Perfect
.
.
FANFICTION
Cho Kyuhyun dan Lee Sungmin
YAOI – BL
Bad diction and Typo
.
.
4
.
.
.
"Apa ini waktunya?"
Pria paruh baya itu tidak memandang lawan bicara secara langsung, dia lebih memilih memperhatikan gedung pencakar langit dan kendaraan lalu lalang di bawahnya serta kerlap-kerlip indahnya kota Seoul di malam hari.
Yang ditanya masih menampilkan raut datar, tak ada niat sedikitpun untuk membuka bibirnya.
Dari bayangan pantulan kaca besar pria paruh baya itu hanya tersenyum miris, mendapati tak ada respon dari anaknya lantas ia mulai membalikkan tubuhnya. Berjalan pelan lalu menduduki kursi yang sudah lebih dari Tigapuluh tahun ia tempati sebelum itu di serahkan kepada anak lelaki satu-satunya.
"Hanya bisa bertahan selama 8 tahun? Pertahananmu, kesabaranmu dan pengorbananmu hanya sampai disini, Kyuhyun."
Ruangan yang gelap, hanya bantuan sinar bulan yang terpantul pada kaca besar untuk bisa melihat satu sama lain.
"Pengorbanan?" Kyuhyun tersenyum kecil, "Aku lupa kalau aku ini hanya korban yang perlu berkoban hanya demi sebuah pengorbanan. Lucu sekali, bukankah dari awal ayah membentukku untuk menjadi seorang yang sempurna? Kenapa tiba-tiba membicarakan kelemahan dari sempurna itu sendiri?"
"Kau sudah DuapuluhTujuh tahun. Tidak pernah sekalipun kau memikirkan apa maksud ayah melakukan ini padamu? mengirimmu ke Colombia, mengajarimu banyak hal agar bisa menjadi penerus perusahaan. Tidak sedikitpun pikiran positif ada di dalam kepalamu, Kyuhyun?"
Cho Yeonghwan― ayah Kyuhyun membuang nafas pelan, "Lee Sungmin," ucapnya membuat Kyuhyun begitu cepat menoleh memperhatikan wajah sang ayah.
"Ayah mengenalnya?" tanya Kyuhyun was-was.
"Lebih dari kau mengenalnya."
Kyuhyun memejamkan mata, pertanyaan konyol hinggap di kepalanya beberapa menit yang lalu 'Bagaimana bisa ayahnya mengenal Sungmin bahkan lebih?' dan itu langsung terjawab oleh dirinya sendiri. Ayahnya yang tahu segalanya tentang kehidupannya mustahil jika tidak menyentil orang-orang yang berada didekatnya, termasuk Sungmin.
"Lee Sungmin, dia teman yang berharga. Ayah sudah janji untuk tidak mempermasalahkan dengan siapa aku bergaul, jadi fokuskan saja intaian ayah hanya padaku seorang. Jangan sentuh teman-temanku juga."
Senyum lemah terpatri di wajah Tuan Cho, "Kapan aku menyentuh teman-temanmu, Kyuhyun? Kau begitu menganggap ayah seorang monster yang bisa melukai siapapun, sudah kubilang tanamkan sifat positif dalam dirimu."
"Bagaimana aku bisa berpikir positif kalau dari semua yang kulakukan bukan atas dasar keinginanku. Semuanya memaksaku melakukan ini dan itu, membuatku tidak mengerti sampai sekarang kenapa aku masih bisa bertahan hidup."
"Kyuhyun," lirih sang ayah, "Jangan bicara bodoh, nak. Ayah dan semua keluarga menyayangimu. Tapi— ada saatnya kau berpikir dunia ini tidak hanya berisi kesenangan, tidak harus mengikuti semua keinginanmu. Ketika kau di hadapi pilihan yang bertentangan dengan impianmu meski awalnya sulit, kau harus bisa menikmatinya."
Kyuhyun menyadari raut wajah ayahnya yang terlihat sangat lelah. Inilah kelemahannya sendiri, ia tidak pernah sanggup melihat orangtuanya— apalagi ayahnya tertekan akan perilakunya, karena itu sebisa mungkin ia selalu menyimpan beban dan sakitnya sendiri. Tapi iblis dan setan dalam hatinya yang terbentuk sejak hidupnya berbanding terbalik sering memaksanya keluar, mengutarakan kata-kata yang menyakitkan meskipun bukan itu keinginannya.
Kepala kyuhyun terasa sakit, ia bingung harus berperilaku seperti apa.
Membenci semua yang terjadi padanya selama delapan tahun terakhir ini, karena semua impiannya, mimpinya hilang dalam sekejap mata dan punah tak berbekas. Menyalahkan orangtuanya terutama kakaknya.
Atau, membiarkan pikiran positif mengisi jiwa dan pikirannya, menganggap semua ini takdir hidupnya. Dan tuhan merahasiakan kebahagiaan di akhir agar menjadi kejutan nantinya.
"Ayah takut aku akan seperti kakak?" Kyuhyun mengambil nafas sebanyak-banyaknya, "Tidak Akan, aku tidak akan bunuh diri seperti yang kakak lakukan. Karena sekarang, aku memiliki tujuan hidup."
Sepertinya iblis yang melekat dalam hatinya belum ingin berdamai dulu. Lihat! Kali ini Kyuhyun mengeluarkan kata-kata yang bisa dipastikan menyakiti sang ayah dengan membuka luka lama.
.
.
.
Kyuhyun memasuki mobilnya dan memasang earphone di telinganya, menyalakan mesin dan melajukan audi hitam itu meninggalkan pelataran parkir kantornya. Menekan ID caller seseorang, ia mencoba menghubungi.
"Kau dimana?" tanyanya saat telefonnya tersambung.
Diam beberapa saat, "Cari saja aku kalau kau bisa." ucapnya sinis dari penerima telepon di seberang sana.
"Ingin bermain dulu, Lee Sungmin? Aku sedang tidak mood sekarang."
"Bukan urusanku."
Kyuhyun menggenggam kuat kemudi dengan kedua tangannya. Ia benar-benar dalam keadaan air panas yang tengah mendidih, emosinya sedang tidak dapat terkontrol sekarang. Namun otak jeniusnya masih bisa bekerja saat ini.
"25-1, Ilsan-gu, Goyang-si, Gyeonggi-Do, blok 011. Apa aku perlu mengetuk pintu dan bertanya 'apa orangtuamu sudah tidur'?"
Hening.
"Lucu sekali Kyuhyun. Kau benar-benar membuat hidupku tidak tenang."
Kyuhyun memberhentikan mobilnya pada pinggir jalan. Tanpa mematikan mesin ia mengamati ramainya kota Seoul karna waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam dan ini adalah satnight.
"Aku harus bertemu denganmu," lirih Kyuhyun.
"Kenapa aku?"
Benar! Kenapa Sungmin? Dia masih punya pilihan bertemu dengan ketiga sahabatnya, Minho, Changmin ataupun Jonghyun. Bahkan kyuhyun hampir selalu― setidaknya menemui salah satu dari mereka jika suasana hatinya sedang tudak menentu.
Kyuhyun diam terlalu lama membuat Sungmin bingung, "Aku berada di toko buku daerah Daehwa-Dong. Sepuluh menit lagi aku pergi."
"Tunggu disana sampai aku datang." Setelah itu sambungan terputus dan Kyuhyun melajukan lagi mobilnya ke arah tujuannya dan itu hanya butuh sekitar lima menit dengan kecepatan mencapai 110km/jam.
.
.
.
Toko buku yang dimaksud ternyata sebuah Mall yang tidak terlalu besar namun kesan mewah masih menghiasi penglihatan sejauh mata mengelilingi pusat perbelanjaan ini. Toko buku berada di lantai empat, sebenarnya bukan karena pria itu tahu atau asal menebak. Tapi itulah gunanya pusat informasi.
Ketika sampai di lantai tersebut dia mengedarkan pandangannya, rak-rak buku di sekeliling—yang tingginya hingga sampai dagunya membuatnya sulit untuk melihat sebagian orang-orang disekitarnya, begitupun seseorang yang dia cari tak nampak batang hidungnya mengingat tubuh orang itu hanya sebatas pundaknya saja.
Saat mulai melangkah, seseorang tiba-tiba memanggil namanya, "Cho Kyuhyun," serunya "Tumben." Tambahnya singkat membuat yang dipanggil mendecih pelan.
"Aneh melihatku di sini?"
Orang itu terkekeh lalu menunjukkan buku yang tengah ia pegang itu ke hadapan Kyuhyun. "Aku membeli buku kalau kau tanya."
"Untungnya aku tidak bertanya." Kyuhyun kembali mengedarkan pandangannya dan ia hampir melupakan sepuluh menit yang dijanjikan Sungmin padanya.
"Kau mencari sesuatu?" tanyanya lagi, bahkan Kyuhyun bingung kenapa orang ini masih terus di sampingnya.
"Yeah! kau menunggu seseorang?" tanya Kyuhyun balik mengingat orang itu sudah menggenggam buku— sastra berbahasa asing yang Kyuhyun pastikan itu buku yang dicari.
Pria tegap dengan tinggi melebihi Kyuhyun, lalu wajah asia yang oriental serta lesung pipitnya yang memikat wanita itu terkembang lebar, "Sebenarnya dia yang sedang menunggu seseorang, namun aku menemaninya menunggu orang yang di tunggu itu."
"Wah! kau baik sekali." Ejek kyuhyun kemudian tersenyum kecil, "Apa dia cantik? Atau religius melebihimu? Oh wow biar ku tebak, apa dia membuat seorang Choi Siwon mendadak tak berkutik?" tebak Kyuhyun, matanya masih mengedar memperhatikan orang yang berlalu-lalang.
"Dia cantik... iya, bahkan manis. Dia religius... aku tidak tahu, tapi yang pasti dia sopan." Terangnya sambil terus mengulum senyum tipis yang memikat dan Kyuhyun berani bertaruh wanita yang— melewatinya dan pria disampingnya itu harus di beri nafas buatan karena pesona Choi Siwon terlalu mengerikan.
"Ku tebak orientasimu sudah sembuh? Maaf mengungkit ini, ku harap kau tahu sifatku."
Choi siwon— pria yang memanggil Kyuhyun saat tiba di toko buku ini, yang masih berdiri di samping Kyuhyun memegang buku berbahasa asing menghadap pria itu. Merasa biasa saja saat disinggung Kyuhyun mengenai orientasinya. Yah~ kalau boleh di bilang dia gay. Kyuhyun yang awalnya kaget hanya mengernyit heran, siapa yang tidak heran jika pengusaha nomor satu Korea adalah seorang yang memiliki orientasi menyimpang. Kakak dari Choi Minho— sahabatnya itu bisa di bilang sempurna secara visual, materi serta sangat religius. Tapi siapa sangka di balik itu semua menyimpan suatu hal tabu yang masyarakat masih memandang melalui sudut matanya akan orang-orang yang seperti itu.
"Siapa bilang, aku masih sama saat kau tahu aku seperti apa. Sebenarnya aku sudah tidak akan mendekati siapapun atau melirik siapapun. Aku hanya mencintai 'dia' hingga sekarang."
Siwon terlihat menahan pedih ketika Kyuhyun menangkap sinar mata pria itu. "Kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan, hyung. Kurasa 'dia' mengerti akan keputusanmu nantinya."
"Yah~ kuharap begitu. Kibum— aku selalu setia hingga sekarang bahkan sudah hampir empat tahun sejak kecelakaan itu. tapi entahlah saat melihat sosok itu membuat aku teringat kibum, manisnya saat tersenyum atau dinginnya dia ketika sedang terganggu. Tapi intinya aku hanya ingin memastikan seperti apa seseorang yang dia tunggu hingga membuatnya mengundurkan pulang sejenak. Aku sedikit iri saat dia resah setelah mematikan ponselnya itu."
Kyuhyun agak kaget saat Siwon kembali menyebutkan nama Kibum lagi, saat itu Kyuhyun pikir pria itu tak pernah lagi mau menyeruakan nama pasangannya tersebut karena yang teringat adalah perasaan di tinggalkan.
Pasangan. Itu berarti mereka sudah menikah, namun Kyuhyun bingung menyebut mereka suami istri— karena keduanya seorang pria.
"Sepertinya sebentar lagi aku akan jadi konsultan biro jodoh," Kyuhyun melirik jam di pergelangan tangannya. Bagus! Duapuluh menit sudah ia berbincang dengan topik yang tak di sengaja ini, hingga ia melupakan tujuannya kemari.
Siwon terkekeh geli, "Kau pasti cocok dengan jas putih itu. Kau bilang mencari sesuatu, buku apa yang kau cari?" tanyanya.
"Seseorang, bukan buku. Kau menghambat waktuku hyung, aku harap dia belum pulang."
"Wow wow! Setahuku panik tidak ada di dalam kamus Cho Kyuhyun. Ku tebak dia istimewa."
Kyuhyun tidak menjawab lalu mengeluarkan ponselnya lagi, ia harus menghubungi Sungmin atau pria itu memang benar-benar sudah pergi dari tempat ini maka sia-sia saja ia berputar dan berkeliling jika orang yang dicari tidak lagi berada di sini.
Telepon tersambung tapi tak ada jawaban, hingga panggilan berikutnya terdengar suara Sungmin dari seberang telepon, "Apa?" tanyanya datar.
"Aku harap kau masih di toko buku," ujar Kyuhyun was-was dan matanya meneliti orang-orang yang perlahan mulai keluar dari toko buku karena sepertinya waktunya tutup.
Terdengar nafas berat di pendengaran Kyuhyun, "Arah jam 9, aku melihatmu." Katanya lagi dan sebelum Kyuhyun menoleh arah yang di maksud tiba-tiba pria disampingnya itu berteriak keras memanggil seseorang.
"Oh! Sungmin Hyung!"
Dan kyuhyun tak pernah sekaget ini saat menyadari arah jam 9 sama dengan seruan Siwon. Tidak sebelum pria di sampingnya juga menyeruakan nama yang sama.
~o~
Sungmin kesal setengah mati, dia sudah tidak mood lagi berkeliling mencari buku. Sungmin hanya menghabiskan waktu luang yang biasanya pergi ke bar Zhoumi kini berada di salah satu toko buku dekat daerah rumahnya.
Sejak beberapa menit sebelum Kyuhyun menelepon, dirinya bahkan sudah akan meninggalkan tempat ini, namun urung setelah mendengar suara pria itu yang nampak kacau.
Siwon —ia kebetulan bertemu dengan pria itu saat berada di bagian rak khusus berbahasa asing, pria itu menyapa dirinya tentu saja Sungmin membalas sopan sapaannya. Sudah beberapa kali sebenarnya bertatap muka dengan pria ini mengingat mereka berdua orang penting di perusahaan masing-masing. Pertemuaan awal itu ketika Sungmin dan Sungjin menghadiri ulang tahun perusahaan Siwon, pertemuan kedua ketika diadakannya pertemuan resmi dengan para Menteri kebudayaan, pertemuan ketiga saat keduanya menjalin kerja sama dan sepertinya ini pertemuan keempat.
Pria itu menawarkan dirinya menemani Sungmin saat tahu Sungmin menunggu seseorang, awalnya Sungmin keberatan, ia tidak suka merepotkan atau bahkan membuang waktu orang lain. Tapi Siwon tetap bersikeras dan Sungmin hanya tersenyum kecil. Lalu pria berlesung pipit itu meninggalkannyaa sebentar ke bagian kasir untuk membayar bukunya.
Kemudian karena terlalu bosan Sungmin memutuskan untuk ke depan toko buku sebelum teleponnya berdering dan ia tebak pasti Kyuhyun. Sungguh kesal setengah mati saat Sungmin melihat pria itu berdiri di arah jam 9 namun Kyuhyun tak menyadarinya.
Barulah ketika pria itu menemukannya menoleh ke arahnya, Sungmin mendapati wajah terkejut Kyuhyun, tidak hanya itu suara Siwon yang samar-samar memanggil namanya juga tepat di samping Kyuhyun.
Pertanyaan di kepalanya 'mereka saling mengenal' dan tentu saja karena keduanya sama-sama pemilik perusahaan terbesar, mustahil untuk tidak mengenal satu sama lain.
"Aku minta ini terakhir kalinya menyuruhku menunggu," ucap sungmin ketus ketika sudah di hadapan Kyuhyun.
"Salahmu, kenapa kau kalah tinggi dengan rak. Aku tidak bisa melihatmu dimanapun." Serobot Kyuhyun lalu tersenyum kecil.
Siwon mengernyitkan dahinya, pria itu yang memanggil Sungmin, lalu kenapa Sungmin jadi berbincang dengan Kyuhyun.
"Well, biar ku luruskan disini. Jadi sosok yang kau cari dan sosok yang ku temani adalah orang yang sama? Kebetulan sekali," seru Siwon dengan wajah ceria menatap Kyuhyun.
Dan Siwon tidak tahu apa yang terjadi antara Kyuhyun dan Sungmin atau lebih tepatnya Kyuhyun— orang yang beberapa menit lalu memberi nasehat akan cintanya.
.
.
.
Pukul sepuluh malam, setelah keluar dari toko buku Siwon terlebih dahulu pergi karena ada urusan di perusahaannya dan Sungmin sempat mengucapkan terima kasih sebelum mobil Siwon hilang pada pandangannya.
Kyuhyun memperhatikan keduanya dan ia mencoba mengingat lagi perbincangan dengan Siwon di toko buku tadi. Kyuhyun bersumpah semoga ia tidak mengatakan sesuatu yang— aneh mungkin.
Sungmin mengalihkan tatapannya yang semula pada mobil hingga menghadap wajah Kyuhyun. Dahi Sungmin berkerut tipis, "Apa melamun menjadi hobimu?" tanya Sungmin mengangkat sebelah alisnya.
"Sebenarnya tidak." Kyuhyun menatap Sungmin, "Naik mobilku," perintahnya dan ia mulai membuka pintu kemudi namun Kyuhyun masih melihat Sungmin diam di tempat.
"Tidak lagi Kyuhyun."
"Aku janji hanya sebentar. Sebelum tengah malam kau sudah ada di mobilmu sendiri atau mungkin juga di kasur empukmu."
Sungmin sempat bimbang, kejadian terakhir kali ia menaiki mobil Kyuhyun adalah dia pulang terlambat dan mengalami peristiwa memalukan walaupun sudah sembilan hari yang lalu sejak kejadian itu terlewat.
"Kunci mobilmu kau pegang sendiri," kata Kyuhyun meyakinkan Sungmin untuk terakhir kalinya.
Tak banyak bicara Sungmin membuka pintu dan duduk di sebelah kursi kemudi, begitu juga Kyuhyun yang langsung memasang setbelt. "Apa yang kau lakukan tujuh hari ini tanpa bertemu aku?" tanya Kyuhyun.
"Aku seperti hidup di surga."
Kyuhyun melirik Sungmin sejenak, "Jadi, apa kau merindukanku?" pertanyaan Kyuhyun sontak membuat Sungmin menutup pintu mobil lumayan keras.
"Sepertinya tidak." kata Sungmin mengambil setbelt.
"Kalau begitu hanya aku yang merindukanmu."
Gerakan Sungmin memasang seatbelt harus terhentik sejenak. Ia merasa udara tiba-tiba menyempit hanya karena Kyuhyun mengatakan sesuatu yang— biasa tapi kenapa menjadi begitu— tidak biasa. "Kita mau kemana?" tanya Sungmin pada akhirnya.
Mobil memutar arah hingga pembelokan, membelah pekatnya kota Seoul dan padatnya lalu-lalang mobil di malam satnight ini. Kemudian Kyuhyun melaju kencang tanpa menjawab pertanyaan Sungmin.
.
.
.
"Konser musik?"
Kyuhyun mengangguk lalu menaiki tangga, di ikuti Sungmin yang masih bingung dengan arah jalan pria di depannya itu. mereka bisa menaiki lift mengapa harus susah-susah menaiki anak tangga darurat di belakang Ballroom besar sebuah gedung musik.
"Terakhir kali aku membawamu ke klub malam yang penuh orang kau hampir oleng, jadi ku tebak kau tidak suka keramaian. Saat ini lift dan ballroom pasti di padati banyak orang. Seperti kumpulan semut kalau kau percaya padaku." Sahut Kyuhyun seakan bisa membaca pikiran Sungmin.
Sungmin mengangguk dan tanpa menghitung Sungmin sadar ia sudah berada di lantai tiga. Belum pernah seumur hidup dia menaiki tangga padahal ada lift yang bisa mengantarnya ke atas. pengalaman barunya.
Saat di lorong dan di ruang ganti Kyuhyun langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu sebelumnya, "Hei Kyu!" teriak salah satu seorang di dalam ruangan.
Masih berdiri di ambang pintu Sungmin memperhatikan Kyuhyun dan temannya yang memiliki rambut agak pirang itu saling bercanda. Selain itu ada sekitar empat orang lagi di dalamnya memegang alat musik masing-masing.
"Sungmin, masuklah." Kyuhyun menyadarkan lamunannya. Kemudian dengan canggung— lagi Sungmin melangkah masuk, bahkan ini lebih canggung saat dirinya bertemu Victoria dan Changmin. Apa Kyuhyun berniat memperkenalkan teman-temannya lagi?
"Hallo, aku Jonghyun. Sahabat bocah setan ini." Pria yang dari tadi berbincang dengan Kyuhyun tersenyum lebar dan sangat ramah begitu penilaian pertama Sungmin saat melihatnya.
Jonghyun mengulurkan tangannya dan Sungmin yang mengerti juga ikut menggerakan lengannya, tapi sebelum Sungmin menyalami telapak tangan itu Jonghyun terlebih dahulu menampar pelan telapak tangan kanan Sungmin.
"Itu cara kami para pria berkenalan," terang Jonghyun terkekeh geli saat melihat wajah bingung Sungmin melihat cara perkenalan itu.
Kyuhyun berdehem sebentar, "Karena aku datang, semoga konsermu lancar hari ini. Aku ke bangku penonton dulu. Good luck."
"Apa-apaan itu, sudah delapan kali sejak aku mengadakan konser dan kau baru datang hari ini. Ku harap tidak terjadi apa-apa dengan konserku kali ini." Canda Jonghyun di selingi tawanya.
Akhirnya Kyuhyun dan Sungmin sudah mendudukan dirinya di kursi VIP, Jonghyun memberikan tiket kepada mereka tadi dan dia terlihat antusias ketika salah satu sahabatnya itu melihat pertunjukannya.
Dua jam itu terlalu sebentar menurut Sungmin, benar saja konser hebat dan kepiawaian Jonghyun dan teman-temannya dalam menciptakan alunan musik mampu merasuki jiwa siapapun yang melihatnya bahkan merasakannya. Sungmin sadar sekarang, mendapatkan ketenangan jiwa salah satunya adalah membiarkan musik menjadi sahabatmu dan dia akan membantumu menghibur.
Kadang Sungmin tersenyum lebar, tertawa dan berteriak kecil seperti penggemar mengejar seorang idolanya. Banyak ekspresi yang Sungmin tampilkan bahkan dirinya sendiri bingung kenapa bisa begitu menyenangkan.
Sungmin tidak sempat melirik Kyuhyun, dirinya terlalu asyik akan nada-nada yang berkeliling memenuhi kepalanya. Saat pertunjukan berakhir dan disertai tepuk tangan keras barulah saat Sungmin menoleh ke arah Kyuhyun... pria disampingnya tengah memandanginya lekat bahkan— sangat.
"Kau senang?" Tanya Kyuhyun pelan dan Sungmin mengangguk tanda pria itu benar bahwa dirinya memang senang. "Ayo pulang." Sambungnya kemudian mereka beranjak dari kursi penonton.
Saat tiba di mobil keduanya masih tampak diam, Sungmin melirik jendela di sampingnya memandangi pemandangan malam yang masih ramai oleh kerlap-kerlip lampu. "Kau harus memberitahuku lagi kalau Jonghyun mengadakan konser." Seru Sungmin bersemangat.
Kyuhyun melirik Sungmin sejenak lalu tatapannya ia alihkan kembali ke jalanan Seoul kemudian berkata, "Kau harus pergi sendiri lain kali," jawab Kyuhyun.
"tentu saja," Sungmin mengira Kyuhyun berpikir kalau dirinya tidak bisa pergi sendiri, "Jonghyun bilang ini pertama kalinya kau ke konsernya," ucap Sungmin mengawali pembicaraan dan menatap si pengemudi.
"Hmm," gumam Kyuhyun. "Aku tidak suka konser musik." Kemudian tersenyum miris.
Sungmin kaget setengah mati, "Apa! Kenapa?" tanyanya tidak percaya akan pendengarannya. Kenapa Kyuhyun membawanya ke konser musik kalau pria itu saja tidak menyukainya? Bathin Sungmin.
"Bukan apa-apa, hanya— tidak suka. Itu saja."
Jawaban Kyuhyun tak membuat Sungmin merasa puas, banyak pertanyaan yang berputar mengelilingi kepalanya hingga saat ia membuka mulutpun dirinya bingung ingin berkata apa.
"Kau bisa ceritakan. Kalau kau mau."
Kyuhyun mengatupkan kedua bibirnya, ia tak bersua sedikitpun saat mobilnya berhenti di pelataran parkir mall tempat mobil Sungmin berada.
"Sudah lewat tengah malam, pulanglah. Bukankah kasur empukmu memanggilmu?" kekehan Kyuhyun membuat Sungmin menyadari kalau pria itu tak mau menceritakannya, tapi Sungmin tak ambil pusing ia melepas seatbelt dan keluar dari mobil Kyuhyun menuju mobilnya.
Saat Sungmin menyalakan mesin mobil dan melihat ke depan, mobil Kyuhyun sudah melaju dan hilang dari pandangannya.
Dalam perjalanan pulang, Sungmin masih belum bisa menghilangkan akan alunan musik dari konser yang ditontonnya tersebut. Begitu tenang dan menggebu-gebu perasaannya. Hingga tanpa sadar beberapa meter lagi ia akan sampai dirumahnya, hari ini dirinya bahkan pulang lebih awal dari biasanya yang selalu pulang pukul tiga pagi hampir setiap hari karena minggu ini pekerjaannya menumpuk.
Saat hendak memasuki pagar rumahnya Sungmin melirik lampu jalan di seberang rumahnya padam, hal ini tentu sangat berbahaya apalagi kalau sampai yang melintasinya sedang tidak fokus.
Sungmin melihat rumahnya sepi dan menebak kedua orangtuanya sudah tidur. Lantas ia memasuki kamarnya sendiri. Membersihkan tubuhnya ia mengenakan piyama tidur. Waktu menunjukkan pukul satu pagi. Ia sangat ingin tidur nyenyak malam ini sebelum ponselnya berbunyi nyaring di sebelah meja nakas di samping tempat tidur.
Nama Kyuhyun terpampang di layar ponselnya, Sungmin mengernyit heran. "Baiklah, sepertinya kau memang tidak membiarkanku merasakan empuknya kasurku," Sungmin berkata saat menjawab panggilannya tersebut.
"Kau sudah mau tidur?"
"Yeah! Dan kau mengacaukannya."
Terdengar suara kekehan dari seberang sana tertangkap oleh pendengaran Sungmin. "Tebak aku dimana?" tanya Kyuhyun.
"Tidak tahu dan tidak mau tahu."
"Kau harus menghubungi layanan konstruksi, lampu jalan di seberang rumahmu harus di perbaiki. Semoga saja tidak ada korban jiwa karena hal ini."
Sungmin mengernyit bingung, sedetik kemudian ia membulatkan kedua bola matanya dan mendekati jendela kamarnya. Membuka tirai panjang dekat balkon dan melihat— meski samar sebuah mobil hitam terparkir di dekat lampu jalan yang padam itu, bahkan Sungmin ragu akan tebakannya bahwa...
Kyuhyun berdiri di dekat minimnya penerangan, menempelkan ponselnya pada telinga kirinya dan melihat dirinya dari bawah.
"Oh. Tuhan," gumam Sungmin tanpa sadar.
"Kenapa?"
"Kau gila ya?!"
"Sepertinya iya. Jadi, maukah kau mengulangi perkataaanmu saat di mobilku tadi?"
Sungmin diam sejenak mencoba mengingat perkataan yang dilontarkannya pada Kyuhyun, "Kau bisa ceritakan. Kalau kau mau." Gumamnya, Sungmin ragu kalau dirinya melihat Kyuhyun tersenyum mengingat jarak mereka sangat jauh antara pagar dengan rumahnya dan kamarnya yang berada di lantai dua.
"Kau akan mendengarkannya kalau aku cerita?"
Sungmin mengangguk, "Jika kau mau aku mendengarnya."
"Tentu, turunlah sebentar."
Masih belum memutuskan sambungan telepon Sungmin mencari jaket tebal miliknya di gantungan lemari, memakainya dan lekas menuruni tangga menuju lantai dasar. Masih sepi itu berarti semuanya masih berada di alam mimpi.
Membuka pagarnya Sungmin menghampiri mobil audi hitam milik Kyuhyun dan mendapati pria itu menyandarkan punggungnya di sana. Yang bisa Sungmin lihat dari penampilan Kyuhyun adalah pria ini belum mengganti pakaiannya sejak terakhir bertemu. Bahkan Sungmin berpikir macam-macam jikalau Kyuhyun mengikutinya kemari.
"Piyama yang bagus." Puji Kyuhyun saat melihat pakaian yang Sungmin kenakan.
Sugmin mendengus, "Aku harap kau tidak memintanya dariku. Warna ini favoritku." Kemudian dirinya sudah berada di samping Kyuhyun.
"Aku tidak suka pink, warna wanita."
"Baguslah, aku tidak khawatir kalau kau merebutnya dariku."
Percakapan adu mulut sudah biasa terjadi diantara keduanya, dan tampaknya mereka baik-baik saja akan hal itu. "Jadi, ceritalah. Aku mendengarkan." Kata Sungmin ikut menyandarkan punggungnya pada badan mobil hitam itu.
"Apa yang kau mau aku ceritakan?"
Sungmin menghela nafas pelan, "Kenapa kau meneleponku tadi dan memintaku menunggumu saat di toko buku? Kenapa kau benci pantai dan musik? Kenapa kau membawaku ke tempat-tempat yang sudah jelas tidak kau sukai?"
Dinginnya malam menerpa wajah Kyuhyun, "Aku meneleponmu karena aku ingin. Aku benci pantai dan musik itu tidak bisa ku ceritakan padamu detailnya, yang pasti keduanya membuatku benci akan hidup." Datarnya muka Kyuhyun sedatar ucapannya ketika menjawab pertanyaan Sungmin.
"Aku mengajakmu karena... aku pikir selain kita sama-sama terjebak akan 'kesempurnaan' dan mencoba keluar dari lingkaran yang menjerat tubuh kita berdua, kita memiiki kesamaan lain yaitu kau membenci apa yang aku benci ataupun kau menyukai apa yang ku sukai."
Sungmin masih diam mendengarkan.
"Tapi ternyata aku salah, meskipun kita sama namun kita tetap bertolak belakang seperti istilah duduk sama rendah. Berdiri tak harus sama tinggi. Karena untuk jadi satu. Kita tak harus sama." Jelas Kyuhyun membuat sungmin menganggukan kepalanya.
Sungmin menyukai pantai sedangkan Kyuhyun tidak.
Sungmin menyukai konser musik sedangkan Kyuhyun tidak.
Mungkin itu yang ingin Kyuhyun pastikan tentang Sungmin dengan membawanya ke tempat di mana pria itu tidak menyukainya.
"Ah! ada lagi, kau mungkin tidak tahu kalau aku tidak menyukai rumahku sendiri. Waktu itu aku membawamu ke sana. Jadi, apa kau menyukai rumahku?" tanya Kyuhyun memperhatikan Sungmin.
"Apa?!"
"Oh! Akan terlihat aneh kalau kau tidak menyukai rumahku. Warna-warni bunga ibuku dan air mancur yang di desain kakakku. Kau sempat kagum ketika aku melihatmu."
Sungmin memajukan bibirnya perlahan tanpa sadar, "Ya... aku suka rumahmu. Tapi disana aura kekosongannya begitu kentara. Aku merasa sepi."
"Kau benar." Kyuhyun mengamati rumah Sungmin, "Jadi, apa orangtuamu sudah tidur?" tanya Kyuhyun.
"Sudah." Jawab Sungmin cepat.
Kyuhyun menyilangkan kedua lengannya tepat di depan dada, "Ah! Sayang sekali padahal aku ingin menyapa mereka." Ujarnya terkekeh geli.
Sungmin memutar kedua bola matanya, pria di sampingnya ini mulai main-main dengannya, "Kali ini niatmu ingin mendekatkan diri atau bersikap sopan." Tanya Sungmin.
"Sepertinya opsi pertama."
Keduanya seperti mengalami De Javu. Sungmin menegakkan tubuhnya— yang sebelumnya bersandar pada badan mobil Kyuhyun. "Pulanglah. Sudah larut." Lalu ia berjalan mendekati pagar rumahnya.
"Sungmin!"
Yang dipanggil namanya menoleh ke belakang dan melihat Kyuhyun masih berada di tempatnya.
"Jangan sampai terpesona oleh Choi Siwon. Kalau itu sampai terjadi, aku bisa menyakitimu."
~o~
Sungmin memutar-mutar kursi kerjanya, menggengam pena yang terkadang ia tempelkan pada bibirnya. Dirinya sedang memikirkan kejadian semalam, tepatnya ketika kembali ke rumahnya setelah bertemu Kyuhyun.
Dan Sungmin tidak pernah sekaget itu bahkan jantungnya hampir lepas dari tubuhnya ketika melihat ayahnya berdiri di ambang pintu memperhatikannya.
.
.
.
Flashback
Beberapa langkah lagi Sungmin akan tidur nyenyak dalam kasur empuknya, melupakan hari yang melelahkan ini dan menghadapi hari esok.
Sungmin memundurkan langkahnya dan ekspresi terkejut begitu kentara di wajahnya saat melihat ayahnya berdiri di ambang pintu.
"A... ayah belum tidur" ucap Sungmin saat melihat sang ayah mengenakan piyama tidur.
Lee Chunhwa tersenyum, "Ayah terbangun dan ingin memastikan apa kau sudah pulang. Ibumu terlihat lelah hari ini jadi tidak menungguimu seperti biasa." Kekehan ayahnya membuat Sungmin gugup.
"Aku sudah pulang beberapa menit lalu. Maaf membuat ayah dan ibu repot, bahkan setiap hari menungguiku pulang."
"Kami melakukannya karena kami menyayangimu."
Sungmin tersenyum lebar, "Aku juga sangat sayang ayah dan ibu. Oh! Juga Sungjin."
"Pria itu... tamumu kenapa tidak di ajak masuk? Bahkan udara sangat dingin malam ini."
Jantungnya berdegup lagi dan Sungmin memberanikan menatap wajah ayahnya. Yang tertangkap olehnya akan wajah itu adalah sinar ketegangan dan ayahnya terlihat— gugup?
"Dia hanya sebentar, ayah."
Ayah Sungmin menganggukan kepalanya, "Ayah seperti mengenalnya. Dia putra Cho." Kemudian melirik Sungmin, "Benarkan?" tambahnya lagi.
"Iya. Cho kyuhyun namanya. Tapi— maksudku... dia temanku. Teman pertamaku."
Tak ada yang bersuara lagi, bahkan Sungmin bisa mendengar jantungnya berdetak aneh, kenapa dia gugup? Bahkan lebih gugup ketika ayahnya memergokinya meminum alkohol dan mabuk ketika menghadiri pesta kelulusan saat sekolahnya dulu.
"Ayah harap, ini pertemuan terakhirmu dengannya, Sungmin."
Nafas Sungmin seakan hilang, kenapa tiba-tiba ayahnya berkata seperti itu?
Apa ayahnya mengetahui akan pemberontakannya yang hampir tiga minggu ini?
Apa ayahnya sudah mengetahui rencana yang Kyuhyun buat— dan ia terlibat langsung di dalamnya untuk saling 'menyelamatkan' dalam arti melawan takdir kehidupannya?
Semua pertanyaan berputar-putar dalam otak Sungmin. Yang mana diantara pertanyaan tersebut yang sudah diketahui ayahnya. Sungmin merasa udara tiba-tiba menghilang di sekitarnya.
"Masuk dan tidurlah, selamat malam nak."
Setelah sapaan itu dan ayahnya kembali masuk ke dalam rumah Sungmin masih belum bergerak. Tubuhnya kaku dan kakinya terasa berat sekarang. 'Sepertinya kasur empukku tidak akan jadi empuk malam ini.' Lirihnya pelan.
.
.
.
Sungmin mengambil ponselnya diatas meja. Pertanyaannya dari semalam belum ada yang berhasil terjawab, membuatnya harus merilekskan sejenak kepalanya.
Sepertinya dia harus mengakhiri masa berontaknya, lagipula klub malam juga tidak membuatnya candu akhir-akhir ini karena kesibukan di kantor menyita waktunya banyak. Zhoumi juga tidak tahu akan kembali kapan dan apa dia akan kembali juga tidak pasti. Keinginannya untuk mencari klub lain pudar seketika, ia sudah sangat nyaman berada di klub Zhoumi. Maka dari itu mungkin dia memang harus meninggalkan jalan yang menentang takdirnya ini.
Sungmin juga harus memberitahu Kyuhyun bahwa permainan atau kesepakatan yang pria itu buat berakhir sampai disini. Sungmin tak mau melihat ayahnya terlihat kecewa, sudah cukup alarm akan ayahnya tadi malam yang Sungmin tahu kenapa wajah ayahnya menyiratkan ketegangan dan kegugupan. Jawaban Sungmin sementara adalah ayahnya tahu segala tentangnya dengan Kyuhyun akhir-akhir ini serta apa yang mereka lakukan.
Iya benar! Mungkin ini akhirnya. Ia harus menjauhi Kyuhyun seperti yang ayahnya itu pinta sekalipun sungmin tidak tahu alasan sebenarnya, namun alasan pribadi Sungmin harus menjauhi Kyuhyun adalah dirinya perlahan bergantung pada pria itu, membiarkan pria itu masuk dalam rotasinya, bahkan tiga kali menciumnya! Dan Sungmin memang harus menjauh dari pria itu sebelum semuanya tidak terkendali.
"Yeobseyo?"
"Kyuhyun," panggil Sungmin menempelkan benda persegi itu pada telinganya.
"Hmm," gumam Kyuhyun.
Sungmin menghela nafasnya, "Kita harus bicara," kata Sungmin mantap.
"Bicaralah," terdengar suara lemah tertangkap oleh pendengaran Sungmin, tidak hanya itu bahkan suara berat pria itu tampak lain dan nafasnya terdengar cepat sekali.
"Kau baik-baik saja? Suaramu... astaga jangan bilang kau sakit?"
"Aku tidak akan bilang. Tapi sepertinya iya, aku memang sedang tidak berdaya, kepalaku sakit dan untuk menggerakkannya saja begitu berat."
"Kau memang sakit, Kyuhyun." ujar Sungmin, "Sudah minum obat atau ke dokter? Oh! aku tahu jawabannya, pasti belum." Sungmin memukul dahinya pelan, baru saja Kyuhyun mengatakan kalau menggerakkan kepalanya saja sakit apalagi bangun dan ke dokter.
"Apa yang kau lakukan kalau sakit?"
"Hanya tidur," ucapnya lemah.
Sungmin menggigit bibirnya, ia ingin memberitahu Kyuhyun akan pemikirannya mengakhiri rencana konyol menurutnya dan meminta pria itu tidak menemuinya lagi. Namun untuk membuka percakapan itu saja sungmin merasakan perasaan untuk tidak hari ini. Kyuhyun sedang dalam keadaan tidak sehat untuk membicarakan hal ini, bahkan untuk bicara saja pria itu tampak kesulitan.
"Kenapa meneleponku? Rindu?" Canda Kyuhyun meski begitu sungmin masih bisa menangkap nada lemah dari suara pria itu.
"Kau dimana?"
"Apartemenku."
Menghela nafas pelan, "Kau mau... aku ke apartemenmu?" tanya Sungmin pelan.
Hening sejenak.
"Tidak keberatan kalau sekalian membawakanku obat? Aku tidak menyimpan obat-obatan."
Sifat perintah Kyuhyun masih belum hilang meski sedang sakit sekalipun, "Berikan alamat apartemenmu."
Sungmin mematikan ponselnya setelah mendengar dengan jelas letak apartemen pria itu. Lalu menghela nafas sekali lagi, kenapa ia sering sekali mengeluarkan karbondioksida berlebih hari ini.
.
.
.
Sungmin menekan bel namun tak jua pintu itu di buka pemiliknya. Ia memastikan sekali lagi nomor apartemennya dan dia memang tidak salah.
Saat ingin menekan bel lagi, tiba-tiba ada pesan masuk dalam ponselnya dan ternyata dari Kyuhyun. Sungmin membukanya dan membaca isinya.
Kodenya : 880203
Menekan kode yang dimaksud dan pintu bekerja. Lantas Sungmin membuka benda bercat abu-abu itu dan langsung melangkah masuk ke dalam. Matanya di sungguhkan oleh ruang tamu yang luas dan elegan, warna nya sangat mencerminkan kalau ini memang di tinggali oleh seorang pria.
Wangi maskulin Kyuhyun tercium dimana-mana.
Sungmin melihat Kyuhyun yang tengah tidur diatas sofa panjang sambil menutup matanya menggunakan lengannya. "Nice apartement." Puji Sungmin mendekati sofa dan meletakkan barang yang di bawa ke atas meja kaca dekat sofa.
Kyuhyun membuka kedua matanya dan tersenyum lemah, pria itu mencoba bangkit meski sulit. "Tiduran saja. Tidak usah dipaksa bangun." Raut khawatir Sungmin begitu terlihat oleh kedua mata Kyuhyun.
Mau tak mau Kyuhyun mengikuti perkataan Sungmin. Tubuhnya benar-benar lemah sekarang, terkadang penglihatannya gelap dan samar-samar. Kyuhyun akan seperti ini jika kedinginan.
"Kenapa kau bisa sakit?" tanya Sungmin lagi sambil tangannya membuka bungkus obat.
"Hanya menemui seseorang di depan rumahnya, lalu aku tidak tahu kalau malam itu prediksi cuaca mencapai angka minus."
Sungmin menyerahkan beberapa butir obat dan menuangkan air dalam gelas yang terletak di atas meja dan memberikannya pada Kyuhyun.
"Kenapa kau bisa ada di sofa?" tanya Sungmin.
"Minho— sahabatku yang membawaku ke sofa, dia sudah pergi sekarang."
"Dia meninggalkanmu?" seru Sungmin kaget.
"Aku yang mengusirnya. Dia berisik dan membuatku tidak bisa istirahat."
Sungmin menganggukan kepalanya kemudian melihat mata Kyuhyun mulai berat. Sepertinya efek obatnya mulai bekerja. "Tidurlah di kamarmu, sofa tak membuatmu nyaman."
Lagi-lagi Kyuhyun mengikuti perintah Sungmin, namun saat hendak berdiri tiba-tiba pria itu oleng dan kehilangan keseimbangan, dengan sigap Sungmin menangkap lengan Kyuhyun dan membantu pria itu berjalan.
"Astaga! Aku malu sekali saat sedang sakit begini. Sangat tidak berdaya."
"Bagus. Kau sadar sekarang."
Kyuhyun menyelimuti dirinya dan tersenyum lemah kepada Sungmin, "Could you stay for a while?"
Lagi dan lagi sifat pemaksa Kyuhyun tak akan pernah hilang.
Sungmin menutup pelan pintu kamar Kyuhyun dan kembali ke ruang tengah. Melirik jam di dinding menunjukkan pukul satu siang, itu berarti waktu makan siang sudah berakhir dan dirinya harus kembali ke kantor.
Bukankah ia sudah janji akan kembali ke awal, tidak ada lagi pemberontakan. Tidak boleh mengecewakan ayahnya.
~o~
Kyuhyun bangun dan mengucek kedua matanya, kepalanya masih berat tapi tak seberat tadi pagi. Ia melirik jam kecil di atas nakas samping tempat tidurnya.
"Jam tujuh malam," suara seraknya membuat ia haus. Tenggorokannya terasa kering saat ini, dengan langkah sedikit gontai Kyuhyun keluar dari kamarnya menuju ruang tamu. Menuang air dalam gelas dan meneguknya sampai rasa haus itu hilang.
Melirik meja di depannya, ia melihat banyak barang yang berhamburan memenuhi meja, bungkusan roti dan bubur instan serta minuman berenergi tak luput dari penglihatannya. Dan detik itu juga ia mengingat Sungmin.
Astaga! Dimana pria itu? Apa sudah pulang?
Kyuhyun memukul dahinya pelan, tentu saja Sungmin pulang. Pria manis itu akan bosan seharian disini, dan konyolnya Kyuhyun mengharapkan Sungmin tetap disini sampai ia bangun.
Ketika hendak masuk ke kamarnya lagi, Kyuhyun mendengar suara kode di tekan dan pintu apartemennya dibuka oleh seseorang. Orang itu berlari kecil dan tampak ngos-ngosan, lalu terkejut saat melihat dirinya yang sedang berada di ruang tengah.
"Su... Sungmin," seru Kyuhyun kaget, tidak percaya akan penglihatannya saat ini. Pria itu— yang ia pikir tak berada di rumah ini lagi— padahal ia mengharapkan sebaliknya masih mengenakan pakaian yang sama saat datang kemari tadi siang.
"Oh! Kau sudah bangun, How's your head?" nafas Sungmin masih tersenggal dan Kyuhyun bingung kenapa pria manis itu begitu terburu-buru bahkan berlari.
Sungmin langsung melesat ke dapur melewati Kyuhyun dan meletakkan belanjaannya ke atas meja dapur. Mengeluarkan isinya satu-persatu dan mulai berkutat akan itu.
Kyuhyun berjalan hingga pintu dapur, memperhatikan Sungmin yang begitu cekat. Bahkan Kyuhyun masih bingung sampai sekarang.
"Duduklah, aku membuatkan bubur dan yang kukira kau punya bahan untuk melengkapi bubur putih itu aku membuka kulkasmu." Sungmin menatap Kyuhyun, "Kau tidak keberatan aku mengacak-acak dapurmu kan?" tanya Sungmin sambil menuang bubur putih itu ke dalam mangkuk.
"Itu sebabnya aku keluar sebentar mencari bahan lain karena kulkasmu kosong. Kau hebat selama ini hanya makan es batu." Seru Sungmin meletakkan mangkuk bubur ke atas meja dan menyusun daging dan sayur sebagai pelengkap.
"Makanlah, aku jamin enak dan tidak ada racun."
Kyuhyun masih tetap berdiri di ambang pintu, lalu perlahan ia melangkah masuk. Namun bukannya duduk seperti kata Sungmin, Kyuhyun berdiri di depan tubuh Sungmin membuat sungmin harus menengadah untuk melihat wajah pria di depannya.
"Kenapa?" tanya Kyuhyun.
"Aku harus tetap disini sebelum kau bangun. Bukankah itu permintaanmu tadi?"
"Tapi aku tidak memintamu membuatkan bubur dan berlari keluar untuk mencari bahan lain."
Sungmin makin menatap pria didepannya lekat, "Itu yang ku lakukan saat Sungjin sakit, membuatkannya bubur. Sekarang makanlah."
Kyuhyun menggerakkan lengannya ragu-ragu, menyentuh lengan Sungmin hingga naik ke pundak. Meremasnya pelan. Sungmin mundur namun Kyuhyun mencegahnya.
"Kau yang seperti ini membuatku— bingung."
Melepaskan pegangannya pada pundak Sungmin, Kyuhyun menundukkan tubuhnya hingga kini wajahnya sejajar dengan wajah Sungmin, "Aku harus bagaimana?" kata Kyuhyun pelan. Nafasnya yang masih panas menerpa wajah Sungmin yang putih bersih.
"Yang harus kau lakukan adalah menjauhiku. Begitupun aku. Karena ini pertemuan terakhir kita."
.
.
.
.
TBC~
Hi~ chap 4 datang ...
Pada masih bingung ya? Kalo iya tanya aja ya...
Yang chap kemarin pada nebak-nebak itu... We Oo We beberapa ada yang betul.. tapi lihat nanti gimana ..
Special sayang dan cinta buat yang review, follow dan favorite
Sign, Najika
