Runa: "Huah senangnya bisa lanjutin fanfic ini!
Soal Masamune, entah kebetulan atau apa, ceritanya di DJ sama ceritaku sama persis tema pikiran masalahnya. 'Orang yang berada di dekatku, pasti akan mati'."

Masamune: "Itu sepertinya cocok dengan watakku ya, thor..."

Runa: "Yah, mungkin. Untuk jawaban lalu, jawabannya hanya "kebebasan" kok! Soalnya kata "sangkar emas" sudah bisa dikaitkan dengan kebebasan. Tapi syukur saja tidak ada yang menebaknya, jadi aku bisa boboan~"

Tsuruhime: "Dan akhirnya gini deh!" *cubit pipi author yang tembem*

Runa: "Hueee maaf Tsuru-chan! Aku memang suka tiduran kalo panas~"

Masamune: "Dan alasan Yukimura dipilih 'Amusement Park' karena menggambarkan masalahnya yang 'ingin dicinta', dan tempat yang cocok untuk itu adalah tempat itu. Am I right?"

Runa: "100 buat Masamune! Dan bisa ketebak kan kenapa aku milih DJ room?"

Masamune: "Karena diskotik biasanya dilambangkan kebebasan yang sementara. Di ceritanya, aku memang ingin bebas, tapi takkan tahan bebas selamanya. Gitu kan thor?"

Tsuruhime: "Aku jadi bingung desu~"

Runa: "Ah Masmun pintar~" *puk-puk Tsuruhime*
"Baiklah! Setelah beberapa hari(?) absen, waktunya balasan review dari... Dissa-CHAlovers!
Ah ternyata Katsuie dan Sakon itu udah jadi tokoh utama rival selanjutnya ya... Aku kurang apdet..."

Tsuruhime: "Kok rival selanjutnya?"

Runa: "Ya kan saat SB 1 itu MasaYuki yang mencolok. SB 2 keliatan kayak Hideyoshi sama Keiji sih, tapi menurutku disana condong (dikit) ChikaNari. Lalu SB 3 itu YasuMitsu. SB 4 SaKat(?)."

Sakon: "S-sakat!? Wat the..."

Runa: Salah sendiri kenapa namamu aku suka panggil Sakon daripada Shima!"

Sakon: "Itu salah author dong!"

Runa: "Ga bisa!" *melet*
"Haha! Masmun cuma perlu pingsan biar bisa masuk kok.
Dan... Aku juga khawatir MasaTsuru ini apakah cocok atau tidak... Aku terlalu meng-OOC kepolosan Tsuruhime~" *nangis banjir darah*
"Baik! Selanjutnya dari FadjrinaH (sumpah, aku musti bolak balik buka note sama web karena takut salah nulis jadi FajrinaH).
Makasih jika suka dengan fanfic saya ahahaha~" *gila kumat*

Tsuruhime: "Author..."

Runa: "Ah ya! Ekhem! Ehem! Maaf, aku khilaf.
Soal Motonari jahat atau tidak, itu rahasia perusahaan redaksi."

Motonari: "Ngomong redaksi tapi cuma author doang nulis sama mikir sama aja boong..."

Runa: "Shuutt! Diem napa? Aku lagi serius nih!
Yuki... Yuki nasibnya akan ada di fanfic ini! Saksikan saja!
Selanjutnya dari... Meaaaa.
Kukira gak review tadi, syukur belum publish kemarin~
Huaaa aku salah ya? Kok jadi suka Yuki..." *nangis gegulingan*

Motonari: "... Haha..."

Yukimura: *makan dango sambil mandang auth*
"Kenapa dengan author?"

Motonari: "Lebih baik kau bersiap-siap di belakang tirai untuk persiapan uji banting. Sama dengan Date dan Tsuruhime."

Masamune & Tsuruhime: "K-kami?"

Motonari: "Ya iyalah! Cepat pergi sana!" *ngusir*
"Baiklah. Silakan dinikmati ceritanya. Kemungkinan chap 7 lebih cepat publishnya, karena sudah dibuat seiring dengan chap 6 ini.
Jadi maaf yang kaget karena fanfic ini tiba-tiba chap 7 ya."


—oOo—

Chapter 6 - Summon Byakko

'Benar apa yang dikatakan Masamune. Yukimura hanya merasa kesepian, tapi tidak membenciku,' yakinku dalam hati. Kembali kutatap wajah Yukimura yang kini tengah berubah—meski hanya matanya saja yang kini gelap tanpa terlihat lagi manik coklatnya. Untuk komentarku, Yukimura sudah masuk dalam daftar makhluk mengerikan, walau hanya satu saja yang berbeda dari dirinya yang biasa.

Masamune masih terus saja mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan monster tersebut. Sesekali ia menarik sisa pedangnya yang lain, lalu memasukkannya kembali ke dalam sarungnya. Berulang-ulang. Itulah style cara bertarungnya yang kutahu.

Apakah sekarang aku panik? Tentu saja aku panik! Aku tidak tahu harus berbuat apa!

"Masamune, Yukimura...," bilangku dari kejauhan ketika melirik Masamune yang masih bertarung dengan paparan wajah penuh penyesalan. Ia masih memposisikan dirinya melindungiku dari jarak jangkauan monster menyeramkan yang merupakan anggota nightmare itu.

"Just don't hurt him, Tsuruhime," pintanya sambil berbisik, membelakangiku seakan menjadi 'guardian' ku. Teguh melindungiku.

"Aku takkan menyakitinya, Masamune. Takkan mungkin. Tapi, masalahnya dia bukan Yukimura kita yang dulu."

"I know. But he's still Yukimura who our often seen. Bicaralah padanya, seperti kau bicara padaku dulu."

"Tapi waktu itu kau yang memulai pembicaraan."

"Lakukan saja semaumu, Tsuruhime!" jawabnya muak, atau memang sedang tidak bisa diajak ngobrol karena pikirannya sekarang hanya berkonsentrasi bagaimana cara untuk setidaknya membuat monster yang dihadapinya terlempar ke udara saja. Derap langkahnya menjauhiku pun terdengar kembali, dan jarak antara kami pun menjadi satu meter sekarang.

'Aku benar-benar tidak tahu bagaimana caranya,' pikirku, dan perasaan tidak enak menyelimuti tubuhku ketika Yukimura kulihat langsung berdiri. Saraf motorik bereaksi menggerakkan kakiku mundur secara perlahan memberi jarak antara aku dan dia.

Dia mendekatiku dengan menandakan kaki kanannya maju terlebih dahulu ke arahku, dan aku menegang saat itu juga.

GREP!

Sesuatu pun kurasakan seperti menyesakkan leherku, menjepitnya. Sosok pencekik dengan secepat kilat sudah berada di depanku. Yukimura mencekikku, mencoba membunuhku?

"Uh—sa—sakit," rintihku dan langsung melirik tanpa sadar wajah sang pemilik tangan yang menyekikku—yang mendekatkan wajahnya hingga jarak antara wajah kami hanya tinggal beberapa centi saja.

"Sakit kan? Beginilah rasanya sakit hatiku saat aku mengetahui kau menghancurkan hidupku."

"Yu—yuki, sakit—akh," dengan bersusah payah udara mencoba menggetarkan pita suaraku yang dijepit, mengeluarkan kalimat untuk menggambaran pikiranku. Memang tidak nihil, tapi tetap saja aku tidak bisa bicara banyak padanya.

Kedua tanganku masing-masing memegang kedua tangannya yang masih menyekikku, dan menariknya menjauhi leherku dengan segenap tenagaku yang masih ada. Mulutku menganga cukup lebar seakan merayakan bahwa aku bisa bernafas sekarang. Keringat dingin menetes dari pelipisku, menjalar pada kedua pipiku.

"Yukimura, aku, aku sebenarnya juga i—ingin me—njadi teman ba—ikmu," kataku tersendat-sendat menahan tenggorokan yang ingin batuk. "Bu—bukankah lebih ba—ik, ji—jika mempunyai teman lebih dari s—satu? Ohok! Uhuk uhuk!"

"Menurutku, hanya Masamune-dono yang terbaik," balasnya dingin. Tangannya memberontak untuk terus melekatkan jemari-jemarinya dan menekan leherku. Bernafsu ingin sekali menjepit tenggorokanku agar sang pemilik mati dengan tidak bisa bernafas.

"M—masamune takkan selamanya terus di—uhuk! disampingmu, Yukimura. Kau kan tahu j—jika—"

"Jika sekarang dia selalu bersamamu?" tepisnya. "Aku sudah tahu. Dia akan selalu bersamamu sekarang."

"Yuki..."

"Mati bersamaku, Tsuruhime!"

Ia mendorong tanganku kuat dengan tangannya, hingga terlepas dari pemberontakan tanganku. Kembali ia mencekikku, dengan kini semakin kuat. Kurasakan tenggorokanku terjepit oleh jari-jari tangannya, mencegat leherku.

"Yu—Yuki—"

"YUKIMURA!? YOU BAST*RD!" maki Masamune ketika melihat Yukimura sudah melakukan hal yang aneh terhadapku, diluar batas KEWAJARAN.

"Masamune! Ukhh—tolong—" aku tidak bisa mengatur nafasku lebih lama. Cengkeramannya sangat kuat karena wajar tenaga laki-laki sekuat ini. Kini harapanku hanya satu, menatap Masamune seakan meminta tolong hanyalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan sekarang. "Ma—Masamune—"

"Tsuruhime!" ia mengambil seribu langkah menuju ke arahku saat kuyakin lebam biru sudah membengkak di selingkaran leherku yang dijepit.

"Jangan lengah ketika musuh didepanmu masih kuat menyerang," ejek monster itu ancang-ancang mengangkat kaki depan kirinya, dan mencakar punggung Masamune yang berlari ke arahku dengan satu kuku tajam yang dimunculkannya dari balik buku-buku jarinya.

"Akhh!" Masamune jatuh dengan kepalanya mendarat lebih dahulu di tanah, terhempas oleh dorongan cakar monster tersebut. Helm yang ia pakai terlempar jauh, hingga menampakkan helaian rambut hitamnya secara menyeluruh.

Aku sangat mengkhawatirkan kondisi kami sekarang. Kami terjepit.

"Yuki—sadar Yuki—" jeritku di sela-sela nafasku masih berjalan, ketika sekuat tenaga kudorong kedua tangannya dengan tanganku—melonggarkan saluran tenggorokanku.

"Aku takkan puas sebelum kau mati."

BUAKH!

Dengan kekuatan yang tersisa, aku memusatkan kekuatanku pada siku dan menyikunya sangat bengis. Awalnya aku mengincar dadanya, tapi entah kenapa malah terkena hidungnya akibat aku tidak bisa berkonsentrasi karena kekurangan oksigen.

Dia melepas cengkeraman tangannya, mengelus hidungnya yang berdenyut kesakitan—meringis dalam diam. tubuhku kurasakan lemah, siap untuk ambruk kapan saja ketika kekuatan pijakan kakiku tidak tahan lagi melawan massa gravitasi.

"Masamune a—uhuk! Akan s—sedih Yuki—hahh."

"Sedih? Memang itu yang kuharapkan, agar dia tidak mengulangi kesalahannya seperti sekarang!" kembali ia memposisikan tangannya mencoba mencekikku seperti awal. Sepertinya di dalam pikirannya kini dia benar-benar terobsesi ingin aku mati. Tidak ada kata menyerah baginya. Itulah Yukimura yang aku—Masamune atau seluruh penghuni Basara High School, ketahui tentangnya.

DUAKH!

Antara gerigitan atau marah—dengan naluri seorang cewek, aku kini hanya membiarkan instingku bekerja dan kaki kananku kuangkat. Entah apa yang dipikirkan saraf motorikku, kaki kananku menendang tepat diperutnya, mendorongnya hingga tersungkur ke tanah.

"Apakah itu—hahh, bukti bah—bahwa k—kau menyayangi—di—dirinya?" dengan berusaha keras aku masih mengoceh. Salahkan naluri wanita dalam diriku!

Kuhirup nafas kencang, membuka mulutku perlahan dengan nafas sedikit yang keluar, lalu,

"KAU TAK SADAR BAHWA KEEGOISANMU AKAN CINTA HANYA MEMBAWA MALAPETAKA BAGIMU!?"

Yukimura terbaring di tanah dengan matanya yang mulai memutih, menampakkan manik coklatnya. Matanya berkaca-kaca, dan tak lama setelah itu bulir-bulir air mata mulai keluar dari pelupuk matanya.

"Masamune-dono... Hiks! A—aku menyayanginya... Sungguh... Hiks!" ucapnya kecil disela-sela isakannya. Aku menerawang dengan masih terus mengstabilkan nafasku. Akhirnya dia sadar.

Baru saja aku ingin merayakan kemerdekaan karena mengembalikan Yukimura, kepalaku tiba-tiba berdenyut hebat. Masamune langsung menangkapku saat tubuhku lunglai menandakan tidak sanggup lagi berpijak.

"Menyayangi memang tidak salah, Yukimura. Tapi, jika sampai menjatuhkan pihak lain itu lain ceritanya. I'm believe your heart," lanjut Masamune sambil menyanggahku. "I believe you don't want to kill that girl. Are you remember, you ever said, "Tsuruhime itu gadis yang beda dari yang lain"? ketika upacara penerimaan siswa baru dahulu."

Yukimura bilang seperti itu?

"Ahaha! Benar, Masamune-dono... Aku lupa hal itu karena rasa cemburuku yang sangat besar," balasnya.

"Huh? Jadi kau tidak mau ikut bersamaku?" tanya monster itu kesal. "Baiklah. Itu yang kau mau. Kau akan menyesal karena menolak impianmu sendiri!"

"ITU BUKAN IMPIAN YANG KUINGINKAN SEKALI!" sahut Yukimura yang tau-tau sudah duduk tanpa kulihat. Ternyata keadaanku mulai sangat memburuk, sampai semua gerakan mereka kulihat serba instan.

"Apa? Dasar manusia bodoh!"

"Aku. Aku tidak kesepian! Aku dicintai! Aku dicintai Ayah, Sasuke, dan Masamune! Sekarang pun Tsuruhime juga mencintaiku!" ucap Yukimura lantang sambil berdiri dengan gagahnya.

Aku yang mendengarnya langsung merasakan reaksi panas menyelimuti tubuhku. Terharu. Satu kata itu yang tergambar oleh dalam hatiku sekarang.

"Tidak kesepian? Heh, bodoh."

"AKU PUNYA BANYAK TEMAN YANG MENYUKAIKU!"

Yukimura... Aku, bahagia mendengarnya. Pertama kalinya ada yang mengakui keberadaanku.

"Teman adalah harta karun berharga dari permulaan sebuah kebahagiaan, jadi jangan pernah meragukan hal tersebut meskipun kadang mereka pernah membencimu bahkan mengkhianatimu. Anda berhasil membuka hewan mitologi kedua setelah Seiryuu setelah mendekatkan hati anda padanya. Saint Hime memang benar-benar patut diandalkan!"

Kembali kulihat hal serupa saat setelah mendengar suara asing itu berbicara dalam benakku. Ya. Sebuah kartu bercahaya tapi kini berwarna kuning turun di depanku. Aku menyambutnya dengan telapak tanganku kugadahkan, dan kartu itu langsung tergeletak di telapak tanganku. Gambar sebuah macan atau harimau putih, tergambar di dalam kartu tersebut.

"I'm one from four Sacred Beast who rule lightning element from the West with my another name 'White Tiger'. Now i'm your servant, will show my faith to Saint Princess. Kissing me, my majesty."

'Mencium lagi?' tanyaku dalam hati. 'Apakah tidak ada hal lain selain mencium? Misalnya diinjak atau apa...'

Bodohnya aku sempat berpikir seperti itu, saat kesadaranku sedang dalam keadaan kritis.

DUMMM!

Monster itu melompat dan menindih Yukimura dengan kedua telapak kaki depannya, seakan menahan mangsanya yang mengerang ingin keluar. Masamune membaringkanku di tanah dengan pelan namun terburu-buru saat melihat sepertinya Yukimura berada dalam bahaya.

"Tch! Yukimura!" seru Masamune yang berlari sambil menarik keenam katananya seakan-akan menjadi cakar yang siap untuk mencakar monster tersebut.

"Saint Hime, apa yang anda pikirkan? Cium!"

Tanpa berpikir lebih panjang karena desakan keadaan kami, aku mencium kartu tersebut dengan lembut.

BZZZTT!

Monster itu terlempar ke arah arena roller coaster, menimpa salah satu arena bermain paling populer itu saat sebuah kilat petir menyambarnya, hingga roboh dan latar bangunan rubuh kembali terlihat.

"M—macan?" lirihku saat harimau putih berlari dari atas langit dalam keadaan terbaring, disambut oleh awan hitam yang memunculkan kilat dengan suara menyeramkan mengelilinginya. Harimau itu menuju arah Yukimura yang terkulai lemah dan cahaya kuning terang menyelimutinya.

Saat putaran angin yang mengelilinginya membentuk lingkaran perlahan lenyap, Yukimura sudah berdiri gagah dengan berpakaian samurai serba merah disamping harimau putih itu menghilang tanpa bekas. Ia memakai ikat kepala dan dua tombak dipegang pada kedua sisi tangannya. Pusat perutnya terlihat dan memakai celana putih dengan corak api merah di bawah sampai lutut.

"Wow, Yuki terlihat keren," ucap Masamune.

"Byakko!?" geram monster itu. "Tch! Aku bisa sama gagal dengan buaya jelek itu? Aku tidak percaya!"

Yukimura langsung berlari ke arah monster itu dengan kedua ujung tombaknya yang berapi, dan melempar monster tersebut ketika monster itu melompat dengan dorongan tombaknya.

"Masamune-dono! Ini—Ini keren!" dia terpesona dengan dirinya yang berubah selagi monster yang diambungnya masih menjauhi gravitasi.

"Kau percaya denganku sekarang kan, Yuki?" Masamune menyerigai sambil mempersiapkan kuda-kuda dan menodongkan satu ujung pedangnya mengarahkannya pada monster tersebut. Yukimura sudah melompat dan hanya menunggu monster itu menjajarkan tubuhnya padanya sebelum serangan terakhir digunakannya.

"Magnum step!"

"Tsuzakusou!"

BLAARR! BWOOSSH!

Setruman petir dan kobaran api dari udara langsung menewaskan tubuh tersebut menjadi asap hitam yang betebaran, lalu menghilang seiring Yukimura mulai mendarat dengan sempurna.

"Nice combination, Sanada Yukimura," puji Masamune yang kembali menyimpan pedangnya ke dalam sarung. "Akhirnya dia benar-benar tewas."

"Ini lebih seru daripada main game virtual!" Yukimura memutar-mutar salah satu tombaknya, tombak kanannya, dengan wajah senang. "Aku seperti ada di game 'Mortal Com*at'!"

Kepalaku terasa berputar-putar, hanyut. Tidak sanggup kutahan, aku memejamkan mataku. Padahal aku juga ingin merayakan keberhasilan kami, jika saja tubuhku tidak down sekarang. Kujamin, aku yang paling berisik. Pasti.

"Tsuruhime?" Masamune yang melihatku pucat pun berjongkok, menunduk menyamakan tatapan matanya denganku. "Are you alright?"

"... Aku bisa tahan kok," kataku mencoba menenangkan mereka. Kesadaranku pun mulai hilang, dan tanpa sadar mataku menutup dengan sendirinya dengan rasa berat. Kini yang kulihat hanya dunia hitam tanpa batas.

"Bangun, Tsuruhime!"

—oOo—

"Lumayan aku kini pakai alasan jenguk teman demi libur kerja."

"Tidak tahu diri."

"Motonari, habis ini kita—"

"Kalian berdua bisa bicarakan hal itu diluar? Muak!"

Mendengar suara ribut, kesadaranku pun pulih dan kubuka mataku perlahan. Kupandang sekeliing ruangan yang kutempati, lebih tepatnya kubaringi sekarang. Ruangan kotak dengan cat putih, dan pot-pot bunga bertengger di sebelah daun pintu seakan menyambut tamu yang akan datang ke kamar ini. Terlihat dua pria yang kukenal sedang berkelahi di atas kursi, agak jauh dariku. Lalu, ada satu pria lagi yang kini di dekatku. Ia menatapku, membalas tatapanku.

"Tsuruhime, kau sadar?"

Dia adalah Date Masamune.

"Nghh..," aku melirik pemilik suara yang terlebih dahulu menyadari aku telah siuman. Masamune tampak berdiri di sampingku sambil melipat kedua tangannya, menatapku senang.

"Kau tertidur 4 hari," ucap Masamune mulainya, menyambutku.

"Benarkah dia terbangun?" sorak suara lain, yang tidak bisa kulirik sekarang. "Aku panggilkan kakaknya—ah maksudku Magoichi-sensei."

"Tolong ya, Motochika!" suara lain menyahut. Pemilik suara ini mendekatiku, hingga aku bisa jelas melihat wajahnya. Mouri Motonari ikut berdiri di sebelahku, menyambutku yang siuman.

"Ah aku tertidur lama ya?" kataku lemah. "Dan... aku dimana?"

"Sebaiknya jangan dipaksakan. Lehermu masih lebam. Kata dokter kau butuh 2 minggu disini untuk sembuh. Kau dirumah sakit sekarang," jelas Masamune. "Yukimura tadi menunggumu. Hanya, dia kini disuruh Ayahnya untuk pulang karena hampir larut malam."

"Tsuruhime, kuharap kau cepat sembuh," ucap seseorang di sebelah Masamune tengah memperbaiki kacamatanya dengan senyum tipis yang dipaksakan.

"Mo—Motonari... makasih.." kataku lemas.

"Kalian pulang lah. Aku akan jaga disini sendiri sampai kakaknya muncul," timpal Masamune. Motonari mengangguk sambil memberikan tatapan maut penuh arti pada Masamune.

"Aku takkan biarkan kau menyentuh dirinya, Dokuganryuu," bisik Motonari sinis.

"Bukannya aku yang harus bicara begitu?" sahut Masamune tak kalah sinisnya. "Aku akan terus mengawasimu, Motonari."

"Terserah."

"Mouri! Ayo kita pulang!"

Setelah mereka yang menjengukku keluar kamar, Masamune menggerakkan tanganku dan menyisir rambutku dengan lembut.

"Its my fault to not guard you last time," sesal Masamune.

"Sudahlah, ini sudah terjadi..." kataku halus dengan nafas sesak.

"Jangan bicara dulu, Tsuruhime!" cegahnya. "Oh ya, aku waktu itu sudah bertanya pada Motonari apakah dia di kelas saat istirahat ketika adanya coretan ancaman itu. Tapi dia bilang dia menjelajahi sekolah untuk melihat eskul yang aktif."

Aku menarik nafas ingin bicara, namun jari telunjuknya menahan bibirku mengisyaratkan agar aku tidak bicara dahulu.

"Kurasa, kita bicarakan ini until you feel better, right?" ia mengangkat tangannya setelah memberi isyarat tadi dengan senyum masam, dan kujawab hanya dengan seulas senyum lebar.

—oOo—


Runa: "Hahh... Cinta ya. Biarpun aku author yang hobi nulis romance, tapi itu imajinasinya cuma dari hasil referensi koleksi komik shoujo-ku dan roleplay OC-ku di grup RP."

Motonari: "Pantas cuma bisa nulis BL."

Motochika: "Temannya cowok semua sih! Haha! Kan, semua teman cowoknya jadi ngira cuma sebatas 'teman' doang~"

Runa: *death glare pada Motochika*

Motonari: "Sampai-sampai waktu kecil hobi ngoleksi mainan dari China alias figuran Naruto atau Yugioh dan lainnya, lalu kartu-kartu gambar Naruto atau Pokemon dan lainnya."

Tsuruhime: "Sering buat layang-layang juga lagi kecil? Wow... tapi lucu biar bikin layang-layang bisa terbang mudah, akhirnya takut naikin layang-layang sampe tinggi."

Masamune: "Seleranya parah, gak kayak cewek!"

Runa: #tewas di tempat.

Motochika: "Heh, tapi jangan salah loh. Tanggal 12 April 2012, Author—"

Runa: "SHUT UP!" *siapin catatan*
"Kalian boleh bicara saat aku kecil nistanya bagaimana, tapi yang berani ngumbar cerita hororku soal genre 'itu' bakal aku tulis sketsa ceritanya dengan kejam!"

Masamune: "Halah~ Mana mungkin! Kalo dibikin gitu, ceritanya ga bisa lanjut~"

Runa: "... Masmun, kau hebat ya bisa baca pikiranku.
Tapi aku bingung kalian tau semua itu darimana."

Motochika: "Gampang, dari catatan blog author dan memo hp author. Wuhh... "

Runa: 'Pantas.'

Tsuruhime: "Thor, pembaca author!"

Runa: "Huaaahh!" *lari menjauhi lainnya sambil nangis*

Yukimura: "Kalian sih."

Masamune: "Kami cuma bilang hal yang perlu kami bilang kok." *ngupil*

Tsuruhime: "Jorok tau!
Maaf pembaca sekalian atas belakang layar kami yang makin gak jelas ini!
Baiklah~! Author ingin minta saran kritik! Boleh cabe rawit boleh cabe kering!"

Motochika: "Atau gula tebu kering!"

Yukimura: *tendang Motochika*
"Maksudnya boleh Flame atau Concrit Motochika-dono..."

Tsuruhime: "Ya intinya review lah! Kalian ini..."

Runa: *nimbrung lagi*
"Oh ya, karena aku ngambek parah sampai mengalahkan dewa Zeus, maka cover untuk fanfic ini dari buatanku, tidak jadi kubuat!"

All: *kena BG halilintar semua kecuali Mouri*

Tsuruhime: "Hueee~ Padahal aku mau liat diriku saat digambar Author!"

Runa: "Lagian ada alasan lain aku menundanya. Suzaku chibi kubuat imut, lalu Seiryuu chibi mulai kusut, Genbu chibi parah, dan Byakko chibi malah kehenti. Jadi, aku tidak ada inspirasi lagi!"

Tsuruhime: "... Hiks..."

Runa: "Tapi aku buat doujin TsuruNari kok. Kissu lagi. Ada Masmun nempil juga disana."

Masamune: "Hah!?"

Runa: "Ya ceritanya dikau cemburu habis liat Motonari kissu Tsuruhime."

Tsuruhime: "M-mau liaatt!"

Runa: "Add pin bbm-ku aja. Aku sekarang aktif disana saja kalau soal art atau status. Entahlah, rasanya fb makin seram aja untukku."

Tsuruhime: "Let me guess! Pasti ngindar dari seseorang ya?"

Runa: "Bukan seseorang lagi. Banyak. Kau tahu kan aku orangnya gimana jika melihat nama fb mereka aja?"

Tsuruhime: "Duh thor, jadi makin horor nih."

Runa: "Jangan takut gitu ah. Oke author terbang dulu ya!" *melayang(?)*