Halo! Maaf kalau chapter ketiga ini updatenya sangat lama. Soalnya minggu lalu aku pergi ke luar kota, dan ada satu fanfic lagi yang harus kulanjutkan. Sekali lagi, saya minta maaf.

Baiklah, akan kulanjutkan cerita ini.


CHAPTER 3 - STILL PRECIOUS FOREVER


Noel POV

Sekarang ini, aku benar-benar tidak tahu dimana aku berada. Tempat ini... bukan di Indonesia, ini bukan negara Indonesia, negri dimana aku lahir.

Beberapa menit yang lalu, aku terbangun di depan sebuah taman bermain yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sepertinya sekarang ini sudah siang, jadi sudah ada banyak orang. Dan, tentunya aku dilihatin oleh orang-orang yang lewat, dengan ekspresi kebingungan terukir di wajah mereka. Mereka sepertinya menganggapku aneh... Apa karena aku tampak seperti tertidur di depan taman bermain?

Tanpa memedulikan tatapan banyak orang, aku segera berdiri dan menepuk-nepuk celanaku karena kotor terkena tanah. Setelah selesai menepuk celanaku, aku memerhatikan sekitarku untuk mencari tahu dimana aku berada sekarang ini. Aku mendengarkan baik-baik pembicaraan orang-orang yang lewat.

'Sepertinya, ini bahasa Jepang... Jadi ini di Jepang ya?'

Aku bisa mengerti bahasa Jepang karena diajarkan oleh Naisha. Ya, benar, Naisha suka sekali dengan anime, manga, dan game sehingga ia mempelajari bahasa Jepang. Karena nona menyukai anime, manga, dan game, serta bahasa Jepang, tentu saja aku juga menyukai dan mencoba mempelajarinya. Walau aku hanya tahu beberapa anime saja...

'Ah! Benar juga! Naisha-'

Aku teringat kembali pada Naisha. Tapi, aku menyadari sesuatu. Nona sudah tiada... Sebelumnya, ayah sudah bilang 'kan, kalau Naisha sudah mati...

Percuma.

Aku tidak bisa hidup tanpa Naisha.

Semuanya hampa tanpa Naisha.

Apa... Aku bunuh diri saja, ya?

... Tidak. Nona pernah bilang kalau dia tidak suka seseorang bunuh diri. Aku tidak boleh melakukannya.

Aku menggelengkan kepalaku dengan kencang, sampai leherku terasa sakit. Aku memegang leherku yang sakit itu sambil meringis kesakitan. Setelah rasa sakit di leherku mulai hilang, aku menepuk pipiku dengan kedua tanganku secara bersama-sama. Aku memejamkan kedua mataku. 'Ya, aku harus bisa menatap masa depan! Jangan menyerah seperti ini!' Setelah meyakinkan diriku, aku membuka mataku, dan senyuman terukir di bibirku. Rasanya lebih enak jika ada yang menyemangati... Walau itu adalah aku sendiri.

Aku mulai berjalan memasuki taman bermain tersebut. Ah, tentu aku harus membeli tiket. Untungnya, aku membawa uang di dompetku, jadi aku dapat membelinya. Aku berbalik arah untuk kembali ke loket. Di loket itu, aku mengantri sekitar 10 menit. 'Wah, orang yang mau ke taman bermain banyak juga.'

Setelah berbicara dengan petugas loket untuk membeli 1 tiket, aku berjalan keluar dari antrian panjang itu, menuju pintu gerbang taman bermain.

Sebenarnya, aku sendiri tidak tahu apa yang mau kulakukan di taman bermain ini. Mungkin untuk menghibur diri? Aku juga tidak tahu kenapa aku tiba-tiba berada di Jepang. Tapi aku tidak memedulikannya. Yang aku pikirkan hanya Naisha. Apa ini yang dinamakan 'galau'?

Sambil berpikiran seperti itu, aku sudah berjalan melewati pintu gerbang taman bermain itu. Taman bermain itu sangat luas. Bahkan, ada wahana yang tidak pernah kulihat sebelumnya di Indonesia. Di Jepang memang lebih modern... Mungkin aku bisa bersenang-senang di taman bermain ini.

Kedua sudut bibirku tertarik ke atas. Walau sendirian, bermain di taman bermain memang sangat menyenangkan dari dulu. Bahkan, aku yang belum bermain satu wahana pun sudah dapat menyimpulkan.

Aku melihat wahana labirin es di depanku. Wahana labirin es ini paling dekat dengan posisiku sekarang ini.

Sekarang ini, kesempatan beberapa kali dalam hidupku. Aku harus memainkan semua wahana!

Kalian berpikiran kalau aku seperti anak kecil 'kan? Aku mengakuinya juga karena Naisha juga bilang seperti itu.

Aku berencana memulai dari labirin es. Tapi, saat aku berjalan menuju labirin es tersebut, tanpa sengaja aku menabrak seseorang. Aku dan dia jatuh ke belakang bersamaan. Pinggangku terasa sakit karena terjatuh itu, aku memegang pinggangku yang terasa sakit itu sambil meringis kesakitan. Ini sudah kedua kalinya aku ceroboh pada hari ini.

"E-Etto... Kamu tidak apa-apa 'kan?"

Aku mendongak untuk melihat jelas wajah orang yang kutabrak itu. Ternyata, yang kutabrak adalah seorang gadis berambut putih yang panjang rambutnya bisa mencapai lantai, umurnya juga kira-kira sekitar 14 tahun... Jadi mungkin umurnya sama sepertiku dan juga Naisha.

"Ah, iya, tidak apa-apa kok! Kadang-kadang aku ceroboh. Hehe." Aku memasang senyuman kecil di bibirku sambil tertawa kecil.

"Maaf! Maaf! Aku tidak sengaja!", ucap gadis itu sambil membungkukkan badannya berkali-kali.

Melihat dia yang membungkukkan badannya tanpa henti, aku menggoyangkan kedua telapak tanganku dengan cepat, "Tidak, Tidak. Ini bukan salahmu! Ini salahku kok yang menabrakmu tanpa lihat-lihat terlebih dulu."

Tapi, dia menjawabku lagi dengan mengepalkan kedua tangannya di depan dadanya, "Tidak! Ini salahku!"

"Tidak, ini bukan salahmu! Ini salahku."

"I-Ini salahku!"

"Bukan kok, ini bukan salahmu!"

"Salahku!"

"Salahku!"

Kami berteriak berbalasan saling menyalahkan diri sendiri. Bahkan, sepertinya orang-orang yang melewati kita pun melihat kita dengan kebingungan. Setelah sudah berteriak menyalahkan diri sendiri berpuluh-puluh kali, nafas kami berdua terengah-engah karena kelelahan berteriak. Akhirnya, akulah yang menyelesaikan ini.

"Ya sudah, ini salah kita berdua. Kita anggap seperti itu saja!", ucapku dengan tersenyum lebar pada gadis itu. Gadis itu melihatku, lalu ia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum juga. "Iya!"

Setelah melihat dia, aku melihat kembali labirin es yang tepat berada di belakang gadis itu. Aku bertanya padanya, "Kau juga mau ke labirin es?"

Dia menganggukkan kepalanya untuk kedua kalinya, lalu aku tersenyum padanya, "Mau masuk ke labirin es bersama?"

Saat aku menanyakan hal itu, wajah dia bersinar, seakan-akan dia sangat gembira mendengarnya.

"Iya! Kebetulan aku juga mencari orang untuk masuk bersama!"

"Eh? Memang harus ada banyak orang?", tanyaku.

"Ah, tidak... Tapi, harus berpasangan untuk masuk kesana."

"Ooh, baiklah, Kita masuk bersama-sama!"

"Em!"

Setelah itu, kami berdua masuk bersama ke labirin es itu. Di dalam labirin es itu, suhunya sangat dingin dan semuanya berwarna putih. Karena suhu yang sangat dingin ini, aku yang memakai pakaian butler ini tetap kedinginan. Aku menggigil tepat beberapa detik masuk ke dalam labirin es itu.

"Di-Dingin...", ucap gadis itu dengan memegang kedua tangannya sambil menggigil.

"I-Iya, benar...", balasku yang juga menggigil kedinginan.

"A-Aku tidak tahu kalau sedingin ini..."

"Aku juga..."

Setelah itu, kami berdua tidak berbicara apa-apa lagi. Kami hanya terdiam sambil berjalan pelan di tengah-tengah labirin ini. Aku sendiri sampai tidak memikirkan jalan keluar dari labirin ini karena kedinginan. Tapi, tiba-tiba aku mendapatkan topik pembicaraan.

"Oh iya, namamu siapa?", tanyaku sambil tersenyum padanya.

Dia menjawab, masih terus menggigil, "Na-Namaku Kozakura Mary."

"Namaku Noel. Salam kenal!"

"Ah, sa-salam kenal...!"

Aku masih tersenyum padanya, lalu aku menyadari ia membawa termos di tangannya.

"Biar aku yang bawakan termos itu."

"Eh? Ah, baiklah."

Dia segera memberikan termos itu padaku. Tapi, sebelum dia dapat memberikan termos itu, dia terpeleset dan menumpahkan air dari termos itu. Untungnya, waktu itu aku juga terpeleset sedikit, jadinya aku tidak terkena tumpahan air tersebut. Ah, kali ini aku beruntung.

"Ma-Maaf!", ucapnya sambil membungkukkan badannya lagi.

"Tidak apa-apa, aku tidak terkena kok!", balasku dengan senyuman kecil di bibirku.

Namun, setelah peristiwa tumpahnya termos itu, tiba-tiba kedua mataku terasa perih. Apa aku kelilipan sesuatu? Atau mataku terkena air dari termos itu?

Saat aku berpikiran seperti itu, tiba-tiba berbagai kata-kata dan gambaran masuk ke dalam otakku. Rasanya kepalaku seperti mau pecah. Saking banyaknya kata-kata yang tidak bisa kutampung. Apa yang sebenarnya terjadi?

Tapi, setelah berbagai kata-kata itu sudah hilang dari kepalaku, rasanya aku seperti mengetahui sesuatu yang belum pernah kuketahui sebelumnya. Ini seperti informasi yang tiba-tiba aku dapatkan dalam sekejap mata. Informasi yang kudapatkan adalah tentang gadis itu. 'Jadi, dia adalah 1/4 medusa? Umurnya 140 tahun? Tunggu, ada informasi lain lagi.' Aku memikirkan salah satu informasi yang muncul di kepalaku lagi. Tapi, informasi yang ini dapat membuatku terkejut.

'Naisha...?'

Tanpa sadar, aku menatap mata gadis itu selama 3 menit. Gadis itu- maksudku Mary, juga menatap mataku dengan sedikit terkejut. Namun, tanpa memedulikan alasan ia menatap mataku juga, aku bertanya padanya dengan segera, "Apa kau bertemu Naisha!?"

Setelah mendengarku, kedua matanya berpindah dari menatap mataku, menjadi menatap wajahku. "I-Iya, dia salah satu temanku. Kau mengenalnya?"

"Tentu saja! Se-Sekarang dimana dia!?", tanyaku dengan panik, kedua tanganku juga memegang kedua bahunya yang mungil, tapi aku memegangnya dengan lembut karena dia terlihat seperti gadis yang lemah di mataku.

"A-Aku tidak tahu... Tapi dia pasti ada di taman bermain ini", jawab Mary.

Setelah mendengar jawabannya, aku segera berlari. Gadis itu terkejut melihatku yang tiba-tiba berlari, dan ia juga berlari mengikutiku dari belakang.

"Tu-Tunggu aku...!"

Mungkin sekarang aku ini egois, tapi aku tidak bisa menunggu. Aku harus bertemu dengan Naisha!

Aku berlari dengan sangat cepat, dan Mary tetap mengikutiku dengan nafasnya yang mulai terdengar. Aku berada di depan, dan Mary berada di belakangku. Mungkin jika dilihat orang, kami seperti bermain kejar-kejaran.

"Tu-Tunggu..." Gadis itu sangat kelelahan. Dia berhenti sebentar karena nafasnya yang sudah habis.

Karena kasihan, aku kembali menuju gadis itu, lalu mengulurkan tanganku padanya, "Kau baik-baik saja?" Dia menganggukkan kepalanya dan menerima uluran tanganku, lalu aku menarik dia untuk membantunya berdiri. Kemudian, aku berjalan pelan di depannya. Ia mengikutiku dari belakangku dengan pelan juga.

"Tadi... *hah* Matamu merah..."

"Eh?"

"Sepertinya... *hah* kau... *hah* juga... *hah* punya kekuatan... *hah*"

"Eh, kekuatan apa?"

"Nanti... *hah* biar kujelaskan... *hah* Tapi... *hah* Naisha-san juga punya... *hah*"

"Naisha juga punya...!? Maksudmu kekuatan apa?"

Dia berhenti kembali setelah aku menanyakan hal itu. Sepertinya Mary ingin mengambil nafas sejenak. Setelah mengambil nafas, ia melanjutkan.

"Biar Kido yang jelaskan nanti... Tapi, karena kamu punya kekuatan mata, kamu harus masuk ke Mekakushi Dan."

Mendengar nama Jepang yang tidak pernah kudengar sebelumnya, aku memiringkan kepalaku. "Mekakushi Dan?"

"Iya, Naisha-san juga sudah menjadi anggota juga..."

"Ooh, kalau nona juga masuk, aku juga akan masuk", jawabku dengan cepat.

Mendengarnya, wajah Mary bersinar kembali. "Be-benarkah? Kau mau menjadi teman baru kami?"

Aku menjawabnya dengan tersenyum kecil, "Hm? Boleh saja. Aku gak keberatan. Lagipula, aku juga hanya punya sedikit teman."

Mendengarnya, Mary memposisikan kedua tangannya kembali ke depan dadanya, kedua matanya berbinar-binar, dan kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. "Aku senang mendapatkan teman baru!"

Aku menatap wajah Mary. Dengan sekejap, tadi dia yang terlihat kelelahan itu, berubah menjadi ceria dan bersemangat. Aku sedikit terkejut melihatnya.

'Dia... Benar-benar ingin mempunyai banyak teman...'

Bibirku berubah menjadi senyuman juga setelah melihat dia yang bersemangat.

"Ya, mempunyai teman itu memang menyenangkan!", balasku.

Mary menengok ke arahku. Mendengarku, dia menunjukkan senyuman indah di bibirnya.

Setelah itu, kami berdua melihat pintu keluar tepat 1 meter di depan kami. Kami berdua berjalan menuju pintu keluar labirin itu dengan senyuman terukir di bibir kami masing-masing.


"Mary, kamu kelelahan 'kan? Tadi aku lihat bangku disana. Kita istirahat dulu."

"Ah, baiklah."

Kami berdua berjalan menuju bangku panjang yang aku tunjuk. Setelah beberapa langkah menuju bangku panjang itu, aku melihat seseorang yang tidak kuduga yang sedang duduk di bangku itu. Seseorang itu adalah... Naisha.

Melihat dia, aku segera berlari menuju bangku panjang itu. Aku bahkan lupa kalau Mary sedang ada bersamaku.

Aku berdiri di depan bangku panjang itu. Sekarang, Naisha tepat berada di depanku. Menyadari seseorang ada di depannya, Naisha mendongakkan kepalanya, kemudian ekspresi wajahnya berubah menjadi terkejut saat melihatku.

Beberapa detik berlalu, tidak ada yang berani bergerak dari pertemuan kita ini kembali. Karena Naisha tidak bergerak atau berbicara sama sekali, akulah yang pertama bergerak. Hal pertama yang kulakukan adalah memeluknya dengan erat. Aku takut kehilangan nona untuk kedua kalinya. Aku tidak ingin nona hilang lagi dari hidupku.

Beraksi pada pelukanku, Naisha juga memelukku, tangannya mengelus-elus punggungku. 'Rasanya sangat nyaman jika dipeluk seperti ini... Seperti ada orang yang melindungi...' Tanpa disadari, kedua mataku mengeluarkan sedikit air mata. Air mata itu semakin banyak sehingga aku tidak dapat menahannya lagi. Air mataku menetes melalui pipiku, dan berjatuhan ke tanah. Saat ini, aku merasa seperti anak yang cengeng.

Masih mengelus punggungku, Naisha berbisik padaku sambil tersenyum kecil, "Tenang saja, Noel... Dari kecil kau memang cengeng ya..."

Tubuh Naisha terasa hangat. Ia terus memelukku- walau sebenarnya aku yang memeluknya, agar aku merasa nyaman.

'Aku benar-benar mencintai Naisha...'

"Noel-san! / Naisha!" Terdengar suara seorang gadis dan lelaki yang memanggil kami berdua secara bersamaan. Mendengar panggilan mereka, aku melepaskan pelukanku, dan berjalan menghampiri gadis yang memanggilku, Mary.

"Ah... Mary... Maaf aku meninggalkanmu tadi." ucapku sambil membungkukkan sedikit badanku.

"Ti-Tidak apa-apa kok, Noel-san!", balasnya dengan terlihat sungkan.

"Oi, Naisha. Ini crepe mu." Terdengar kembali suara lelaki yang memanggil nama 'Naisha' tadi. Aku menengok ke arah lelaki itu agar bisa melihat dia dengan jelas. Lelaki itu memakai jersey merah dan celana panjang, ia memiliki kantung mata seperti nona, dan ia membawa HPnya di tangan kirinya, juga crepe di tangan kanannya.

"Oh, terima kasih." Naisha menerima crepe yang dia berikan, lalu memakannya sedikit demi sedikit.

Melihat lelaki yang tak kukenal itu, aku bertanya pada Naisha, "Dia siapa?"

Naisha mendongakkan kepalanya untuk melihatku, tapi sebelum Naisha menjawabnya, Mary menyela, "Eh, Shintaro-san? Naisha-san?"

Aku menengok ke belakang untuk melihat Mary. "Mary, kau mengenal lelaki ini?", tunjukku pada lelaki itu.

"Ya, dia salah satu dari teman kita! Salah satu anggota Mekakushi Dan!" Kedua tangan Mary dikepalkan untuk ketiga kalinya, wajah Mary terlihat antusias melihatku.

"Eh, Mary. Siapa lelaki ini?" Laki-laki itu gantian menanyakan diriku. Mary pun menjawabnya, "Dia akan menjadi anggota Mekakushi Dan yang baru!"

"... Noel menjadi anggota Mekakushi Dan...?", gumam Naisha.

"Apa maksudmu, Mary?"

Tiba-tiba, terdengar lagi suara perempuan yang tak kukenal. Aku menengok ke sumber suara itu. Suara itu berasal dari perempuan yang berpakaian tebal, wajahnya tertutup, sehingga sekilas aku mengiranya laki-laki. Di sebelah perempuan itu, terdapat 2 laki-laki dan seorang gadis. Laki-laki yang berjalan di sebelah kiri perempuan itu, memiliki mata yang mirip kucing, dia juga memakai jaket hitam berbintik-bintik putih. Laki-laki lainnya, memakai hoodie hijau, dia mirip katak. Dan terakhir, di sebelah kanan perempuan yang tadi, ada seorang gadis berambut kuning yang memakai hoodie pink dan celana pendek.

"Kido...! Di-Dia mempunyai kekuatan mata juga...!", jawab Mary.

Mendengarnya, mata perempuan berpakaian tebal itu melebar karena sedikit terkejut. Kemudian, ia menghampiriku dan bertanya, "Kau juga punya? Kekuatan apa yang kau punya?"

Aku menjawab, "Eh...? Tidak tahu... Tadi Mary yang bilang kalau aku juga punya kekuatan mata..."

Kido menengok kembali ke arah Mary, "Kekuatan apa yang dia punya?" Mary menjawab, "Ti-Tidak tahu... Tapi, dia tadi matanya sekilas berubah menjadi warna merah..."

"Merah?", tanyaku.

"Iya... Noel-san, apa ada yang beda saat kau di labirin tadi? Terutama waktu aku menumpahkan termos tadi..."

Mendengarnya, aku mengepalkan tangan kananku dan menaruh tanganku di bawah daguku sambil berpikir. "Hmm... Ah! Tadi saat aku menatap matamu, tiba-tiba aku langsung mengetahui sesuatu tentangmu."

Mary bertanya kembali, "E-Eh!? Te-Tentangku!? Apa yang kamu tiba-tiba ketahui..!?"

"Eh? Hmm..." Aku berpikir kembali. "Aku baru tahu sedikit... Seperti, kamu 1/4 medusa, umurmu sebenarnya 140 tahun... Dan, kau bertemu dengan Naisha." lanjutku.

"Eeh~ Jadi kau langsung bisa mengetahui informasi mengenai orang yang kau tatap matanya~?"

Aku menengok ke sumber suara yang terakhir. Suara itu berasal dari lelaki yang memiliki mata kucing.

"... Mungkin...?"

"Kalau begitu, aku beri nama Informing Eyes~", balasnya sambil menyeringai dan menunjukku dengan telunjuk tangannya.

Perempuan berpakaian tebal itu -tanpa memedulikan lelaki mata kucing- berkata padaku sambil tersenyum kecil, "Baiklah, kau, masuklah menjadi anggota Mekakushi Dan. Tenang saja, ini bukan gang yang aneh-aneh kok."

"Baik. Aku mau.", jawabku dengan cepat.

"Eh?"

Mereka semua -termasuk Naisha- memandangku kebingungan. Apa ada yang salah?

"Ka-Kau gak curiga dengan gang aneh ini!?", tanya lelaki dengan jersey merah. Setelah ia berkata seperti itu, perutnya ditonjok oleh perempuan berhoodie pink.

Aku menjawab pertanyaan lelaki itu, "Kalau ada Naisha, aku mau saja masuk."

Mendengar jawabanku, mereka semua terdiam, tapi wajah Naisha memerah sedikit karena malu, lalu Naisha membalas, "No-Noel! Jangan bilang seperti itu! Malu-Maluin tahu!"

Wajahku murung mendengar perkataan Naisha, "Eh, memangnya aku gak boleh masuk...?", tanyaku.

"Bu-Bukan begitu! Argh! Dari dulu kau seperti ini...", balas Naisha sambil mengacak-ngacak rambutnya sedikit.

"Kukuku!" Tiba-tiba terdengar suara tawa. "Kau menarik! Kau pacarnya si Naisha-chan ya?", lanjut lelaki bermata kucing.

Mendengar perkataan lelaki bermata kucing itu, wajahku dan Naisha mulai memerah. Kami berdua menjawab bersamaan, "Bu-Bukan!"

Setelah itu, seperti rencana iseng muncul di pikirannya, lelaki bermata kucing itu menghampiri kita berdua dan merangkul kami dengan sengiran di wajahnya, "Jangan malu-malu~ Ah, atau mungkin, kalian saling suka~?", isengnya.

Aku bergumam, masih dengan wajah yang memerah, "Itu..."

Sebelum aku bisa berkata apa-apa, Naisha mengelak sambil menggoyang kedua tangannya, "Sudah kubilang bukan! Aku hanya menganggap Noel sebagai temanku sejak kecil!"

Mendengarnya, sebenarnya aku merasa sedih. Memang, nona selalu hanya menganggapku sebagai temannya saja. Dia tidak mencintaiku sebagai seorang 'lelaki', hanya sebagai keluarga. Aku tahu itu. Tapi, bagaimana pun juga, aku ingin dicintai olehnya...

Lelaki berhoodie hijau pun mulai berbicara. "Sudah, sudah, Kano. Jangan iseng pada anggota baru."

"Aku 'kan cuma bercanda~", balas lelaki bermata kucing dengan santai.

Setelah lelaki itu berkata seperti itu, aku menyadari kalau hari sudah mulai menggelap. Banyak orang mulai berjalan menuju pintu keluar untuk pulang. Sepertinya taman bermain ini mau tutup sebentar lagi...

Semua Mekakushi Dan sepertinya juga sudah menyadarinya. Mereka semua menatap langit yang sudah mulai menggelap itu.

"Baiklah, kita pulang dahulu. Aku akan menjelaskan padamu saat perjalanan kembali ke markas nanti.", ucap perempuan berpakaian tebal yang masih terus menatap langit.

"Ya! Ayo kita kembali!", seru perempuan berhoodie pink sambil mengangkat tangannya ke udara.

Setelah itu, kami semua berjalan menuju pintu keluar, di tengah-tengah orang-orang yang berlalu lalang yang juga ingin pulang.


"I really love you, Naisha..."


Author's Note : Aaah, akhirnya... Ngomong-ngomong, rencananya sih aku mau membuat fanfiction ini berdasarkan alur manga dan anime walau sedikit kuubah. Oh ya, sebenarnya Noel menyukai Naisha, tapi Naisha hanya menganggap Noel sebagai keluarga... Sedih TAT #kankauyangbikin#
Aku juga jadi pengen remake yang proloque nya deh... Soalnya ada yang kurang gitu ._. tapi aku remake proloque nya setelah chapter 4 saja deh.