Jodohku Musuhku
Bleach © Tite Kubo
Warning: Semi AU? Inti cerita kurang jelas, judul
ngawur, etc
Masih nekat baca? Silakan :D
Chapter 3
Tokyo.
Terlihat seorang pria sedang duduk termenung di ruang kerjanya sendirian. Tangannya memijat pelipis perlahan, menandakan banyaknya pikiran yang sedang melanda otak cerdasnya.
" Byakuya..."
Terdengar seorang wanita menyebutkan nama pria tersebut. Si empunya nama hanya menoleh sekilas dan melanjutkan lamunannya.
" Apa tidak sebaiknya Kau segera mencarinya ? Tanya wanita itu sambil menarik bangku di depan Byakuya.
" Ini semua salahku Yoruichi.. Jika saja Aku bisa mencegah perjodohan itu, mungkin Rukia masih ada di sampingku saat ini." Pria tengah baya itu terlihat begitu tertekan karena kehilangan putri semata wayangnya.
" Kau tahu kan perjodohan ini permintaan terakhir Ginrei-sama jadi kita tidak bisa mencegahnya. Apa kau sudah menghubungi Yamamoto-san ? Mungkin saat ini Rukia sedang bersama kakeknya di Kurakura?".
" Aku sudah menghubunginya, tapi Beliau mengatakan kalau Rukia tidak ada di sana".
" Apa kau langsung percaya dengan ucapan Beliau, Byakuya?" tanya Yoruichi dengan sedikit tersenyum.
" Apa maksudmu..? Jangan bilang jika Kakek itu menyembunyikan anakku". Ucapan Byakuya hanya menghasilkan senyuman di wajah Yoruichi.
Mereka berdua tahu sifat kakek Yamamoto sangat menyayangi Rukia, karena memang hanya Rukia keluarga yang di milikinya setelah anak satu-satunya, Hisana meninggal.
" Jika itu benar Aku akan langsung menjemput Rukia". Byakuya langsung berdiri dari kursinya dan bergegas keluar ruangan.
" Tunggu ... Byakuya. Kau tahu kan sifat keras kepala yang Rukia miliki ? Berikan Dia kesempatan untuk menenangkan diri, lagipula Dia bersama kakeknya jadi Kau tak usah khawatir.
Byakuya terlihat diam dan memikirkan perkataan sepupunya itu, memang benar bahwa sifat keras kepala Rukia itu sangat merepotkan. Sebenarnya Byakuya sedikit menyesal mengapa Rukia mewarisi sifat keras kepalanya. Meskipun wajah Rukia sangat mirip mendiang isterinya. Tapi sifatnya sagat jauh berbeda.
Terkadang Byakuya hanya bisa menghela napas panjang setiap menghadapi sifat keras kepala putrinya. Sungguh mirip dengan dirinya sendiri.
" Baiklah Yoruichi, mungkin Aku akan membiarkannya bermain sebentar. Tapi Aku akan tetap mengawasinya". Dengan itu Byakuya meninggalkan Yoruichi yang masih berada di ruang kerjanya sendirian.
Kurakura.
Tap...tap..tap..
Hentakkan kaki Rukia saat memasuki rumah Jii-sannya mengundang tanya beberapa pelayan yang ada di rumah itu. Mereka sudah tahu apa yag majikannya rencanakan dan hanya bisa mematuhi ucapan sang majikan untuk tidak memberitahukan orang lain tentang keberadaan Rukia.
" Kau kenapa Rukia...?". Yamamoto jii-san langsung mendekati Rukia karena melihat cucunya itu memasang wajah yang sangat menakutkan.
" Oh Jii-san, tidak ada apa-apa kok". Ucap Rukia canggung dan langsung merubah raut wajahnya dengan memasang senyum yang sedikit dipaksakan.
" Ceritakanlah apa yang terjadi, Kakek tak mau cucu kakek memasang wajah yang sangat menakutkan sehingga orang-orang di sini takut melihatmu ". Ucapan sang kakek berhasil membuat Rukia menoleh ke kiri dan kanan melihat ekspresi para pelayan yang daritadi memperhatikannya.
" Hehehe... Maafkan Aku ya semuanya". Ucap Rukia sambil membungkukan badan. Rukia tak pernah menganggap para pelayan itu bawahannya, mereka malah di anggap sebagai teman-teman nya sendiri. Kaa-sannya pernah bilang bahwa setiap orang di dunia ini sama di mata Tuhan, meskipun derajat mereka berbeda-beda. Yang membedakan hanya amal dan perbuatannya saja. Kata-kata itulah yang selalu Rukia ingat sampai sekarang. Sehingga Rukia menjadi pribadi yang baik hati dan ceria.
" Sekarang... Apa yang sebenarnya menimpa cucu kakek yang paling cantik ini hmm..?".
Diceritakanlah semua yang Rukia alami kepada sang kakek dari pertama masuk sekolah hingga pertemuannya dengan pemuda orange yang berakhir dengan sakit hati Rukia.
" Kamu yang salah Rukia...". Ucapan sang kakek membulatkan kedua mata Rukia.
" Tapi Jii-san... Kalau Dia yang dengan senang hati menjualnya kepadaku kan tidak bakal ada perdebatan itu. Ini semua salah rambut jeruk itu !". Ucap Rukia tidak mau kalah.
" Sudah...sudah... Kau mau boneka Chappy itu ?". Ucapan Kakeknya langsung disambut binar terang dari iris violet yang daritadi memancarkan kemarahan.
" Tapi... Kau harus meminta maaf kepada adik pemuda itu karena kau telah merusak bonekanya. Ingat Rukia, kau itu sudah 16 tahun, bukan anak kecil lagi. Jadi berpikirlah bijak." ucapan kakek meredupkan binar cerah itu, tapi memang di dalam hati yang paling dalam Rukia merasa bersalah karena merusak boneka itu.
Hujan di siang hari memang sedikit menyebalkan. Apalagi bagi siswa yang tidak membawa payung. Begitu juga dengan Ryuu, yang sedaritadi hanya bisa menunggu hujan reda sambil duduk di koridor sekolahnya sendirian. Salahkan dirinya sendiri yang tidak menuruti jii-sannya untuk membawa payung.
Hinamori dan Hitsugaya yang berpapasan dengannya di koridor sempat menawari untuk menemaninya sampai hujan reda. Tapi Ryuu menolaknya dengan alasan sebentar lagi akan di jemput supir keluarganya. Tapi kenyataanya berbeda, Jii-sannya sedang pergi ke luar kota dan pasti mengajak supirnya itu. Dan di sinilah Ryuu berada sendirian sambil menatap langit yang masih setia menangis ditemani awan hitam.
Tanpa di sadari ada sepasang mata hazel yang memandangnya dari kejauhan.
" Hei midget... Pakailah ini". Sebuah payung bewarna hijau menyentuh bahu Ryuu .
" K..ka..kau...!".
" Kenapa wajahmu kaget bagitu...? Dan kenapa tingkahmu seperti perempuan haaah?". Tanya pemuda orange yang masih memegangi payungnya.
" Ti...tidak apa-apa. Dan Aku tak butuh payungmu." Ucap Ryuu tegas.
" Jangan salah sangka. Aku hanya meminjamkannya padamu bukan memberikannya. Jadi cepat di kembalikan". Ucap ichigo sambil berlalu .
" Tunggu...!"
Ichigo berhenti dan menoleh ke arah Ryuu yang memanggilnya. Ryuu bingung jarus memulainya darimana. Sebenarnya Dia ingin meminta maaf atas kejadian kemarin.
" Ak..Aku... Akan Ku antar Kau pulang".
HAAAH...!
Ichigo yang kaget hanya bisa jawdrop mendengar perkataan anak aneh di depannya. Perkataan itu seperti ajakan kencan seorang pemuda kepada kekasihnya. Muncul pemikiran yang aneh- aneh di otak ichigo, dari sepayung berdua, berjalan di tengah hujan berdua dan minum cokelat panas untuk menghangatkan badan berdua.
" Huss...huss..." bisik Ichigo sambil mengibaskan kedua tangannya.
" Kau kenapa?" Tanya Rukia bingung.
" Hahaha...tidak apa-apa. Tapi apa maksudmu ingin mengantarku pulang?".
" Jangan salah sangka heh jeruk, Aku hanya ingin meminta maaf kedapa adikmu. Aku sunghuh merasa bersalah telah merusak bonekanya". Ucap Ryuu tulus.
Ichigo memperhatikan perubahan raut wajah Ryuu dari marah-marah sampai saat ini, er...seperti perempuan.
" Itu memang salahmu midget, jadi sewajarnya Kau kinta maaf". Ujar Ichigo menutupi tingkahnya yang canggung di depan Ryuu.
" Dengar ya jeruk, jangan sekali-sekali Kau panggil Aku...apa tadi...ya pokoknya yang Kau sebutkan kepadaku. Dan satu lagi, Aku hanya ingin meminta maaf kepada Adikmu, bukan pemuda jeruk sepertimu". Ùcap Ryuu tegas dengan raut wajah menahan emosi.
Sebenarnya belum hilang rasa sakit hati Ryuu kepada Ichigo. Tapi hanya cara ini agar bisa bertemu dengan pemiik boneka Chappy yang di rusaknya.
Mereka pun akhinya berjalan berdua di bawah hujan. Keheningan menghiasi perjalanan mereka menuju rumah Ichigo. Memang tak terlalu jauh di bandingkan rumah Ryuu. Di saat belokan terakhir terlihat sebuah mobil melaju sedikit kencang. Ryuu yang hanya diam tidak sadar ada mobil yang melaju ke arah mereka berdua. Ichigo dengan cepat segera menarik mundur tubuh Ryuu. Terjadilah adegan yang sangat tidak diinginkan. Tubuh Ryuu berada di dekapan Ichigo. Kacamata yang biasa bertengger di hidung mancungnya terjatuh, menyisakan iris coklat yang melebar menatap warna hazel yang meneduhkan.
" Hei...lepaskan Jeruk! ". Ryuu yang berhasil sadar terlebih dahulu dari kontak mata dengan ichigo.
Mereka berdua memang selamat dari mobil yang melaju cepat tadi, tapi Ryuu harus merasakan basahnya air kotor yang sempat dicipratkan mobil tersebut.
" Sudah cepat...kita harus sampai di rumahku sebelum kau masuk angin."Ucap Ichigo yang merasa sedikit kasihan atas apa yang terjadi pada Ryuu.
' Apa sih yang Ku pikirkan...bisa-bisanya terhipnotis oleh matanya, Arrrgggghhhhh...' teriak inner Ichigo frustasi.
Kurosaki klinik
"Tadaima..."
" Okaeri Oni-chan". Jawab seorang gadis kecil berambut karamel.
" Oh Yuzu kebetulan sekali Kau yang menjawab salamku, ada seseorang yang ingi bertemu denganmu". Ichigo mengalihkan pandangannya kebelakang dimana Ryuu berada, Ryu pun tahu maksud Ichigo, Dia lalu memberi salam kepada Yuzu, adik Ichigo.
" Perkenalkan Aku Yamamoto Ryuu, sebenarnya Aku kesini ingin meminta maaf soal boneka Chappy yang Ku rusak kemarin." Ucap Ryuu tulus sambil menundukkan wajahnya.
Yizu yang memang anak yang baik hati hanya bisa tersenyum dan memaafkan teman kakaknya itu. Bahkan Yuzu mempersilahkan Ryuu untuk membersihkan diri akibat cipratan mobil yang mengenai pakaiannya.
Ichigo hanya mendengus kesal, mengapa Yuzu bisa langsung akrab pada orang yang telah merusak bonekanya. Kini Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sambil menggerutu.
KLEEK
Pintu kamar mandi terbuka, dan betapa terkejutnya Ichigo akan apa yang di lihatnya. Sementara sesuatu di dalam kamar mandi hanya bisa terkejut dan berteriak.
" Aaakkhhhhhh...dasar mesum!".sambil melemparkan segala macam barang yang ada di kamar mandi ke arah Ichigo.
Ichigo segeta menutup pintu kamar mandi dengan otak yang masih terkejut.
" Ap...apa itu tadi?!"
" Ada apa Ichi-nii?". Tanya gadis seusia Yuzu berambut hitam. Di adalah Karin Kurosaki. Kembaran Yuzu.
" Di...di..di dalam... Ada seseorang perempuan..." Jawab Ichigo dengan tampang yang masih shock.
Terbukalah kamar mandi yang daritadi menjadi sumber keributan. Tampak seorang gadis mungil berambut hitam sebahu keluar mengenakan pakaian Ichigo yang kebesaran yang sempat di pinjamkan oleh Yuzu.
Gadis itu masih terlihat shock dan menundukkan wajahnya.
TBC
Akhirnya chapter 3 selesei juga...
Untuk semua yang sudah review saya ucapkan terima kasih..
Fic ini memang masih standar banget, jadi jika ada yang kurang berkenan saya minta maaf.
Mohon beri masukan yang positif supaya fic ini bisa berkembang dengan baik.
