Saat aku menyadarinya... Judul chapter ini sangat mengingatkanku pada game Dead or Alive... Mungkin ini cuma kebetulan, hehe. Soalnya, aku merasa judul ini cocok pada chapter ini.

Aku tidak membaca LN nya karena aku baru baca sampai Yuukei Yesterday... Jadi aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Kano dan Ayano saat 2 tahun sebelumnya secara detail... Jadi mungkin aku akan memakai versi animenya. Yah, walau di animenya juga gak dijelaskan sih. Jadi aku coba memakai versiku sendiri dan pasti ada yang kuubah, dan sangat berbeda dengan LN nya... Anggap saja Naisha juga tidak baca LN nya ya? Gomen ne.


Shintaro's POV

Aku terbangun di hari yang masih sangat pagi. Aku membuka kedua mataku pelan-pelan, lalu menoleh ke kiri dan kanan. Terlihat, terdapat seorang lelaki berpakaian butler -Noel- yang masih tertidur lelap di sebelahku. Setelah itu, aku mencoba mendongak ke atas untuk melihat keadaan Naisha dan Marry. Ternyata, mereka juga masih tertidur lelap.

'Sepertinya aku sudah tidak bisa tidur lagi...' Sambil berpikiran seperti itu, aku berdiri dan mulai melangkahkan kakiku menuju pintu kamar- Ah bukan, aku tidak ingin keluar dahulu... Aku segera mengambil HPku yang terletak di atas meja kecil di samping kasurku dengan hati-hati, agar mereka berempat tidak terbangun oleh suara atau sentuhan yang berasal dari kakiku yang sedang melangkah melewati Noel. Aku tiba di depan meja kecilku, lalu mengambil HPku dan melihat jam dan tanggal pada layar HPku yang menunjukkan pukul 6 pagi dan 15 Agustus...

"... Sudah 15 Agustus ya...?", aku berbisik pada diriku sendiri. "Aku harus menyelamatkan Ayano... Lalu, Takane dan Haruka juga...", Aku berbisik lagi saat aku menempatkan kembali HPku di atas meja kecil tersebut.

'Kalau begitu, aku harus segera bersiap-siap mandi dan membangunkan mereka...'

Aku mengambil jersey merah, kaos hitam, dan celana panjang milikku dari gantungan baju yang ada di pintuku karena sudah kusiapkan. Lalu aku mendekap pakaian itu di depan dadaku. Ah, ini masih liburan musim panas, jadi aku tidak bersekolah. Namun, untuk hari ini saja, aku harus pergi ke sekolah. Aku pun berjalan keluar dari kamar untuk ke kamar mandi.


-1 jam kemudian-

Aku membuka kembali pintu kamarku. Lalu, aku melihat Naisha yang sudah terbangun. Aku memperhatikan rambut Naisha yang tertiup angin, tertiup dengan pelan. Sekarang, dia sedang melihat ke luar jendela, namun dia masih terduduk di atas kasurku. Aku tidak tahu ekspresi apa yang sedang perempuan itu tunjukkan saat ini. Suasana di dalam kamar ini pun menjadi hening. Suara yang terdengar hanyalah suara napas kecil yang dihembuskan oleh Marry dan Noel yang masih tertidur.

Aku duduk di sebelah Naisha yang akhirnya tersadar dari lamunannya. Aah... Akhirnya aku tahu wajah apa yang sedang ia pakai saat ini... Ia memasang wajah yang sedih dan ingin menangis, namun air mata setetes pun tak keluar dari matanya. Aku sedikit terkejut melihatnya. 'Ternyata... Gadis yang di hari-hari sebelumnya hanyalah tersenyum tidak jelas ini, ternyata mempunyai masalah juga ya?'

"Hei," ucapku padanya. Naisha terkejut sedikit dan menoleh ke arahku. "Se-Sejak kapan kau ada disini!?", teriak Naisha yang kebingungan.

Namun, mendengar teriakannya, Marry dan Noel ikut terbangun. Mereka mengusap-ngusap matanya yang masih mengantuk dan hanya setengah terbuka.

"Err... Ada apa...?", tanya Marry yang masih mengucek matanya.

"Bu-Bukan apa-apa...", jawab Naisha dengan segera berdiri dan berjalan untuk duduk di sebelah Marry.

"Kalian semua sudah bangun kan? Mandi saja dulu... Momo dan ibu juga sepertinya masih belum bangun," ujarku sembari menunjuk arah dimana kamar mandi berada.

"Ya... Kami akan mandi... Ngomong-ngomong, apa hari ini tanggal 15 Agustus?", tanya Noel yang tampaknya sudah mulai tidak terlalu mengantuk lagi.

"Iya. 15 Agustus."

Aku membaca beberapa buku dengan tidak niat, hanya membuka beberapa halaman saja. Mengapa aku tidak menyalakan komputerku? Karena aku sedang tidak mood bermain komputer tentunya... Memang aneh kalau seorang lelaki sepertiku yang sering dipanggil 'NEET' oleh Momo maupun Ene di kehidupan sebelumnya, tidak bermain komputer dan masih bisa 'hidup' tanpa komputer kesayanganku. Yah, ini karena ada hal yang lebih penting... yaitu Ayano. Aku harus menyelamatkan Ayano. Harus.

Pikiranku sekarang terpenuhi oleh Ayano. Bahkan, aku mulai berpikiran negatif. 'Bagaimana kalau Ayano tidak berhasil kuselamatkan?' Aku menggelengkan kepalaku, berusaha untuk menghilangkan pikiran negatif itu dari kepalaku. 'Tidak, tidak. Aku harus berpikiran yang baik. Aaah... Mereka lama sekali...' Aku segera mengganti pikiranku dengan mereka bertiga. Di dalam hatiku yang paling dalam, aku berharap mereka segera datang ke kamar ini lagi lebih cepat.

"Ah! Segarnyaaa!", seru Naisha dengan membuka pintu kamarku, diikuti dengan Marry dan Noel.

Mereka bertiga pun duduk di atas lantai. Aku pun juga segera duduk di lantai.

"Ah... Naisha-san. Sebenarnya... Dari dulu aku ingin bertanya, waktu pertama kali bertemu denganmu, kamu seperti orang yang masih agak... canggung? Tapi kenapa tiba-tiba berubah menjadi... ceria? A-Ah! Aku cuma bertanya! Dan maaf tiba-tiba bertanya hal seperti ini... Padahal hari ini sangat penting... A-Aku hanya penasaran..! Sungguh!", ucap Marry dengan tersipu malu, merasa sedikit bersalah dengan apa yang dibicarakannya.

Naisha menggoyangkan tangannya dan menjawab Marry dengan senyuman kecil yang terlihat sedikit aneh. "T-Tidak apa-apa kok, Marry! Yah... Aku bisa menunjukkan sifatku yang sesungguhnya hanya pada orang yang sudah akrab denganku... Jadi, aku agak gugup saat pertama kali mengenal kalian."

"Ja-Jadi kami sudah menjadi teman akrabmu?", tanya Marry sekali lagi dengan matanya yang berbinar-binar.

"Tentu saja," jawab Naisha sambil tersenyum kecil.

Aku segera memakai jersey merahku dan berjalan menuju pintu kamarku. "Hei. Cepatlah. Kita harus menyelamatkan 'mereka'."

"Ya," balas mereka sambil berjalan mengikutiku dari belakang.

Walau kami terlihat tenang seperti ini... Sebenarnya kami juga merasa panik dan berharap rencana kami bisa berhasil...


"Sudah sampai," ucapku sambil melihat gedung sekolahku yang sudah 2 tahun lamanya tidak kulihat. Masih belum berubah sama sekali.

Saat aku mencapai tepat di depan gerbang sekolah itu, aku segera berlari meninggalkan Marry dan Noel dengan cepat. Berpencar. Aku tidak terlalu mengerti cara meyakinkan Ayano, jadi aku bersama dengan Naisha, berlari menuju atap. Sedangkan, Marry dan Noel mencari Haruka dan Takane di kelas mereka. Siapa tahu mereka sudah ada di kelas itu? Dan menurut Naisha, sepertinya si Kenjirou-sensei itu ada bersama dengan Ayano dulu.

Jadi begini, aku dan Naisha akan 'menyelamatkan' Ayano. Marry dan Noel menjaga Haruka dan Takane diam-diam dari Kenjirou-sensei, dan jika ada Kenjirou-sensei, Marry dan Noel akan melaporkan pada kami melalui HP.

Kami sudah memikirkan rencana ini matang-matang sejak kemarin, saat kami berjalan menuju rumahku.

Kami berdua menaiki tangga menuju atap. Namun, tiba-tiba kami mendengar suara teriakan lelaki dari atap tersebut. Terkejut, aku segera membuka pintu itu dan melihat apa yang sedang terjadi.

Kano berteriak histeris. Kenjirou -ular- berdiri disana dengan wajah yang tenang. Dan Ayano... Dia sudah siap-siap untuk menjatuhkan dirinya...

Aku membelalakkan mataku, bahkan hampir tak bisa bergerak sama sekali. Tubuhkan gemetar. Takut. Rasa ketakutan ini mulai terasa menelanku.

'Tidak... Aku tidak boleh terlambat lagi... Aku harus menyelamatkannya...', pikirku untuk menggoyahkan rasa takutku.

"A-AYANO!" Aku berteriak sambil berlari untuk menggapai Ayano.

Ayano, Kenjirou, dan Kano menyadariku setelah aku berteriak. Kano dan Ayano pun tercengang melihatku, seakan-akan mengatakan 'Mengapa dia ada disini?'

Namun, saat itu Ayano tidak dapat menyeimbangkan posisinya lebih lama lagi. Jadi, tubuh Ayano mulai bergoyang dan terjatuh dari pembatas itu. Aku pun dengan cepat menggapai tangannya. Dan setelah berjuang keras dan mengulurkan tanganku dengan cepat, aku menggenggam tangan Ayano dengan erat agar dia tak terjatuh.

Naisha pun mengulurkan tangannya pula untuk menggapai tangan Ayano yang satu lagi, tapi tidak berhasil. Tangannya terlalu jauh darinya.

"Shi-Shintaro-kun... Kenapa...?", bisik Ayano padaku yang masih berusaha menahan dan menarik Ayano ke atas. 'Uh, tenagaku lemah... Aku tidak kuat.'

Saat aku hampir saja melepaskan tangan Ayano karena tidak kuat lagi tanpa kusadari, Naisha segera mengubah warna matanya menjadi merah dan menatap mata Ayano yang semakin lama semakin terjatuh ke bawah. Sambil terjatuh seperti itu, Ayano menyadari kedua mata Naisha yang berubah menjadi merah. Belum sempat Ayano membelalakkan matanya, tiba-tiba dia menghilang dari penglihatanku...

'Jangan-Jangan, dia dipindahkan Naisha ke tempat lain?'

Sesuai dengan perkiraanku, Ayano berpindah ke belakangku. Kami semua pun terdiam sebentar, sampai akhirnya Ayano mulai bertanya pada Naisha, "Kamu... punya mata merah juga?"

Aku menoleh ke arah Naisha. Dia terdiam dan tidak menjawab apa-apa.

'Ular' itu pun juga segera berbicara setelah melihat kejadian tadi. 'Ular' menatap tajam pada Naisha dengan sedikit tersenyum licik, "Aaah... Kau punya juga ya?"

"P-Punya apa...?", tanya Naisha dengan berpura-pura tidak tahu.

"Kekuatan itu... Tapi sepertinya aku belum pernah melihatmu sebelumnya... Hm." Ular itu berjalan semakin mendekat pada Naisha agar bisa memerhatikan matanya.

Naisha tampak terkejut, bahkan dia berkeringat dan seperti berusaha menenangkan dirinya... Aku harus membantunya...

'Ular itu berbahaya. Aku harus mencari cara agar kami semua bisa kabur.'

"Ayano... Kesini." Aku memanggil Ayano dengan mengerakkan tanganku. Ayano pun yang tadi hanya terdiam karena terkejut... mungkin, menyadari panggilanku dan menghampiriku. Aku pun sedikit membungkukkan badanku dan berbisik, "Mungkin aku akan menjelaskan semuanya nanti... Karena itu, ayo kita kabur."

Ayano memiringkan kepalanya dengan kebingungan. "Kenapa... Shintaro-kun? Kenapa kamu tahu aku ada disini...? Dan aku tidak boleh kabur, aku harus menjalankan misiku...!", seru Ayano, namun masih berbisik.

"Jangan bercanda!", teriakku dengan wajah yang marah. Ayano sedikit tercengang melihatku yang marah. Kami pun terdiam sebentar. Ayano seperti takut padaku karena aku yang marah tadi.

'Ini bukan salahnya... Aku harus menenangkan diriku.'

"Ehem." Aku mengepalkan tanganku di bawah daguku dengan berpura-pura batuk. Lalu aku melanjutkan. "Kita harus mengalihkan perhatian dia... Naisha sudah terlihat seperti orang yang kepanikan. Aku punya ide," ujarku pada Ayano

Sementara itu, aku hampir saja melupakan keberadaan Kano di depan pintu atap dengan masih menatap heran apa yang terjadi di depannya. Aku pun segera menyadari Kano dan berbisik lagi, "Aku akan melepaskan Kano juga... Karena itu, beri aku kesempatan dengan mengalihkan perhatiannya. Maaf, karena melibatkanmu, Ayano... Yang penting, semuanya harus selamat dari 'dia'."

Ayano menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil. "Gak apa-apa. Aku akan menyelamatkan semua orang. Tapi setelah ini, boleh aku mendengar penjelasanmu?"

"Iya," jawabku.

Aku pun segera memberikan isyarat kepada Naisha. Naisha memerhatikan isyaratku lalu mengedipkan matanya sekali, dia tak bisa berbicara apa-apa karena ada 'ular' itu yang sedang berdiri di depannya dan menatapnya.

Aku dan Ayano pun berjalan dengan sangat pelan dan hati-hati, mengendap-endap di belakang 'ular'.

Namun, sepertinya dugaanku salah... 'Ular' itu malah menengok ke arah kami dengan cepat. Aku sendiri juga kaget. Menyadarinya, aku segera menarik tangan Ayano lalu Kano dengan cepat, lalu kami membuka pintu dan segera keluar dari sana.

Kami pun menuruni tangga dan berusaha berlari sejauh mungkin dari sana, sampai akhirnya kami tiba di depan gerbang sekolah.

Kami pun menghela nafas karena kelelahan dan keringat mulai mengalir dari pelipisku. Aku menatap Ayano dan Kano. Mereka masih berusaha mengambil nafas. Tapi... Tunggu. Sepertinya aku melupakan sesuatu...

'Ah, Naisha masih ada disana! Gawat!'

Aku segera panik setelah menyadarinya, lalu aku dengan tanpa sadar, langsung berlari kembali menuju sekolah itu. Namun, gerakanku dihentikan oleh Ayano yang menggenggam erat tanganku. Aku menoleh ke belakang, terlihat wajah Ayano yang berantakan dan ekspresinya bercampur dengan tidak jelas.

"Ada apa, Ayano...?", tanyaku dengan berpura-pura tenang, menahan rasa panikku yang meluap.

Ayano menjawab, masih menatapku dengan mengerutkan alisnya, "... Shintaro-kun... Sebenarnya, kenapa ka-"

Perkataan Ayano terhenti karena tiba-tiba Naisha muncul di tengah-tengah kami, sehingga membuat kami semua kaget.

"Naisha! Kenapa kau ada disini!? Ah iya... Kau punya kekuatan 'itu' ya...?"

"Ya... Untung aku berhasil kabur...", balas Naisha dengan suara kecil sambil memerhatikan kami semua.

"Hei, aku ingin bertanya...", ucap Kano yang daritadi terdiam. Kami semua menoleh padanya. "Kau... juga punya kekuatan mata?", lanjut Kano sambil menunjuk Naisha dengan jarinya.

Naisha menggaruk kepalanya, keringat juga mulai terlihat di wajahnya, dan dia juga mulai memasang senyuman aneh di bibirnya. "Iya... Mungkin?", jawabnya.

"Apa yang kamu maksud dengan mungkin?", tanya Kano serius.

Naisha menelan ludahnya, tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Entah aku tidak tahu kenapa dia gak mau menjawabnya... Yah tapi, sudahlah.

"Jangan bahas itu sekarang," sela aku. Kemudian, aku menoleh ke arah Ayano. "Ayano. Sebaiknya kita harus cepat-cepat menemui Haruka dan Takane di kelas mereka. Sepertinya 'ayah'mu mengincar mereka..."

"Haruka-san... dan Takane-san...? Apa yang akan 'ayah' lakukan!?", seru Ayano sambil mengepalkan tangannya dengan kuat di samping tubuhnya.

"... Pokoknya mereka bisa mati jika kita hanya terus disini... Si 'ular' itu ingin membunuh mereka dan sepertinya akan pergi ke kelas mereka sekarang...", jelas Naisha dengan serius menatap ke depan.

"Iya. Kau bisa memakai kekuatanmu sebagai jalan pintas untuk kesana 'kan? Pakai kekuatanmu itu pada kami dan kau sendiri," ujarku padanya.

Naisha terkekeh kecil mendengar ucapanku. "Heh. Jadi kau sudah mengerti kekuatanku ya~?"

"Cepat pakai," ucapku dengan dingin.

"Iya, iya." Saat Naisha membalas kami, bahkan Ayano dan Kano pun tidak sempat bertanya, kedua matanya berubah menjadi merah. Ia pun menatap mata kami semua, lalu berhasil berpindah ke depan kelas Takane dan Haruka, disusul Naisha setelahnya.

"Naisha! Shintaro!"

Aku dan Naisha menengok ke sumber suara itu. Ternyata, suara itu berasal dari Noel, diikuti Marry di belakangnya.

Noel berdiri di tengah-tengah kami, lalu ia memerhatikan wajah Ayano dan Kano dengan agak serius. Dia pun kembali menoleh padaku dan Naisha. "Jadi... Kalian sudah berhasil menyelamatkan mereka...", ucapnya.

Aku pun mengangguk dan bertanya, "Bagaimana keadaan Takane dan Haruka?"

Mendengarku, Noel mulai memasang wajah sedih sambil menundukkan kepalanya. "Maaf... Tadi kami kehilangan jejak Takane-san dan Haruka-san... Dan sepertinya mereka kembali ke kelas ini," ujarnya.

"Kenapa kalian bisa kehilangan jejak mereka?", tanya Naisha penasaran.

"Yah..." Noel mulai tersenyum aneh dan terdiam sebentar. "Tadi... Marry ingin ke toi-"

"Uwaaah! N-Noel-san! To-Tolong jangan beritahu mereka!" Marry berteriak menyela ucapan Noel. Noel pun mengangguk kecil.

"Aah... Kau ingin ke toilet, Marry," ucap Naisha memperjelas dengan tersenyum menggoda.

Mendengarnya, tiba-tiba terdengar suara tawa kecil dari belakang kami. Aku pun melirik ke arahnya. Ternyata si Kano lah yang terkekeh kecil.

"Heh. Kau lucu sekali, Marry!", ucap Kano masih bercampur dengan tawanya.

"Ka-Kano!" Marry menggembungkan pipinya dan terlihat sedikit marah.

"Hei, hei. Kalian jangan bercanda terus...", ucapku dengan mengerutkan alisku.

"Tidak apa-apa, Shintaro-kun. Tidak ada yang salah kalau tertawa 'kan?", ucap Ayano sambil tersenyum kecil. Wajahku sedikit memerah karenanya.

Saat kami semua tersenyum dan tertawa bersama, tawa kami itu seakan-akan menginginkan kami agar bisa hidup bahagia. Tidak ada yang mati dan tidak ada yang berubah... 'Aku tidak ingin ada yang mati lagi. Misi kami ini harus berhasil...'

"Ayano-chan? Shintaro? Apa yang kalian lakukan disini? Ah... Mereka siapa?"

Tiba-tiba, terdengar suara yang kukenal dari belakang kami semua. Kami semua pun bereaksi dan menengok ke arahnya. Ternyata benar dugaanku. Itu adalah suara... Ene- maksudku Takane.

'Suaranya... memang benar-benar mirip dengan Ene... Kenapa aku tak menyadarinya dari dulu!?'

Ah... Tapi ini kebetulan. Disini ada Takane. Jadi kami bisa menjauhkannya dari 'ular' itu dengan lebih mudah... Tunggu.

Aku teringat sesuatu. Ada seorang lelaki lagi.

'Haruka...? Dimana dia sekarang? Kenapa dia tidak bersama Takane?'


"What do you think is the reason for my death?"

-Ayano Tateyama


Author's Note : chapter ini dibagi menjadi 2 part. Part 1 adalah menyelamatkan Ayano, dan yang ke-2 adalah menyelamatkan Haruka dan Takane. Disini terlihat Ayano dan Kano selamat 'kan? Jangan senang dahulu~! Belum tentu lho Ayano selamat. Mungkin saja mereka selamat, atau mungkin tidak selamat? Atau... Mungkin saja hanya Ayano yang selamat, tetapi Haruka dan Takane tidak selamat? Atau mungkin Ayano tidak selamat tapi Haruka dan Takane selamat. Atau malah Haruka yang tidak selamat? Tergantung ceritanya nanti, hehe. Tunggu saja kelanjutannya! Cerita ini masih sangat panjang!

Berikutnya, misi penyelamatan Haruka dan Takane!