Runa: "Kabar gembira untukku! Ah aku bisa ngambar lagi~!"

Tsuruhime: "He?"

Runa: "Setelah beberapa bulan gak gambar, aku diminta temen gambarin jaringan kulit buat tugasnya! Dan... Dan aku bisa warnain persis kayak di poster!
Ah syukurlah aku masih berbakat!" *cium tangan*

Tsuruhime: "...rasanya kalo soal copas itu memang lebih mudah dari berkarya deh."

Runa: "...Iya sih. Itu juga bakat yang tidak bakalan sirna dariku bahkan orang lain ya?
Oke aku mojok."

Tsuruhime: "Tuh kan ngambekan lagi...
Ayo kita balas review author!"

Runa: "Baiklah! Oh ya sebelumnya aku mau bilang, ada keralatan di chap 8.
Bagian: "Tsuruhime! Kau dipanggil sebanyak 65 panggilan tak terjawab! Wow adikku keren!" sampai "Bakat terbaikmu itu adalah menarik hati para pria!" |"KAKAK!" (yang udah baca awal chap 8 pasti tau dimananya) itu seharusnya pake center bold+italic karena itu flaskback! Anjer pertama kali pake bukan copas malah makin ancur editanku!
Pertama dari Meaaaa.
Huiks jika tau aku ndak perlu drama~ Aku pake ide kafe aja. Tapi ndak papa deh. Makasih udah mau mengalah demi author nista ini haha!
Nah bener kata Motonari. Olahraga sana! Hus hus(?)!"

Masamune: *tendang auth*
"Setelah berterima kasih, malah mau ngusir orang kayak ngusir ayam. Cih!"

Runa: *kepeluk dinding*
"Hueeeee aku dijahatin lagi hiksu!"

Masamune: 'Dia ndak mikir pakai kipasnya lagi buat nyerang kami? Tumben bodoh.'

Motonari: "Soal panggilan tidak terjawab Tsuru, paling banyak itu Masmun kok. Sekitar 4 : 0.5"

Masamune: "Hah!? Shit! Aku juga banyak urusan woi daripada miscall gitu!"

Motonari: "Tapi tidak untuk fanfic ini." *datar*

Masamune: "..."

Yukimura: *puk-puk masamune*
"Tabahlah Masamune-dono. Yeahh! Author Mea! Ayo buat fanfic yaoi tentang aku! Aku! Hanya aku-"

BLETAK!

Yukimura: *pingsan dengan nistanya gegara dilempar Runa pake kipas*

Runa: "Motonari dong! Motonari Motonari!" *gaya ala cheerleader*

Tsuruhime: *sweatdrop*
"Selanjutnya dari Dissa-CHAlovers!
Kita sehati ye ye! Ayo kompakan!
Lalu dari AmarisMayRay. Makasih doanya! Btw kau harus berterimakasih padaku hari ini. Kau itu stalker yang suka umbar-umbar ya?"

Runa: *dorong Tsuruhime*
"Baik karena ada dua yang voting mau minta extra storynya, maka akan kubuat tapi menjadi extra fanfic ya! Kalau extra chapter, capeknya itu nentuin chapternya. Nanti chapter 14 jadi 13.

Tsuruhime: "Argh author menyebalkaaannn!"


Chapter 9 - Pesta Pora Berakhir Musibah

Sosok pria bertubuh dan berotot besar nampak berdiri tegap di hadapan kami sekarang. Pemuda yang memakai pakaian lain dari kami yang hanya seragam sekolah, ia mengenakan tanktop hitam dengan celana jeans sampai lutut.

"Baik. Masamune ada. Yukimura ada. Mitsunari. Ieyasu. Mouri. Dan Tsuruhime."

Kami kini berada dalam toko Shell Sea, toko yang pernah pegawainya kutipu untuk menutupi jejakku saat kabur waktu jalan-jalan dengan Masamune dan Motonari sesudah aku keluar dari rumah sakit. Toko bercat serba nila dengan sedikit warna putih adalah ciri khas bangunan tersebut. Berderet gantungan-gantungan berjenis pakaian terusan, rompi, rok, celana jeans, kaos, sampai tanktop pun ada disana. Jika dihitung-hitung, pakaian cewek disana sekitar 75% dari pakaian cowok.

"Baiklah Motochika," mulaiku. "Rasanya orang dengan nama yang kau sebutkan di kelas tadi, yang harus datang bukan? Tapi…. KENAPA HARUS ADA KEIJI!?"

Kutatap jengkel seorang pria berambut cepak coklat dengan kepangan rambut di belakangnya entah asli atau palsu. Lelaki menyebalkan yang kini kupandang, menyumbingkan senyum terjahatnya di depanku.

"Kenapa Tsuruhime? Kau selalu merasa risih setiap ada aku," ucapnya santai.

"Kau kan hanya penata rias!" protesku. "Kau mau menggantikan posisi diriku menjadi putri baru aku tidak heran."

"Wow wow, aku harus berunding dengan Motochika. Desainer dan penata rias harus berunding menentukan gaya model, kau tahu?"

Motochika sedikit tersenyum, dan ia melipat tangannya. Tidak adakah keterbesitan dalam pikiran untuk setidaknya melerai kami saja?

"Benar apa yang dikatakannya, Tsuruhime. Dia kubutuhkan untuk merundingkan bagaimana desain kostum kalian saat di panggung nanti," sambungnya. "Sekarang daripada kita ribut terus-menerus, bagaimana jika kita mulai merundingkan bagaimana kostumnya mulai saat ini juga?"

Semua mengangguk termasuk aku.

"Naotora Ii! Ayo kesini!" teriak Motochika. Tidak berapa lama sehabis Motochika berteriak, sesosok wanita cantik dengan rambut hitam panjang yang diikat kepang, langsung datang mendekati Motochika sambil memperhatikan kami yaitu kawan-kawan Motochika yang asing dikenalnya. Tapi setelah ia sekilas menatapku, ia langsung tersenyum ke arahku.

Gadis yang dipanggil Motochika dengan 'Naotora Ii' berdiri disamping Motochika dengan menggunakan jaket kain ungu dan celana levis abu-abu pendek atas lutut. Ia tengah memeluk sebuah buku binder kuning cerah dalam genggamannya.

"Oh jadi waktu itu anda menipuku ya?" mulai gadis itu bicara dengan senyuman. "Aku dikabari Motochika setelah menceritakan hal ini padanya dan mereka."

Naotora Ii menatap Motonari dan Masamune yang berdiri di dekatku. Aku menatap mereka berdua, dan hanya bisa tertawa kecil menanggapi tatapan tajam mereka berdua langsung.

"M-maaf! Aku sangat merasa bersalah," kataku sambil membungkuk kecil. Gadis bernama Ii itu tertawa.

"Aku mengerti. Aku juga bakalan tidak mau berkencan dengan dua pria."

"Oh jadi Tsuruhime-dono berkencan?" tanya Yukimura polos.

"B-bukan Yukimura! Mana ada yang berkencan jika ada tiga orang saat jalan?"

"Ah Motochika, apakah anda sudah punya meteran?" alih Ii kini berkonsentrasi pada Motochika yang masih saja berdiri sambil melipat tangannya.

"Seperti biasa, Ii. Catat dengan baik ya?"

"Tentu!"

Motochika mulai mendekatiku, namun masih melipat tangannya. Ia menatapku sebentar dalam jarak dekat. Aku heran dibuatnya. Lalu ia,

GREP!

Dia memelukku langsung tanpa wajah apalagi merasa dosa. Aku bingung. Aku marah. Aku heran. Kini perasaanku bercampur aduk karenanya.

PLAK!

Tanpa menunggu lagi, aku reflek menampar wajah Motochika bengis. Sebuah gamparan keras sukses mendarat pada pipinya dariku langsung.

"Au! Ii, pinggangnya sangat kecil loh!"

Eh?

"CHOUSOKABE!?" marah Motonari. "SETIDAKNYA GUNAKAN METERAN! JANGAN MENGUKURNYA DENGAN PELUKAN!"

Eh? Mengukur? Maksudnya ada apa ini?

"Modus rendahan," celetuk Masamune. "Enak juga menjadi dirimu, kawan."

Eh? Eh?

"J-jadi tadi maksudnya mengukur ya?" tebakku.

"Mengukur atau benar-benar sedang dalam mode modus? Entahlah. Aku tidak mengerti Motochika," jawab Ieyasu. "Motochika sering memeluk para gadis kan?"

"Motochika bisa langsung mengukur dengan pelukan sih," lanjut Mitsunari.

"Itu tuntutan pekerjaan, kau tahu?" ucap Motochika. "Tapi jika saja aku sedang dalam mode modus, mengapa masih saja banyak pelangganku?"

"Misteri bukan?" lawak Masamune.

Mereka semua langsung tertawa kecuali Motonari dan aku.

"Eh hei, dululagi kecil aku pernah mengukur tubuh Mouri loh!" bilang Motochika. "Dulu masih bisa dikatakan sebagai ukuran lelaki. Sekarang, badannya ramping sekali kayak cewek!"

DUAKH!

Tendangan keras mendarat pada perut Motochika dengan sukses. Motonari tanpa segan, langsung melancarkan salah satu jurus karate yang pernah ia pelajari.

Aku tahu darimana Motonari adalah anak karate? Aku pernah melihatnya masuk ke latihan beladiri di sebelah rumahku dengan memakai sabuk hitam!

"Wow Mouri! Kau makin kuat ya!" kagum Motochika diselingi ringisan seperti ingin segera menuju toilet karena kebelet.

"Chousokabe. Aku akan berbuat lebih dari ini jika mulutmu tidak bernorma lebih dari yang tadi," ancamnya sambil menghela nafas.

Semua langsung merinding disko di tempat.

"Oh aku mau tanya. Gimana kostumnya nih?" alih Yukimura takut.

"Butuh waktu ekstra untuk bisa membuat pakaian pasangan tokoh utama. Tapi karena biaya semuanya ditanggung oleh keluarga Date, kurasa bisa menambah tenaga kerja," jelas Motochika yang tahu-tahu sudah tidak merasakan sakit lagi. "Tapi, siapa yang membuat cerita ya? Tanpa gambaran, aku tidak bakal tahu apa yang akan kubuat."

Semua yang ada disana saling bertatapan bergantian. Bahkan mereka sempat menatapku.

Aku tidak tahu apa-apa akan cerita ini bukan? Bukannya yang memaksaku menjadi tokoh utama itu mereka, jika saja mereka protes aku si tokoh utama tidak punya teks ceritanya.

"Ergh, Ieyasu?" tanya Motochika. Si empunya nama mengejang di tempat, kemudian menunjuk Masamune secara poin.

"SALAHKAN MASAMUNE KENAPA MENENTUKAN JUDUL LANGSUNG TANPA MEMBUAT CERITA KETIKA HABIS MENONTON KARTUN BEAUTY AND THE BEAST!" panik Ieyasu.

"KENAPA NADA SUARAMU SEPERTI BOCAH INGUSAN HABIS DIBULLY BEGITU!?" balas Masamune geram.

"KITA KAN AWALNYA BUKAN INGIN DRAMA SAAT FESTIVAL KEBUDAYAAN NANTI! KITA KAN BUAT KAFE, SESUAI IDE KATAKURA-SENSEI!"

"Aku tau aku salah, langsung mengidekan hal gila ini secara tiba-tiba saat sehabis pelajaran olahraga tadi. Puas?"

"Ingatkan juga karena kami baru tahu Katakura-sensei adalah pelayan pribadimu," sambung Mitsunari datar.

"Helo! Bertengkar takkan menyelesaikan masalah, kalian tahu?" sahut Motochika marah. "Lebih baik kita secepatnya memikirkan plot cerita drama ini, atau kita akan dicap gagal oleh kepala sekolah dan secara tidak langsung kita telah menurunkan reputasi kelas kita yang katanya unggulan dibanding kelas lain."

"Kau benar, kawan," ucap Ieyasu. "Lagian aku sebagai ketua kelas, tidak keren jika berkelahi dengan anggota kelasnya sendiri."

"Jadi, si naga picak ini langsung mengusulkan tanpa berkompromi bagaimana dramanya berlangsung?" ejek Motonari dingin. " Oh pantas saja Beast diganti menjadi Dragon."

"Mouri…." Motochika menepuk jidatnya. Sesuatu yang harusnya sudah damai, kembali diricuhkan oleh sang Mouri Motonari. Tentu akibat kalimat ceplas ceplos sang anak pewaris jiwa seni membuat kami semua ingin bunuh diri sekarang.

"Oh jadi kau marah karena aku bersama Tsuruhime, Mouri?" tanya Masamune ikutan sinis.

"Aku kasihan dengan Tsuruhime dan seluruh penghuni kelas 3-1. Membiarkan mereka sepakat dengan ide gila seorang naga idiot tanpa rundingan."

"Tapi mereka menerimanya."

"Karena uang."

Masamune terdiam setelah Motonari mengucapkan kalimat yang menurutku sangat menusuk. Keadaan sekarang sudah dikatakan 'panas' oleh perdebatan mereka berdua. Parameter panas pelan-pelan menuju tanda 'danger'.

"Kau jangan main-main dengan festival kebudayaan, Date Masamune," lanjut Motonari. "Kehormatan kelas kita tidak bisa dibeli dengan uang."

"Sudahlah, Motonari," sahutku. "Aku memang tidak tahu apa yang kalian rundingkan siang tadi. Hanya benar kata Motochika sebelumnya. Perkelahian takkan bisa menyelesaikan masalah."

Motonari yang sedari tadi menatap tajam Masamune yang merasa bersalah sampai terdiam saja, langsung menghela nafas pelan lalu menunduk pelan.

"Maafkan kata-kata blak-blakkan aku barusan," lirih Motonari. Ia memberi jarak sedikit dengan Masamune berdiri, membelakanginya.

Motochika menatapku dengan senyum yang dipaksakan. Mitsunari juga ikut memandangku, bahkan Yukimura melihatku prihatin.

"Dengan usaha kita bisa menyelesaikan masalah ini. Jika kalian mau menerima saranku bagaimana proses ceritanya, aku akan memikirkannya sekarang," tawarku. "Lagian ini terinspirasi dari kartun dengan tokoh utama Belle kan?"

"Hanya dengan semangat Tsuruhime tentu tidak cukup, meskipun mencari ide cerita menurut kalian gampang karena hanya referensi sekalipun," lanjut Ieyasu. "Aku ikut bantu mencari ide."

"Kalian lupa bahwa ada anak yang mahir untuk soal itu?" celetuk Motochika. Ia melirik Motonari yang sedari tadi membuang wajah.

"Ah benar! Motonari-dono memang bisa dalam bidang ini," ucap Yukimura.

"Aku tidak mau ikut campur," ketus Motonari.

"Ayolah Mouri! Siapa lagi yang dapat melakukan hal ini selain dirimu?" pinta Motochika.

"Ayo Motonari-dono!"

"Motonari," ucap Mitsunari.

"Motonari?" Ieyasu ikutan berharap.

"Boleh kan, Motonari?" tanya Keiji.

"Aku akan bayar berapapun, for your brilliant idea," tawar Masamune.

"Kau mau bantu kan, Motonari?" tanyaku halus.

Motonari menggeleng lemah dengan helaan nafas kecil seraya berkata, "Baiklah, jika kalian memaksa." hingga seluruh anggota dalam butik Motochika bersorak gembira semua kecuali Motonari dan aku.

"Bagaimana jika kita mampir ke diskotik keluargaku?" tawar Keiji. "Sekalian mencari ide disana."

"Nice idea, Keiji."

"Aku juga dengar tempat diskotik Keiji itu sangat mewah," bilang Mitsunari.

Kami semua mengangguk setuju.

—oOo—

"WELCOME TO THE GREATEST HEAVEN IN SAPRON!" teriak Keiji mempersilakan kami semua mendatangi lalu memasuki sebuah diskotik dari pintu yang tanpa penjaga saat ini. Diskotik berukuran besar berdinding keramik gelap (entah ungu atau hitam) yang terlihat sangat sepi, dengan lampu bulat putih yang merupakan lampu disko menggantung di tengah-tengah lantai keramik putih yang saat kami pijaki berdecit.

"Loh Keiji. Mana tamunya?" tanya Mitsunari merasa janggal dengan diskotik milik keluarga Keiji, Maeda. Tiada tamu di dalam sana sesaat kupandang sekilas.

"Ini memang jam diskotik Maeda masih tutup," jelas Keiji. "Jadi, aku bebas menggunakan ruangan ini sampai waktunya buka. Bahkan pegawai disini saja belum datang."

"Matsu dan Toshie dimana?" tanya Mitsunari lagi.

"Tidak usah dicari. Biasa lah, lagi mencari suasana adem untuk berduaan," jawab Keiji santai.

"Masamune-dono!"

"I know it, Sanada Yukimura," ucap Masamune bangga. Kami melengok mereka berdua yang beradu berlari menuju tempat dimana para bartender bekerja.

Astaga mereka seperti bocak yang pertama kali masuk diskotik.

"Nah kalian berdua. Keluarkan semua minuman terbaik disini!" sorak Ieyasu. Ia mendorong aku, Motonari, Mitsunari, dan Motochika, menuju sofa merah berbentuk bundaran, dimana mengelilingi sebuah meja hitam yang terbuat dari kayu ulin yang diberi cat kayu hitam hingga terlihat mengkilap. Kami yang didorong langsung duduk disana tanpa aba-aba, menududuki sebuah sofa yang muat untuk diduduki empat orang.

Tidak beberapa lama kami duduk dalam keheningan, Keiji lekas pergi dan tak tahu-tahu sudah membawa baki berisi delapan cocktail kosong dan sebuah botol kaca besar.

"Ini adalah wine terbaik dari diskotik ini! Wonder Moonstone," pamer Keiji. "Jadi bagi yang ingin wine ini tapi tidak pernah merasakannya ataupun memang tidak tertarik wine, kalian sangat beruntung bisa menikmatinya. Dan ini non-alkohol."

"Masamune-dono, aku menemukai rak berisi minuman full-alkohol loh," kabar Yukimura yang ternyata sudah mengubek-ubek lemari sana.

"Jangan dicium, Yukimura. Kau masih belum saatnya tahan akan hal itu," perintas Masamune.

"Daripada kalian berdua heboh sendiri, bagaimana dengan membantu mencari ide cerita kita saat ini?" protes Motonari.

"Ayolah, kita berpesta dulu Mouri," ajak Keiji. "Kau belum pernah ke diskotik dan minum-minum sebelumnya bukan? Tenang, disini belum ada ceweknya."

"Keiji main pamer nih," goda Ieyasu. Ia bangkit dari sofa dan menolong Keiji menuangkan cairan berbau anggur berwarna yang jika kulihat sekilas adalah biru keabu-abuan.

"Jadi ini alasannya dinamakan 'Moonstone' ya? Warnanya seperti bulan," bilang Yukimura yang ternyata sudah menghampiri kami diikuti Masamune dari belakang.

Keiji mengangguk membenarkan.

"Tsuruhime mau coba?" tawar Keiji. Ia menyodorkan satu cocktail berisi cairan dalam botol yang digenggamnya kini, padaku ramah.

"Erghh… Aku tidak diperbolehkan minum yang seperti itu," ucapku. "Takutnya mabuk dan… kalian bisa menebaknya sendiri."

"Kami takkan macam-macam dengan cewek polos. Ya kan Motonari?" tanya Keiji pada sosok pria berkacamata yang menyibukkan diri meminum wine dalam diam. Sehabis menegak satu cocktail kecil penuh, ia hanya mengangguk meng-iyakan.

"Tuh bahkan bos kita membenarkan. Ayo silakan dicoba Tsuruhime!" goda Keiji menawarkan kembali wine ditangannya. Aku pun menyanggupinya dan tanpa sadar aku mengambil wine yang disodorkannya padaku dan meminumnya dengan cepat.

"Hei bagaimana jika kita main raja?" ajak Ieyasu. "Masamune! Yukimura! Kalian jangan sibuk disana daritadi dong!"

"Kami sudah disini dari tadi," gerutu Yukimura. "Kau darimana saja!?"

"Nah peraturannya kita harus menghabiskan 2 gelas cocktail berisi penuh sebelum memainkan ini. Kita bisa menebak siapa yang lebih gila nanti kan?"

"HAH!?" teriakku panik. "Jika aku tahu, aku pulang saja ke rumah sekarang! Pasti badanku penuh dengan semerbak bau anggur nanti!"

"Tidak apa Tsuruhime. Take it easy. I'll helped then," sahut Masamune.

"Kalian keras kepala sekali ya?" ucapku blak-blakan. "Aku tidak mau ikut! Pokoknya a-"

NYUUTTT!

Kepalaku berdenyut hebat. Serasa berputar-putar, lalu mereka seakan-akan memeras otakku langsung.

"Nah Tsuruhime kena!" tegur Keiji dengan tawa kemenangan. "Jadi kau mau kan?"

Aku mengangguk pelan. Rasanya aku mulai ingin melakukan hal gila diluar nalar kewarasanku kali ini saja. Aku ingin bermain, ingin mencoba sesuatu yang baru yang belum pernah kucoba sebelumnya. Apa saja!

"Padahal baru non-alkohol. Bagaimana dengan minuman yang beralkohol nanti ya?" olok Mitsunari.

"Tsuruhime? Kau baik-baik saja kan?" tanya Motonari perhatian. Aku menyenderkan kepalaku pada sanggahan sofa empuk.

"Jangan khawatirkan aku, Motonari," kataku girang. Wajahku terlihat mulai merah semu, terasa sangat panas. Motonari yang duduk disebelahku setelah Ieyasu, mneggeleng lemah.

"Ayo!" seru Masamune. " Satu!"

"Dua!" sambung Yukimura.

"Ti-"

GLUK GLUK GLUK!

Semua secara ngebut langsung meminum wine mereka masing-masing, termasuk aku. Pertama dimenangkan oleh Keiji, lalu Masamune. Mitsunari, Ieyasu, Motonari, aku, Yukimura, dan terakhir Motochika.

"AHAHA I'M FEEL HAPPY!" teriak Masamune.

"Sudah dikumpulkan dan salah satu ditandai kan sumpitnya?" tanya Motochika yang mulai kelihatan pusing.

"Ah Motochika yang terlihat kayak mantan preman masa' kalah dengan Tsuruhime sih?" ejek Ieyasu. "Ckckck… "

Sebenarnya aku juga merasakan pusing yang luar biasa lebih dari sebelumnya. Mataku berkunang-kunang, dan merah semu dari wajahku sudah sampai tahap 'paling' merah. Ah aku merasa aku mulai mabuk sekarang.

"Sudah kusiapkan sebelum menawari permainan ini kok," bilang Keiji. "Jadi, dalam hitungan ketiga, semua mengambil sumpitnya langsung ya?"

Keiji memutar dan mengocok gelas berisi sumpit-sumpit tersebut. Ia mulai menghitung mundur, dan kami semua sudah sigap untuk mendapatkan target dimana sumpit yang bertanda garis merah diantaranya. Jika kami mendapatkannya, tentu kami akan menjadi raja dan dapat memerintahkan seseorang yang kami sebut angka yang tertera dalam sumpit semena-menanya. Layaknya raja. Oh ya, khusus untukku adalah ratu.

"SATU!"

Semua sudah menyentuh sumpitnya masing-masing. Kami menarik sumpit yang kami patok, dan…

Keiji mendapatkannya.

"AHAHA AKU JADI RAJA!" bangga Keiji. "Baik, nomor 4 harus meramal seluruh penghuni disini akan asmara mereka!"

"Hei bagi yang tidak bisa meramal bagaimana?" protes Motonari. "Siapa yang disini nomor 4?"

Aku mengacungkan tanganku tinggi-tinggi melambaikan sumpit yang kupegang dimana tertera angka 4 di sana. Aku sudah tidak bisa mengontrol untuk merasa betapa bahagianya aku sekarang.

"Kau lihat Motonari? Jangan panggil aku si raja judi jika tidak bisa menebak hal yang mudah seperti ini," sombong Keiji ketika melihat Motonari yang kini mendengus pelan. "Nah Tsuruhime, aku membawa kartu tarot loh."

"Baiklah !" jawabku antusias, yang setengah mabuk. Aku menerima kartunya tanpa pikir panjang, dan mengocoknya. Seperti kartu yang dibawah tertaruh di atas, begitu sebliknya, secara berulang-ulang.

"Siapa yang duluan?" tawarku.

"Masamune dulu!"

"Keiji!"

"Motonari dong!"

Aku melengok si pemilik nama yang mereka sebutkan terakhir. Motonari membuang wajahnya ketika aku menatapinya, tidak terima aku menatapnya.

"Motonari?" tanyaku bingung.

"Keiji atau lainnya saja! Aku tidak mau diramal," ketusnya.

"Ah Motonari tidak asyik nih!" ngambekku.

"Oke-oke, aku terima!" marahnya. Aku menyodorkan 22 kartu tarot padanya, dan ia menarik salah satu darinya. Ia memperlihatkan gambar kartu tarot di dalamnya, yaitu gambar The Fool.

"Kebingungan apa Motonari?" tanyaku. Semua terlihat ikut kebingungan dengan pertanyaanku barusan.

"Kebingungan? Maksudnya?"

"Kau kebingungan akan sesuatu. Silakan ambil kembali dua kartu. Yang kartu sebelumnya ditahan di atas meja," perintahku. Ia mengikuti apa yang kuperintahkan dan mengambil dua kartu dari tanganku.

The Lovers terbalik dan The Tower.

Siinggg….

Keheningan langsung tercipta sementara. Aku menghela nafas pelan.

"Motonari, kau tidak…"

"Sudah. Aku tahu ramalan itu tidak pernah benar dan ada," ketus Motonari. "Jangan ucapkan lebih, Tsuruhime."

"Jepang adalah Negara yang mempercayai takhayul. Bahkan negara yang mengedar jimat dengan bebas, Motonari. Kau orang Jepang atau bukan?" ketus Keiji. Motonari mendengus pelan.

"Aku murid pindahan Amerika. Aku tidak percaya dengan hal tersebut," jawab Motonari datar, sambil memperbaiki kacamatanya. Aku mengambil kembali kartu tarot yang dipegangnya, dan memperhatikan gambarnya lekat.

Padahal yang ingin kukatakan tadi adalah…

Ia memiliki hubungan yang tidak baik dengan atasannya. Tapi atasannya siapa? Lalu The Tower biasanya menghubungkan apapun dengan Tuhan. Apakah dia memiliki hubungan buruk dengan Tuhannya sendiri?

Kepalaku masih terlalu pusing untuk terus memikirkannya.

"Ah kita tunda saja ramalannya," kata Keiji. "Mari kita kocok kembali sumpitnya, oke?"

Semua mengangguk dan menaruh kembali sumpit yang masing-masing kami pegang pada gelasnya. Keiji mengocok dan kami melakukan hal yang sama dengan sebelumnya terhadap sumpit-sumpit tersebut.

Kali ini, Motochika yang dapat.

"AKU PERINTAHKAN NOMOR 2 MENYETEL MUSIK YANG SERU LANGSUNG!" teriaknya tegas saat menyadari dirinya kini menjadi raja.

"As your wish, majesty," sahut Masamune. Ia langsung memasang topi yang entah darimana dapatnya, berlari lalu melompat ke atas panggung, dan mulai memasang piringan hitam pada kotak musik di depannya.

"Dapat darimana tuh anak topi?" heran Mitsunari.

"Dan sekarang, ayo kita menari semua!" seru Motochika.

"Chousokabe, kau gila menyuruh kami berjoget?" protes Motonari.

"SEMUANYA! LET'S PARTY WITH DANCE!" teriak Masamune senang.

"KALIANNN!" teriak Motonari ketika semua anggota penghuni sana berdiri ketika musik mulai disetel.

"When I walk on by, girls be looking like damn he fly," mulai Masamune. Suara jentikan jari Masamune terdengar nyaring sampai menggetarkan gendang telingaku.

I pay to the beat, walking on the street in my new lafreak, yeah
This is how I roll, animal print, pants out control,
It's real fool with the big afro
They like bruce lee rock at the club

Girl look at that body!
Girl look at that body!
Girl look at that body!
I work out!

Zruutt!

Masamune dengan lihai menggantinya dengan piringan baru.

Can ios terroritas

Pastinya semua anak muda dari seluruh negara tidak asing dengan nada lagu satu ini. Salah satu lagu terpopuler yang sempat menjadi urutan nomor satu dalam billboard song list, dimana semuanya berjoget tidak karuan ketika musiknya diputar. Begitu dengan kami semua disini kecuali Motonari yang sedari tadi hanya duduk di sofa.

And do the Harlem Shake!

Zruutt!

Kini musik terganti dengan lagu 'Like a g six'. Baru saja musik yang digantinya akan berputar, ketika…

BRUK!

"Eh?"

"TSURUHIME HAS FAINT!"

—oOo—

"Ternyata kau sudah bangun."

Aku membuka mataku perlahan. Sosok pria berambut coklat pendek, tengah menungguku di sisi lain kasur empuk yang kutiduri. Ia berdiri sambil memposisikan diri melipat kedua tangannya, memperhatikanku lekat.

"Mo-Motonari?" kupanggil namanya, ketika menyadari sosok siapa yang didepanku.

"Kau terlalu mabuk dan… kau pingsan," bilang Motonari. "Mereka menjamin aku dapat menjagamu. Jadinya mereka berjalan-jalan mencari bahan untuk properti drama nanti."

"J-jadi teksnya sudah dibuat?"

"Sudah."

"Dan aku tertidur berapa jam?"

"4 jam."

"HAH!? KALIAN SELESAI KURANG DARI 4 JAM MENGERJAKANNYA?" teriakku histeris.

"Begitulah," jawabnya singkat.

Kami berdua pun diam dalam kesunyian. Tidak ada satu dari kami membuka suara. Aku memanfaatkan waktu tersebut untuk memulihkan rasa pusing yang menggerogoti otakku.

"Laki-laki yang bisa bersamamu, pasti bahagia kan?" mulainya, membuatku kaget dibuatnya.

"Kenapa tiba-tiba membicarakan hal itu?"

"Soal ramalan tadi, aku masih terus memikirkannya," ucapnya jujur. "Pasti ramalan tadi mengena pada masalah pribadiku tentangmu sekarang."

"Motonari lebih tahu akan isi kartu tarot yang kuramal ya?" tanyaku. Ia mengangguk pelan disertai desahan kecil.

"Kau akan tahu apa yang kumaksud dengan masalah pribadiku denganmu. Perasaan yang tidak bisa konsisten seperti ini muncul karena gadis sepertimu. Sungguh aku tidak percaya."

"Bahkan aku kaget ketika membaca asmaramu, kartu the lovers benar-benar muncul dari tanganmu."

"Apakah Tsuruhime menganggapku…."

Motonari melihatku dengan menyipitkan matanya. Ia membuang wajahnya ketika tidak tahan terus bertatapan denganku. Aku masih diam tak bergeming karenanya.

"Sudahlah. Aku tidak mau memikirkannya," ucapnya dingin.

"Jujur saja Motonari. Aku sudah menganggapmu adalah orang yang berarti bagiku," bilangku lembut.

Motonari sedikit ingin tertawa mendengar kejujuranku. Ia alihkan tatapannya dengan memperbaiki kacamata putih yang ia kenakan.

"Berarti ya? Aku tidak tahu sampai kapan perasaan tabumu itu akan bertahan."

"Eh?"

"Apalagi jika…"

"MOTONARI! TSURUHIME!" panggil Ieyasu lantang dari bibir pintu kamar yang ternyata tidak dikunci sedari tadi aku bangun.

"Ada apa, Ieyasu?" tanya Motonari penasaran.

"Motochika…"

Aku langsung bangkit dari tempat rebahanku mendengar kabar dari Ieyasu, dan berlari mengikuti Ieyasu dari belakang bersama Motonari di sebelahku.

"Motochika hampir mati gegara tertabrak mobil saat kecelakaan tadi. Nyawanya dalam keadaan kritis!"

—oOo—

Runa: "Ah syukurlah aku sempat bertanya-tanya soal patokan referensi dari fanfic ini. Aku jadi tau bagaimana mempercepat fanfic ini biar selesai gak sampai +20 chapter."

Tsuruhime: "Ye! Berarti tidak habis sampai tahun depan ya?"

Runa: "Yap! Dan aku jadi mau buat fanfic fantasy yang baru..."

All: "Woi nyempet mau bikin fanfic chapter banyak lagi!? What!?"

Runa: "Oke oke aku ndak tau jadi apa gak. Kalian ini jahat deh.
Terimakasih buat membaca fanfic ini! Saya tunggu reviewnya haha! Oh ya, sekarang banyak author ya yang masuk fandom ini? Yang baca ini, saya mohon maaf sebesar-besarnya tidak dapat menyempatkan baca fanfic kalian atau aku pernah baca tapi tidak sempat ku review. Aku juga lagi sistem ngebut buat fanfic, jadi waktu luangku hanya kugunakan untuk membuat fanfic dan gak bisa nyempet ngetik buat review hiks.
Saya mengucapkan banyak berterima kasih untuk partisipasi dalam fandom kenanganku ini." *bow*
"Sekalian minna! Aku mau ngasi kabar soal mimpiku tentang fanfic ini loh."

Tsuruhime: "Oh yang ada anggota vocaloid ikut nimbrung itu ya?"

Runa: "...kok tau!?"

Tsuruhime: "Ada deh! Jangan bilang aku adalah peramal kalau tidak bisa menebak hal itu!"

Runa: "Fuh. Oke aku akan cerita. Mimpiku itu tentang kalian rundingan drama. Dan Oyakata-sama masuk kelas ketika kelas kalian ribut luar binasa.
Oyakata-sama bilang, "Kalian harus membuat drama!"
Dan saat itu Yukimura yang di luar kelas, jongkok mendengar perintah Oyakata-sama. Kulitnya hitam!"

Yukimura: "Ih gue mah putih bok!"

Runa: "Tapi di mimpi dikau hitam! Dan hebatnya, aku jadi Yukimura malahan!
Lalu Masamune sama Yukimura berundingan menentukan tema drama. Sedangkan yang lain diam mendengarkan. Ketika kamera fokus pada meja Motochika sama Motonari, aku mangap karena ada yang berusaha bangunin Motonari. Dia anggota vocaloid. Rasanya IA yang bangunin.
Motonari muka tidurnya jelek banget. Tapi ketika digoyangin, eh itu cuma topeng. Yang muka asli saat tidur tamvan sekaleh kyaa~"

Motonari: "LANJOT DOLO, JANGAN FANGIRLINGAN!"

Runa: "Ayayaya~
Lalu Motonari bangun. Aku yang jadi Yukimura langsung membayangkan jangan-jangan badan Motonari ambigu.
Saat Motonari bangkit, bersyukurlah dadanya rata.
Tapi aku ngakak saat Motonari bangkit sambil bilang, "KALIAN BELUM LIHAT TUBUH ASLIKU?" dan JREEENNGG! Motonari nurunin kaos dalamnya dan beroppai!"

Motochika: "UKHHH!" *nosebleed duluan*

Runa: "Dan aku langsung teriak, "OANJEERR MOTONARI BEROPPAI!" dengan nistanya.
Cerita ambigu lain ada juga loh. Ceritanya aku dikelilingi mainan yang jika mereka tegap dalam 5 menit maka hidup. Dan gak sengaja waktu itu aku diriin mainan ikan. Alhasil ikan itu iringin aku melulu kemanapun. Aku takut jika dia minta dikawinin kayak waktu aku nonton di Discovery Channel tentang lumba-lumba siap menggabungkan (maaf) penisnya dengan (maaf lagi) penis si penyelam!"

Motonari: "Dasar author mesum! Pervert! Goblok! Bego!" *maki-maki*

Runa: *tewas di tempat karena lontaran ucapan Motonari*

Motonari: "Udah tau ada anak dibawah umur baca fanficmu. Dasar. Goblok amat jadi author."

Tsuruhime: "Ara... Sudahlah Motonari-kun.
Minna mohon reviewnya ya! Caranya dengan ketik REG spasi-"

Yukimura: "Udah basih!"