30 Juli. Sehari sebelum libur musim panas berakhir.

Kamu melirik ke arah kalendermu. Ada angka yang dilingkari di situ dengan spidol merah, lalu diberi keterangan—

—"Festival Kembang Api".

Tentu saja kamu ingin kesana. Tapi sama siapa? Pacar? Boro boro. Teman aja kamu nggak punya.


Sementara itu, di sisi lain.

"Hoy, baka." Kata adik perempuan aomine sambil melempar bantal pada kakaknya yang lagi melamun didepan layar hape.

Aomine yang kena lemparan bantal pun langsung sadar dari lamunannya.

"Teme! Kau ini ngapain sih!" Katanya kesal, lalu melempar bantalnya lagi ke adiknya itu. Dengan gesit, adiknya menghindar.

"Malam ini ada matsuri kan." Ucapnya, sambil duduk di sebelah kakaknya. "Ajaklah pacarmu ke festival itu. Atau kau tidak punya pacar ya? Hahaha ganguro,kau itu jomblo abadi ya?"

"Urusai! Memangnya kau punya?!" Aomine menjitak adik satu-satunya itu.

"I-itte! Baka! Tentu saja punya bodoh!" Si adik—oke panggil aja imouto—cuma bisa meringis ringis kesakitan.

"Hah?! Siapa itu?! Siapa yang berani mengencanimu hah?! Minta mati muda?!"

"Hey memang kau siapa?! Suka suka aku dong!" Jawabnya ketus.

"TEMEEEE KAU!" Lalu dimulailah perkelahian antara imouto dan onii-channya.

Lalu keduanya tewas ditempat. Tamat.

.

.

Engga, bercanda. Habis itu ada yang datang, yaitu—

"BERISIK DAIKI! KAU INI SELALU BUAT MASALAH SAMA ADIKMU! KAU JUGA MISAKO!"

(Oh,nama adeknya misako.)

—orang yang paling ditakuti aomine. Bahkan bapaknya aja kalah.

.

Ibunya.

.

Setelah kuping mereka merah gara gara dijewer, mereka akhirnya diem.

"Okaa-san sudah siapkan yukata kalian." Ibunya menghela nafas. "Daiki, kau harus pergi ke festival malam ini. Pergilah sama Misako."

"Okaa-san! Aku mau pergi dengan temanku! Aku gak mau bareng DIA!" Tolak Misako sambil nunjuk aomine.

"Ooi siapa juga yang mau pergi denganmu!" Aomine ikut ikutan.

Astaga ni anak dua kapan akurnya ya... Sabar,sabar bu aomine.

"Baiklah Misa, kau pergi dengan temanmu. Dan daiki, kau pergi sendiri." Ibunya menghela nafas (lagi). "Kalian pakai yukata kembaran ya? Ibu sudah pilihkan loh."

"Gak mau! Ih amit amit!" Misa menolak mentah mentah. "Aku mau pakai yukata tahun lalu saja! Masih muat dan warnanya manis kok."

"Terserah kau saja." Ibunya cuma bisa diam.

Aomine juga diem loh, daritadi. Lagi mikir. Mikir apa? Apa hayo. /plak

"Kalau si bodoh itu tak mau pakai yukatanya, boleh yukatanya yang kembaran denganku–err, kupinjam?" Tanya aomine sambil menggaruk garuk tengkuknya.

.
Lalu hening.

.
"Mau buat apa daiki?" Tanya ibunya serius. Apa banget deh.

.
"Untuk–"

.
"Pacarmu?"

.
"Bukan–"

.
"Baiklah akan okaa-san siapkan." Wajah ibunya berseri-seri.

.

"O-oi.."


Ponselmu berbunyi. Kamu yang sedang tidur pun berusaha meraihnya dengan malas. Dengan amat sangat malas. Beri penekanan pada kata amat sangat.

"Ngggh...hoam—moshi-moshi..." Kamu yang masih setengah sadar pun menjawab telepon itu.

"(Name)?" Suara berat itu terdengar dari ujung sana.

"Aomine-kun?" Kamu langsung 100% tersadar lalu terbangun dalam posisi duduk setelah tau siapa penelepon—pengganggu tidurmu itu. Loh amat sangat malasnya ilang kemana?

"Ada apa?" Tanyamu.

"Tidak..."

"..."

"Begini...err-" suara Aomine terdengar ragu.

"...ya?"

"Malam ini...kau...bisa...em...?" Ucapnya terputus putus. Grogi, mungkin?

"Bisa apa, aomine-kun?"

"Ppp—pe..."

"Ngomong yang jelas, Aomine-kun."

"Pppp-pergi dengan—...ku?"

Kamu tertawa. Astaga, ternyata Aomine Daiki, seorang ace dari Teiko...kesusahan mengajak 'pergi' seorang gadis. Pfft...

"Kenapa kau tertawa?!" Aomine mencak mencak diujung sana.

"Pfftt...ahaha-gomen, gomen Aomine-kun! Tentu saja aku mau. Saa, kita mau kemana?"

Aomine diam sejenak.

"...Festival Kembang Api."

Cie kamu, gayungnya bersambut tuh. Tadi pengen ke festival kembang api kan? Ada yang ngajakin tuh. Aomine pula.

"Eeeh? Hontou? Aku mau, aomine-kun!" Kamu saking senengnya sampe ga sadar kalo kamu itu ngomongnya sambil teriak di gagang telpon.

"Jangan berteriak di kupingku bodoh! Ah—jadi...kau mau?" Tanya aomine sambil megangin sebelah kupingnya yang berdenging—gara gara kamu.

"Tentu! Kapan kita berangkat?" Tiba-tiba kamu langsung semangat sampe berdiri dari tempat tidur.

"Jam enam sore. Kutunggu didepan apartemenmu."

"Hai', jaa Aomine-kun—" sebelum kamu nutup telepon, Aomine mencegahmu.

"Ma-matte! Ano...pakailah yukata." Kata aomine.

"Eeh? Aku tidak punya yukata, Aomine-k—"

"Aku punya. Untukmu juga. Akan kubawa nanti. Jaa."

Tut tut tut.

Tanpa diberi waktu untuk menolak, alias dipaksa menerima...

Tapi ga ada waktu menyesali ketidakmampuanmu menolak The Un-stop-able Ace itu. Kamu harus bersiap siap!

Dua jam lagi sudah jam enam sore~


Jam setengah enam. Kamu tidur tiduran lagi dikasur.

Ting tong.

Kamu berlari ke depan pintu rumah,dan membukanya. Dan...tampak sesosok ganguro di sana...

...dan dia pakai yukata loh.

Yukata.

Iya yukata. Warnanya biru laut, sama kayak rambutnya. Ada motif daun warna putih di pojok bawah. Ah, kakkoi lah pokoknya.

"Aomine-kun...?"

"Setidaknya biarkan aku masuk dulu, kek." Kata Aomine.

Oh iya, dari tadi kamu cuma sibuk mandangin dia sih. Sampe lupa kalo kalian masih di teras.

"Eh, gomen. Douzo, aomine-kun." Kamu membuka pintu apartemenmu dengan lebar, membiarkan pria tinggi tersebut masuk ke dalam.

"Nih." Aomine menyodorkan sebuah bungkusan putih. Diikat rapi dengan pita.

"Itu yukata. Cepat pakai." seperti bisa baca pikiranmu, Aomine memberi tahu isi bungkusan itu. Kamu cuma nurut, lalu ke kamar untuk memakai yukata.

Sesampainya di kamar, kamu buka deh bungkusannya. Ternyata ada yukata putih dengan corak bunga warna biru laut di bagian pinggirnya.

"Kembaran..." Gumammu.

/skip time/

Kamu keluar kamar dengan memakai yukata lengkap. Dengan rambut digulung dan jepit warna putih buat pemanis rambut.

"Aomine-kun?" Panggilmu pada Aomine yang tengah duduk di sofa. Aomine menoleh dan melihatmu memakai yukata tersebut. Tapi bukannya ungkapan atau komentar yang kamu dapat, justru Aomine terdiam, menelusuri kamu dari ujung rambut sampe ujung kaki.

Tak terima hanya dilihat begitu, kamu pun meminta komentar.

"Bagaimana?"

Aomine menelan ludah.

"Manis—maksudku, cocok untukmu." Aomine segera memalingkan mukanya, untuk menutupi semburat merah di pipinya. Kamu hanya tersenyum melihat Aomine yang begitu.

"Ayo pergi." Aomine berdiri dari duduknya, beranjak untuk segera berangkat.

"Iya."


Di matsuri itu, banyak sekali permainan. Stand makanan, kembang api, penjual topeng, ah lengkap deh.

Eh ada takoyaki dong?

ah,flashback ke akashi.

Pancing bola, shooting game, stand taiyaki, takoyaki, soda, pancing ikan koki. Dan anak kecil yang berlarian. Lentera disana-sini.

Sugoi~

Kamu dan Aomine telah berkeliling keliling beberapa kali. Mencoba berbagai makanan dan permainan. Ya, hadiahnya, seperti ikan mas koki dan bola air, kamu berikan ke anak kecil. Toh, kamu tidak butuh.

Tapi ada yang belum kamu coba...
Dengan hadiah yang tidak akan kamu berikan pada anak kecil. Atau pada siapapun.

"Aomine-kun! Kocchi kocchi! Aku mau itu! Itu!"
Di depan stand Shooting Game, kamu nunjuk-nunjuk boneka berbentuk bola basket.

"Haa? Kau ini." Aomine takluk dengan permintaanmu. Wah gampang juga ya dibujuk.

Aomine meletakkan sejumlah uang di depan oom-oom penjaga stand. Dan oom-oom itu pun memberikan pistol mainan kecil untuk menembak sasaran hadiah yang diinginkan.

"Yosh. Serahkan padaku." Aomine mengambil posisi untuk menembak sasaran dari hadiah yang kamu minta tadi.

Jleb! Sukses masuk sasaran! sekali tembak!

"Uwaaa sugee Aomine-kun!" Kamu bertepuk tangan dan tersenyum lebar kegirangan.

'Manis...' Pikir Aomine.

"Te-tentu saja. Ini." Aomine menyerahkan boneka bola basket itu padamu.

"Makasih, ya. Aomine-kun. Bagaimana Aomine-kun bisa menembak tepat sasaran? Dalam sekali tembak pula." Tanyamu. Kalian mulai berjalan meninggalkan stand tersebut.

"Kan yang bisa mengalahkanku, hanya aku." Aomine tertawa kecil.

"Itu bukan alasan."

"Hm...apa ya. Aku ingin jadi polisi. Entahlah."

"Eeh, kalau jadi polisi, kau harus lebih rajin, Aomine-kun. Polisi itu kan sangat disiplin." Jelasmu.

"Mungkin aku harus cari istri yang rajin." Aomine menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Bisa jadi."

Tepat saat itu, handphone Aomine berbunyi.

"Eh, telepon...satsuki?" Dahi Aomine mengkerut melihat nama yang tertera di layar hp-nya. Tapi tetap diangkatnya telepon dari sahabat masa kecilnya itu.

"Oi, satsuki?"

"Dai chaaaan~~! Ke festival kembang api yuuuk!" Teriak momoi di ujung sana. Membuat Aomine menjauhkan kuping dari handphonenya. Eh, handphone dari kupingnya.

"Astaga satsuki pelankan suaramu sedikit!" Aomine mengusap-usap kupingnya. "Lagi pula aku sudah disini, bodoh."

"..."

"Hei, satsuki?"

"..."

"Oi sat–"

"Bersama siapa?!"

"...(name)"

"YAAMPUN KALIAN KENCAN? JADIAN NGGA BILANG BILANG? BERUNTUNG MASIH ADA YANG MAU SAMA KAU!" Momoi mencak-mencak diujung sana.

"Bukan begi–"

"POKOKNYA AKU MINTA PAJAK JADIAN. FIX."

"Satsuki!"

Tut tut tut.

Aomine menghela nafas paanjaang.

"...Aomine-kun?" Kamu melihat si ganguro itu dengan tatapan harap harap cemas.

"Tidak, hanya...satsuki. Yah, mendokusai. Tapi tak apa." Aomine melanjutkan jalannya.

"Begitu?" Kamu mengikuti aomine.

"Iya."

Lalu hening. Cuma terdengar hiruk-pikuk orang di festival itu.

"Kau mau lihat kembang api yang besar, nggak?" Tanya Aomine memecah keheningan diantara kalian.

"Eh? Mau!" Kamu mengangguk kencang-kencang.

"Ikuti aku." Aomine tersenyum,lalu mempercepat langkahnya.


Di jalan yang kalian lalui, langit sudah amin menghitam, dihiasi bintang dengan cantiknya.

Kamu dan Aomine berjalan berjejeran. Dengan yukata kembaran, atau...lebih pantas dibilang yukata couple.

Sangat mencolok.

Bisik bisik dari orang yang melihat kalian melintas terdengar jelas.

"Ih, kembaran."

"Aduh manisnya!"

"Pasangan baru, ya?"

"Cih, bikin iri."

.

.
Atau yang paling ekstrem:

"Wah, anaknya udah berapa ya?"

.

Jeder.

Kupingmu serasa mau pecah denger kalimat itu. Hei, boro boro udah punya anak. Nikah aja belum!

Tiba tiba dua tangan besar berwarna hitam menutup kedua telingamu.

"Jangan dengarkan, bodoh."

Aomine melepaskan tangannya dari telingamu. Dia menarik hidungmu.

"I-itte... Ahomine." Kamu menutupi hidungmu yang memerah karena ditarik.

Ups, bukan cuma hidungmu yang merah. Mukamu juga loh.

"Eh tapi," Aomine kembali berjalan di sebelahmu.

"Kalau nikah nanti, kau mau punya berapa anak?"

.

.

Anak?

.

Fix mukamu merah padam.

.

"Pertanyaan...apaan itu..." Kamu memalingkan muka, supaya dia tidak melihatmu.

.

Aomine juga melakukan hal yang sama.

.

Hening.

.

"S-sebenarnya, ini kita mau kemana, Aomine-kun?" Katamu, saat kamu mulai menaiki tangga batu yang tinggi. Menuju bukit. Dan tempatnya mulai menjauhi tempat festival diadakan.

.

"Sebentar lagi. Capek ya?" Aomine menaiki tangga batu terakhir. Disusul kamu.

.

"Hosh-enggak-hosh hosh" kamu ngos-ngosan. Jelas banget kamu bohong kalo bilang gak capek.

"Tch, tidak usah sok kuat begitu."
Aomine memunggungimu sambil berjongkok. Lalu mendorong punggungmu ke punggungnya. Diangkatnya badanmu dalam gendongannya.

Kamu udah ga bisa nolak. Kalo berontak, jatuh. Lagian kamu capek kan?

.
Dalam gendongannya, jantungmu berdegup cepat. Mukamu memanas.

.
Refleks atau apa, kamu melingkarkan tanganmu di lehernya. Memeluk lehernya, merasakan parfum maskulin milik Aomine Daiki. Wangi di leher jenjangnya itu...bikin kamu gemas.

.
Astaga.

.
Bener bener bikin meleleh.

.
Disaat kamu menikmati 'kesenangan tambahan', disaat itu juga kalian sampai di atas bukit.
Ada tempat duduk disana, menghadap ke langit. Point of View yang sangat baik untuk melihat kembang api. Bagus banget.

"Sampai." Aomine berjongkok lagi. Menurunkan kamu, yang dalam hati nyesel banget kenapa harus nyampe secepet ini.

Aomine duduk di satu satunya bangku yang ada disitu.

"Hei, sini." Dia memanggilmu, sambil menepuk-nepuk bangku tersebut. Menyuruhmu duduk disebelahnya.

Lalu kamu duduk disebelahnya.

Kamu memandangi gugusan bintang. Dengan langit yang sewarna dengan rambut Aomine Daiki. Dengan festival dibawah, yang sekarang terlihat kecil, dengan lentera penghiasnya yang menyala dari kejauhan.

"Kirei..." Gumammu.

Aomine tetap diam.

"Jadi..." Ucapnya.

"2, bagaimana?" Aomine menggaruk-garuk tengkuknya.

"Hah?" Kamu bingung dengan apa yang dikatakannya.

"Iya, kalo kebanyakan anak nanti repot. Sepertinya dua saja cukup."

Astaga, apaan sih.

"Kalau mau punya anak, harus menikah dulu, Ahomine."

Lalu hening.

.

Aomine menghadapkan badannya padamu. Lalu memegang bahumu, supaya kamu juga menghadapnya.

.

Dia menatap matamu lekat-lekat. Dengan penuh harap...

.

.

"Kalau begitu, ayo menikah."

.

.

.
Dheg.

.

.

APAH.

.

.

Kamu ga bisa ngomong apa apa, sumpah. Kali ini bener bener deh. Yang lainnya...nyatain suka iya. Tapi NGELAMAR? Astaga. Ini bego atau jenius level expert? Atau mungkin aomine itu sodaranya mad dog yang suka greget? Oke oot /plak.

.

Ohya, jangan lupakan mukamu yang memerah.

.

Segera saat muka aomine memerah, menyadari kebodohan yang barusan dilakukannya, dia segera menundukkan kepalanya.
Lalu meletakkan kepalanya di bahumu.

.

Aomine menghela nafas.

.

"Kenapa..." Dia bergumam, tapi suaranya sedikit bergetar.

.

"Aku hanya menyukaimu saja...tapi kenapa kau sangat susah didapatkan...bodoh..."

.

Kamu masih shock akibat lamaran tadi, sekarang kamu di shock-in lagi pake kata-katanya. Shock therapy? Beda.

.

"Sial...aku benar benar menyukaimu...bodoh...sial..."

Suka?

Aomine benar-benar suka?

Susah didapatkan?

Kamu merasakan ada air hangat yang mengalir ke pipimu.

.

.
Begitukah?

Inikah rasanya berharga bagi seseorang?

.

Ini ya, rasanya disukai?

.

.
"Hiks..." Kamu mulai menangis.

Aomine mengangkat kepalanya. Melihatmu yang tiba tiba menangis membuatnya panik.

.

"(Name)?! Ke-kenapa kau menangis?!"

Tapi kamu diam saja. Dan melanjutkan menangismu. Kamu menyandarkan kepalamu di Dada bidang milik Aomine.

Aomine merasa ia mengerti. Ia memelukmu dalam diam. Ia tidak berkomentar apa-apa lagi.

Lalu, terdengar suara kembang api.

Kamu melepaskan diri dari dekapan Aomine. Melihat kembang api yang meletup dengan indahnya.

Kembang api yang meletup, bersama dengan semua hal yang membebani pikiran dan hatimu.

"Indah..." Gumammu, dengan bekas airmata di wajah.

Lalu Aomine mengikutimu, memandang kembang api yang menyala-nyala di langit sewarna rambutnya.

Lalu dia menggenggam tanganmu dalam diam.

Kamu merasakan tangannya yang besar di tanganmu.

"Terima kasih, Aomine-kun..."

Aomine mengernyitkan dahi.

"...untuk...apa?" Tanyanya keheranan.

Kamu menatapnya dengan senyum.

"Untuk semuanya."


(A/N): halo, hisashiburi~ maaf kalo chapter bang daki ini kurang greget ya... Soalnya entah kenapa...rasanya yuki udah rada ga pengen sesuatu berbau kurobas...soalnya udah tamat...(walaupun animenya belum,sih). Yuki takutnya gabisa move on dari kurobas gitu:" dan untuk chapter terakhir, aka chapter mukkun, yuki ga janji mau nerusin:") maaf banget minna-san... Kalo dapet hidayah(?) pasti dilanjutin. Tapi ya itu,sekali lagi. Ga janji:". Tapi yuki bakal terus nulis ff kok:") dan untuk ff yaoi kurobas, yuki jg prefer nulis ff daripada baca. jadi kalo ff kurobas -yaoi insyaAllah masih...akan menulis(?) gitu. Ya sekian minna-san~ arigatou, hontou ni gomennasai to~