Author balik lagi setelah sekian lama XD Maaf lama, karena banyak fanfiction yang masih harus kukerjakan. Dan sekolah sudah mulai, jadi... Yah banyak tugas gitu, dan ini tahun terakhirku di SMP... Jadi, aku berniat lebih rajin belajar. Tapi, mumpung lagi lebaran, jadi bisa ngelanjutin lagi XD Oke, ayo mulai.
CHAPTER 4 - OUR PLAN
Naisha's POV
Hari sudah mulai menggelap, dan matahari sudah mulai terbenam. Langit berubah warna menjadi merah kekuning-kuningan. Dan udara yang sangat panas tadi, mulai terasa sedikit sejuk seiring hari berganti menjadi malam. Aku mengeluarkan HPku dari dalam kantongku untuk melihat jam yang tampak padar layar HPku. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore.
'Jam berjalan sangat cepat, ya... Aku harap hari ini akan terus berlanjut. Aku jadi teringat... pada tragedi yang nanti akan terjadi... yang kira-kira 'pasti' akan terjadi sebentar lagi. Sebentar lagi. Tidak. Aku tidak ingin tragedi itu terjadi... Aku harus menyelamatkan mereka... dari Kuroha atau ular itu...'
Aku memandang bayang-bayang punggung mereka. Mereka mengobrol dengan riang dan senyuman yang menunjukkan kegembiraan terukir di wajah mereka masing-masing. Tapi, aku hanya bisa terdiam, sambil terus tersenyum kecil. Aku ahli dalam memaksakan diri untuk tersenyum. Jadi, mereka tidak akan curiga padaku.
Aku terus berpikir tentang tragedi itu, sampai Noel memanggilku, "Naisha?" Aku segera tersadar dari lamunanku. Lalu, aku mulai tersenyum lebar dan membalas panggilan Noel, "Ada apa?"
Noel segera berjalan pelan untuk menyamakan jalannya denganku, lalu ia berbisik padaku, "Mereka... Orang-orang yang baik... Aku senang nona bisa bertemu dengan mereka." Ia menoleh ke arahku dan memberikanku senyuman di wajahnya.
Aku menjawabnya juga sambil tersenyum kecil, "Ya... Kau benar."
"Hei, hei~" Kano menepuk pundak kami berdua selagi menyeringai.
'Ia terlihat akan menggoda kami... '
Dia melanjutkan, "Jangan bermesraan di belakang dong~ Kalau mau bermesraan, kalian harus berjalan di depan kami~"
Semua anggota Mekakushi Dan tertawa kecuali Shintaro yang hanya diam tanpa ekspresi, sementara aku dan Noel nge-blush gara-gara perkataan Kano. Setelah Kano berkata seperti itu, aku dan Noel segera menyamakan jalan kami dengan anggota Mekakushi Dan lainnya. Mereka semua pun menepuk-nepuk pundak kami sambil tertawa riang. Aku juga mengikuti mereka dengan tertawa juga.
'Aku seperti... sudah menjadi salah satu dari mereka...'
Aku mulai tersenyum lagi, dan segera menyingkirkan pikiran burukku dari kepalaku. Dengan berbagai obrolan keluar dari mulut mereka, aku berjalan ke dekat Kido yang sedang mendengarkan musik dari iPodnya. Aku pun dengan tersenyum menggoda, menarik earphone di telinga kirinya dengan perasaan tidak bersalah.
Kido mengira aku sebagai Kano, sehingga ia hampir memukulku, tapi ia tidak jadi memukulku karena dia langsung menyadarinya beberapa detik kemudian setelah menatap wajahku baik-baik.
Kido menaikkan alisnya dan bertanya padaku dengan heran, "Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba menarik earphoneku?"
Aku menjawabnya, karena ide mulai muncul di kepalaku, yang kira-kira mungkin bisa menjadi cara agar bisa lebih lama dengan mereka. "Karena banyak anggota baru di Mekakushi Dan... Bagaimana kalau kita besok pergi ke pantai? Menarik 'kan? Menarik 'kan?", tanyaku memaksa.
Kido sedikit terkejut dengan saranku, lalu sedikit berteriak, "Pa-Pantai!?"
Teriakan Kido terdengar oleh semua Mekakushi Dan. Mereka pun menoleh ke arah kami berdua dengan ekspresi kaget namun tidak bersuara.
Beberapa menit kemudian, wajah mereka semua berubah menjadi wajah yang senang; terutama Momo, Ene, Kano, Marry, dan Seto, walau Shintaro hanya menghela nafas dan menganggapnya hanya sebagai hal yang menyusahkan bagi NEET seperti dia... Yah, Marry juga hikikomori tapi dia senang bersama dengan teman-temannya, jadi dia tidak menganggapnya sebagai beban.
Momo lah yang bereaksi duluan, dan berseru dengan nada yang sangat gembira, "Pergi ke pantai!? Ayo kita lakukan! Pasti sangat menyenangkan!"
Marry, dengan wajahnya yang berkilau, menggenggam kedua tangannya dan berseru juga, "Benar! Ayo kita lakukan! Besok Seto tidak ada kerja sambilan 'kan?" Marry menoleh ke arah Seto, berharap Seto libur esok hari.
Seto menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, yang merupakan tanda bahwa dia tidak ada kerja sambilan esok hari. Marry pun terlihat semakin senang.
Namun, Shintaro menghela nafasnya, dan berkata dengan nada yang samar-samar, "... Aku tidak ikut... Aku lelah..."
Mendengar kata-kata Shintaro, Ene berteriak padanya, "Master! Kau mau aku menyebarkan folder kesayangan Master~?"
Mendengarnya, Shintaro menelan ludahnya dan mengangkat kedua tangannya, menyerah kalah.
"Nah, jadi semuanya ikut 'kan~? Mau kumpul jam berapa?", tanya Kano dengan menyeringai.
Mereka semua berpikir, aku juga berpikir, tapi aku tidak terlalu memikirkannya karena hari ini pasti akan terjadi tragedi itu. Jadi... untuk menghindarinya... walau sebentar saja... aku mengangkat tanganku, lalu berseru, "Bagaimana kalau hari ini kita bersiap-siap dulu? Seperti pergi membeli baju renang dan sebagainya?"
'Mungkin kalau aku mengubah sedikit routenya di manga... Si ular itu mungkin akan lebih lama menemukan kita', pikirku.
"E-Eh...!? Baju renang!?", teriak Kido yang kaget, dengan wajahnya yang sedikit memerah.
Wajah Seto dan Shintaro segera memerah mendengar kata 'baju renang', sementara Kano hanya senyam-senyum dan melirik Kido sambil terkekeh kecil. "Kido 'kan gak punya baju rena- Ugh!" Kido segera menonjok perut Kano dengan keras. Kano meringis kesakitan.
"Di-Diam!", teriak Kido. "Kita bisa membelinya hari ini...", lanjut Kido dengan sedikit malu.
Setelah itu, semua anggota Mekakushi Dan berseru senang, sambil mengangkat kedua tangan mereka masing-masing, kecuali Shintaro yang mengangkat tangannya dengan tidak niat dan masih tanpa ekspresi.
"Kalau begitu, misi kedua hari ini~ adalah membeli baju renang untuk Ki- Oww! Sakit! Sakit, Kido! Maaf! Ooowww!" Kano berteriak kesakitan karena Kido tiba-tiba menginjak kakinya dengan sangat keras. Anggota Mekakushi Dan yang lainnya hanya pucat melihat mereka berdua.
"Ya sudah. Ayo kita pergi ke toko pakaian renang terdekat," ucap Seto sambil tersenyum.
Para Mekakushi Dan pun mengangguk setuju, sementara Kido masih menginjak kaki Kano dan Kano masih meringis kesakitan.
"Ah! Ini dia! Toko pakaian renang!", seru Momo yang sudah tiba di depan toko besar di pinggir jalan yang terdapat banyak pakaian renang dan perlengkapannya yang tampak dari depan kaca toko. Setelah itu, Mekakushi Dan masuk ke toko itu.
"Selamat datang!", seorang gadis yang bekerja di toko tersebut menyambut mereka.
"Whoaaa...! Seto, toko ini besar sekali!", seru Marry yang kagum dengan toko itu.
Seto pun tersenyum dan menjawabnya, "Ya, katanya toko ini baru. Aku juga baru pertama kali masuk kesini. Dan katanya toko ini 3 lantai."
Mendengarnya, Marry pun semakin kagum dan matanya bercahaya karena senang.
Gadis yang menyambut mereka tadi, mendengar pembicaraan Seto dan Marry, lalu menjelaskan pada mereka sambil tersenyum sopan, "Benar. Toko ini terdiri dari 3 lantai. Lantai ini berisi perlengkapan renang dan hal-hal lainnya. Lantai kedua berisi pakaian renang laki-laki. Dan lantai ketiga berisi pakaian renang perempuan. Kalau sudah jelas, saya permisi dahulu." Gadis itu pun membungkukkan badannya lalu berjalan pergi ke arah beberapa gadis yang memanggilnya untuk menanyakan harga.
Setelah gadis itu pergi, Kano mulai berbicara lagi sambil mengepalkan tangannya di bawah dagunya dan memejamkan matanya, "Hmm, jadi aku harus ke lantai 3 ya~" Sambil berkata seperti itu, Kido sudah mulai menunjukkan kepalan tangannya di depan Kano. Kano pun segera mundur dan menyilangkan tangannya untuk berlindung dari pukulan Kido.
Aku, yang daritadi tertawa melihat pertengkaran Kano dan Kido, berjalan mendekati Kido dan mengangkat tangan kirinya, lalu berkata, "Aku akan memilihkan baju renang untuk Kido~ Marry dan Momo juga mau lihat baju renang di lantai 3 atau gak?", tanyaku.
Momo dan Marry berseru bersamaan, "Mau!" Mereka segera berlari ke arah kami berdua dan berdiri di sebelah kami.
Kemudian, setelah Marry dan Momo berkumpul dengan kami, aku menengok ke para lelaki, lalu menyeringai sedikit dan berkata, "Yang cowok jangan ke lantai 3 ya~ Ah, dan Ene, tolong jaga mereka agar tidak ke lantai 3."
Mereka mengangguk bersamaan, namun Kano masih menyeringai seperti biasanya, dan Ene tersenyum sambil mengiyakan perkataanku.
Lalu aku mendengar Ene berbicara pada Shintaro, "Master! Sebenarnya master ingin ke lantai 3 'kan!?"
"Diam."
Aku sedikit tertawa mendengarnya.
Lalu, Aku, bersama para perempuan di Mekakushi Dan, segera menaiki tangga sampai ke lantai 3.
Sesampai di lantai 3, terlihatlah banyak pakaian renang perempuan terpajang di sekeliling mereka. Banyak gadis juga sedang berkeliaran untuk memilih pakaian renang. Lantai ini lebih luas daripada yang tadi.
"Marry-chan! Yang itu kayaknya bagus untukmu!", tiba-tiba Momo berteriak, lalu menarik tangan Marry ke arah yang ditunjuknya. Marry mengikuti Momo dengan senang sambil berseru, "Dimana!?"
Mereka pun pergi dari kami.
"..."
'Sekarang, tinggal aku dan Kido disini. Suasana tiba-tiba menjadi hening setelah Momo pergi.'
"Eem, Kido..."
"Apa?"
"... Tidak jadi..."
"Ooh..."
"..."
*Kriiik* *Kriiik*
Suasana hening kembali.
'Uh, sebenarnya aku tidak terlalu pandai berbicara. Aku tidak tahu harus berbicara apa... Apalagi Kido hanya diam saja... Dia cuma berbicara kalau ada para Mekakushi Dan lainnya juga.'
Aku mulai berjalan berkeliling melihat pakaian renang satu per satu, Kido pun mengikutiku dari belakang sambil menaruh tangannya di kantong jaketnya.
Tidak tahan dengan suasana yang terlalu hening ini, aku segera mencari topik pembicaraan, "Pakaian renang perempuan di Jepang banyak yang terbuka ya... Banyak yang bikini..."
Kido memiringkan sedikit kepalanya dan bertanya, "Memangnya negaramu tidak ada yang memakai bikini?"
"Hampir gak ada," jawabku.
"Ooh... Tapi aku juga tidak mau memakai bikini," balas Kido.
Mendengarnya, aku mulai tersenyum lagi dan merangkulnya, "Hee~ karena kau takut menunjukkan t-u-b-u-h-m-u yaa~ Tenang saja, walau kamu keliatannya flat chest, tapi kau kayaknya seksi lho~"
Wajah Kido memerah setelah mendengarku, lalu ia membalasku dengan gagap, "A-A-A-Apa maksudmu...!? A-Aku gak takut kok! Ha-hanya... Aku cuma... tidak suka bikini! I-Itu saja! Tidak ada alasan lain!" Kido terus mengelak dengan wajahnya yang masih memerah.
Entah kenapa, aku jadi mengerti perasaan Kano yang suka menjahili Kido... Memang lucu reaksinya hehe. Cewek tsundere memang manis~
Aku pun tersenyum, lalu aku melihat sebuah bikini yang menarik perhatianku. Bikini tersebut berwarna ungu, mirip dengan warna ungu pada jaket Kido, dan juga sederhana. Tidak terlalu meriah, dan hanya dihiasi oleh tali yang diikat dengan bentuk pita putih yang tipis di bagian leher dan paha. Motifnya pun sederhana, hanya bermotif garis-garis ungu dan putih. Tidak ada yang istimewa, tapi aku menganggapnya cocok dengan Kido.
"Kido," panggilku.
Kido menoleh ke arahku, "Kenapa?"
"Kurasa yang ini cocok untukmu," Aku menunjuk bikini berwarna ungu yang menarik perhatianku tadi.
Kido memerhatikannya, lalu memiringkan kepalanya lagi, "Kayaknya ini biasa saja... Dan..." Ia segera menurunkan volume suaranya sedikit sambil melanjutkan, "Terlalu... terbuka..."
Aku dapat mendengar kalimat terakhir Kido, aku pun menggembungkan pipiku sambil memaksa Kido dengan sedikit mendorongnya, "Ayolaah~ Coba dulu!" Aku terus mendorongnya sambil terus memaksa Kido. Kido yang mulai kesal, menutup kupingnya karena suaraku yang berisik, dan beberapa menit kemudian, ia menahanku dan menggerutu, "Iya! Baiklah! Akan kucoba!"
"Yeay!" Aku berpura-pura mengangkat tanganku ke atas dan tersenyum lebar, Kido sedikit terusik dengan ini, lalu ia bergumam, "Kau mirip dengan Kano."
Aku terhenti sejenak setelah mendengarnya. 'Mirip dengan Kano? Aku?'
"Mungkin ada sedikit yang mirip... Tapi aku tidak terlalu mirip dengannya. Yah, aku tidak suka menipu atau membohongi orang... Yah walau kadang aku pernah membohongi Noel...", ucapku sambil mengambil bikini yang kupilihkan untuk Kido. Lalu aku memberikannya pada Kido.
Kido menerimanya dan membalasku dengan khawatir, "Apa yang terjadi?"
Aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum sedikit, "Tidak ada apa-apa kok. Ayo cepat ganti."
Kido tidak mendengarkanku. Ia masih terus bertanya padaku, "Ceritakan saja. Kita adalah teman 'kan?" Sambil berkata seperti itu, dia tersenyum lembut, bertingkah seperti seorang ketua yang sebenarnya.
Aku sedikit terkejut dengan hal ini. 'Teman? Teman yang... mau mendengarkanku?' Tiba-tiba hatiku mulai berdegup kencang, menunjukkan rasa kegembiraan di dalam hatiku yang paling dalam. 'Ya.. Mereka adalah temanku... Teman 'pertamaku' yang asli dan sebenarnya...'
Aku mulai tersenyum padanya, tapi kali ini, senyumanku benar-benar tulus. 'Ah... Sudah lama aku tidak merasakannya... Aku beruntung bertemu dengan Mekakushi Dan... Dan Kido lah orang pertama yang mengatakan kata 'teman' padaku...'
"Ya, akan kuceritakan," ucapku masih tersenyum tulus.
Kemudian, aku menceritakan masa laluku pada Kido. Dari ayahku berubah semenjak kematian kakak, sampai pada kematianku pada tanggal 15 Agustus.
Setelah aku selesai menceritakan masa laluku pada Kido, air mataku mulai sedikit menetes, membuat Kido mengelus-ngelus kepalaku. Ia memanfaatkan tubuh tingginya itu untuk mengelusku yang bertubuh sedikit lebih pendek dari padanya, karena walau bagaimanapun, aku masih tetaplah berumur 14 tahun yang bertubuh lebih tinggi daripada anak-anak berumur 14 tahun lainnya. Hatiku tetaplah masih anak kecil.
Sementara, sambil terus mengelusku, ia tersenyum lembut dan berbisik padaku, "Tenang saja, sekarang kau mempunyai banyak teman."
Aku mengusap air mataku, lalu tersenyum ceria setelah mendengar hiburan Kido, "Terima kasih."
Kido masih terus mengelusku beberapa kali. Lalu ia teringat pada pakaian renang yang masih ia bawa di tangannya itu. Ia segera berhenti mengelusku dan berkata padaku dengan tersenyum kecil, "Aku akan coba baju renang ini dulu. Tunggu di depan kamar gantiku ya." Aku membalasnya dengan anggukkan kecil. Kido pun masuk ke kamar ganti tersebut untuk mencobanya.
"Hei~ Kido dimana~?" Terdengar suara laki-laki yang kukenal dari belakangku. Aku menengok ke belakang, melihat Kano, Momo, dan Marry sedang bersama-sama dengan membawa kantong plastik di tangan mereka masing-masing. Sepertinya mereka sudah selesai membeli baju renang...
Aku membalas Kano dengan senyuman, "Dia lagi mencoba di ruang ganti ini." Aku menunjuk ke arah kamar ganti Kido dan melanjutkan, "Sebentar lagi mungkin dia akan selesai berganti baju." Aku sedikit tersenyum iseng melihat mereka, menantikan ekspresi Kido yang kaget melihat Kano, Momo, dan Marry di depannya. Kano juga memasang ekspresi yang sama. Ia menyeringai dan terkekeh kecil.
Beberapa saat kemudian, gorden di kamar ganti itu terbuka, ditarik oleh perempuan berambut hijau dengan rambutnya yang dikuncir satu dan sudah selesai mengganti pakaiannya yang tebal itu menjadi bikini yang kupilihkan untuknya.
Aku sedikit terkejut melihat perubahannya. 'Aku merasa... dia sudah tidak terlihat seperti lelaki lagi. Dia sudah terlihat seperti seorang perempuan setelah memakainya.'
Kido, dengan sedikit malu pada penampilannya yang dia anggap sangat terbuka, memalingkan wajahnya melihat lantai kamar ganti itu dan bergumam, "Ba-Bagaimana...? E-Emm, tapi di bagian ini terlihat terbuka..." Dia memainkan tali pita di bagian pahanya dengan masih terus melihat ke lantai.
Kido masih tidak melihat ke arah kami. Kami semua tidak bereaksi. Mungkin karena kagum pada penampilannya yang berubah drastis atau mungkin karena dia sebenarnya perempuan yang cantik... Andaikan dia tidak tomboy dan tidak memiliki kekuatan 'Concealing Eyes', pasti banyak lelaki yang menyukai dia.
Kido pun mulai merasa heran karena tidak ada suara apapun yang membalasnya. Dia pun mendongak dan melihat ke arah kami. Matanya terbelalak melihat beberapa orang selain aku yang memerhatikan dia dengan kagum, yaitu: Kano, Marry, dan Momo. Wajahnya pun tiba-tiba berubah menjadi sangat merah, dia pun segera menutup gordennya kembali dengan sangat cepat. Aku, Kano, Marry, dan Momo pun terkejut mendengar tarikan gorden yang sangat keras itu.
Momo pun mulai bereaksi pertama kali, "Danchou-san! Pakaian renangnya cocok sekali untukmu!"
"Be-Benar, Kido! Itu sangat cocok! Kau terlihat manis!", lanjut Marry yang mulai bersemangat memuji Kido.
Aku pun bereaksi juga, "Iya, sangat cocok! Bagaimana Kido? Pilihanku bagus 'kan!? Ah, kalau diberi hiasan rambut bunga berwarna ungu di rambutmu pasti akan lebih cocok!"
"..." Kido tidak membalas.
"Ki-Kido...?", panggil Momo yang mulai merasa tidak enak.
Kido mulai bersuara dari dalam kamar ganti tersebut, "... A-Aku tidak cocok memakai ini! I-Ini terlalu terbuka! A-Aku gak suka memakai bikini..."
Kano, yang daritadi hanya menyengir sambil menahan sedikit tawanya, bersuara, "Pfft! Tumben Kido mau memakai pakaian seperti itu. Kukuku! Tapi cocok juga~ Kido terlihat manis~ Ugh!" Mendengar suara Kano, Kido segera keluar dan menonjok muka Kano karena malu. Dia melampiaskan malu nya pada Kano.
"Be-Berisik! Aku ganti baju dulu..." Kido kembali ke kamar gantinya dan menutup gordennya.
Beberapa saat kemudian, Kido kembali membuka gorden kamar gantinya dan keluar dari kamar ganti tersebut. Kido pun mendekatiku, dan bertanya, "Apa kau juga mau membeli pakaian renang?"
Aku menggelengkan kepalaku, dan menjawab "Tidak" pada Kido.
"Ooh..." Dia pun mulai berjalan mendekati Kano.
Selagi Kido berbicara dengan Kano, entah apa yang dibicarakan mereka, aku mengingat sesuatu. Hal yang kuingat itu... sangat penting, tentang route lainnya di anime, yang berakhir happy ending...
'Hah!? Kenapa aku tidak memikirkannya dari tadi!?'
Sementara mereka semua mengobrol, aku segera berlari mendekati Marry dan lainnya, lalu bertanya pada Kano, "Dimana Shintaro?"
Kano bingung melihat ekspresiku yang tiba-tiba berubah menjadi panik dan menjawabku, "Hm? Dia masih di lantai 1 bersama dengan Seto dan Noel."
"Hei, kalian semua!" Kami semua menengok ke arah suara yang tampaknya memanggil kami. Kami melihat Seto, Noel dan Shintaro yang juga membawa sekantong plastik kecil di tangan mereka. Seto, Noel, dan Shintaro pun mulai berjalan mendekati kami semua.
"Jadi, semuanya sudah berkumpul ya?", tanya Kido.
"Iya, Danchou-san! Ayo kembali ke markas!", seru Momo dengan mengangkat tangannya.
"Tunggu!" Aku berteriak. Mereka semua menengok ke arahku dengan heran. Aku melanjutkan, "Err, Shintaro... Marry... Aku ingin bicara dengan kalian... Dan ini rahasia... Jadi, ikut aku kesana ya..." Aku menunjuk ke arah ujung lantai itu. Shintaro dan Marry kebingungan mendengarku, tapi mereka tetap mengikutiku dari belakang. Sementara itu, semua anggota Mekakushi Dan yang lainnya juga kebingungan.
"Ada apa?", tanya Shintaro sambil mengerutkan kedua alisnya karena sudah kelelahan.
"A-Ada apa, Naisha-san...?", tanya Marry sedikit khawatir.
Aku mulai berdiri tegap, keringat bercucuran dari pipiku, dan aku menelan ludahku dengan gugup. Semoga cara ini berhasil... Dan semoga mereka mempercayainya...
Aku mulai membuka mulutku sedikit demi sedikit, "Sebenarnya... Apa kalian percaya, kalau sebenarnya kalian semua terjebak di time loop?"
Mendengarnya, Marry sangat terkejut, sedangkan Shintaro kebingungan dan tidak mengerti apa-apa. Aku menghela nafas.
Kemudian, Marry sedikit berteriak mendengar pertanyaanku, "Ka-Kamu mengetahuinya...!?" Aku mengangguk menandakan jawaban 'iya', sedangkan Shintaro masih bingung melihat kami berdua. Kemudian, Shintaro bertanya, "Sebenarnya, ada apa sih!? Aku tidak mengerti!"
Kami berdua menengok ke arahnya, namun Marry kembali menengok ke arahku, "Apa Shintaro-san perlu tau hal ini? Kenapa kau memanggilnya juga?"
Aku mengangguk dan menjawabnya, "Ya... Aku punya rencana. Dan rencana ini, Shintaro juga berperan melakukannya." Aku menengok ke arah Shintaro selagi menjelaskan maksudku. Aku melanjutkan, "Jadi, lebih baik kau beri tau semuanya pada Shintaro terlebih dahulu, baru aku akan memberitahu rencanaku pada kalian..."
"Baiklah..." Marry menengok ke arah Shintaro, lalu menjelaskan semua yang terjadi.
"Eh? Ja-Jadi kita semua sedang berada di time loop karena kau melihat kita semua mati berkali-kali pada tanggal 15 Agustus?" Shintaro tercengang, sambil berusaha memproses semua perkataan Marry.
"Ya, benar! Seperti yang diharapkan dari orang ber-IQ 168!", pujiku.
Namun, Shintaro menyilangkan kedua tangannya di depannya, "... Tapi itu tidak mungkin terjadi..."
Marry segera mendekati Shintaro, dengan sedikit berteriak, "Percayalah, Shintaro-san! Kau juga tidak ingin Momo-chan dan yang lainnya meninggal, bukan!?"
Melihat keseriusan di wajah Marry dan di wajahku, Shintaro mengaku kalah. "Baiklah, baiklah. Aku percaya. Terus apa rencanamu?" Shintaro dan Marry menoleh ke arahku.
Aku mulai sangat serius sekarang, dan segera menjelaskan rencanaku pada mereka, "Begini. Shintaro, buatlah perjanjian pada Marry. Perjanjian pada Shintaro dan aku yang akan terus mengingat tentang tragedi ini... Jadi, aku, Marry, dan Shintaro akan terus mengingat apa yang terjadi... dan Marry, beri Shintaro sebuah kekuatan mata... Karena, aku tau, Marry, kau adalah Queen. Kau bisa memberikan kekuatan mata 'kan?"
Marry terkejut. Shintaro dan Marry menatap masing-masing, lalu kembali melihatku. Shintaro bertanya, "Jadi... Kalau aku mengingat tentang tragedi yang kalian ceritakan itu... Memangnya untuk apa? Dan untuk apa kekuatan mata itu padaku?"
Aku menjawab, "Shintaro... Sebenarnya... Tateyama Ayano juga terlibat dalam tragedi ini."
Mendengarku, mata Shintaro terbelalak, lalu dia segera memegang bahuku dengan keras dan menggoyang-goyangkanku,
"A-APA HUBUNGAN DIA DENGAN INI!?"
Sambil terus menggoyangkanku, aku mengangkat kedua tanganku di depan wajahku, dan berusaha menenangkan Shintaro, "Te-Tenanglah! Sebenarnya, dia bunuh diri agar bisa masuk ke daze... Dia ingin menyelamatkan Enomoto Takane, Kokonose Haruka, juga Kano, Kido, dan Seto dari ular yang selalu membunuh kita itu... Dia... bunuh diri untuk mencegah semua ular keluar dari daze dan berkumpul pada Marry...", jelasku sambil memalingkan mataku sedikit dari pandangannya.
"A-AKU TIDAK MENGERTI! SEBENARNYA APA YANG TERJADI!?", teriak Shintaro masih terus menggoyangkan bahuku.
Marry segera panik melihat Shintaro, lalu segera berseru, "Tenanglah, Shintaro-san! Aku akan menjelaskannya semuanya! Dari awal!"
Aku juga berseru padanya, "Ya, sekarang aku juga akan ikut membantu menjelaskan!" Shintaro pun melepaskan tangannya dari bahuku dan menanti penjelasan kami berdua. Sekarang ini, dia terlihat lebih serius daripada tadi.
"Ayo jelaskan. Sebelum mereka heran dengan kita...", ucap Shintaro sambil menunjuk Kido dan yang lainnya jauh di belakang yang menatap kami bertiga dengan keheranan.
Kami pun mulai menjelaskan.
"Jadi... Begitu ya...", Shintaro mengangguk-ngangguk mengerti.
"Ya, begitulah... Jadi, tolong ya, Marry, Shintaro."
"Tapi..." Shintaro dan aku menengok ke arah Marry yang masih terlihat belum yakin. "Apa aku harus mengulang waktu lagi sekarang? Dan apa yang harus kita lakukan setelah aku mengulang waktu lagi?"
Aku menoleh ke Shintaro, untuk menjawab pertanyaan yang pertama, "Shintaro. Jujur. Apa kau masih belum percaya?"
Shintaro menjawabku dengan jelas, "Sebenarnya... Aku masih sedikit belum percaya..."
Aku menghela nafas, lalu kembali menengok ke arah Marry. "Kalau begitu, kita akan menunggu Kuroha baru kita akan mengulang waktu... Aku juga sebenarnya tidak mau melihatnya, tapi ini untuk meyakinkan Shintaro. Dan untuk pengulangan waktunya, lebih baik sebelum Tateyama Ayano mati... Jadi 2 tahun yang lalu pada tanggal 15 Agustus... Aku tahu ini egois, tapi semuanya tidak akan terlalu berubah 'kan? Karena, kita hanya akan melakukan hal ini sekali. Jadi, berusahalah agar tidak gagal."
Marry sedikit terkejut mendengarku, tapi ia mengangguk pasrah. Shintaro pun juga mengangguk serius.
"Jadi, untuk yang kedua. Shintaro, pagi-pagi saat perulangan waktu, cepatlah pergi ke atap gedung sekolah dimana tempat Ayano akan bunuh diri dan kalau bisa kau sudah harus bisa bertemu Ayano sebelum ia menuju atap, lalu yakinkan dia karena masuk ke daze itu tidak ada gunanya, dan kalau bisa, usahakan Haruka dan Takane tidak tertangkap Kenjirou."
Aku mengambil napas sebentar, lalu melanjutkan, "Marry, apa 2 tahun yang lalu kamu sudah mengenal Seto dan yang lainnya? Kalau sudah, hindarkan kita semua dari Tateyama Kenjirou, ayah Ayano itu, dan diamlah sampai pada hari ini."
Kemudian, aku menatap Marry dan Shintaro, "Lalu, jika Haruka dan Takane tertangkap oleh Kenjirou, pada hari ini, si ular itu pasti akan membunuh kita semua. Jadi dia pasti akan menemui kita. Nah, Shintaro, pada waktu itu, kau tolong bunuh diri dengan cara apapun itu dan masuklah ke daze. Tenang saja, kau bisa keluar kok. Lalu carilah Haruka dan beritahu dia tentang rencana kita ini. Setelah itu, keluarlah dari daze dan gunakan kekuatan matamu itu pada Kuroha."
Shintaro mengangguk mengerti dan menghafal rencana kami ini di kepalanya, tetapi Marry memiringkan kepalanya karena bingung pada perkataanku yang terlalu panjang.
"A-Apa katamu tadi? Bisa diulang?", tanya Marry.
Aku menghela nafas lagi, lalu segera mengeluarkan kertas dari dalam kantong celanaku, dan bertanya, "Kalian punya pulpen atau pensil?" Shintaro mengambil pulpen dari dalam kantong celananya dan memberikannya padaku. Entah kenapa dia bawa.
"Terima kasih. Akan kutulis rencanaku ini di kertas ini. Jadi jangan sampai hilang ya, Marry," Aku tersenyum pada Marry sambil menulis rencanaku yang sebelumnya.
Dengan cepat, aku selesai menulis rencananya dan memberikannya pada Marry, lalu memberikan pulpennya kembali pada Shintaro.
"Nah, dengan begini, selesailah~", ucapku sambil tersenyum lebar.
"Tu-Tunggu!"
Aku menoleh ke arah Marry, "Ada apa?"
"Kenapa kau bisa tahu tentang semua ini?", tanya Marry penasaran.
Aku menelan ludahku. 'Gawat, aku belum memikirkan alasan darimana aku tau...'
"I-Itu..."
"Hei, kalian bertiga ngomong apa? Kok lama banget~?" Bertepatan dengan suaraku, Kano memanggil kami bertiga.
Kami menoleh ke arahnya sambil segera berjalan kembali ke arah mereka.
"E-Emm, hal yang tidak penting kok!", seru Marry yang kelagapan.
"Tidak ada apa-apa...", ucap Shintaro dengan tenang.
"Cuma mengobrol saja!", ucapku dengan tersenyum lebar.
Mereka semua saling menatap masing-masing dengan bingung.
"Kalian mencurigakan... Ya sudah deh. Ayo kita balik!" Momo berseru sambil berjalan menuruni tangga, diikuti para Mekakushi Dan lainnya dari belakang.
Kami semua berbicara dan bercanda seperti biasa. Bahkan Momo, Kano, Ene, Noel dan Seto tertawa terbahak-bahak mendengar candaan mereka, kecuali Kido yang hanya tersenyum. Sementara, aku, Shintaro, dan Marry hanya diam dengan wajah yang terlihat sedih. Yah, walau aku masih bisa berpura-pura tersenyum sih...
Kido yang menyadari reaksi sedih kita, heran, lalu berjalan pelan untuk menyamakan jalannya dengan kami bertiga. "Kalian kenapa?", tanya Kido.
Kami bertiga menyadari Kido yang berjalan di sebelah kami, lalu segera menggelengkan kepala kami secara bersamaan. "Tidak apa-apa kok!", seru kami bersama.
Kido memiringkan kepalanya dan ingin bertanya lagi, tapi ia diganggu oleh panggilan Kano.
"Kido~!"
"Apa...?" Kido mengerutkan alisnya sambil berjalan kembali bersama Kano dan yang lainnya.
"Haaah..." Kami menghela nafas bersama, kemudian kami menatap masing-masing, lalu tertawa kecil bersama-sama.
'Aku berharap, hari ini terus berlanjut...', pikirku sambil tersenyum lembut. Aku menoleh ke arah Shintaro dan Marry. Melihat ekspresi mereka yang sama sepertiku, aku merasa mereka juga berpikir hal yang sama denganku.
Setelah tersenyum bersama, Shintaro kembali serius dan bertanya, "Jadi... Sebentar lagi, tragedi itu akan terjadi...?"
"Ya...", jawabku.
Bertepatan dengan itu, Momo berseru sambil menunjuk dengan telunjuk tangan kanannya, "Eh? Apa orang itu bisa melihat kita?"
Kami semua menengok ke arah yang Momo tunjuk. Mataku, mata Ene, dan mata Marry terbelalak melihat orang yang Momo tunjuk. Orang yang ditunjuk Momo itu, adalah laki-laki berambut hitam dengan pakaian cosplay yang serba hitam pula, dihiasi dengan senyuman jahat di bibirnya.
'Dia muncul...'
"Tidak mungkin... Aku masih memakai kekuatanku...", balas Kido yang sedikit kaget melihat lelaki serba hitam itu yang menatap mereka.
"..." Kano mulai berjalan menuju lelaki itu. Ia pun berdiri dekat dengannya, walau masih ada jarak yang memisahkan mereka.
"Maaf~ Kami menghalangimu ya?", ucap Kano dengan menyeringai.
Lelaki berambut hitam itu menatap Kano dengan lama, lalu ia mulai membalas perkataan Kano, "Kau... deceiver yang waktu itu ya..."
Kano sedikit terkejut mendengar kata 'deceiver' itu, lalu ia menyadarinya. Sadar kalau ada yang salah dari lelaki itu. Kano segera menengok ke belakang dengan cepat untuk memperingati kami. Tapi terlambat. Lelaki itu sudah menempatkan pistolnya di bagian belakang leher Kano.
"Aku akan menambahkan luka pada luka yang kau benci itu." Sambil berkata seperti itu, lelaki itu menyeringai lebar. Lalu ia menarik pelatuknya dan Kano ditembak olehnya. Darah merah bercucuran keluar dari bagian yang ditembakkan ke arah Kano tersebut. Kano pun terjatuh ke lantai dengan keadaan tak sadarkan diri.
Melihat hal tersebut, wajah semua Mekakushi Dan berubah menjadi pucat, penuh ketakutan, dan tercengang.
Bereaksi pada hal tersebut, Momo segera memeluk Marry untuk melindunginya, dan Kido berlari ke arah Kano yang sudah berlumuran darah dengan memposisikan tangannya pada leher Kano yang terluka tersebut sambil menangis.
Seto berlari menuju lelaki berambut hitam itu. Tapi, sebelum ia sampai padanya, lutut Seto ditembak olehnya, sehingga Seto menekuk lututnya yang tertembak itu dan tidak dapat berlari lagi. Melihat Seto yang sudah tidak bisa berlari ke arahnya lagi, laki-laki berambut hitam itu menjambak rambutnya, lalu menembaknya pas di bagian mulutnya, sehingga dapat terlihat jelas darah Seto bermuncratan dari kepalanya.
'Ini... Sadis!'
Lelaki itu menengok ke arah Kido, Kido dengan tetesan air matanya bercucuran dari matanya. Kido mendongak melihat lelaki itu yang sudah bersiap menembak dia. Namun, menyadari apa yang benar-benar terjadi sekarang, aku segera berlari ke depan Kido dan berusaha melindunginya.
Tapi... Tiba-tiba Noel berlari ke depanku dengan sangat cepat dan ia tertembak oleh peluru yang ditembakkan oleh lelaki berambut hitam itu: Kuroha...
Darah pun mulai bercucuran dari perut Noel. Perut Noel bolong karenanya, dan ia terjatuh ke tanah. Melihatnya, aku segera berteriak histeris dan memegangnya.
Setelah itu, tanpa memedulikan kami, Kuroha mengarahkan pistolnya padaku. Aku segera memejamkan mataku, tidak berani melihat apa yang akan terjadi nanti.
Namun, saat aku membuka mataku kembali, Shintaro berdiri di depan kami semua. Aku melihat Shintaro dengan sedikit terkejut.
Tapi, tiba-tiba terdengar suara tidak jelas berasal dari HP Shintaro. Shintaro pun memperhatikannya sejenak, tapi Kuroha langsung segera mengambilnya dengan cepat. Setelah itu, ia melihat layar HP Shintaro yang berisi Ene di dalamnya. Melihat Ene, Kuroha segera meremas HP tersebut sampai hancur berkeping-keping. Sementara, Ene hanya menangis histeris melihat Konoha, karakter game Dead Bullet 1989 milik Haruka, bisa berubah menjadi seperti ini.
Shintaro sedikit tercengang melihat HPnya yang sudah hancur itu, lalu ia melihat kembali Kuroha dengan wajah yang sangat ketakutan.
'Lihat, Shintaro? Ini akibat kau tidak percaya...'
Aku segera menengok ke belakang, memberikan tanda pada Marry untuk mengulang waktu. Marry pun, dengan air matanya yang masih menetes, segera mengangguk dan bertransformasi.
Momo dan Kido terkejut melihat Marry yang berubah. Rambut Marry menjadi pendek, pipinya bersisik ular, dan ada sesuatu di bawah rambut Marry.
Kuroha tersenyum lebar melihat Marry yang berubah tersebut.
Setelah itu, cahaya putih menyilaukan muncul dari Marry.
Waktu akan terulang kembali menjadi 2 tahun yang lalu... Walau aku tidak tahu, aku dan Noel masih akan tetap berada di abad ini atau kembali ke abad kami berasal. Aku harap, aku masih akan tetap ada disini, agar aku dapat membantu Shintaro dan Marry menjalankan rencana kami.
"No, I don't want to say goodbye!"
-Marry
Author's Note : sepertinya chapter ini lebih panjang daripada yang lainnya. Entah kenapa, aku sangat senang menulis chapter ini XD
Berikutnya adalah route lainnya lagi. Awalnya, aku tidak terpikir Naisha, Shintaro, dan Marry membuat perjanjian... Tapi saat kupikir-pikir, Shintaro dan Marry membuat perjanjian di animenya untuk menuju happy ending, jadi mereka harus membuat perjanjian XD
Oh ya, sebenarnya aku masih agak bingung... si Naisha nanti lebih baik jadinya sama Noel atau Shintaro ya? Dan Shintaro nanti jadinya sama Naisha atau Ayano ya? Aku minta saran .
Ah, aku jadi bersemangat menulis fanfiction ini! XD
