Sebelum aku memulai cerita ini, ada yang ingin kutanyakan. Bagaimana kalau aku remake proloque nya? Setuju atau gak? Aku juga agak bingung hehe. Kalau gak ada yang menjawab, saya tidak akan remake proloquenya hehe.

Nah, ayo mulai cerita ini!


CHAPTER 6 - TOMORROW IS AUGUST 15


Naisha's POV

Tanganku dan Marry masih terus tertarik oleh Noel sampai keluar dari apartemen tersebut. Sesampai di luar apartemen tersebut, Noel melepaskan tanganku dan Marry, lalu kami semua berkumpul di sebelah pintu agar tidak menganggu orang-orang yang berniat ingin memasuki apartemen itu maupun yang ingin melewati apartemennya.

"Noel, kenapa kau ada di rumah Marry!?", seruku pada Noel dengan sedikit terkejut.

Noel tersenyum padaku dan berkata, "Aku sendiri juga tidak tahu kenapa tiba-tiba aku ada disana..."

"Terus, kenapa kamu bisa tahu kami ada di luar?", tanya Shintaro yang penasaran.

Mendengar Shintaro, Noel menggaruk pipinya dengan ujung telunjuknya dan menjawab dengan ragu-ragu "Hmm... Aku juga kurang yakin... Tapi saat aku mendengar Seto bilang kalau ada dua orang yang mau bertemu dengan Marry, aku sudah curiga... Hehehe."

"Hee, begitu." Naisha melanjutkan perkataannya lagi. "Kalau begitu, Marry dan Noel... Mau mendengar rencanaku? Noel sudah tahu tentang hal ini 'kan?" Noel dan Marry mengangguk untuk menunjukkan tanda 'iya'.

"Baik, akan kujelaskan. Ingat, besok tanggal 15 Agustus. Aku sendiri sebenarnya tidak tahu apa yang akan terjadi besok... Pertama-tama, lebih baik kita selamatkan Ayano, Takane dan Haruka dahulu dari Kenjirou-san," ucapku mulai menjelaskan.

Shintaro mengangkat tangan kanannya, ingin bertanya sesuatu.

"Ya, Shintaro?", tunjukku pada Shintaro, dengan gaya seperti guru yang menunjuk muridnya yang sedang ingin bertanya tentang pelajaran yang tak dimengerti oleh si murid.

"Sebenarnya... Ada yang ingin kutanyakan dari kemarin... Kenapa ayahnya Ayano mau membunuh Takane dan Haruka? Bahkan melakukan hal seperti itu pada anaknya sendiri. Aneh 'kan?", jelas Shintaro.

"Haaah..." Aku menghela nafas dan menjawab pertanyaan Shintaro dengan sedikit lemas. "Bukannya sudah pernah kubilang? Dia itu dikendalikan oleh 'ular'..."

"'Ular'...", gumam Shintaro.

Shintaro mulai berpikir keras. Sementara melihatnya yang berkonsentrasi pada pikirannya sendiri, aku kembali menjelaskan rencana kami pada Noel dan Marry. "Sebenarnya, ini tergantung esok hari sih... Yang penting, kita harus menjauhkan mereka bertiga dari 'ular' itu dulu... Karena aku juga belum tahu apa yang akan terjadi esok hari."

Mendengarku, wajah Marry yang sebelumnya terlihat kelelahan itu, berubah menjadi wajah yang dihiasi senyuman pada bibirnya. "Be-Begitu ya? Baiklah...!", seru Marry.

"... Tunggu...", ucap Shintaro, mulai terlihat pucat.

"Kenapa, Shintaro?", tanyaku.

"Berarti kita sudah selesai membicarakannya 'kan? Lalu bagaimana cara kita mengembalikan Marry ke markas? Kita sudah membuat Ayano dan Seto curiga..."

Kami semua terdiam mendengarnya. 'Perkataan Shintaro ada benarnya juga...'

Kemudian, Noel memecahkan keheningan itu dengan wajahnya yang sedikit sedih. "... Maaf..."

Shintaro tertegun melihatnya dan menggoyangkan tangannya di depan wajahnya. "Ti-Tidak! Ini bukan salahmu kok!"

"Sudah, sudah," ucapku melerai. "Mungkin Marry bisa menginap di rumah Shintaro. Ah, Noel dan aku juga akan menginap di rumahmu."

Shintaro menaikkan alisnya, heran dengan pernyataanku yang tiba-tiba kuucapkan. "Yang benar saja... Kalau ada 3 orang yang menginap di rumahku, pasti bakal ketahuan oleh ibu dan Momo," ucapnya dengan malas.

Aku menepuk-nepuk dadaku, sebagai tanda 'bangga' pada diriku sendiri. "Biar kuurus! Kalau ada ibumu atau Momo yang masuk ke kamarmu, aku akan memindahkan Noel dan Marry, lalu aku juga akan berpindah!"

Marry memiringkan kepalanya dengan kebingungan. "Kamu bisa memindahkan orang lain juga...?"

Aku mengangguk dan tersenyum. "Ya! Saat aku berpindah ke tempat lain waktu Momo masuk ke kamar Shintaro tadi pagi, di tempat aku berpindah, aku mencoba kekuatanku pada salah satu orang yang lewat di dekatku. Yah, aku cuma iseng sih hehehe... Dan orang itu juga kebingungan sendiri saat dia berpindah ke tempat lain! Pfft!" Aku mulai tertawa sambil menutup mulutku dengan tanganku agar bisa menahan tawa yang keluar dari mulutku. Setelah selesai meredakan tawaku, aku melanjutkan lagi, "Dan... Saat Shintaro mandi, aku mencobanya pada benda-benda, tapi gak bisa. Sepertinya kekuatanku gak bisa kalau dengan benda."

"Oh begitu," balas Shintaro.

Shintaro melanjutkan setelah ia mengangguk kecil. "Lalu kita mau apa? Mau ke rumahku? Kebetulan sepertinya hari ini Momo dan ibu sedang tidak ada di rumah...", ucap Shintaro.

"Baik, ayo ke rumahmu," balasku.

Kemudian, kami mulai berjalan kembali menuju ke rumah Shintaro.


Kido's POV

"Tsubomi~ Semuanya sudah dibeli?", tanya Shuuya dengan seringaian anehnya seperti biasa.

Aku memeriksa kantong plastik yang berisi bahan makanan untuk makan malam nanti. Bahan yang kurang untuk makan malam ini adalah daging, jadi aku dan Shuuya membeli beberapa daging di supermarket terdekat. Aku menghitung semua daging yang ada di dalam kantong plastik itu.

"Satu... Dua... Tiga... Sepertinya sudah...", jawabku sembari membuka kantong plastik dengan kedua tanganku.

"Oke~ Mau kubawakan?", tanya Kano sekali lagi.

Aku mengangguk lalu tersenyum kecil, "Terima kasih, Shuuya." Lalu aku menyerahkan kantong plastik itu ke Shuuya.

Saat aku memberikan kantong plastik itu ke Shuuya, aku melihat sekilas empat orang yang menarik perhatianku yang sedang berjalan jauh di belakang Shuuya. Dua orang gadis dan dua orang lelaki...

'Tunggu.'

Aku menatap lekat salah satu gadis di kerumunan empat orang itu. 'Rambutnya putih... Tingginya sekitar 150an lebih... Dan memakai dress biru dengan apron putih di depannya, juga memakai pita pink di rambutnya... Jangan-jangan, Marry...!?' Mataku terbelalak saat menyadarinya.

"Tsubomi?", panggil Shuuya yang mulai melambaikan tangan kanannya beberapa kali di depan mataku.

"Hei, Shuuya... Bukankah itu Marry?", tanyaku pada Shuuya, mataku masih menatap gadis berambut putih itu.

"Hm?" Shuuya menengok ke belakang, mengikuti arah tatapanku. Dia pun bereaksi sama sepertiku setelah melihat Marry, sedikit terkejut sepertiku tadi.

Kemudian, aku berlari ke mereka, diikuti Shuuya di belakangku. Semakin mendekat, sampai aku berhasil menggenggam lengan Marry.

"Marry...!?", teriakku sambil menggenggam lengannya. Marry terkejut lalu menoleh ke arahku dan Shuuya.

"Ki-Kido, Kano...!?", seru Marry.

"A-Apa yang kau lakukan? Siapa mereka?", tanyaku sambil menunjuk tiga orang yang tidak kukenal. Ada lelaki yang berjersey merah, lalu lelaki memakai pakaian butler -entah apa yang dia pikirkan sampai memakai pakaian butler di luar seperti ini- , dan gadis berambut hitam dengan berpakaian hitam dipadukan putih disertai jaket putih yang diikatkan pada bagian pinggangnya.

"A-Anu...", gumam Marry.

Di tengah kebingungan Marry, seorang gadis berambut hitam berjalan di depan Marry. "Ada urusan apa ya?", tanyanya dengan menunjukkan senyuman lebar di bibirnya.

Aku mundur selangkah. Rasanya ada yang mencurigakan dari gadis ini...

Melihatku yang mulai ketakutan, dia terdiam sebentar lalu mulai tersenyum kembali. "Ah iya, tolong bilang ke dua orang yang ada di markasmu itu ya, kalau Marry akan menginap di rumah lelaki berjersey merah ini selama sehari. Aku gak ingin membuat mereka khawatir."

Aku menaikkan sebelah alisku. 'Markas...? Maksudnya? Apartemen itu masih baru-baru ini kami tinggali... Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dia maksud dengan 'markas'.'

"... Kenapa?", tanyaku dengan curiga.

"Yaah, ada urusan penting yang ingin kami bicarakan... Dan kalian juga. Berhati-hatilah besok, di tanggal '15 Agustus' itu."

"... 15 Agustus... ", gumam Shuuya dengan berwajah pucat.

"Shuuya?" Aku menoleh ke arah Shuuya, khawatir dengannya.

Menyadariku yang tampak khawatir, dia kembali menyeringai. "Gak apa-apa kok, Tsubomi~" Shuuya pun menoleh ke arah gadis berambut hitam itu. "... Sebenarnya kamu siapa?"

Gadis berambut hitam itu memiringkan kepalanya. "Hmm, hanya perempuan biasa kok. Sudah ya."

Sekilas setelah gadis itu berbicara, mereka berempat -termasuk Marry- menghilang dalam sekejap mata.

"Di-Dimana dia?", ucapku yang mulai kebingungan.

Shuuya menepuk pundakku, aku pun menoleh ke arahnya lagi. "Tsubomi, kau pikir, dia punya 'itu' juga?", tanyanya yang masih terus melihat ke jalanan luas yang terhampar di depan matanya.

"'Itu'...? Kau yakin...?"

"Ya, tadi dia tiba-tiba menghilang 'kan? Apa kamu gak curiga?"

Aku mengangguk kecil. "Kau benar, Shuuya." Aku menarik parka merah sampai menutup mulutku. "Kita harus bilang hal ini ke onee-chan dan Kousuke..."

"..." Shuuya memerhatikanku setelah aku berkata seperti itu.

"Kenapa?", tanyaku heran.

Shuuya kemudian kembali menyeringai. "... Kau imut ya, Tsubomi~"

Mendengarnya, wajahku sangat memerah dan segera menarik kerudung jaketku sampai bayangan kerudung itu menutupi mataku. "Ja-Jangan memanggilku imut...!" Kemudian, aku segera berjalan cepat menjauhi Shuuya agar dia tidak melihat wajah merahku ini.

"Kukuku!", tawa Shuuya sambil berjalan mengikutiku dari belakang.

'Uh! Kenapa Shuuya selalu menggodaku sih? Situasi ini 'kan lagi serius! Lalu dia tiba-tiba mengganti topik seenaknya! Dia memang tidak pernah serius... Menyebalkan.'

"Dasar Shuuya bodoh...", bisikku dengan wajahku yang masih memerah.


*ckrek*

"Selamat datang, Shuuya, Tsubomi!", sapa onee-chan sembari memunculkan kepalanya dari dapur.

"Kami pulang, nee-chan~", balas Shuuya.

"Ah, Tsubomi! Dimana dagingnya?", ucap onee-chan dengan berganti dari melihat Shuuya ke aku. Aku berjalan mendekati onee-chan lalu menyerahkan kantong plastik yang telah kami beli pada onee-chan. "Ini," ucapku. Onee-chan mengambilnya lalu memeriksanya lagi. "Baiklah, Tsubomi. Ayo kita mulai masak!", ucapnya dengan tersenyum. Aku mengangguk lalu mengikuti onee-chan ke dapur.

Sesampai di dapur, aku mengeluarkan salah satu daging dari kantong plastik dan menaruhnya di dekat pisau, di atas meja dapur.

"Yosh!" Onee-chan lalu memakai celemek putih yang biasanya dia pakai, aku pun juga memakai celemek putih yang sama seperti miliknya.

"Onee-chan."

"Hm?" Onee-chan mengambil pisau lalu mulai memotong daging tersebut.

"Sebenarnya... Apa yang terjadi pada Marry? Kenapa dia bersama orang-orang yang tidak kukenal?"

Saat mendengarku, onee-chan mulai menghentikan gerakan tangannya.

"Aku tidak tahu... Tapi dia tadi bersama dengan Shintaro-kun...", gumam onee-chan.

"Shintaro...?", tanyaku sambil menatap wajah onee-chan.

Onee-chan yang menyadari perkataan yang dia ucapkan sebelumnya, mulai memotong daging itu lagi dan berkata, "Bukan apa-apa kok hehe..." Onee-chan melanjutkan perkataannya lagi setelah selesai memotong daging itu, "Aku juga tidak tahu kenapa Marry mengikuti mereka. Tapi mereka bilang, mereka adalah temannya Marry... Tsubomi, kau juga bertemu mereka?", tanyanya yang mulai menengok ke arahku pada saat dia mengatakan pertanyaannya yang paling akhir.

Aku mengangguk.

Bereaksi padaku, onee-chan pun kembali melihat daging itu dan mulai memasuki tahap memasak selanjutnya. "Lebih baik kita bicarakan ini dengan Kousuke dan Shuuya. Jadi kita harus selesaikan masakan ini dulu."

Aku mengangguk untuk kedua kalinya. Lalu aku pun membantu onee-chan memasak.


Aku dan onee-chan menaruh beberapa makanan yang telah kami masak sebelumnya di atas meja dengan tertata rapi. Shuuya dan Kousuke pun duduk di meja makan itu. Kemudian, aku duduk di sebelah Shuuya, sementara onee-chan duduk di sebelah Kousuke.

"Selamat makan!" Kami semua menepuk tangan kami sekali lalu mulai makan.

"Onee-chan... Bagaimana menurutmu? Kenapa Marry belum pulang sampai sekarang? Aku khawatir...", gumam Seto dengan berwajah sedih.

"Ah itu..." Shuuya menjawab Kousuke dengan serius, berbeda dari nada menggoda yang biasa dia gunakan. "Tadi salah satu gadis berambut hitam bilang pada kami, kalau Marry akan menginap di rumah lelaki yang berjersey merah."

"Shintaro-kun?", ucap onee-chan sedikit terbelalak.

Melihat onee-chan yang sedikit terkejut, aku bertanya, "Onee-chan mengenalnya?"

Onee-chan mengangguk dan menjawabku, "Iya... Dia teman sekelasku. Namanya Kisaragi Shintaro... Dia tidak pernah menyebut seseorang sebagai 'teman' dan selalu dingin. Jadi... Aku pikir ada yang aneh dengannya hari ini... Sebenarnya apa yang terjadi?"

Kano pun membalas onee-chan, "Dan gadis berambut hitam bilang 'berhati-hatilah pada tanggal 15 Agustus'."

"15 Agustus ya...", gumam onee-chan dengan wajah yang mulai pucat.

"Onee-chan?", tanya aku dan Kousuke yang khawatir.

Memang. Akhir-akhir ini, wajah onee-chan selalu terlihat pucat dan kurang tidur. Bahkan, onee-chan sudah mempunyai kantong mata tebal di bawah matanya. Dia seperti tidak tidur selama berhari-hari. Aku merasa onee-chan menyembunyikan sesuatu... Tapi aku tidak tahu apa yang dia sembunyikan karena onee-chan selalu tersenyum dimana pun dan kapanpun dia berada.

"Aku tidak apa-apa kok! Hehe!", seru onee-chan sambil menggenggam kedua tangannya dengan tersenyum kecil. Kemudian, onee-chan menaruh sumpitnya di sebelah piringnya yang sudah kosong. "Aku sudah selesai makan. Aku akan cuci piringku dan kembali ke kamarku." Setelah berkata seperti itu, onee-chan kembali ke dapur dan mencuci piringnya, lalu segera menuju kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan pelan.

'... Onee-chan tiba-tiba jadi aneh setelah mendengar kata '15 Agustus'... Memangnya, apa yang akan terjadi besok? Aku merasakan firasat buruk...'

Aku mulai melanjutkan kembali memakan makanan di depanku. 'Dan juga... Aku merasa seperti mengenal mereka bertiga juga... Aku tidak tahu kenapa...'


Marry's POV

"I-Ini rumah Shintaro-san?", tanyaku sambil bersembunyi di belakang Naisha-san.

"Iya, disini tempatnya," jawab Naisha-san yang menatap rumah tersebut.

"Aah, masuk saja. Jangan komentar yang aneh-aneh," balas Shintaro dengan dingin.

Kami berempat pun memasuki rumah tersebut dan berjalan menuju lantai atas, tempat dimana kamar Shintaro berada. Kami pun sampai di depan kamar Shintaro lalu membuka pintu dan memasukinya.

"Lelahnyaaa~!", seru Naisha-san sambil menjatuhkan dirinya di atas kasur milik Shintaro-san.

"Oi, jangan gunakan kasurku sembarangan," ucap Shintaro-san dengan menghela nafas.

Aku menatap Shintaro-san, lalu Naisha-san, dan Noel-san berulang-ulang kali. Aku pun mulai bertanya pada Naisha-san yang sedang tertawa kecil pada Noel-san dan Shintaro-san. "Emm... Naisha-san, kenapa Naisha-san berkata hal yang membuat Kido curiga?"

Mendengarku, Naisha-san membangunkan dirinya dari kasur Shintaro-san, lalu menjawabku dengan santai, "Hal yang membuat Kido curiga? Seperti apa misalnya?"

"Eh? Err..." Aku mulai berpikir keras. "Sepertinya pada saat Naisha-san bilang aku akan menginap di rumah Shintaro-san..."

"Oh itu. Aku cuma memberitahu mereka agar mereka gak khawatir dan mencarimu semalaman. Ditambah, aku takut mereka mengira kami menculikmu atau semacamnya," balas Naisha-san sambil memainkan jaket putih di pinggangnya.

"O-Oh, begitu...", balasku.

Noel-san melihat jam dinding di kamar Shintaro-san, yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Lalu, Noel-san menoleh ke arah kami semua. "Sudah malam. Sebaiknya kita tidur."

"Benar juga," balas Naisha-san sambil melihat ke jam dinding pula. "Kalau begitu, aku tidur disini saja. Oyasumi~", ucap Naisha-san sambil menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.

"Hei! Jangan tidur di kasurku! Aku tidur dimana dong!?", seru Shintaro-san sambil menarik selimut yang menutupi Naisha-san.

"Mengalahlah pada yang lebih muda...", ucap Naisha-san dengan mengerutkan alisnya lalu kembali menarik selimut yang ditarik oleh Shintaro-san. Setelah itu, mereka bertengkar -berebutan- dengan masih terus menarik selimut tersebut.

"Te-Tenanglah...! Uwaaah!" Aku tersandung sesuatu lalu menabrak meja kecil yang di atasnya ada sebuah TV kecil (komputer) dan minuman berwarna hitam (soda maksudnya). Meja itu pun bergoyang dan minuman itu terjatuh membasahi sesuatu yang berwarna abu-abu dengan huruf-huruf di atas pencetan kotak-kotak (keyboard).

"HUWAAAA! KEYBOARDKU!", teriak Shintaro-san dengan frustasi.

Aku pun membungkuk berkali-kali untuk meminta maaf. "Gomenasai! Gomenasai! A-Aku akan mengambil tisu!" Aku pun mengambil tisu di dekat meja itu dan membersihkan sesuatu yang bernama keyboard itu sampai bersih, sehingga tisu yang kupegang ini menjadi basah.

"Biar kubantu," ucap Noel-san sambil mengambil beberapa tisu dan membantuku membersihkannya.

"Terima kasih!", balasku. Namun, saat aku kembali untuk mengambil tisu lagi, aku tersandung sebuah kabel hitam dan tanpa sadar melepaskan tisu yang basah itu dari tanganku. Lalu, tisu itu pun tepat mengenai wajah Shintaro-san.

Kami bertiga pun terdiam melihat apa yang terjadi. Wajahku dan Noel-san mulai pucat, sedangkan tisu yang menempel pada wajah Shintaro-san itu terjatuh, dan tampak wajah Shintaro-san yang basah. Aku pun segera panik dan mengambil tisu lagi untuk Shintaro-san. Namun, aku tersandung lagi untuk ketiga kalinya dan aku terjatuh dengan wajahku yang membentur lantai.

"Kamu gak apa-apa?", ucap Noel-san sambil mengulurkan tangannya padaku. Aku pun menerimanya dan dia membantuku berdiri.

"Kau sangat ceroboh... Biar aku yang membersihkannya... Dan aku juga harus memeriksa keyboardku!", ucap Shintaro-san sembari berjalan menuju TV kecil itu (komputer) dan memencet suatu bulatan pada sebuah kotak yang panjang (PC).

"Maafkan aku...", gumamku. Mataku mulai menitikkan air mata dengan sedih. Aku memang selalu ceroboh dan tidak berguna...

"Tenang saja." Noel-san mengelus kepalaku dengan lembut. "Shintaro-san tidak marah 'kan? Kamu cuma ceroboh, dan itu juga bukan salahmu."

"Ta-Tapi...", gumamku lagi dengan air mata yang mulai menetes dan mengaliri pipiku.

"Tidak apa-apa. Tidurlah. Kau pasti capek," ucap Noel-san dengan tersenyum.

Aku pun menurutinya dan mengangguk. Lalu, aku berbaring di sebelah Naisha-san yang sudah tertidur.

"Oyasumi...", ucapku sambil menarik selimut tersebut menutupi tubuhku dan Naisha-san.

"Oyasumi," balas Noel-san dengan tersenyum kecil.

"Oya- Tunggu! Nanti aku tidur dimana!?", seru Shintaro-san setelah selesai memeriksa sesuatu yang bernama keyboard itu, dan ternyata keyboard itu tidak rusak sehingga Shintaro-san bisa merasa tenang.

"Ssst!", bisik Noel-san sambil menempatkan ujung telunjuknya pada bibirnya untuk mendiamkan Shintaro-san. "Apa kamu punya futon? Nanti kita bisa tidur di lantai. Yang penting, mereka tidur dulu. Jangan diganggu."

Shintaro-san pun akhirnya menghela nafas dan mengikuti perkataan Noel-san, lalu ia mengambil futon dan menaruhnya di lantai.

Setelah itu, pandanganku tiba-tiba semakin menyempit. Rasanya hari ini sangat melelahkan... Aku berharap besok kami bisa mengubah tragedi ini... 'Besok...'

Aku pun menutup mataku dan tertidur lelap.


Ayano menutup pintu kamarnya, lalu bersandar di pintu tersebut, seperti menahan seseorang untuk masuk ke kamarnya atau dia hanya ingin bersandar saja. Dia pun memejamkan matanya sebentar, kemudian melirik ke arah catatan di atas meja belajar miliknya. Ayano berjalan pelan mendekati meja belajar itu, lalu mengambil catatan kecil yang berharga baginya. Dia pun membuka catatan itu dengan asal, tidak tahu dia membuka pada halaman ke berapa.

Ternyata, itu adalah catatan penelitian milik ayahnya yang berhasil dia ambil dari laboratorium ayahnya. Dia menutup bukunya kembali dan memeluknya. Seakan-akan catatan itu adalah catatan yang berharga...

Ayano meneteskan air mata yang dapat mencapai cover buku itu. Cover buku itu pun menjadi sedikit basah pada bagian yang tertetes oleh air mata Ayano. Ayano yang menyadarinya pun, langsung menghapus air matanya dengan cepat, menggunakan tangan kirinya yang leluasa dan sedang tidak memegang apapun.

Ayano pun berbisik pelan pada dirinya sendiri.

"15 Agustus... ya...? Jadi besok ya..."

Dia pun menaruh catatannya kembali pada tempat asalnya dan berbisik lagi.

"Haruka-san, Takane-san, Tsubomi, Shuuya, Kousuke... Aku akan menyelamatkan kalian semua pada misi yang hanya bisa kulakukan 'seorang diri'..."

Setelah berkata seperti itu, Ayano menyadari hadiah pertama yang diberikan oleh Shintaro pertama kali. Bentuknya sedikit aneh, dan hadiah itu merupakan hadiah dari shooting game yang dimenangkan oleh Shintaro, dan tempat pertama kali dimana Shintaro dan Ayano bertemu dengan Takane dan Haruka.

Ayano mengelus hadiah itu, lalu bergumam untuk ke terakhir kalinya.

"Shintaro-kun... Sayonara..."


Completely Blindfolded... Already.

-Kido


Author's Note : Akhirnya...! Susah sekali untuk menulis cerita karena sekolahku selalu banyak tugas dan PR hehe XD Dan susah untuk menentukan judul chapter ini! Aku rasa chapter ini sedikit membosankan... Yah, semoga saja kalian gak menganggapnya seperti itu hehe!

Terima kasih sudah membaca sampai sini! Tenang saja, pasti masih bersambung kok!