Perfect
.
.
FANFICTION
Cho Kyuhyun dan Lee Sungmin
YAOI – BL
Bad diction and Typo
.
.
5
.
.
.
Yang harus kau lakukan adalah menjahuiku.
Begitupun aku.
Karena ini peremuan terakhir kita.
.
.
.
Dia masih bisa mendengar, masih mengerti bahasa yang digunakan, tapi yang tidak di pahami adalah maknanya. Maksudnya. Dan apapun itu yang bisa menjelaskan tiga kalimat keramat yang masih berputar di kepalanya.
"Sial!"
Stik portabel yang beberapa menit lalu masih di genggaman terhempas begitu saja mengenai televisi, mengakibatkan semua yang tengah di mainkan terhenti dengan otomatis.
"Ayolah Kyu. Jika kau tidak ingin main, hentikan ini. Kau membuatku di ambang batas kesabaran. Setiap kali aku hampir menang kau mengumpat dan mengacaukan semuanya."
Minho bersunggut kesal, bagaimana tidak jika tengah malam seseorang menghubunginya dengan paksaan, memintanya datang dan meladeni permainan kacau di apartemen ini dua jam lalu.
Kyuhyun mengacak rambutnya, tubuhnya masih hangat. Sakit yang dialaminya pagi hari tak kunjung membaik, matanya memanas dan dia belum makan seharian ini.
"Hidupkan televisinya, ayo lanjutkan." Kyuhyun mengambil stik dengan malas.
"Cukup. Aku ingin pulang jika kegilaanmu tak kunjung reda. Tapi aku tahu kau butuh aku, apa yang terjadi sebenarnya saat kau mengusirku tadi pagi dengan mengatakan aku berisik dan tiba-tiba memintaku datang kembali?"
"Tidak ada. Aku tertidur saat kau pulang dan bangun untuk menghubungimu."
Minho memutar kedua bola matanya, "Aku tahu aku tidak sejenius dirimu Kyu. Apa orang tidur bisa berjalan ke supermarket dan menghamburkan belanjaanya di atas meja ruang tamu, atau bisa memasak bubur yang masih tertata rapi di meja dapur? Aku paling kenal sosok Cho Kyuhyun yang bahkan memasak air saja tidak bisa apalagi membuat bubur."
"Minho, aku butuh kau disini bukan untuk berisik. Jadi tolong, kepalaku sakit bahkan— sangat. Jika kau bicara lagi kau benar-benar bisa meledakkan kepalaku."
Kyuhyun mengambil posisi nyaman meringkuk di atas sofa lebar miliknya, menutup matanya menggunakan lengannya. "Menginaplah jika mau. Aku ingin tidur." Perkataan terakhir dari Kyuhyun sebelum dirinya masuk ke dalam alam mimpi.
.
.
.
Jam tiga pagi Kyuhyun terbangun, yang tertangkap oleh penglihatannya adalah gelap. Sepertinya Minho mematikan seluruh lampu yang ada di apartemennya sebelum meninggalkannya.
Kyuhyun beranjak dari sofa, kakinya melangkah menuju kamar mandi, mencuci muka untuk menghilangkan panas di matanya. Dia masih belum sehat rupanya. Ingin kembali tidur ia melirik dapur yang lampunya tidak di matikan. Bermaksud untuk mematikannya sebelum makanan di atas meja dapur menarik perhatiannya, semangkuk bubur dengan daging dan sayur yang masih belum tersentuh olehnya sejak tadi.
Memasukan makanan itu ke dalam microwave untuk memanaskannya sebentar sementara dirinya mengambil segelas air putih dari dalam kulkasnya. Penuh, lemari esnya terisi bahan masakan dan beberapa makanan ringan lainnya. Dia tahu siapa yang melakukannya.
Bunyi 'tring' mengembalikan fokusnya untuk mengambil makanannya yang tengah ia hangatkan dan membawanya ke atas meja dapur. Sesuap demi sesuap bubur putih itu mengalir ke dalam tenggorokannya, rasanya hambar sama seperti hatinya.
Kyuhyun tidak mengerti, Sungmin berkata seperti 'Jangan dekati aku lagi' itu terlihat dirinya bukan sosok yang aman untuknya, hampir tiga minggu sejak pertemuan pertama dan melangkah sejauh ini, dalam artian mereka tidak berada dalam suatu hubungan romansa, hanya saling menarik keluar satu sama lain dan itu berhasil.
Kyuhyun butuh sembuh dan sehat, mungkin syaraf dalam otaknya tidak berfungi akibat sakitnya. Ya. Mungkin itu yang bisa dia simpulkan sekarang. Dia hanya butuh 'penjelasan lebih' akan perkataan Sungmin beberapa jam lalu.
.
.
.
Pertemuan penting para pengusaha korea membuat Kyuhyun duduk di kursi dengan meja melingkar di depannya. Ada sekitar dua puluh orang yang ada di sini, persentator berbicara di depan mengenai ekonomi dan politik, semacam apa pengaruh dan dampak yang di timbulkan jika keduanya atau salah satunya mengalami penurunan, hal seperti ini membuatnya berpikir 'Apa korea memang dalam krisis moneter?' seingatnya beberapa tahun yang lalu beberapa industri melebarkan sayap di setiap penjuru dunia, atau politik yang saat ini tengah gencar di perbincangkan karena beberapa waktu lagi pemilihan presiden berlangsung.
Kyuhyun tidak melihat langsung presentator di depan sebelah kirinya. Saat semua orang memiringkan tubuh sedikit hanya untuk melihat bagaimana setiap slide itu terbuka di depan ketika presentator mempersentasikannya, mata Kyuhyun seperti lurus ke depan, tubuhnya juga tetap diam di tempat.
Pertanyaan bodoh adalah apa Sungmin tidak menyadarinya jika dia tepat di depannya meski meja menghalangi mereka berdua. Sungmin mengenakan kemeja hitam yang satu kancing teratasnya dibiarkan terbuka membuatnya tampak paling bersinar karena kulitnya yang terlihat konstan akan itu.
Meneliti bagaimana serius ia mengamati dengan dahi berkerut kecil membuat Kyuhyun ingin menempelkan telapak tangannya di sana dan menghusapnya. Bibir itu terkadang bergerak sedikit dan kalau tidak salah perkiraan setiap menit kelima lidahnya yang mengintip itu akan membasahi bibirnya sendiri. Dan itu terlihat berkilau di mata Kyuhyun.
Bagus. Persentator mengambil alih untuk kami melihat berkas di depan meja yang sudah di siapkan, membuka dan mempelajarinya membuat semua yang tadinya terfokus ke arah persentasi membenarkan duduknya hingga lurus ke depan dengan meja tak terkecuali Sungmin.
Sungmin melihat ke depan di saat Kyuhyun menatapnya intens seperti mendapat sebuah ancaman dari mata pria itu 'Akhirnya kau melihatku' membuat Sungmin terus melihat di kedalaman mata Kyuhyun yang memberi pertanyaan padanya yang tidak ingin ia menjawabnya. Kyuhyun seperti mengoyak setiap organ di matanya, tatapan itu menuntut atas sesuatu yang belum terjelaskan.
Saat dengan sengajanya Sungmin memutuskan kontak mata itu Kyuhyun melihat seseorang yang berbisik tepat di samping Sungmin. Lesung pipitnya itu terkembang tak terlihat ketika bisikan dengan kertas menghalangi mata Kyuhyun akan sikap keduanya. Sungmin terlihat tersenyum kecil menanggapinya.
Sial! Dia Choi Siwon.
Ini tidak seperti yang terpikirkan tentang bibir Choi itu tidak sengaja atau memang sengaja menempel pada telinga Sungmin. Kyuhyun hanya menebak karena kertas sial itu menghalangi pandangannya akan kesimpulan bodoh miliknya.
Presentasi itu berakhir dan Kyuhyun tidak mendapat fokus akan penjelasan yang di sampaikan, tapi setidaknya ia tidak perlu repot-repot tahu karena dengan membaca berkas di tangannya semua selesai. Satu persatu orang-orang itu mulai meninggalkan ruangan, begitu juga Sungmin namun tiba-tiba kertas yang di pegangnya meluncur ke bawah dan lagi siwon membantunya memungut, menyerahkannya pada Sungmin dengan memegang pergelangan tangan pria itu dan semua terjadi tepat di depan mata Kyuhyun.
"Kyu, kau ingin makan siang dengan kami?" Siwon menyadari Kyuhyun.
Kami?
Kyuhyun melirik Sungmin namun pria itu hanya menampilkan poker face andalannya. Ya. Sungmin memang ahlinya akan hal itu.
"Kalian berdua ingin makan siang?" tanya Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya.
Siwon berdiri dari duduknya, "Bertiga jika kau mau."
"Tidak mengganggu?" Kyuhyun tidak yakin apa maksud kalimat 'Tidak mengganggu' membuat dirinya seperti orang bodoh yang menginginkan jawaban tidak.
Tawa keras menggema di ruangan yang tengah sepi ini, Choi Siwon terlihat memegang perutnya. "Oh ayolah Cho Kyuhyun. Ini lucu dan tidak lucu secara bersamaan."
Tanpa melanjutkan percakapan, mereka bertiga keluar ruangan menuju restoran di hotel ini. Restoran Jepang yang terkenal karena kokinya disebut-sebut nomor satu, hal itu membuatnya hotel ini dinamakan bintang lima.
Mereka memesan Sushi dan Sashimi, makanan biasa dan Kyuhyun memang sedang tidak berselera saat ini, padahal cacing dalam perutnya memberontak karena sejak kemarin hanya bubur putih delapan suap yang mengisi perutnya.
Percakapan mengalir seputar persentasi tadi dan bisnis di era modren. Topik ini cukup nyambung karena mereka bergelut di bidang yang sama. Namun pandangan Kyuhyun akan gerak-gerik Sungmin terekam jelas di dalam memori otaknya.
Entah ini hari keberuntungan Kyuhyun atau Dewi Fortuna berada di pihaknya, panggilan telepon membuat Siwon begitu terburu-buru menyelesaikan makannya dan meninggalkan Kyuhyun dan Sungmin di tengah keheningan. Dia mengucapkan maaf dan melesat seperti angin.
"Terima kasih."
Sungmin bertanya, "Maksudmu?" oh itu kata pertama ketika keduanya tidak saling berinteraksi sejak pada pesentasi tadi.
"Kulkasku. Kau mengisinya sampai penuh. Tapi, kau mungkin tidak tahu aku benci sayur dan mungkin benda hijau itu akan selalu di dalam tanpa perlu keluar dari pendingin."
"Oh."
Cukup singkat untuk Cho Kyuhyun yang bisa menangkap respon tersebut, "Oh?" tanyanya.
"Apa aku berlebihan? Kata-kataku kemarin tentang 'menjauhiku' atau 'pertemuan terakhir' membuatmu ingin tertawa bukan? Maksudku— lihat sekarang, kita bertemu karena pekerjaan." Sungmin bersiap beranjak dari duduknya, "Tapi ini tak akan lama, aku akan kembali ke kantor."
Kyuhyun hanya butuh seperkian detik untuk menarik lengan Sungmin menuju lorong, pembatas antara dapur restoran dan kamar mandi. Lorong itu remang dan Kyuhyun membawa Sungmin lebih ke dalam untuk mencegah siapapun melihat. Menghimpit tubuh Sungmin ke dinding dengan satu tangannya dekat dengan kepala sungmin.
Geraman dan desisan giginya ia tahan saat melihat Sungmin dan dirinya hanya berjarak beberapa inchi dengan nafas Sungmin menerpa wajahnya.
"Apa yang kau lakukan!"
Satu tangan yang menumpu di dinding ia tekuk hingga mata Sungmin bertemu dengan matanya dan nafas mereka beradu menjadi satu. "Kau... harus memberikan alasan logis mengapa kau dan aku harus saling menjauh." Berat suara Kyuhyun berdengung masuk ke dalam pendengaran Sungmin.
"Minggir... sesak bodoh." Degup jantung Sungmin cepat, jarak ini tidak aman dan lagipula ini tempat umum.
Bibir atas Kyuhyun hampir menyentuh bibir atas Sungmin, menggoda dengan kejamnya, "Jawab." Rahangnya mengeras.
Dengan jarak yang seperti ini, satu-satunya cara adalah telapak tangan Sungmin yang menempel pada dada Kyuhyun, mendorongnya dengan sekuat tenaga yang ia bisa tapi sulit. Kyuhyun sedang berada di pertahanan kuatnya, justru satu kaki Kyuhyun menyentuh pusat inti Sungmin menimbulkan lengguhan asing.
"Oh Tuhan... kau ereksi Sungmin."
Sungmin menatap wajah Kyuhyun garang, mukanya merah, tatapan matanya tajam. "Brengsek... menyingkir dari tubuhku."
"Jawab aku dulu."
"Apa?!" puncak emosi Sungmin benar-benar sudah di ambang batas. Ia harus memecah konsentarasi antara kyuhyun dengan pusat intinya. Dan itu membuatnya gila.
"Mengapa kau ingin kita menjauh? Kau bicara seperti kita punya hubungan yang lebih dari sekedar pengusaha yang terjebak oleh pekerjaannya. Sikapmu yang tiba-tiba itu melumpuhkan syarafku Sungmin."
Sungmin memejamkan matanya, "Omong Kosong. Kau tahu maksudku untuk menjauh itu berarti keluar dari kehidupan personalku. Berhenti untuk menarikku masuk ke dalam permainan pemberontakanmu karena ini tidak akan berhasil... hhh."
Kyuhyun terkesiap, "Sungmin, kau...?"
Maksudnya bagian tubuh bawah Sungmin?
"Tidak. tidak apa aku bisa urus ini. Sekarang menyingkirlah."
Kyuhyun melihat tepat pada sesuatu yang ada di bawah perut Sungmin. Karena celana yang dikenakan Sungmin berwarna hitam, sulit untuk menentukan seberapa tersiksanya Sungmin, ditambah lorong ini remang.
"Sebelum itu, aku setuju untuk tidak lagi masuk ke dalam kehidupan personalmu, atau tidak memaksamu ikut permainan yang kau sebutkan karena... Demi Tuhan, semua yang kita lakukan beberapa minggu lalu itu bukan permainan, Sungmin. Tapi, ada satu hal yang tidak ingin ku setujui tentang saling menjauh." Kyuhyun mengepalkan tangannya.
"Kenapa?"
Jemari Kyuhyun mengangkat poni Sungmin ke atas memperlihatkan dahi indah mempesona, namun bukan itu tujuannya. Kyuhyun ingin melihat di kedalaman mata Sungmin, "Karena kita bisa mencoba jadi teman. Teman yang sesungguhnya, bukan lagi ikatan karena pekerjaan atau permainan seperti katamu."
"Haruskah?" Sungmin tidak terlalu merespon, sibuk untuk dirinya sendiri saat ini.
Makin mendekat kyuhyun menempelkan sedetik ujung bibirnya menyentuh bibir atas Sungmin yang manis, "Ya. Aku harus lakukan itu, menjadi temanmu. Meski aku tidak yakin apa selamanya akan menjadi temanmu jika terus berdekatan seperti ini." Bisiknya.
Sungmin mengerahkan sekuat tenaga mendorong keras dada Kyuhyun saat pria itu lengah, berlari ke dalam kamar mandi di dekatnya dan menutup pintu toilet dengan keras.
.
.
.
Saat Sungmin keluar dari kamar mandi, dirinya menemukan kyuhyun bersandar pada dinding. Memperhatikannya seperti dirinya mangsa liar yang bisa kabur kapan saja.
"Sudah selesai?"
Sungmin maju beberapa langkah mendekati Kyuhyun, tatapan Sungmin datar mencoba sebisa mungkin mengontrol emosinya, dirinya kini pada posisi yang sama sebelum ke toilet hanya bedanya Kyuhyun yang menempel pada dinding dengan bersedekap dengan angkuhnya.
"Ya." Jawab Sungmin singkat.
Kyuhyun menyeringai tipis, "Ada yang ingin dikatakan?"
"Bagaimana denganmu? Ada yang menyangkut dalam tenggorokanmu?"
"Untuk saat ini. Tidak." Kyuhyun mengangkat salah satu tangannya tepat di hadapan sungmin, "Jadi, kita teman?"
"Ingin tahu jawabanku?" tanya Sungmin.
"Ya?"
Sungmin mendengus, "Tidak!"
Kyuhyun mengulum bibirnya geli, dahinya berkerut tipis. "Kenapa?"
"Kita tidak bisa berhubungan dalam bentuk apapun walau sekalipun itu hanya teman."
Garis kerutan kyuhyun makin keras, "Alasannya?"
"Tidak ada alasan."
'Perlu penjelasan lebih' tertulis jelas di atas kepala Kyuhyun, tapi Sungmin membuat percakapan mereka berputar-putar.
"Kemarin aku sakit. Disebut apakah seseorang yang peduli datang ke apartemennya, membawakan obat, menunggunya bangun dan membuatkannya bubur? Teman? Kurasa sebutan teman terlalu besar untuk seseorang yang peduli begitu banyak."
Mata sungmin kehilangan pertahanannya, sedikit bingung akan jawaban apa yang harus di lontarkan. "Aku hanya peduli."
"Benarkah?" tukas Kyuhyun bersamaan dengan jari tangannya secara sengaja menggores paku kecil yang mencuat sedikit di dinding atas kepalanya.
Darah keluar dengan cepat, warna merah perlahan menetes hingga jatuh ke lantai. Kyuhyun meringis sedikit tapi tatapannya pada mata Sungmin tidak pernah lepas.
Sungmin menangkap jari Kyuhyun dan membulatkan kedua bola matanya. Pria gila di hadapannya sengaja melukai jarinya sendiri dan membiarkan darah menetes begitu banyak tanpa melakukan apapun.
"Astaga! Kau punya tisu?" Sungmin terlihat sedikit panik namun respon Kyuhyun tak membantunya, pria itu hanya mengedikan kedua bahunya.
Berlari kembali ke dalam kamar mandi di belakangnya Sungmin mengambil beberapa lembar tisu toilet dengan cepat, kembali ke hadapan Kyuhyun dan membersihkan jari Kyuhyun dengan darah yang masih saja terus mengalir.
Membelitkan tisu di jari itu tak banyak membantu, sepertinya Kyuhyun tak hanya sedikit menggores tapi menekannya sampai ke dalam.
"Lihat. Kau peduli lagi padaku." Kyuhyun tersenyum hangat.
"Diam bodoh." Sungmin berhati-hati karena luka yang di timbulkan bisa saja mengakibatkan infeksi. "Kita harus memberinya antibiotik. Secepatnya."
Kyuhyun menarik jarinya dari pegangan Sungmin, "Tidak perlu."
"Kenapa?"
"Kenapa?" kyuhyun balik bertanya.
Sungmin berkerut tipis, "Kau tidak ingin lukamu sembuh?"
"Kau ingin lukaku sembuh?"
Permainan kata-kata mungkin sudah biasa diantara mereka namun kali ini Sungmin mulai kesal. "Baik. Aku peduli padamu. Ayo, kita bersihkan lukamu."
Kyuhyun tersenyum begitu lebar seperti memenangkan sebuah permainan besar. "Jadi, itu artinya kita teman?"
Sungmin mendengus, "Iya, jika kau bersihkan lukamu sekarang juga."
"Tentu saja."
Pemaksa. Mungkin kata itu yang cocok menempel pada dahi Kyuhyun dan semua harus tahu begitu liciknya Kyuhyun untuk membuat seseorang jatuh di depannya.
Peduli. Sungmin yang terdidik untuk selalu menomorsatukan keadaan orang lain dan sekarang secara tidak langsung dirinya harus kalah karena rasa kebaikannya itu.
.
.
.
Malam hari di apartemen, Kyuhyun berkutat serius dengan laptopnya, di menit berikutnya dirinya merasa lapar dan tanpa buang waktu menuju ke dapur. Mungkin ada sesuatu yang bisa di makan malam ini.
Membuka kulkasnya ia menemukan isinya tetap sama sejak kemarin dengan warna hijau mendominasi. Dia tersenyum kecil dan mengambil minuman isotonik dan melangkah menuju meja makan.
Mengutak-atik ponselnya ia menghubungi seseorang, "Halo, teman baru." Sapa Kyuhyun pada deringan ketiga panggilan terangkat.
"Hai orang yang tidak punya kerjaan." Balasnya membuat Kyuhyun tertawa.
Meneguk muinumannya sampai habis dan melemparnya ke dalam tempat sampah terdekat. "Pekerjaanku banyak sekali, Sungmin. Bagaimana mungkin kau mengatakan itu?"
"Kau meneleponku."
Membuka kulkasnya lagi kyuhyun diam sebentar, "Kau punya cara mengubah sayur menjadi daging?"
"Apa?"
"Em... aku butuh makan dan seseorang secara tidak sengaja mengisi sayuran sangat banyak di kulkas. Ada ide?"
Terdengar Sungmin bernafas keras, "Makan saja sayurnya, itu sehat."
"Aku karnivora akut, Sungmin. Bukan jenis herbivora."
"Kau mengeluh?"
"Terdengar jelas bukan?"
Sungmin diam sebentar dan Kyuhyun masih menunggu, "Apa yang kau inginkan?"
"Daging."
"Belilah sendiri di supermarket, jaraknya hanya sekitar lima meter dari apartemenmu."
Kyuhyun menutup pintu kulkas dan menuju kamarnya, "Aku tidak bisa masak."
"Bagus. Jadi apa sebenarnya yang kau inginkan?" Sungmin mungkin perlu banyak belajar sabar sekarang.
"Temani aku makan daging di luar."
"Apa?!"
Menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga karena Sungmin memekik begitu keras, "Kau dimana? Aku bisa menjemputmu."
"Tidak. Aku tidak dimana-mana. Aku sibuk. Sangat."
Memakai jaket tebal miliknya Kyuhyun mengambil kunci mobil, "Hanya makan dengan teman baru. Kau benar-benar tidak bisa?"
"Tidak."
Diam di dalam lift Kyuhyun tertawa geli, "Baiklah aku tidak memaksa. Lanjutkan kesibukanmu teman baru."
"Oh, kau pengertian teman baruku."
Sambungan terputus, menjahili semua orang memang salah satu hobi Kyuhyun tapi mulai sekarang target utama jahilannya adalah Sungmin. Pria itu tak mudah untuk dijahili dan menjadi semangat tersendiri untuk Kyuhyun melakukannya.
Di dalam mobil deringan ponsel berbunyi, Kyuhyun lantas mengangkatnya, "Halo, ibu."
"..."
"Aku sudah sembuh, ibu."
"..."
"Belum, aku belum makan."
"..."
"Tapi... baiklah."
Untuk kedua kalinya ponsel di matikan, ibunya baru saja menanyakan kabar kesembuhannya, siapa lagi kalau bukan Minho yang selalu jadi pusat informasi ibunya akan keadaannya. Dan sekarang ia dipaksa ke rumahnya lagi. Kyuhyun benci rumah.
Tapi mendengar ibunya begitu berharap hingga memohon membuat Kyuhyun semakin dilanda bingung, di satu sisi ia benci keadaan dan di sisi lainnya ia benci ketidakpastian.
Setengah jam ia berhasil sampai dan memakirkan mobilnya ke dalam garasi rumahnya. Bau masakan tercium ketika dirinya masuk ke dalam ruang makan. Ibunya duduk di salah satu kursi dan tersenyum gembira hingga berlari menghampiri Kyuhyun. Memeluk anaknya dengan begitu bersemangat.
"Ibu berlebihan."
Ibu kyuhyun menarik lengan anaknya dan mendudukkannya di salah satu kursi. Kyuhyun tak melihat siapapun selain ibunya di ruang makan ini.
"Ayahmu pergi dengan teman lama, sepertinya mereka bernostalgia hingga melupakan rumah."
"Siapa?"
"Tuan Yoon, guru privat kakakmu dulu."
Oh, Tuan Yoon. Kyuhyun ingat saat dirinya masih bersekolah, ia dan kakaknya akrab dengan tuan Yoon, bahkan mengangapnya paman sendiri. Namun sejak kakaknya meninggal dan ia harus ke Colombia, dirinya belum pernah bertemu dengan Tuan Yoon lagi.
"Oh." Kyuhyun melihat bermacam-macam makanan terhidang, namun matanya hanya melihat satu arah yaitu daging.
"Dia menanyakan kabarmu. Kau harus bertemu dengannya, Kyuhyun."
"Tidak perlu."
Ibunya tersentak kaget, "Kenapa? Tuan Yoon begitu merindukanmu."
"Melihat dia aku teringat kakak. Aku benci itu."
"Kyuhyun! Jaga ucapanmu, nak." Ibunya membentaknya. Itu wajar. Kyuhyun meringis mendengarnya, jadi hanya gara-gara Tuan Yoon dirinya harus di bentak oleh orang yang dia sayangi. Kyuhyun semakin tidak suka itu.
"Aku hanya tidak nyaman dengan sesuatu yang berhubungan dengan kakak. Ku mohon ibu mengerti."
Menghela nafas pelan, suasanan jadi semakin tidak enak dan Kyuhyun tidak berselera lagi dengan daging. Sungguh bukan keinginannya menyakiti sang ibu namun hati jahatnya yang memaksanya seperti itu.
"Apa yang membuatmu begitu tidak ingin mengenang kakakmu, Kyuhyun?" ibunya bertanya pelan.
Kyuhyun meminum dengan cepat segelas air putih di depannya, ia baru menyuap sekitar dua sendok makanan ke dalam mulutnya namun perutnya seperti kenyang. Ia bersiap beranjak, "Aku harus pulang, bu. Pekerjaanku menumpuk."
"Jawab pertanyaan ibu dulu, kenapa kau terlihat begitu tidak suka dengan kakakmu saat dia meninggal? Dia akan sedih dengan sikapmu yang seperti ini."
"Benarkah? Bukankah dia yang sengaja pergi, menenggelamkan dirinya sendiri ke dalam laut? Astaga! Sikap seperti apa yang harus aku tampilkan sekarang."
"Kyuhyun! Berhenti bicara bodoh." Ibunya tampak menahan isakan, "Tarik kata-katamu, nak. Ibu tidak ingin kau terluka hingga menyesal."
Kyuhyun dengan cepat memeluk ibunya, sebenci-bencinya dia dengan keadaan ia tidak pernah mau membiarkan ibunya menangis karenanya. "Maafkan aku bu. Sungguh."
Ibunya menggeleng dan mempererat pelukan anaknya, mendekap dengan penuh kasih sayang. "Satu hal Kyuhyun. Jangan membenci kakakmu. Dia tidak pada posisi yang kau pikirkan. Ingat itu."
Kyuhyun hanya mengangguk, bukan artian ia setuju dengan perkataan ibunya. Hanya anggukan sebagai perbincangan terakhir karena semakin dirinya membalas ucapan sang ibu semakin dia melukainya.
.
.
.
Flashback
"Kyu?"
Seorang gadis masuk ke dalam kamar kyuhyun saat Kyuhyun tengah asyik bermain game dalam laptopnya. "Ada apa?"
"Kau tidak belajar?"
Kyuhyun mendengus, "Aku tidak butuh ceramah. Oh! Aku berusia delapanbelas tahun, kakak. Setidaknya ketuk pintu dulu."
Cho Ahra menghempaskan tubuhnya di atas kasur Kyuhyun. Lalu melirik sang adik yang telungkup di atas karpet tebal berbulu di bawah kasur. "Untuk apa mengetuk. Bahkan dulu kita sering mandi bersama. Aku yang menggosok punggungmu."
"Itu memalukan, kak."
Ahra tertawa, "Tidak adikku, itu menyenangkan."
"Oh Tuhan! Kakakku gila."
Diam sejenak.
"Kyu?"
"Hmm," Kyuhyun bergumam. Ia tidak melirik kakaknya dan tengah betul-betul fokus akan gamenya. Tentu saja! Level terakhir setelah berjam-jam ia menghabiskan waktu menyelesaikannya. Dan sekarang bukan saatnya untuk memikirkan hal lain.
"Menurutmu apa aku harus berhenti menjadi arsitek?"
"Apa?" Kyuhyun butuh fokus dalam gamenya. Ia belum bisa berfikir.
"Ayah menawariku perusahaan karena aku anak pertama. Tapi... itu akan terlihat aneh." Ahra menatap langit-langit kamar Kyuhyun dan tersenyum kecut.
"Kenapa aneh? Karena kau anak perempuan?"
"Itu salah satu alasannnya. Tapi bukan menjadi alasan terbesar."
Butuh fokus. Butuh fokus. Gamenya tidak bisa di pause dan dirinya harus mendengar ucapan serius kakaknya secara bersamaan.
"Apa alasan terbesarnya?"
Ahra terdiam, ia mengatupkan bibirnya rapat.
"Sudahlah, lupakan." Kemudian gadis itu beranjak dari kasur Kyuhyun dan melemparkan sebatang coklat tepat di atas kepala Kyuhyun. "Dari Tuan Yoon untukmu." Lalu dia berlari menutup pintu kamar Kyuhyun dengan tertawa keras.
Game . Kyuhyun . berakhir . kalah . Batang coklat yang di lempar sengaja ke kepalanya membuatnya hilang konsentari dan kesempatan musuh dalam permainannya memanfaatkan itu hingga menghabisi Kyuhyun tanpa ampun.
Sialan! Cho ahra. Aku benci kau.
~o~
Pertemuan rapat membahas kontrak. Tempat yang terpilih adalah sebuah restoran mahal dengan memesan ruang VIP. Karena selain mengubah suasana, mereka juga bisa langsung memesan makanan jika jam makan siang tiba.
"Kita butuh beberapa investor untuk ini, peluangnya besar mungkin sekitar 2% dari yang diperkirakan." Changmin mulai mengutarakan pokok utama keuntungan.
Sungjin menanggapi, "Tidak sebanyak itu, Changmin hyung. Butuh pengujian signifikan terlebih dahulu."
"Indeks saham gabungan bulan ini tidak menentu. Tapi beberapa yang terlihat mengalami penurunan." Kyuhyun mengutak-atik laptopnya.
"Apa ini pengaruh dari pemilihan Presiden?" Ucapan sungmin membuat ketiganya mengangguk setuju. Sungmin melanjutkan, "Sungjin benar, kita butuh hipotesis terlebih dahulu. Kebanyakan investor memilih garis aman."
Kyuhyun ingat pertemuan penting beberapa hari lalu dengan para pengusaha. Pemilihan presiden menjadi satu-satunya fenomena yang mudah untuk dijadikan bahan pertimbangan.
"Ambil beberapa laporan keuangan dari perusahaan yang sekiranya berpengaruh hebat di Bursa Efek. Kira-kira empat sampel dari masing-masing sektor. Jumlah waktu yang diambil dimulai dari seminggu sebelum pemilihan Presiden dan dua hari setelahnya. Memungkinkan terjadinya perubahan drastis di waktu tersebut." Kata Kyuhyun menutup laptopnya dan memperhatikan ketiganya.
"Proyek ini harus berhasil, ini tambang emas bagi perusahaan kita." Changmin mengomentari.
Sungjin mengangguk, "Ya. Aku setuju."
"Kita bukan perusahaan merger maupun akuisisi, Kyuhyun. Kepercayaan investor mungkin tidak seperti yang dibayangkan." Sungmin menatap mata Kyuhyun.
"Lalu?"
"Kita tidak hanya butuh fenomena sesaat. Lagipula ini untuk jangka waktu yang lama, kita butuh kepercayaan besar."
Kyuhyun tersenyum samar, "Kau menganalisa dengan teliti, Sungmin. Itu sebabnya aku meminta jangka waktu seminggu sebelum pemilihan Presiden, bukannya saat pemilihan presiden berlangsung. Gelombang saham bergerak secara drastis bahkan sebelum kau berkedip. Investor itu seperti semut mencari gula, Intinya kita perlu respon investor dalam mengambil kebijakan. Disaat itulah kita tahu, dimana letak kepercayaan."
Sungmin berkedip, "Ya. Kau benar."
"Ini sudah selesai bukan? Kenapa kalian sama-sama tegang? Aku lapar, aku pesan makanan kalau begitu."
Changmin beranjak dan di ikuti Sungjin, "Aku ingin ke toilet. Aku selalu benci rapat."
Selepas keduanya pergi Kyuhyun bersedekap dengan menyilangkan kedua tangannya di dada. Menyandarkan punggungnya pada sofa. Keangkuhanya selalu menjadi nomor satu. "Jangan berwajah seperti itu. Aku tidak akan memakanmu."
Sungmin menjilat bibirnya, "Aku rasa sayuran. Tidak enak di makan." Seru Sungmin membuat kyuhyun tersenyum geli.
"Kau tidak tampak seperti sayuran. Kau seperti daging. Makanan kesukaanku." Kyuhyun menyeringai.
"Oh."
Kyuhyun tidak mengerti respon dua kata itu, "Oh?" tanyanya balik.
"Kau bilang tidak akan memakanku, tapi kau menyamakanku dengan daging. Apa aku daging yang tidak enak di makan?"
Bibir kyuhyun berkedut, mata tajam mengoyak semua yang di hadapannya tak terkecuali Sungmin yang menatap dengan polosnya.
Kyuhyun menggeram rendah, "Maksudku tidak untuk saat ini. Ada saat yang tepat ketika aku memakanmu."
"Kapan itu?"
Oh Tuhan! Sungmin benar-benar kejutan dan Kyuhyun seperti berada dalam dunia imajinasi dimana dia dan Sungmin terjebak oleh erotika.
"Secepatnya." Bisiknya pelan bertepatan dengan Changmin masuk. Dan beberapa menit kemudian makanan muncul dengan Sungjin.
Alis Kyuhyun mengernyit melihat makanan yang terhidang di depan. Hot potato salad?
Changmin yang menyadari raut Kyuhyun mengintrupsi, "Aku tahu Tuan Cho benci sayur. Kentang tidak termasuk warna hijau bukan?" kemudian dia menggigit asparagus tanpa tahu suasana hati Kyuhyun sekarang.
Semalam dirinya tidak makan karena kulkas penuh sayur, lantas saat ibunya mengundang makan di rumah, dirinya hanya makan dua suap sendok. Dan sekarang sayur lagi? Apa persediaan daging di kota ini menurun? Bathin Kyuhyun bicara.
"Kau urus sisa proyek ini, Changmin." Kyuhyun mulai beranjak mengambil jas yang terlampir di pinggir sofa.
Changmin bertanya dengan mulut penuh, "Kau mau kemana?"
Kyuhyun tak mengindahkan perkataan Changmin, "Sungmin, bisakah temani aku mencari daging? Aku butuh bertahan hidup." Ucap Kyuhyun memelas dan mendapat tatapan bingung dari Sungmin.
"Apa? Tapi..." Sungmin melirik Sungjin yang juga tengah asyik menyuapkan kentang ke dalam mulutnya, "Aku tidak bisa meninggalkan Sungjin, kami hanya bawa satu mobil."
Kyuhyun menyingkap poni depan rambutnya terlihat frustasi, "Berikan kuncinya pada Sungjin. Aku masih punya mobil, Sungmin."
"Pergilah hyung, jangan khawatir. Aku dan Changmin hyung masih harus selesaikan proyek ini." Perkataan Sungjin menjadi pembelaan untuk Kyuhyun, sepertinya Kyuhyun perlu memeluk pria satu itu.
Seperti biasa kekuasaan Kyuhyun tersebar dimana-mana, pria yang memiliki kendali penuh akan apapun. Akhirnya Kyuhyun dan Sungmin keluar dari restoran menuju parkiran tempat mobil Kyuhyun berada.
Butuh duapuluh menit mereka sampai di restoran daging, Sungmin mengikuti di belakang Kyuhyun, sepertinya tengah ramai karena memang sekarang jam makan siang. Tempat duduk dekat jendela menjadi pilihan, begitu pelayan datang Kyuhyun memesan Irish Stew, daging olahan dengan campuran kecap asin dengan kopi dingin sebagai minuman.
"Kau pesan apa, Sungmin?"
"Spaghetti Bolognaises Sauce dan cola."
Pelayan pergi untuk mengambil pesanan, sementara itu Kyuhyun menatap Sungmin, "Jadi, kau sibuk apa tadi malam?"
Sungmin menjawab, "Hanya menghabiskan waktu dengan keluarga."
Kyuhyun memiringkan wajahnya dengan satu tangannya menompang kepalanya, "Kau begitu menyayangi keluargamu, Sungjin yang memberitahuku." Ucap kyuhyun.
Anggukan kepala menjadi pembenaran, Sungmin sangat menyayangi keluarga, "Mereka hartaku. Paling berharga diantara apapun."
"Mmm, jika begitu kenapa kau harus menyembunyikan diri? Berprilaku seperti keluar zona nyamanmu sedangkan lingkungan sekitarmu begitu baik."
Sungmin menggigit bibir bawahnya tanpa sadar, Kyuhyun terlalu banyak ingin tahu dan Sungmin tidak menyukai itu. "Aku kira kita pernah membahas untuk tidak masuk ke dalam kehidupan personalku."
"Oh, maaf. Aku lupa."
Makanan datang dan percakapan berhenti sejenak. "Bagaimana denganmu? Lingkungan di sekitarmu tidak baik sehingga kau keluar dari zona kehidupanmu?"
"Hmm, tepatnya aku tidak punya kehidupan seperti milikmu. Aku hidup hanya sampai berumur delapan belas tahun." Kata Kyuhyun sambil mengunyah pelan potongan daging dalam mulutnya.
Sungmin membuka mulutnya ingin berkata sesuatu namun ragu, "Apa... sejak kakakmu pergi?"
Sontak Kyuhyun menatap Sungmin dengan tatapan tajamnya, pisau mengkilat terlihat tak kasat mata di kedalamannya. Kemudian dia menutup matanya sejenak. "Dari mana informasi itu?"
"Aku benar? Oh maaf Kyuhyun aku tidak bermaksud..." Sungmin menjilat bibir bawahnya, ia ingin memukul kepalanya sendiri sekarang. Kenapa mulutnya tiba-tiba mengutarakan yang jelas-jelas merupakan titik sensitive di diri Kyuhyun.
"Tidak apa, lupakanlah." Seperti tadi malam kyuhyun hanya berhasil makan dua suap sendok. Pembahasan mengenai kakaknya membuat nafsu makan hilang.
"Maafkan aku, Kyuhyun. Sungguh." Tatapan bersalah begitu kentara di dalam mata Sungmin.
"Berhenti minta maaf, Sungmin."
"Tidak. tidak. aku tahu kau terluka karena ucapanku. Apa yang harus ku lakukan? Ketidakpastian ini menghukumku."
Kyuhyun tersenyum geli. Sungmin benar-benar memiliki sifat kelewat baik, kenapa ada orang yang begitu merasa bersalah padahal Kyuhyun sudah tidak begitu menyalahkan. "Ayo membeli beberapa daging di supermarket dan membawanya ke apartemenku. Aku perlu memindahkan benda hijau itu dari dalam kulkasku."
Sungmin melihat piring Kyuhyun yang masih utuh, mungkin hanya beberapa suap saja makanan itu masuk ke dalam mulut pria itu. Ucapannya sendiri seperti penghilang selera nafsu makan dan Sungmin mengangguk menyetujui ajakan Kyuhyun. Mungkin masih merasa bersalah.
.
.
.
Sungmin mencuci daging di wastafel dapur sedangkan Kyuhyun mengeluarkan benda-benda hijau sayuran dari dalam kulkasnya. Rencananya, sepulang dari supermarket Sungmin ingin memasakan makan siang yang tadi sempat gagal total.
"Kau ingin membuangnya?"
Kyuhyun melirik Sungmin sejenak, "Tidak ada pilihan." Setelah itu dia beranjak keluar dari dapur.
Melirik meja dapur terdapat daging, bumbu dan daun bawang. Sepertinya membuat sup daging tidak terlalu buruk, Sungmin sudah ahlinya untuk membuat makanan yang simple.
"Pakai ini, Sungmin. Kemejamu bisa kotor." Kyuhyun datang menyerahkan salah satu T-shirt berwarna putih ke hadapan Sungmin. "Kau bisa menggantung kemejamu di samping dapur."
Tak menolak Sungmin menuju samping dapur, ada semacam ruang ganti dan berbagai macam baju yang belum di setrika menumpuk. Melepas kemejanya Sungmin memakai kaos Kyuhyun. Tidak terlalu besar, sangat pas di tubuhnya. Berarti sudah dua kali Kyuhyun meminjamkan salah satu T-shirtnya pada Sungmin dan dia harus ingat untuk segera mengembalikannya.
Saat kembali ke dapur, Kyuhyun sudah tidak ada, terdengar suara bincang-bincang di ruang tengah. Sepertinya Kyuhyun tengah menelepon seseorang.
Sungmin memotong daging menjadi kecil-kecil dan memasukkannya ke dalam panci berisi air mendidih. Harum masakan tersebar di sekitar dapur.
"Baunya enak."
Terkesiap kaget karena tiba-tiba Kyuhyun berada di samping Sungmin. Keberadaan Kyuhyun seperti hantu yang bisa melesat kapan saja. "Muncullah dengan normal. kau mengagetkanku."
"Oh, maaf."
Kyuhyun lebih memilih duduk di kursi meja makan, menompang kepalanya miring dengan menggunakan salah satu tangannya, memperhatikan Sungmin memasak menjadi hiburan sendiri. Baju yang melekat pada tubuh Sungmin membuat aura panas mengelilingi kepalanya, rahangnya tiba-tiba mengeras. Lantas dirinya mengambil nafas sebanyak-banyak dan mengeluarkannya dengan teratur. Sungmin memang pengaruh buruk bagi tubuhnya.
"Kau hobi memasak?"
"Tidak juga, aku sering membantu ibu ketika muda." Sungmin mematikan api dan mengambil mangkuk dan mengisinya dengan sup daging buatannya.
Tiba-tiba cipratan air sup mengenai mata Sungmin saat daging yang tengah dia ambil meluncur masuk ke dalam panci.
"Astaga, Sungmin!"
Kyuhyun langsung berjalan cepat mendekati Sungmin, ia menangkup kedua sisi kepala Sungmin dengan telapak tangannya yang besar. Melihat Sungmin yang masih memejamkan kedua matanya. "Buka matamu perlahan, mungkin agak pedih."
Sungmin belum mengikuti perintah Kyuhyun, tangannya sekarang tengah memegang mangkuk jadi dirinya sulit untuk mengucek kedua matanya jika tiba-tiba perih menyerangnya.
"Tidak apa-apa, buka saja matamu. Aku yang nanti akan menghusapnya." Seperti bisa membaca pikiran Sungmin, Kyuhyun mencoba meyakinkan.
Perlahan foxy eyes itu bergerak. Membuka dengan amat pelan dan di saat perih menghampiri sebuah jari menghusap setiap lengkukan bawah matanya, begitu setiap ia membuka dan menutup matanya dengan bergantian.
Membantu meletakan mangkuk yang masih dalam pegangan Sungmin ke atas meja, Kyuhyun menarik sungmin mendekati wastafel, membasahi handuk bersih kemudian menyapukan di kedua mata sungmin. "Masih perih?"
"Tidak terlalu."
Bola mata Sungmin membulat sempurna meski terlihat agak memerah, menengadah memperhatikan Kyuhyun yang juga masih menatapnya. Sungmin bisa merasakan panas di sekitar serta nafas Kyuhyun yang memburu tidak teratur.
Bibir Kyuhyun menempel pada kelopak mata kiri Sungmin dan refleks Sungmin memejamkan kedua matanya. Beberapa detik kemudian berganti menjadi kelopak mata kanan. Perasaan teraduk-aduk dari dalam perut bukan karena lapar tapi perasaan yang entah apa namanya.
Bibir Kyuhyun bergeser hingga pelipis kiri, menekannya lembut hingga turun ke pipi bulat bersih milik Sungmin. Bergerak lambat menuju hidung bangir itu. Bibir Kyuhyun terhenti di udara hanya beberapa inchi dari bibir Sungmin, saling menghembuskan nafas panas.
Sungmin membuka perlahan kedua bola matanya memperlihatkan-lagi keindahan pancaran hitam berkabut di kedalaman, mata seindah batu berlian mahal yang begitu bersinar di setiap sisinya. mata itu seolah membenarkan perlakuan Kyuhyun terhadap dirinya, mengizinkan Kyuhyun untuk melakukan sesuatu pada bibirnya namun pria itu hanya diam saja.
"Oh, maaf."
Suara Kyuhyun berat dan serak, dirinya mulai melepas kedua tangannya pada kedua wajah Sungmin dan mundur teratur. Dia ingat Sungmin meyakinkannya untuk tidak masuk dalam kehidupan personal pria itu.
Seperti memiliki nyawa sendiri, bibir mungil Sungmin menangkap bibir Kyuhyun sebelum langkah Kyuhyun terlalu jauh. Dia sendiri kaget oleh respon verbal dalam dirinya. Bibirnya menekan bibir Kyuhyun sedangkan kedua tangannya meremas lengan Kyuhyun yang sedikit berotot.
Tak butuh waktu lama sebuah lengan menarik tengkuk Sungmin, mencoba menariknya mendekat pada dirinya, merespon bibir Sungmin dengan tak kalah panas, menyalurkan apa yang di rasa melalui bibir itu. Hingga semuanya seperti hancur lebur, terpecah menjadi beberapa bagian tak kasat mata.
.
.
.
.
.
TBC~
Hi~ chap 5 datang... maaf atas keterlambatan publish T_T
Special sayang dan cinta buat yang review, follow dan favorite
Sign, Najika
