Runa: "AKU HADIR LAGI!"
All chara pemeran dalam fanfic: "NOOOOO!"
Runa: "Kenapa sih? Kayaknya gak bahagia banget aku datang..."
Tsuruhime: "Siapa bilang? Aku suka kok!" *bohong*
"Ayo author kita balas review~"
Runa: *kompakan bareng Tsuruhime*
"Maaf ya untuk chapter 4 kayaknya abal banget editnya... Bayangin padahal udah 1 jam ngedit masih belum selesai.. Mana kepala berat pengen tidur habis itu. Terpaksalah aku banyak ketinggalan editnya. Dan itu chapter yang jujur, kurang kusuka."
Motonari: "Hoo begitu..." *rebut kertas reviewnya dengan bengisnya*
"Pertama dari Meaaaa. Astaga aku kena lagi. Masa' aku bilang '-chan' sih?" *liat balik prolog chap 4*
"ASTAGA!" *ga mau liat bagian terakhir reviewnya, takut blush lagi*
Tsuruhime: *puk-puk Motonari yang mojok*
"Kelepasan ya? Haaa~ I know dat feel~
Masih mending dibully author begitu doang. Aku? Sampe Magoichi-san dan Motochika-kun ngembully di skenarionya...
Oh dia masih suka Masmun rupanya."
Masamune: "Sudah kubilang kan? Ketamvanan dan kegantengan gue itu kagak bisa dipudarin! Makan tuh Motonari! Tenang Motonari, gue gak suka Tsuruhime kok di ceritanya awalnya. Yah, berdoalah pada skenario agar diriku benar-benar tidak suka padanya hingga kau punya pacar~"
Yukimura: "Layaknya aku dan Masamune-dono! Kami kan... Ya gitu deh. Auth Mea pasti tau!"
Motonari: *bejek Masamune dan Yukimura*
Kojuurou: *hantam kepala Motonari pake negi sampai pingsan*
"Tidak ada yang boleh menyakiti Masamune-sama!"
Motochika: *bersiap mau nebas pakai jangkarnya*
"Apa? Katakan lagi, Kojuurou..."
Runa: *menjauh dari kerumunan karena ngeri*
"Abaikan yang tadi ya! Aduh aku ngerti gimana rasanya gak bisa move on. Wajar sebagai cewek memang gitu kok! Orang bilang cara terbaik 'move on' dengan bersikap biasa-biasa saja dengan orang itu. Jangan pikir 'aku harus move on' karena itu justru membuatmu selalu ingat dia. Menurut pengalamanku saat SMP sampai SMA sih."
Tsuruhime: *nyusul*
"Pengalaman~"
Runa: "Gua cewek juga loh... Mentang-mentang fisikku tomboi gini."
Tsuruhime: "Iya iya~" *ketawa nista*
"A—Aku ndak sejahat itu sampai bikin orang marah-marah sama aku kok." *mojok*
Runa: *puk-puk mea sama Tsuruhime*
"Selanjutnya dari Dissa-CHAlovers! Tidaaakkk! Masamune harus dengan Yukimura! Tidak~ oh noo~" *lebay*
Tsuruhime: "Heran deh gue sama author..
Iya nih malah ganti gurunya karena authornya baca chapter 2 dan ingat bagian peristiwa Keiji ke rumahku.
Alhasil... Hueee author jaaaahaaaatt!"
Runa: *cuma bisa mengangkat dua jari berbentuk v*
"Makasih ya buat para pembaca! Saya senang sekali kalian berdua selalu cetiah(?) menunggu apdetnya fanfic ini! Ya, meskipun ga ada yang jawab kuisnya sih. Kuis itu dianggap 'expired' sajalah~
Dan soal Katsuie, aku cuma bisa histeris hebat waktu buka website 'wiki' english version. TRAP! COWOK RAMBUT BOB ASTAGA! KUKUTUK KAU FANART PIXIV KATSUIE YANG BIKIN DIA KAYAK CEWEK PERSIS KAYAK MOTONARI!" *mencak2 marah*
Tsuruhime: "Saat dibuka awalnya namanya di google author juga bilang dia cowok kan? Tapi malah mencari jati dirinya yang pasti di web fanart yang salah..."
Runa: "Aku ga tau dia cowok. Tapi saat baca 'he' aku langsung mangap lebar.
Baiklah! Selamat menikmati cerita ini!"
—oOo—
Chapter 5 - Aku Hanya Ingin di Cintai
"Benar-benar bisa masuk rumah sakit jiwa habis ini."
"Kenapa?" Masamune mengeluarkan suatu mangkuk lumayan besar layaknya mangkuk kebanyakan berbahan sterofom yang biasa kalian tahu, itu adalah mi instan. Dua mi instan. Ia buka pembungkus transparan yang menyelimuti mangkuk itu alias menyobeknya, dan membuka tutup segelnya perlahan sampai setengah.
'Mi instan...' kataku dalam hati.
"Pasti gegara Yukimura ya?" terkanya.
"Yukimura tadi sengaja menyenggolku saat aku membeli kopi di mesin minuman, dan tumpah mengenai bajuku gegara aku meminumnya sambil jalan," terangku. Masamune menggeleng sambil mengeluarkan suara cicak.
"Ckckck," disodorkannya mangkuk mie instan yang tengah terisi air panas sebelumnya ketika ia membelinya, padaku. Asapnya mengepul-ngepul dengan aroma kaldu airnya yang menggoda menerpa hidungku. "He's had jealous to you. You have to avoid it with could explain you love Motonari, just it. Kau tidak tahu bahayanya Yukimura."
"Masalahnya, SUKA SAMA MOTONARI SEDIKITPUN SAJA TIDAK!" pekikku sambil menatap mi instan pemberian Masamune dengan paparan wajah 'bolehkah-aku-makan-sekarang?'.
"Makanlah jika kau mau," tawar Masamune. Ketahuan~
Malu rasanya. Tapi yah, jika dia menawariku, ya sudah.
"Apalagi sejak aku ingat Motonari adalah dalang utama cerita ini, aku justru malah ingin menginjaknya sekarang," kataku meneruskan mengalihkan rasa nafsu laparku. Salahkan Masamune yang mengajakku ke pinggir sungai sepulang sekolah, dan saat istirahat makan siang dia mengangguku! Jadinya aku harus menahan laparku karena tidak makan siang.
"Are you sure? Memang sebelum bertemu denganku, kau tidak pernah semenit saja mengingatnya lama?"
"I—it—itu..." aku menundukkan wajahku malu sambil mengaduk bumbu dalam mangkuk tersebut hingga tercampur rata dengan sumpit.
"Jackpot."
"Masamune ah! Jangan menggoda terus!" peringatku dengan nada suara tinggi. Alih-alih agar aku menahan lapar. Aku harus tetap menunggu Masamune mengambil sumpitan pertama, atau aku akan diejeknya.
"Suaramu masih kalah nyaring dibanding desiran air sungai disini," ejek Masamune.
"Bi—biar!" balasku gugup lalu mulai mengambil sumpit setelah Masamune dan memisahkan mereka sambil berkata, "Itadakimasu~".
Akhirnyaaa!
Sepuluh menit kemudian, kami serempak menaruh mangkuk yang berukuran sedang itu ke depan kami masing-masing lalu bilang, "Terima kasih atas makanannya".
"Ternyata mi instan itu enak sekali!" seru Masamune sambil kekenyangan. "First time after 3 days I didn't do like hiding food from Kojuurou again."
Kau baru tahu apa yang membuatku meneteskan liur jika bertatapan dengan makanan ini, Masamune? Makanan yang bisa kumakan 5 kali dalam sehari meskipun harus menunggu air masak, tapi hal itu terbayarkan dengan kelezatan mereka.
"Kalau ketahuan Kojuurou-sensei bisa-bisa kau dihukum lagi," peringatku. "Katanya pernah dihukum karena kepergok pergi bersamaku melakukan hal yang sama seperti sekarang walau di tempat yang berbeda."
"Take it easy~ Paling disuruh makan sup asparagus yang memiliki daun bawang alami alias negi."
"Haha, jadi ingat kata si buaya waktu itu. 'Kojuu si tukang kebun'," kataku menggelegar menirukan suara anggota nightmare yang kami lawan belum seminggu ini.
"Kau ini."
Aku tertawa keras, lalu ia ikut-ikutan juga.
"Haha! Kau ingat kata si buaya waktu itu rupanya," Masamune memegangi perutnya lalu menyeka air matanya akibat tertawa. "Well, sebelum api hitam waktu itu muncul, aku bertanya-tanya apa arti dari bahasa itu ya?"
"Bahasa yang tanpa sosok itu?" tanyaku, dan ia mengangguk. "Mungkin itu bahasa yang tidak terlalu berbahaya. Maksudku, bahasa perintah yang sepertinya menyuruh monster itu pulang kembali ke alam baka."
"Mungkin saja."
"Ternyata Masamune-dono bersama Tsuruhime-dono kencan ya?"
"Yukimura!?" seru kami serempak sambil mendongak menyebut nama pemilik pria berjaket kain merah yang kini berdiri di atas jembatan—diatas kami berdua dimana kami berada di bawah jembatan. Dia melipat tangannya bertumpu pada pagar pembatas yang lumayan tinggi di hadapannya, dan cara dia berdiri sambil membaringkan kepalanya pada kedua tangannya itu kelihatan sangat imut. Oh Yukimura, kenapa kau tidak ikut modeling saja?
"Masamune-dono, tadi aku mencarimu di rumah tapi tidak ada," ucapnya sambil menatap kami dengan mata merahnya. "Kojuurou-dono juga tadi."
"Little resting, Yukimura," jawab Masamune santai sambil tersenyum miris pada Yukimura yang sudah menampakkan ekspresi lain. Ia pun membelalakkan matanya ketika menatap raut wajah Yukimura yang tadinya muram biasa saja menjadi nampaknya benci dengan situasi kami berdua. Kedua matanya menyipit seakan membendung air matanya.
"Tidak apa-apa. Teruskan kegia—uhh," bulir-bulir tetesan air jatuh dari atas dan bergabung dengan aliran air sungai yang deras menuju ke hilir, yang tidak lain berasal dari Yukimura. Air mata Yukimura.
"Yuki?" Masamune terperangah hebat. Dan—
BYUURR!
Yukimura memajukan kepalanya ke depan diikuti badannya dan langsung saja terjun ke sungai dalam hitungan cepat. Gemericik air pun menerpa kami berdua yang dekat dengan letak posisi Yukimura terjatuh, membasahi kami.
"Dammit! Fool you!" Masamune membuka kemeja putih pakaian sekolahnya dan ikut masuk ke dalam air sungai, lebih tepatnya terjun ke dalam sungai dan berenang mengikuti arus dimana aliran airnya sangat deras saat itu.
"Masamune!?" aku cuma bisa berlari sepanjang tepi sungai menggiring mereka. Masamune berenang dengan cepat ketika melihat sepatu merah milik Yukimura yang muncul ke permukaan air sungai karena si pemakai tidak terpisah dengannya, menandakan tubuhnya masih mengapung.
—oOo—
"Yukimura! Yuki! Yuki!"
Masamune menepuk-nepuk kedua sisi pipi Yukimura ketika kami berdua membopongnya ke wilayah kami berdua makan tadi. Masamune memegang keningnya, memeriksa.
"Yukimura demam?" tanyaku dalam posisi berdiri di atas kepala Yukimura. Kedua tanganku kukaitkan satu sama lain di belakang punggungku, bermain dalam diam. Masamune mengangguk.
"Dia panas," katanya lemas. "What happen with you, Yuki?"
Aku menatap nanar Masamune yang terduduk lemas sambil memegangi kedua pipi Yukimura. Buliran air mata muncul dari pelupuk mata si mata naga satu ini. Mata birunya seakan mengisyaratkan, 'Bangunlah'.
"Yukimura, I'll do anything to wake up you."
"Kita bawa ke rumahnya saja?" usulku, tapi ia menolak.
"Yukimura memiliki Ayah yang tidak berperasaan. Aku takkan membawanya pulang jika Yukimura harus mendapat tonjokan di wajahnya hingga lebam ketika kubawa Yuki pulang," sahutnya.
"Si Takeda Shigen? Guru P.E. kita?"
"Ya. Kau tidak lihat saat guru P.E. kita yang berotot kekar itu menonjok Yukimura kita saat permainan voli tiga hari yang lalu!?"
Aku hanya bisa menatap wajah Masamune yang terpapar oleh perasaannya dimana bercampur aduk. Sedih, marah, dan rasa bersalah menyatu dalam isyarat wajahnya yang menyipit dengan matanya yang berkaca-kaca.
"It's my fault. All of these are my fault!" Masamune menunduk, hingga helaian rambut hitamnya menutupi wajahnya dari penglihatanku. "Aku sudah tahu ini! Yukimura memang sudah gila jika menyangkut tentangku! Tapi, aku tidak tahu dia saking depresinya sampai nekad terjun dari jembatan! What the heck of this?"
"Semua keluhan itu takkan mengubah apa-apa, Masa—"
"APA YANG KAU TAHU, TSURUHIME!?" potongnya dengan nada lantang. "Kau belum tahu rasanya ketika berada di posisiku, yang mengenal Yukimura sejak dulu! Yuki—Yuki— hiks..," suara Masamune mulai kaku dan serak.
BRUKK!
Aku terduduk lemas dengan mendarat di antara kedua lututku, ingin menangis. Masamune menatapku heran sambil tetap menunjukkan wajah benci dan marah. Bekas air matanya terlihat membekas dari pipi kirinya.
"Jika bukan karena kehadiranku, pasti takkan begini," sesalku dengan bibir bergetar. "A—a—aku, pembawa m—masalah?"
"You're not troublemaker, Tsuruhime," jawab Masamune sambil mengelap air matanya. "I'm sorry for my argument. Aku tahu ini semua salahku."
"Tapi, perlakuannya sejak kau dekat denganku selama 5 hari ini tidak wajar setelah aku memberitahumu ada tulisan peringatan itu. Aku ini penggangu ya?"
Masamune berdiri dan menghampiriku yang dengan susah payah menahan tangis, dan kemudian menarik tanganku dalam posisi menunduk.
"A?"
"Kau harus meminta maaf pada Yukimura, bukan denganku," katanya marah. Aku hanya diam menurut, walau rasanya takkan mungkin dapat menjawab rasa gelisahku saat ini.
Ia menarikku untuk ikut berdiri menghampiri sisi kanan Yukimura yang terbaring lemas. Kami berdua pun mendekati Yukimura dengan menurunkan kedua lutut kami, lalu memposisikan duduk.
"Yukimura, maafkan aku..."
Kusisir helaian poni rambutnya ke atas, dan kulirik wajah Masamune yang penasaran dengan apa yang akan kulakukan selanjutnya. Aku menggerakkan leherku menatap wajah Yukimura yang basah, lalu mulai memegangi keningnya dan—
BRUUKK!
—oOo—
-Yukimura Dream Place: Amusement Park-
"A—Apa ini?" aku menatap sekeliling dengan memutari tubuhku. Bianglala, komedi putar, rumah hantu, kios-kios makanan, dan segala perlengkapan yang biasanya ada pada festival sirkus atau semacamnya, lengkap disini. "Apa ini seperti kejadian Masamune waktu itu?"
"Aku benci Masamune-dono! Aku benci Tsuruhime-dono!"
"Yukimura? Kaukah itu?" sahutku ketika mendengar sayup-sayup pita suara laki-laki yang memang kukenal.
"Kenapa kau ada disini?"
Perlahan sesosok pria muncul di depanku, berjalan dengan santai dengan kedua lengan di sisinya lurus. Mata merahnya yang mencolok memang terlihat menakutkan. Rambut panjangnya yang ia ikat ekor kuda melambai-lambai di belakang punggungnya seiring ia melangkah.
"Yukimura? Kaukah itu?"
"Kau si pembuat masalah. Kau yang membuat semua hal ini terjadi," desisnya dengan senyuman yang seakan dipaksakan. Ia memalingkan matanya dengan dahi mengkerut.
"Kau salah paham, Yukimura!" bilangku, dan ia langsung menatapku marah seakan-akan tidak percaya dengan apa yang barusan kuucapkan.
"SALAH PAHAM APA? Pembohong! Sebelumnya Masamune-dono tidak begitu padamu. Kenapa dia sering dekat denganmu dan mengabaikan pertandingan kami belum seminggu ini!?"
"A—apa!? Itu sama sekali ti—"
"Tidak benar?" potong Yukimura. "Aku melihatnya dengan mataku sendiri, organku sendiri. Bagaimana bisa itu tidak benar? Kau racuni apa Masamune-dono?"
"Tapi, Yukimura... aku benar-benar tidak bermasuk merusak hubungan kalian..."
"Berisik," Yukimura tetap bersikukuh menuduhku. Rasanya tubuhku lemas karena pertama kalinya aku melihat Yukimura, si anak polos dan manja juga pecinta dango, tiba-tiba menjadi marah padaku. Apa yang telah kulakukan hingga menghancurkan persahabatanku dengan anak yang duduk di depan bangkuku? Yang sebelum kejadian ini terjadi, dia selalu menjadi orang pertama yang selalu menjadi pahlawan bagiku ketika diejek di dalam kelas?
"Benar, Yukimura! Cewek ini adalah masalahmu di dunia nyata! Karena dia disini, bagaimana jika kita membunuhnya langsung?"
Tampak sosok hitam berukuran dua kali lipat dariku dan Yukimura dengan mata merahnya menyerigai padaku di belakang Yukimura. Sosok seperti serigala bertanduk gelap menambah kesan ngeri padaku yang menatapnya tiba-tiba.
"Kau—"
"Nightmare, huh?" potong makhluk itu sebelum aku menebaknya. "Benar. Yukimura, jika kau disini selamanya, kau akan mendapat impianmu secara cuma-cuma. Ayahmu yang kau cintai perlahan akan memanjakanmu. Masamune yang jatuh cinta pada gadis tolol ini akan kembali, memberikan kehangatan padamu. Karena kita membunuh gadis ini disini."
"To—tolol!?" aku membelalakkan mataku kaget dan mulai emosi.
"Gadis yang kukira baik dan bikin gemas, ternyata adalah seorang pembuat masalah. Jika kau membunuhnya, aku akan mengikuti saranmu."
"As your wish, tiger hood~"
Serigala itu menyerigai seram padaku, tersenyum puas mendapat perintah Yukimura. Reflek aku perlahan berjalan mundur ke belakang dengan perasaan takut, namun ia kurasa semakin cepat langkahnya. Ketakutan, aku berbalik dan langsung hanya ingin berlari sekencang mungkin menjauhi sosok anggota nightmare tersebut.
"Eee? Mau kemana, Saint Princess?"
Ia melompat tinggi melampauiku dan mendarat di depanku, mencegatku untuk terus melangkahkan kakiku menjauhinya. Giginya yang tajam nan putih layaknya gigi hewan biasa ia tampakkan seperti serigala yang mencegat mangsanya untuk memulai pesta perburuannya.
'Apa aku akan mati di dunia ini?' aku dibuat mundur perlahan lagi karena sosok makhluk itu mendekatiku, menganggapku sebagai mainannya. Tubuhku kaku dan bergemetar.
"Saint Princess, keluarkan Seiryuumu!"
'Keluarkan?' tanyaku dalam hati.
"Kartu yang belum lama ini anda dapatkan! Ayo cium kartunya!"
'Ci—cium!?'
"Anda mau mati!? Sudah bertanyanya! Tidak ada waktu atau dia akan langsung menerkammu dan menelanmu hidup-hidup!"
Aku menurut. Kurogoh saku seragam sekolah putihku dan mengambil kartu yang kudapat sewaktu menolong Masamune lalu. Kartu berwarna biru dengan gambar ular naga persis ketika pertama kali kudapat sewaktu menyelamatkan Masamune.
"Mati kau, putri yang takkan dipercaya kawan! GYAHAHAHAHA!"
Aku buru-buru mendekatkan bibirku pada kartu itu dan menciumnya, dan jantungku terpompa kuat ketika tapak kakinya sudah akan siap menindihku. Aku menutup mata pasrah.
"JET-X!"
DUUUMMMM!
Aku membuka mataku perlahan akan suara aneh yang kudengar tadi. Sesosok lelaki dengan helm sabit kuning tengah berdiri menatap makhluk gelap yang terlempar dan menubruk bianglala besar disana.
"Masamune!?" pekikku kaget melihat orang yang melawan monster tadi adalah kawanku sendiri. Kostumnya persis ketika terakhir melawan buaya besar yang pernah akan membunuh kami berdua saat itu.
"Aku kaget ketika kau pingsan setelah memegangi kening Yukimura," omel Masamune, melangkahkan kakinya mendekatiku sambil melipat tangannya. "And something like your voice said "Masamune" I heard from my mind. Dan aku kehilangan kesadaran setelah itu. Rupanya..."
"Urusan kita belum selesai, Azure Dragon!"
Makhluk itu melompati Masamune dan menindihi kedua kakinya menginjak Masamune, dengan wajah marah. Ia menggeram kesal.
"W—what?" Masamune berusaha untuk keluar dari tindihan kedua kaki hitam itu, tapi percuma. Tumpuan kuasa makhluk itu Newton-nya lebih besar hingga sulit diangkat.
"Azure Dragon, ternyata kekuatannya hanya segini?" serigala itu tertawa lepas, menggila. "Kau takkan bisa menjadi pelayan Saint Princess, dan malahan akan menjadi bebannya."
"Aku—Aku tentu akan melindungi Tsuruhime—AKHH!" Masamune menjerit ketika tumpuan kaki makhluk itu semakin ditekan mengikuti gravitasi.
"LEMAH!"
"Masamune!" aku berteriak histeris. Kugerakkan kepalaku kesana-kemari untuk mencari sesuatu yang dapat kugunakan untuk menolongnya, dan menangkap Yukimura yang duduk dengan kedua kakinya telentang saat itu.
"Cinta itu egois," lirihnya. "Cinta itu sulit didapat."
"Yukimura?" tanyaku memastikan bahwa orang yang baru saja berbicara dengan menyangkut bahasa yang membuatku bergidik, adalah si pria yang kukenal tidak tertarik dengan hal semacam itu.
"Ayah selalu memukulku baik ada ataupun tanpa alasan. Tidak mempedulikan perasaan anaknya sendiri."
"Yukimura..."
"Namun perasaan itu tidak kurasakan ketika bersama Masamune-dono. Rivalku sekaligus panutanku," katanya lemah. Perlahan kulihat bola matanya mulai menghitam, melebar seakan ingin menyelimuti seluruh bola matanya.
"Gyahaha! Aku menang!" sorak monster itu melengking. "Anak itu akan menjadi anggota kami yang ke—"
"DEATH BITE!"
DUMMM!
Tubuh monster itu terlempar ke atas oleh enam katana yang menjadi cakar Masamune, bersamaan dengan Masamune yang langsung bangun. Pipi kirinya tergores karena sempat dicakar monster itu ketika terlempar, dan ia melengokku sambil menyeka darahnya yang mulai merembes dari lukanya yang menganga agak lebar.
"TSURUHIME! KAU INGAT DISKUSI KITA BEBERAPA HARI YANG LALU SEWAKTU MEMBICARAKAN YUKIMURA!?" peringatnya dengan suara nyaring, mengingatkanku.
"Memang kenapa dengan hal itu?" tanyaku kecil.
Day 3 After Saving Masamune, 16.00 p.m.
...
"Aku tidak percaya kau membatalkan janjimu dengan Yukimura barusan," kataku kecil. Kini aku dan Masamune berjalan beriringan di sebuah taman yang terletak di kota Tokyo, Jepang. Kami berdua masih mengenakan seragam sekolah karena kami tidak pulang saat bel pelajaran usai dibunyikan.
"This discussion is more important than having party with my little pussy," kata Masamune enteng.
"Sebenarnya diskusi apaan sih? Dan aku peringatkan, jangan pakai embel-embel bahasa asing," tegurku. Masamune tersenyum mengejek sambil menatap wajahku dengan kedua manik birunya.
"Of cours not, my—"
"Barusan kau bicara bahasa asing tau!" hardikku marah, memotong kalimatnya.
"Kenapa sih? Suka-suka aku," ejeknya.
"Dan aku tidak akan mendengar diskusi kita kali ini," ancamku. Masamune yang tadinya senyam-senyum berubah menjadi senyum kecut.
"Seperti biasa, tidak bisa akur denganku, ucapnya kecil. "Yukimura itu bukan orang yang pecundang. Jika dia marah, dia akan mengungkapkannya tanpa mengerem—meskipun itu kalimat yang bagi kita sangat menusuk."
"Aku juga berpikir seperti itu," sahutku sedih. "Beberapa hari ini, tepatnya tiga hari dengan hari ini, dia seakan-akan terus mengawasiku. Hawa tatapan matanya sangat kukenali dan bisa kurasakan malahan."
"He's just poor—"
"Masamune!"
"Oh maaf, aku kelepasan," kata Masamune dengan nada bersalah. Baru saja aku mengucapkan syarat jika ingin bicara padaku!
"Hahh, sudahlah, terserah bagaimana bicaranya. Aku mendengarkan."
"Hhh," Masamune mendesah nyaring. "Ya, Yukimura terbiasa aku manjakan. Sesibuk apapun pekerjaanku sebagai anak pengusaha kaya, aku tetap dapat memenuhi janjiku bertemu dengannya. Memang umurnya sudah 17 sebenarnya, tapi tingkahnya sangat bocah."
"Tapi Masamune senang kan?"
"Senang sekali," timpalnya. "Itu karena jika dia di rumah, selalu diusili oleh saudara angkatnya, si monyet 'Sasuke'."
"Sasuke? Sarutobi Sasuke?"
"Iyalah! Siapa lagi Sasuke yang sekelas sama kita?" sahut Masamune. "Kau belum lihat tingkah Sasuke terhadap Yukimura. Dia senang membuat Yukimura marah entah dengan cara apa. Dan saat itu muncul, dia akan meneriaki guru P.E. kita lalu kau akan tahu apa jadinya."
"Seperti insiden Yukimura tepar di UKS beberapa minggu yang lalu dengan bekas tonjokan seakan-akan dikeroyok massa. Aku sudah tahu sifat Ayahnya yang terlalu keras mengajari Yukimura akan norma."
"Ayahnya mengajarkan dengan cara yang salah."
"Kasih sayang berupa tindakan yang salah, dapat membuat anaknya gila nanti. Apalagi jika menonjok bagian kepala. Yukimura bisa gila gegara Shigen-sensei itu."
"Layaknya induk anjing yang mengajari anaknya agar tahan banting dengan menjatuhkannya dari lantai 4."
"Serius!?" tanyaku terkejut. Masamune tertawa sambil mengangguk.
"Makanya dia selalu bersamaku. Ayahnya juga sudah setuju jika aku memang cocok sebagai kawan Yukimura. Ayahnya merasa, anaknya akan nyaman jika selalu bersamaku. Sekaligus menahan nafsunya mengajari anaknya yang kelewat polos itu."
"Sampai sebangku, satu jalan menuju rumah, dan lainnya," kataku menerawang. "Enak sekali jadi kalian."
"Haha, kau kan ada Motonari," sahut Masamune. "Ajak saja dia sebagai tetanggamu."
"Mana mungkin! Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya!" tukasku sambil perlahan wajahku mulai memerah. Masamune yang semula tertawa keras, lalu mereda dengan wajah yang nampaknya mulai serius.
"Motonari tidak tahu kita disini kan?"
"Mungkin. Dia sempat bertanya di kelas cuma karena aku sendiri tidak ingat kita akan ngobrol dimana jadi aku tidak memberitahunya," terangku.
"Huu—bisa-bisanya lupa..." cibirnya. Aku pun terkekeh dengan polosnya.
"Maklum, aku cepat pelupa~ hehe."
"Sudahlah jangan dipikirkan. Daripada kita menghabiskan waktu kita disini dengan obrolan tidak penting," mulainya, padahal sendirinya memulai pembukaan saja lepas dari topik. "Ngomong-ngomong, kau bilang waktu itu Yukimura duduk di bangkumu, am I right?"
"Ya," jawabku pendek.
"Sehabis Yukimura mendatangi kita bukan?"
"Iyap," lagi-lagi aku menjawab dengan pendek.
"Kau ingat kita mengobrol berapa menit?"
"Emm, tidak terlalu yakin sih. Waktu istirahat kita 30 menit, dan naik turun atap sekolah ke kelas kita memakan waktu 3 - 5 menit setiap satuannya," terkaku.
"25 menit tersisa untuk kita ketika naik ke atap sekolah. Kau kira berapa waktu ngobrol kita?"
"Emm.. Mungkin 7 menit?"
"Exactly," katanya membenarkan. "12 menit kita gunakan di atap sekolah saja."
"Lalu?"
"Jika kau menjadi Yukimura kemudian keliling sekolah mencariku—dengan mengarungi seluruh tempat seperti kantin, halaman belakang sekolah, lapangan sekolah, dan lainnya. Menurutmu perlu berapa menit bagi dirinya untuk mencapai kesini? Bahkan 7 menit saja tidak akan cukup bagiku. Atap sekolah memang berlokasi paling jauh baik dari manapun yang tempat-tempat itu kusebutkan barusan."
Aku diam berpikir.
"Bahkan menemukan bukumu. Butuh berapa menit dia mencari bukumu yang di kau masukkan ke dalam laci mejamu dengan berdesak-desakan sambil menjaga agar tidak dicurigai kawan-kawan sekelas kita—meskipun Mitsunari sempat menangkap basah dia?"
Aku mulai mengerti apa yang dibicarakan Masamune.
"12 menit—dari tambahan waktu kita naik ke atap sekolah dan kita sempat ngobrol di atas sebelum dia datang, tidak cukup untuk semua itu kan?" tebakku. Masamune mengangguk.
"Iya," ucapnya. "Tapi aku masih belum bisa menyimpulkan dia tahu atau belum tahu akan jati dirimu, Tsuruhime. Tapi karena sikapnya yang berubah drastis itu dari baik menjadi kejam padamu, aku bisa menyimpulkan bahwa..."
Tubuhku bergetar dingin.
"Ada orang lain yang mengatur konflik kita dan Yukimura. Dan aku menuduh Motonari lah dalangnya."
"Ke—kenapa Motonari!? Bukankah bisa saja Kojuurou-sensei? Atau Yukimura memang tidak bisa menjaga imejnya lagi mungkin?" protesku.
"Pertama, Motonari anak baru. Mungkin sebab pertama ini kurang kuat. Kedua, kau bilang asal mula kejadian aneh ini dimulai dari Motonari dekat denganmu. Itu sudah menjadi tumpuan awal aku menuduhnya. Ketiga, kau bilang dia membaca buku tentang Sacred Beast. Kau tahu kan Seiryuu yang bersamaku itu adalah satu dari empat Mystical Beast penjaga mata angin yang mewakili kedewasaan dan lainnya entah apalah itu? Dan keempat..."
"Tidak mungkin..," kataku lemah sesudah ia mengambil sobekan tulisan ancaman Yukimura terhadapku yang ia lipat dan simpan dalam saku celananya, bersamaan dengan sebuah buku yang ia ambil di dalam tas ransel biru malamnya bersampul hijau muda. Ia membuka halaman buku catatan bahasa Jepang dan coretan itu bersamaan, walau kertas coretan tadi hanya ia paparkan tulisan 'Saint Princess'.
"Benar. Tulisan Motonari dari buku dan coretan akhir ini sama persis."
Runa: "Ehehehe..."
Tsuruhime: "Author ngapain?" *tengok author lagi main hp*
Runa: "Gapapa kok!" *langsung sembunyiin*
Motonari: "Biasalah. Dia habis stalk bio ff orang. Dan liat pin BB jadinya dia add."
Runa: "K-kok tau!?"
Motonari: "Habis liat history browser author."
Runa: *mojok*
"Tapi cuma 3 aja kok... Karena BBm-ku mati untuk sementara karena hapeku pendingnya luar binasa."
Tsuruhime: "Fuhh ga seru dong~! Padahal aku mau invite author~"
Runa: "Nanti aku akifin kalo udah mau publish fanfic baru kok! Soalnya kalo ngetik di hp dalam keadaan BBm aktif susah juga... panas."
Tsuruhime: "Jadi fanfic ini..."
Runa: "Mungkin butuh waktu lama untuk chapter selanjutnya. Maaf semuanya!" *bungkuk hormat*
Tsuruhime: "J-Jahat... Baiklah. Aku mengerti kok kondisinya.
Minna, jangan lupa review ya! Meskipun mulai habis aplod chap ini author mulai jarang kelihatan, tapi jangan patah semangat! Oye!"
Runa: "Ma-makasih ya Tsuruhime." *nangis darah*
