Runa: "Walah ternyata ni fanfic masih laku juga. Ga nyangka, udah 9k+ di chapter 3, belum lagi nanti chapter 4. Aku meramalkan tamatnya itu... 3 + (6 x 2) + (4 x 2) + 5 mungkin..."
Motonari: "Thor, kenapa pake rumus matematika biasa? Sini aku rumusin ke aljabar atau trigonometri."
Runa: "Udah tau aku paling down sama dua pelajaran itu.
Paling aku bisa buat yang aljabar kayak gini:
7x = 28 ; atau x + 12 = 20 x 2 ; atau yang mudah-mudah lah~
Kalo trigonometri paling sin 90^28 buahahaha!"
Motonari: "Beh rumusnya mudah semua thor~ masa udah lulus bikin soal matematika kayak level SMP—" *ditimpuk Tsuruhime*
Tsuruhime: "Udah ah ngomong matematika! Nyesek tau! Udah tau kakakku si oppai gede itu yang ngajar matematika!
Bagus dong thor! Berarti kan kerja keras author ngetik sambil nutup telinga saat kakak author ngomel ada hasilnya?"
Runa: "Oh iya ya Magoichi-senpai(?)
... Sejak kapan juga aku nutup telinga?"
Tsuruhime: "Hehehe~" *nyengir*
"Untuk pembaca sekalian, ada yang ralat di chapter 3 waktu dialogku saat aku bangun tidur.
Harusnya, "Ngghh, sudah jam berapa ini?" , bukan "Nghh, aku tidur berapa jam?".
Mohon maaf atas ralatnya minna!"
*bungkuk-bungkuk*
Runa: *ikutan bungkuk lalu bangkit lagi*
Tsuruhime: "Author gak mau 'replace' chapternya?"
Runa: "Itu... Aku malas... Eh maksudnya biarkan saja biar jadi koleksi kesalahan gitu.
Baiklah, waktunya balas review dari... Dissa-CHAlovers dulu.
Aduh makasih udah puji (untuk kesekian kalinya) fanficku. Ah ngefly rasanya."
Tsuruhime: "Tumben thor lebai."
Runa: "Aku juga manusia, ya jelaslah bisa ngerasain gitu.
Soal mimpi ya, aku bingung antara Yukimura, Motochika, atau Motonari nih. Sueerrr binguuunnggg... Kita liat aja di chapter ini siapa yang kena. Ngikut cerita aja ya kita-kita ini."
Tsuruhime: "Masalahnya pembuat cerita itu kan AUTHOR SENDIRI!"
Runa: "I-iya sih." *mojok*
"Iya begitulah, Kojuu-chan itu -uhuk-babu-uhuk- setia Masmun.
Ahh aku tersipu dipanggil kakak~ Biasanya dipanggil 'mamak' sama author yang collab sama aku. Atau 'tante' sama temen RolePlay-ku di fb atau teman gambarku. Astaga aku berasa mudaa!"
Tsuruhime: "Padahal di dunia nyata jika gathering sama temen-temen author, biasanya jadi sasaran utama para pedobear."
Runa: "Bisa gak untuk tidak bongkar privasiku?" *mencak-mencak dg stay coolnya(?)*
"Ah baiklah. Selanjutnya untuk Honey Sho.
Bener! Azure Dragon sama Masamune tuh sama! Sama kayak Kahz sama dengan Motonari! Bayangkan waktu pertama aku main Devil King aku syok liat senjata Motonari kayak alat pembersih debu. Enak banget nampar-nampar orang waktu itu. Aku pake Tadakatsu lagi."
Motonari: "Gak usah curcol waktu main itu deh thor."
Runa: "Aku tuh nyesek banget main itu tau! Susaaaahhhh bangeeetttt daaahhh!
Lawan Azure Dragon pake Tadakatsu aja udah k.o.! Belum lagi Frost waktu itu ihhhh capek lawannya ngeri semuaaa!" *gegulingan*
"Padahal main yang heroes awalnya bisa pake medium untuk satu wilayah, ntar langsung ganti hard. Yang Devil kings bener-bener cuma bisa main yang easy.."
Masamune: "Sabar deh thor." *puk-puk author*
Runa: *elus-elus dada* "Hahh.. Bener. Gua musti sabar. Itu kan game yang kumainkan sekitar 6 tahun yang lalu juga.
Haha Masamune kini telah menggunakan peribahasa, "Naga juga manusia" jadinya dia memang pasrah banget waktu itu..."
Masamune: "Hahahahahaha... Kenapa author ndak buat aku sampai mati dengan kepala terpenggal, thor?" *ketawa maksa*
Runa: "... Plis jangan kayak gitu Masmun. Gua rela disakitin daripada digituin loh.
Nanti aku dimarahin Tsuruhime sama Kojuurou lagi."
Tsuruhime: "Nah kan dia aja kaget waktu Motonari bilang kencan."
Motonari: "AKU KAN CUMA NGIKUT SKENARIO! ASTAGA KALIAN INI, AKU TIDAK MUNGKIN JATUH CINTA PADA CEWEK!"
Runa: Be... berarti..."
Motonari: *lempar author ke langit dengan ring bladenya*
"Selanjutnya dari Meaaaa (kw2(?)). Author gak pernah seumur hidupnya sekolah sampe jam 5 pulang kecuali masuk siang. Sekolah SMP unggulan aja dulu cuma sampe jam 1.05..."
Tsuruhime: "Hee... Mungkin karena katanya sejak kurikulum 2013 dilaksanakan jadi padat kegiatan kan? Syukur author udah lulus tahun ini."
Runa: *balik lagi*
"Bener banget tuh. Tapi masih aja nyesek karena nilai UN-ku astaga naga..."
Motonari: *gamvar author*
"Udahlah thor! Tadi baru aja bilang 'jangan buka privasi'!
Tuh kan Masmun, berarti kau memang playboy."
Masamune: "Mentang-mentang banyak yang suka sama aku ya?" *narsis kumat*
"Ya sudahlah kalau tidak suka aku lagi. Masih banyak cewek-cewek yang klepek-klepek kalau aku elus dagunya kok."
Motonari: 'La elah sempat narsis ni orang. Padahal udah nyata-nyata kalah.'
*baca curhatan mea*
"Hah? Aku cewek? Wat the..."
Runa: "Aku juga dulu sempat hampir PHP karena ngira Motonari tu cewek. Soalnya di fanart website dulu Moto-chan dipairing sama Motochika kayak cewek! Sumpah deh. Moto-chan nge blush lah, nge tsundere lah, nge-"
Motonari: "DIIEEEEMMMMM!" *ngamuk*
All: *diem* /krik krikk!
Kenshin: *tiba-tiba datang lalu protes*
"Jelas-jelas aku cowok woi! Mentang-mentang aku hijabers yang selalu memegang amanat tuhan untuk menutup aurat lalu aja dikira cewek."
Motonari: "Lagian caramu salah sih. Udah tau cowok, tapi yang ditutup semuanya kayak cewek."
Runa: "Peran guru datang belakangan!" *seret Kenshin kembali ke habitatnya*
"Btw soal guru, ahh aku lupa Matsu itu murid! Maaf typoo lagi argghh!"
Masamune: "For the second time you doing the same mistakes? What the heck!?"
Runa: "Soalnya bedain Matsu sama Magoichi tuh susah sih dari segi sifat..." *mundung*
Motonari: "Yah sudahlah author. Lain kali, jangan ngetik waktu dua peristiwa itu datang aja. Satu waktu kakak bicara, dua waktu nyalain musik."
Runa: "Astaga ngerti aja kau Moto-chan~ Daisuki dayoo~~~" *lebarin tangan pengen peluk*
Motonari: "What the!? Thor, jangan kesambet fangirling kayak Mea-chan dong!"
Runa: "Tapi kalau ditahan, sakitnya tuh disini!" *buat love pake tangan*
"Aku juga sama kayak Meaaaa ga tau alasan kenapa jatuh cinta pada anda~
Tapi memang, waktu main game SB2 heroes pertama yang kupilih dirimu setelah Imagawa.
Dan aku terus pakai dirimu sampe max. Dan rekorku baru 24 chara yang max kurang dari 1 tahun. Ya, aku kan mainnya kadang bangun tengah malam atau main berdua bareng kakak di arena buat banyak uang + level, atau main level hard dengan habisin seluruh prajuritnya tanpa satupun yang hidup dimana satu chara saat udah nguasain Jepang udah level 60+.
Eh kok jadinya curhat gini?"
Motonari: 'Mea-chan, apa yang sudah kau lakukan pada authorku tercinta(?) yang dulu...'
"Argh aku lagi yang kena! Kalian berdua kenapa sih kompakan gitu nistai diriku!?"
Runa: "Karena kau pujaan kami selama-lama kami belum move on~" *nangis darah*
Motonari: 'Njiiiirrr authorku jadi lebai gini dah...'
Runa: "Kata mea dia mau nikahin kamu trus selingkuh sama papak Chika~"
Motonari: "Ah aku tidak repot kok. Malah senang." *kibas-kibas tangan*
Runa: "Trus melampiaskan kekesalan akibat kau PHP-in dia dengan fangirlingan juga nulis diari tentangmu. Trus nulis pairing dikau sama author meaa di fanfic sebelah."
Motonari: 'Mereka ni parah amat dah saking nge-fans sama aku...'
*sweatdrop*
Tsuruhime: "Hee mereka para fans Sengoku Basara bukannya merestui pasangan antara aku dan Motonari ya?" *gaet Motonari*
"Tuh kata auth mea di instagram banyak foto kami berdua."
Runa: 'Arghhh sekarang malah chara fanfic gue yang jadi rival cinta gue...'
"Ah aku merestui Motochika daripada Tsuruhime sebenarnya."
Tsuruhime: *syok dg bg halilintar menyambar*
Runa: "Hiks, aku tunggu cerita Dirgahayu itu! Aku, sangat memfavoritkan ceritanya karena sukses bikin aku ngakak.
Ara? Ah ya aku lupa. Silakan membaca fanfic ini ya minna-chan! Makasih untuk review sebelumnya!" *mengabaikan Tsuruhime yang hancur berkeping-keping*
—oOo—
Chapter 4 - Ayo Kumpulkan Informasi!
"Ohayou Tsuruhime-chan!" sapa lelaki rambut kepang panjang di bibir pintu kelas 3 - 1. Siapa lagi yang memiliki rambut panjang di kelasku selain,
"Maeda Keiji?" balasku balik. "Tumben menyapa. Biasanya nomor satu dalam hal mengejekku."
Kalimat tadi memang kugunakan dengan nada sinis. Sangat sinis. Pria brengsek yang memang selalu membuatku tidak segan menyodorkan ujung pisau tepat pada wajahnya, walau hal itu tak mungkin kulakukan karena ada dua faktor. Satu, aku terlalu polos. Dua, aku tidak mau ada yang meninggal satu orangpun di kelasku. Jadi bisa ditebak kenapa saat Masamune bilang akan mati, aku tiba-tiba menitikkan air mataku tanpa sengaja waktu itu.
"Ehe, aku udah dengar cerita tentang Masamune pingsan kemarin," timpal Keiji sambil melipat tangannya, menyenderkan tubuhnya pada tepi bibir pintu tersebut. "Jadi, hari ini dia masuk?"
"Mana kutahu," jawabku dengan nada malas.
"Tumben datang pagi, Tsuruhime," Keiji mengalihkan topik yang membuat aku ingin menjedukkan kepalaku sekarang di dinding tembok kelas sampai berdarah. Tapi sayang aku tidak boleh melakukannya, dan aku hanya bisa tersenyum miris menanggapinya.
"Biasanya aku juga bangun pagi kan?" balasku agak sedikit kesal.
"Ah hari ini Tsuruhime-chan agak moody dari biasanya! Kenapa? Karena kencan sama Motonari gagal ya?" tebak Keiji sekenanya, dan sukses membuatku masuk ke kelas dengan diam membisu sambil melangkahkan kakiku cepat. Bete.
"Yah malah marah. Padahal aku mau basa-basi karena hari ini pelajaran Matematika," Keiji mengangkat bahunya cepat lalu menurunkannya lagi, kemudian ikut masuk ke dalam kelas.
"Rindu sama Maria-sensei? Kukira setia dengan kakakku," celetukku. Keiji hanya diam tidak menyahut, lalu tertawa kecil dengan sendirinya layaknya orang gila di Rumah Sakit Jiwa (RSJ).
'Kenapa aku harus masuk pagi sekali? Mana betah aku berduaan dengannya di kelas selama 15 menit!?' kataku dalam hati dengan histeris, sambil mengandaikan aku meratapi nasibku dengan mencakar dinding kelas—layaknya kucing mencakar kayu untuk menajamkan kukunya.
—oOo—
"Hari ini adalah pelajaran tentang vektor. Jadi—"
Kuambil pulpen hitamku dan mencoret-coret sesuai tulisan di depan kelas dengan bengong.
"Tolong lindungi Saint Hime dengan sepenuh kekuatanmu."
'Kenapa aku jadi memikirkan ucapan terakhir Masamune?' keluhku dalam hati sambil terus mencoret.
"Tsuruhime, catatanmu salah," bisik Motonari disebelahku. "Catatan di depan papan tulis itu untuk soal yang akan kita kerjakan nanti!"
Kutengok buku tulis yang kupakai untuk mencoret tadi dengan wajah linglung.
'ASTAGAAAAAAA!' aku hanya bisa histeris dalam hati. Kupukul jidatku dan dengan frustasi aku mencarik kertas yang kucatat salah tadi dengan bengis. Teman sebangkuku cuma bisa diam dengan menyembunyikan wajah gelinya—memalingkan wajahnya dariku.
"Sepertinya penggantiku sudah datang. Anak-anak, jangan ribut selagi Ibu keluar ya!"
Seluruh penghuni kelas menghentikan kegiatan mencoret buku mengikuti coretan depan kelas, dan menatap tajam guru berambut putih dengan dua kunciran rambut itu menuju pintu keluar kelas.
"Astaga ganti guru lagi?" gerutu Yukimura.
"Dammit, padahal aku sudah suka sama Maria-sensei. Tidak ada guru yang mengajar seenak beliau!" protes Masamune lalu membalikkan badannya dan menghadap padaku. "Menurutmu, siapa yang akan jadi guru?"
"Entahlah," kataku seadanya. "Aku—"
"Masamune kok pura-pura bego sih?" potong Keiji dari bangku depan. Dia memang duduk di depan bangku Masamune, sekaligus depanku. "Sudah tahukan kalau—ufftt!"
"Jangan ceplas-ceplos, Keiji," Mitsunari membekap mulut Keiji.
"Ada apa sih? Terang-terangan gak papa kok," kataku santai dengan agak heran.
"Bukan masalah itu, Tsuruhime," kini Motonari ikutan bicara. "Masalahnya, guru kita kali ini katanya Gravure Idol terkenal. Tahu kan apa yang terjadi dengan nama sekolah kita, jika profesi gurunya saja begituan."
"Motonari-dono yang murid pindahan saja tau gosipnya," kemudian Yukimura ikutan memutar tubuhnya ke belakang sama seperti posisi Masamune. "Padahal tadi pagi kan heboh."
"Maafkan aku karena aku murid kurang eksis," jawabku dengan pesimis. "Jadi aku memang kurang tau berita 'hot' di kelas ini."
Sebal! Sebal! Aku pun memendam wajah amarahku dengan memalingkan wajahku menghadap keluar jendela kembali. Hanya itulah cara aku melarikan diri sekaligus meredakan temperamenku agar tidak membuka mulut—dimana kemudian aku akan mencaci-maki biadab jika tidak tahan baik kepada siapapun jika saja aku tidak melakukan hal itu.
"Tapi itulah yang menarik dari Tsuruhime, right?" Masamune memiringkan kepalanya ke kanan, membaringkan kepalanya pada mejaku sambil menatapku tajam dengan mata biru indigonya. "Beautiful girl who not just pretty, but clever too..."
Ia memainkan rambut coklatku dengan jari telunjuk kanannya, memutar-mutar layaknya mainan sambil tersenyum.
"Ma—Masamune-dono!?" Yukimura yang kenal betul teman sebelahnya ini hanya bisa mangap. Ya iyalah! Siapa yang tidak kaget ketika pria populer yang dijuluki 'pangeran kelas' tiba-tiba menyentuh rambut seorang wanita!
Aku langsung mendorong tubuhku menyenderkan punggungku ke sanggahan kursi. Syok. Yah, itu yang bisa kukatakan pertama saat aku merasakan Masamune memang benar-benar menjadi 'lain' dari biasanya. Mana sifatnya yang dingin terhadap lawan jenis itu!?
"Jangan-jangan—"
"Ya," Masamune memotong kalimatku yang belum selesai kuutarakan. "Aku mencintaimu pada pandangan pertama sejak itu."
"APAA!?"
Serempak satu kelas langsung menatap kami berdua tajam ketika mendengar ucapan Masamune yang blak-blakan tadi. Terutama cewek seperti Matsu, Kasuga, Katsuie, dan Oichi—yang memang sekelompok membuat fans club 'Masamune Prince'.
"Prince kita, akhirnya..." Keiji mangap.
"Akhirnya nama 'playboy' dan 'yaoi' akan sirna dari dirinya!" ungkap Sasuke.
"Apakah Tsuruhime akan menerima cintanya?" kini Sakon yang buka suara.
Aku menatap tajam Masamune langsung.
"Tunggu aku di atap sekolah sehabis istirahat."
"Siap, my lady."
GREEKK!
Pintu kelas pun bergeser. Kini, wanita berdada besar dengan rambut jingga menyala memakai seragam guru ketat masuk ke dalam kelas kami. Wajahnya begitu familiar—bukan, sangat kukenal.
"Mulai hari ini, saya akan mengajarkan kalian tentang Matematika," katanya simpel lalu melirikku sambil mengedipkan mata.
"KAKAAKK!?"
—oOo—
"Gyahaha! Kau lihat wajah Tsuruhime yang syok melihat kakaknya mengajar tadi?" Keiji mengolokku dengan sadis pada Mitsunari saat jam istirahat baru dimulai. Kakakku tentu sudah keluar kelas dengan tawa nista menemaninya diperjalanan dirinya menuju ruang guru.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?!" kataku kesal sambil memukul-mukul meja dengan keras seperti sang hakim yang memberi keputusan dengan palunya.
"Loh? Dia kan kakakmu? Tanya saja kenapa dia tidak memberitahumu kemarin," jawab Keiji sambil tertawa terpingkal-pingkal. Alhasil, sekali lagi aku menyembunyikan wajahku menunduk di atas meja dengan sebelumnya kusila kedua tanganku.
"Tsuruhime, kau baik-baik saja?" tegur Motonari sambil menepuk punggungku. "Ini ku belikan kopi. Kutaruh di atas mejamu."
"Baik mananya!? Aku dijadikan pusat perhatian terus!" kataku mewek, masih menundukkan kepalaku. "Disuruh maju ke depan lah, Masamune malah terang-terangan aneh gitu sama aku lah, ihh nyebelin!"
"Saya Saika Magoichi. Dipanggil Magoichi-senpai juga boleh, bahkan untuk adik tersayangku sendiri."
"Mungkin posisi Maria-sensei yang merupakan satu dari lima guru populer di akademi ini akan direbut kakak Tsuruhime-dono kali ya?" bisik Yukimura sambil menatap teliti kakakku yang kini menjadi pusat perhatian seluruh murid di kelas ini—18 murid yang memang penghuni kelas 3 - 1.
"Magoichi-senpai, bagaimana kalau duet nyanyi sama Tsuruhime?" pinta Motochika aneh. Semua anak-anak bersorak setuju kecuali aku, Motonari, Mitsunari, Kotarou, dan Masamune tentunya.
"Boleh! Boleh!" kakakku ikutan setuju.
"Tapi bolehkah aku mendampingi adik Magoichi-senpai untuk bernyanyi bersama?" mohon Masamune lalu ia berdiri sambil melipat tangan dengan kerennya. Semua murid cewek mimisan seketika, termasuk aku. Bahkan ada juga murid cowok yang ikut mimisan, dan jika ditanya apa reaksi ringannya tanggapan kami, mungkin cuma mangap.
"Tentu saja!" seru kakakku memperbolehkan. "Lagian karena hari ini hari pertama mengajar, kubebaskan materi pelajaran hari ini!"
"KAKAAAAKKKKK!" teriakku histeris. "JANGAN PAKAI NAMAKU!"
"Ternyata kau tidak suka aku ya?" tiba-tiba terdengar suara sahutan yang siapa lagi kalau bukan si pewaris keluarga Date, Date Masamune!
Aku mendongakkan kepalaku tanpa melengoknya menatap langit-langit kelas, apalagi menyahut. Dan kini rasanya aku ingin... mati...
"Katanya ingin bicara di atap kelas kan?" katanya lagi.
"Iya, iya. Motonari, aku minta kopinya ya?" kataku malas lalu mengambil kopi kalengan yang ada di depan mejaku sambil bangkit. Motonari terlihat melepas kacamatanya sambil meneguk susu coklat kotak dari sedotan yang ia hisap, lalu mengangguk pelan.
"Hati-hati Tsuruhime. Panggil aku jika dia macam-macam sama kamu ya?"
"... Tentu."
—oOo—
Kami berdua sampai di atap sekolah. Setelah melepaskan gaetan tangannya, Masamune langsung memegang kedua bahuku kuat sambil menatap tajam penuh amarah. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu membuka mulutnya dan,
"JANGAN SALAH PAHAM! INI RENCANA KITA UNTUK DAPAT INFORMASI DARI MOTONARI TANPA DICURIGAI TAU!"
"Ja—jadi begitu ya!?" jawabku terbata-bata. Pantas tiba-tiba dia bertingkah seakan baru dikasi ramuan cinta dan ramuannya bereaksi tak lama kemudian.
"Sialan, aku sampai salah tingkah dengan gayamu," tukasnya lalu menghela nafas nyaring. Ia melepas kedua tangannya yang sempat mencekeram bahuku dengan kuat, dengan pelan. "Kau hampir membuatku mati saking malunya, sh*t. Seharusnya aku memberitahumu kemarin. Tapi aku tidak punya nomor HP-mu, dan kedua mengira kau bakal sadar mengapa aku begitu!"
"Lagian pakai pendekatan sampai agresif gitu sih, aku kan syok."
"Sengaja biar Motonari had jealous to me, understand?"
"Tapi kenapa harus pura-pura mesra begitu? Aku tidak pandai soal cinta, bahkan suka pada seseorang saja aku belum pernah."
"Because I had feeling Motonari has falling in love to you," bilang Masamune dengan gaya detektifnya. "Motonari cemburu, dan kesempatan emas akan terlihat! Kita—atau kau lebih tepatnya, bisa mendesaknya agar dia bicara jujur apa yang sebenarnya terjadi. Asal kau dibilang... emm, aku lupa namanya..."
"Saint princess," koreksiku datar.
"Benar! Dan agar dia jujur dialah dalang dibalik segala ini! Come on, Tsuruhime, I'm great about be detective!" kata Masamune bangga.
Ember mana ember?
"Oh, gitu," kataku seadanya sambil memberikan senyuman masam.
"Sepertinya kau tidak tertarik ya?"
"Motonari terlalu cerdik. Dan sebenarnya yang kubilang kemarin targetnya itu Motochika."
Hening.
Masamune melipat tangannya sambil menghela nafas panjang setelah kami terdiam beberapa detik. Saking gugupnya kami bicara satu sama lain.
"Ya, iya juga ya. Motochika yang harusnya jadi target kita," Masamune seakan-akan termakan jebakannya sendiri. "Tch, aku habis ini harus bertarung dengan Yukimura untuk lari sampai warung ramen lebih dulu lagi. If I lose, I had to buying ramen for him. Dan uangku bisa menipis gegara membelikannya."
"Ah, begitu."
"Tsuruhime?"
"Ah kenapa?"
"Itu, mau kan nanti pulang bersamaku saat sepulang sekolah?"
"Eh?" aku kebingungan setengah mati ketika mendengar permintaannya yang dia ucapkan dengan nada halus.
"If you had busy, it's alright."
"Tentu aku ikut dong!" jawabku dengan nada semangat. Sebenarnya terpaksa sih, tapi paparan wajahnya dia seakan butuh aku sepulang sekolah ini.
Terdengar suara langkah memijak satu persatu anak tangga penghubung atap sekolah dan lorong lantai 4 gedung sekolah ini. Masamune mengisyaratkan agar aku agak menjauh darinya, tapi yang kulakukan hanya menjauh 3 langkah lebar darinya.
Krieett...
Pintu atap sekolah pun terbuka, membuat kami mempersiapkan kedua mata kami untuk melihat sosok yang menghampiri atap sekolah di waktu yang sangat salah. Kakinya pun terlihat, dan...
"Ah, benar. Masamune-dono ada disini!"
Kami berdua histeris serempak, "YUKIMURAAA! BIKIN KAGET TAU!"
Orang yang kami teriaki hanya mengorek-ngorek telinga kanannya dengan jari kelingkingnya. Polos banget ya.
"Love bird ya?" Masamune menggeleng mendengar pertanyaan Yukimura, diikuti denganku ikutan menggeleng sambil bilang, "Tidak.".
"Ada apa Yukimura?" Masamune kelihatannya jengkel melihat Yukimura yang diam dari tadi.
"Masamune-dono akan selalu bertarung bersamaku kan?"
"Hah?" kini Masamune bingung setengah mati mendengar ungkapan dari si polos pecinta cemilan makanan manis alias dango ini secara tiba-tiba. "Sure! Why not?"
"Sejak Masamune-dono bersama Tsuruhime-dono, Yukimura menjadi kesepian. Kita tidak bertarung siang ini," terang Yukimura dengan tatapan manja, membuatku harus memencet hidungku agar tidak mimisan atau aku akan tewas di tempat dengan darah dimana-mana. Yukimura menatapku kesal, lalu kembali menatap Masamune dengan manja.
Ah, mungkin aku menganggu hubungan mereka? Sampai-sampai dia memaparkan wajah cemberut hanya padaku? Kudengar, mereka berdua memang cukup akrab sejak kecil sampai sekarang. Mereka sekelas, satu sekolah, satu kota, dan satu jalan rumah.
"Huh, Yuki. Aku dan Tsuruhime cuma—"
"Pacaran?" tebak Yukimura sebelum Masamune menyukseskan kalimatnya. "Jadi tega sama aku sekarang?"
"Kau cemburu?" tanya Masamune menyerigai.
"T—tidak kok."
"Lalu?"
"Tidak apa kok. Aku kembali ke kelas dulu—"
GREP!
Masamune menahan tangan Yukimura dan mencekeramnya kuat. Wajah Masamune yang tadinya terpapar senyum kemenangan kini berubah menjadi wajah masam.
"Don't misunderstanding, Yukimura. Always, I'm always near you. Kita sudah ditakdirkan bersama sejak kecil."
Aku tentu menutup wajahku melihat adegan 'Boys Love' secara realita. "Tsuruhime, sang pengutuk BL", julukan itu memang sudah lekat dariku selagi kecil. Dan kini, pertama kalinya aku melihat adegan itu langsung.
"Masamune-dono, ja..."
Aku tidak tahan lagi! Dengan cepat aku pun berlari menuju pintu masuk ke gedung tanpa pamit, dan tidak mau menampakkan wajahku yang merah padam saking kesalnya.
"Ingat janji kita ya!"
—oOo—
"Tsuruhime, dari mana saja?" sapa pria berambut perak bergelombang dengan paras wajah layaknya wanita, Takenaka Hanbei. Ia bersama pria bertopi yang tidak pernah bersuara sekalipun dengan rambut jingga menyala terselip di antara dalam topinya, si Fuuma Kotarou.
Kotarou membuka buku sketsanya dan mengeluarkan spidol. Ditulisnya dalam kertas itu, 'Habis kencan sama Masamune ya?'.
Kotarou itu... orang yang pernah kusukai dulunya. Pria misterius yang pernah membantuku—atau lebih tepatnya membelaku—saat dibully oleh anak-anak kelas 3 - 2 belum lama ini, dan awal aku jatuh cinta padanya adalah sejak peristiwa itu terjadi. Saat valentine, aku pernah menulis surat dan menaruhnya diam-siam ke dalam loker pribadinya dimana aku memintanya bertemu di belakang gedung sekolah sore nanti. Kami memang bertemu saat itu. Namun, dia menolakku dengan alasan dia tidak bisa pacaran. Tidak bisa pacaran...
"Ti—tidak Kotarou! Aku hanya diskusi dan bareng Yukimura juga kok!" kataku dengan gugup. Ini ya, rasanya bicara langsung pada orang yang masih disukai? Walaupun masih ada rasa sakit yang kurasakan saat patah hati setelah kejadian itu—dan sempat aku selalu reflek menghindar darinya, tapi aku berusaha dapat berkomunikasi dengannya lebih baik.
"Hihi, Tsuruhime lucu ya," goda Hanbei sambil tertawa kecil. Kotarou pun mengangguk sambil mengeluarkan seulas senyumnya padaku.
"Ti—tidak ah! Kalian ini..."
Mitsunari tampak berjalan ingin masuk ke dalam kelas sebelum menemukanku bersama Hanbei dan Kotarou. Ia pun mendekati kami ketika menyadari bahwa kelompok orang-orang yang kini setengah menutupi lorong hubungan kelas 3 - 1 dan 3 - 2 adalah anak-anak sekelasnya.
"Tsuruhime, pinjam catatan matematika tadi dong," minta Mitsunari lalu berhenti berjalan ketika sudah sampai mendekati kami.
"Oh boleh, sebentar aku masuk dulu," aku mempercepat langkahku menuju pintu kelas untuk masuk—dan aku bersyukur karena tempat kami nangkring tadi tidak jauh dari kelas. Ku hampiri mejaku dan tidak menemukan Motonari disana.
"Aku penasaran kemana dia," kataku dalam hati. Ku tengok kolom mejaku dan mengambil buku tulis yang ada disana, dan saat itu aku bingung kenapa rasanya ada yang janggal dengan buku tulisku saat aku mengeluarkannya dari laci.
Kubuka lembar bukuku di bagian paling akhir. Bukuku terjatuh tanpa sengaja, dengan tubuhku yang merinding panas.
Cepat atau lambat aku akan membunuhmu, Saint Princess
—oOo—
"Oh jadi kau dapat pesan seperti itu?"
Aku hanya mengangguk dengan wajah sedih, sambil keluar dari pintu pagar Basara Academy bersama Masamune sesuai janjiku waktu di atap sekolah tadi.
"Kata Mitsunari, Yukimura sempat duduk di bangkuku meminjam buku matematikaku tanpa izin. Alasannya karena aku tidak ada di kelas, dan Yukimura malas mencariku," kataku lemah. Kuperbaiki tali tas ranselku yang mulai kendor akibat beban buku yang dibawanya mungkin cukup berat.
"I can't believe he's know you. Bagaimana dia bisa tahu kalau kau Saint Princess?" katanya dengan nada tinggi.
"Entahlah, Masamune. Aku, sepertinya menganggu hubungan kalian ya?"
Masamune mempercepat langkahnya berjalan duluan lalu memutar tubuhnya untuk bertatapan langsung denganku. Dia menatapku prihatin.
"Yukimura bukan orang yang seperti itu. Tapi, Yukimura memang orang yang cukup kesepian."
"Tapi dia—"
GREP!
Masamune memelukku kuat. Terasa tubuhnya agak gemetar memelukku. Mungkin, dia juga kaget dengan tuduhanku tentang Yukimura.
"Aku Azure Dragon—ah bukan, aku Date Masamune, Tsuruhime. Aku akan melindungi dan membelamu sampai kapanpun, meskipun lawannya adalah adik angkat kesayanganku sendiri."
"Jangan dipaksakan, aku tidak ingin ada perkelahian antar keluarga."
"Tidak, Tsuruhime. Aku harus berhutang budi denganmu."
"Masamune..."
...
"Tsuruhime... Keparat kau Masamune!"
—oOo—
Runa: "Minna, doakan semoga aku keterima bekerja ya!"
Motonari: "Amienn~ Karena kami tidak bisa mengatakan 'Amin'."
Runa: *mojok*
Tsuruhime: "Yah, jika sudah kerja berarti hiatus dong..."
Runa: Sebenarnya kuharap bisa ngambil shift malam jika keterima, jadi paginya bisa ngetik deh. Yah, tapi aku lupa kalau jadwal pagiku tuh agak padat. Semua pekerjaan rumah aku yang ngurus." *mojok*
Tsuruhime: "Namanya cewek thor~
Ya kalau author udah kerja nanti enak bisa beli apapun tanpa menunggu mama angkat author ngasi kan?"
Runa: "Iya sih. Hiks, aku deg-degan mudahan saja keterima. Jadi ada jerih payahnya saat aku nunda kuliah setahun ini."
Masamune: *mojok dengan muka merah*
Motochika: *sadar ngeliat Masamune*
"Tumben lu. Kenapa?"
Masamune: "Masa' bagian awal aku mesra-mesraan sama Tsuruhime eh..."
Runa: "Iya ya. Padahal dalam prinsipmu 'Kuda adalah segalanya' hihihihihi—"
#BAKK! *dipukul negi sama Kojuurou sampai pingsan*
Tsuruhime: "Ckckck. Abaikan tadi ya para readers! Saya mewakili semuanya, berterima kasih untuk yang sudah mem-fav bahkan mem-follow cerita nista ini. Kolom review sudah disediakan bagi para penunggu cerita ini, dan ada satu pertanyaan dari author.
Ehem, pertanyaannya adalah:
'Mengapa arena Masamune di dunia mimpi adalah DJ room?'
Bagi yang pernah bahkan tau Persona 4, pasti akan cepat menebak!
Bocoran sedikitnya adalah: 'Masamune itu tipe orang yang menganggap semua orang dia repotkan dibalik wajahnya yang terlihat sepertinya semena-mena menyuruh orang. Dia tidak mau orang-orang bersama dengannya, bahkan mengkekangnya seperti burung di sangkar emas. Karena, sifat Masamune yang merupakan tuan besar tentu akan terlihat jika bersama orang yang sama. Hal ini berkaitan dengan orang yang selalu bekerja tapi tidak bisa melepas pekerjaannya.'
Tidak dijawab juga tidak apa-apa sih. Bagi yang menjawab dan benar, akan dihadiahi satu rekues fanfic dengan prompt sendiri di fandom Basara only jika mau. Dan Pen Name-nya akan dicantumkan di summary.
Apa itu prompt? Prompt adalah umpan kata yang biasa unsurnya menjadi inti sebuah cerita. Misal cerita ini berasal dari unsur 'Sacred Beast', 'Modern era', 'harem', dan 'dream'. Walau banyak sih umpan cerita ini, tapi hanya 4 itu yang boleh diumbar hehe.
Semangat minna!"
