Runa: "Yosh! Fanfic chapter 2 ini pun apdet! Motonari, balas ya review dari Meaaaa!" *sodor kertas*
Motonari: "Kok aku?" *mengambil kertasnya dan membaca review* "..." *wajahnya merah kayak kepiting rebus*
Runa: "Uhuk! Ada yang malu cie~"
Motonari: "URUSAI!"
Tsuruhime: "Kenapa lagi Motonari-kun?"
Runa: "Hehehe." *malah nyengir*
Motonari: "Ma-makasih sudah mau jadi fansku." *malu-malu*
"Ehm, aku buat kau cemburu?" *baca sampe paragraf 2 sama 3 bagian akhir*
"APA!? KAU PAIRING AKU!? WAATT..."
Tsuruhime: "Ternyata Moto-kun itu pedo ya? Pairingnya masih berondong :3"
Motonari: "Ndak kok! Aku ndak pedo! Sumpah!"
Runa: "Loh jadi kau suka Motochika itu bukannya karena saat kecil Motochika itu cantik?"
Motonari: "BAAAAKKKKAAAAAAA! ENGGAAAAKKK LAAAAAHHHHH!"
"Ehem, oh selanjutnya dia suka kalo tokoh utamanya Tsuruhime."
Tsuruhime: "Yay! Makasih Mea-chan! Nanti kukasi kue kalo saya jadi nyata ya!"
Motonari: "Dan review selanjutnya, dari Dissa-CHAlovers bilang Motochika bego."
Motochika: "Hah?" *lolak*
Motonari: "Be Ebe Go Ogo."
Akhirnya mereka malah saling bertarung.
Tsuruhime: "Oh ya. Sebenarnya tidak apa-apa sih membaca fanfic ini sampai lanjut. Author bercanda soal ganti-ganti rating kok. Kujamin! Kalau author sampai ganti rated M, kami akan bunuh author!"
Runa: "Nee, Tsuruhime kejem. Lagian, seharusnya yang jawab Motonari."
Tsuruhime: "Gapapa sekali-kali. Aku lagi semangat menyapa para readers nih! Lagian mereka malah bertarung."
Runa: "..." *sweatdrop*
"Untuk Meaaaa dan Dissa CHAlovers, makasih support-nya ya :3 aku jadi semangat jadi penulis nih..." *ketawa ketiwi ala Akechi*
"Btw sebenarnya yang ga boleh baca itu adalah anak-anak yang masih polos-"
Tsuruhime: "AUTHORRR! BENERAN KUBUNUH AUTHOR!"
Runa: "AMPUN DEH! IYE AKU GA BAKAL NGASI RATING BERBAHAYA KOK! AKU KAN POLOS! LAGIAN, SIAPA YANG BAKALAN TERUSIN FIC INI KALO AKU MATI?"
Tsuruhime: "Polos mananya! Fanfic '3 rumor basara academy' aja incestnya berbahaya! Kalo author mati, kami merdeka!"
Motonari: "Mana pake bilang 'gore' di PM lagi. Itu alasan tipis, thor." *nyempet nyeletuk*
Runa: *mojok*
"Oh fanfic itu, 'adegan' itu kan sesuai rekuesnya anakku. Oke jangan bahas itu dulu, takut-takut dia langsung review dan mengutukku.
TADI BARU AJA SENANG BAHAGIA BANGET DENGER ORANG SENANG KAU JADI TOKOH UTAMA!"
Tsuruhime: "TAPI RENCANA AUTHOR UDAH BISA KUTEBAK MAU-"
Akhirnya mereka malah saling protes.
Motonari: "Si-siapa yang bakal lanjut-" *pasrah karena ga bisa nenengahi*
"... Baik, silakan baca fanfic chapter 2 ini. Silakan menikmati.
Percakapan ponsel menggunakan italic underline, sedangkan flask back menggunakan italic bold."
—oOo—
Chapter 2 - Kencan yang di Batalkan
"Ah Tsuruhime, kau sudah baikan?" tanya Motonari di telpon ketika aku mengangkat panggilannya sehabis aku pingsan.
Suatu keajaiban ketika cowok keren ini meminta nomor ponselku waktu itu. Ia katanya khawatir dan menganggap keadaanku menjadi tanggung jawabnya. Jadi ia meminta nomorku ketika aku menolak untuk pulang bareng dia saat jam pulang sekolah kemarin.
Tentu saja aku merahasiakan mimpiku yang aneh itu darinya.
"Iya sudah. Tapi sedikit pusing sih."
"Ehm, get well soon okay?"
"Thanks for it."
Seketika pembicaraan kami pun berhenti. Hening sesaat. Kami kaku satu sama lain, sampai suara batuk dan dehaman kecil terdengar dari sana.
"Mau ke kuil di Kyoto besok?"
"Apa? Ke kuil besok?"
"Iya. Mau kan? Habisnya aku kangen tempat-tempat di Jepang ini, dan aku sudah tidak tahu haluan jalan ini."
"Boleh."
"Sip! Nanti ku hubungi. Pokoknya siap-siap saja jam 3 sore ya!"
Tutt tuutt...
Panggilan pun terputus. Aku memeluk ponselku, sambil merebahkan tubuhku di atas kasur dengan senyum mengembang di wajahku.
"Kukira aku takkan seperti remaja lain yang bisa jalan-jalan keliling kota bersama kawan-kawan. Tuhan, terima kasih untuk memunculkan dia dalam kehidupanku."
—oOo—
"Tsuruhime, mau kemana?" sapa kakakku, si wanita seksi pembunuh pria (aku serius mengatakannya) karena dadanya yang begitu besar dan mencolok, Saika Magoichi. Rambut jingga pendeknya (walau sampai bahu sih) jika dikibaskan bahkan membuat para pejantan klepek-klepek. Dia adalah Gravure Idol terkenal yang membuat peningkatan penjualan majalah yang merekrutnya menjadi foto sampul melonjak tinggi.
"Ehm, kak. Cuma temenin teman jalan-jalan," kataku seadanya. Kutepis-tepis debu pada pakaian terusanku. Pakaian terusan panjang warna biru langit dengan corak polkadot putih sampai bawah lutut dengan lengan sampai bahu. Kemudian aku memakai legging hitam dan pita rambut biru gelap ukuran kurekatkan di poni kananku. Sambil menenteng tas selempang mini, aku berjalan ke arah rak sepatu mencari alas kaki yang cocok digunakan untuk jalan. Sandal jepit yang tidak terlalu norak.
"Tapi cantik ya adikku, akhirnya bisa dandan. Hihi~" ledek kakakku sambil takjub melihat dandananku. "Mulai dari bibir yang diolesi lip gloss rasa stroberi, memakai maskara, blush on yang tidak terlalu terlihat, bedak yang lumayan tebal, tapi semua itu tidak menampakkan riasanmu menor."
Lihat kan? Bahkan dia tau apa yang kupakai untuk dandan sampai sedetail-detailnya. Model tidak bisa dianggap remeh untuk soal kosmetik.
"Beneran kok kak!" ucapku ngambek.
"Ah ya deh. Kakak 'terpaksa' percaya."
"Kakak..," ucapku pasrah.
"Ya?"
"Aku benci kakak!"
Kuhentakkan kakiku saat selangkah demi selangkah mendekati pintu saat sudah menemukan sandal yang cocok untuk kupakai di hari spesial ini—dan tentu aku sudah memasangkan kakiku sebelumnya. Getaran-getaran akibat hentakan kakiku menggema di sepanjang lorong.
"Ini hari spesial dimana pertama kali aku diajak jalan oleh temanku saat insiden terakhir itu. Dan takkan kubiarkan kakak membuat temanku menjadi aneh karena kakak ikut campur dalam kehidupanku!"
Dumm!
Kugeser pintu dengan sangat keras. Memang tidak biasanya aku temperamen tiba-tiba seperti ini, apalagi secara blak-blakan. Tapi jika aku tidak menunjukkannya, aku bisa mati jika kakak sampai begitu di depan Motonari. Aku sudah trauma pernah dibegitukan ketika aku diajak jalan sama-sama ke rumah Mitsunari dengan Keiji—karena kerja kelompok. Kalian bisa menebaknya, jika kakakku si guy killer ini membuat Keiji sampai ketagihan ke rumahku.
"Malu-malu dia. Ah, hari ini aku harus buat makan malam."
—oOo—
Ku berdiri di depan pagar rumahku, sambil memandang ponselku dalam diam—mengenggamnya. Ku manyunkan bibirku dengan wajah bete.
'Huh, katanya jam 3 sore. Tapi sudah jam 3 lewat 15 menit belum juga muncul. Ku sms malah gak dibalas. Ditelpon aku... malu..,' ucapku dalam hati. Kugadahkan kepalaku memandang langit mulai menghitam, gelap.
'Ah, aku kok bermimpi seakan-akan akrab dengan burung besar itu ya?' batinku bertanya-tanya. 'Dia bilang Saint Hime—jika aku benar? Lalu makhluk berkuping persis dengan kelinci itu apa? Seram sekali aku melihatnya. Kemudian terakhir, kok dia bilang ingin menetap di duniaku? Andai saja dia memang muncul disini, dengan ukuran seperti itu pasti sudah diburu kepolisian sampai FBI turut tangan.'
Aku menatap langit dalam lamun. Teringat kejadian dimana Motonari mau baik padaku—perhatian padaku.
"Aku khawatir padamu. Boleh aku antar kau pulang?" bisik Motonari ketika mencoba menyanggahku—takut-takut aku kembali ambruk.
"TSURUHIME PACARAN!" sorak Yukimura di dalam kelas sambil menenteng tas selempangnya. Ia berdiri di meja paling depan dari deret bangku kami.
"Sialan tuh anak," maki Motonari menatap lurus Yukimura dengan tatapan kesal.
"Yukimura! You're trouble maker! Ayo kesini! Kau perusak suasana, you know?"
Masamune pun masuk kelas menuju ke tempat Yukimura lalu menjewer telinganya, menarik Yukimura keluar kelas. Saat itu memang sudah jam pulang sekolah. Dan kutebak, mungkin mereka mau mengadakan lomba aneh lagi.
Jangan tanya aku lomba apa yang mereka adakan. Aku tidak paham karena beragamnya tema mereka.
"Sa—sakit, Masamune-dono!" rintih Yukimura. Si pemilik nama melirik kami datar tanpa menggubris ocehan Yukimura, lalu mengacungkan jempolnya pada kami sambil menarik Yukimura keluar kelas.
"Mereka kenapa sih, suka banget menggoda kita?" keluh Motonari dengan frekuensi suara minim. Aku hanya ketawa kecil sambil membereskan barang-barangku ke dalam tas ransel walau agak lemas.
"Ya, kita pulang saja ya? Nanti mereka bisa lebih salah paham lagi," aku menggaet tas ranselku dan menjinjingnya. Sambil ingin beranjak keluar kelas, aku melengok Motonari sedikit ingin mengucapkan 'selamat tinggal'.
"Tapi—"
"Dah, Motonari!"
GREPP!
Motonari langsung menahan tanganku dalam hening. Ia bangkit dari kursinya, dan mendekatkan wajahnya padaku. Aku langsung merona merah karenanya, bukan karena dia orang yang kusuka. Tapi, pertama kalinya ada cowok yang menahanku langsung dengan kuat sekali.
"... Aku minta nomor ponselmu ya?"
"AHHH! AKU PANIK!" teriakku kencang dari luar halaman rumahku sendiri, ketika ingat kejadian saat pulang sekolah kemarin. Kupegang kedua pipiku yang mulai memanas.
"Malu rasanya, uhh," getirku. "Apa aku sudah bisa seperti anak-anak SMA lainnya yang jatuh cinta? Ah Tsuruhime lagi jatuh cinta—"
"Kau baik-baik saja, Tsuruhime?"
Kulengok asal suara itu dengan jantung yang tiba-tiba berderap kencang. Tubuhku bergetar hebat saat ingat apa yang barusan kuucapkan.
"Mo—Motonari!?" kataku gugup. "Kau—kau dengar ya?"
"Dengar."
"HYAAAAA!" aku langsung teriak histeris. Ingin mati rasanya. Bumi, mohon telan aku ke dasar bumimu sekarang!
"Tidak, aku baru saja sampai disini kok," ucapnya lagi sambil memasang wajah geli melihat reaksi anehku tadi.
"Oh syukurlah," kataku pelan, sambil melirik dirinya. Ia memakai jaket putih dengan lengan panjang juga kaos hijau muda, celana jeans ketat berwarna hitam, dan,
Dia tidak memakai kacamata kali ini.
"Kenapa tidak pakai kacamata, Motonari?" tanyaku sopan sambil terheran-heran. Ia langsung membalikkan tubuhnya dan berkata,
"Kacamataku rusak. Jadi aku pakai kontak lens."
"Oh, gitu," jawabku singkat.
"Ayo, nanti disana penuh orang lagi," ajaknya, lalu kuanggukkan kepalaku dan kami berjalan beriringan.
—oOo—
"Tsuruhime mau makan dulu? Lapar tidak?" tanya Motonari di sepanjang jalan menuju tempat pemberhentian bis. Aku menggeleng.
"Yakin?"
"Ya. Tadi udah makan kok!" kataku meyakinkan sambil menatap Motonari dengan mengembangkan senyum. Padahal sih aku bohong. Aku makan cuma tadi pagi saja. Itupun nasinya cuma satu sendok saja.
"Atau mau makan sepulang dari perjalanan?" tanyanya lagi. "Nanti pingsan lagi loh."
"Gak usah khawatir, aku kan cewek yang nafsu makannya tidak bes—"
Kruyuuukkk...
Suara familiar yang disertai dengan perutku yang mulai panas itu, membuatku menunduk kecil dengan bibir bergetar dalam malu.
"Ya, sang perut berbicara," kata Motonari langsung sambil menatap perutku dengan wajah geli.
'Astaga malunya,' ucapku dalam hati.
"Kita makan saja ya?" katanya sambil menahan tawa.
"Tapi, aku tidak bawa uang."
"Biar kutraktir. Kasiannya sampai bagian tubuh protes. Bwahaha!" ejek Motonari sambil tertawa meledak, yang langsung kusambut dengan wajah ngambek. Yak! Aku seperti habis terjun payung dari ketinggian 3 meter tanpa parasut, lalu nyangkut di pohon yang tingginya 1 meter atau lebih, dan di bawah ada ular-ular siap menggigitku. Aku memalingkan pandanganku dan teralihkan oleh dua orang yang saling berantem di seberang jalan trotoar. Satunya seperti bapak-bapak, satunya seperti remaja.
Kedua orang itu berantem, sepertinya. Si tua menahan tangan si muda, tapi si muda bersikeras melepas genggaman tangan si tua itu. Dan wajah mereka sangat familiar kukenal ketika ku memperhatikan mereka lebih fokus.
"MASAMUNE-SAMA!"
Yap, Kojuurou-sensei dan Masamune.
"Sial, Kojuurou, don't bothering me!" tukas Masamune dari seberang sana. Ia bersusah payah menarik lengan kanannya yang dicengkeram oleh Kojuurou-sensei. Sepertinya cengkeramannya cukup kuat ya...
"Masamune-sama, jangan keliaran!" cegah Kojuurou-sensei. Motonari yang bingung karena aku hanya diam fokus menyaksikan peristiwa itu, akhirnya penasaran dan ikut melengok ke arah pandanganku—menonton.
"Itu, pria yang di depan bangku kita ya?" desis Motonari. Aku hanya mengangguk kecil.
Sebuah bis umum terhenti dan melindungi pandangan kami. Ya, sudah waktunya dia tiba disana. Kami saling menatap satu sama lain. Dan sepertinya kami saling satu pikiran, untuk membiarkan bis itu lewat dan rencana ke Kyoto batal demi membantu masalah pangeran kelas satu ini.
Namun saat bis itu jalan 1 menit kemudian, betapa terkejutnya kami berdua. Masamune terbaring di trotoar—pingsan dijalan dengan Kojuurou tengah menepuk-nepuk pipinya. Motonari segera menarik tanganku ke seberang tanpa melihat kiri kanan lagi. Untung di depan kami ada zebra cross.
"Masamune!" aku segera duduk jongkok dan ikut menepuk-nepuk pipi Masamune bersama Kojuurou-sensei. Paras wajah khawatir terpampang dari wajah Kojuurou-sensei, yang pertama kali kulihat seumur hidupku dari pertama bertemu dengannya.
"Tch, sepertinya Masamune-sama demam," tebak Kojuurou-sensei. "Tsuruhime, Motonari, tolong bantu aku bawa dia ke rumah ya!"
"Tapi, kenapa bisa Masamune disini?" tanya Motonari bingung.
"Itu, awalnya dia bersikeras ingin kabur dari pekerjaan."
"Pekerjaan?" serempak kami berdua bertanya. Kojuurou-sensei memasang tampang sangar kemudian.
"Cepat tolong aku! Atau Masamune-sama bakal tidak tertolong!" cemasnya. Kami berdua saling memandang satu sama lain dalam diam, lalu mengangguk. Motonari pun membantu membopong tubuh Masamune yang pucat.
"A—aku bantu ya?" tawarku gagap. Mereka berdua saling tersenyum kepadaku.
"Tentu, kenapa tidak?" kata Kojuurou-sensei sambil mengembangkan senyumannya. Ya, sedikit bingung karena tidak tahu mau bantu dari mana. Karena mereka masing-masing mengambil bagian 'yang harus dipegang untuk membuat tubuhnya terangkat', yaitu bahu dan kakinya.
"Mungkin Tsuruhime bisa menaikkan tangan Masamune," bilang Motonari sambil memperlebar bola matanya melirik tangan kiri Masamune yang menggantung.
"Oh baik!" seruku, dan kulaksanakan apa perintahnya. Kupegang tangannya dan kami bertiga membawa tubuhnya menuju rumah terdekat yang katanya rumah kerabat Kojuurou-sensei.
—oOo—
"Iya. Masamune-sama sedang tidak sadarkan diri. Maafkan saya jika rapat kali ini gagal."
Kojuurou-sensei mematikan ponselnya dalam helaan nafas yang begitu nyaring. Ia duduk dalam posisi jongkok disamping kanan ranjang yang ditiduri Masamune, menyisir rambut gelap sang pemilik pemimpin klub baseball itu dengan lembut dengan jemari tangan kanannya.
"Apa kalian sudah makan?" si gadis imut dengan rambut putih twintail yang masing-masing dikepang itu menyapa Kojuurou-sensei dengan prihatin.
"Tanya mereka saja, Itsuki," kata Kojuurou-sensei sambil melempar pandangannya pada kami berdua yang berdiri berduaan di samping kiri ranjang Masamune. Gadis yang dipanggil nama Itsuki itu langsung melirik kami dalam senyuman.
"Kalian lapar?" tanyanya sekali lagi. Motonari langsung mengangkat tangan kananku tinggi-tinggi.
"Ya, si ratu ini sangat lapar," bilangnya.
"Ih! Apa-apaan sih kau!" sahutku marah.
"Kau tidak boleh gengsi. Jika mau, ambil saja," katanya tanpa dosa.
"Motonari bodoh!"
"Kalian pacaran ya?" Itsuki tertawa kecil disertai wajah horor Kojuurou-sensei ketika mendengar pertanyaan Itsuki. Kami yang memandangnya langsung eneg.
"Tidak," ucap Motonari kaku. Ia melepaskan tanganku dan melirik keluar jendela.
"Hei pemuda cantik, jika begitu bantu aku masak ya!" Itsuki berjalan mendekati Motonari dan menariknya secara paksa keluar kamar.
"Tch! Aku laki-laki kenapa dibilang cantik sih!?" protes Motonari sambil berdecak. "Lagian aku belum bilang mau!"
"Ah pokoknya harus ikut!" Itsuki dengan merasa tidak bersalah menarik Motonari menuju dapur.
Aku langsung tertawa kecil, dan kuhentikan tawaku ketika melirik Kojuurou-sensei yang tengah murung masih menatap lurus wajah Masamune yang tertidur.
Sunyi senyap. Kami berdua tidak ada yang membuka mulut lebih dari 5 menit sampai Kojuurou-sensei mendesah panjang dan nyaring.
"Aku seharusnya tidak mendesaknya tadi," sesal Kojuurou-sensei.
"Memang apa yang terjadi?" mulaiku, dan ia mendongakkan kepalanya menatapku.
"Mau dengar kisahnya?"
Aku mengangguk pelan. Ia pun bangkit dan berdiri tetap pada posisinya, di sebelah kanan ranjang Masamune.
"Hari ini sebenarnya hari penting Masamune-sama untuk bertemu dengan tunangannya."
Tunangan?
"Keluarga kami, keluarga Date adalah keluarga bangsawan terpandang. Masamune-sama tidak boleh menikah dengan sembarang orang, takut-takut si orang itu hanya mengincar materi. Dan saat itu aku bertemu dengan seorang pengusaha kaya raya yang juga mencari tunangan untuk anaknya, dan kebetulan anaknya perempuan. Akhirnya kami sepakat untuk mempertemukan mereka berdua di kediaman kami."
"Jadi, Kojuurou-sensei memang pelayan Masamune ya?" tanyaku penasaran. Ia mengangguk sambil bergumam mengatakan, "Iya."
"Masamune-sama walaupun umurnya masih seperantaranmu, tapi dia sering bertugas untuk memajukan keluarga kami. Makanya, sampai-sampai dia tidak sengaja selalu berucap dalam bahasa Inggris."
"Dan dia tidak mau dikekang demi pekerjaan, bukan?"
Kojuurou-sensei langsung membelalakkan matanya mendengar tebakanku.
"Iya kan?" tanyaku sekali lagi. Ia mendesah sebentar, lalu menganggukkan kepalanya pelan.
"Masamune-sama, saya memang tidak pernah memperhatikan perasaan anda kah? Sampai-sampai kawan anda saja tahu apa yang anda inginkan—ukhh," Kojuurou-sensei mengenggam tangan kanan Masamune dengan kedua tangannya kuat. Ia memejamkan matanya seakan berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis.
'Masamune mungkin hanya perlu refreshing. Kasihan Masamune sampai pingsan karena kecapekan mungkin,' ucapku dalam hati.
"Dia pergi ke dunia mimpi, Saint Hime."
'Si—siapa!?' tanyaku dalam batin ketika mendengar suara asing seakan menyahut kata hatiku.
"Peganglah keningnya dan coba untuk masuk ke dunianya. Kau perlu kepercayaan untuk bisa masuk dalam dunianya."
'Tapi—'
"Lakukan saja. Anda mau teman anda mati karena dibunuh anggota 'nightmare'?"
'Nightmare?'
"Anggota kegelapan yang mengincar orang-orang yang depresi dalam hidupnya, membunuh mereka dengan menjanjikan mimpi indah di alam mimpi, dan membuat orang-orang yang berhasil mereka bujuk menjadi tidak waras atau bahkan mati dengan tidak wajar."
Bulu kudukku pun berdiri.
"Lakukan, Saint Hime. Saya tidak yakin jika mentalnya tahan untuk beberapa lama mengingat kisah orang itu."
'Tapi, apa yang harus kulakukan?'
"Yang terpenting anda harus membuatnya percaya diri untuk menjalani kehidupan yang nyata ini saat bertemu nanti. Tapi saat menghadapi serangan para anggota nightmare nanti, hanya Saint Hime yang tahu bagaimana mengatasinya."
'Apakah maksudnya Saint Hime itu aku?'
"Ya."
'Kenapa aku dipanggil begitu?'
"Karena anda memiliki kekuatan khusus. Cepat, Saint Hime!"
Aku pun perlahan menggerakkan tangan kananku menjulurnya, mencoba meletakkan telapak tangan kananku pada dahinya sambil berniat untuk bisa membantunya.
"Tsuruhime!" bentak Kojuurou-sensei. "Apa yang kau—"
Aku tidak dapat mendengar apapun lagi saat telapak tanganku kurasakan tengah menyentuh dahinya dan dunia gelap mulai mengitariku.
Runa: "Akhirnya selesai..." *tepar*
Tsuruhime: "Sabar author. Lain kali jangan bikin imajinasi setinggi gini lagi."
Runa: "Soalnya aku pengen banget buat story yang ada unsur Sacred Beast..." *pengen nangis*
"Oh ya, untuk sementara aku hiatus sampai bisa dapat pekerjaan."
Motonari: "Enak ya. Bukannya kuliah malah langsung kerja."
Runa: "Kerja kau bilang enak? Bikin lamaran kerja aja tangan sampe keriting! Belum ngurus surat kelakuan baik lah, KTP lah—"
Motochika: "Hah!? Belum buat KTP padahal umur udah 18 tahun!? Wat the..."
Runa: "...ya, masalah?"
Tsuruhime: "Jadi fanfic lainnya gimana dong?"
Runa: "Ya aku sempat-sempat buat dong. Nanti langsung combo aplodnya."
Tsuruhime: "Kayak fanfic 'Salah Paham' itu ya..."
Runa: "Haha, gak kok. Becanda. Kan nanti aku beli laptop sendiri jika udah kerja. Walau gak janji."
Tsuruhime: "Yay!"
Runa: "Terimakasih yang sudah baca ya! Sejak internet positif menyerang, kurasa fanfic makin sepi aja ya? Baiklah! Saya sementara akan hiatus, tapi gak lama kok!"
Tsuruhime: "3 bulan atau lebih gak lama ya..."
Runa: "Hee... Baiklah! Silakan reviewnya ya! Cukup tekan tulisan 'review' di bawah ini lalu tulis uneg-uneg kalian—"
Motochika: "Ye nenek-nenek ompong juga tau keles!"
