.

.

Akashi Seijuurou sedang melamun.

Ya, melamun.

Shogi jadi terasa membosankan. Jam jadi berputar lama sekali. Cowok berambut crimson itu cuma membolak-balik pion shogi-nya dengan bosan.

"Maa, takeda." Ucapnya pada salah seorang butlernya.

"Iya, tuan muda?" Jawab butlernya sambil menundukkan badannya. Bukan, bukan gara gara Akashi pendek. Itu ceritanya dia lagi hormat gitu.

"Apa tidak ada acara untukku hari ini?" Tanya sang tuan muda.

"Sumimasen. Jadwal anda hari ini kosong, tuan muda. Satu-satunya kegiatan anda hari ini, hanya pada saat berlatih shogi dengan tuan besar pagi tadi."

Loh itu kok butlernya rada mirip sakurai ya. /plak

"Sou." Akashi melangkah keluar dari kantor—atau ruang kerja pribadinya. Menuju kamar yang luasnya seperti satu lapangan...tenis meja. Ngga gitu juga sih.

Akashi meraih teleponnya yang berwana merah darah. Memencet beberapa tombol untuk menghubungi seseorang—ya,seseorang. Coba tebak siapa?

.

Kamu.

.

"Hallo." Kata akashi saat suara telepon diangkat diujung sana telah berbunyi.

"Eh, akashi-kun?"

"Kau harus menjawab salam orang terlebih dahulu (name)."

"Eh..etto, gomen! Moshi moshi akashi-kun. Ada apa?"

.

"Hanya ingin mendengar suaramu..."

.

"..."

Di ujung sana, jantungmu berdegup kencang. Semoga debaranmu tidak kedengeran di telepon.

"...sudah makan, (name)?"

"Belum..."

"Baik,kau akan bersamaku. Siap siap ya."

"EEEH? Demo akashi-kun—"

"Kujemput dalam 20 menit."

"AKASHI—" tut tut tut.

Akashi hanya terkekeh kecil mengetahui reaksi penolakanmu barusan,tentu bagaimanapun kamu tidak akan bisa membantahnya. Ya, dia adalah absolut. Tidak bisa dibantah.

Oke. Saatnya bersiap siap.

Akashi mulai beranjak dan memilih kemeja terbaiknya. Dengan sibuk. Berhubung yah you know si akashi, duitnya buat mandi tiap hari aja ga habis habis, jadi ya kemeja di lemarinya sana semua adalah yang terbaik.

"Apa yang harus kupakai..."

.

.


.

.

Kamu hanya bisa mendengus kesal saat si tuan-tak-bisa-dibantah itu menyuruhmu bersiap siap—dalam dua puluh menit.

Dua puluh menit.

Untuk makan bersama tuan Akashi Seijuurou.

Tidak ada waktu! Kamu harus bersiap siap. Lalu kamu berlari ke kamar mandi untuk sekedar mandi bebek—yah asal kena air.

/skip time/

Kamu hanya mandi selama 5 menit. Ngapain aja 5 menit? Ga inget tuh saking cepetnya. /plak

Intinya sekarang kamu sudah pakai bajumu, yang paling manis. Warna krim pastel, tanpa lengan. Ada rumbai di bagian dada, pita kecil untuk kesan dewasa. Dengan celana pendek selutut dan wedges yang senada dengan bajumu. Yap, kamu sudah siap. Tinggal makan bersama tuan Akashi Seijuuro. Sekali lagi terimakasih untuk Kise Ryouta, yang telah mengubah pola berpakaianmu.

.

Ting Tong.

.

Bel apartemenmu berbunyi. Gausah ditanya siapa, kan udah pasti—

.

.
—"Akashi-kun!"

.

Kamu hampir melongo di tempat. Ya, kapan lagi lihat pemandangan seperti ini?

Bukan...kamu malah udah melongo.

Seorang Akashi Seijuuro, memakai kaos warna merah seperti rambutnya. Memakai sneaker, dan celana jeans yang membuatnya berkesan seperti trendy—atau gaul,apalah itu. Belum lagi jam yang melingkar di tangan kirinya, yang udah dipastiin harganya wow-mahal-gila. Parfumnya juga...menambah aura maskulinnya habis-habisan.

Sasuga.

Dia keren banget.

Setaumu dia ga punya baju lain selain jas sama kemeja,kan?

"Kenapa kau memandangiku seperti itu?"

Mampus. Ketauan deh kalo kamu lagi terkagum kagum sama penampilannya.

"Eng-enggak! Bisa kita pergi sekarang?" Kamu segera mengganti topik pembicaraan.

"Baiklah."

Tanpa diduga, akashi memerintahkan supirnya untuk pergi. Membuat perdebatan kecil antara supir dan tuan muda itu. Tapi tentu saja, dia yang menang. Kan absolut.

Lalu supir itu pergi sesuai perintah, dan kalian berdua berjalan menuju stasiun terdekat.

"Ano...apakah Akashi-kun suka berjalan kaki?" Tanyamu, memecah keheningan.

"Tidak juga."

"Lalu kenapa Akashi-kun lebih memilih berjalan ke stasiun?"

Lalu Akashi tidak menjawab untuk sejenak. Apa kamu salah tanya ya?

"...hanya ingin membuat waktu lebih lama denganmu."

Pssshhh. Suara wajan di kompor. Engga deng, itu suara muka kamu yang tibatiba merah.

Akashi terkekeh. "Jangan salting begitu, (name)."

"A-aku tidak salting!" Loh, virus tsundere itu menular ya?

"Begitu?" Lalu akashi menggenggam tanganmu, menarikmu ke dalam stasiun. Kamu cuma bisa diem, nahan semua kupu kupu di perutmu yang lagi beterbangan—wait, sejak kapan kamu pelihara kupu kupu?

Singkatnya, kalian berdua udah di dalem stasiun. Tinggal tunggu keberangkatan kereta yang masih 10 menit lagi.

Akashi cuma diam berdiri, melihat keseluruhan isi stasiun. Matanya melebar, melihat keramaian orang, toilet umum, tempat penjualan tiket, kedai makanan,dan semuanya.

"Akashi-kun?" Panggilmu.

Akashi terkesiap. Tapi dia tetep stay cool. Lalu dia ikut duduk di bangku panjang, tempatmu duduk sekarang.

Ada hening selama beberapa saat.

Akashi duduk sambil memandangi shinkansen yang beberapa menit lalu sampai di stasiun ini.

"Ternyata stasiun itu sugoi."

.

.

.

.

Eh?

.

.

.

"Masaka, akashi-kun belum pernah ke stasiun ?!" Kamu kaget dengan pernyataan Akashi sebelumnya.

Akashi menggeleng. "Ayah tidak mengizinkan. Hari ini pun ayah pasti akan memarahiku habis habisan."

"...gomen" ucapmu lirih. Menyadari kalau kamu itu alasan akashi dimarahi oleh Ayahnya, tuan besar akashi corporation.

Akashi tersenyum, lalu menepuk nepuk kepalamu. "Tak apa, bukan salahmu kok."

'Kereta Nobu Express akan segera tiba. Menuju ke stasiun selanjutnya, yaitu Nobuzuki, Shinzaka, Misaki, dan...'

"nah, akashi-kun, ini tandanya kereta akan datang!" Jelasmu pada Akashi.

"Apakah kereta ini yang akan kita naiki?"

Kamu mengangguk. "Ikuzo, Akashi-kun!"


.

.

Pemerintah Jepang seharusnya menambah persediaan kafe dan atau tempat makan—untuk kencan...yang sederhana dan manis.

Sangat sedikit jumlah kafe semacam itu. Kamu dan akashi adalah salah satu korban dampaknya. Keliling-keliling kota hanya untuk mencari kafe yang cocok, sampai hari sudah sore begini. Walaupun akhirnya ketemu juga,sih.

Jadi, disinilah kalian. Kafe manis di pinggir jalan, dengan gaya kafe Amerika. Musik Jazz mengalun lembut, dengan nyanyian sang vokalis dengan bahasa inggris. Dilengkapi dengan senja hari yang sudah datang, menyembulkan semburat merah di langit. Suasananya...ah sudahlah.

Kafe tersebut menghadap ke jalan raya. Dari jendelanya, kamu bisa melihat hiruk-pikuk kendaraan, orang-orang yang berjalan pulang seusai kerja, dan banyak lagi.

Lalu kamu melihat bianglala besar di seberang kafe itu.

Kenapa..ada bianglala?

.

Oh, maaf. Aku lupa menjelaskan. Kafe ini juga menghadap ke taman kota, dimana sering dilaksanakan sebuah perayaan. Atau sekadar pasar malam saja.

.

iya, kafe ini memang sangat strategis.

"Akashi-kun! Akashi-kun! Lihat! Bianglala!" Kamu dengan ributnya nunjuk nunjuk bianglala itu.

"Kau mau kesana?" Akashi menurunkan cangkir Latte-nya. Dimakannya lagi sesuap steak pesanannya itu.

"Iya, akashi-kun. Bolehkah?" Kamu mengeluarkan jurus andalanmu. Yaitu 'memohon-pada-tuan-akashi no jutsu' dilengkapi dengan puppy eyes dan ekspresi memohon.

Mata akashi melebar. Disunggingkannya seulas senyum, lalu ia mencubit pipimu.

"Baiklah, baiklah.. Cepat selesaikan makananmu. Nanti bisa kemalaman."

Wow, kamu membuat Akashi-sama menuruti permintaanmu. Sasuga (name). Kau memang hebat.

Dengan mata berbinar, kamu menghabiskan makananmu. Akashi hanya menggeleng sambil tertawa kecil.


.

.

"Akashi-kun! Ayo naik itu! Itu!" Kamu menarik narik lengan baju Akashi.

Akashi cuma bisa menghela nafas sambil menuruti permintaanmu, untuk naik bianglala. hei, memangnya kamu ini anak kecil atau apa?

Kalian berjalan di tengah kerumunan orang, dan ramainya suasana acara itu. Kamu benar benar suka dengan keramaian. Senyum lebar merekah di wajahmu. Membuat Akashi ikut tersenyum juga. Ah, kalian.

Lalu..

Lalu tiba tiba Akashi yang berjalan didepanmu berhenti berjalan.

Ia menghentikan langkahnya. Berdiri. Terdiam. Menyangis. Tersenyum. (Kenapa jadi lagunya chakra khan...)

Didepan ...

.

.

...stand takoyaki.

"..." Akashi memandangi stand itu dengan wajah yang sangat polos.

.

'Itu kue bulat yang...di dalamnya ada guritanya...? Itu yang diceritakan ibu, katanya enak,ya? aku mau...Tapi, cara membelinya bagaimana ya...'

Kira-kira begitulah ucapan hati Akashi.

"Akashi...kun?"

Akashi masih diam dengan wajah polosnya, yang sangat jarang sekali kita temukan dalam berbagai episod kuroko no basket.

Author jadi gemes.

"...takoyaki?" Tanyamu sambil memandang kedua mata heterokrom yang tak lepas dari stand tersebut.

"Akashi-kun...mau takoyaki?" Kamu bertanya, atau lebih tepatnya mencoba men-translate arti dari hal-hal ehm...aneh yg dilakukan Akashi sekarang.

Akashi menoleh padamu, dan sekali lagi...dengan polosnya...mengangguk. Memasang ekspresi yang tak pernah kamu lihat sebelumnya. Ekspresi 'ingin makan itu' yang sangat murni,seperti anak kecil.

Oh, Akashi. Kamu OOC sekali.

Pipimu memerah, gemas melihat si raja absolut dengan manisnya meminta takoyaki—oh takoyaki. Terimakasih, takoyaki.

Kamu tersenyum dan menarik Akashi untuk membeli takoyaki tersebut. Dengan sigap, si penjual membuatkan pesanan kalian. Karena itu stand terbuka, maka pembeli akan bisa melihat proses pembuatan makanan tersebut. Maka, mata Akashi Seijuuro tidak terlepas dari proses pembuatan makanan bulat itu. Dia tampak kagum. Aduh, manis banget. Tuan Absolut yang jatuh cinta sama takoyaki. Boleh juga.

"Arigatou, paman!" Katamu saat menerima seporsi takoyaki yang tadi kalian pesan.

"Makan sambil jalan itu tidak baik, (name)." Kata akashi, melihatmu membuka bungkusan takoyaki dan bersiap-siap memakannya.

"Tapi—" belum sempat kamu menunjukkan penolakan, dan...

"Duduk." Akashi menunjuk salah satu bangku panjang yang kosong. Yah, tuan absolut telah kembali. Kamu pun menuruti dan duduk disebelahnya dengan bibir monyong ke depan karena sebal.

Akashi terkekeh kecil.

"Makan sambil jalan itu tak baik.." Katanya.

"Kau sudah bilang itu tadi." Katamu ketus sambil melahap takoyaki-mu.

Sekali lagi Akashi tertawa kecil. Lalu mengusap pipimu. Entah kenapa melihatmu kesal begitu, adalah salah satu hal dalam list kegiatan yang paling disukainya.

"Maaf, kita pasti naik bianglala kok."

Wajahmu memerah sedikit. Dengan tsundere (yang entah sejak kapan kamu derita), kamu mengangguk kecil. Midorima, virus ini kau tularkan lewat mana?

Dan saat itu pula, lewatlah sesuatu yang kamu takuti.

.

Badut.

Kamu langsung sembunyi di balik pundak Akashi, menjatuhkan bungkus takoyaki dan isinya ke tanah—padahal baru dimakan separuh—dan gemetaran.

"A-akashi-kun..." Kamu hampir menangis melihat badut itu semakin dekat dengan posisimu saat ini. Sumpah badutnya nyeremin. Hih.

"Kau ini..." Akashi menghela nafas. Ia memutar badannya, sehingga menghadapmu. Lalu ia meletakkan kepalamu di dadanya yang bidang. Memelukmu, supaya kamu tidak melihat badut itu lagi, sekaligus supaya kamu tenang.

Dan... Kamu bisa merasakan detak jantungnya...sedikit lebih kencang.

Kamu hanya diam dalam kejadian itu. Entah mengapa kamu ingin kejadian ini tidak pernah berakhir. Kamu enggan melepasnya. Dan, hei, bukan cuma kamu yang ingin begitu. Akashi juga.

Tapi dengan sejumlah besar mata yang melihat ke arah kalian, beberapa orang berbisik bisik,dan yang lainnya berdecak iri, maka Akashi melepaskan pelukannya.

"Sudah tenang?" Tanyanya padamu.

"Iya..."

"Masih mau naik bianglala?"

"...un." Kamu mengangguk kecil.

Lalu akashi menarik tanganmu, dan kalian berpegangan tangan selama perjalanan menuju bianglala. Tapi lagi-lagi, momen yang kamu inginkan untuk berlangsung selamanya ini, harus gagal karena Akashi akan mengantri tiket untuk naik ke bianglala.

Sambil menunggu akashi, kamu berdiri di depan pintu gerbang kemerdekaan—salah naskah. Didepan pintu masuk ke bianglala. Sampai seekor, em seorang cowok genit mencolekmu.

"Hai maniiss~ sendirian? Mau naik bersamakuu~?" Goda cowok genit itu.

Kamu menggeleng cepat cepat.

"Hee~~kenapa? Pasti menyenangkan looh~ apa—" kata kata cowo tersebut terhenti saat sebuah tangan melekat di pundaknya.

Tangan Akashi Seijuuro.

"Dia memang manis,tapi sentuh dia sekali lagi dan kubunuh kau." Akashi menyeringai, yang membuat cowok genit itu bergidik ngeri dan mengambil seribu langkah menjauh.

Akashi menghela nafas dan memandangmu, lalu mengacungkan kedua tiket yang baru saja ia beli.

"Kau jangan mau digoda seperti tadi, dong."

"Aku nggak mau kok..."

"Ayo naik." Ajaknya.

Tanpa basa basi, dia sudah menarik tanganmu untuk naik ke bianglala.

Lalu bianglala berputar, dan matamu mulai berbinar cerah dengan senyuman.

Tanpa kamu sadari, akashi tersenyum kecil melihatmu seperti itu.

"Uwaaa...sugee!" Ucapmu sambil melihat pemandangan kota di waktu malam, dengan semua kerlap kerlip lampu kota. Yang sangat amat keren sekali di matamu.

Lalu kalian dalam diam, memandangi indahnya pemandangan dan tenggelam dalam suasana angin malam yang dingin. Sibuk dengan kekaguman masing masing.

"Jadi... (Name)." Akashi memecah keheningan.

"Un?"

"Aku menyesal tidak jadi yang pertama mengencanimu."

"Ke-kenapa memangnya?"

"...entahlah."

Lalu ada hening lagi di antara kalian.

"A-apakah aku boleh bertanya sesuatu?" Kamu balik bertanya.

"Ya?"

"Kenapa Akashi-kun mau berkencan denganku?"

"Entahlah."

Nah. Jawaban singkat, padat, jelas. Udah ciri ciri pantun banget kan. Tinggal ditambahin sajak a-b-a-b aja deh. Oke ini OOT.

"Lalu, kenapa akashi-kun...me...menyukaiku?"

Akashi terdiam mendengar pernyataanmu. Lalu dia tertawa. Sumpah, dia ketawa.

.

"Apakah aku pernah menyatakan suka padamu?"

.

Blush.

Mukamu memerah dalam sekejap. Malu. Iya ini pertanyaan yang selalu kamu lontarkan pada mereka. Tapi kamu lupa kalau Akashi-sama belum pernah menyatakan suka padamu. Rasanya kamu mau terjun dari bianglala sekarang.

"Kau lucu sekali—pffft." Akashi berusaha menahan tawanya, yang malah kesannya dipaksakan ditahan.

diketawain Akashi itu ngga enak banget,serius.

"Apakah kau pernah mendengar pernyataan dari seseorang sebelumnya?" Tanyanya saat tawanya mulai mereda.

"Aku tidak seculun itu tau!" Kamu menggerutu, membuat bibirmu maju lagi. Akashi terkekeh lagi.

"Baiklah..." Lalu akashi memajukan badannya, mendekatkan tubuhnya padamu. Membuatmu terpaku di tempat, dengan jantung nyaris copot. Lalu dia mendekatkan bibirnya ke telingamu, dan membisikkan sesuatu.

.

Yang membuatmu hampir gila ditempat.

.

Oh bianglala.


"Terimakasih untuk hari ini, Akashi-kun." Kamu melambaikan tangan pada akashi yang telah masuk di dalam mobilnya. Bersiap untuk pulang.

Akashi hanya melambaikan tangan sambil tersenyum.

Lalu, mobil itu meninggalkan pekarangan gedung apartemenmu dan kamu sendiri.

Kamu beranjak menuju apartemen yang sepi seperti biasa. Masuk rumah, lalu bersiap mandi karena keringat yang membuat tubuhmu lengket.

Sambil showeran, kamu mengingat ingat lagi, kalimat yang diucapkan Akashi Seijuuro.

Yang membuat kamu tidak fokus.

'Tidak-tidak. Apa apaan sih aku ini.' Pikirmu.

Selesai mandi, kamu pun berpakaian. Bersiap tidur, seperti biasa. Seharusnya seperti biasa.

Harusnya,sih seperti biasa.

Harusnya.

Tapi ada yang sangat mengganggu.

Kalimat yang mengganggu.

Kalimat yang diucapkan Akashi padamu tadi, di bianglala.

Diatas kasur, kamu masih melintasi cakrawala dengan pikiranmu—yeah, hampir gila. Hampir saja.

Kalimat itu...

Yang dibisikkan akashi di telingamu.

Yang dengan lembut ia ucapkan.

Kalimatnya Akashi...

.

.

.

'Suki da yo.'


.

.

.

(A/N): Huaaaa gimana kencannya nih? XD updatenya lama ya? Hontou ni gomennasai! :" tugas sama kerja kelompok tuh menumpuk, yah tuntutan kurikulum 2013:") btw kurobas udah tamat, sedih juga ya:") tapi katanya tadatoshi fujimaki-sensei bikin komik baru judulnya 'miracles'. yah, kita tunggu aja ya xD terus semakin hari kok udah gaada notif e-mail dari review kalian ya...aku nunggu loh review kalian:") itu sebagai minuman isotonik(?) untuk energiku nulis ff ini~ jadi mohon reviewnya yaa x'D