〃jika semua orang hanya jujur dengan perasaan mereka yang sesungguhnya, aku yakin tak seorangpun yang akan terluka. Karena semua orang akan menyadari kalau itu bohong atau tidak.〃
.
.
.
Perfect
.
.
FANFICTION
Cho Kyuhyun dan Lee Sungmin
YAOI – BL
Bad diction and Typo
.
.
6
.
.
.
Tautan itu terlepas, perasaan gemuruh menyeruak dari dalam dada. Sesak, bingung hingga tak bisa berkata-kata. Kedua tangan Kyuhyun meremas kedua sisi bahu Sungmin hingga turun perlahan menuju pinggang. Menghusap lingkaran pinggul Sungmin dengan sebegitu defenisif, jari bertemu kulit menimbulkan sengatan aneh membangunkan semua syaraf yang ada.
Sungmin lebih memilih menatap mata pria di depannya yang dengan sengaja tatapan 'ingin' begitu kentara. Nafas Sungmin memburu ketika celana ketat yang mengintip melewati celana kain formalnya begitu pelan disentuh oleh Kyuhyun.
"Kau baru saja dalam masalah. Apa yang kau pikirkan ketika melakukan itu?" tanya Kyuhyun yang kini jari-jari itu begitu lihai masuk ke dalam kaos dan mengelus tulang rusuk belakang Sungmin.
Begitu menyiksa, itulah yang sungmin rasakan, "Tidak tahu."
"Kau mau aku lakukan apa?"
Sungmin menggeleng, "Tidak. Jangan lakukan apapun." Ucapan dan respon tidak signifikan lantaran tubuh Sungmin begitu bergetar merasakan gelombang tak tentu arah, sapuan pada seluruh tubuhnya mulai membuatnya gila sendiri.
Tak merespon perkataan Sungmin, Kyuhyun lebih memilih menjalankan jemari ramping miliknya di sekitar area puting, menghusapnya bagai merasakan lipatan kain sutra, begitu lembut dan memabukkan. Kemudian turun hingga perut Sungmin, merasakan otot-otot samar hingga menyentuh pusar itu.
"Sialan!... maafkan aku, Sungmin."
.
.
.
"Tidak makan?"
Yang ditanya hanya menompang kepalanya di atas meja, tersenyum begitu manis hingga membuat Sungmin perlu mengenali lagi denyut jantung lain yang berdetak tiba-tiba. Ini bukan semacam terpesona pada senyuman tapi lebih kepada siapa yang melakukannya.
"Makanlah, aku kenyang melihatmu." Kyuhyun berdehem sebentar, "Tidak apa kalau aku tanyakan pertanyaan canggung sekarang?" tanyanya. Pria duapuluhtujuh tahun melirik sebentar pada mangkuk Sungmin berisi sup daging yang sudah setengahnya ludes sebelum kembali menatap mata pria di depannya.
Sungmin meletakkan sendoknya di samping mangkuk, "Kau harus makan, siang tadi aku mengacaukan makanmu, sekarang ketika sudah ku masakkan kau tak menyentuhnya. Apa masakanku selalu kau abaikan? Buburku waktu itu, kau membuangnya?"
"Sungmin..."
Menyela lebih cepat, "Aku tidak marah," Sungmin menghela nafas beberapa detik kemudian tersenyum begitu lembut, "Kali ini saja, jangan abaikan... masakanku."
Bunyi kursi berderit keras ketika Kyuhyun memundurkan benda itu ke belakang dengan sangat cepat, melangkah begitu lebar mengitari meja makan untuk sampai pada kursi Sungmin. Tatapan matanya begitu tak terbaca hingga perasaan tegang begitu kentara.
Masih duduk diam di tempatnya Sungmin melihat bagaimana Kyuhyun duduk di kursi sebelahnya, memegang pundaknya memutarnya hingga sekarang dirinya berhadapan langsung dengan pria itu.
"Pertama, aku makan buburmu. Kedua, aku tidak pernah sekalipun untuk mengabaikanmu, berusaha sedemikian mungkin agar kau mau menatapku, melakukan apapun untuk membutmu tersenyum manis kepadaku. Melihat bagaimana kau merespon ucapanku ketika aku menggodamu. Tidak masuk akal sekali kalau aku mengabaikan dirimu."
Tubuh Sungmin tegang. Mengerjapkan kedua kelopak matanya begitu lambat, "Ciuman tadi..."
Kyuhyun menatap pada kedalaman mata Sungmin, berlian putih itu masih melekat pada diri Sungmin, "Kau pria sopan, Sungmin. Tidak ada alasan apapun untuk menolakmu bahkan sekalipun aku. Ada saatnya kita bisa melakukannya bahkan bisa ku jamin itu akan sangat luar biasa. Tapi, tidak sekarang, tidak sebelum aku tahu perasaanmu dan kau tahu perasaanku. Jadi, maukah kau percaya perkataanku untuk menjadi Lee Sungmin yang melihat Cho Kyuhyun?"
Tak terbendung lagi perasaan meluap hingga meluber kemana-mana, Sungmin mengangguk pelan setelah berdiam diri merespon apa yang terjadi. Dirinya sendiri merasakan ketulusan itu bahkan pancaran mata Kyuhyun begitu jujur. Sungmin baru saja membuka satu pintu kecil, bermacam-macam situasi di baliknya adalah kejutan dan dia harus siap akan itu. "Itu permintaanmu, sekarang penuhi permintaanku."
"Apa itu?" tanya Kyuhyun mengernyitkan alisnya.
Sungmin mengambil mangkuk berisi sup daging milik Kyuhyun yang masih utuh, "Makan. Jika tidak..."
"Jika tidak?"
Mendengus tidak suka, Kyuhyun mulai menggoda lagi, "Aku belum selesai." Sungmin mungkin perlu untuk selalu menyimpan kata-kata telak cadangan untuk pria itu, "Jika tidak, kulkasmu akan ku penuhi dengan sayur besok."
"Besok? Kalau begitu menginaplah malam ini disini. Pagi-pagi sekali kita bisa pergi bersama ke supermarket."
Sungmin menyendok satu daging dan langsung menyuapkannya pada mulut Kyuhyun, "Makan," kekehan Sungmin membuat suasana sedikit mencair, ketegangan perlahan seolah surut tak bersisa, "Tidak bisa, aku harus pulang malam ini. Ibuku pasti menungguku seperti biasa dan..."
"Kau bisa meneleponnya dan bilang akan menginap." Suapan ketiga dari Sungmin diterima oleh mulut Kyuhyun. "Lagipula sekarang masih sore."
Sungmin menghentikan suapannya dan meletakkan sendok itu di atas mangkuk, "Hari itu, malam saat kau ke rumahku sebelum besoknya kau sakit. Ayahku mengatakan hal aneh padaku setelah kau pulang, dia ingin agar aku..."
"Ayah harap, ini pertemuan terakhirmu dengannya, Sungmin."
"Ingin apa?" tanya Kyuhyun.
Menatap pacaran obsidian kelam, Sungmin menyelami arti di dalamnya, "Apa kau pikir ayahku tahu tentang pemberontakkanku? Atau tahu bagaimana ayahku ingin aku tidak bertemu lagi denganmu yang juga menyeretku begitu jauh?"
"Maksudmu ayahmu berpikir aku pengaruh buruk bagimu?"
"Belum pasti. Hanya saja mungkin cuma itu yang bisa aku simpulkan karena mengapa ayahku berkata begitu secara tiba-tiba saat melihatmu di rumahku malam itu." Komentar sungmin.
Kyuhyun tampak berpikir dalam diam, dia tidak mengenal ayah Sungmin dalam arti yang sebenarnya selain Tuan Lee adalah pemilik perusahaan Sendbill yang bekerjasama dengannya, selain itu tidak ada hubungan secara dekat selain urusan pekerjaan. Kyuhyun juga pernah sekali duakali bertemu ketika menemani ayahnya untuk menghadiri pesta dari salah satu kolega beberapa tahun lalu.
Apa yang Sungmin katakan adalah mungkin benar ayah Sungmin mengetahui perubahan Sungmin, dan Kyuhyun juga selama ini selalu terang-terangan pergi berdua dengan Sungmin. mungkin saja ayah Sungmin sama seperti ayahnya yang begitu over terhadap anaknya.
"Kyu?"
Bisa jadi seperti itu, tapi mengambil kesimpulan sendiri juga tidak begitu benar, setidaknya Kyuhyun harus memastikan terlebih dahulu. "Sudah selesai dengan makanmu? Mau temani aku?" Pinta Kyuhyun memperhatikan gerak-gerik sungmin.
"Kemana?"
Kyuhyun tersenyum lembut, "Bertemu ayahmu."
Sungmin membulatkan kedua bolamatanya terlihat lucu, efek keterkejutannya terlihat begitu jujur. "Mwoya?! Kau mau apa?" tukas sungmin.
Mengedikkan bahunya tanda acuh, Kyuhyun mengangkat telapak tangannya di hadapan Sungmin, "Aku senang kalau kau mau menemani aku, semua yang kau lontarkan tentang ayahmu adalah tidak masuk akal, maksudku tidak bisa mengambil kesimpulan dari satu sisi tapi harus menilai sisi lainnya. Tidak peduli kalau anggapan ayahmu terhadapku adalah benar adanya, cepat atau lambat aku pasti bertemu dengannya, bukan tentang pekerjaan atau yang lainnya. Tapi tentang kau."
Sungmin diam tapi matanya menelisik semua perkataan Kyuhyun.
"Karena itu, mau pegang tanganku dan temani aku bertemu ayahmu?" pinta pria dengan segala aura sensual, tetap mempertahankan telapak tangannya terbuka untuk sungmin menyambutnya.
Butuh beberapa menit sebelum Sungmin menyentuh telepak tangan yang sedari tadi memanggilnya, telapak tangan yang begitu hangat menyatu dengan tangannya sendiri. Jemari ramping itu mengisi sela-selanya begitu juga dengan jemarinya.
Tangan itu tertaut sempurna, langkah awal begitu lambat dan begitu cepat, semua tidak bisa diperkirakan dengan mudah.
.
.
.
"Begini caramu merayu? Aku harus tahu bagaimana para wanita begitu cepat tersipu karena omonganmu barusan." Ucap Sungmin mengganti kaos Kyuhyun yang dikenakannya dengan kembali memakai kemeja yang tadi dia gantung.
Kyuhyun mengambil kunci mobil dan memperhatikan bagaimana Sungmin memasukkan kancing bajunya, "Aku tak pernah merayu, bagaimana mungkin hal sulit itu aku lakukan kalau semua terasa mudah. Para wanita yang kutemui hanya menginginkanku telanjang dan memuaskan mereka."
"Kau sering melakukan seks?" tanya Sungmin menyisir helaian rambutnya menggunakan jemarinya. Begitu halusnya rambut itu tanpa perlu menggunakan alat yang dinamakan sisir.
Bersedekap menyilangkan kedua tangannya di depan dada, Kyuhyun mengangkat bahunya acuh, "Tidak juga, hanya hari-hari besar seperti valentine, white day atau sejenisnya yang mengharuskan berpasangan."
"Oh."
Kyuhyun mengernyit bingung, "Oh?"
"Apa? Itu responku."
"Kau tidak suka?" bisik Kyuhyun pelan.
Sungmin harus menahan tawa gelinya, ia begitu ingin tertawa begitu melihat wajah Kyuhyun yang terlihat seperti orang bodoh, "Kenapa aku harus tidak suka? Itu hidupmu, Kyuhyun. Apa yang kau inginkan tidak perlu minta pendapatku."
"Mulai sekarang aku harus meminta pendapatmu. Jujurlah jika kau tidak suka, aku pasti mendengarkan."
Harus berapa banyak lagi Sungmin perlu menampung perkataan Kyuhyun yang menyentak hatinya sedemikian dalam, membuatnya harus mau tidak mau terbiasa akan itu, "Kau terlalu banyak berkata aneh."
Kyuhyun kembali membuka telapak tangannya menyuruh Sungmin untuk kembali menyambutnya, "Aku serius. Tidak lucu sekali kalau harus mengulang perkataan yang membuatku hampir malu setengah mati. Jangan memintaku mengulangnya, oke!"
Mengambil telapak tangan itu keduanya keluar dari apartemen Kyuhyun, berada di dalam lift berdua sambil terus mengeratkan tautan itu. Sungmin sudah memulainya dan dia harus siap dengan dunia luar yang akan nantinya menilai bagaimana hubungan ini, hubungan yang belum ada pernyataan 'aku suka kamu' atau sebaliknya. Tidak apa, cukup seperti ini dulu.
Pintu lift terbuka dan tautan itu semakin erat, Kyuhyun menggandeng tangan Sungmin menuju pelataran parkir. "Kau siap?" tanya Kyuhyun memasang sabuk pengamannya, mendudukkan dirinya pada kursi kemudi dan melirik Sungmin di sebelahnya.
"Siap apa? Ini seperti kau ingin melamarku di depan ayahku."
Kyuhyun menghembuskan nafas pelan dan tersenyum kecil, tidak pernah ia setegang ini sebelumnya. "Untuk pertemuan selanjutnya pasti tentang lamaran, tapi tidak sekarang."
Apa maksud Kyuhyun pertemuan selanjutnya adalah lamaran yang sebenarnya. Padahal Sungmin hanya bermaksud menggoda tapi pria itu menjawab begitu serius.
.
.
.
Perlu tigapuluh menit ketika langit mulai gelap. Mobil itu memasuki pagar tinggi dan berhenti pada pelataran rumah besar. Ketika Sungmin membuka pintu rumahnya, seorang wanita paruh baya menyambutnya hangat dan tersenyum begitu lebar. Tapi tidak lama setelah melihat seorang pria di belakang Sungmin senyum itu berganti tatapan tak percaya hingga berubah menjadi gugup.
"Ibu, ini temanku Cho Kyuhyun." Sungmin terlebih dahulu bersuara dan dia memang harus memperkenalkan Kyuhyun kepada ibunya karena tatapan ibunya begitu bingung.
Kyuhyun membungkuk sopan sambil mengucapkan salamnya, tata krama terhadap orang tua itu memang dia junjung tinggi. "Apa kabar, Sungmin eomma. Aku Kyuhyun."
Ibu Sungmin perlahan tersenyum walau tak menutupi kecanggungan itu masih belum hilang, entah apa yang dirasa tapi ini begitu tiba-tiba dan dia belum siap, "Kabarku baik, nak. Nyamankanlah dirimu di rumah ini." Lalu ibu Sungmin melirik anaknya, "Ibu sedang menyiapkan makan malam, kau bisa mengajak Kyuhyun ikut serta."
Sungmin mengangguk sambil tersenyum manis. Lalu ibunya masuk ke dalam rumahnya, mungkin menyelesaikan masakannya tadi. "Kau mau menunggu di ruang tamu? Aku harus bersihkan diriku." kata Sungmin.
Pandangan kyuhyun mengitari ruang tamu yang luas di rumah Sungmin, begitu hangat di dalam sini, mungkin dirinya akan sangat senang jika harus tinggal lama. "Rumahmu nyaman. Akan sangat tidak sopan jika aku menunggu di kamarmu. Tapi ruang tamu juga tidak masalah."
Sungmin mencibir, "Siapa yang memintamu ke kamarku? Duduklah di sana, aku bukan wanita yang harus meninggalkan teman menunggu lama untuk mandi." Setelah dua anak tangga Sungmin naiki, dirinya melirik kyuhyun yang duduk nyaman di ruang tamu memainkan gadget.
"Kyuhyun?" panggil sungmin hingga tatapan kyuhyun pada gadget beralih untuk menatap mata jahil Sungmin, "Jangan gugup, ayah dan ibuku tidak menggigit." Tawa keras begitu lepas membuat sungmin harus terpigkal-pingkal menaiki tangga menuju kamarnya sendiri, meninggalkan kyuhyun dengan raut yang sulit di mengerti.
Tawa itu terdengar langsung menuju dapur, membuat ibu Sungmin terdiam beberapa detik lalu melanjutkan menyusun piring di atas meja makan.
.
.
.
"Ibu tidak tahu kau punya teman, Sungmin."
Hanya ada tiga orang di meja makan, masing-masing tengah menyantap makan malam biasa dengan beraneka ragam masakan terhidang. Namun Kyuhyun hanya terfokus oleh daging. Makanan berwarna coklat padat selalu menjadi favoritnya.
Sungmin menatap mata ibunya, "Baru minggu-minggu ini. Perusahaan kami menjalin kerja sama dan jadi sering bertemu. Dia melukai jarinya sendiri hanya untuk mengajakku berteman, bu." Senyum kecil miring tersemat pada bibir Sungmin ketika pandangannya melihat Kyuhyun di samping kursinya.
"Benarkah?" kaget ibu Sungmin menatap Kyuhyun butuh penjelasan pernyataan Sungmin tadi.
Kyuhyun yang mengerti itu menjawab, "Sungmin pria baik dan peduli. Tidak ada orang yang tidak ingin berteman dengannya, luka di jari itu hanya hal kecil, mungkin ada orang bodoh di luar sana yang langsung sakit karena menunggu di luar rumah Sungmin hanya untuk melihatnya." balasan senyum miring Kyuhyun di tunjukkan pada pria di samping kursinya.
"Kasihan sekali orang bodoh itu. kalau kau bertemu dengannya katakan kalau aku akan memberikannya sayur yang banyak agar tidak mudah sakit." Seru Sungmin mengambil beberapa sayur di mangkuk dan meletakkannya di atas piring Kyuhyun.
Kyuhyun mengambil sayur dipiringnya dan meletakkannya pada piring Sungmin, "Dia benci sayur, Sungmin. Ribuan kali sepertinya dia mengatakannya padamu." Kemudian mengambil daging di piring Sungmin, "Dia menyukai daging."
Ibu Sungmin hanya diam memperhatikan keduanya, pandangannya tidak pernah lepas dari Sungmin yang terus-terusan tersenyum begitu lebarnya ketika pria di sampingnya itu melontarkan sesuatu. Dan tidak pernah lepas pula ketika Kyuhyun memandang Sungmin sebegitu dalamnya. Seorang ibu memiliki insting sendiri akan hal itu.
"Ayah pergi kemana, bu? Dia tidak di rumah?"
Pertanyaan Sungmin mengembalikan lamunan ibu Sungmin, "Ayahmu sedang pergi menemui kenalannya."
.
.
.
Pantai Busan di malam hari dinginnya menembus kulit, bintang-bintang tidak muncul karena sepertinya langit tengah mendung. Cafe dekat pantai menjadi tempat ternyaman karena suhunya bertolak belakang dengan di luar karena di dalam cafe begitu hangat, tak terlalu banyak pengunjung karena bukan akhir minggu.
Dua orang pria paruh baya duduk berhadapan, pandangan keduanya jatuh pada pada kaca transparan yang menampilkan ombak bergelung menghantam pasir putih pantai.
"Delapan tahun yang lalu, aku kehilangan putriku disini." Ucap pria paruh baya denga tubuh lebih besar, raut lelah begitu kentara.
"Karena hal itu, aku mendapatkan putraku kembali." Kata Tuan Lee tersenyum lemah.
Dua cangkir kopi mengepulkan asap belum tersentuh, masih tertata rapi di atas meja masing-masing. Perbincangan canggung menjadi alasannya.
Tuan Cho mulai menyamankan duduknya kembali, "Saat itu aku begitu marah hingga tidak bisa berpikir jenih. Aku melakukan kealahan besar, begitu banyak pikiran berkecamuk hingga ingin melukai siapapun yang membuat putriku meninggal."
Tuan Lee diam mendengarkan.
"Saat itulah tanpa ku sadari, aku juga kehilangan putraku sendiri. Aku yang membuatnya benci hidup, memaksanya melakukan apapun yang ku inginkan, mengendalikan hidupnya bagai robot yang bisa melakukan semua yang ku perintahkan. Aku begitu kecewa dengan semuanya hingga menghancurkan semua yang ku sayangi." Begitu tenangnya saat Tuan Cho berucap, semua beban penyesalan menumpuk dalam hati dan kepalanya.
"Maafkan aku Yeunghwan-ssi, semua karena... kebaikan putrimu kepada putraku. Sangat besarnya rasa bersalahku hingga mengirim Sungmin ke Jepang, mengajarinya untuk menjadi pribadi yang baik terhadap apapun dan juga mencoba untuk menenangkan satu sama lain diantara keluarga. Di satu sisi aku begitu bersalah padamu, di sisi lain Sungmin juga berharga bagiku."
Cho yeunghwan ―ayah Kyuhyun mengerti perasaan itu. "Putriku juga semua karena kesalahanku, tidak menyalahkan Sungmin sepenuhnya. Takdir tuhan begitu tak terduga."
Dua orang ayah yang begitu menyayangi kedua putranya masing-masing hingga tanpa sadar tak melihat keinginan tersembunyi dari sang anak, "Aku mencoba menghilangkan Sungmin dari keluargamu tapi sepertinya ada kesalahan. Putra keduaku melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanku sekarang." Ucap Tuan Lee ―ayah Sungmin
"Putra keduamu?" tanya Tuan Cho.
Tuan Lee mengangguk, "Tapi, sepertinya putramu tak mengenal Sungmin. Kau... menyembunyikan fakta kematian putrimu?"
Terdiam sejenak, Tuan Cho melirik lagi kaca transparan dengan rintik-rintk gerimis menghalangi pandangannya akan ombak pantai yang bergelung indah, "Semua yang aku lakukan adalah salah. Bemaksud agar dia bisa mengerti semua yang terjadi tapi pada akhirnya dia sama dengan kakaknya."
"Sungmin juga tidak tahu apapun." Gumam Tuan Lee.
.
.
.
Gerimis tadi mejadi hujan lebat di malam ini. Petir juga bersahut-sahutan. Sepertinya angin begitu kencangnya hingga membuat semua orang enggan untuk keluar rumah dan memilih menghangatkan diri dengan secangkir minuman hangat.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam tapi tidak ada tanda-tanda hujan akan behenti. Acara makan keluarga juga telah selesai beberapa jam lalu tapi sepertinya Kyuhyun masih begitu betah di rumah Sungmin.
"Kau kalah, Sungmin hyung! Hahaha... kau harus setidaknya menggunakan kartu dengan angka kecil terlebih dahulu." Sungjin mengomel sekaligus tertawa begitu puasnya.
"Perhatikan dirimu, kau juga tidak lebih baik dariku."
Sungjin mengambil satu kartu dari kartu 'minum' dan merengut ketika Kyuhyun selalu tahu kelemahan kartu di genggamannya. "Jangan menghinaku, Kyu hyung, kali ini aku pasti mendapatkan posisi pertama."
Sungmin melempar guling berbentuk wortel ke arah wajah Sungjin, "Apa menang bisa membuatmu kenyang? Kartuku angkanya kecil semua itulah makanya aku kalah."
"Mana ada orang yang selalu kalah, setidaknya ubah posisi terakhirmu. Rebut peringkat Sungjin karena tidak mungkin kau bisa rebut peringkatku." Senyum setan terpasang nyata pada bibir Kyuhyun.
Sudah jelas bukan, urutan terakhir Sungmin, lalu Sungjin dan posisi master adalah Kyuhyun. Permainan menggunakan kartu remi adalah permainan tradisional, Sungjin tiba di rumah bertepatan dengan hujan deras langsung mengguyur Seoul dengan begitu lebatnya. Akhirnya untuk menghilangkan kebosanan ketiganya melakukan suatu permainan kartu di dalam kamar Sungmin. Sungjin mengeluh kamarnya berantakan dan tak ingin seorangpun memasukinya. Sungmin setuju akan hal itu karena tahu seberapa parahnya kamar adiknya jika berantakan.
"Tidak ada hukuman jadi tidak begitu seru." Kata Kyuhyun. "Bagaimana mulai permainan awal lagi dan siapapun yang nanti jadi peringkat akhir dia harus di hukum. Aku sudah menentukan hukumannya."
Sungmin menyela, "Kenapa kau yang menentukan?"
"Karena aku master, Sungmin. Lihatlah dari tadi aku bosan karena mendapatkan posisi pertama terus. Kau tidak bosan dengan posisi terakhirmu?"
Kali ini boneka kelinci besar melayang pada wajah Kyuhyun namun sepertinya kecepatan otak pria itu menggagalkan lemparan Sungmin.
"Aku setuju, yang pentingkan hukuman untuk peringkat terakhir," sahut Sungjin. "Apa posisi kedua juga boleh menentukan hukuman?" tanyanya.
"Boleh juga."
Sungmin menatap sengit keduanya, "Baik. Cukup satu permainan saja dan lihat aku pasti menang."
"Deal! Satu permainan terakhir." Seru Kyuhyun dan Sungjin bersamaan.
Semua kartu mulai di kumpulkan menjadi satu, Kyuhyun mengocoknya berulang kali dan begitu pula Sungjin dan Sungmin yang melakukannya agar tidak terjadi kecurangan. Semua menampilkan wajah serius kali ini.
Masing-masing memegang tujuh lembar kartu remi. Kartu pertama adalah belah ketupat dengan angka tujuh dan semua memilikinya dengan Sungjin yang mengeluarkan kartu di baliknya. Usaha Sungjin sia-sia karena tidak ada kelemahan musuh dengan kartu pohon yang dimilikinya. Sungmin mengambil alih dengan belah ketupat lagi.
Dalam sepuluh menit permainan itu berakhir dengan bermacam-macam kartu berserakan di mana-mana, posisi peringkat tetap tidak berubah dari awal permainan dan sekarang Sungjin sedang melakukan hukumannya untuk Sungmin.
"Ini tidak akan sakit, hyung. Ingatlah aku melakukan ini karena permainan, sebab selamanya aku tetap mencintaimu." Sungjin terlalu mendramatisir saat dengan kerasnya jarinya menjentik dahi Sungmin hingga menimbulkan warna merah.
Sungmin kemudian menghusapnya, "Aku juga menyayangimu adikku. Aku harus berhati-hati terhadap jarimu lain kali."
Kekehan Sungjin merubah suasana yang awalnya tegang menjadi lebih santai, Sungmin masih merasakan denyutan pada dahinya, jentikan Sungjin memang tidak main-main.
"Sekarang hukumanku, kemarilah Sungmin." suara berat serak Kyuhyun kembali memulai ketegangan, hukuman sang master belum dilakukan dan Sungmin dengan enggan mendekat ke arah pria itu.
Kyuhyun menyingkirkan tangan Sungmin dari dahi dengan tanda merah itu dan memegang pergelangan tangan itu menggunakan tangan kanannya. Sedangkan tangan kiri Kyuhyun menaikkan poni Sungmin ke atas sebelum bibir seksi miliknya menempel pada bekas jentikan Sungjin.
Tatapan terkejut dari Sungmin begitu kentara, bola matanya membulat sempurna. Tidak begitu kaget akan sikap Kyuhyun yang tiba-tiba begini. Tapi ada Sungjin di ruangan ini dan lagi adiknya seperti melongo.
"Tidak sakit kan?" tanya Kyuhyun, tersenyum sambil menyengir lebar.
Pertanyaan bodoh dari mana itu? pikir Sungmin
Sungmin melirik Sungjin dan dengan cepat adiknya itu berkata, "Aku tidak melihatnya hyung, sungguh."
"Kau melihat apa? Sudah bereskan kartunya, aku ingin tidur." Perintah Sungmin pada Sungjin dan dia beranjak dari duduknya dan melihat Kyuhyun masih betah duduk di situ, "Kau ingin pulang atau..."
"Aku ingin menginap." Jawab Kyuhyun cepat, "Lagipula hujan masih deras dan sekarang sudah malam, bahaya buatku untuk menyetir." Kyuhyun merebahkan tubuhnya di atas kasur Sungmin.
Sungjin juga ikut rebahan di atas kasur Sungmin, menyamankan punggungnya sambil memeluk guling, "Kamarku masih berantakan dan sekarang sudah malam, bahaya buatku untuk membereskannya."
Pernyataan kembar tapi tak serupa dari Kyuhyun dan Sungjin, Sungmin mau tidak mau merebahkan tubuhnya sendiri di tengah-tengah dengan Kyuhyun di sebelah kanan dan Sungjin di sebelah kirinya. "Aku punya dua adik besar sekarang." Kata Sungmin.
Kyuhyun memiringkan tubuhnya menghadap Sungmin, "Catatan, aku temanmu bukan adikmu."
"Sudah diam. Sekarang tidur."
Dua puluh menit kemudian kamar Sungmin benar-benar sunyi, hujan di luar masih deras sekali menambah suasana nyaman meringkuk di dalam gulungan selimut. Sungjin yang memeluk guling Sungmin satu-satunya tertelap dengan mudahnya dan memunggungi Sungmin dan Kyuhyun di sampingnya.
Sedangkan Sungmin menghadap punggung Sungjin begitupula Kyuhyun dengan punggung Sungmin. tapi sepertinya Sungjin yang telah terjun ke dalam mimpinya. "Sempit sekali." Bisik Sungmin yang langsung meluruskan tubuhnya menghadap langit-langit kamarnya.
"Tempat tidurmu yang terlalu kecil." Balas Kyuhyun.
Sungmin menatap pria di sampingnya, "Akan sangat besar untukku sendiri, mau sebesar apa lagi tempat tidurku."
Diam sejenak.
"Walau tidak bertemu ayahmu, aku bertemu ibumu. Makan malam di rumahmu, main bersama Sungjin di kamarmu dan tidur di samping dirimu. Agak aneh tapi menyenangkan. Aku merasakan lagi apa itu keluarga."
Sungmin diam mendengarkan dengan tubuh masih tetap lurus, "Sungjin sudah tidur, apa ini saatnya berbagi rahasia?" tanyanya.
Kyuhyun terkekeh, "Kau ingin tahu rahasiaku? Baiklah tapi kau harus ceritakan rahasiamu juga." Kyuhyun memiringkan tubuhnya dan menompang kepalanya dengan salah satu tangannya, "Apa yang ingin kau tahu?"
"Beri tahu saja apa yang kau mau aku tahu."
Kyuhyun berdehem. "Dulu, aku sangat betah tinggal di rumah, sangat senang dengan musik, tidak masalah dengan pantai dan mencintai keluarga. Ayah adalah teman pria yang begitu berwibawa, ibu itu wanita terhangat yang ku punya dan kakak... dia segalanya bagiku."
Sungmin mendengarkan dan tidak menyela.
"Delapanbelas untukku terlalu singkat, semua yang kusukai bertentangan dengan kemauan keluarga. Musik bagian dari hidupku juga tengah lenyap, karena tidak bisa ku dapatkan makanya aku benci itu. kemungkinan dengan membenci sesuatu aku pasti lebih baik."
"Itu sebabnya kau benci musik. Lalu pantai dan rumahmu, apa karena... " Sungmin belum melanjutkan pertanyaannya, dia agak ragu dengan ini.
Kyuhyun mengerti itu, "Kakakku. Alasannya tetap sama, dia bagian dari hidupku. Makanya aku membenci itu."
Sungmin memiringkan tubuhnya hingga menghadap Kyuhyun yang sekarang tengah menatapnya juga, "Jangan. Kau harus menghilangkan perasaan bencimu, setidaknya belajar untuk tidak terlalu membenci walapun tidak begitu menyukai."
"Bagaimana caranya?"
Sungmin tersenyum lebar, "Rahasiaku. Besok kita bertemu dengannya."
Apa itu semacam sesuatu atau seseorang? Kalimat Sungmin begitu ambigu untuk Kyuhyun. Pria itu mengernyitkan dahi tanda tak paham namun respon Sungmin juga tak membantunya.
Sungmin mulai mengubah lagi posisi tubuhnya hingga menghadap punggung Sungjin dan membelakangi Kyuhyun. Dia mengantuk tapi matanya tak bia terpejam, suara derasan hujan juga tak membantunya, insomnia ini mengganggunya.
Sebuah alunan lullaby meluncur dari mulut seseorang, Sungmin diam sejenak untuk mengetahui asal suara itu. Tidak lucu sekali bukan kalau hantu bisa bernyayi semerdu ini. Tunggu... hantu bisa bernyanyi?
Kemudian suara itu mengalun merdu masuk ke dalam telinganya, merilekskan syaraf dan inderanya hingga terasa seperti terbang di atas awan. Perlahan matanya mulai terpejam dan tertidur dengan pulasnya.
Satu nama dari seseorang yang melakukannya. Dia Kyuhyun.
Kyuhyun masih dengan posisi sama dengan tetap tidur miring dengan tangan menompang kepalanya, memperhatikan bagaimana tubuh Sungmin yang gelisah tidak bisa tidur membuatnya ingin melakukan sesuatu. Dan sesuatu itu seperti memiliki nyawa sendiri, bibirnya ia buka dan dengungan suara mulai keluar dari mulutnya tanpa sadar. Sebuah nyanyian meluncur dari suaranya.
Beberapa menit kemudian tinggal dirinya sendiri yang belum tidur. Kyuhyun memastikan apa sungmin sudah terlelap dengan mengetuk-ngetukkan jarinya pada punggung sungmin namun tak ada respon yang berarti.
Perlahan Kyuhyun membalik tubuh Sungmin hingga kini wajahnya harus berada persis berhadapan dengan wajah terlelap Sungmin. Hembusan nafas teratur Sungmin juga berbanding terbalik dengan hembusan panas dari Kyuhyun. Memperhatikan bagaimana damainya wajah mulus putih bayi seperti Sungmin membuat Kyuhyun ingin menelusuri lekukan itu menggunakan jarinya dan... ya. Dia melakukannya.
Jari itu berada di atas dahi Sungmin, bekas merah tadi masih terlihat karena kontras dengan kulit Sungmin. Kedua kelopak mata yang tertutup sempurna dan dia tadi siang mencium itu, pipi gembul halus dan hidung bangir yang cantik. Jari itu terhenti di atas bibir Sungmin, mengusap lekukan merah muda itu perlahan.
Ini seperti dejavu ketika pertama kalinya dirinya dan Sungmin bertemu dan dia melakukan ini untuk membangunkan Sungmin saat di klub.
"Saat tadi siang kau menciumku, kau tahu seberapa cepat jantungku berdetak. Rasanya sakit tapi menyenangkan. Aku begitu terkejut saat kau melakukannya, ingin rasanya aku membawamu ke kamarku dan kita melakukannya tapi akal sehatku mengingatkanku. Dia memberitahuku untuk tidak terburu-buru dan memastikan itu seks atau bercinta."
Kyuhyun masih menghusap lekukan bibir sungmin sambil berbisik, "Aku tidak hanya ingin seks denganmu, Sungmin dan kau harus tahu kalau aku tak pernah sekalipun mengabaikanmu."
Setelah meluapkan apa yang di pikirannya itu kepada sungmin yang masih tertidur, Kyuhyun mendekatkan tubuhnya, bibirnya menempel singkat pada bibir atas Sungmin setelah sebelumnya dahi dan kelopak mata menjadi target sapuan bibir seksi itu.
'Tidurlah yang nyenyak. Aku sayang padamu.'
~o~
Besoknya Kyuhyun dan Sungmin melakukan rutinitas setiap hari dengan pergi ke kantor masing-masing. Kehidupan normal mulai berjalan seperti biasa.
Mereka berdua janji bertemu saat makan siang nanti untuk melakukan apa yang Sungmin katakan tadi malam kepada Kyuhyun.
"Ini rahasiaku."
Kyuhyun melongo dan masih belum paham, rahasia Sungmin yang dia pikirkan tentang itu sesuatu atau seseorang adalah sebuah tempat terpencil di tengah kota. Lokasinya berada di pinggir-pinggir pertokoan.
Seperti gudang bawah tanah dan mereka harus menuruni beberapa anak tangga untuk masuk ke dalam. Sungmin mengambil kunci dan membuka pintu di depannya. Aroma pengap, gelap dan berdebu yang langsung tertangkap begitu keduanya masuk ke dalam.
Sungmin menyalakan lampu hingga ruang ini begitu terang benderang, lampu utama adalah berwarna putih sedangkan ada lampu warna-warni di setiap sudutnya. Ada sebuah sofa besar dan meja, kulkas kecil dan tempelan poster dimana-mana. Dan yang paling aneh adalah ada panggung kecil dekat perapian, alat musik gitar terletak di atas kursi dan sebuah mic.
Sungmin mengambil gitar coklat itu yang memang berdebu, membersihkannya menggunakan lap bersih hingga mengkilap seperti semula. Mendudukkan dirinya di atas kursi tinggi dengan sebuah mic di depan bibirnya. Petikan-petikkan gitar menjadi alunan sendiri di ruangan ini.
"Dia rahasiaku, gitar hadiah ulang tahun yang ku simpan bertahun-tahun sebelum aku pergi ke Jepang. Sudah lama aku tidak memainkan gitarku lagi." Ucap Sungmin.
Kyuhyun masih diam di tempat, "Rahasiamu... hebat." Puji Kyuhyun saat matanya menyelusuri ruangan yang tidak terlalu besar namun nyaman. "Apa ini semacam markas?"
Tetawa lebar, "Benar, setiap pulang sekolah aku mampir kemari dan memainkan musik sesukaku karena ruangan ini kedap suara dari luar walapun musik sekencang apapun." Sungmin menyuruh kyuhyun mendekat dan memberikan mic pada Kyuhyun.
"Apa ini?" pertanyaan bodoh lagi dari Kyuhyun.
"Kau tidak tahu? Itu mic, masih bisa berfungsi.. aa ..tes..tes." jawab Sungmin dan menyuruh pria itu mengmbil mic di tangannya.
Kyuhyun masih diam dan menatap mata Sungmin datar, "Aku tidak bisa... sudah ku katakan aku benci musik."
"Sekarang kau harus menyukainya, ambilah. Atau kau haris mendengarkanku bercerita tentang seseorang yang menyanyikan lullaby tadi malam." Sungmin mengambil tangan kyuhyun dan menyerahkan mic itu.
"Kau pandai melobi ya."
"Aku belajar darimu."
Petikan gitar mulai bersenandung, perlahan mulai mengikuti alur nada menjadi kesatuan yang berirama, hingga semuanya seperti di atas panggung musik. Permainan Sungmin pada gitarnya membawa alunan tersendiri dan Kyuhyun tahu lagu ini, dia pernah menyanyikannya dulu.
Kyuhyun meletakkan mic itu pada tempatnya lagi dan mendapat tanda bingung dari raut wajah sungmin namun pria itu masih memetik gitar dengan indahnya.
"Kenapa tidak bernyayi? Aku ingin melihatmu melakukannya di hadapanku."
Tidak mau berkata apapun, Kyuhyun sudah menetapkan hatinya untuk tidak lagi berhubungan dengan musik. Dia seperti mati rasa jika melakukannya. Semua yang berhasil dia kubur tidak mungkin dia gali lagi, karena walaupun melakukannya, itu tidak akan sama.
"Tidak bisa."
Sungmin memberhentikan permainannya dan meletakkan gitarnya kembali di atas kursi, "Tidak bisa melakukannya di hadapanku?" tanya sungmin.
"Bukan itu!" Kyuhyun agak berteriak, ia sangat frustasi sekarang. "Bukan karena dirimu, tapi karenaku. Ini tidak akan berhasil."
Beranjak dari duduknya Sungmin tepat di hadapan Kyuhyun, membuka telapak tangannya seperti yang kyuhyun lakukan padanya dulu, "Pegang tanganku. Saat kau bilang aku harus mempercayaimu untuk menjadi Lee Sungmin yang bisa melihat Cho Kyuhyun. Apa tidak apa sekarang jika kukatakan untuk mempercayaiku dan menjadi Cho Kyuhyun yang bisa melihat Lee Sungmin?"
Keraguan itu masih ada walau sedikit, Kyuhyun sudah berjanji untuk tidak mengabaikan Lee Sungmin dan sekarang pria di depannya meminta sesuatu yang adil padanya. Kyuhyun mengambil tangan Sungmin dan mengeratkan jemarinya sendiri di sela-selanya. Saking eratnya hingga terasa sampai ke dalam hatinya.
Sungmin hanya ingin dirinya untuk tidak membenci apa yang sebenarnya memang di sukai.
"Jangan takut. Aku memegang tanganmu jika kau jatuh."
Kyuhyun tersenyum begitu cepat, kenapa jadi Sungmin yang mengendalikan hatinya. Harusnya kan dia yang melakukannya. "Kau lucu. Aku suka." Kata kyuhyun.
"Well, aku tidak bercanda."
Sungmin mulai menyanyikan beberapa bait lagu yang musiknya dia mainkan tadi dengan gitarnya. Liriknya begitu mengalun saat bibir merah muda dengan lekukan unik itu melakukannya, membuat Kyuhyun mengikuti irama dan bersuara dengan mulutnya. Intonasi ballad khasnya menjadi satu kesatuan dengan suara Sungmin. lagu yang pas saat keduanya mulai menyanyikannya berdua. Tanpa iringan musik, tanpa penonton atau apapun. Hanya dua suara dari dua orang yang melakukannya.
Because of love. Judul lagu itu.
.
.
.
Tiga kali cukup membuat keduanya haus sekarang, iramanya cukup teratur dan siapapun yang menyanyikannya enggan untuk berhenti.
"Berhasil bukan? Aku sudah bilang kau bisa." cengiran Sungmin menimbulkan gemuruh hati dalam hati Kyuhyun, dan perasaan meluap-luap begitu tak terkendali.
Genggaman tangan keduanya masih tertaut erat, "Aku punya cerita lebih bagus dari cerita orang yang menyayi lullaby tadi malam," kata Kyuhyun.
"Apa itu?"
"Aku mencium dahi, kelopak mata dan bibir seorang pria tadi malam. Dan dia tidak sadar aku melakukannya." Nada menggoda dari Kyuhyun membuat Sungmin tahu arti perkataan pria itu dan sebelum Sungmin memprotes akan pernyataan itu terlebih dahulu kyuhyun Mencium bibir Sungmin.
Terkejut itu pasti tapi hanya sebentar dan saat bibir Kyuhyun begitu aktif pada bibirnya semua seperti melayang-layang. Kyuhyun itu Hot Kisser menurutnya, tentu saja. Bagaimana mungkin tidak jika intinya pasti bereaksi setelah ini.
Sungmin bisa merasakan panasnya tubuh Kyuhyun melingkupi mereka berdua, bibirnya seperti sebuah incaran lembut untuk Kyuhyun karena tak hentinya pria itu mengulum atas dan bawah bergantian.
Tak mau begitu saja mengalah seperti wanita, Sungmin mengeratkan pegangannya pada lengan Kyuhyun dan mengaktifkan bibirnya untuk membalas kuluman pria itu. Bibir Sungmin bergantian mengecap bibir Kyuhyun dan dia belum berani untuk permainan lidah.
Kyuhyun yang begitu terkejut mengeratkan tubuh Sungmin pada tubuhnya layaknya dua magnet yang begitu melekat tak bisa terpisahkan.
Ringtone ponsel dari keduanya membuat tautan itu berhenti perlahan, hingga terlepas membentuk benang-benang halus di sekitar mulut. Kyuhyun menghusap bibir Sungmin dari lelehan saliva itu. bibir Sungmin begitu merah mengkilat, sangat seksi.
Sungmin mengangkat ponselnya sendiri dan masih menatap bagaimana Kyuhyun terus menghusap bibirnya perlahan. Dan dia harus terkejut begitu besar karena Sungjin meneleponnnya berkata bahwa ayahnya sedang menunggunya di kantor ruangannya. Tidak biasanya ayahnya tidak memberitahukannya dulu.
Ponsel Kyuhyun masih berbunyi dan pria itu masih tak mengangkatnya karena sibuk dengan bibir Sungmin. Tapi ringtone itu menggangu hingga akhirnya dia harus melepas bibir Sungmin dan mengangkat ponselnya sendiri.
Sungmin telah selesai dengan ponselnya dan beberapa menit kemudian begitu juga dengan Kyuhyun. "Aku harus kembali ke kantor. Ayah datang tanpa memberitahuku."
Kyuhyun mengangguk, "Kemarin aku tidak bertemu ayahmu begitu juga sekarang. Aku harus ke rumah sakit."
"Siapa yang sakit?" tanya Sungmin bingung.
"Teman ayahku. Tuan yoon. Kembalilah ke kantor, aku senang dengan rahasiamu. Lain kali kita harus bersihkan tempat ini."
Sungmin mengangguk dan keduanya berpisah dengan mobil masing-masing. Sungmin menuju kantornya sendiri dan sebuah tanda tanya masih melingkupi kepalanya. Tidak mungkin ayahnya datang tiba-tiba ke kantornya jika bukan sesuatu yang penting.
Saat sudah tiba di ruangannya, sungjin dan ayahnya terlibat perbincangan serius, "Ayah, kau datang."
Ayah sungmin tersenyum hangat seperti biasanya, dia menyuruh Sungmin untuk duduk di sofa bersebelahan dengan Sungjin yang terlebih dahulu sudah ada di sana.
"Hanya berkunjung. Dan yang ayah kira kau makan siang di kantor tapi ternyata tidak." ucap ayah Sungmin.
Sungmin meminta maaf, "Aku tidak tahu ayah akan kemari. Tadi aku makan siang dengan temanku."
"Tidak apa, nak. Lagipula ayah juga ingin berbicara serius denganmu." Jeda sebentar, "Apa teman makan siangmu itu sama dengan yang ke rumah kita kemarin? Dan sama yang ayah lihat malam hari beberapa hari lalu di rumah kita."
Sebuah batu besar tiba-iba jatuh di atas kepalanya, Sungmin tahu ayahnya hanya ingin dia mengucapkan satu nama seseorang. Tapi mengapa ayahnya begitu berbelit-belit seperti ini. Oh! Apa jangan-jangan tentang peringatan ayahnya waktu itu untuk menjuhi Kyuhyun tanpa alasan yang Sungmin belum mengerti pastinya.
"Iya. Dia temanku, Cho Kyuhyun." Jawab Sungmin tanpa keraguan. Setidaknya dia harus memberanikan diri untuk bersikap berani untuk mengetahui di balik alasan ayahnya itu,
"Ayah ingin mengatakan kalau... "
Sebelum ayahnya berbicara Sungmin menyelanya terlebih dahulu, "Kalau maksud ayah dengan pemberontakanku selama hampir tiga minggu ini adalah murni karena kemauanku sendiri sebelum akhirnya bertemu dengan Kyuhyun. Dia tidak memaksaku seperti yang mungkin ayah pikirkan. Dia teman yang baik jika ayah mengenalnya."
Ayah Sungmin diam mencerna itu, "Ayah tahu pemberontakanmu sudah lama dan tidak terkejut sama sekali." Ucapnya tenang.
"Apa?!"
"Ayahmu peka akan apapun, Sungmin. Selama kau menjadi dirimu sendiri dan bisa mengerti baik buruknya sesuatu itu sudah bagus. Kau pria dewasa, semua yang kau lakukan adalah hakmu. Ayah tak melarangnya sekalipun. Ayah hanya ingin kau berterus terang."
Apa ini? apa ini? Ayahnya tahu segalanya dan semua tidak dalam masalah. Jadi apa arti ketakutannya selama ini!
"Klub malam dan minuman berakohol ayah tahu?"
Ayah sungmin mengangguk.
Entah perasaan lega tau apa yang harus dia tampilkan sekarang, semua seperti rol yang bergulung cepat. Dia sampai mengikuti permainan Kyuhyun dengan ikut dalam pemberontakan agar Kyuhyun menutup mulut tentang klub dari Sungjin dan sekarang bahkan ayahnya tahu.
Sungmin melirik Sungjin dan senyuman samar terpampang disana. Itu berarti ayah juga memberitahu Sungjin atau memang Sungjin tahu sendiri.
"Alasan ayah kemari bukan untuk itu. Ayah sudah pernah bilang untuk tidak bertemu lagi dengan Cho Kyuhyun, 'kan?"
Sungmin mau tidak mau mengangguk, ayahnya memang pernah berkata seperti itu. "Apa alasannya jika bukan mengenai pemberontakkanku?" tanya Sungmin.
"Karena kau tidak bisa, tidak boleh bertemu dengannya atau berhubungan dengannya dalam bentuk apapun sekalipun itu pekerjaan."
Kenapa begitu? kenapa begitu? semua pernyataan ayahnya begitu berputar-putar di dalam kepalanya. "Kenapa? apa alasannya ayah berkata begitu?"
Hening sesaat.
"Karena... "
Sungjin berteriak terlebih dahulu, "Ayah, hentikan. Jangan lakukan itu." Sungjin sudah akan beranjak dari duduknya dengan menyeret tangan Sungmin untuk segera pergi dari sini tapi Sungmin buntu.
Sungmin melepaskan pegangan Sungjin terlebih dahulu, dan kembali menatap mata sang ayah. Dia benci ketidakpastian ini, dia benci semua yang tersembunyi darinya. Lalu sekarang ayahnya menyembunyikan sesuatu dan Sungjin tahu itu.
"Ayah, kumohon. Katakan, ada apa dengan Kyuhyun? Kenapa aku tidak bisa, tidak boleh bertemu dengannya seperti kata ayah?!"
Sebuah bom paling mengerikan jatuh di atas kepala Sungmin, semuanya seperti hancur berkeping-keping layaknya serpihan tak berguna. Mendesak ayahnya sedemikian rupa hanya untuk mendengarkan sang ayah memberitahukan rasa penasarannya, hanya lima kata tapi Sungmin seperti teringat perkataan Victoria padanya.
Jantung Sungmin berdegup cepat layaknya seperti akan meledak dengan hebat, perasaan terhimpit begitu menusuk semua tubuhnya. tidak berpikiran apapun selain harus meninggalkan ruangan penuh sesak ini, Sungmin berlari keluar dari ruang kantornya. Sungjin seperti memanggil tapi dia tak mendengar apapun.
Satu nama. Cho Kyuhyun. Dia harus bertemu pria itu sekarang juga.
.
.
.
Lorong rumah sakit itu begitu ramai, tubuhnya begitu lunglai hanya untuk berjalan tapi dia tidak punya pilihan lagi untuk berhenti dari langkahnya. Semua orang di sekitarnya begitu sibuk dengan semua yang dilakukan tapi dia seperti seorang diri.
Dia menaiki tangga darurat untuk menjauh dari keramaian, bising itu membuat telinganya begitu sakit. Anak-anak tangga ia langkahi untuk menuju ke atas, tidak punya tujuan akan kemana, dia hanya ingin sendiri tanpa ada seorangpun yang tahu keberadaannya.
Hembusan angin sore menerbangkan helaian rambut berwarna caramel, menyapukan seluruh wajahnya seperti tamparan halus di setiap sisinya. angin itu seolah menyadarkan dirinya akan sesuatu tapi apa pedulinya. Angin itu saja bahkan tak bisa bicara padanya.
Berada di atas gedung berlantai delapan. Dia melihat bagaimana lalu lalang kendaraan dari atas sini begitu kecil seperti kumpulan semut. Kakinya sudah di pinggir gedung dan selangkah lagi maka tubuhnya mungkin jatuh dengan menggenaskan sampai ke bawah.
Mendapat telepon dari ayahnya siang tadi untuk ke rumah sakit menemui Tuan Yoon yang sedang di rawat. Dia menyetujuinya karena ini perintah ayahnya dan hati kecilnya seperti mengatakan untuk mengilangkan kebencian itu seperti yang Sungmin katakan padanya.
Tuan Yoon tersenyum begitu senangnya begitu melihatnya. Wajah Tuan Yoon begitu lelah, usianya memang lebih tua dari ayahnya. Tuan Yoon begitu merindukannya setengah mati tapi dirinya bahkan tak mau melihat pria guru privat kakaknya dulu.
Semua itu begitu manis, cerita bernostalgia tak terasa lagi menjadi beban bagi Kyuhyun ketika lontaran Tuan Yoon tentang kakaknya mengalir seperti air. Saat semua seperti tak bersisa dan dia terseret arus deras begitu Tuan Yoon mengatakan sesuatu yang langsung menghancurkan seluruh nafasnya.
Melihat ke bawah lagi untuk ke sekian kalinya. Mungkin dia sudah melakukan ini bertahun-tahun lamanya, menghancurkan sendiri tubuhnya hingga tak bersisa. Ponsel dalam genggamannya bergetar terus-menerus sedari tadi tapi dia tak berniat mengangkatnya.
Senja sore hari berganti kelamnya malam, tak ada lagi sinar dalam penglihatannya, hanya ada kesuraman yang melingkupi seluruh tubuhnya. Menghembuskan nafas keras dan berteriak sekencang mungkin kepada dunia.
Menangis dalam hati hingga terduduk di semen keras itu dia memeluk dirinya sendiri. Pundaknya seperti bergetar tanda rapuh. Tak ada isakan, hanya air mata meleleh membasahi wajah berdosa seperti delapanbelas tahun yang lalu ketika tahu kakaknya meninggal. Semua seperti sama.
Dunia menertawakannya. Dunia mempermainkannya.
Ponsel dalam genggamannya terjatuh dekat samping tubuhnya, masih terus bergetar dengan puluhan panggilan tak terangkat dari satu nama.
Minimi calling.
.
.
.
Flashback saat ayah Sungmin memberitahukan apa yang sebenarnya.
"Sungmin, maafkan ayah."
"Jangan begitu. Seperti berita buruk untukku, kenapa aku tidak bisa bertemu dengan Kyuhyun, Ayah ?"
"Kakak Kyuhyun meninggal karenamu, Sungmin."
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC~
Telat publish lagi ngga papa kan ya..
Kayaknya udah mau end(?) tuh... aku frustasi ngga end-end nih u.u
Haloooooooooooooooooo~
Mau ngucapin makasih buat Dirakyu karena udah mau koreksi kelalaianku di chap sebelumnya. Tentang BEI itu aku yang salah, latar ini tetap di korea kok, tapi kemarin aku kebawa sama skripsiku jadi ya salah tulis... di maafin kan ya. Hehe tapi udah ku ubah kok. Thank you~
Untuk semua pembaca yang sudah ngerti, atau setengah(?) ngerti, atau mulai ngerti atau malah ngga ngerti .. di ngertiin aja ya #plakk karena aku memang begini suka buat kata-kata ambigu. Lol
Sebenarnya antara malu(?) ngucapin ini tapi, mungkin beberapa bulan atau tahun(?) fanfic ini harus hiatus dulu. Ngga fanfic ini juga sih tapi akunnya juga. Bukan apa-apa, ini murni alasan dunia nyata seperti yang tadi ku bilang sedang sibuk skripsi.
Takutnya ada yang nungguin tapi sepertinya ngga lah ya... kk~
Aku udah nebak bakal ada pertanyaan bla bla bla yang serupa... semua chapter ada petunjuknya kok kalo jeli, tapi kunci jawabannya ada di chapter 3 ya kk~
Special cinta dan sayang buat semuuuuuuuuuuuuuuua review, favorit dan follow fic ini.
Sign, Najika
