Runa: "Minna! Aku kangen banget~"

Tsuruhime: *peluk*
"Author aku juga kangen desu~"

Runa: "Padahal mau update tanggal 5. Tapi karena saat libur malah disuruh mudik, ya sudah kuaplod pagi-pagi bareng punya Mari-chan ini."

Tsuruhime: "Ayo kita balas review!"

Runa: *siapin toa*
"DARI-"

Yukimura: "Asam goreng ikan gegulingan! Author, jangan ribut plz!"

Runa: *turunin toanya*
"Ini special ga pake telor untuk Yukimura karena minta bantuan Mari-chan loh!"

Yukimura: "CEPETAN!"

Runa: "Oke oke! Pertama dari Meaaaa.
Jiah baru 8 menit udah ngesot. Author loh, baru 3 menit keliling lapangan pertamanya lari cepat duluin yang jogging, eh tewas karena asma kambuh."

Motonari: *gamvar author*
"Astaga sambal pucuk ikan bakar gak pake gula, author makin gila aja nih."

Runa: "GUA DIGAMVAR! Padahal tubuh abis asam urat semua nih karena duduk seharian! Untung aku lagi gak keluar mode iblis neh!
Tsuruhime memang harus jadi primadona, dan akan jadi primadona di chap ini buahahaha!
Gegara ada dua author suka Yuki, aku jadi suka Yuki juga. Keren banget Yuki apalagi waktu diserang berderet 'magnum strike' Masmun."

Masamune: "UDAHLAH!
Lanjutnya dari Honey Sho.
Oh om Hitsu, si om Yoshihiro juga putih. Itsuki putih. Maria putih. Hanbei puti-"

Runa: *pake toa*
"WAKTU MAKAN SIANG AKAN HABIS!"

Masamune: *tutupin telinga*
"Anjer bisa budeg telinga orang wahat tanteh!"

Runa: *deathglare*
"Sebenarnya soal pelaku adalah... Ya! Bukan Fuuma Kotarou!" *diinjek all SB chara*

Tsuruhime: "Crecah kepiting rebus! Kita semua ngidam mau makan siang nih! Cepetan!"

Runa: "Baik baik. Lalu Mari-chan alias AmarisMayRay.
Nak, kau itu... Oke aku akan bicara dan mengutukmu lewat BBm saja. Atas curhat dan curhit(?) seperti biasa takkan diterima. Eh salah.
Selanjutnya dari Dissa-CHAlovers!
Dari awal sudah dibuat Tsuruhime itu anaknya serba pinggiran lah."

Tsuruhime: *jitak author*
"Bilang kalo nasib aku persis sama author waktu SMA aja kenapa?"

Runa: "Mereka mana tau aku orangnya gimana woi!" *gamvar Tsuruhime*

Tsuruhime: "Halah pake alasan secuil gitu doang!" *bogem author*

Runa: "STAPH!
Oke Dissa! Makasih atas ucapan engrishnya! Huhu~
Terakhir dari bakazumi.
Halo salam kenal juga! Oh rupanya sudah baca bagian chap 5 (kalo ga salah) ya? Makasih sudah mau baca fanfic abal kurang asupan editan ini buahaha!
Soal pussy aku terinspirasi dari P4 ketika Yu dkk di sauna Kanji. Makanya kupakein haha! Lucu sih sama adegan sana, walau aku ngeri juga waktu Yu sama Yosuke dimahoin."

Tsuruhime: *ngemil kepiting rebus*
"Silakan dibaca, minna!"


—oOo—

Chapter 8 - Aku Bukan Putri, Bodoh!

Libur musim panas pun berakhir dengan tidak damai. Di kontak ponselku berderet panggilan tak terjawab dari dua nomor kontak yang tidak asing bagi sang program dari ponselku sendiri.

"Tsuruhime! Kau dipanggil sebanyak 65 panggilan tak terjawab! Wow adikku keren!" pekik kakakku kagum ketika mengetahui jumlah panggilan tak terjawab di hari libur yang terakhir sebelum esok adalah hari masuk pertamaku kembali bersekolah.

"Kakak ini! Dasar stalker!" teriakku.

"Dari Motonari, lalu Masamune. Masamune, Motonari, Motonari, Masamune, Masamune," ucap kakakku membaca sederetan nama pemilik nomor kontak dalam data bagian panggilan tidak terjawab.

"Kakak!"

"Kenapa tidak kencani mereka berdua saja? Date itu kan keluarga terkenal yang memproduksi alat elektronik canggih misal ponselmu ini. Lalu Mouri itu... rasanya pernah kudengar jika mereka itu keluarga beradab dimana penuh kedisiplinan akan tradisi Jepang. Mereka juga menjual berbagai barang-barang kesenian karena darah keluarga mereka akan seni itu tinggi dan berkualitas!"

"Ya, kelas 3 - 1 itu kelas dimana murid-muridnya bukan dalam level biasa. Selain belajar, mereka juga mengembangkan bakat alami dari keluarga atau diri mereka. Beda denganku, yang bahkan aku tidak tahu apa bakat terbaikku."

"Bakat terbaikmu itu adalah menarik hati para pria!"

"KAKAK!"

"Huh besok aku akan sekolah kembali," ujarku yang tengah memandang langit-langit kamar rebahan di ranjang. "Apakah besok aku bisa bersembunyi dari Masamune dan Motonari? Bahkan besok ada pelajaran olahraga."

Aku mengosongkan pikiranku. Terdengar suara jarum jam berdetak seiring bergesernya jarum tersebut. Lambat laun, mataku terasa memberat. Kuambil lalu kupeluk guling disebelahku erat.

"Tsuruhime! Jangan lupa siapkan bukumu! Bajumu sudah disetrika sendiri kan? Awasi jangan sampai jam wekermu mati ya!"

"BERISIK!"

—oOo—

Pelajaran P.E. pun akan dimulai. Kebiasaan murid cewek 3 - 1 saat ganti baju olahraga adalah berganti di kelas. Alasan utama murid cewek berganti di sana, karena hanya ada 4 murid cewek dari 18 murid di kelas ini. Sedangkan murid cowok harus berganti entah kemana asal jangan ruangan kelas.

Biasanya saat berganti baju kami adem ayem saja. Tapi entah kenapa hari ini, Kasuga mengibaskan baju olahraganya tepat di wajahku dengan kasar ketika aku membuka kancing kemejaku. Kukira hanya tidak sengaja, karena Kasuga tidak bersuara saat itu. Tapi ia melakukan hal tersebut—menebar kaos biru putih, kedua kalinya. Kali ini, ia langsung menatapku dengan tajam saat aku mendongak menatapnya—karena ia lebih tinggi dariku.

"Ih! Kenapa sih kau bisa dekat sama Masamune?" tanya gadis berambut pendek namun di depan bersurai kuning panjang. Ia melipat tangannya dengan wajah bete setelah sempat melakukan hal biadab barusan. "Barusan kami tenang tidak melihatmu selama sekolah sebelum musim panas. Di hari pertama setelah liburan, eh deket kegatelan gitu."

Sasuke mau dikemanain mbak?

"Aku, aku tidak tahu..."

"Tidak tahu?" celetuk gadis berambut hitam pendek namun melewati bahu. "Tadi pagi kulihat kau berpapasan dengan Masamune! Dia menyapamu! Tapi dia tidak menyapa kami!"

Ah, dia bukannya sudah ada Toshie ya? Dasar Matsu...

"Benar. Aku..."

"Ini—ini salah Ichi karena ikut masuk dalam klub Masamune Prince," sahut gadis bersurai hitam dengan nada pesimis. Ia memeluk bola voli ditangannya dengan erat.

Oichi, kau salah bicara tahu...

"Tapi benar! A—"

"Tidak apa-apa kan jika kuberi 'pelajaran' sedikit?" tanya Kasuga sambil melirik kedua temannya yang mulai menyumbingkan senyuman licik. Mereka tidak mau mendengarkan alasanku seenak jidat.

"Tentu."

"Ichi sangat setuju..."

Aku perlahan-lahan berjalan mundur. Kasuga dengan wajah garang, memunculkan bola voli di tangannya entah sejak kapan. Saat aku menengok sebentar Oichi, bola di pelukannya yang sempat kulihat sudah raib.

Kasuga memang memiliki kemampuan mengambil barang secepat ninja.

"Apakah pangeran akan menerima kondisi putri apa adanya? Hihi, aku membayangkan jika bola ini akan memberi hiasan keren di wajahnya," terang Kasuga. Yang lain langsung mengangguk setuju.

"Tunggu, aku sangat trauma dengan bola besar," ungkapku. Mereka masih tidak peduli dengan reaksiku yang sudah pucat pasi kayak ikan kering basi.

"Kutunjukkan bakat seorang 'pedang cantik' dari julukan guru seni!" seru Kasuga dengan tawa nista menggema di seluruh pejuru ruangan kelas. Ia mulai membidik wajahku, lalu siap melayangkan bola di tangannya.

Aku memerintahkan kakiku untuk bergerak, namun rasa takut menguasai dan mengendalikan tubuhku untuk diam dalam tubuh bergetar. Aku memejamkan mataku pasrah. Hanya itu yang bisa kulakukan.

BUKH!

Satu detik aku berdiam...

Satu menit aku berdiam...

Kenapa tidak ada rasa sakit yang kurasakan ya? Lalu, aku merasa dipeluk dan dibawa seseorang.

Penasaran, kubuka kedua mataku perlahan.

"Eit! Jangan lempar bola saat pelajaran Oyakata-sama belum mulai loh!"

"Tsuruhime, are you alright? Just like you had bit problem."

Ya. Yukimura menangkap bola yang dilempar Kasuga dalam keadaan kemeja pakaiannya kancingnya dibuka dan memakai celana panjang hitam seragam di depanku sehingga otot perutnya terlihat. Sedangkan Masamune masih dalam keadaan belum membuka kemejanya sambil... memelukku.

"PRINCE BERPELUKAN!?" serempak ketiga anggota klub 'aneh' teriak histeris.

"D—dan mereka mengintip kita berganti baju..." selingi Matsu entah ingin marah atau apa sekarang.

"Hei, kalau mau berkelahi jangan main gerombolan gini. Kan tidak seru?" sahut Yukimura jengkel.

"Lagian, Toshie, Sasuke, dan Nagamasa, akan kecewa melihat tindakan kalian yang ingin mencelakakan teman kalian sendiri," sambung Masamune. "Bit problem from troublemaker."

"M—maafkan Ichi..." Oichi membungkuk 82 derajat langsung.

"Oichi! Kenapa kau minta maaf sih!?" protes Matsu tidak setuju.

"Benar kata mereka. Kita mempojokkan Tsuruhime," jawab Oichi sambil menegapkan tubuhnya. Matsu diam.

Oichi memang gadis baik. Dia adalah adik kepala sekolah sekaligus wakil ketua klub budi pekerti di Basara High School ini yang diketuai oleh Azai Nagamasa, pacarnya sekaligus calon tunangannya. Jadi, sifatnya memang sangat mencerminkan kegiatan klub sana.

"Ya sudah aku maafkan. Tapi jangan main keroyokan lagi ya?" Masamune mengorek telinga kanannya, melepas peluknya dariku. "Or you three name got wrote on my 'badass' note book.""Hei kok siswi-siswi belum keluar sih? Shigen-sensei nyariin tuh!" lapor Hanbei di bibir pintu geser tiba-tiba. "Yukimura! Masamune! Kalian nyari tapi lama sekali! Shigen-sensei marah-marah tuh!"

"Che! Take it easy~"

"Masamune-dono..," Yukimura berbalik dengan masih memegang bola voli di tangannya. Ia memandang Masamune penuh arti dalam kecewa.

"What's up, Yukimura?"

"Ingat perjanjian kita kan?"

Aku hanya diam mendengarkan perdebatan dua pangeran rival ini, seakan-akan menjadi lantunan lagu dalam ponselku. Aku sedikit syok karena tidak sempat mencerna apa yang terjadi dan apa yang harus kulakukan.

"Si kakek olahraga itu takkan bisa melawan pendapatku! Haha!"

"Masamune-dono tidak ingat janjinya yang dulu..."

"Penting aku atau dia?"

"Tidak ada hubungannya dengan kata 'penting' Masamune-dono."

"AKU TIDAK MAU MENERIMA INI!"

Kami berenam—aku, Masamune dan Yukimura yang berdebat, Oichi dan Matsu yang sibuk mendengarkan, dan Hanbei, langsung melengok pemilik pita suara tersebut. Di tangan kanan Kasuga sudah tersedia palu yang sekali lagi aku bingung darimana dapatnya.

"KASUGA!" sontak mereka berlima yang lain berteriak mencegah saat Kasuga ingin melambungkan palunya padaku. Terlambat. Kasuga sudah melemparnya dan dalam hitungan detik, aku dikelilingi burung-burung yang terbang berputar-putar di atas kepalaku dengan suara cicit disertai suara dentuman lumayan keras.

"Tsuruhime!"

"Tsuruhime-dono!"


"He, Mouri hebat bisa membuat gadis tanpa daya tarik itu menjadi sedikit populer. Apa rahasiamu?"

"Diam kau, Chousokabe."

"Mouri, Tsuruhime pingsan tuh."

"Biarkan Date Masamune dan Sanada Yukimura yang merawatnya, Hanbei. Nanti biar aku yang mengizinkan mereka bertiga pada Shigen-sensei. Tugas kalian hanya menarik Kasuga, Oichi, dan Matsu ke lapangan..."


—oOo—

PLAK! PLOK!

"B—BODOH! APA YANG KALIAN LAKUKAN DI KELAS TADI!?"

"Ih, ditolong malah sewot."

"Tsuruhime-dono jahat!"

Aku memburu nafas sehabis berhasil mendaratkan telapak tangan kananku pada kedua pipi kanan pria berambut hitam pendek dan pria berambut coklat cepak, dengan nista. Dahiku dibalut kain kasa karena katanya sempat terjadi pendarahan ringan dari sobekan belakang palu yang tajam yang seperti linggis.

Tuhan, kenapa hidupku sangat tragis sekali?

"Kalian ini! Apa yang dipikirkan kakakku nanti?" tukasku tajam. Jari telunjuk sudah kuacungkan pada Masamune. "Bisa-bisa aku dibicarakan bukan saat pelajaran kakakku tiba, tapi sampai seterusnya!"

"Kok aku dimarahi sih?"

"Kau adalah sumber pertama dari awal bencana ini, mengerti?"

"Memang kenapa?" tanya balik Masamune. "Paling hanya berlaku beberapa hari, and then that gossip could be expired."

"Aku memang tidak mengerti alur pikiran orang pupoler ya," sebatku mencoba sabar, mengelus dadaku sehabis menurunkan tanganku.

"Tidak apa-apa kan? Kami kan khawatir," ucap Yukimura, lalu senyuman lebar terlukis di wajah imutnya. Ketika posisi ia duduk di depanku—saat aku duduk di ranjangku dengan di sebelahku adalah Masamune, sangat mendukung manisnya dia bergaya.

"Bukan begitu Yukimura. Benar sih saat khawatir, tapi kan gak usah sampai mencolok gitu sok pahlawannya."

"Setidaknya kami bukan pahlawan siang bolong."

"Tsuruhime, cannot you doing something better than it, for explain your gratitude to us?"

"Cara kalian berdua sudah salah! U-n-d-e-r-s-t-a-n-d?" ujarku dan sempat pula aku mengeja kata 'understand' dengan ejaan huruf inggris. Kepalaku terasa berat, dan SEMAKIN berat sejak aku memikirkan terus tindakan mereka berdua.

"Baiklah, biarkan aku istirahat d—"

NGEK!

Masing-masing belah kedua pipiku dicubit dengan bengis oleh mereka berdua. Yukimura mencubit pipi kiriku, sedangkan Masamune sebelahnya. Mana cubitan mereka sangat sakit.

"Tsuruhime jika malu-malu lucu ya!"

"Tsuruhime-dono lucu sekali~"

PLAK! PLOK! PLAK! PLOK!

—oOo—

Aku meringkuk memeluk kedua lututku, duduk di atas kasur UKS tempatku beristirahat. Bosan tiduran melulu selama kurang lebih 5 jam selama jam pelajaran berlangsung.

Aku tidak diperbolehkan memasuki kelas karena kepalaku yang berat bekas pendarahan dan memar dari ciuman tercinta palu Kasuga. Penjaga UKS, Sorin, masih mengikuti pelajaran bersama Masamune dan Yukimura walau beda kelas.

Aih, berarti sudah jam satu siang. Dan sekarang waktunya istirahat sebenarnya.


"Argh! It's hurt!"

"Masamune-dono, Yukimura mau nangis nih!"

"Bertahanlah nak! Demi kemajuan!"

Masamune dan Yukimura meringis nyaring sehabis mendapat tamparan keras dengan jatah masing-masing dua dariku.

"Rasain!" olokku bangga.

Pip! Pip!

Yukimura bereaksi cepat setelah mendapat nada pesan masuk dari ponselnya. Ia rogoh kemeja putihnya, dan mengeluarkan ponsel dengan casing merah menyala.

"Siapa Yukimura?" tanya Masamune masih mengelus kedua pipinya yang kini membengkak, menatap Yukimura yang fokus menatap layar ponselnya.

"Anu, Mitsunari. Katanya kita disuruh ikut pelajaran olahraga juga," jawab Yukimura setelah beberapa lama hanya diam saat ditanya. Ia menyimpan kembali ponselnya dalam saku celananya.

"What? Bagaimana dengan Tsuruhime?"

"Katanya biar Sorin yang jaga. Sorin memang anggota UKS sih, dan sudah sewajarnya."

"Ha! Biarkan hari ini saja kita kabur dari pelajarannya. Asal jangan bilang-bilang saja."

"Setuju!"

Aku menatap mereka berdua yang saling bertatapan empat mata. Sumringah senyuman terpapar dari kedua wajah perjaka yang tidak tertarik pacaran itu, penuh makna.

Sesaat aku teringat saat aku minta temani Yukimura lusa lalu. Suatu ganjalan yang ingin sekali kutanyakan. Kubulatkan tekadku, berani bertanya tanpa rasa kaku dan gagap.

"Masamune, kau masih punya buku tulis milik Motonari?" tanyaku. Masamune yang tadinya fokus menatap Yukimura, langsung balik menatapku.

"Tidak. Dia menagihnya kemarin sampai datang ke rumahku."

"Sudah diberitahukan pada Yukimura?"

"Sudah kemarin. Yukimura kan ke rumahku kan?"

Yukimura melirikku sambil mengangguk mantap.

"Memang, ada apa Tsuruhime-dono?"

"Tidak. Aku, hanya teringat ucapanmu kemarin di bawah jembatan waktu aku kabur da—"

"OH JADI KAU KABUR!?" potong Masamune lantang. Aku dan Yukimura menatapnya cengegesan alias ketakutan.

"M—maaf Masamune. Kukira kau akan mesra jika berkencan dengan Motonari. Hihi," tawaku.

"Cocok mananya cih! Aku dan Motonari keliling nyari kau, asal kau tahu saja!"

"M—maaf..."

Masamune menghela nafas nyaring mendengar satu kata yang kuutarakan langsung. Aku menunduk menyesal.

"I'm fine with it. But Motonari..." Masamune menghentikan kalimatnya. Dahinya nampak berkerut menahan amarahnya atau terlihat sedang bepikir. "Argh don't remember that bastard. Tsuruhime, kau mau bicara apa tadi?" alihnya cepat.

"Ah ya, Yukimura bilang dia bersama Motonari keluar kelas. Motonari meminta Yukimura menemani sebentar kan?" tanyaku.

"Tentu," jawab Yukimura.

"Dan Masamune menuduh Motonari dalangnya. Bagaimana Motonari bisa menjadi dalangnya, jika dia keluar kelas? Mitsunari bilang Motonari duduk ditempatnya. Namun saat Masamune minta pengakuan dari Motonari, Motonari mengatakan hal persis seperti Yukimura," ucapku. "Bagaimana bisa ada dua peristiwa yang bertentangan di saat itu?"

"Tapi Motonari-dono benar-benar bersamaku kok! Dia juga yang bilang kalau Tsuruhime-dono bersama Masamune-dono ke atap sekolah. Karena aku dikasi tau informasi itu, maka upahnya aku mengantar Motonari-dono ke ruang eskul lukis."

"Well, berarti Motonari tidak ada hubungannya dengan siapa penulis ancaman itu," simpul Masamune. "Two versus one. Hard to don't believe with two people who saying same."

"Oh jadi kalian membicarakan hal itu?"

"Iya," jawabku atas pertanyaan Yukimura. "Oh ya Yukimura, kau benar-benar membenciku saat kau mempergok kami berdua di atap sekolah?"

"Ergh.. I—iya..." Yukimura menunduk malu. "Tapi sekarang tidak sejak Tsuruhime-dono menyelamatkan aku."

"Berarti Yukimura benar-benar membenci kan saat itu? Bukan dihasut?"

"T—tidak! Aku tidak dihasut kok!" ngaku Yukimura. "Dan maaf aku sempat menulis di catatan Tsuruhime-dono waktu itu."

"Sudah kukatakan dia benar-benar membenciku, Masamune!" marahku. "Dan kau menulis itu juga kan? Menulis ingin membunuhku."

Yukimura menunduk malu. Bibirnya bergetar.

"I—iya.."

Satu langkah lagi aku akan dapat jawabannya! Kuharap dugaanku kali ini benar. Dengan semangat, kutanyakan langsung hal yang sangat menggerogoti pikiranku selama musim panas berlangsung sebelum berakhir kemarin.

"Dan sekarang kutanya, kenapa Yukimura bisa tahu aku adalah Saint Princess?"

Yukimura mendongak.

"Apa? Aku tidak menulis 'Saint Princess' saat itu."

Aku mangap. Nyaris! Padahal tinggal sedikit lagi!

"...Jika begini, berarti ada yang tahu akan diriku selain kalian berdua. Jika saja kudapatkan siapa dia, aku akan memaksanya untuk memberitahu siapa diriku ini."

Masamune ingin tertawa atau apa. Terdengar dari suara cekikikannya yang samar-samar kudengar.

"Dan sekarang aku jadi mencurigai..."

Aku dan Yukimura menatap Masamune, menunggu jawabannya.

"Hei! Kalian jangan membolos!" teriak Motochika di bibir pintu UKS yang membuka. Kedatangannya menunda lanjutan pembicaraan Masamune seketika. "Dicariin sama Takeda tua! Cepat! Kalau tidak, aku yang bakal menyeret kalian berdua."

"Tidak!"

"No way!"

Kekompakan Masamune dan Yukimura dalam hal menolak dengan wajah marah, membuat Motochika nampak marah dengan empat sudut sudah muncul di kepalanya.

PLAK! GUBRAK! PRANG! BREK!


"Masalah pribadiku belum selesai, sekarang katanya harus ada drama untuk pertunjukan kelas kami di festival kebudayaan," gerutuku. "Mana semuanya satu kelas harus ikut. Aku paling dijadikan pohon lagi."

Entah merasa lega atau sejenisnya saat mendengar Motonari bukan pelakunya. Syukurlah. Laki-laki baik seperti itu tidak memudarkan pandanganku darinya setelah sempat dituduh Masamune sebagai tersangkanya.

"Kuharap kejadian ini akan cepat berakhir."

"Tsuruhime!" panggil pria yang hampir sama tingginya denganku di bibir pintu. "Kau sudah baikan?"

Pria berambut peach pendek dengan ujung gelombang itu terkekeh pelan menanggapi reaksiku yang hanya menggeleng.

"Padahal kudengar tiga hari sebelum liburan musim panas, kamu tidak masuk karena lebam bekas cekikan akibat tidur panjang bersama Masamune dan Yukimura di bawah jembatan. Sekarang, harus menerima ciuman mesra palu," tutur pria penjaga UKS iba. Sorin, memang anggota UKS paling mengerti akan orang-orang. Dia mengerti masalah orang yang dirawatnya, dan tidak pernah ketinggalan berita dari orang itu.

"Ya Sorin, aku senang kau peduli padaku," ucapku. "Terima kasih karena peduli padaku."

"Oh kudengar kau boleh ke kelas sekarang. Kelasmu sedang dalam rapat."

Aku beranjak bangkit dari kasurku.

"Baik aku akan ke kelas!" kataku semangat. Aku pun turun dari ranjang dan berlari mendekatinya.

"Dan ku dengar kelas 3 - 1 akan bersaing dengan kelas 3 - 3 tentang drama loh!" seru Sorin. "Kau jadi putri! Hebat sekali!"

Apa aku tidak salah dengar? Barusan dia bilang 'putri'?

"A—apa? Aku putri?"

"Iya! Dalam drama 'The Beauty and The Dragon!"

—oOo—

"APA MAKSUDNYA DENGAN MENJADIKANKU PUTRI!"

"S—sabar Tsuruhime! Kami tidak bisa menolak 'voting' kelas!"

Nekad yang tinggi, aku melangkahkan kakiku memasuki kelas yang kini tengah mengadakan pemilihan acara untuk acara kebudayaan Basara High School nanti. Para murid terlihat memposisikan mereka dengan gaya aneh. Ada yang duduk di atas meja, ada yang duduk di lantai, ada yang berdiri, ada yang mojok (kebiasaan Matsu dan Toshie nih), dan bahkan ada yang hanya duduk di kursi.

Aku menarik cepat penghapus papan kapur. Grigitan rasanya ingin kudaratkan penghapus yang kupegang kini di depan wajah seorang ketua kelas berhoodie kuning, Tokugawa Ieyasu.

"Tsuruhime ngamuk!" seru Keiji bersorak. "Cocok untuk peran 'The Beauty'!"

"Tapi aku tidak rela Tsuruhime menjadi tokoh putrinya," kesal Kasuga.

"Hello! Belum jera juga mendendam walau sudah dikasi hukuman membersihkan toilet sekolah dengan (maaf) tai kucing dimana-mana oleh Magoichi-sensei," tegur Sasuke melucu.

"Sasuke bodoh! Dasar gagak monyet!"

"Santai aja, burung hantu merpati."

"Sasuke!"

"Kerennya, si tokoh pangeran itu Masamune sih," celetuk Matsu. "Tapi gapapa deh, kan ada Inicyo-sama juga~"

"Matsu~ Aku cinta kamu!" sahut Toshie gombal.

"Inicyo-sama!"

"Argh malah nyempet ada adegan romantis," protes Nagamasa bete.

"I—Ini salah Ichi yang tidak bisa romantis," ucap Oichi pesimis (lagi). Nagamasa yang tadi mendaratkan pipi kanannya pada punggung salah satu tangannya, langsung melebarkan matanya dan duduk tegap.

"Tidak kok! Ini bukan salah Oichi!" sahut Nagamasa.

"Ini kenapa para cewek di kelas mesra-mesraan sama pacarnya gini sih? Jadi iri," keluh Shima. Katsuie yang disebelahnya masih sibuk menulis sesuatu dari buku catatannya.

"Sudahlah, Sakon Shima. Terimalah jika dirimu jomblo sampai titik darah penghabisan."

"Katsuie jahat! Kenapa kau tidak pakai wig blonde panjang kayak rapunzel sih? Kita bisa berkencan de—"

PLAK!

Gamparan keras pria berwajah datar—bahkan lebih datar dari Motonari ini, membuat kami satu kelas menengok asal suara tersebut sambil celetuk 'ugh'.

"Poor you, Sakon Shima. Cewek sekarang memang suka menampar, you see? Bahkan aku dan Yukimura pernah ditampar," sahut Masamune yang dari tadi bertengger di depan jendela kelas yang terbuka, melirikku seakan-akan menyindirku langsung.

"Date Masamune ditampar? Lucu," celetuk Motonari. "Siapa yang berani menampar seorang naga?"

"You never had fighting with me, Mouri Motonari, the foolish art man?""I'm not interested to fight with you face to face."

"Argh ngaco dah! Ini kelas ribut amat sih!" protes Motochika sebal karena dari tadi menunggu ingin pulang. "Ieyasu! Cepat! Aku tidak punya waktu banyak!"

"I—iya deh!" Ieyasu menyabarkan Motochika. "Begini. Mereka bilang Tsuruhime belum pernah kebagian peran jadi tokoh utama. Dan... Date Masamune, Mouri Motonari, Sanada Yukimura, Takenaka Hanbei, Fuuma Kotarou, Oichi, Chousokabe Motochika, Azai Nagamasa, dan aku, Tokugawa Ieyasu, setuju jika kau menjadi tokoh utama. Memang banding 50%, dan aku hanya minta keputusan darimu apakah kau mau jadi tokoh utama."

"Aku tidak mau!" putusku. "Aku bisa jadi pembantu atau bahkan pengatur cahaya! Tapi jangan tokoh utama!"

"Gini Tsuruhime, kau dan Masamune akan jadi tokoh utamanya," bilang Hanbei. "Aku yang akan jadi pengatur cahaya. Motonari akan jadi ayahmu. Yukimura jadi pelayan 1. Mitsunari jadi pelayan 2. Motochika jadi desain pakaian. Shima dan Katsuie jadi pengatur properti panggung. Toshie, Sasuke, dan Nagamasa, jadi pengatur properti. Kotarou jadi pengatur penonton. Keiji akan jadi penata rias. Dan Ieyasu akan jadi pengendara kereta kencana pangeran. Oh dan Matsu, Oichi, dan Kasuga akan jadi penyanyinya! Jadi.."

"Aku tidak dapat peran, selain jadi tokoh utama..."

"Hahaha, tabahlah Tsuruhime! Ini tumbenan sekali para cewek tidak mau jadi putri soalnya!" akui Ieyasu.

"Aku mau saja tahu!" sahut Kasuga. "Tapi karena ancaman—"

BLETAK!

Sepatu berbahan kulit buaya licin dengan ukuran 42 mendarat tepat di wajah Kasuga, memberikan ciuman yang mesra.

"Masamune-dono! Sepatumu melayang!"

"Ups, I'm feel sorry," ucap Masamune yang entah kenapa posisinya kini merangkul Yukimura dengan gaya sok pangeran. "Tanganku licin."

'Aku yakin Masamune berada dibalik ini semua. Bodoh kau Masamune!' rutukku dalam hati.

"I cannot wait for this drama. The Beauty and The Dragon seem like beauty story, am I right?"

"Dengan biaya besar perusahaan keluarga Date, tentu saja," jawab Yukimura. "Kenapa tidak The Beauty and The Tiger, Masamune-dono?"

Tokugawa Ieyasu mengangguk santai.

"Hei Motochika yang mendesain pakaian?" tanya Keiji heran. "Dia kan—"

"Apa?" sahut Motochika. "Aku yang tampang preman tidak punya seni cewek gitu?"

"Iya..."

"Keiji, kita bukannya pernah dengar keluarganya bekerja dengan profesi sebagai penjahit?" bilang Ieyasu.

"Argh bahkan aku lupa hal itu."

Aku menatap Motochika yang sedari tadi diam duduk dibangkunya dengan kedua tangan yang disilakan. Pria bereyepatch putih yang menutupi mata kirinya dengan rambut silver jabrik, ciri Motochika yang khas.

"Aku meminta Tsuruhime, Yukimura, Mitsunari, Masamune, dan Mouri ke rumahku hari ini setelah pulang sekolah," pinta Motochika. "Ieyasu boleh saja antara meminta dibuatkan baju atau beli sendiri."

"Baik! Sudah deal bukan? Tidak ada yang boleh protes dengan tugasnya!" seru Mitsunari.

"Ah! Aku belum bilang setuju! Dasar Mitsunari baka!"

—oOo—

Runa: "Para pembaca(h) sekalian, maaf jika aku takkan memasukkan cerita dramanya dalam fanfic ini. Drama itu akan dibuat jadi extra story. Aku cuma butuh waktu sebelum pementasannya untuk lanjutan cerita pokok selanjutnya."

Tsuruhime: "... Kenapa harus aku yang kena..."

Runa: "Biar greget Tsuruhime! Soalnya kalo aku setiap drama tidak pernah jadi tokoh utama."

Tsuruhime: "..." *manyun*

Runa: *merinding disko*
"Mau kumasukin pementasan dramanya biar jadi extra chap?"

Tsuruhime: "Tergantung para readers mau extra chap, extra fanfic, atau tidak sama sekali dibuat aja.
Minna! Minta reviewnya ya! Saya dan author benar-benar sangat sangat berterima kasih pada readers!"