Sudah setengah liburan musim panas berlalu.
Dan sore ini kamu teringat akan PR-mu yang segunung.
Kemalasanmu mengalahkan segalanya. Kamu berbaring lagi di kasur.
Tapi kamu bangun lagi.
'Kalau nggak sekarang dikerjakan, nggak akan selesai.' Pikirmu.
Lalu ponselmu berdering.
.
'Fly so high follow me, follow me, follow me, baby! Ryo-o-te-wo—'
.
.
.
"Moshi-moshi." Katamu sambil mengangkat telepon itu.
.
"(Name)." Ujar suara di seberang sana.
"Mi-midorima-kun?!" Kamu setengah berteriak karena tak menyangka si penelepon adalah megane hijau.
"Tak usah berteriak di telepon,nanodayo." Katanya kalem. Padahal sih doki doki abis.
"Ada apa, midorima-kun?" Tanyamu.
.
.
"Oha-asa hari ini bilang bahwa (zodiakmu) sedang ketiban sial berturut turut,nanodayo. Aku hanya ingin memastikan keadaanmu. Bisakah kau kesini sekarang? Ke rumahku, nanodayo."
.
.
Ada hening diantara percakapan ini.
.
Midorima, alesanmu ngga banget deh.
.
"Bu-bukan berarti aku peduli padamu, nanodayo!" Tsunderenya kumat lagi kan.
Kamu tertawa kecil. "Tapi aku tak tahu rumahmu, midorima-kun."
.
.
"...Kau mau kujemput?" Tawarnya.
.
"Tidak merepotkanmu kan?"
.
"Tidak. Tunggu dan bersiap siaplah. Aku akan disana dalam 20 menit, nanodayo."
'Klik'. Telepon terputus.
"Dasar tsundere. Badan gede gitu tsunderenya minta ampun." Gumammu sambil bersiap siap. Lalu kamu melihat tumpukan buku peer musim panas di mejamu.
.
.
'Kenapa nggak ngerjain bareng midorima aja?
.
Kan dia pinter,hehehe.'
Kamu nyengar nyengir ga jelas banget.
'Ting tong'. Bunyi bel di apartemenmu. Midorima sudah datang. Kau membukakan pintu untuknya.
.
"Selamat datang midori—Astaga kau kenapa pucat begitu?!"
Midorima wajahnya pucat dan ngos ngosan. Kamu berlari mengambil tisu di ruang tamu dan buru buru mengelap keringat dingin midorima.
.
Midorima nyengir dalem hati. Mukanya ngeblush sedikit akibat tingkahmu.
.
Duh, midorima.
"Ti-tidak apa apa nanodayo." Katanya. "Kau sudah selesai siap siap?"
"Sudah!" Kamu tersenyum lebar sambil mengangkat bungkusan besar berisi peer.
"Apa itu nanodayo?!" Tanya midorima kaget.
"Ini peer musim panas, midorima-kun. Kuharap kau mau membantuku menyelesaikannya." Kamu nyengir ke midorima. Midorima membenarkan posisi kacamatanya dan membuka bungkusan besar berisi peer-mu itu. Dia mulai mengecek bukumu satu persatu.
.
.
teteretetet /efek terompet/
.
Kosong melompong...
.
.
"Kau...ini tidak akan selesai bahkan dalam waktu sehari. Bodoh sekali,nanodayo." Midorima kembali membetulkan letak kacamatanya.
.
"Kalau begitu aku menginap di tempatmu ya, midorima-kun?"
.
.
.
Krik
.
.
Krik
.
Midorima udah mau pingsan, tapi dibangunin lagi sama harga dirinya.
"Terserah kau saja, nanodayo. Ehem." Midorima berdeham sedikit. "Cepat siap siap. Keburu malam." Perintahnya.
Kamu pun mengemasi barang barangmu seperlunya. Itupun udah keliatan kayak mau pindah rumah.
.
Engga deng. Author bercanda. /slap.
.
"Ayo berangkat midorima-kun!" Katamu dengan semangat. Midorima cuma geleng geleng. "Semoga belum gelap, nanodayo."
.
.
Kalian berdua keluar dari gedung apartemen. Berjalan berdua menuju rumah Midorima.
Langit senja yang memerah itu menyelimuti langkah kalian. Belum gelap. Belum terlalu.
.
"Hoi, lewat sini, nanodayo." Kata midorima menunjukkan jalannya kepadamu.
"Masih jauhkah, midorin?" Tanyamu. Udah 10 menit jalan kaki ga nyampe nyampe. Betismu udah menjerit jerit minta diistirahatin.
"A-apaan itu midorin nanodayo?!"
"Namamu terlalu panjang. Susah manggilnya. Masih jauh nggak?" Jelasmu singkat dan kembali ke topik.
Midorima tidak menjawab, dia berhenti di rumah berwarna putih yang besar.
"Sudah sampai,nanodayo." Kata midorima sambil membuka gerbangnya.
.
Dan..
Kamu masih cengo liat rumahnya.
.
.
Gede.
Banget.
.
"Kau sedang apa bodoh, cepat masuk nanodayo!" Perintah midorima.
Kamu tersadar dari ke cengo-anmu. Buru buru ngambil barang barangmu dan masuk ke rumah, sesuai perintah si master–eh tuan rumah.
.
.
.
.
Gak cuma luarnya. Dalemnya juga oke.
Bukan, kita ga lagi bicarain bentuk tubuhnya midorima. Dan 'dalem'nya. Tolong buang jauh jauh itu pikiran lemon lemonan kalian.
Ini rumahnya gede banget. Ga nyangka si megane ini anak orang kaya super. Tadinya kamu pikir dia cuma anak orang kaya titik, ternyata anak orang kaya super titik. Titiknya itu tanda baca,titik.
"Duduklah." Kata midorima padamu. "Tidak usah terlalu lama kagumnya. Rumahku ini tidak ada apa apanya dibanding rumah akashi." Dia menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah.
"Eh, baiklah." Kamu pun duduk disebelahnya.
"(Name). Keluarkan alat tulis dan peermu itu. Aku tidak mau mengulur waktu hanya karena seorang gadis pemalas dengan peer segunung." Perintahnya.
Kamu hanya bisa manyun sedikit sambil mengeluarkan buku-bukumu. Oke, yang dia bilang emang ga salah. Tapi dia itu ngga bisa ya ngomong ngga nyakitin hati orang?
.
"Kita akan mulai mengerjakan apa, midorin?".
"Matematika. Mulai dengan matematika saja." Dia membenarkan letak kacamatanya. "Dan panggil aku dengan panggilan normal."
"Midorin ga asyik."
"Panggil aku dengan normal."
"Iyaa iyaaa Shooter-sama." Kamu menghela nafas. "Ayo kita mulai, sensei!"
.
.
30 menit kemudian..
.
"MASA BEGINI AJA GA BISA! KAU LULUS UN NGGAK SIH!" Midorima mencak mencak.
.
"YA EMANG NGGAK TAU, MAU GIMANA LAGI HAH." Kamu ikutan mencak mencak.
.
Haaah. Midorima menghela napas. Sabar bener bener deh ngajarin kamu. Baru diajarin, 3 menit kemudian lupa.
Sampai akhirnya ada cewek yang turun dari tangga, melihat ke arah kalian. Rambutnya ijo juga. Mukanya ga jauh beda sama midorima. Bulu matanya panjang. Tapi dia nggak pakai kacamata.
.
.
Ini midorima versi cewe?
.
.
"Onii-chan..." Panggilnya pada midorima.
Oh adeknya midorima toh.
.
Oh adeknya.
.
Wait.
.
.
Adeknya?
.
"Onii-chan kenapa ribut banget?" Tanyanya pada midorima sambil menuruni tangga.
"Nggak apa apa,nanodayo. Kamu mau kemana?" Midorima tanya balik.
"Ah, aku mau ke pesta ulang tahun temanku. Aku mau menginap disana. Boleh yaa onii-chan? Yaa?" Rengeknya pada midorima. Kamu yang melihat midorima ditarik tarik bajunya sambil direngeki begitu cuma bisa cengengesan.
"Astaga...berapa hari? Bawa pakaian yang cukup,nanodayo. Lalu jangan bermain sama cowok nggak jelas, nanodayo." Kata midorima membenarkan posisi kacamatanya lagi.
Si adek memeluk midorima. "Makasih nii-chan! Tolong ikatkan rambutku dong, kepang satu yang susun itu ya, biar manis."
Midorima bisa ngepang rambut?
.
.
Kamu cengo ditempat.
Ini orang terlalu banyak surprisenya.
"Onii-chan dia siapa?" Tanya si adek sambil nunjuk nunjuk kamu.
"Di-dia..." Midorima tergagap.
"Katanya Onii-chan hanya suka padaku! Dia pasti pacarmu kan?!"
.
Astaga man, brother complex.
.
"Etto, aku hanya belajar bersama kok! Iya kan midorin?" Kamu mengedipkan matamu, 'kode' supaya si midorima ngomong iya.
"I-iya nanodayo. Kamu tak perlu khawatir. Nah ini kepangannya sudah jadi."
"Makasih onii-chan!" Si adek buru buru ngambil tasnya (yang ga tau sejak kapan ada di ruang tengah), lalu pergi keluar.
.
"Ittekimasu!" Teriaknya dari luar.
.
"Itterashai." Jawab midorima kalem.
.
.
.
Oke sekarang hening.
.
"Aku tidak pernah tau midorin punya adik yang manis." Katamu.
"Dan brother complex." Kamu tertawa kecil.
"Urusai nanodayo!" Pipi midorima memerah. Oh sekarang kamu tau cara jinakin tsunderenya. Ada pawangnya: Adeknya.
"Un...midoriiin aku capek sekali. Bolehkah aku nyontek peermu saja? Aku capek berpikir."
Midorima menghela napas. "Kapan pintarnya kalau kau begini terus,nanodayo." Dia menyerahkan buku prnya padamu. Kamu tersenyum lebar.
"Kyaaa makasih midorin!"
Dan dengan kamu tersenyum lebar, midorima jadi deg degan.
.
.
'Manis.' Ucapnya dalam hati.
.
"Ke-kerjakan saja nanodayo!" Dia membenarkan posisi kacamatanya lagi untuk menyembunyikan mukanya yang merah. Alibi.
3 jam kemudian.
"Yatta...! Tinggal satu peer lagi!" Kamu meregangkan badan yang sudah dipakai untuk menyalin peer berjam jam.
"Peer mengarang itu harus kau kerjakan sendiri,nanodayo." Kata midorima sambil membaca bukunya. Daritadi ia membaca buku untuk menemanimu ngerjain peer. Baik banget ya.
"Akan kukerjakan di rumah nanti." Katamu sambil berdiri. "Midorin, sudah jam 7.48. Ayo makan malam."
"Ah aku...aku tidak bisa masak,nanodayo."
"Hee? Benarkah? Jadi cowok seperti midorin pun punya kelemahan ya." Katamu tertawa, sambil melihat midorima yang pasang muka bete.
"Maa,maa. Aku akan memasak untukmu. Kau mandi saja,ya? Dan aku juga akan pinjam kamar mandimu nanti."
"Kau...bisa masak,nanodayo?" Tanyanya nggak yakin.
"Jangan remehkan aku,megane."
"Terserah kau saja." Katanya sambil melangkah ke kamar mandi.
"Tunggu! Kau mau makan apa?" Cegatmu sebelum dia masuk ke kamar mandi.
.
"...kare."
.
Blam. Midorima menutup pintu kamar mandi.
Kamu diam sebentar.
.
"Kare ya..."
.
.
Midorima keluar dari kamar mandi dan mencium aroma kare yang harum, yang sudah tersaji di meja makan.
Dan mata midorima melihatmu yang sedang menyiapkan meja untuk makan malam berdua.
.
Seketika itu wajahnya memerah.
.
'Dia istri yang baik ya..' Pikirnya.
.
"Ah midorin!" Panggilmu. "Ayo makan!"
"Iya..." Midorima berjalan ke meja makan dan duduk di salah satu kursi. Kamu pun duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
.
"Itadakimasu!" Kalian berdua memulai makan malam.
.
.
"Hei midorin, bagaimana rasanya?" Katamu pada midorima yang baru saja memakan suapan pertama di nasinya.
"Pedas...tapi enak..." Katanya sambil melanjutkan makannya.
"Bu-bukan berarti aku suka,nanodayo."
.
Ah tsundere nya kumat.
.
"Nah midorin," kamu menghentikan makanmu sebentar.
"Kapan giliranmu?"
.
"Giliran apa,nanodayo?"
.
.
.
"Berkencan."
.
.
Hening.
.
.
Krik.
.
.
"Ke-kenapa kau menanyakan itu, nanodayo?!" Mukanya memerah.
"Mou midorin. Kau tidak perlu tsundere begitu." Kamu berkata,kalem. Padahal mah degdegan.
Midorima (lagi-lagi) membenarkan posisi kacamatanya.
"Apa kau sudah ber–apalah itu dengan Kuroko?" Tanyanya.
"Kalau sudah, berarti sehabis itulah giliranku,nanodayo."
"Sudah kemarin." Jawabmu,kalem. Midorima hampir tersedak waktu minum.
"A-aku tidak pandai dalam hal seperti itu,nanodayo." Dia masih tsun.
"Anggaplah saja ini sebagai kencan, midorin." Kamu bilang padanya. Midorima hanya diam. Mukanya aja yang diem, hatinya doki doki suru.
.
.
"Lalu aku ingin tanya pada midorin." Katamu, mulai melanjutkan makan.
"Apa lagi, nanodayo?"
"Apa alasanmu ikut permainan–berkencan–denganku itu?" Kamu meminum air dari gelasmu (yaiyalah masa dari panci).
"Ak–"
"Tak mungkin kau mau ikut hanya karena diperintah Akashi." Potongmu.
.
Midorima diam. Ia berpikir. Mau gimana? Harga diri apa perasaan jujur?
.
.
Yaudah deh.
Jujur aja.
.
"Baiklah. Aku menyukaimu. Idiot." Mukanya merah semerah merahnya. Poor, tsundere. Dia pasti malu banget sekarang.
.
Kamu tersenyum. "Jadi, kenapa kau menyukaiku midorin?"
"Pertanyaan macam apa lagi itu,nanodayo!" Mukanya masih merah.
"Mou midorin~ aku hanya ingin tahu."
Midorima telah menyelesaikan makannya. "Jangan berkata bodoh,nanodayo. Makanlah dan mandi. Kau bisa memakai kamar tamu di lantai 2. Aku akan pergi tidur duluan nanodayo." Dia beranjak dari meja makan menaiki tangga.
.
"Jaa, oyasuminasai midorin." Katamu.
.
Midorima hanya menoleh. Lalu melanjutkan langkah kakinya ke kamarnya.
Kamu hanya menurutinya,mencuci piring, lalu mandi. Setelah itu kamu akan ke kamar tamu untuk tidur.
.
.
.
Sementara itu,setelah midorima masuk kamarnya, dia memandangi langit langit kamarnya dengan tatapan kosong.
.
.
'Kenapa aku tak bisa mengungkapkan perasaanku secara terang terangan sih...' Pikirnya.
.
Paginya kamu bangun dan bersiap siap pulang. Tentu saja setelah membuat sarapan untukmu dan untuk midorima.
Setelah berpamitan pada si tuan rumah,kamu pun pulang dengan perasaan lega karena peermu sudah hampir selesai.
.
Sementara si megane, hanya diam di kamarnya sambil mendengarkan Oha-Asa di TV.
Dengan perasaan mengganjal karena tidak bisa mengungkapkan perasaannya padamu.
.
.
.
"—Nah untuk Cancer. Peruntunganmu sedang baik hari ini! Tapi tidak dengan cintamu, seharusnya kau lebih berani supaya cintamu tidak bertepuk sebelah tangan! Jangan lupakan lucky item-mu hari ini, sebuah buku catatan berwarna merah!"
.
.
Buku...catatan...warna merah?
.
.
Midorima beranjak mengambil sebuah buku merah di pojok meja yang kalian gunakan untuk mengerjakan peer semalam.
.
punyamu tuh. Ketinggalan?
.
Karena penasaran, Midorima mulai membuka buku itu dan membolak-balik halamannya.
Hanya catatan biasa, sampai akhir.
Tapi di halaman terakhir..
.
.
Midorima bener bener merah mukanya. Dia tersenyum,tapi ditutupinya dengan tangannya.
.
.
.
Ternyata kamu menggambar midorima di halaman terakhir bukumu semalam. Lengkap dengan rambut hijau yang diwarnai pakai spidol.
Dengan kata-kata:
'midorima baik. Eh midorima jahat. tsundere aneh. Tapi baik banget. Makasih midorima~~ shintarou. Mido-pyon."
.
.
"Dasar bodoh..." ucap midorima, tak sanggup menahan senyumannya.
.
.
.
.
(A/N): makasih buat yg udah baca..terutama yg review. Review kalian bikin aku terharu:""")) jujur aja sempet takut buka notif review,karena takut ada yg nge-flame (lagi):") tapi kalian bikin aku semangaat~~ aaa minna daisuki~~ makasih banyak~~
btw itu ringtonenya lagunya e-girls - follow me. reccomended!
atau ada yg suka e-girls juga disini? Flower,happiness,dream, dan exile lain?X3
btw ditunggu reviewnyaa xD
