Kisah si upik abu Chapter 3.

.

.

.

Selama ini sang ibu tiri yakin kalau tokoh antagonis dalam kisah yang sarat akan kejiwaan ini adalah dirinya dan anak tirinya. Tapi ia baru sadar kalau kata itu lebih serasi jika dipadu padankan untuk dua orang Namikaze bersaudara yang kelewat gila.

.

.

.

Setelah didepak sang ibu tiri dari dalam kamar sang kakak tiri—karena dari pada membantu mereka lebih cenderung merusak keadaan— Naruto dan Kyuubi hanya bisa membatu di ruang tamu.

Naruto kini tengah dalam keadaan nelangsa. Ia tidak bisa pergi ke dapur, tempat favorit kedua setelah pohon beringin di belakang rumahnya. Karena tempat itu sudah blokir—dipasangi garis polisi, zebra cross, ditaburi air suci dan diolesi odol— membuat Naruto kini tidak bisa lagi memasukinya untuk memasak makan malam, makan subuh dan makan sore.

Sedang Kyuubi, ia misuh-misuh karena kekasih sejatinya—obeng-obeng, kunci inggris, serta seluruh keluarga dari sejenis besi itu telah diusir si ibu tiri ke gudang ganja-plak- tebu milik tetangga dari tetangga yang kemudian bermusuhan dan mempunyai buyut dengan tetangga sebelah itu sendiri—kini ia tidak bisa lagi mempereteli kulkas, kereta malam peninggalan ayahnya ataupun memperbaiki gaun-gaun yang sudah rusak manik-maniknya. Kyuubi jadi delima.

.

.

.

Di sore-sore buta itu, munculah dari balik hutan sepuluh orang misterius dengan kecepatan luar biasa.

Jubah-jubahnya yang kelam melambai akibat angin twilight, ditambah instrumen kematian yang seolah terdengar di sekitar tempat tersebut, semakin membuat kesan mengerikan pada fanfic ini.

"Kita sudah sampai," ucap salah satu dari sepuluh shinobi misterius itu dengan nada yang juga sangat misterius.

"Baiklah kita mulai saja misi kita." suara dari sebelahnya setengah mendesis.

Kesepuluh orang itu hampir melompat bersamaan menggunakan jutsu mereka masing-masing. Kalau saja salah seorang dari mereka tidak menyadari sesuatu.

"Tunggu dulu!" ucap satu-satunya gadis di kelompok sangat misterius tersebut. "Tidakkah kalian menyadari bahwa ini bukanlah istana Taka di Konoha!"

Sambil menyipitkan mata, mereka menatap daerah di kejauhan sana. Yang bertuliskan cemetry. Atau bahasa kerennya TPU.

"Err, entahlah aku tak bisa membedakan Konoha dan Shibuya, un, " sahut yang satu dengan tidak yakin.

"Hmmm... Aku yakin ini bukan Bandung," pemuda misterius berambut merah berkata dengan hati-hati.

"Dan pasti ini bukanlah Jakarta." pemuda misterius penuh tindikan menambahi. Kesan misterius dan penuh teka-teki makin bertambah ketika melihat wajahnya.

Gadis itu menabok pemuda—tindikan— itu dengan koran bekas miliknya. "Bukannya kau leader di kelompok ini dan yang merancanakan ini semua! Tapi kau bahkan tidak mengingat apapun rencana kita tadi malam. Apa gunanya kau memandu kami semua, Pein?"

Gadis itu ingin menaboknya lagi namun sang pemimpin Akatsuki yang belum kita ketahui namanya di chapter ini dapat mengelak walau sedikit terkena—apaan tuh.

"Maaf, aku sedikit terlena," ucap Pein yang belum kita ketahui namanya ini. Ia tersenyum simpul, yang membuat gadis misterius berambut pendek ini menjadi sangat dongkol.

"Terlena dari Hongkong!" sembur gadis itu marah.

"Hongkong tak ada dalam peta di cerita Naruto, Konan!" teriak sembilan orang misterius yang bahkan nama kelompoknya itu masih belum kita ketahui.

.

.

"kami akan pulang jam dua malam, tepat ketika lonceng kerajaan berdentang tiga belas kali, dan ayam jantan mulai berkokok." sang ibu tiri memberi sebuah pesan singkat. Pemberitahuan lisan kepada dua anak tirinya yang kelewat kepo, rempong, sekaligus urakan tersebut.

"Jangan ngapa-ngapain. Kumohon sekali ini saja jadi orang baik-baik. Bisa, kan?" si ibu tiri berujar halus sekali.

"Kenapa Nyonyah ikut-ikutan juga ke acara itu?" Kyuubi mencueki omongan ibu tirinya. Balik bertanya dengan mata mendelik curiga. Jangan katakan kalau sang ibu tiri juga ingin ikut bersaing dalam sayembara bodoh ini!

Si ibu tiri mendengus. "Dodol! Tentu saja aku harus ikut pergi. Aku mesti menyaksikan kemenangan putriku tercinta, melihatnya memakai mahkota dan menggondol piala citra."

"Emang ini acara Putri Indonesia!" maki Kyuubi. Ia sewot, marah sekaligus sebal—Sewot karena ibu tirinya begitu bodoh. Marah karena dirinya sebenarnya kelaparan tapi tidak tahu mesti makan apa. Dan sebal karena Naruto masih menghafal-hafal naskah di pojokan sana.

"Sudahlah, aku tak ingin membuang detik-detik yang berharga dengan meladeni kalian," ucap si ibu tiri sambil naik ke dalam kereta setelah sebelumnya menyuruh Sakura naik lebih dulu ke atas kereta kuda yang di sewanya dari keraton Jogja di Manado sana. Kemudian merekapun berangkat dengan perlahan, cenderung lamban, dan terkesan sangat ngesot.

"Yah, rumah jadi sepi deh." Naruto bersender pada pintu yang telah digembok ibu tirinya dari luar rumah. Ia takut dua Namikaze stres itu akan menguntit mereka hingga ke istana pangeran.

"Apa yang mesti kita lakukan?" tanyanya pada Kyuubi.

"Entahlah, Naru. Hari ini lagi ga ada siaran bola. Dan aku lagi malas merampok toko bunga," ucap Kyuubi yang ingin pergi tidur. Si pirang mengikuti dari belakang.

Namun, belum lima langkah—seperti penggalan lagu Uut Permatasari—mereka berjalan, sebuah bunyi brak-brak dan asap mulai mengepul dari tengah-tengah ruangan.

"Apa itu?" desis Kyuubi.

"Kebakaran!" Naruto berteriak kencang-kencang. Ia ingin berlari ke arah loteng.

"Tenang, Naruto, itu bukan kebakaran." Kyuubi menarik kerah baju Naruto, mencegah si pirang yang ingin pergi ke arah loteng, untuk mengambil baygon dan bensin serta pemantik api.

"Terus itu apa?"

Dan pertanyaan Naruto terjawab dengan kemunculan seseorang berwujud wanita berambut panjang dari dalam kepulan asap tersebut.

"Sandal bolong," desis Kyuubi dengan terperangah.

"Sundel bolong!" ralat si perempuan berambut merah tersebut, "dan aku bukan makhluk ghoib dari jenis itu. Namaku adalah..."

"Uzumaki Karin," Naruto berkata dengan hati-hati.

Kyuubi menatap Naruto dengan pandangan penuh rasa tidak percaya, setengah kepalsuan dan sekeping penghianatan. Bagaimana seorang Naruto bisa mengetahui nama seorang gadis? Gadis tak jelas rimbanya lagi.

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Kyuubi dan Gadis bernama Karin itu bersamaan. Mereka penasaran pada Naruto, dan menerka-nerka apakah mungkin si pirang mempunyai kekuatan cenayang sejenis rubah bulukan mistis di udelnya?

"Yah, aku pernah melihat gadis itu bermain dalam sebuah film gay—"

"Hei!" Si gadis berambut merah tidak terima dikatai begitu. Karena hal itu tidak benar.

"Dan ia berakting sebagai seorang fujoshi."

Karin mingkem. Bagian itu ada benarnya.

"Jadi, ngapain kamu kesini?" Kyuubi berkata dengan ketus cenderung pedas ditambah sarkatis yang dipenuhi optimis.

"Kali ini aku bermain menjadi Peri," ucapnya sambil memperbaiki letak kaca matanya.

"U-untuk apa?" tanya si pirang tidak paham.

"Untuk menolongmu, Naruto." gadis berambut merah itu berjalan mendekati Naruto dan memegang jemari sang pemuda. Kyuubi mulai menyetel lagu poco-poco.

"Untuk apa?" ulang si pirang lagi. Ia sebenarnya lupa dialog setelah 'untuk apa'.

"Supaya kau dapat bertemu dengan jodohmu." binar mata Karin mengingatkan Naruto dengan sebiji artis papan atas hollywood, yang akhirnya meninggal karena kebanyakan makan kacang rebus, tapi ia lupa nama depan, tengah dan belakangnya.

"Untuk a—"

"Berhenti mengatakan untuk apa, Naruto!" Karin berujar dengan beringas, Naruto mingkem dan Kyuubi mulai membaca komik Yaoi dengan mata tertutup rapat. "Aku ke sini datang untuk membantumu. Karena kau adalah anak dalam ramalan para peri."

"Cih, kau pikir ini cerita Cinderella?" Kyuubi bertanya dengan nada marah yang dibuat-buat merica bubuk banyak-banyak. Ia melemparkan komik yaoi di genggaman kakinya kepada karin. Yang dibalas Karin dengan membacanya di pojok ruangan.

"Kau pikir ini film jelangkung?" Karin balik bertanya, skeptis. "Ya iyalah ini cerita cinderella. Dan aku adalah ibu peri dalam cerita berseri ratusan episode ini." dan Karin sendiri yang menjawab pertanyaan yang keluar dari bibirnya tersebut. Membuat Kyuubi mulai puyeng-puyeng dan muntah-muntah.

"Jadi ak-aku..."

"Iya Naruto. Takdirmu adalah bertemu dengan seorang pangeran."

"Tapi a-aku, kan... se-seorang—"

"Aku tahu," potong Karin lagi. "Kau seorang lelaki, tapi takdirmu telah mengatakan demikian. Meski pedih kau harus bisa menerimanya." Karin mencoba membuat Naruto paham, tabah dan menyemangatinya.

"Bukan itu, aku ini seorang Uke atau Seme?" bantah si pirang. Ia cuma ingin bertanya apakah dirinya seorang Seme, Uke, ataukah ketiga-tiganya.

"Tentu Saja Seme-lah!" teriak Kyuubi histeris dan mulai marah-marah kepada Karin dan juga author yang berada di seberang ruangan, tengah mengetik dengan jari kaki.

"Ehem, mungkin itu bisa kita debatkan tahun depan, Naru," Karin terkekeh hambar. "Tugasku hanyalah membawamu ke acara pesta dan..."

"Bertemu sang pangeran," sambung Kyuubi dan Naruto bosan.

"Hehe, benar sekali. Baiklah pertama-tama," Karin mulai menginvestigasi pakaian Naruto. Sendal jepit kaos oblong, jeans selutut, topi jerami dan tiga codet di masing-masing pipi.

"Tunggu, kenapa kau mengenakan kostum Luffi di one Piece sih?" pekik Karin Frustasi.

"Kau pikir aku harus menggunakan apa? Aku jenuh menggunakan jaket oranye, ikat kepala, bersimbol obat nyamuk, mengejar seseorang pemuda berambut pantat ayam untuk kembali ke kandangnya, serta mengucapkan dattebayo seumur hidupku!" Naruto berteriak, ia mulai komplain dengan sisi lain hidupnya. Ia capek. Ia gerah, ia ingin menanggalkan seluruh bajunya. Ehem—maksudnya menanggalkan pelik masalah dalam hidupnya.

"Lu-lupakan saja kalau begitu," Karin berujar. Ia malas berdebat dengan anak titisan landak—plak—anak rubah maksudnya.

"Sekarang kita lihat wajahmu," Karin mulai menggunakan kaca pembesarnya. Mengintimidasi kulit wajah Naruto yang baby face.

"Nah, baiklah. Aku sudah bisa membayangkan apa yang akan kau kenakan Naruto," ucap Karin dengan gembira. Ia melambaikan tongkat sihirnya. Ke arah si pirang. Dan puff, dalam sekejap Naruto di kelilingi kabut berwarna pelangi cacat.

Akan jadi apakah si pirang?

Bersambung.