang pria itu untuk memasuki dirinya dan bodohnya ia membiarkannya.
.
.
.
Beberapa jam yang lalu
"Mau turun?"
"Beritahu aku, kali ini apa lagi rencanamu?"
Kyuhyun menyamankan punggungnya pada jok mobil. Tetesan-tetesan air hujan mulai menghalagi kaca mobil depannya membuat suara-suara tersendiri di malam sunyi ini.
"Belum kupikirkan. Hanya saja kurasa kau mengerti rencanaku."
"Tidak. aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiranmu, Kyuhyun."
"Yah, maksudku rencanaku bukan jalan pikiranku. Karena selamanya baik kau maupun aku tidak ada yang mengerti jalan pikiran masing-masing."
Sungmin merasa tidak nyaman membicarakan hal yang berbau dirinya. "Mengapa saat Victoria menyinggung ayahmu di bar tadi, ekspresimu tampak berbeda?" tanya Sungmin menatap mata pria disampingnya.
"Berbeda?"
Sungmin menganggukan kepalanya lucu.
"Seperti apa diriku yang tidak berbeda menurutmu?"
"Suka memaksa, tidak mau mengalah, terkadang 'sedikit' tidak waras ... yah seperti itu." Sungmin mengerutkan dahinya, tampak konyol saat dirinya menilai sifat orang lain.
Tak bisa menahan senyum terlalu lama akhirnya Kyuhyun mengeluarkan tawa kecil miliknya. Dia mencoba menahan namun kali ini ucapan Sungmin sungguh membuat kotak tawanya terasa menggelitik.
"Apa itu lucu? Aku merasa sedang tidak memujimu," seru Sungmin memperhatikan gerak-gerik Kyuhyun.
"Kau merasa itu tidak lucu?" Sungmin menggelengkan kepalanya.
Kyuhyun kembali merubah ekspresinya seperti biasa. "Kali ini aku yang bertanya, mengapa kau benci saat orang ingin memperlakukanmu secara istimewa― maksudku alasannya?"
"Apa kita tampak dekat sehingga aku bisa memberitahukanmu?" tanya Sungmin datar mencoba mengingat kembali perkataannya sendiri saat pertama kali bertemu Kyuhyun di bar Zhoumi
Kyuhyun menatap Sungmin lekat. "Kalau begitu aku tidak akan membertitahukanmu alasan mengapa aku berbeda― menurutmu. Karena kita tidak dekat seperti katamu. Itu jawabanku."
Mengembuskan nafasnya pelan Sungmin melepas seatbelt. "Karena kita tidak dekat, bisakah kau beri tahu dimana mobilku berada? Aku harus pulang."
"Kenapa kau bertanya padaku mengenai mobilmu?"
Sungmin membulatkan kedua bola matanya, "Kau bercanda? What I am doing here! Jangan main-main, Kyuhyun."
Kyuhyun terkekeh kemudian menyalakan mesin mobil, menjalankan kemudi dan memasukkan mobil Audi hitam favoritenya itu ke dalam garasi. Langitnya malam menjelang pagi yang justru semakin pekat. Angin dan tamparan air hujan yang menggila bahkan petir juga ikut bersahut-sahutan.
"Orangku sedang membawa mobilmu kemari. Sementara itu keluarlah dulu, disini sangat dingin." Selepas keluar dari mobil, Kyuhyun kemudian memasuki mansion besar bercat putih itu. Sungmin yang tidak punya pilihan lagi kembali mengikuti pria itu di belakangnya.
Seperti mansion-mansion yang sebenarnya semuanya terlihat sangat mewah. Saat tiba di ruang tengah Sungmin di sungguhkan oleh lampu kristal yang bersinar lembut serta tercium wangi aroma therapy, sangat menenangkan.
Satu atau dua pelayan kadang hilir mudik tertangkap oleh penglihatan Sungmin. Mansion milik Kyuhyun juga tidak jauh beda sebenarnya dengan rumahnya, namun aura kekosongan begitu kentara di mansion ini tidak seperti rumahnya yang dikelilingi oleh suara ibu dan ayahnya serta ocehan Sungjin kadang kala.
"Orang tuamu sudah tidur?" tanya Sungmin. Sungmin bertanya begitu bukan tanpa alasan, ia yang selalu di khawatirkan oleh orangtuangnya bahkan ibunya rela menunggunya jika ia terlambat pulang, tidakkah kyuhyun mungkin juga seperti itu?
Kyuhyun memanggil salah satu pelayan rumahnya yang kebetulan juga langsung menghampiri tuan mudanya itu, "Buatkan dua coffe latte hangat," perintah Kyuhyun pada pelayan itu.
Setelah pelayan itu pergi, Kyuhyun melangkah menuju ruang keluarga dan lagi-lagi diikuti oleh Sungmin. "Tidak tahu. Coba saja kau cek ke kamar mereka." Pria itu menyamankan punggungnya diatas sofa empuk.
"Kau selalu tidak serius. Pria yang tidak bisa di percaya."
Kyuhyun tersenyum kecil dan menepuk-nepuk sofa di sebelahnya mencoba mengisyaratkan Sungmin untuk duduk disebelahnya. Sungmin yang mengerti itu tidak mengindahkan dan justru duduk di sofa seberangnya.
"Itu sifatku. Jangan khawatir mengenai mobilmu, kali ini aku serius," kata Kyuhyun mulai memejamkan kedua matanya. "Okay, make yourself comfortable. Tidak usah kaku dan tegang begitu, Sungmin."
"Is that true? About my car."
"Hmm" gumam Kyuhyun.
Tak ada suara lagi Sungmin menebak pria didepannya itu tertidur atau pura-pura tertidur atau hanya memejamkan kedua matanya saja Sungmin tidak peduli. Sungmin melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukan pukul setengah tiga pagi. Itu berarti dirinya hanya punya waktu setengah jam lagi.
Saat memikirkan tubuhnya harus berada dirumahnya sendiri sebelum pukul tiga pagi membuatnya gelisah, namun ucapan Kyuhyun mengenai mobilnya sedikit membuatnya lega. Paling tidak ia akan sedikit terlambat dan membuat suatu alasan nantinya saat orang rumah bertanya.
Bosan hanya duduk berdiam diri, Sungmin beranjak dari sofa dan mencoba melihat-lihat ruang keluarga milik Kyuhyun. Banyak sekali figura dan foto yang terpajang di sekeliling dinding serta meja hias.
Foto dengan bingkai besar terpampang jelas di atas perapian. Dua orang paruh baya yang tengah duduk di kursi, Sungmin yakini mereka adalah orang tua Kyuhyun, pria polos di belakang wanita paruh baya itu pasti Kyuhyun, lihat saja senyum mengerikannya itu. Dan wanita anggun di samping Kyuhyun.
"Itu pasti kakaknya," ujar Sungmin pelan menyimpulkan sendiri mengingat wajah keduanya begitu mirip.
Melangkah pelan kali ini Sungmin menghampiri meja hias yang diatasnya banyak sekali figura-figura kecil. Sungmin mengambil satu figura yang terdapat potret seorang bayi dan seorang gadis kecil. Begitu juga figura disebelahnya, kali ini sedikit lebih besar. Figura dari Kyuhyun masuk sekolah, memenangkan penghargaan pun selalu terpotret pria itu berpose dengan kakaknya. Hingga figura itu berakhir saat Kyuhyun lulus sekolah dengan mengenakan seragam senior high school ia tampak sendiri dan sama sekali tidak tersenyum berbeda dari foto-foto lain yang aura kebahagiaannya begitu kental.
Saat mencoba melihat-lihat lagi Sungmin dikejutkan oleh suara ketukan pintu. Seorang pelayan tadi mengantarkan minuman yang Kyuhyun minta dan meletakkannya di atas meja. Sungmin memperhatikan Kyuhyun yang masih memejamkan matanya itu.
Pelayan itu tersenyum dan permisi keluar namun Sungmin memanggilnya, "Tunggu."
"Iya tuan muda, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu menunduk hormat.
Sungmin mengangkat kedua tangannya tanda tidak enak. "Tidak, hanya saja apa orang tua Kyuhyun dirumah? Aku merasa tidak enak karena tidak menyapa."
Sopan santun itu nomor satu bagi hidup Sungmin, apalagi hanya beberapa teman semenjak sekolah yang ia kunjungi.
Pelayan itu kembali tersenyum untuk kedua kalinya dan kini terlihat lebih lebar "Tuan Dan nyonya sedang tidak ada di rumah, tuan muda. Jadi anda tidak perlu merasa segan."
"Ah begitu. Tapi boleh aku bertanya satu hal lagi?" Sungmin agak ragu sebenarnya, mengapa ia begitu ingin menanyakan satu pertanyaan ini.
"Silahkan tuan muda."
"Itu..."
"Pelayan Shin, terima kasih minumannya. Kau boleh keluar."
Suara Kyuhyun mengentak dua orang yang tengah berdiri itu. Pelayan yang dipanggil itu menunduk hormat dan setelahnya pergi dengan menutup pintu. Meninggalkan Sungmin dan Kyuhyun kembali.
Kyuhyun mengambil cangkir di atas meja dan menyeruputnya pelan. "Apa menyapa orang tua menjadi sikap mendekatkan diri? Mengingat beberapa menit lalu kau bilang kita tidak dekat."
"Kecerdasanmu sungguh perlu di uji lagi. Bersikap mendekatkan diri dan bersikap sopan itu dua hal yang berbeda."
Sungmin duduk di sofa sebelumnya dan meminum coffe late miliknya, asap yang mengepul dari cangkir dengan ukiran unik menjadi daya tarik sendiri untuk segera ia teguk mengisi kehangatan perutnya dan tubuhnya yang mulai dingin.
"Apa perbedaannya?" tanya Kyuhyun
"Niatnya."
Senyum Kyuhyun tak lepas saat Sungmin masih menyeruput caffe late itu. Bukan karena jawaban Sungmin tapi akan sifat pria itu yang selalu membantah perkataannya. Selama ini tak ada yang bisa mengalahkannya dalam hal berdebat tapi dengan Sungmin sungguh semakin ingin membuat pria manis dihadapannya ini berada dalam rotasi kehidupannya.
"Baik, lupakan soal kecerdasan yang... Demi Tuhan sungguh tak perlu ku uji lagi." Kyuhyun menggeram rendah beralih menatap Sugmin, "Pertanyaan pertama, kau merasakan perubahan malam ini, bukan? Tidak hanya malam ini saja namun saat kau bertemu aku. Mustahil kau tidak merasakannya karena aku sungguh bisa melihatnya, Sungmin."
Sungmin mengerutkan dahinya mencoba mengingat perubahan apa yang ia rasakan. Yang terlintas pertama kali saat bertemu pria arogan ini adalah ia tertular akan kegilaannnya dan membuatnya menyimpan nomor rumah sakit jiwa dalam ponselnya.
Kedua, hormonnya selalu bekerja tidak normal saat pria didepannya ini juga dengan seenaknya melihatnya dan menyentuh tubuhnya―lengan dan punggung tangannya secara sensual. Dan Sungmin benci dia yang harus berurusan dengan kamar mandi lebih sering dari biasanya.
Tapi dari semua pemikiran itu sekarang satu hal yang tak Sungmin sadari, mungkin sedikit terlintas dalam benaknya namun dia tak menentangnya bahkan membiarkannya.
Kyuhyun mulai mendekatkan diri dan Sungmin tak menolak.
Ya! Itu dia.
"Kerja bagus Kyuhyun. Kau membawaku ke tempat asing dan sekarang ke rumahmu, bertemu bermacam-macam orang yang tak ku kenal, memperkenalkanku pada teman-temanmu, membuatku pulang terlambat dan aku harus pikirkan alasan apa yang akan aku gunakan nantinya. Kalau ada penghargaan seseorang yang berhasil merusak kehidupan orang lain kau pasti memenangkannya."
Kyuhyun tertawa lebar, "Yah! Dan kau akan memenangkan penghargaan itu juga nantinya. Penghargaan karena merubah hidupku." Ujar Kyuhyun tersenyum kecil.
'Aku merubahmu dan kau merubahku'
Perkataan Kyuhyun di restroom dua hari lalu terngiang-ngiang dalam kepalanya. Sampai sekarang Sungmin tak begitu mengetahui alasan Kyuhyun melakukannya dan menyeretnya dalam masalah ini.
"Aku masih belum mengerti. Kau bilang bisa menyelamatkan aku, begitupun aku terhadapmu. Apa yang perlu di selamatkan sebenarnya?" tanya Sungmin memperhatikan Kyuhyun.
"Menghilangkanmu dari kata 'istimewa' dan membuatmu tidak 'sendirian' itu yang aku lakukan untukmu."
Sungmin diam saja dan pikirannya berkelana kemana-mana.
'Kenapa semua orang selalu memperlakukan aku istimewa? Aku benci itu!'
'Oh! Kau beruntung, aku selalu sendirian.'
Yah, itu perkataannya juga dan Kyuhyun mengingatnya yang bahkan ia sendiri hampir melupakannya.
"Kau tidak merasa ini salah― maksudku kau tidak perlu membuang waktumu akan perkataanku yang lalu. Sebelum semuanya semakin jauh, kau akhiri kesepakatan yang kau buat yang bahkan tidak pernah ku setujui ini." Menghembuskan nafasnya berat Sungmin memijat tengkuknya, "Kau juga merasa aku tidak melakukan apa-apa padamu kan, Kyuhyun?" tanya Sungmin lagi.
Hening dan sunyi, hanya terdengar suara hujan dam petir yang memekakkan telinga. Sepertinya cuaca malam ini sangat tidak biasa, karena justru suasananya menjadi nyanyian-nyanyian tersendiri di saat semuanya tertidur lelap. Tapi tidak dengan dua pria ini.
Ketukan pintu membuat Sungmin menoleh dan mendapati seorang pria berpakaian hitam menunduk hormat pada Kyuhyun. Pria itu memberikan sesuatu kepada Kyuhyun dan setelahnya permisi keluar meninggalkan Kyuhyun dan Sungmin―lagi.
"Ini kunci mobilmu," kata Kyuhyun dan meletakkan benda itu diatas meja berdekatan dengan cangkir milik Sungmin.
Tanpa buang waktu Sungmin mengambilnya dan hendak beranjak dari sofa namun di saat tak terduga pula Kyuhyun tepat di depan Sungmin membuat efek terkejut pada pria manis itu.
"Aku merasakannya."
Ucapan Kyuhyun membuat Sungmin dilanda perasaan bingung. "Apa maksudmu?" tanya Sungmin.
Terlihat dari jendela besar di ruangan itu kilat petir berwarna putih siap membuat suara guntur yang keras. Tak ada yang sadar akan itu baik Kyuhyun yang terus memandangi mata Sungmin begitupun Sungmin yang tanpa sadar ikut menatap pria itu.
Akhirnya satu kilatan halilintar bersamaan dengan suara guntur yang memekakkan telinga siapapun atau bahkan membuat seseorang yang tidur akan terbangun menjadi saksi bisu dua pria yang kini tak ada jarak lagi diantara wajah keduanya.
Kyuhyun menempelkan bibirnya pada sudut bibir sungmin. Pria arogan yang tak lagi bisa menahan sesuatu yang terus semakin mendesaknya, getaran dadanya tak terkendali membuat setiap detik bagai bom waktu yang siap meledak.
Tak kuasa menahan gejolak itu Kyuhyun memejamkan matanya, ia belum sanggup akan sesuatu yang tergambar dalam foxy eyes di depan wajahnya itu. Tapi yang ia tahu sungmin membulatkan kedua bola matanya.
Awalnya hanya degupan jantung dari satu orang, tapi sepertinya suara guntur tak bisa menyembunyikan satu degupan dari jantung yang lainnya.
~o~
Kalau ada yang bertanya apa kau suka di perlakukan istimewa. Tanpa basa-basi dan pikir panjang lagi aku akan menjawab iya. Karena mau tidak mau aku harus membuang jati diri demi sebuah keistimewaan
Aku bahkan tidak tahu arti kata istimewa di sana seperti apa. Istiwewa itu luar biasa, diperlakukan secara khusus dan paling utama. Intinya semua mata dan telinga akan terpasang hanya untuk memperhatikanmu, membuat selayaknya berlian yang berharga dan tak ternilai harganya, begitu di inginkan. Aku dan dia sama-sama berlian yang memiliki sinar tersendiri bedanya aku berwarna hitam dan dia berwarna putih.
Berlian itu keras, jadi dia tidak bisa dilukai oleh apapun kecuali dengan berlian itu sendiri. Jadi, jika kedua berlian di campur adukkan, maka akan berpotensi keduanya akan saling menggores. Membuat berlian itu tergores, membuatnya keluar dari incaran mata dan telinga orang-orang yang begitu menginginkannya.
Sepertinya berlian putih itu memang sudah mulai meretakkan dirinya sendiri dan di sini aku berlian hitam yang akan membantu membuat banyak goresan. Itu teori yang mudah dan sedang kulakukan.
.
.
.
Suasana di meja makan pagi ini tampak seperti biasanya, di meja terhidang roti bakar dan berbagai macam selai. Kopi hitam yang mengepul dari salah satu cangkir di ujung meja, dua gelas susu tepat di samping kanan dan secangkir teh madu hangat di sebelah kiri.
Tidak ada percakapan seperti biasa karena tata krama begitu kental di rumah ini, bahkan Sungjin yang biasanya ribut juga tampak diam, sepertinya ia juga bosan jika harus di tegur setiap hari.
Sungmin menggingit satu roti selai coklat miliknya, ia benar-benar hampir memuntahkannya jika tidak ingat akan sopan-santun di depan orang tuanya. Dengan beberapa kunyahan ia memaksakan roti itu masuk ke dalam tenggorokannya. Rasa berat dan menyangkut begitu terasa.
Kantung mata yang membengkak yang herannya orang-orang rumah tak menanyakannya, walaupun ia sudah antisipasi agar tak terlalu terlihat, namun mustahil jika ayahnya yang begitu detail akan dirinya hanya diam saja.
Tidak tidur semalaman ternyata begini rasanya!
Sudut bibirnya sampai sekarang masih berkedut, panas dan aneh. Setiap mengingat sepuluh detik semalam ingin rasanya Sungmin mengubur diri selama sepuluh tahun.
Seorang pria menciumnya― walau tidak tepat di bibir dan sampai sekarang jantungnya berdegup tak terima. Sekujur tubuhnya masih merinding jika ia mencoba menutup mata, apa ini saatnya menghubungi rumah sakit jiwa?
"Hyung, aku berangkat dengan mobil sendiri kali ini hehe." Cengiran Sungjin menghentikan fantasi tak terkontrol Sungmin. Ia melihat adiknya itu berpamitan dengan kedua orangtua mereka dan melesat pergi dari meja makan.
Great! Suasana jadi semakin aneh sekarang tanpa Sungjin.
"Kau tidak apa-apa, Sungmin-ah? Astaga kantung matamu, kau tidak tidur semalam?" Sungmin tersenyum kecil, ya! Sepertinya ia akan memberikan ibunya hadiah karena mengetahui kondisinya pertama kali.
"Bukan tidak tapi tak bisa, ibu. Tenang saja, aku sehat hari ini untuk berangkat ke kantor. Sungjin bahkan mendahuluiku." Jawab Sungmin seceria mungkin.
Lee Chunhwa― ayah Sungmin memperhatikan anak sulungnya itu dan tersenyum ramah seperti biasa. "Kau selalu tahu yang terbaik, Sungmin-ah," ujar sang ayah kembali membuat Sungmin melengkungkan bibirnya.
"Aku tahu."
Sepertinya kunyahan roti tadi naik kembali keatas melewati tenggorokannya dan siap ia muntahkan saat ini juga.
~o~
Ketukan pintu tak membuat pria penghuni kamar itu lekas membukanya. Bahkan teriakan ibunya menjadi nyanyian pagi sendiri di mansion ini.
Kyuhyun memutuskan menginap di rumahnya sendiri semalam, ini pertama kalinya sejak ia pulang dari Colombia dan membeli apartemen sendiri di daerah Gangnam. Ia merasa selalu bermimpi buruk jika masih mau tidur di mansion besar ini. Dan yah~ tadi malam merupakan mimpi buruk diantara yang paling buruk yang pernah ia alami.
Tak tidur semalaman bahkan sejak kejadian sepuluh detik itu wajahnya masih tampak memerah. Tak semerah saat kejadian atau beberapa menit setelah kejadian. Namun telinganya kini sukses benar-benar berwarna merah.
Bagian sensitivenya memang telinga, jika ia tengah malu atau bahkan terangsang maka bagian pendengarannya itu akan berubah warna. Anehnya hingga pagi ini warna telinganya tak kunjung hilang bahkan semakin parah.
Memasang jam mahal miliknya di pergelangan tangannnya ia bersiap ke kantor. Ibunya masih sibuk mengetuk kamarnya sejak tadi, kemungkinan buku-buku jari wanita yang sangat ia sayangi ini tampak membengkak.
Tak mau membuat ibunya kesakitan, akhirnya Kyuhyun membuka pintu kamarnya, "Ibu bisa merobohkan pintu kalau begini," canda Kyuhyun dan justru mendapat pelukan dari wanita yang melahirkannya itu.
"Dasar anak nakal. Kau tak mengunjungi ibu saat di Taiwan, sekarang tanpa pemberitahuan kau sudah ada dirumah."
Kyuhyun merentangkan kedua tangannya ke udara, "Surprise." Wanita paruh baya itu memukul lengan anak lelaki satu-satunya itu.
"Ayo sarapan. Ayahmu di bawah, kau belum bertemu dengannya bukan?"
Saat turun dari tangga Kyuhyun mendapati ayahnya sedang membaca koran pagi dan pelayan tampak hilir mudik meletakan hidangan ke atas meja makan. Tapi Kyuhyun sama sekali tak berselera, ia benar-benar harus keluar dari rumah ini segera atau emosinya yang tengah ia tahan sejak tadi keluar begitu saja.
"Selamat pagi, ayah."
Ayah kyuhyun tersenyum dan meletakkan korannya diatas meja, "Sarapanlah dulu," pinta lelaki paruh baya itu yang justru membuat Kyuhyun ingin cepat melesat angkat kaki dari rumah ini.
"Tidak, aku bisa terlambat jika harus sarapan. Bukankah seorang pemimpin perusahaan harus tampil sempurna di depan para bawahannya."
"Benar." Jawab ayah Kyuhyun dan mendapat protes dari wanita yang kini masih memeluk lengan anaknya, "Setidaknya sarapan sedikit, atau mau ibu buatkan bekal?" tawarnya.
Kyuhyun melepas pelan pegangan ibunya dan tersenyum, "Aku berangkat dulu, ibu." Setelah itu Kyuhyun menunduk hormat pada ayahnya dan melesat bagai angin dari mansion yang sudah ia anggap neraka.
"Lihat! Bahkan ia tak mencium atau setidaknya memelukku," gerutu Kim Hanna―ibu Kyuhyun membuat Cho Yeounghwan―ayah Kyuhyun menatap pintu luar saat bayangan anaknya menghilang.
.
.
.
Kyuhyun dan Sungmin sampai di kantor masing-masing, sekertaris mereka juga langsung melaksanakan kewajibanya mengatur jadwal kedua CEO muda itu.
Keduanya mendengar dengan seksama rentetan jadwal yang di bacakan oleh sekertaris masing-masing.
Keduanya menampilkan wajah seorang pemimpin yang serius dan kritis, kembali ke kehidupan normal, melupakan semua yang terjadi kemarin, beberapa jam lalu atau bahkan beberapa menit yang lalu jika tidak dianggap penting.
Di satu sisi Sungmin berkutat dengan laptop dan sesekali mengucek kedua matanya. Begitu juga Kyuhyun yang terkadang memijit dahinya. Bukan pekerjaan mereka yang membuatnya begini. Hal seperti ini sudah biasa di kerjakan bahkan tak terlihat kesulitan saat mulai menyusun sebuah proyek besar sekalipun.
Fisik keduanya atau hati keduanya?
Tak ada yang tahu. Kyuhyun dan Sungmin memutar kursi kerja mereka, menghadap pada kaca besar menampilkan berbagai macam gedung pencakar langit serta sibuknya kendaraan dibawah sana.
Sungmin mengambil ponselnya dan mengutak-atik ID didalamnya, jari jempol miliknya terhenti di udara saat ingin menekan tombol call, ia ragu bahkan sangat. Apa yang dipikirkannya hingga mau menghubungi nomor ini.
Ketukan pintu menjadi alarm akan pilihan terakhirnya―tidak menghubungi. Sekertarisnya masuk dan menyerahkan berkas kontrak padanya.
"Ini kontrak dengan perusahaan Korea Housing Corporation, Sajangmin. Tuan Cho sudah menandatanganinya, namun anda belum."
Sungmin membaca lembar per lembar, sepertinya Sungjin yang tengah mengurusnya waktu itu. Sungmin mengambil pena tinta mahalnya dan membubuhi tanda tangannya di bagian lembar persetujuan. Kemudian memberikan stempel perusahaan.
"Hubungi perusahaan Korea Housing Corporation dan beritahu padanya jika kontrak perlu di beri stempel."
Sekertaris Sungmin menunduk hormat sebelum keluar dari ruangan. Sungmin memperhatikan nama CEO perusahaan Korea Housing Corporation di lembar itu lagi, saat tahu siapa Tuan Cho yang dimaksud, kemudian saat itu juga ia meletakkan berkas itu di atas mejanya.
Apa yang dipikirkannya hingga harus bertemu dengan Kyuhyun hari ini!
Setidaknya beri waktu untuknya sekitar sebulan atau dua bulan atau selamanya tidak bertatap muka dengan pria arogan itu dulu, bayang-bayang sepuluh detik di malam penuh kilatan petir membuatnya ingin menampar ingatannya.
Tidak! jangan sampai Kyuhyun kembali ke perusahaannya, pikiran buruk yang akan terjadi saat pria itu bertemu Sungjin atau terkunci berdua di restroom menjadi pelajaran untuknya agar tidak ada yang lebih mengerikan dari itu.
Memutar otaknya, memikirkan solusi terbaiknya Sungmin membawa berkas itu dan menemui sekertarisnya di luar ruang kerjanya.
Pas sekali saat sekertarisnya menyapa telepon di ujung sana Sungmin meminta diri untuk bicara langsung pada seseorang di seberang sana pada sekertarisnya. Sang sekertaris memberikan ganggang telepon dan kembali menyelesaikan pekerjaan lainnya, membiarkan bosnya dengan line telepon.
"Yeobseyo?"
Sungmin diam saja, bahkan mau mengeluarkan satu huruf saja mulutnya terasa sakit untuk di gerakan.
"Yeobseyo? Perusahaan Korea Housing Corporation dengan saya Victoria―Assistant Managers ada yang bisa di bantu?"
Astaga! Ini hanya stempel bukan tanda tangan. Tidak ada yang namanya Kyuhyun datang ke perusahaannya membawa-bawa stempel. Jika perlu kesini itu cukup perwakilan dari perusahaan Kyuhyun. Bahkan urusan ini hanya dikerjakan oleh Manager, CEO hanya menyetujui dan membubuhi tanda tangan. Pikiran Sungmin benar-benar kacau jika menyangkut pria bernama Kyuhyun.
"Saya Lee Sungmin, CEO perusahaan Sendbill. Maaf, saya sendiri yang menghubungi langsung tanpa maksud apapun. Kontrak antara perusahaan saya dengan Perusahaan Korea Housing Corporation hampir selesai, namun sepertinya dari pihak sana belum membubuhi stempel dalam kontrak."
"Maaf sebelumnya Tuan Lee akan hal itu. Saya akan langsung segera kesana, mengingat Manager kami sedang tidak berada di tempat."
Sungmin tersenyum, "Tidak apa-apa, terima kasih pengertiannya."
Sungmin menghela nafasnya, rasanya beban satu ini membuatnya harus mengeluarkan karbondioksida yang menghimpit.
.
.
,
"Ini belum waktunya jam makan siang tuan Cho Kyuhyun terhormat."
Kyuhyun memainkan gadget miliknya tak memperhatikan seseorang di depannya yang sibuk mengoceh dari tadi. "Sudah diam saja. Aku menyeretmu kemari untuk menemaniku."
Pria itu mencibir dan menyeruput kopi hitamnya yang tinggal setengah, "Aku pikir tugas Manager bukan menemani CEO untuk makan."
"Bukankah ini surgamu, cafe dengan segala roti mahal tersedia." Ejek Kyuhyun membuat suasana setidaknya mencair. Membuat lelucon dan bercengkrama dengan salah satu sahabatnya membuat adanya sedikit cahaya menyinari dadanya. Jika bertemu rumah dan keluarganya membuat ia tertekan setiap mengingatnya.
Jam menunjukan pukul 10 pagi, ayahnya akan tahu ini jika dirinya tidak konsisten akan perkataannya sendiri. Bersikap mencerminkan dirinya pemimpin yang akan jadi contoh para bawahannya tapi lihat sekarang, berada di cafe sebelum jam istirahat dan menyeret Manager perusahaan sekaligus untuk terlibat dengannya.
Changmin menghela nafas, "Kasihan Vic, pekerjaannya akan bertambah dua kali lipat hari ini karenamu."
"Pekerjaanmu yang membebankannya bukan karenaku," ujar Kyuhyun tak mau mengalah.
"You're right, as always." Tegas Changmin dan meminum kopinya sampai habis.
Suasana cafe yang tampak sepi menjadi kenyamanan tersendiri, bahkan dari arah dapur tercium wangi tepung yang diaduk dengan campuran telor dan diberi sedikit vanilla ...
Vanilla?
Sungmin?
Sepuluh detik di malam penuh kilatan petir.
Muka Kyuhyun tiba-tiba berwarna merah, bahkan telingannya yang tengah membaik juga ikut semakin memperwarna kulit pucatnya. Oh tidak! pilihannya hanya ada dua antara malu atau terangsang.
"Kenapa dengan mukamu? Merah seperti setan."
"Changmin," yang dipanggil tak memperhatikan dan sibuk mencari pelayan, sepertinya ia butuh beberapa potong roti dan segelas kopi lagi. "Benar katanya, aku memang sudah gila," Kyuhyun berujar lirih dan tertangkap oleh pendengaran Changmin.
"Kenapa lagi kali ini?" tanya pria tinggi itu dan tersenyum manis saat salah satu pelayan mengantarkan pesanannya.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya, bahkan memijat tengkuknya. Tanpa bercermin ia yakin wajahnya tengah memerah. Saat Sungmin bertanya apa dia tertarik padanya. Bukankah jelas dan tegas ia menjawab ...
'Apa aku segila itu? Aku mencoba menepis kalau aku tertarik padamu Sungmin...
Bukankah itu artinya 'tidak'?
Otaknya tak pernah serumit ini jika ingin mendapat jawaban, namun kali ini semuanya serba tidak pasti. Ia berpikir mencium Sungmin saat itu karena suasana, karena ia tak bisa menahannya, karena ia tergoda akan bibir ber shap M yang selalu bisa melawan kata-katanya.
Tujuan awal Kyuhyun mengenalnya bukan untuk ini, ia hanya merasa Sungmin sama sepertinya, mengerti kehidupannya dan membuat pria manis itu masuk dalam lingkarannya. Karena itu Kyuhyun berpikir hanya Sungmin yang bisa menolongnya. Dalam artian karena mereka senasib.
Tapi kejadian tadi malam membuat dirinya aneh, sangat aneh. Perasaan awal yang hanya ingin menolong pria manis itu karena dia bisa menolongnya. Tanpa di sadari perlahan perasaan itu semakin kecil.
~O~
Sungmin menekan kunci mobil dan mendudukkan dirinya di kursi kemudi, jantungnya terasa akan copot saat seseorang tiba-tiba membuka pintu mobil di sampingnya dan duduk tenang di kursi penumpang.
Seorang pria memkai kemeja kotak-kotak tanpa dasi yang dibalut jas hitam. Memasang seatbelt dan duduk tenang menghadap depan.
"Apa yang kau tunggu. Cepat jalan."
Kedua mata sungmin membulat tidak percaya, pria yang seharian ini menyita pikirannya dan bersyukur hingga menit lalu tidak melihatnya, tiba-tiba menerobos masuk ke dalam mobilnya dan berbicara seenaknya seolah tidak ada yang terjadi diantara mereka sebelumnya.
Oh ayolah! Sungmin ingin menghindari pria ini.
"Keluar," ucap sungmin datar.
"Jalan," ucap pria itu tak kalah datar. Wajah mereka berdua tak saling menatap hanya memandangi lapangan parkir yang mulai sepi mengingat waktu menunjukan jam delapanlewatlimabelas menit― jam Sungmin pulang kantor.
"Keluar dari mobilku, Kyuhyun."
Kyuhyun menyandarkan siku tangan kirinya pada jendela mobil, mengalihkan perhatiannya pada beberapa pekerja kantor yang berbincang di sekitar parkiran. "Apa kita perlu berdebat dulu?"
Sungmin mengikuti arah pandang Kyuhyun dan mengerti, tanpa buang waktu ia menyalakan mesin mobil dan melesat pergi dari parkiran tersebut sebelum ada yang menyadarinya.
Di perjalanan keduanya tampak hening, Sungmin tak mencoba mengeluarkan sepatah katapun saat ini. pikirannya kembali ketika dirinya dan Victoria berbincang tadi siang, bahkan dirinya tidak pernah berfikir akan bertemu wanita satu itu.
Sesaat, Sungmin tidak bisa berkata apapun. Hampir genap seminggu mengenal Kyuhyun, ia mendapati pria itu memiliki beragam sisi. Sisi pemimpin cerdas, kritis dan ambisius yang berhail memenangkan Award sebagai Prime Minister di Colombia. Sisi pria yang menyayangi keluarganya― sama sepertinya sebelum kakaknya meninggal. Sisi pria yang selalu adu kata-kata dengannya.
Dan sungmin peduli pada pria ini sekarang!
"Malam itu, maafkan aku."
Kyuhyun mengawali pembicaraan, mereka sering merasa canggung, tapi tak pernah secanggung saat ini.
"Kau menyesal melakukannya?" tanya Sungmin membuat Kyuhyun langsung menatap si pengemudi.
Tak pernah sekalipun terlintas di kepalanya Sungmin akan bertanya dengan sangat ambigu seperti ini.
Sungmin yang merasa Kyuhyun tak menjawab pertanyaannya ikut mengatupkan bibirnya. "I don't know," lirih Kyuhyun akhirnya setelah menunggu sekitar hampir lima menit.
"Aku menyesal." Jawab Sungmin dingin membuat jantung Kyuhyun berdegup cepat sekali bahkan kali ini sedikit terasa sakit dan agak ngilu.
"Aku tahu kau akan jawab itu."
Sungmin sudah memperingatkannya kalau ini salah sedari awal dan berhenti sebelum terlalu jauh, tapi sepertinya alarm seperti itu ampuh dan sekarang ia merasakannya.
"Kau ingin turun dimana?"
Kyuhyun seperti navigasi yang mengarahkan Sungmin akan belok dan akan ke arah mana. Sungmin mengikuti ucapan pria itu tapi terkadang Kyuhyun selalu membuatnya memutar arah karena pria itu sengaja lambat memberitahunya kapan ia akan belok. Alhasil ia dan Kyuhyun menghabiskan hampir satu jam lamanya yang bahkan Sungmin hanya perlu tigapuluh menit untuk sampai kesini.
Sepi dan gelap di tepi pantai. Ada sekitar pejalan kaki yang terkadang melewati jalan ini, mungkin karena sudah malam.
Kyuhyun memilih keluar dari mobil dan berjalan menuju bibir pantai, melepas jas hitamnya. Dan duduk menikmati angin laut dan suara riak ombak di malam hari. Sungmin memperhatikan Kyuhyun dari dalam mobilnya. Naluri ingin menghampiri pria itu begitu kuat
"Kau suka ke pantai?"
Sungmin mendudukkan dirinya tepat di samping Kyuhyun, "Aku suka ke pantai." Seru sungmin memainkan pasir lembut di tangannya.
"Kenapa kau suka?"
"Di sinilah kehidupan keduaku dimulai." Kyuhyun memperhatikan Sungmin, saat helai-helai rambut milik pria manis itu berkibar tertiup angin pantai, sangat halus hingga diterbangkan sekencang apapun, rambut itu tak tampak berantakan. Wangi vanilla yang begitu ia kenal bahkan sudah menjadi candu baginya.
"Kehidupan yang bagaimana?" tanya Kyuhyun penasaran bahkan tatapannya tak sedikitpun lepas dari rambut Sungmin.
Sungmin tersenyum kecil, "Apa sebaiknya dulu aku tidak perlu selamat? Tidak perlu hidup dengan kepura-puraan seperti ini. Melakukan sesuatu yang aku suka di atas sana, memperhatikan orangtuaku dan sungjin dari atas sana. Mendampingi mereka setiap kali merasa bersedih meski mereka tak pernah merasakan keberadaanku."
Kyuhyun tersentak kaget.
"Tidak. kau justru membuat orang yang kau tinggalkan begitu banyak menanggung beban. Kesedihan, kekecewaan, dan tangisan. Dan kau diatas sana hanya tersenyum. Kau kira berapa banyak yang lebih menginginkan mati jika semua anggapanmu benar."
Lebih memilih merapatkan tubuhnya karena malam semakin larut dan udara dingin begitu kuat menghantamnya. "Karena itulah aku hidup hingga detik ini. Anggapanku itu sirna akan sosok malaikat, sosok yang tak ku ketahui wajah, suara, bahkan keberadaannya. Sosok itulah yang membuatku ingin lebih menghargai hidup walau sekeras apapun mereka."
Keterbukaan sungmin membuat Kyuhyun tak dapat menahan lengkungan bibirnya. Bahkan ini merupakan kemajuan mereka berdua, Sungmin bahkan tak merasakan lagi hormonnya yang begitu tak terkontrol, merasa baik-baik saja saat berbicara panjang lebar dengan Kyuhyun.
Sekian lama Sungmin memendam ini dan pria bernama Cho Kyuhyun berhasil membuka mulutnya yang terkunci, bahkan Sungmin ragu kunci itu sudah hilang kemana. Tanpa sadar sekarang Sungmin sedikit mempercayai seseorang.
Kyuhyun mengambil segenggam pasir dan meletakkan pasir tersebut ke atas telapak tangan sungmin. Terus berulang –ulang membuat tangan Sungmin penuh dengan pasir. Sungmin yang tak terima begitu saja menarik pergelangan tangan kanan Kyuhyun dan melakukan hal yang dengan pria itu lakukan padanya.
Tanpa sadar tangan keduanya bertaut dan Kyuhyun lebih menyadarinya dulu, Sungmin terus saja menaburkan pasir di telapak tangan Kyuhyun dan pria arogan itu memperhatikan begitu asyiknya sungmin melakukannya.
Saat tak ada pergerakan lagi dari Kyuhyun, Sungmin memberanikan diri menatap pria disampingnya, saat itulah perasaan aneh muncul kembali. Sungmin mulai melepas pegangannya pada tangan Kyuhyun namun pria itu menahannya dan masih memandangi Sungmin.
"Kau sungguh menyesal?" suara serak terdengar dari cara Kyuhyun menyampaikan tanya itu.
Sungmin berkedip satu kali, dua kali hingga ketiga kalinya nafasnya seolah terhenti. Kyuhyun kembali menciumnya kali ini bukan lagi di sudut bibirnya.
Bibir lembut keduanya menyatu sempurna, hanya menempel tapi panasnya sanggup menghilangkan udara dingin di sekitar Sungmin sekarang.
Kyuhyun melepaskan tautan bibir itu dan menempelkan dahi keduanya, tatapannya sungguh tak bisa beralih dari foxy eyes milik Sungmin. Dirinya yang selalu beraura sensual kalah oleh tatapan polos itu. Mata Kyuhyun mulai sayu dan kembali mendekatkan bibirnya pada bibir manis selembut permen kapas.
Bibir kedua insan yang semula hanya saling menempel, bagai lem kuat yang tak bisa begitu saja lepas Kyuhyun memiringkan kepalanya, mengecap bibir manis Lee Sungmin. Menggerakkan dengan begitu sensual setiap lekukannya. Sangat pelan mengulum bibir atas dan bawah pria manis didepannya. Begitu hati-hati akan benda lembut yang sedang dia rasakan ini.
Jika kyuhyun begitu aktif maka Sungmin masih begitu pasif, sedari tadi bahkan matanya belum tertutup sedangkan pria arogan yang tengah menggerakkan bibirnya memejamkan penuh kedua matanya. Tatapan Sungmin mulai sayu, bahkan tubuhnya nyaris ambruk ke belakang jika tengkuknya tak ditahan oleh Kyuhyun, menambah begitu dekatnya wajah dan tubuh mereka sekarang.
.
.
.
Beberapa jam yang lalu
Sungmin bahkan hampir jatuh dari kursi kerjanya saat melihat tamunya kali ini. Sekertarisnya bahkan sudah menghubungi akan ada tamu dari perusahaan Korea Housing Corporation yang membawa stempel perusahaan.
Namun ia tidak menyangka wanita yang kemarin malam ia temui bersama Kyuhyun berada di depan pintunya.
"Apa masih butuh beberapa menit lagi untuk mengingat siapa aku?"
Sungmin tersenyum lebar dan mempersilahkan tamunya untuk duduk di sofa dan meminta sekertarisnya membawakan dua minuman.
"Maafkan ingatanku yang begitu lamban ini, Victoria"
"Panggil aku Vic saja" wanita itu terlihat begitu berwibawa, sangat anggun dan cerdas begitu terlihat dari penampilannya. Victoria memperhatikan Sungmin begitu lekat, "Aku sudah tau sejak kyuhyun memperkenalkanmu. Kau sungguh begitu manis Sungminnie."
Kyuhyun?
Ya! mengingat wanita ini Assistant Manager di perusahaan pria itu. "Kau mengenalku sejak kapan? Apa saat dibar itu atau... " ucap Sungmin terputus.
"Atau... dia yang membicarakanmu terus menerus denganku dan Changmin di kantor."
"Membicarakanku?"
Anggukan Victoria menjadi jawaban tersendiri dan Sungmin akan begitu terlihat penasaran jika ia bertanya apa yang Kyuhyun bicarakan tentangnya pada wanita ini.
"Aku begitu terkejut saat Kyuhyun terus-menerus membicarakan orang lain. Sungguh bukan dirinya saat itu. Aku sempat berpikir mungkin ini salah satu wanita yang dia taksir, tapi ternyata seseorang itu lebih manis dari wanita manapun."
Menggingit bibirnya adalah jalan satu-satunya kini. Sungmin bukan pria bodoh yang tidak peka akan 'seseorang' yang dimaksud Victoria.
"Kyuhyun memang suka seenaknya, aku dan Changmin mengenalnya sejak kecil. Tapi ia semakin seenaknya sejak kakaknya pergi. Dia begitu marah dan terpukul saat itu, ia selalu bilang ini salah kakaknya yang membuatnya seperti ini. Namun aku yakin itu hanya sekedar ucapan, ia hanya merindukan kakaknya yang begitu ia cintai."
Sungmin mencoba mengingat figura foto Kyuhyun saat lulus senior high school tanpa kakaknya dan tanpa tersenyum. Pantas saja foto itu terlihat lain daripada yang lain.
"Kakak Kyuhyun di luar negeri? Apa tidak pernah pulang dan menemui Kyuhyun?" pertanyaan Sungmin membuat Victoria tersenyum kecil.
"Kalau hanya luar negeri atau ke ujung dunia pun Kyuhyun pasti menjangkaunya. Namun dia tidak bisa di lihat dengan penglihatan, hanya terasa di dalam hati Kyuhyun."
Membulatkan kedua bola matanya, "Itu artinya... ia sudah... meninggal."
Kembali anggukan Victoria menjadi jawaban. Sungmin menunduk dan meminta maaf karena mengungkit ulang cerita, namun Victoria menggeleng dan kembali tersenyum seperti biasa.
Tak terasa hampir menghabiskan jam makan siang, Victoria tanpa sadar membicarakan Kyuhyun dari A sampai Z. Bagaimana Kyuhyun dulu, seperti apa Kyuhyun dulu dan latar belakang Kyuhyun dulu yang Sungmin yakin pria itu tak akan pernah menceritakan hal seperti ini kepadanya.
.
.
.
"Kenapa kau tidak menyukai pantai, Kyuhyun?"
"Sesuatu membuat seseorang yang kucintai hilang selamanya di pantai ini."
.
.
.
TBC~
Hi~ ketemu di chap 3
Minggu-minggu ini aku lagi ngerasa kehilangan(?) jadi mood mau publish sering ketunda ditambah tri sekarang ngga bisa buka FFN jadi mesti ngorek(?) wifi di jalan.
Masih ngga berhenti ngucapin makasih karena masih juga ada yang baca fic ini yang udah tau bikin mata sakit o.o
Untuk Melsparkyu :
Dari chap1 lalu chap 2 ... kenapa kamu bisa nangkep yang ada dipikiranku . apa cerita ini terlalu pasaran(?) makanya bisa kebaca jalan ceritanya, kamu orang yang selalu hampir tepat tapi ngg tepat banget ya haha~ well, sini aku peluk .
Untuk reader lainnya yang hampir bisa nebak, aku kasih kiss satu-satu.
Untuk Sitara1083 :
Bingung kan? Haha semoga ngerti di chap ini, musical belum dilanjut nunggu aku punya anak dari sungjin dulu.
Untuk ndah951231 :
Ya ampunnn~ di mana rumahmu sini aku peluk xd aku mau juga tuh stuck nulis #ditabook
Ngga lah aku sayang reader yang sayang aku ... tapi ngg tau nanti gimana O.O
Unruk Zahra amelia :
Tulisanku masih belum bisa di mengerti kok unn hehe~ pas bilang bahasanya agak dewasa dan bilang aku udah gede ... aku ngg tau nih gede bagian mananya O.O maacih repiewnya unn .. benerin kalimat langsung emang susah xd but I try. Salam kecup :*
Special sayang dan cinta buat yang review, follow dan favorite
Sign, Najika
