Runa: "TERIMA KASIH TUHAN!"
Motonari: "Ni anak napa lagi."
Runa: "Aku.. Aku bisa lanjut ke chapter 3 tanpa hambatan, padahal udah dengan sangat berat hati mengatakan hiatus. Ya, meskipun sempat gak semangat gegara temen yang kuharapkan dapat review setidaknya baca fanficku saja tidak bisa mengunjungi fanfic ini gegara internet positif hiks."
Tsuruhime: "Lewat facebook dong kayak chapter 1 kan sempat dishare."
Runa: "Ih gak greget tau. Sekarang waktunya review time dari... Dissa-CHAlovers."
"Tsuruhime, kali ini author yang bacain." *nahan Tsuruhime ngerebut kertasnya*
Tsuruhime: "Hueee kan aku tokoh utamanya thor QAQ)" ihh jahat..."
Runa: "Ya udah ayo kita baca sama-sama." *bagi kertasnya(?)*
"Makasih udah puji fanficku ayaya~
Haha, memang umur kita jauuhhhh bangeeeettt...
Oh soal Kojuurou kenapa manggil Masamune pake '-sama'? Kalo pernah nonton atau baca komik 'Black Butler', yak! Kojuurou bisa dibilang menjaga tuannya dengan menjadi guru. Makanya Kojuurou jadi wali kelas 3-1, karena dia memohon pada kepala sekolahnya langsung. Walau sebenarnya masih ada Takeda Shigen atau Matsu (catatan: mereka berdua juga guru) yang mau jadi wali kelas sana karena ada Yukimura dan Keiji, tapi Kojuurou itu butler keluarga kaya."
Tsuruhime: "Akhirnya author sedikit spoiler deh."
Runa: "Aku memang sudah menantikan pertanyaan ini keluar sih ahaha~
Oh iya... Maksudnya kepo bukan bego."
Motochika: "Nah loh author..." *udah siapin jangkar mau nebas*
Runa: "Ampun Motochika! Itu gegara ngetik cepet di warnet jadi bingung!"
Motochika: "Otak author lagi stress. Dasar bisa kepleset sampe gitu. Sakitnya tuh disini author..." *nunjuk perut yang abis ditendang Motonari waktu battle di chap 2 tadi*
Runa: *nyengir kuda*
"Oh ya pesan dari Dissa nih." *nyodor kertasnya*
Motochika: "... Ini bahasa jawa ya?"
Runa: "Saya orang Kalimantan kaka~ Jadi ga tau itu bahasa apa, hehe."
Motochika: "Hah? Bukannya kakak iparmu ada yang orang jawa?"
Runa: "Dia gak pernah ngomong bahasa jawa tau =,=
Orang Kutai di tempatku pake bahasa melayu + Indonesia..."
Tsuruhime: "Lanjut author! Aku baca reviewnya ya. Dari Meaaaa
Hati-hati ya Masmun. Kau jadi korban keduanya."
Masamune: "Korban blush kayak Motonari? Kagak lah! Gua biasa deket dengan para cewek karena ketamvanan dan kegantengan gue yang setinggi langit. Motonari ngeblush karena dia gak biasa sama cewek." *kibas rambut(lho?)*
Motonari: "Aku dengar, Masamune. Mau battle mesra-mesraan di chap ini dengan Tsuruhime?" *smirk*
"Kita minta para juri adalah para reader(s)."
Masamune: "Heh. Siapa takut."
Runa: "Ini yang bikin story siapa sih? Memang ni chap sebenarnya fokus dengan romance daripada adventurenya, cuma kan nanti characternya ga nambah-nambah kalo hanya kalian berdua yang main."
Masamune: "Hedeh, not funny. Ya deh."
Tsuruhime: "Tapi lumayan bisa bikin orang sakit jadi sembuh gegara Motonari blush. Kan keren tuh."
Runa: "Bener banget dah!"
Motonari: "Udah lanjut aja daripada kagum soal gituan! Tuh Masmun, dia gak cemburu karena kau. Berarti kamu memang muka-muka playboy."
Masamune: "Kok jadi main tuduh gitu sih? Serah dia dong!"
Motonari: "Baik. Tanya si authornya saja nanti saat dia review."
Masamune: "Jangan modus mentang-mentang dia suka berat sama lo sampe bilang lope lope, Motonari."
Motonari: "Itu terserah dia kan?" *kesel*
Runa: (mind: ih serem juga kalo Motonari udah marah. Tapi kece sih)
Kojuurou: *ga sengaja baca reviewnya*
"WAT!? Jadi gue eror di fanficnya!? Penghinaan!" *demo*
Masamune: "Keep calm, Kojuurou."
Kojuurou: "Haik haik. Btw dia nih curhat ya sampe hafal jumlah stop kontaknya. Hebat."
Runa: "Kau ini mau protes atau kagum sih?" *sweatdrop*
"Makasih ya untuk kalian berdua yang cetiah(?) banget review. Sebenarnya mau aplod gari Minggu cuma hiks, sakitnya tuh disini." *nunjuk bibir yang sariawan(?)*
Masamune: "Gak ada hubungannya thor."
Runa: "Ya aku juga tau kok. Langsung saja deh mulai ceritanya~"
—oOo—
Chapter 3 - Summon Seiryuu
-Masamune Dream Place: DJ room-
Tep... tep... tep...
Aku melangkah pelan sambil menatap sekeliling ruang yang sangat asing kukunjungi. Speaker-speaker (atau kata orang biasa menyebutnya salon) besar terlihat oleng bahkan ada yang terbelah menjadi dua sepanjang penglihatanku memandang. Kabel-kabel hitam yang biasanya menjadi penghubung antara speaker satu dengan speaker lain, terputus.
'Jadi Masamune disini ya?' tanyaku dalam hati.
"Aku suka dengan duniaku, actually. But..."
Kubalikkan badanku ketika mendengar suara asing tersebut, yang samar-samar aku pernah kenal siapa pemilik pita suara itu. Sosok lelaki berambut hitam dengan menggunakan eye patch menutupi mata kanannya, menatapku sayu dengan tubuh agak lemas. Bola mata birunya yang menyala seakan menambah aksen seram ketika ia berdiri di antara gelapnya ruangan ini.
"Masamune?" tegurku mencoba meyakinkan bahwa orang di depanku memang benar-benar orang yang kucari.
"Let see, Tsuruhime?" sapanya lagi. Namun dari cara ia berbicara, rasanya agak sedikit salah. Firasatku sesuatu menimpanya, dan aku menjamin itu adalah hal buruk.
"Ayo Masamune, kita kembali. Kojuurou-sensei khawatir denganmu," ajakku ramah. Selangkah demi selangkah aku mendekatinya pelan.
"Pulang?"
"Tentu."
Langkahku terhenti saat ia mulai mengeluarkan seringainya.
"Are you kidding me? Its my home for this time."
Apa?
"Tapi Masamune, ini hanyalah dunia mimpi!" protesku. Ia tertawa sangat kencang ketika mendengarnya.
"It's my dreaming place. Tidak ada orang disini yang mendesakku dan memerintahku. Yeah! I love freedom, and that's only available in this place!"
Tubuhku kaku seketika.
"Go home, useless girl," ejeknya.
Kukepalkan tanganku dengan gengaman yang kuat, sambil menggertakkan gigiku menatap kesal pria di depanku ini.
"What's up—"
BUAKH!
Kuhajar wajahnya dengan sangat kuat hingga tubuhnya oleng dan jatuh dengan pantat mendarat lebih dahulu. Ia terduduk di lantai sambil mengelus pipinya marah.
"What the—"
"Kau tahu, Masamune? Tidak baik untuk selalu hidup dalam impian... Hiks...," air mata mulai keluar dari pelupuk mataku, membanjiri kedua pipiku. Kedua tangan masih kukepalkan dengan paparan wajah penuh kebencian.
"Tsuruhime..."
"Jika Masamune disini selamanya, aku, hiks...," suara parau kini terdengar dari mulutku. Kuusap mataku, menyeka air mata yang keluar dengan lengan kananku paksa.
"...," Masamune hanya diam menatapku. Kutarik nafas dan mengeluarkannya dalam teratur agar sesegukanku hilang. Aku takkan bisa menjelaskan pada manusia keparat ini jika hatiku saja kacau.
"Kami semua mengkhawatirkanmu. Aku dan Motonari membopongmu bersama Kojuurou-sensei. Tidakkah kau bayangkan betapa sakitnya hati Kojuurou-sensei ketika kau tiada?"
"Dia hanya pelayanku yang terlalu terobsesi menjagaku. Sh*t guardian."
"Sudah berbincangnya. Waktunya habis manusia."
Kami berdua langsung berdiri tegang dan saling mendekat ketika suara asing yang menyeramkan tiba-tiba menegur kami.
"It's come," kata Masamune. "Sh*t alligator."
DUMMM!
"Lama tak berjumpa, Saint Hime!"
Sesosok monster besar 3 kali lipat dari kami pun muncul dengan kedua mata merahnya yang menyala. Seringai gigi tajamnya membuat bulu kuduk berdiri apalagi dia sejenis seperti buaya. Tubuhnya yang hitam pekat seperti bayangan membuat kami hanya terfokus menatap mata dan giginya yang berwarna lain.
"Si—siapa dia!?" tanyaku kaget ketika monster itu berjalan meliuk-liuk pelan mengarah pada kami seperti buaya yang melihat mangsanya dan mendekatinya. Padahal jelas-jelas tadi tidak ada monster itu di ruangan ini saat aku mencari Masamune.
"Kami adalah anggota 'nightmare'," bilang monster itu dengan suara horor yang menggelegar. "Aku ditugaskan untuk membunuh anak muda itu di alam mimpi, agar ia tertidur selamanya!"
"Kau tidak bilang itu tadi!" sahut Masamune marah. "Kau bilang akan membawaku ke dunia lain, kan?"
"Dunia alam neraka? Benar. Dan kau bisa menjadi salah satu anggota kami. Bersama Saint Hime tentunya!"
Suara tawa keras menambah aksen horor makhluk tak jelas itu. Kami berdua masih berdiam menatapnya tajam antara ketakutan dan kesal.
"Siapa sih Saint Hime!?" kataku nyaring. "Aku? Hei! Aku manusia biasa!"
"Kau akan tahu jawabannya jika bertemu bos-ku," monster itu kembali menyeringai sebelum habis mengucapkan kalimatnya. "Dan aku dapat mengantar kalian ke neraka, tempat bos-ku berada hanya dengan kibasan cakarku!"
BUMMM!
Salah satu tangannya dihentakkan di depan kami, tapi sepertinya sengaja dilesetkan agar hanya 'nyaris' mengenai kami. Kami berdua saling melindungi diri sendiri dari partikel-partikel yang terbang akibat dorongan hentakan tersebut. Dinding ruangan tersebut rubuh dan sekitar berubah menjadi tempat yang familiar kukenal. Tempat saat aku pertama kali ke dunia mimpi dan bertemu monster, yaitu bangunan-bangunan rubuh. Entah sejak kapan, dataran yang kami pijaki berubah dari keramik yang berdecit menjadi aspal jalan yang retak, amblas, maupun naik.
"Tch, kalau kau mati, aku akan merasa bersalah," kata Masamune pelan sambil terus menatap lurus monster tersebut.
"Kenapa kau ingin disini? Itu berarti kau memang membuat perjanjian ingin mati padanya?" sahutku. Dia melirikku dengan bola mata biru kirinya tajam.
"Don't go in my business," katanya tegas.
"Bukannya monster itu datang dari alam mimpimu!?"
"Fu*king yeah. Bersama denganmu."
"Anak muda itu membuat kesepakatan denganku, dimana dia akan mati di dunia kalian dan hidup di dunia ini untuk selamanya!"
"Mati?" aku langsung menggerakkan leherku menengok wajah Masamune yang tampak frustasi.
"Aku siap menjadi butler pengganti Koju si tukang kebun itu. Aku takkan membuatmu kesepian, Masamune. Aku mengerti dirimu, lebih dari Ibu keparatmu yang membuangmu sekalipun. Bahkan menyaingi butler setiamu itu."
"Aku hanya ingin hidup tanpa perintah," katanya sambil menahan... tangis. Pertama kali kulihat ekspresi lain terpampang di wajahnya, selain tampang cool dan mengejek yang umum kulihat ketika ia menghadapi para gadis-gadis yang menyatakan cinta padanya secara blak-blakan. "Juga aku tidak ingin menyusahkan Kojuurou karena dia berstatus butlerku. Sampai mendaftar di Basara Academy dan menjadi salah satu guru demi menjagaku. Tapi ia mencegahku memanggilnya 'Kojuurou-sensei'. Aku... hanya minta dua hal itu dikabulkan."
"Sudah kubilang kan? Dengan hanya menghilangnya dirimu dari dunia nyata, kau bisa mendapatkan dua impianmu itu sekaligus! Tidak dipekerjakan untuk mengurus perusahaanmu karena kau tidak ada, dan tentu butlermu itu akan mengundurkan diri bahkan dipecat!"
"Yeah, right..."
Kibasan ekor raksasa berayun dan menabrak Masamune yang tengah merenung, lalu melemparnya dan menabrakkannya pada dinding bangunan terdekat.
"Masamune-kun!" jeritku, dan aku segera berlari menuju ke arahnya.
"Mau kemana, Saint Hime? Fufufu~" monster itu mengejarku dari belakang, seakan-akan menikmati pesta sekarang. Tetesan keringat mulai muncul dan menjalar di pelipisku ketika mengetahui ia hampir menangkapku karena jarak yang hanya tinggal beberapa centimeter lagi.
"Tsuruhime.. Ja—jangan kesini. Kumohon...," pinta Masamune dengan matanya yang sayu. Ia terbatuk kecil dengan rembesan darah keluar dari mulutnya.
"Aku tidak tahu apa masalah detailmu sampai kau ingin mati," aku berlari terus ke arah Masamune walau nafasku mendesakku untuk berhenti bicara karena respirasi udara yang tak cukup. "Tapi.. Hahh, jika kau mati, itu takkan menyelesaikan masalahmu... Hahh, hahh," aku mencuri waktu untuk menarik nafas panjang. Lalu kubuka mulutku,
"BELUM TENTU HANYA DENGAN MENGHILANGNYA DIRIMU, SEMUA BERJALAN SEPERTI APA YANG KAU DENGAR DAN ANDAIKAN!"
Masamune melebarkan matanya menatapku ketika diriku dengan kasar membentaknya.
"I can't believe you, very interesting..."
Aku tersenyum, dan akibat aku tak menghadap jalan dan malah fokus melihatnya, tanpa tersadar aku tersandung batu dan terjatuh di tanah yang syukur saja yang kudarati adalah dataran rata.
'Aduh sakit!' ringisku dalam hati sambil mendongak. Bayangan hitam gelap memberikan tanda seolah pemilik bayangan tersebut akan mendekatkan dirinya menimpaku.
"Berdoalah semoga kau selamat dengan pesta gila ini, Saint Hime!" monster itu tertawa puas. Ku lengokkan kepalaku menghadap monster itu dalam takut, terlebih saat ia menurunkan tangannya siap menindih tubuhku dengan tangannya.
"Tsuruhime..."
Samar-samar terdengar suara Masamune memanggilku.
"Aku... Tidak ingin mati..."
"Kematian bukanlah akhir segalanya. Anda berhasil membuka satu dari empat hewan mitologi penjaga mata angin dengan mendekatkan hati anda padanya. Saint Hime, saya salut dengan anda."
Srek! Srek! Srek!
Sebuah kartu bercahaya turun di depan wajahku perlahan. Entah ia memutar ke kiri, ke kanan, atau kiri kanan atau sebaliknya. Aku tidak tahu yang pasti.
Yang jelas, aku melihat kartu itu sekilas dan terlihat gambar ular naga tertera di kartu tersebut—naga dari Cina. Seperti dorongan apakah yang membuatku mengangkat tanganku untuk meraih kartu yang melayang tersebut.
Aku memegangnya, dan suara asing terdengar saat aku mendekatkannya pada wajahku. Waktu seakan-akan menjadi lambat, karena sampai saat ini aku belum merasakan hantaman berat dari sang pemilik bayangan yang sudah menutupi seluruh tubuhku.
"I'm one from four Sacred Beast who rule ice element from the East with my another name 'Azure Dragon'. Now i'm your servant, will show my faith to Saint Princess. Kissing me, my majesty."
'Men—ci—um?' tanyaku dalam hati. Namun dorongan apakah yang membuatku melakukannya, hingga aku mencium kartu tersebut lembut sambil memejamkan mata.
WHUURRR!
Udara sejuk kurasakan setelah mendekatkan bibirku pada kartu tersebut. Dingin, seperti kini aku berada di depan kulkas dimana freezer terbuka lebar.
Rasa penasaran memenuhi hasratku untuk mendongakkan kepalaku. Terlihat ular naga berwarna biru seperti naga-naga di Cina, mengelilingi sebuah bongkahan es besar yang tak lain adalah tubuh monster buaya itu yang membeku. Ular naga itu terbang menuju Masamune setelah kulihat ia memutari bongkahan itu 3 kali. Lalu sosoknya menghilang seiring cahaya biru mengelilingi tubuh Masamune.
WUUUSHHH!
Cahaya biru gelap menyelimuti tubuh Masamune. Sejenak sosok Masamune tak tampak oleh mata telanjangku karena rembesan cahaya yang begitu menyilaukan itu.
Saat cahaya itu memudar, Masamune kini berpakaian ala samurai Jepang
—dimana ia memakai helm dengan bulan sabit kuning dan memiliki 3 pasang katana di kedua sisi. Pakaian biru tua mencolok sampai bawah lutut dengan lengan sampai bahu itu menutupi zirah hitam di dalamnya.
"Masamune! Kau..."
Masamune menunduk sambil menggerakkan lehernya kiri kanan—tampak kebingungan setengah mati ketika menyadari dirinya bukan remaja dengan jaket jeans dan kaos biru serta jeans putih lagi.
"What is this? I'm samurai, eh?" komentar Masamune sambil takjub memandang dirinya. Ia menarik satu tangannya mengambil satu dari enam katana yang ia bawa—keluar.
"Sial, Seiryuu sudah muncul!"
Kretek kretek kretek!
Bongkahan es pun mulai retak. Monster itu keluar dari bongkahan es dengan auman keras, hingga pecahan-pecahan es betebaran di udara juga menyebabkan dataran bergetar.
"Seiryuu, naga penjaga mata angin timur. Saint Hime, dia adalah penjagamu sekarang."
'Ah? Apa?' kembali aku mulai berbincang dengan seseorang dari dalam pikiran.
"Dia akan menjadi pelindungmu."
"MAGNUM STEP!"
DUAKHH!
Monster besar itu mundur ke belakang karena kilat petir besar menyerangnya langsung dimana terpanggil dari pedang Masamune yang ia pegang.
BUMMM!
Monster itu mundur menimpa bangunan pencakar langit, dan langsung saja bangunan itu patah dan tumbang ke arah monster itu, menimpanya dengan keroyokan tanpa ampun. Mereka seakan seperti membantu sentai hero (walau cuma satu) melawan monster.
DUAKH! BRAAKKK!
"I love this game," katanya mendekatiku dengan tenang, lalu tersenyum penuh arti menghadapku.
"Masamune..."
"Thank you, Tsuruhime. Kau benar, jika aku mati aku takkan bisa menyelesaikan masalahku."
"Grrr! Keparat kau Seiryuu! Kubunuh kauuuu!"
Masamune mempersiapkan kuda-kudanya saat suara monster itu mengancam mereka—walau tubuhnya sendiri masih belum bergerak sejak bangunan-bangunan itu menghantamnya. Tiba-tiba angin deras muncul dan membuat kami terdiam seakan-akan terhenti oleh kekuatan waktu.
"Tch, Σκούρο Crocodile. Θα αποτύχει η αποστολή αυτή τη φορά (Tch, Dark Crocodile. Kau gagal dalam misi kali ini)."
BLAAARRR!
Kilat besar melesat menuju tepat ke arah timbunan bangunan dimana terdapat monster tadi di bawahnya. Api besar hitam tiba-tiba tercipta setelah kilatan itu menyambar, dan Masamune segera menarik tanganku menjauh dari tempat itu hingga kami berdua terjatuh dan mendarat dengan masing-masing pantat dari kami.
Api hitam pun menyusut, disertai timbunan bangunan runtuh—yang sempat disanggah oleh badan monster tadi, menimpa dataran. Aku menatap tegang peristiwa tadi, dengan keringat dingin masih mengucur dari pelipisku.
Sempat terjadi keheningan selama 2 menit setelah bangunan-bangunan itu rubuh beruntun. Aku menghela nafas panjang sambil menunduk kecil untuk memecah keheningan dari kami.
"Tsuruhime," Masamune memanggil namaku lembut.
"Masamune, aku sudah dengar dari Kojuurou-sensei jika—"
"Aku lari dari rapat tentang pertunangan, right?" potong Masamune sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku.
"Iya. Kenapa? Bukankah 'lari' bukan style Masamune?"
"Kenapa kau bilang?" ia memainkan katananya menggores aspal yang menjadi tempat pijakannya dengan ujung pedang panjang itu.
"Ehm, jika aku boleh tahu sih."
"Well, aku akan bercerita asal dari aku mendapat mata cacat ini."
Ia menyimpan katananya dengan wajah menunduk. Helaian rambut poninya turun dan menutupi mata kirinya meskipun helmnya sudah cukup besar untuk menutupi wajahnya walau tidak sepenuhnya.
"This story starting when I'm five years old," mulai Masamune.
"Em, Masamune. Bukan menyinggung sih, tapi, bisakah hilangkan kebiasaanmu berbicara bahasa Inggris untuk sementara? Aku merasa terganggu untuk mendengarnya."
Masamune tertawa saat itu.
"Don't know about English, eh?" oloknya. Aku menggeleng sambil menggembungkan pipiku marah.
"Oh alright. Cerita ini bermula ketika aku masih berumur 5 tahun. Saat itu, Ibuku menyayangiku dengan harapan akan menjadi pewaris perusahaan keluarga Date. Kasih sayang yang takkan kulupakan mulai dari peluknya, senyumnya, dan kalimat sejuknya yang membuatku seakan-akan seperti berada di surga bersama bidadari yang akan selalu setia padaku. Meskipun aku memiliki adik, tapi beliau tetap mencintaiku. Sampai saat tragedi dimana adikku kepleset dari bibir jembatan akibat ia ingin menangkap sebuah kertas kupon jalan-jalan yang ia belikan khusus untukku—dimana saat itu kertas itu diterbangkan angin karena keteledoranku, aku menolongnya dan sempat menangkap tangannya. Lalu, adikku yang sudah setengah badannya terseret arus sungai tidak kuat mengenggam tanganku terus-menerus."
Masamune sempat menghela nafasnya berat.
"Meskipun aku berusaha untuk terus menahannya, arus sungai semakin kuat menyeret dirinya bersama mereka. Aku tidak sempat berteriak minta tolong, sedangkan adikku panik dan menangis sejadi-jadinya. Semakin lama tubuhku ikut turun, dan tangan kami terlepas tanpa sengaja. Tubuhnya pun terseret air sungai yang deras, sedangkan aku mulai turun ke sungai dan mata kananku tertabrak batu tajam dan menghasilkan tusukan yang membuat mataku tidak berfungsi seumur hidup."
"Jadi, Masamune kehilangan adik?"
"Bukan hilang lagi, tapi meninggal."
Aku tidak berani menengok wajah si cowok berperangai agak buruk ini, ketika suara isakan kecil yang sepertinya susah ditahan tertangkap oleh gendang telingaku.
"Mengapa takdir ini harus terjadi? Akibatnya Ibu dan Ayah mati karena serangan jantung tiba-tiba yang disebabkan stroke akibat masa tua, dan Kojuurou muncul di kehidupanku sebagai butlerku karena pernah dititip amanat bahwa ia harus setia menjadi pelayanku selamanya sehabis menyelamatkanku dari tragedi itu. Yah, meski bekas pipinya menjadi bukti sejarah awal pertemuanku dengannya yang takkan pernah hilang."
"Dan alasan Masamune ingin mati karena takut merepotkan orang lain. Meskipun belum terlalu mengerti akan ceritanya seluruhnya, tapi aku bisa menerawang alasan Masamune tidak mau diperintah dan tidak ingin Kojuurou-sensei menjadi pelayanmu."
"Seperti itulah," jawab Masamune pasrah.
"Ayolah Masamune, jangan tinggalkan jalan cerita ini dengan cerita akhir sang tokoh utama mati dengan tidak wajar!" seruku sambil menggerakkan leherku ke kanan lalu menepuk pundak kanannya. "Setiap masalah pasti ada penyelesaiannya."
Masamune mengangkat wajahnya dan melengokku dengan tatapan tidak percaya. Sumringah senyumku kulontarkan agar ia percaya padaku.
"Heh, I think I have new game now," Masamune menyerigai seram. "Kurasa entah apa, aku harus menjadi penjagamu mulai sekarang."
"He?" aku hanya bisa melontarkan satu kata saat pria populer ini mengatakan ingin menjadi penjagaku.
"Dari dalam hatiku berkata, aku harus menjagamu sebagai bukti aku berterima kasih karena mencegahku menemui ajalku dengan cepat. Lagian jika kita bertemu dan aku jadi seperti ini, berarti kau memang orang spesial kan?"
"Aku juga bingung. Mereka terus mengataiku "Saint Hime". Dan itu terjadi ketika—"
Wajahku tiba-tiba berubah menjadi horor ketika selintas otakku mengingat satu peristiwa sebelum kejadian anehku dimulai.
"Aku bertemu dengan Motonari dan bersalaman dengannya."
—oOo—
"Masamune-sama! Anda sadar!"
"Ngh, aku dimana?"
"Di rumah Itsuki-chan. Tadi anda pingsan di trotoar dan Tsuruhime ikutan pingsan saat memegang kening anda."
Aku terbangun dan mendongakkan kepalaku, rasanya berat untuk diangkat. Seruan seseorang yang berisik membuatku penasaran untuk menyaksikannya langsung.
"Tadi aku kaget waktu kudengar Kojuurou mengatakan kau pingsan. Syukurlah kau baik-baik saja, Tsuruhime," tegur Motonari di sebelahku.
"Nghh, aku tidur berapa jam?" tanyaku dengan masih malas untuk bangun.
"Jam 7 malam."
"Hyaa!" aku histeris sambil langsung berdiri tegap—hingga semua orang disana melengokku langsung.
"Mau pulang, huh?" ucap Masamune kecil dengan nada lemas sambil memaksakan senyum. Aku mengangguk.
"Aku bakal dihabisi kakakku jika aku pulang telat! Masamune, Motonari, Kojuurou-sensei, dan Itsuki, aku pamit pulang dulu ya!" aku berlari cepat keluar dari kamar lalu saat berdiri di bibir pintu, aku membungkuk. Sempat-sempat aku melirik Masamune, dan ia balas melirikku dengan senyuman penuh arti.
"Mau aku antar?" tawar Kojuurou-sensei ramah.
"Tidak. Rumahku dekat sini saja. Masamune butuh diurus sekarang. Terima kasih atas tawarannya," kataku sopan. "Saya pamit dulu."
"Hati-hati, putri," suara Masamune menggetarkan gendang telingaku.
"Tsuruhime, aku ikut!" Motonari ikut juga berlari menuju ke arahku saat aku sudah memegang gagang pintu untuk membuka pintu rumah tersebut.
—oOo—
"Jadi sampai disini?" tanya Motonari ketika kami sampai di depan rumahku.
"Ya. Terima kasih mengajakku jalan-jalan, walau tadi sempat tidak jadi," kataku agak sedih. Sepanjang perjalanan aku terus melamun tentang kejadian aku dan Masamune di alam mimpi tadi.
Masamune memandangku terus ketika mendengar lirihan dugaanku barusan. Ia berdiri, lalu mengambil katananya dan menggores udara dengan benda tajam tersebut. Sebuah robekan dengan di dalamnya hanya berupa hitam tanpa dasar.
"Motonari ya," katanya kecil. "I wonder who is him. Tindakannya kemarin memang patut dicurigai. Terutama waktu dia ingin duduk bersamamu."
"Chousokabe Motochika tau dia kan?" ujarku memberi solusi. "Bagaimana jika kita bertanya padanya?"
"Hell yeah."
"Tapi..."
"Hmm?"
"Aku bingung. Kau tahu cara menggunakan senjatamu, dan kau baru saja merobek jalan seperti menuju dimensi lain. Tahu darimana?"
"...Hewan itu membimbingku dari alam bawah sadarku. Dia memberitahuku, menggerakkan tanganku, dan mengajarkanku untuk bertarung secara tiba-tiba," kata Masamune santai lalu menaikkan kedua bahunya ke atas.
"Ular naga itu?"
"Ya, mungkin. Dan ada satu kalimat yang terus menghantuiku sejak ular naga itu muncul."
Aku melebarkan mataku saat ia mengatakan kalimat terakhirnya ketika ia sempat menarikku terjun ke dalam sobekan tersebut.
"Tolong lindungi Saint Hime dengan sepenuh kekuatanmu."
Kurogoh kantong tas selempangku dan mengelus sebuah kartu yang kudapat saat di mimpi Masamune tadi diam-diam.
"Kissing me, Saint Princess."
'Ternyata mimpi itu bukanlah mimpi sembarangan,' kataku dalam hati. 'Dan sekarang, aku harus mengumpulkan informasi dari Motonari. Tapi, bagaimana caranya agar dia tidak curiga?'
"Tsuruhime?"
"Oh—ah!?" sentak aku terbangun dari lamunanku ketika suara Motonari mengagetkanku. "I—iya! Terima kasih sudah mengantarku pulang Motonari!"
"Ya, mungkin kita bisa kencan lain kali."
"Ha?" otakku lemot beberapa saat mendengar kalimat terakhirnya, sampai 6 menit kemudian aku berteriak keras ketika Motonari berlalu dan meninggalkanku sendiri tentu karena juga ingin pulang. Sinar rembulan malam memantulkan cahayanya merembes pada wajahku yang merah padam.
"KENCAAAN!?"
Runa: "HAH!? KENCAN!? ASTAGA MOTO-CHAN!"
Motonari: *bejek author*
"Sumpah gua jadi OOC disini. Author, kenapa aku yang jadi korban pemerkosaanmu!?"
Tsuruhime: "Ne, sepertinya kata 'pemerkosaan' harus dikoreksi, Motonari-kun."
Masamune: "Well, setidaknya gue sedikit 'berperan' lah."
All (Runa, Motonari, Tsuruhime): "Hah? Sedikit?"
Kojuurou: "Sepertinya bukan sedikit, Masamune-sama. Lihat judul chapternya saja sudah terlihat itu bagian anda semua." *terbatuk kecil sambil mengoreksi*
Masamune: "Iya tau aku. Next time make me cool, author!"
Runa: "..." *masih dibejek*
Kojuurou: "Ah aku mengerti Author-dono." *sweatdrop*
"Terima kasih sudah membaca fanfic ini. Saya mewakili semuanya, sangat tersanjung atas berkat kalian yang menyempatkan diri membaca fanfic ini."
Masamune: "Don't be silent reader! If you read this story and suka(?) cerita ini, silakan review dengan ketik REG spasi—"
Kojuurou: *membungkuk sambil mementung kepala Masamune dengan negi*
