Ok, kali ini, route baru akan muncul... Dan semuanya akan kembali ke 2 tahun yang lalu. Jadi, jangan heran ya XD
CHAPTER 5 - MEETINGS IN THE PAST
Shintaro's POV
Cahaya matahari pagi masuk melewati jendela rumahku yang setengah terbuka. Terdengar suara burung-burung yang mulai berciut di atas jendela rumah. Angin sepoi-sepoi juga terasa di wajahku dari jendela tersebut. Aku membuka mataku dengan sangat pelan. Terlihat langit-langit kamarku masih berwarna sama seperti dulu. Aku membangunkan diriku sendiri dan mulai menguap ngantuk. Aku melihat jam di dinding, menunjukkan pukul 10 pagi.
'Aku sudah tertidur berapa lama ya? Aku rasa aku bermimpi aneh... Tapi, tunggu- Kurasa itu bukan mimpi, tapi...'
Sejenak, mataku melebar mengingat sesuatu. Aku segera mengambil HPku yang ada di atas meja kecil di samping tempat tidurku. Aku melihat jam dan hari dengan teliti.
'Ini... Masih jam 10.07 pagi... Dan, tanggal 14 Agustus 2 tahun lalu!?'
Aku menelan ludahku dan mataku masih menatap lekat tulisan di layar HPku itu. Untuk membuktikan bahwa ini benar-benar 2 tahun lalu, aku menyalakan komputer yang ada di dekatku. Setelah benar-benar menyala, aku mencoba memeriksa semua folder dan sebagainya di dalamnya.
... Tidak ada Ene disana...
Jadi, apa benar ini 2 tahun yang lalu!?
*Knock Knock*
Aku segera menengok ke sumber bunyi itu berasal, yaitu pintu. Entah siapa yang mengetok pintu, aku segera berlari menuju pintu itu, walau sekarang aku terlihat sangat berantakan dan masih memakai piyama.
Dengan segera, aku membuka pintu itu.
Namun, orang yang berada di depanku sekarang ini, bukanlah orang yang awalnya kupikirkan. Tadi, aku berpikir kalau Momo ataupun ibu lah yang mengetok pintu itu, karena merekalah satu-satunya yang tinggal di rumah ini.
Di depanku ini...
Naisha.
Aku tercengang sekaligus heran melihat dia. Kenapa dia ada disini!?
Takut jika Naisha dilihat oleh Momo atau ibu, aku menarik tangan Naisha dengan refleks ke dalam kamarku. Aku dan dia pun terjatuh ke lantai karena aku menarik dia terlalu keras.
Kami berdua, entah kenapa terasa lelah, dan mengambil nafas berkali-kali, bahkan satu kamar ini yang terdengar hanyalah suara nafas kami.
Bereaksi pertama kalinya, aku memegang pundak Naisha sambil bertanya, "Kenapa kau bisa ada disini!?"
Naisha menghela nafas lalu melepaskan tangan Shintaro dari pundaknya dengan pelan, lalu menjawab, "Aku juga tidak tahu. Saat terbangun, tiba-tiba aku ada di rumahmu... Lalu, Noel juga tidak ada bersamaku... Aku tidak tahu dimana dia."
"Ja-Jadi-"
*knock knock* "Onii-chan! Sudah siang! Ayo cepat mandi!"
Terdengar suara Momo dari luar pintu kamarku, sambil menyuruhku untuk mandi. Mendengarnya, aku langsung panik dan melihat Naisha. Bisa gawat kalau bersama Naisha; aku bisa dikira yang aneh-aneh, kalau tiba-tiba Momo membuka pintu dan tahu ada perempuan berumur 4 tahun dibawahku ada di kamarku.
Aku segera berbisik-bisik sambil setengah berteriak ke arah Naisha dengan panik. "Oi! Sembunyi!"
Naisha memiringkan kepalanya. "Eh, kenapa?"
"Dia tidak mengenalmu waktu tahun ini! Cepat sembunyi!"
"Onii-chan...?" Momo mulai membuka pintunya dengan pelan, heran kenapa aku tidak menjawab panggilannya.
'Gawat!', pikirku yang sudah mulai berkeringat banyak.
Namun, saat melihatku, Momo hanya tersenyum kecil dan berkata, "Apa yang onii-chan lakukan? Sudah siang lho. Ayo mandi."
Aku terdiam menatap kata-kata dan ekspresinya. 'Ini... Hari dimana Momo masih mengagumiku...'
Tunggu.
Aku menengok ke kiri dan kananku, bingung kenapa Momo tidak menyadari Naisha. Tapi... Naisha sudah tidak ada di sampingku lagi.
'Dimana dia!?'
"Onii-chan?"
Aku segera menatap Momo kembali, "A-Ah! I-Iya! Aku akan mandi."
Momo pun mengangguk kecil dengan sedikit bingung, lalu ia menutup pintu dan pergi dari kamarku.
Aku menghela nafas. 'Haaah... Sekarang, ada dimana dia?'
"Hm, dia mengagetkanku saja."
Tiba-tiba, terdengar suara Naisha kembali di sampingku. Aku sedikit meloncat karena sangat terkejut.
Aku bertanya dengan wajah pucat dan menunjuknya dengan jari telunjukku. "Ta-Tadi... Kau menghilang 'kan...? Kok bisa? Kau bukan Kido 'kan...?"
Naisha menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tentu bukanlah... Kau lupa kalau aku punya 'Moving Eyes'? Aku tadi memakainya dan berpindah sebentar ke tempat lain. Yah, saat aku coba memakainya, ternyata mudah caranya. Tinggal membayangkan tempat yang ingin dituju."
"Ooh..." Aku mengangguk kecil. Aku pun melihat kembali ke arah pintu. Kemudian, aku membuka lemari pakaianku. "Aku akan mandi dulu...", lanjutku.
Naisha mengangguk mengerti. Setelah itu, aku keluar dari kamar tersebut menuju kamar mandi.
Aku membuka kembali pintu kamarku. Terlihat Naisha sedang berkeliling kamarku dan melihat-lihat, bahkan ia juga memeriksa bawah tempat tidurku...
"Oi, kau ngapain?", tanyaku.
Dia terkejut dan menengok ke arahku sambil tersenyum kecil, lalu menjawabku dengan ragu-ragu. "Memeriksa apa ada majalah porn-"
Aku langsung segera menarik dia menjauhi tempat tidurku (karena sebenarnya aku punya majalah porno di bawah tempat tidurku), lalu membalasnya dengan sedikit tersenyum palsu. "Ti-Tidak ada apa-apa disana!" Aku mengalihkan pembicaraan. "Ngomong-ngomong, apa rencanamu agar Ayano tetap hidup...? Ini masih sehari sebelum kematiannya..." Beberapa detik kemudain, aku menyadari kata-kataku dan membelalakkan mataku sendiri mendengar kata 'Ayano' yang keluar dari mulutku. Lalu aku menunduk sedih.
Naisha menghela nafas setelah melihatku yang sedih, dan berkata, "Hmm... Kalau begitu ini juga sehari sebelum kematian Takane dan Haruka ya... Jadi ada 3 orang yang harus diselamatkan... Hmm..."
Aku memiringkan kepalaku dengan heran. "Eh...? 3 orang? Maksudmu... Takane dan Haruka juga!?"
Naisha menoleh ke arahku dan menganggukkan kepalanya. "Ya, sebenarnya, Ene adalah Takane... Dan Konoha adalah Haruka. Ah, tapi kau belum bertemu Konoha ya..."
Aku tercengang mendengarnya. 'Haruka... dan Takane... juga? Dan, Takane itu Ene!?'
"Yang benar saja...", ucapku dengan masih sedikit tidak percaya.
Naisha tersenyum kecil dan menjawabku dengan suara yang samar-samar, "Ya... Tapi kalau kau tidak percaya, tidak apa-apa sih."
Aku terdiam sebentar. Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti apa yang terjadi...
"... Lalu, apa rencanamu?"
Naisha menaruh tangannya di bawah dagunya. "Hmm... Begini, lebih baik yakinkan Ayano untuk tidak meloncat dari gedung besok. Kau bisa melakukannya dengan berbagai cara. Kau coba hari ini juga gak apa-apa. Hmm, rencana kedua..."
Naisha berhenti sebentar lalu menjelaskan lagi, "Kalau tentang Takane dan Haruka, lebih baik kau juga menemui mereka dan mencari alasan agar mereka keluar dari sekolah itu besok... Soalnya berada di sekolah itu berbahaya bagi mereka."
Aku menelan ludahku, merasa kalau ini adalah rencana yang tidak boleh gagal kulakukan. Keringat mulai muncul dari pelipisku, namun aku mengangguk, juga untuk menghafal rencana tersebut."Baiklah."
Beberapa saat, Naisha menatapku tajam. Kenapa dia?
Setelah menatapku, akhirnya dia bertanya, "Eem.. Sekarang masih libur musim panas makanya kamu tidak masuk sekolah ya?"
Aku mengangguk. Ia pun bertanya lagi, "Ooh. Kau tidak ada apa-apa 'kan? Mau menemui Marry?"
"Marry?"
"Iya, aku akan mendiskusikan rencanaku padanya. Ah, tapi dia masih tinggal di hutan atau sudah ke Mekakushi Dan ya? Hmm," Naisha berpikir lagi, sementara aku masih terdiam karena aku memang sama sekali tidak tahu tentang Marry pada tahun ini.
Sambil berpikir seperti itu, Naisha menepuk tangannya sekali dengan wajah yang terlihat seperti mendapatkan ide. "Bagaimana kalau kita memeriksa keduanya?"
Mendengarnya, aku langsung merasa lelah, dan ekspresi wajahku berubah menjadi dingin karena menganggapnya hal yang menyusahkan, "... Setidaknya tentukan satu yang paling mungkin..."
Naisha mempertimbangkan kata-kataku, lalu ia membalasku, "Kalau begitu, gimana kalau ke markas Mekakushi Dan dulu? Aku rasa kemarin Marry bilang kalau dia sudah ada di Mekakushi Dan."
"Hm. Begitu ya." Aku segera mengambil jersey merahku di gantungan baju dekat lemari pakaian, dan memakainya dengan cepat. Naisha hanya diam melihatku yang sedang bersiap-siap. Setelah selesai, aku segera berjalan ke depan pintu dan menoleh ke Naisha. "Ayo. Ini demi Ayano, Takane, dan Haruka."
Mendengarku, Naisha mulai tersenyum lebar, dan wajahnya berkilau karena aura kesenangan yang berasal dari ekspresinya.
"Ya! Ayo!"
Noel's POV
Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, masih duduk di atas kasur. Sekarang aku sedang berada di kamar yang tidak kukenal. Kamar ini seperti kamar perempuan, dan agak luas. 'Ini kamar siapa ya?', pikirku.
"Ah, anu..."
Aku mendengar suara seorang gadis. Aku menengok ke arahnya. Seorang gadis berambut panjang dan putih dengan memakai dress berwarna biru dan apron berwarna putih di depannya juga ada renda-renda di sekitar dress tersebut, sedang duduk di atas kursi yang berada di dekat kasurku.
"... Marry?"
Marry sedikit terkejut mendengarku, namun dia mengabaikannya dan membalasku dengan nada yang gembira, "Ka-Kamu mengingatku!?"
Aku mengangguk. Tentu saja aku mengingat dia kan? Kita 'kan baru satu hari bertemu... Aku tidak mungkin langsung segera lupa...
"U-Um..!" Marry menoleh ke kiri dan kanan dengan sangat cepat dan panik.
"Kenapa?", tanyaku sambil tersenyum kecil.
Marry menatapku dan membalas, masih dengan panik. "To-Tolong jangan keluar dari kamar ini...!"
Aku memiringkan kepalaku. "Kenapa...?"
Namun, sebelum Marry dapat menjawabku, aku merasa ada yang ganjal dari mataku. Aku mengucek-ngucek mataku karena rasanya semakin perih. Lalu aku menatap Marry kembali. Rasanya, tiba-tiba informasi yang terjadi kemarin masuk ke dalam kepalaku.
'Apa... Naisha melakukan perjanjian dengan Marry dan Shintaro!? Kenapa Naisha bisa mengetahui sesuatu tentang mereka?'
"E-Em, akan kujelaskan... Kebetulan kamu juga salah satu orang yang mengingat kita sebelum aku mengulang waktu-"
"Tunggu, aku sudah tahu apa yang terjadi."
"Eh?" Marry heran menatapku. Aku pun menjawab lagi, "Tadi tanpa sengaja aku menggunakan kekuatanku... Hmm, boleh aku membantumu?", tanyaku.
Mendengarnya, mata Marry berbinar-binar karena senang, lalu ia mendekatkan dirinya padaku. "Em! Terima kasih, Noel-san...!"
Aku tersenyum padanya lalu mengelus rambutnya yang terlihat halus itu.
Kemudian, terdengarlah suara lelaki yang memanggil Marry sambil mengetok pintu kamar.
*knock knock* "Marry, kau sudah bangun?"
Mendengarnya, Marry langsung panik dan berlari bolak-balik karena bingung harus menjawab apa. 'Kenapa Marry panik begitu..? Kalau gak salah, itu suara Seto 'kan?'
Sambil berlari, sementara aku hanya melihatnya yang sedang panik, tiba-tiba dia terpeleset dan jatuh. Entah bagaimana caranya dia bisa terjatuh tanpa tersandung apapun...
Aku segera berdiri dari kasurnya, lalu mengulurkan tangan padanya dengan tersenyum. Ia menerima uluran tanganku lalu aku mengangkatnya untuk membantunya berdiri.
Namun, mendengar suara Marry terpeleset, Seto mulai khawatir dan berteriak dari depan pintu kamar, "M-Marry!? Kamu tidak apa-apa!?"
Mendengar suara Seto yang cemas, Marry segera menjawab, "T-Tidak apa-apa, Seto...! Nanti aku akan keluar!"
Mendengar jawaban Marry yang membuatnya merasa sedikit lebih baik dari kekhawatirannya, Seto membalasnya dengan tenang, "Baiklah. Segera ke ruang makan ya."
"Hai!"
Setelah itu, aku mendengar langkah kaki Seto yang semakin menjauh dan pergi.
Marry menghela nafas sesudah Seto melangkah pergi, sedangkan aku hanya heran melihat Marry.
Aku membungkukkan badanku dan bertanya, "Sepertinya kamu tidak mau Seto mengetahuiku disini...? Bagaimana kalau aku pergi darisini biar gak merepotkan?"
Marry mendongakkan kepalanya setelah sekilas mendengarku. Wajahnya, melihatku dengan pandangan yang seperti mengatakan 'tidak!', lalu ia membalasku, "Tidak! Nanti Noel-san tidur dimana? Tidak apa-apa kok! Tidak merepotkan!"
Aku menatap wajah Marry yang masih memasang ekspresi yang sama. 'Bagaimanapun, aku merasa gak enak kalau numpang sembarangan...'
"Tapi..."
"To-Tolonglah...!"
"..."
Wajah Marry semakin memelas melihatku. Aku yang melihatnya, merasa tidak tahan dengan wajah 'puppy eyes' yang ia tunjukkan itu.
"Baik, baik. Aku akan tinggal disini," jawabku sambil mengangkat tanganku dengan tersenyum kecil, menyerah kalah.
"Ya...!", balas Marry yang tersenyum melihatku. "Ah, aku keluar dulu ya! Aku tidak ingin Seto, Kano, dan Kido khawatir," lanjutnya.
Aku mengangguk kecil sambil tersenyum, lalu ia pergi keluar dari kamar tersebut.
*cklek*
Aku menoleh ke suara itu berasal, lalu menemukan Marry yang sedang mengunci pintu kamarnya dari dalam. Aku, yang sedang membaca beberapa buku disini, segera mengalihkan perhatianku dari buku ke Marry. Setelah selesai mengunci pintu, Marry membawakan makanan yang dia bawa menuju ke arahku, lalu berkata, "Makanlah." Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Aku pun mulai memakan makanan itu. Makanan itu berupa sup dan segelas susu. 'Rasanya enak...'
Sambil masih menyendok sup itu, aku bertanya pada Marry, "Jadi... Bagaimana rencana si Naisha?"
Marry menaruh tangannya di dagu dan berpikir keras sambil memejamkan matanya. "Hmm... Ah! Kertas yang waktu itu!" Sambil berteriak kata 'kertas', Marry segera memasukkan tangannya ke kantong bajunya (dress-nya) dan mengeluarkan selembar kertas kecil dengan tulisan yang sama dengan Naisha. Aku dan Marry membacanya. Dan, satu hal yang dapat kusimpulkan, 'Kenapa Naisha bisa tahu ini semua!?'
"Marry..."
"Hm?"
"Apa kau mau bertemu Naisha dan Shintaro untuk membahas masalah ini?" Aku bertanya sambil menengok ke arahnya dengan serius.
Mendengarnya, Marry menjawab, "Benar juga... Seto akan curiga kalau aku tiba-tiba pergi keluar... Kebetulan Kano dan Kido sedang pergi belanja. Dan, sekarang sedang ada Danchou-san- Um, maksudku bukan Kido, tapi Ayano-san disini... Ini juga pertama kalinya aku melihatnya, jadi aku merasa sungkan untuk keluar."
"Benar juga...", jawabku samar-samar.
'Memang benar kata Marry. Mereka akan curiga. Apa yang harus kulakukan? Memakai kekuatan mataku? Tapi aku belum terlalu mengerti cara memakainya... Kekuatan ini tiba-tiba muncul dengan sendirinya... Ah, benar juga.'
"Marry," panggilku.
Marry menengok ke arahku. "Ya?"
"... Bagaimana cara mengendalikan kekuatan mata?", tanyaku.
Mendengarnya, Marry mulai kebingungan dan berpikir kembali dengan keras. "Hmm... Beda-beda. Tergantung kekuatan matanya sepertinya."
'Beda-beda ya. Ini kayaknya tidak membantu sama sekali.' Aku menghela nafas.
Naisha's POV
Aku dan Shintaro sudah sampai di depan markas Mekakushi Dan, dengan pintunya yang bertuliskan '107' pada sebuah apartemen. Aku yakin tempat ini adalah markas mereka... Ternyata kalau dilihat dari luar, apartemen ini masih tetap sama.
'Eh, tunggu. Memangnya mereka sudah tinggal disini ya!? Kenapa aku tidak mengingatnya daritadi!?' Aku mulai tersadar, kalau menurut animenya, mereka baru tinggal di apartemen saat Ayano 'meninggal'...
"Ada apa?", tanya Shintaro yang mulai heran.
Aku menoleh ke arah Shintaro dengan wajah pucat. "A-Aku lupa kalau di tahun ini, mereka belum tinggal di tempat ini..."
Shintaro terkejut lalu berteriak, "A-Apa!? Te-terus mereka- Maksudku Marry ada dimana!?"
Aku memegang kepalaku dengan panik dan berteriak juga, "Aku gak tau!"
*cklek*
Kami menengok ke arah pintu '107' itu. Disana, berdirilah Seto di depan pintu tersebut. Kami terdiam melihatnya. Melihat kami yang tidak bergerak sama sekali maupun berbicara, dia tersenyum kecil dan berkata, "Ada yang bisa kubantu?"
Aku dan Shintaro menatap diri masing-masing dengan kebingungan mencari alasan.
"Kousuke? Ada siapa?" Sementara itu, tiba-tiba perempuan berambut coklat dan bersyal merah, keluar dari belakang Seto. Setelah perempuan itu menatap kami berdua, ia terkejut.
"Shi-Shintaro-kun!?"
Shintaro sedikit terkejut melihat Ayano. Dia pasti tercengang dapat melihat Ayano hidup kembali... Sudah lama dia tidak melihat Ayano. Selama 2 tahun. Dan kini ia kembali di depannya. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Shintaro. Yang pasti, Shintaro merasa sedih bercampur rasa gembira jika dilihat dari ekspresi wajahnya.
Melihat kami berdua yang terdiam, Ayano melirik ke arahku dan bertanya sambil tersenyum, "Eem.. Kamu siapa ya?" Setelah mengatakannya, ia sekilas melihat Shintaro lagi, lalu kembali melihatku. "Ah, teman Shintaro-kun...?", tanya Ayano yang tidak yakin.
Aku menjawabnya dengan agak ragu-ragu dan terdapat sedikit tanda tanya di ucapanku, "Umm... Iya...?"
Shintaro menegaskan lagi kata-kataku, "Ya, dia temanku."
Mendengarnya, Ayano -bahkan aku juga- terkejut. Bagaimana kami bisa tidak terkejut? Biasanya, Shintaro adalah tipe orang yang tidak pernah berkata 'teman' seumur hidupnya. Yah, walau di dua tahun ke depan, saat dia bertemu Mekakushi Dan, ia baru bisa mengatakan 'mempunyai teman'.
Aku sedikit menggelengkan kepalaku untuk menghilangkan pikiran yang tidak terlalu berguna pada sekarang ini. Aku harus fokus pada keberadaan Marry sekarang.
Sambil berpikir seperti itu, aku berbisik pada telinga Shintaro dengan berjinjit agar dapat menggapai telinganya. Shintaro yang menyadarinya, segera sedikit membungkukkan badannya sekitar 10 cm agar aku dapat mudah berbisik padanya.
"Shintaro... Jangan lupa tanyakan keberadaan Marry...", bisikku.
Shintaro mengerutkan alisnya sedikit dan menjawab dengan volume suara yang kecil pula, "Kenapa bukan kamu saja? Mereka pasti bingung kalau aku tau tentang Marry. Bahkan sepertinya Ayano sudah curiga kalau aku bisa berkata 'mempunyai teman'."
Mendengar balasan Shintaro yang masuk akal bagiku, aku juga ikut mengerutkan alisku dan keringat mulai berjatuhan. "Benar juga... Bagaimana ya... Hmm."
Curiga pada tingkah laku kami yang aneh, Ayano dan Seto menatap kami dengan wajah yang kebingungan. Seto tetap diam, sementara Ayano mulai bertanya pada kami, "Kalian kenapa?"
Kami berdua segera menengok ke Ayano setelah mendengar pertanyaannya. Dengan panik, kami membalas Ayano dengan kata-kata yang tidak jelas.
"Ah, emm.. Anu... Etto..."
"Eh, emm, Ayano... Gimana ya?"
Aku menyenggol lengan Shintaro sambil melirik ke arahnya dan berbisik, "Hei, kau saja yang bilang."
Shintaro juga mengerutkan alisnya dan membalasnya, "... Sudah kubilang 'kan? Kalau Ayano akan curiga!"
Ayano dan Seto semakin bingung dengan kami. Lalu, Seto yang daritadi terdiam itu, berganti bertanya, "Ada apa?"
Mendengar pertanyaan mereka untuk kedua kalinya, akhirnya akulah yang bertanya agar kami tidak saling menyuruh sampai akhir.
"Emm... Apa ada Marry disini?", tanyaku dengan sedikit gugup.
Mendengar kata 'Marry', Seto terkejut, sementara Ayano masih menatap mereka dengan rasa penasaran.
"Kenapa kalian ingin mencarinya?", tanya Seto sekali lagi.
Nah, inilah pertanyaan yang paling susah untuk kujawab sekarang ini. Pakai alasan apa? Langsung jawab seperti: 'aku adalah temannya~' dengan gaya bahasanya Kano, atau mencari alasan lain? Ah, tapi sudahlah, cuma itu satu-satunya alasan yang terpikir di kepalaku sekarang.
"Ka-Karena kami mau berbicara hal yang penting dengannya...? Dan dia adalah teman kami...", ucapku samar-samar namun masih dapat didengar.
Mendengarnya, Seto sedikit bingung dan membutuhkan waktu agar dapat memproses perkataanku.
Laulu, dia segera tersadar dan berkata, "Eh...? Umm, sebentar ya.. Biar kupanggilkan." Setelah itu, Seto kembali ke ruangan tersebut dan memanggil Marry.
Sementara, Ayano masih bengong menatap kami. Entah sampai berapa lama dia bingung... Tapi, dia segera bertanya dengan suara kecil, "... Biasanya kamu tidak langsung mengakui seseorang sebagai 'teman' kan? Kenapa tiba-tiba...? Ah, aku tidak bermaksud buruk kok, Shintaro-kun!" Ayano menggoyangkan kedua tangannya di depannya, takut membuat Shintaro maupun aku tersinggung.
Shintaro menggarukkan kepalanya yang tidak terasa gatal. "Gak apa-apa... Yah, gimana ya?"
"Ini Marry." Seto menggandeng tangan Marry di belakang Ayano lalu Marry bersembunyi di belakang Seto. Tapi, setelah ia melihat aku dan Shintaro, wajahnya berubah menjadi senang.
"Shintaro-san! Naisha-san-" Marry kelepasan memanggil nama kami, lalu setelah sadar, ia menutup mulutnya dengan panik.
'Ketahuan...', pikirku.
"Eh, Marry? Kau mengenal mereka?", tanya Seto.
Namun, sebelum Marry dapat menjawabnya, terdengar suara yang menyela pembicaraan mereka, "Marry!" Kami semua menengok ke arah sumber suara tersebut. Disana, terlihat Noel yang berlari ke arah kami.
Noel melewati Ayano dan Seto, lalu ia menarik tanganku dan Marry.
"Ayo pergi!", teriak Noel.
"E-Eh...!?"
"Noel!?"
Kami tertarik oleh tangan Noel, lalu mengikuti dia di sampingnya.
"O-Oi!" Shintaro yang tidak sempat ditarik Noel, mengucapkan selamat tinggal pada Ayano dengan gugup dan berlari mengikuti mereka dari belakang.
Seto dan Ayano hanya terdiam melihat keadaan aneh yang terjadi tadi. Mereka melirik ke arah masing-masing, dan berkata bersamaan, "... Apa yang terjadi...?"
"Encounters are produced through coincidences."
-Seto
Author's Note : aku gak yakin ini akan mengikuti animenya atau tidak... Tapi sudahlah. Biar saja cerita ini berlalu XD
