Runa: "Hue padahal udah merencanakan aplod chapter 7 dengan cepat~ Tapi, kerjaanku menyita waktu luangku~"
Tsuruhime: "CIE YANG UDAH KERJA! PAJAK KERJANYA MANA?"
Runa: "JANGANKAN PAJAK, UANG DAPET LEMBURAN AJA GAK DAPET WOI!"
Motonari: "Aku sudah memprediksi bahwa fanfic ini akan segera berjamur."
Runa: "... tidak tahu deh."
Tsuruhime: "Huehehe ayo kita balas review pembaca! Karena chapter lalu spesial banget sampe 5 yang review!
Baik, pertama dari Meaaaa. Kata author, bacanya pelan-pelan. Kalau ga masuk, chapter ini diskip aja. Lalu GWS ya! Kami turut mendoakan BB author dan semoga author lekas sembuh."
Masamune: "Authornya habis sakit, Tsuruhime. Mungkin dia udah sembuh."
Tsuruhime: "Stt!"
Masamune: *diem*
Tsuruhime: "Makasih salam dari kebo milik Kojuu-san! Lalu dari Dissa-CHAlovers.
Kita lihat saja siapa korban nista catatan author selanjutnya!"
Motochika: *udah pucet, liat author*
Tsuruhime: "Apaan sih?"
Motochika: "Gak! Gapapa kok."
Runa: "HUEHEHEHEHE!"
Tsuruhime: "Lalu dari... Honey Sho.
No plis~! Jangan yaoi~!
Motonari memang sangat sangat sangat mencurigakan~
Lalu... Kata author, kalau penjahatnya menang, mana seru ceritanya. Keinget Harry Potter, Naruto (tapi belum diketahui Madara itu bakal mati apa gak, yang punya OC(?) aja bingung), dan lainnya~"
Runa: "Dan aku tidak sengaja menambahkan kalimat seakan-akan Yukimura akan yaoian dengan Masmun." * *
Tsuruhime: "... Author kece dah.
Dari review I w bunga. Ah saya tebak, anda ketularan fanfic tetangga yang ceritanya Yukimura berisik (banget) ya?" *manggut-manggut*
Yukimura: "... Tapi disini aku gak berisik, tahu!"
Tsuruhime: "Iya, tau kok. Author kan udah bikin rancangannya dari otak.
Btw author kagum sama keteguhanmu di Basara Judge End sewaktu nahan Masamune loh!"
Yukimura: "...Jangan ingatkan aku hal itu."
Tsuruhime: "Gyehehe~
Terakhir dari Nana alias FadjrinaH.
Author dan aku juga sepakatan kalau Yukimura benar-benar seram waktu itu."
Yukimura: "Siapa suruh aku dibikin karakter yang mudah cemburu." *gembungin pipi*
Tsuruhime: "Jangan manja dong Yukimura~
Author akan usahakan buat fanfic ini lebih keren! Tapi, karena terancam disconnect... Yaahh...
Ah kita harus berpikir optimis saja!
Terima kasih yang sudah meluangkan waktu reviewnya!
Baiklah. Kita mulai!"
—oOo—
Chapter 7 - Muak!
"Sayang ya, sekarang liburan musim panas," tegur wanita paruh baya yang kini duduk di sofa ruang keluarga sambil membaca koran. "Padahal adik tersayangku baru sembuh. Pasti banyak yang khawatir."
"Kakak berlebihan," sahutku di sebelahnya yang tengah menekan tombol remote untuk memindah channel. Kubuka bungkusan kripik kentang setelah menentukan tontonan sesuai seleraku, lalu mencomotnya sesekali.
'Sayang tidak ada kartun di siang jam 11 begini,' keluhku dalam hati.
"Buktinya, teman sebelahmu terus menanyakan dirimu sejak kau siuman," kata wanita berambut jingga pendek tersebut, menunda melanjutkan membaca koran berita Jepang hari ini. "Ah dan juga anak penerus perusahaan kaya itu."
"Mereka memang begitu. Bukannya wajar ya sebagai teman dekat mereka khawatir?" ujarku malas.
"Mengelak pura-pura tidak tahu akan perasaan orang pada kita itu lebih kejam, loh."
"Maksud kakak apa? Dia suka aku?"
"Kau kan bisa meramal. Kenapa tidak coba memakai kartu tarotmu lalu meramal dirimu sendiri?" tanyanya. Ia melipat kertas koran yang dibacanya menjadi empat bagian, lalu menaruhnya di atas meja di depannya. Kembali ia menatapku penasaran.
"Kakak memang pernah dengar peramal bisa meramal nasib dirinya?" kataku cuek, dan menekan tombol merah pada remote tv. Tidak ada acara yang menarik. "Apalagi masalah percintaan."
Mungkin aku sedikit berharap apa yang dikatakan kakakku itu sangat benar. Aku ingin pacaran. Aku iri memandang teman-temanku yang sudah bisa berduaan dengan pacarnya. Si cewek membuat bekal lalu mereka sama-sama makan di atap sekolah lah. Atau si cowok selalu iseng waktu si cewek gosip lah. Huft.
"Tidak sih, tapi coba saja kan?" kakakku pun bangkit dari sofa. Aku meliriknya bingung setelah habis memakan semua isi kripik tersebut sampai mulutku berlemotan.
"Mau kemana kak? Baru aja aku habis keluar dari rumah sakit kemarin, masa' main tinggal sih?"
"Mau makan di luar. Mau ikut?" tawarnya dengan terpaksa setelah aku protes.
"Baiklah!" seruku. Aku ikut bangkit dari sofa, dan berlari semangat menuju kamarku untuk mengganti baju!
—oOo—
"Kak! Katanya mau berdua saja?" protesku di depan rumah, menunggu kakakku selesai memutar kunci rumah untuk mengunci pintu rumah.
"Ah, kakak tidak ingin menganggu romance adik sekarang," katanya ringan sambil mengibas-ngibaskan tangannya selesai mengunci rumah. "Selamat berkencan, Tsuruhime!"
"KALAU TIGA ORANG NAMANYA BUKAN KENCAN!" teriakku pada kakakku yang berlari menuju tempat Keiji yang kini membawa motor besar, sambil menunjuk dua pria yang tengah ikut ribut dengan mengejek satu sama lain. Bingung, aku pun ikut berlari dan menahan kedua kaki kakakku yang mengenakan boots kulit ular sampai setengah lutut.
"Biarkan kakakmu berkencan denganku, Tsuruhime," gerutu Keiji yang kini tengah memakai jas kulit hitam dengan celana jeans hitam yang sepadan dengan pakaian kakakku. Magoichi neechan menggunakan jaket kulit hitam sampai pinggang dengan lengan panjang, walau belahan dadanya sangat terlihat karena dia hanya memakai tanktop merah tua—dan pusarnya pun masih terlihat jika ia hanya memakai celana levis pendek sampai pinggul. Mereka terlihat sebagai pasangan preman motor bagiku.
"Tidak! Keiji terlalu berondong untuk neechan!" balasku cerewet.
"Soalnya Masamune menggerutu di rumah sakit waktu itu," bisik kakakku, masih menerawang melihat Masamune masih saja berkelahi dengan Motonari.
"What the hell, kau berani meninggalkan adikmu disini sendiri?" protes Masamune pada kakakku yang duduk di tepi ranjangku sambil main hp.
"Masamune kan punya Kojuurou? Dia bisa menjaga Tsuruhime kan?" ulas kakakku memberi solusi, dengan terus terfokus pada layar ponselnya.
"Tapi sama saja aku tidak ada imbalan untuk itu! Sudah kubayarkan biaya rumah sakit ini, menunggu adikmu tiap hari dan sampai 3 hari ini belum siuman, dan sekarang kau menelantarkan adikmu!?"
"Aku banyak urusan sebagai calon istri nih," kata kakakku santai. "Lagian, maksudmu ingin dihargai saja kan atas usahamu pada adikku?"
"You fool... You said you're math teacher?"
Kakakku dengan nama panjang Saika Magoichi itu menutup lalu menyimpan ponselnya pada saku celana pendeknya. Desahan pelan keluar dari mulut gadis berdada besar dan berambut jingga agak pendek itu.
"Ah begini saja! Bagaimana jika bayarannya nanti kau kencan dengan adikku saat dia sudah keluar dari rumah sakit?"
"Kenapa bayarannya seperti itu?"
"Tapi suka kan?"
Orang yang digoda kakakku wajahnya langsung merona merah kayak tomat busuk.
"T—Tapi bukan berarti aku suka dia!" sebat Masamune marah. "Lagian nanti bukan kencan kok namanya!"
"Kencan? Aku takkan biarkan naga mesum ini menyentuh Tsuruhime!"
Motonari pun menghampiri kakakku dan Masamune sambil melipat kedua tangannya. Pantas kedengaran pikir mereka berdua, rupanya pintu kamarku tidak di tutup Yukimura saat keluar tadi.
"What? You never had fighting with me, don't you?"
"Belum pernah," jawab Motonari datar. "Makanya untuk ini, aku akan bertarung denganmu demi kesucian Tsuruhime!"
"Wah, kalian semua suka adikku ya? Manis sekali," kakakku tertawa nista saat itu juga. "Baiklah, jadinya nanti kencan bertiga."
"WHAT!?"
"APA!?"
"Tapi kalian setuju kan?"
Mereka berdua—Masamune dan Motonari, saling melempar pandangan tajam.
"Pantas waktu aku baru siuman mereka aneh. Dasar kakak..."
"Cobalah bersenang-senang selagi kau masih berstatus pelajar, Tsuru-chan. Kakak pergi dulu ya?" kakakku memeluk pinggang Keiji dari belakang. "Cepat, bodoh!"
"Selalu saja manis hanya di depan adik. Dasar sister complex!" keluh Keiji yang menyalakan starter motornya, lalu suara lolongan kesakitan terdengar dari jauh sembari Keiji menjalankan motornya.
"Ah ya, kakakku kabur," bisikku. Kurapatkan jaket putih peach sambil menatap jauh mereka dalam diam. Hembusan angin dari laju motor Keiji yang mungkin langsung 60 km/jam menciptakan angin yang menyibak rok pendekku hingga terangkat. Reflek, aku menahannya karena malu.
"Tsuruhime, kau pilih diantara kami berdua. Masamune, atau aku?" teriak Motonari lantang dengan dahinya yang mengkerut sambil menunjuk Masamune. Ia memakai rompi abu-abu dengan kemeja putih panjang, dengan mengenakan celana levis hitam.
"T—tunggu, maksudnya?" aku menggaruk daguku yang tidak gatal reaksi akibat kebingungan setengah mati.
"Kau mau berkencan dengan siapa? Aku atau Motonari?" kini Masamune buka suara sambil menunjuk Motonari marah. Jaket biru tua-nya yang tidak diresleting menebar-nebar entah angin lalu mengapa. "Aku muak dengan pria ini."
"Apa? Hah? Muak? Wajahmu itu yang memuakkan," sebat Motonari tidak mau kalah.
"Apa? You wretch! Kau pikir kau sempurna?"
"Jadi, karena kepopuleranmu di hadapan cewek-cewek di sekolah yang lebai itu, kau mengira dirimu sempurna?"
"I don't thinking about that. But maybe it come true."
"Tapi tidak untuk Tsuruhime."
"Kau pikir dia menyukaimu?"
"Kau pikir apa?"
"SUDAH DIAM!"
Mereka berdua pun mematung ketika jari telunjuk satu sama lain sudah mau ditujukan pada kening lawan masing-masing.
"Aku bukan milik siapa-siapa. Cowok yang kusuka itu FUUMA KOTAROU!"
Mata mereka berdua melebar tanda kaget.
"Fuuma si polisi cinta alam itu?"
"The silence man!?"
"Memang aku aneh, menyukai pria misterius yang bahkan tidak pernah buka suara. Tapi, dia adalah 'wing of twilight'ku yaitu cinta pertamaku!"
Soal aku suka dengan Kotarou sebenarnya sudah memudar sejak pernyataan cintaku ditolaknya secara halus saat itu. Cuma yah, demi mendamaikan dua perjaka yang berantem hanya karena menganggap diri mereka keren di mataku aku terpaksa mengakui hal yang sebenarnya tidak berlaku lagi.
Bibir Motonari bergetar, entah kenapa.
"Sudah kubilang kan, Dokuganryuu? Kau bukan yang dipilihnya," Motonari mengalihkan pembicaraanku seenaknya.
"W—what!? Bukannya yang pertama berpikir seperti itu adalah dirimu?"
"Hah? Bodoh. Sejak kapan aku berpikir kesana?"
"Dasar maniak melukis!"
"Dasar pangeran narsis!"
Aku hanya bisa terduduk lemas sambil menutup kedua daun telingaku.
—oOo—
"Ehm kalian, bisa jaga imej gak sih?" tanyaku saat kami berada di trotoar menuju taman dekat rumahku. Apa yang mereka lakukan? Saksikan sehabis aku mengucapkan kalimat tadi seperti ini.
"Heh pria banci. Kau tahu? Aku serasa seperti berkencan dengan dua gadis langsung."
"Bagus dong. Jadinya harem."
"Iya. Dan satu cewek itu adalah dirimu."
"Memang kenapa? Apa aku harus pakai lipstik dan kosmetik lainnya juga saking membenarkan pendapatmu aku cewek?"
"Kau mau jadi cewek!?"
"Siapa sih cowok yang mau jadi trap-gender apalagi di depan Tsuruhime? Kalau kau, aku tidak tahu."
"Kok omongan kita menyimpang?"
"Mana kutahu."
"Haahh..." aku mendesah pelan selagi mereka masih menyebut satu sama lain tiada henti dari awal menjemputku. Selintas kulihat seperti lorong kecil akan kami lewati di depan, dan aku langsung memikirkan hal keren ketika melihat kios pakaian di sebelah lorong itu.
Kabur.
"Emm, Masamune dan Motonari, kita pergi ke toko baju yuk?" ajakku dengan gaya manja layaknya anak kucing yang minta dikasihani sambil menunjuk toko yang kutatap sedari tadi. Iya. Jijik? Iya.
Mereka berdua langsung saling berpandangan.
"Baiklah. Ayo," Masamune langsung mempercepat langkahnya dan mengenggam tanganku, menyeretku masuk ke dalam toko itu. Motonari entah terbawa apa, dia hanya mengikuti kami dari belakang sambil sesekali memperbaiki kacamatanya.
"Selamat datang di toko 'Shell Sea'! Ada yang bisa kami bantu?" sapa pelayan butik toko itu ramah, ketika aku dan Masamune langsung masuk.
"Engh, anu, aku mau baju yang... Engg.." kepalaku celingukan sambil menatap sekitar, tahu-tahu aku bisa mendapat alasan untuk bisa kabur tanpa diketahui mereka berdua.
Sebuah ide cemerlang menyangkut di pikiranku.
"Ini pembicaraan privasi untuk perempuan," aku menggaet tangan pekerja butik itu sambil melirik kedua jantan yang menatapku serius dengan ekor mataku, lalu menyeretnya menjauh dari mereka. Mumpung yang kugaet adalah seorang cewek cantik.
"Anu maaf, cuma disini ada pintu keluar kan?" bisikku pelan pada daun telinganya, dan kuharap dia dapat komfromi denganku. "Aku sedang kabur dari mereka karena mereka mau memperkosaku habis ini!"
"A—APA!?"
"Stt!" aku mendesis, menempelkan jari telunjukku pada bibir tipisku. "Nanti ketahuan!"
"Oh oh! Aku tahu anda harus lewat mana!" serunya ikutan berbisik. "Mari kutunjukkan jalannya."
Kupandang kembali kedua insan itu dengan ekor mataku. Masamune ngupil, sedangkan Motonari melipat tangannya entah sedang apa. Mereka menatapku. Menatapku sangat dalam.
Kami berdua masuk ke dalam belakang toko, dan si pekerja itu langsung mendorongku ke arah pintu terbuka yang cukup gelap walau aku masih dapat melihat dinding tembok dengan cat merah jambu di depanku.
"Ayo, mereka takkan melihat kok," jamin pelayan itu. Aku mengangguk, dan keluar dari toko itu dan berlari menjauhi mereka sejauh yang ku bisa.
—oOo—
Di bawah kolong jembatan, aku meringkuk dengan memeluk kedua lututku. Helaian rambut menutupi mataku, tidak terganggu oleh desiran angin sepoi yang menerpa wajahku. Suara motor, sepeda, bahkan pejalan kaki terdengar melintasi jembatan di atas kepalaku. Ramai.
'Untuk apa aku lari seperti ini?' kataku dalam hati, kecewa. 'Kasihan kan mereka sudah mau-maunya menemaniku. Tapi aku malah kabur.'
Kudekati tepi sungai dan mencipak air disana. Entahlah, pikiranku serba salah saat ini. Hatiku terus menyalahkan diriku karena menjauhi mereka.
"Hei Tsuruhime-dono! Kok ada disini?"
Aku terperanjat kaget ketika mendengar suara sapaan itu. Kutengok asal suara itu datang, dan mendapati pria berambut cepak coklat dengan ekor kuda, mendekatiku dengan memasukkan tangannya dalam kantong jaket merah terang besarnya. Yukimura tersenyum padaku, sambil menampakkan iris merahnya.
"Ah, aku... aku kabur, Yukimura..." kataku berterus terang, lalu kembali meringkuk.
"Kabur? Kabur dari siapa?" dia mendekatiku lalu berjongkok.
"Dari Masamune dan Motonari..."
"Masamune-dono? E—"
"Yukimura, bisa temani aku sebentar disini? Aku takut sendirian..." mohonku dengan suara kecil.
"B—boleh aja sih. Tapi tidak kasihan dengan mereka berdua?" tanya Yukimura dengan suara khasnya yang imut, ditambah gayanya yang kini merebahkan kepalanya pada lipatan kedua tangannya. Aku suka sekali dengan gaya pria manja ini. Selain imut, dia juga baik. Baik yah..?
"Aku. Aku tidak kesepian! Aku dicintai! Aku dicintai Ayah, Sasuke, dan Masamune! Sekarang pun Tsuruhime juga mencintaiku!"
Pikiranku kembali mengingat ucapan Yukimura ketika di dunia mimpi itu.
"AKU PUNYA BANYAK TEMAN YANG MENYUKAIKU!"
Aku tersenyum tanpa sadar, tetap masih merebahkan kepalaku pada lututku.
"Tsuruhime-dono?" tegur Yukimura saat khayalanku sudah pada tingkat tinggi.
"Ah ya?" kuangkat wajahku dan merasakan suatu liquid menjalar dari dalam hidungku. Kuhirup agar mereka kembali pada asal mereka sebelum keluar, kembali masuk.
Yukimura menatapku prihatin, masih menampakkan wajah polosnya. Tanpa sadar, aku telah merasakan sesuatu mengelap kantung mataku, atau lebih tepatnya menyekanya.
Benar. Yukimura menyeka mataku yang tidak menangis sedikitpun. Aku menegang dibuatnya. Badanku panas—bukan, perutku mulas rasanya. Jantungku berderup kencang, sampai-sampai terdengar oleh telinga kiriku. Entah gejala apa ini.
"Padahal aku sempat sangat membenci Tsuruhime-dono. Tapi sekarang, kenapa rasanya lain ya?"
Aku hanya diam. Aku tidak mampu berucap patah kata pun saat ini, saking tegangnya. Aku serasa tersengat listrik dari stopkontak langsung.
"Jadi masalahnya rumit ya?" ucap Yukimura seperti lupa apa yang baru saja ia lakukan dan katakan padaku, mengalihkan topik.
"I—i—i—" lidahku kelu seketika, tidak mampu mengucapkan secara lisan apa yang ingin kujawab. Yukimura kaget saat mendengar suaraku, dan ia langsung menurunkan jempolnya.
"M—maafkan aku!" Yukimura menunduk, menampakkan kedua daun telinganya yang merah padam.
"Tidak apa-apa kok," sahutku saat sudah tenang, DENGAN PAKSA. Mencari topik baru untuk menyingkirkan rasa grogi antara kami berdua, setelah lama berpikir akhirnya aku mendapat suatu topik tak bermutu.
"Mereka berdesak-desakkan ingin mendapatkanku sih. Jadinya aku malas," kataku dengan PD-nya. Astaga, demi apa aku bilang hal seperti ini!?
"Jadi, mereka sedang saling menjatuhkan ya?" balas Yukimura. Akhirnya ia tenang juga karena perkataan anehku yang sangat over narsis itu.
"Menyebalkan bukan? Kedamaianku seketika dirusuh oleh mereka."
"Haha, tandanya mereka bukannya perhatian, ya kan Tsuruhime-dono?"
"M—mungkin?" aku langsung heran dengan jawabannya yang terdengar, sangat dewasa. Dia, dia ternyata juga tahu akan hal cinta remaja seperti itu?
"Enak ya punya orang yang selalu memperhatikan kita? Sasuke juga perhatian padaku sebenarnya. Walaupun suka mengerjaiku sampai ketangkap basah Oyakata-sama dan aku jadi sasaran empuk bogemnya, tapi semua itu tidak sengaja. Tapi Masamune-dono selalu salah paham dengan sikap Sasuke, dan aku juga jadi bisa salah tanggap dengan Oyakata-sama. Padahal Ayah adalah orang yang sangat kupuja."
Yukimura menatapku diam, menunggu mulutku terbuka untuk bersuara kembali. Nihil, aku tidak berani untuk bicara sedikitpun, memulai topik baru atau melanjutkan topik barusan.
Aku jadi sedikit mengerti dengannya.
"Oh ya aku mau bilang sesuatu yang belum sempat kukatakan," Yukimura seakan mengerti apa yang ada dalam pikiranku jika aku benar-benar tidak bisa bicara atau melanjutkan pembicaraan kami tadi. "Aku, ingin minta maaf karena sempat membuat Tsuruhime-dono diam di rumah sakit lebih dari dua minggu."
Aku menatapnya langsung. Ia menundukkan kepalanya dengan kini duduk bersila, menyembunyikan wajahnya dalam helaian rambut coklatnya. Sepertinya ia tidak berani menatapku sekarang.
"Yah aku juga salah kok, karena tidak menjaga jarak dengan Masamune."
"Itu bukan salah Tsuruhime-dono! Itu salahku!" Yukimura menghakimi dirinya sendiri. Bibirnya bergetar hebat, walau sekuat apapun ia menggigit bawah bibir tipisnya itu.
"Y—Yuki..."
"M—maaf atas sifaku yang memang kelewat kekanakan! Aku dari dulu selalu seperti ini, tidak bisa dewasa. Aku bahkan mudah cemburu jika ada orang lain yang dekat dengannya hingga mencampakkan aku. Aku... Aku ingin berubah..."
"Biarkan saja menjadi bagianmu. Kau tidak perlu mengubahnya."
"Iya, benar."
Kami berdua bermain dalam diam, bermain dalam kesibukan sendiri yang cukup lama.
"Yukimura," aku mulai membuka pembicaraan lagi.
"Hng?"
"Kau, kelihatan dewasa sedikit ya?"
Aku terkekeh menatapnya, dan ia langsung menundukkan wajahnya dengan wajah tersulut merah.
"E—enggak kok!"
Aku tertawa kecil mendengarnya.
"Oh ya Tsuruhime-dono. Kenapa sih kayaknya Tsuruhime-dono berpengalaman jika menasehati orang? Bergaul saja kulihat jarang."
"Pertama, aku punya segudang komik shoujo yang menjadikanku mengerti membaca kondisi orang. Kedua, aku punya nee-chan super cerewet yang menjadikanku bisa menanggapinya dengan baik."
"Ho pantas."
Kembali kami diam, canggung.
"Tsuruhime-dono," panggil Yukimura kembali, memecah kesunyian antara kami berdua.
"Iya?"
"Yukimura akan melindungi Tsuruhime-dono, dengan sepenuh jiwa."
Aku langsung menatapnya tegang.
"Kenapa tiba-tiba membicarakan hal itu?" tanyaku bingung.
"Sejak sosok harimau putih menyelamatkanku saat aku terisak dalam dunia gelap tanpa dasar, dia mengatakan sesuatu padaku dengan nada suara memelas."
Mataku membesar, kaget dengan pernyataan Yukimura yang hampir persis seperti sewaktu aku menyelamatkan Masamune waktu itu.
"Aku akan selalu melindungi Saint Princess dengan seluruh jiwa ragaku. Hidupnya nyawaku adalah hutang."
...
"Motonari, better we gone."
"Kenapa? Yukimura kan—"
"Stt! Kita bisa ketahuan!"
...
"Oh ya Yukimura, aku mau tanya. Kalau boleh jujur, kamu sudah tahu kalau aku Saint Princess kapan?" tanyaku pada detik-detik kami akan bubar karena hari sudah petang. Matahari tenggelam namun masih menampakkan dirinya pada kami, menyinari kami berdua.
"Hmm, sejak harimau putih itu datang."
Loh? Jika dia baru tahu sekarang...
"Eh? Yukimura sempat mencoret buku tulisku kan?"
"Tidak kok. Aku mencari Masamune-dono, tapi dicegat Sasuke buat beli minumannya dulu."
Eh?
"Kalau Motonari?"
"Dia bersamaku keluar kelas."
DEG!
Keringat dingin turun perlahan dari pelipisku.
Perasaan apa ini?
—oOo—
Runa: "Gomenassai, minna! mungkin mulai chap8 sampai seterusnya bakalan lambat aplodnya. Yah, aku mau latihan kerja untuk bisa lembur. Jadinya dapat banyak uang deh~
Meskipun kerjanya cuma kecil doang."
Tsuruhime: "Ye sementara aku mau lanjutin aktivitas selagi nganggur ah!"
Runa: *mangap*
Masamune: "Yeah, it's alright.
Many thanks to readers who always reading this fanfic! Me, and all family who been useful character on this fanfic said THANK YOU for follow our story.
Sorry for next time this fanfic cannot be fast upload. And now our author writing on her biography with something funny (for me).
Please review for this chapter!"
Runa: "Astaga bahasa inggris semua..."
Masamune: "It's up to me, silly girl."
Runa: "CRIMSON MODE: FIRE TORNADO!"
Masamune: *kelempar*
Runa: "Hahh sudah lama tidak pakai jurus.
Oke! Makasih minna!" *lambai-lambai*
