Nah, cerita yang sebenarnya baru muncul! yang sebelumnya itu cuma cerita masa lalu. Yang ini diambil dari alur manga nya. Maaf kalau terlalu mirip dan membosankan...


Naisha POV

Pelan-pelan aku membuka mataku. Cahaya teriknya matahari membuat mataku silau. Aku melihat sekelilingku. Aku mulai menyadari kalau aku duduk bersandar di pohon. Semua orang melihatku dengan bingung, bahkan ada anak laki-laki yang menunjukku sambil mengatakan, "Ma, kakak itu aneh! Dia tidur dibawah pohon di pinggir jalan!", tapi ibunya mengabaikannya. Aku sangat malu dan segera berdiri, lalu berjalan seolah-olah tidak ada apa-apa.

Aku berpikir sekali lagi kenapa aku ada disitu. Tetapi aku tidak bisa mengingat apa-apa. Aku hanya ingat kalau tadi sepertinya aku sudah mati. Tapi kenapa aku masih hidup? Oh iya ini tanggal berapa ya...

Aku mengeluarkan HPku dari sakuku dan melihat tanggal bertuliskan 14 Agustus 2200. Sebentar... 2200? Apa HPku rusak ya? Aku segera melihat sekitarku lagi dan sadar kalau disini bukan negaraku, tapi negara Jepang. Untungnya aku bisa bahasa Jepang, kalau tidak, tamatlah sudah. Karena tempat ini masih asing bagiku, aku terus berjalan lurus.

Di tengah jalan, aku mengingat sesuatu. Bukankah ini mirip dengan Kagerou Project? Lagipula kemarin aku juga mati di tanggal 15 Agustus...

Tidak, Tidak mungkin. Dunia anime tidak mungkin asli. Mungkin aku barusan dilahirkan kembali ke negri yang salah?

Aku terus berjalan sampai aku melihat sebuah gedung yang sangat besar. Gedung ini sebenarnya terdiri atas 2 gedung yang di antaranya terdapat jembatan kecil yang menghubungkan kedua gedung tersebut. Di atasnya terdapat taman bermain. Banyak orang yang keluar masuk dari gerbang. Apa benar ini tahun 2200?

Tunggu, ini benar-benar mirip Kagerou Project. Jangan-jangan, kalau aku masuk ke sini, tiba-tiba ada teroris... Yah tapi nantinya juga gak ada korban tembak. Sudahlah, aku masuk saja.

Aku masih kurang percaya kalau ini adalah dunia nya Kagerou Project.

Aku memasuki gedung itu. Di dalam gedung, semuanya seperti sudah berkualitas tinggi. Semuanya ditata dengan rapi. Aku tercengang melihatnya. Tapi aku tetap berjalan dan mengikuti arus orang-orang berjalan.

Aku tiba di dekat lift. Terdapat banyak lift disana. Banyak orang yang telah mengantri untuk menunggu di depannya. Aku ikut mengantri pula. Sampai akhirnya, aku masuk ke lift yang di tengah. Kami semua berdesak-desakan didalamnya. Orang-orang keluar masuk dari dalam lift.

Aku tidak tahan lagi, disini sesak. Aku dengan asal, langsung keluar dari lift mengikuti arus orang-orang berjalan lagi.

Aku melihat tulisan yang berada di dinding dekat lift tersebut. Tulisan itu bertuliskan "lantai 7".

Ah. Kalau aku baca di Light Novel Kagerou Daze, terorisnya beraksi di lantai...

Setelah aku berusaha mengingatnya kembali. Aku teringat kalau terorisnya beraksi di lantai 7.

Kemudian bertepatan saat aku mulai mengingatnya, aku mendengar suara ledakan.

Semua orang berlari untuk kabur dari tempat ini dan berteriak-teriak. Aku segera panik. Inilah akibatnya kalau aku kurang percaya bahwa sekarang ini aku ada di dunianya Kagerou Project. Aku segera berlari menuju lift. Tapi, pembatas besi tiba-tiba turun di depan lift dan pintu-pintu keluar lainnya sehingga menutupi jalan keluarnya.

9 teroris mulai bermunculan. Salah seorang teroris yang muncul tiba-tiba, berkata "Nah, ayo mulai"


Aaah... Semua orang di lantai ini berhasil ditangkap dan dikumpulkan ke satu tempat dengan cepat, bahkan aku juga tertangkap. Tanganku juga sudah diikat.

Dari dalam gedung, aku bisa mendengar suara helikopter walau hanya bisa mendengarnya sedikit.

Lalu, aku kembali menengok ke arah teroris-teroris itu. Mereka sedang berbicara dan aku berhasil mendengar pembicaraan mereka walau sedikit.

"13.00. Ini waktunya"

"Oh"

Salah satu teroris itu -yang sepertinya adalah pemimpin mereka- mengambil sesuatu yang kemungkinan adalah HPnya yang telah dihubungkan dengan sistem penyiaran. Lalu ia mulai berbicara melalui HP itu.

"Ah. Tes, tes. Yo. Kalian bisa mendengarku? Eh- untuk polisi yang berada di luar sana, ini pasti berat untuk kalian. Aku cuma akan mengatakan ini sekali, jadi dengarkan baik-baik. Sebetulnya aku punya satu tuntutan."

Orang-orang mulai ketakutan dan berbisik-bisik. Tetapi, teroris itu tidak memedulikannya dan melanjutkan perkataannya.

"Dalam waktu 30 menit, aku ingin kalian menyiapkan uang 1 miliar. Bawalah uangnya ke lantai paling atas gedung ini. Kami punya seseorang yang sudah siap menerima uangnya, yang akan kau lemparkan ke kita dari helikopter. Sia-sia jika kalian memakai trik seperti memberi uang palsu atau menempatkan alat-alat pendengar. Sebaiknya kalian menyerah untuk itu... Aku tau itu sudah jelas. Jika kau datang tanpa membawa uang atau mencoba untuk menyelamatkan sandera-sandera-"

Aku gugup mendengarnya, dan sudah mengira apa yang akan dia katakan...

"Aku akan membunuh semua orang disini"

Sudah kukira dia mengatakan hal itu. Setelah itu, aku mendengar orang di sebelah kiriku berbicara.

"Ap... Tidak mungkin...! Tuntutan seperti itu tidak akan diterima..."

Dia mengatakannya dengan wajahnya yang pucat. Aku memperhatikan dia dari atas sampai bawah. Dia itu... Kisaragi Shintaro... Beneran.

Karena aku tidak tau apa yang mau kukatakan, aku hanya diam saja sambil memperhatikannya.

Setelah wajahnya menjadi pucat, dia mulai menenangkan dirinya. Lalu dia terlihat seperti memikirkan sesuatu. Menurutku, dia memikirkan jalan keluar darisini. Dia pun terlihat mendapatkan ide, tapi dia tiba-tiba murung lagi dalam sekejap. Pfft! Benar-benar orang yang lucu.

"Tch!"

Aku kembali menengok ke arah pemimpin teroris yang tiba-tiba bersuara.

"Oi, sialan! Kepala siapa yang kau pukul!?"

"Eh... Tunggu... Aku tidak melakukan apapun... Ugh!"

Tiba-tiba pemimpin teroris itu menonjok perut temannya itu. Dia terus memukul temannya itu. Padahal tidak ada siapapun yang memukul kepalanya. Yah, aku tau sih kalau itu ulah Marry yang ceroboh, jadi aku tidak kaget.

"Apa yang terjadi tiba-tiba... Jelas tidak ada yang memukulnya...", kata Shintaro yang bingung.

"Kuku... "

Aku mendengar suara laki-laki yang tertawa kecil. Aku yakin suara ini pasti dari Kano. Shintaro juga sepertinya mendengarnya. Lalu kami berdua menengok ke arahnya.

"...? Ah. Tidak. Maaf maaf. Itu hanya terlalu lucu. Aku tidak bisa menahan tawaku, Heh" kata Kano sambil menyelesaikan perkataannya dengan menghela nafas, tapi dia tetap nyengir-nyengir.

"Lucu... Apanya yang lucu...?" Kata Shintaro dengan bingung

"Eh? Yah, alasannya banyak. Ngomong-ngomong, kamu..." Kata Kano. Lalu ia melanjutkan kata-katanya. "Kau telah menunjukkan 'mata' yang menarik tadi" lanjutnya sambil menatap Shintaro.

"Eh?"

"Ada sesuatu yang ingin kau lakukan~ Tapi gak ada kesempatan untuk melakukannya~ Perasaan yang seperti itu"

Shintaro pun kaget dan menjawabnya, "Gimana kau tau apa yang kupikirkan..."

"Nah, itu hanya perkiraanku. Tapi sebenarnya apa? Apa kau punya ide?" kata Kano sambil tetap senyum-senyum.

"...30 detik" jawabnya

"Jika aku punya waktu 30 detik... Aku bisa membuat orang-orang itu diam!"

Kano yang mendengarnya pun mulai nyengir lagi.

"Eh... Itu hebat. Yah, kau tidak terlihat seperti berbohong. Berapa kemungkinan keberhasilannya?"

Shintaro pun menggenggam tangannya erat dan menjawabnya dengan serius dan yakin.

"Maaf, tapi... 100%"

Kano terdiam sesaat, lalu dia mulai tertawa. Terdengar suara "Pfft!" dan "Ku ku ku" darinya.

Aku mulai berpikir. Mungkin kalau aku ikut dengan rencananya mereka, aku bisa mengenal mereka. Tidak hanya diam saja seperti ini. Karena kalau di manga, biasanya kalau ada orang yang ikut campur, pasti dia juga menjadi salah satu tokoh walau sampingan. Yosh! Aku harus bicara dengan mereka.

"Umm..."

Mereka menengok ke arahku. Gawat, aku harus tenang! Aku susah untuk berinteraksi. Apalagi dengan karakter anime. Tenang, tenang.

"Ka-Kalau boleh, bo-boleh gak aku ikut membantu kalian? A-Aku mendengar pembicaraan kalian..."

Setelah mendengarku, Kano tertawa

"Pfft! Boleh, boleh saja~ Tapi kenapa kau gugup gitu~? Kukuku"

Wajahku memerah, lalu menjawabnya.

"Di-diam! Aku baru pertama kali ngomong dengan orang Jepang! Jadi aku gugup..." jawabku sambil memberi alasan

"Hee~ Bukan orang Jepang ya... Kamu darimana?"

"Ee..."

Saat aku mau menjawabnya, Shintaro menyela

"Hei, kita lagi dalam keadaan seperti ini, kalian malah ngobrol"

Shintaro pun menengok ke arahku

"Yah, walau aku punya ide... Kalau gak ada kesempatan, aku gak bisa melakukannya"

"Mungkin saja ada kesempatan nanti..." jawabku.

Gawat, aku kelepasan.

"Maksudmu?" tanya Shintaro yang mulai heran.

"Aku pikir... Orang-orang itu akan membuat pemberitahuan lagi nanti. Saat itu, kesempatan 'pasti' akan terbuat. Lalu, nanti terserah kau~" kata Kano yang masih tersenyum

"Hah? Apa maksudmu? Lagipula, aku gak bisa melepaskan ikatan ini..." jawab Shintaro yang masih heran.

Saat itu, kami mendengar ocehan pemimpin teroris itu.

"Ahh, Sialan, Aku jengkel! Oi! Akan kuumumkan sekali lagi! Hubungkan dengan siaran!"

"Ba-baik!" jawab temannya dengan tergesa-gesa

"Mereka gak sabar" kata Kano sambil tersenyum

Shintaro terlihat kaget. Mungkin dia kaget karena perkataan si Kano itu tepat. Aku sih gak kaget karena sudah tau.

"Ah-... Kalian bisa mendengarku? Aku sudah memutuskan untuk mengurangi waktu menjadi 10 menit. Artinya, waktu kalian tinggal 10 menit lagi" kata pemimpin itu sambil tersenyum lebar.

Dasar teroris gak sabaran.

Semua orang langsung panik saat mendengarnya.

"Jika kalian mau protes karena kurang waktu, aku akan membunuh setengah orang-orang disini sekarang juga. Mengerti?"

Lalu dia melanjutkannya lagi

"Aku akan mengatakan ini sekarang... Kami akan pergi dengan helikopter saat mendapat uangnya. Kalian jangan mengikuti kita. Helikopternya berisi bahan peledak. Jika kami melepaskannya, mungkin bahan peledak itu bisa menghancurkan jalanan. Jika aku merasakan tanda seseorang mengikuti kita, aku akan segera melepaskan bomnya"

Semua orang panik dan berbicara satu sama lain. Aku menatap Shintaro. Shintaro gemetar dan terlihat marah.

"Sialan... Mereka keterlaluan..."

Kano membalasnya dengan ekspresi biasa. "Gak apa-apa. Masih ada waktu, jadi gak apa-apa"

Kalau dipikir-pikir, Kano benar-benar aneh kalau dilihat beneran. Sikapnya itu loh...

Shintaro mulai marah

"Kenapa kau masih bisa tenang...?"

"Hei, tenanglah!" kataku untuk menenangkannya.

Tanpa sadar, ia berteriak sambil menengok ke arah Kano "Ini bukan waktunya untuk bercanda! Keluargaku juga bisa mati tau!"

Setelah itu semuanya hening. Shintaro juga tiba-tiba sadar kalau dia tanpa sadar berteriak.

Pemimpin teroris itu mendekati Shintaro. "Hei, ada apa denganmu? Berisik sekali..."

Shintaro segera gemetar bahkan mengeluarkan air mata.

"Oi, oi. Kau gemetar..."

Pemimpin teroris itu menjambak rambutnya lalu berkata

"Apa yang terjadi dengan keyakinanmu tadi!? Huh!?"

Dia mengangkat Shintaro sambil masih menjambaknya.

"Hi...!"

"Dasar lemah... Kau jarang keluar kan!?"

Shintaro masih terus gemetar.

"Aku yakin tidak ada orang yang peduli jika sampah sepertimu mati, kan? Bener gak, oi!" kata pemimpin itu sambil menengok ke arah teman-temannya. Teman-temannya tertawa.

Apa dia baik-baik saja? Aku jadi makin khawatir. Aku gak boleh diam saja.

Saat aku mau membela Shintaro, Shintaro berbicara

"...lan..."

"Ah? Apa katamu? Suaramu terlalu kecil! aku gak bisa mendengarnya!" kata pemimpin teroris itu sambil tersenyum mengejek.

"ORANG SEPERTIMU HARUS MEMBUSUK DI PENJARA SELAMANYA SIALAN!" teriak Shintaro yang sangat marah

Aku tercengang melihatnya. Lalu mendengar suara Kano.

"Kau orang yang menarik... Sempurna"

Setelah itu, terdengar suara TV tiba-tiba jatuh. Lalu speaker-speaker berjatuhan pula. Semua orang kebingungan melihatnya. Pemimpin teroris itu melepaskan Shintaro dan menjatuhkannya.

"Oi! Apa yang terjadi!? Kenapa tiba-tiba benda jatuh sendiri!?"

Ia berlari menuju TV dan speaker yang jatuh itu.

"Sialan... Seseorang mempermainkanku... Siapa disana!?"

Tidak ada yang menjawab.

"Oi! Jawab aku...!"

Tiba-tiba benda-benda beserta raknya jatuh menimpa pemimpin teroris itu. Bahkan hidung teroris itu mimisan. Pfft! Itu balasannya kalau jadi orang itu reseh.

Setelah itu, Kano melepaskan ikatan Shintaro.

"Hei, Sekarang kesempatanmu. Baiklah, aku menantikan pertunjukkanmu~" kata Kano sambil tersenyum

Lalu Kano mendekatiku dan melepaskan ikatanku juga.

"Maaf yah~ Sepertinya kau tidak bisa ikut membantu"

Setelah itu, Shintaro segera berdiri dan berlari menuju komputer yang ada disana. Dia menginjak rak yang menimpa pemimpin teroris itu. Beberapa teman terorisnya sadar dan siap-siap menembaknya.

Gawat! Mereka mau menembak Shintaro!

Shintaro berhasil menghubungkan Ene ke komputer. Lalu pembatas besi terbuka.

Tanpa sadar, mataku mulai sakit dan perih. Ada apa ini? Aku mengucek-ngucek mataku. Aku masih bisa melihat teroris-teroris itu yang mau menembak Shintaro.

Sekilas aku lupa kalau di manganya, peluru itu hanya menyerempet saja. Aku ingin berdiri dan segera berpindah kesana.

Tapi, tanpa kusadari, tubuhku tiba-tiba berpindah ke dekat Shintaro dan berhasil mendorongnya.

Saat tiba-tiba berpindah itu, aku langsung kebingungan banget. Memangnya aku bisa teleportasi ya?

Aku kembali melihat tubuhku. Sepertinya aku tidak terkena pelurunya. Aku melihat Shintaro. Dia sudah pingsan karena ketakutan. Aku tersenyum kecil melihatnya.

Bertepatan dengan itu, Momo berhasil menarik perhatian semua orang disitu dan Marry berhasil menghentikan gerakan mereka.

Polisi-polisi mulai masuk. Mereka melihat orang-orang yang berhenti gerakannya. Mereka kebingungan melihatnya.

Kano mendekatiku dan membungkuk, lalu berkata

"Kau punya 'itu' juga rupanya"

"Eh? 'Itu' apa?"

"Kau gak sadar kalau matamu sekarang warnanya merah?"

"A-Apa mak-"

Lalu aku mendengar suara Kido dan Momo

"Tujuan selesai. Mungkin"

"Kano! Gimana keadaan kakak!?"

Kano memasang wajah sedih.

"Sayang sekali..."

Lalu wajahnya terlihat kembali senyum.

"Anak ini cuma ketakutan terus pingsan"

Kido dan Momo menghampiri kami. Lalu Momo menghela nafas. Kido menatapku dan berkata

"Kau siapa?"

"Eh- Umm... Aku..."

"Hei, hei~ Kido, kau membuatnya takut~"

Kido mengelaknya, "Ti-Tidak! Aku tidak bermaksud begitu!"

Kano menepuk bahuku dan berkata, "Anak ini seperti kita"

Kido melihatku dan menatap mataku

"Matamu merah... Baiklah ikutlah dengan kami"

Aku masih bingung dan menjawab "Tu-Tunggu! Memangnya mataku merah ya? Mataku kan warnanya coklat... Lagipula aku gak pernah pakai softlens"

Kido menengok ke Momo

"Kisaragi, apa kau punya cermin?"

"Ah, iya aku punya", Momo mengambil cermin dari saku nya dan memberikannya padaku.

Aku melihat mataku yang berwarna merah. Sejak kapan...? Ah! Tadi aku tiba-tiba pindah ke dekat Shintaro. Jangan-jangan yang itu?

"Kau sudah lihat kan? Sebaiknya kita harus pergi darisini"

Momo pun mengingat sesuatu

"Ah iya, dimana Mary-chan?"

Aku, Momo, dan Kido menengok ke samping dan melihat Marry-chan yang menabrak polisi. 'Gawat...' Pikirku.

"Ahhhhh!" Kido dan Momo berteriak bersamaan.

"Si bodoh itu! Dia benar-benar akan menaruh alat pijat genggam itu!" kata Kido

"Dia ditanya-tanya... Uwaaah! Apa yang harus kita lakukan?" kata Momo

"Pfft... Kuku... Pijat genggam yang kena kepalanya teroris itu! Tapi kenapa dia memilih itu... Apa dia ingin membuatku ketawa!? Hee.. Perutku sakit!"

Kido marah dan memukul perut Kano.

"Diam!"

Aku segera berbicara pada Kido.

"Kido! Bawa Mary sekarang! Sepertinya sebentar lagi kekuatannya Mary hilang"

"Eh? Gimana caranya kau bisa tau namaku?"

Ah...

Aku segera mengalihkan pembicaraan.

"Huwaaa! Mary menunjuk ke arah kita!" kataku

Mereka melihat ke arah Mary lagi, "Uwaaah! Mereka berjalan kesini!" Teriak Kido dan Momo

Aku melihat Kano yang memegang perutnya kesakitan di lantai.

"Tunggu! Kano mengganggu! Cepat tarik dia!"

Entah kenapa, aku tertawa "Pfft! Hahaha!"

"Hei! Kau! Jangan ketawa!"

"Dadaku... Sakit... Gara-gara Kido" kata Kano yang masih kesakitan

"Kau... Bangun! Uwaaaaaaaah" teriak Kido yang sudah panik

Kaki polisi itu menyentuh Kano, lalu polisi itu berteriak, "Uwaaah!? Kenapa tiba-tiba ada orang disini!?"

"Ka... Kabur!" teriak Kido dan Momo

"Wah, kalian akrab juga. Daritadi ngomongnya bareng" kataku sambil tersenyum santai

"Hei, kau juga kabur!" kata Kido sambil menarik tanganku

"Mary-chan!", Momo berhasil memegang tangan Mary dan menariknya.

"Kau mau kemana!?" teriak polisi itu

"Danchou-san! Aku dapat Mary-chan!" kata Momo

"Andai kita bisa hilang dari penglihatan mereka walau cuma 1 detik..." kata Kido

"Tenang saja, sebentar lagi efek kekuatannya Mary hilang kok" kataku

"Eh?" kata Momo dan Kido kebingungan

Tepat setelah aku mengatakan hal itu, efek kekuatan Mary benar-benar sudah hilang. Lalu polisi-polisi langsung menengok ke orang-orang yang sudah bergerak lagi, "Apa!?". Kami menggunakan kesempatan itu dan Kido mengaktifkan kekuatannya lagi. Polisi itu kembali menengok ke arah kita, tapi dia tak melihat apa-apa, "Eh? Mereka hilang?" katanya

Kido berlari ke Kano. "Oi! Kano! Bawa kakaknya Momo kesini!"

Kano mengeluh, "Eh? Apa itu? Nyusahin saja..."

Kido menunjukkan tangannya yang mengepal yang sudah siap untuk memukul Kano. Wajah Kano mulai pucat.

"...Tidak nyusahin sama sekali! Aku sangat senang membawa tubuh itu kembali!"

"Kano-san, kau sangat menjijikan..." komentar Momo

"...Hehehe" tawaku sambil menahannya

"Daritadi kau ketawa terus... Apa kau ketularan Kano?" tanya Kido

"Tidak... Sudah lama aku gak ketawa seperti ini, hehe" kataku sambil tersenyum ke arah Kido

"Ooh.." Kata Kido sambil tersenyum juga kepadaku

"Ah iya! Ene-chan! Apa kau disini?" kata Momo sambil memegang HP Shintaro

"Ohh! Si adik! Eh apa kau datang berbelanja? Dimana Master?" kata Ene sambil tersenyum ceria

"Uh, tentang itu... Aku akan memberitahumu nanti. Kau mau ikut bersamaku?" kata Momo

"Apa kita akan pergi ke taman bermain?" tanya Ene

"T...Tidak...?" jawab Momo

"Oi! Kita pergi" kata Kido ke Momo

"B-Baik!" jawab Momo

Kita semua berlari meninggalkan tempat itu. Di tengah jalan, aku mendengar percakapan Momo dan Mary.

"Hey, Mary-chan!" panggil Momo

"A-Apa, Kisa... Momo-chan!" kata Mary sambil tersenyum ke arah Momo

"Hari ini... Aku sangat senang!" kata Momo sambil tersenyum lebar.

"Aku juga!" Balas Mary dengan tersenyum ceria juga

Mereka sangat senang sehingga aku pun yang berada di belakang mereka juga ikut tersenyum.

Ene pun memanggil Momo, "Adik!"

"Ya?"

"Apa itu? Yang dikatakan Yuri-? Hei adik-"

Momo langsung mematikan HPnya.

"Apa itu 'lilies'?"

"Tidak usah kau pedulikan, Mary-chan"

Aku yang berada di belakang mereka juga ikut berbicara.

"Wah, jadi mulai ada tanda-tanda yuri nih" isengku sambil berjalan di dekat Momo

"Ke-Kenapa kau juga ikut-ikutan?"

"Apa itu 'lilies', Momo-chan?"

"...", Momo terdiam. Mary mulai bingung dan penasaran.

Aku berjalan ke sebelah Mary-chan.

"Kau ingin tau?" tanyaku sambil tersenyum santai

"I-Iya..!"

"Ah itu loh, hubungan 'terlarang' antara cewek de-"

Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, Momo menutup mulutku.

"Jangan kasihtau yang aneh-aneh!"

Aku pun tersenyum lagi dan berkata dengan susah payah karena mulutku ditutup Momo, "Hahi henal henal huri ha? (Baca : Jadi benar-benar yuri ya?)"

"Kau ngomong apa? Aku gak tau" kata Momo bingung

"Helas hamu hingung han hamu hutubin (Baca : Jelas kamu bingung kan kamu tutupin)"

Mary masih bingung melihat kami.


Setelah itu, kami semua sampai di luar dengan tenang (kecuali aku yang masih ditutup mulutnya sampai di luar).

"Ah, akhirnya..." kata Kido sambil menghela nafas lega

Kido melihat ke belakang dan melihat aku dan Momo dengan bingung.

"Kisaragi, apa yang kau lakukan?"

"Hm?"

"...Kau menutup mulutnya"

Momo melihat ke arahku lalu segera melepaskan tangannya.

"U-Uwaaah! Maafkan aku!"

Aku hanya tertawa dan berkata, "Haha, gak apa-apa. Lagipula kau sangat ingin menyimpan perasaan yuri mu itu ya? Aku jadi terharu..."

"Sudah kubilang jangan ngomong yang aneh-aneh..!" kata Momo

"Yu-Yuri?"

"Pfft! Aku gak menyangka kalau kamu yuri, Kisaragi-chan~ sama siapa?" sela Kano

"S-Sudah kubilang..! Itu cuma...! Aah!" kata Momo sambil memegang kepalanya

Enak juga ngisengin orang kayak gini.

"Oh ya, kamu" panggil Kido ke arahku

"Ya?"

"Siapa namamu? Dan kenapa tadi kau bisa tau namaku dan Mary?"

Aku pun diam sejenak, lalu berkata "...Panggil aku Naisha, yaah, gimana ya? Aku cuma kebetulan tau saja, hehe"

Kido menghela nafas dan masih terus berjalan lalu berkata "Baiklah kalau kamu gak ingin kasihtau... Apa kekuatan matamu?"

Aku menaruh tanganku di dekat dagu. Aku mengingat kejadian 'berpindah' saat itu. Mungkin yang itu...

"Hmm... Aku gak yakin. Tapi, tadi aku tiba-tiba berpindah ke dekatnya cowok itu" kataku sambil menunjuk Shintaro

"Seperti teleportasi ya...? Hmm... Kalau begitu, nanti kita bicarakan di markas"

"Baiklah" kataku dengan santai


Kami sampai di sebuah apartemen kecil. Di depan kami terdapat pintu bertuliskan '107'. Kami masuk ke dalamnya. Lalu kami melihat Seto yang sudah menunggu.

"Kalian sudah kembali ya... Siapa mereka bertiga?"

"Nanti akan kami jelaskan... Kano, angkat kakaknya Kisaragi ke kamarnya Mary. Mary, jagalah kakaknya Momo" kata Kido

"Baiklah~..", lalu Kano dan Mary pergi menuju ke kamar Mary

"Seto, mereka adalah anggota baru Mekakushi Dan"

"Eh, eh? Aku juga?" kata Ene yang tiba-tiba menyela

"Yah, karena kau sudah sedikit tau... Jadi terpaksa kau juga ikut menjadi anggota..." Jawab Kido

Mata Ene berbinar-binar dan berkata, "Sepertinya menyenangkan! Aku ingin masuk! Apa Master juga akan menjadi anggota?"

"Yaah, aku gak tau..." jawab Kido

"Hee.. Langsung mendapatkan 4 anggota dalam sehari? Kalian benar-benar hebat" kata Seto sambil tersenyum

"Gak juga, ini hanya kebetulan" balas Kido

"Ini bukan kebetulan~ Mungkin ini takdir~" kata Kano yang tiba-tiba muncul

"Ka-Kano! Jangan tiba-tiba muncul begitu!" kata Kido

"Maaf, Maaf~" balas Kano

Aku pun mulai berbicara, "Umm... Kekuatanku apa?"

Kido mulai berpikir karena dia tak melihat jelasnya. Momo pun menyela, "Memangnya kamu punya kekuatan juga?"

"Iya, tadi mataku merah" jawabku

Kano mulai berbicara sambil nyengir "Mungkin kekuatanmu seperti berpindah ke tempat lain~ Apa kau tidak tau selama ini~?"

Aku menjawabnya, "Gak, aku baru mendapatkannya sekitar hari ini atau kemarin. Ah! Tadi siang aku tiba-tiba berada di bawah pohon di pinggir jalan! Aku gak ingat pernah siap-siap atau berangkat ke Jepang..."

Semua orang mulai kaget kecuali Kano.

"Eh!? Kau bukan orang Jepang!?", tanya Momo

"I-Iya, aku orang Indonesia..."

"Tapi bahasa jepangmu lancar sekali" kata Seto

"Aku pernah belajar bahasa Jepang"

Momo mulai berpikir, "Eem... Indonesia ada dimana ya?"

Kido menjawabnya, "Masih di Asia kayaknya"

"Aku tidak menyangka bisa mendapatkan anggota dari luar negri, iya gak Kido~?" kata Kano masih nyengir

Kido mengabaikan Kano, Kido masih terus berpikir. "Hmm, kau baru mendapatkan kekuatan matamu hari ini... Terus tiba-tiba ada di Jepang... Ah!"

Aku mulai heran dan bertanya, "Kenapa?"

"Mungkin saja sebelum tiba-tiba kau ada di Jepang, kau sudah punya kekuatan. Lalu kau tanpa sengaja memakainya. Tadi kau bilang saat matamu merah itu, kau berpindah kan?"

"Iya sih, benar juga. Tapi jauh banget, dari Indonesia ke Jepang... Ah iya! Ini tahun berapa?" Balasku

"Eh tahun? Ini tahun 2200 kan? Ada apa?" Jawab Kido

Aku pun berdiri sambil berteriak kaget

"Eeh!? Ini benar-benar tahun 2200!?"

"E-Eh iya..." kata Seto

"Bukannya ini tahun 2014!? E-Eh!?" Teriakku sambil kebingungan

"Eh, kalau begitu... Kau dari masa lalu!?" tanya Ene yang diam daritadi

"Ehh! Benarkah!?" kata Momo yang berteriak kaget ke arahku

"Ah, Aku mengerti... Mungkin kekuatanmu itu berpindah ke tempat atau waktu lain" kata Kido yang sepertinya sebenarnya juga kaget tapi pura-pura tenang.

"Pfft! Pindahnya terlalu jauh! Aku jadi bersimpati... Kukuku~" kata Kano sambil terkekeh

"Diamlah, Kano!" kata Kido

"Kalau begitu, karena kau gak tau nama kekuatanmu sendiri~ Gimana kalau kuberi nama 'Moving Eyes'~?" lanjut Kano santai

"Terserah sih..." jawabku

"Baiklah, akan kita sebut 'Moving Eyes'. Tapi kau sudah mengerti tentang kekuatan mata?" Tanya Kido

"Iya, aku sudah ngerti kok!" jawabku sambil tersenyum

"Hei, hei~ Kalian kan belum memperkenalkan diri~" kata Kano

"Ah, benar juga. Panggil aku Naisha. Aku berasal dari Indonesia, umurku 14 tahun. Salam kenal" kataku sambil memperkenalkan diri

Momo berkomentar, "Kamu 14 tahun!? Uwaah! Kau tinggi! Bahkan tinggimu hampir sama denganku!"

"Mungkin kalau umurmu sudah 16 tahun, kau bisa lebih tinggi dari Kano" kata Kido

"... Itu menyakitkan", jawab Kano

"Namaku Ene!" kata Ene memperkenalkan dirinya

"Dan namaku Kisaragi Momo! Umurku 16 tahun! Seorang idol!" Kata Momo ceria

"Hmm~ Kalau begitu berarti Kisaragi-chan nomor 5, Ene-chan nomor 6, dan Naisha-chan nomor 7 ya~?"

"Eem... Aku nomor 10 saja" kataku

Semuanya menatapku.

"Eh~ Kenapa?"

"A-Aku suka nomor 10... Hehe" jawabku sambil menggaruk kepalaku

Sebenarnya karena gak mau menggantikan nomor Shintaro, lagipula nanti ada Hibiya ama Konoha...

Setelah itu, kami mendengar suara teriakan Mary.

"Eh!? Mary-chan!?"

Momo langsung pergi ke kamar Mary dengan membawa Ene di HPnya. Kido, Kano, dan Seto menyusulnya.


Saat aku mau menyusul mereka juga, aku mulai mengingat sesuatu yang penting...

Bukankah waktu itu aku sudah mati tertimpa lemari...?

Dan gimana keadaan Noel...?

Aku khawatir...


"Why I have to smile even though my heart is hurt?"


Author's note : Akhirnya chapter 1 selesai juga... Maaf kalau terlalu mirip #mintamaafmelulu #slap Kalau bisa, mohon reviews ya!