.
.
.
Disclaimer
© Masahsi Kishimoto
Pairing
SasuNaru
Warning
M-Preg, Yaoi, Boy's Love, Sho-ai
Romance/ Hurt/Comfort/Angst
Rate M
Bukan untuk adegan 'lemon'
Summary
Naruto Sakit. Dia sekarat.
Menjelang kelahiran bayinya dia berpesan.
'Teme. Jaga anak ini untukku.'
M-Preg, It's Not My Destiny
© Kanami Aya
Chapter 2
Awal Hubungan
.
.
.
Sasuke harus pasrah melepas Naruto kali ini. Naruto lebih dulu turun dari bis karena memang rumahnyalah yang lebih dulu di lewati bis. Sementara Sasuke akan tetap di bis, karena rumahnya lebih jauh. Namun kali ini tidak seperti biasanya. Naruto tak ingin duduk bersebelahan dengan Sasuke. Ia memilih duduk di kursi tunggal.
Sasuke memang selalu menaiki bis yang sama dengan Naruto. Dulu saat dia menawarkan untuk berangkat sekolah bersama dirinya. Naruto menolak. Alasannya mudah. Motor Sasuke memiliki jok yang lumanyan makin kebelakang makin menaik. Membuat siapapun yang duduk di belakangnya akan terus merusut mengarah ke punggung tegap Sasuke.
Naruto bukan anak kecil yang tidak merasa bahwa dia dan Sasuke akan selalu menjadi pusat perhatian saat di lampu merah. Pasalnya Sasuke kalo mengendarai motor tak pernah berkecepatan pelan, akibatnya saat mendekati lampu merah Sasuke selalu mengerem kencang motor Ducatinya. Dan membuat Naruto sukses menabrak punggung Sasuke. Jangan di Tanya mata-mata jelalatan yang mengoreksi mereka.
" Teme!" Naruto menghantam helm Sasuke dengan kepalan tangannya.
"Aduh, Dobe kau apa-apaan sih?" Hardik Sasuke.
"Turun. Kau yang di belakang Teme. Aku yang nyetir."
Sasuke hanya memandang Naruto geli. Jangankan motor seperti miliknya. Motor tanpa kopling saja Naruto tak bisa menggunakannya.
"Iya maaf. Lain kali aku akan pelan-pelan." Ujar Sasuke. Mau tak mau Naruto bertahan.
Karena perilakunya yang seperti itu. Akhirnya, sejak setengah tahun yang lalu Sasuke tak pernah lagi menggunakan motornya. Ia lebih memilih mengalah, asalkan berada di sisi Naruto, Sasuke rela mengurangi sedikit karismatiknya untuk menggunakan bis umum.
.
.
.
Namun semenjak perasaanya pada pemuda bersurai pirang itu terbalas. Sasuke diam-diam ingin menunjukkan status hubungannya. Meskipun Naruto melarangnya. Dan pertengkarannya di sekolah tadi adalah peluang baginya. Harus. Ia harus berani.
Sudah cukup baginya cinta sembunyi-sembunyi seperti ini. Ia sakit hati, merasa terbebani dengan cara berpacarannya. Dan dengan jelas pula ia tau Naruto merasakan hal yang sama. Ia harus mengakhiri semua ini. Mengakhiri dan memulai yang baru.
Sasukelah yang memilih untuk menyatakan perasaannya. Dan kini Sasuke siap menerima semua konsekuensinya. Bahkan jika mempertaruhkan nama keluarganya.
.
.
.
Pagi ini Sasuke sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. Mandi lebih cepat dari biasanya. Makan buah lebih banyak dari biasanya. Sebab ibunya Mikoto, tentu belum selesai menyiapkan makanan untuk sarapan saat masih pukul 05:15. Kemudian dengan cepat ia mengendarai motor Ducatinya yang telah menganggur selama setengah tahun.
Bukan tanpa alasan Sasuke melakukan penyimpangan pada kegiatan biasanya ini. Hal ini ia lakukan karena Sasuke siap berperang(?). Berusaha agar Naruto mau berangkat bersama lagi. Mau menyatakan satus mereka. Mau semua orang tau. Mau dengan iklas menerima tatapan jijik yang akan di terimanya.
Sasuke memakir mootornya di halaman rumah yang tak terlalu besar. Mengetuk pintu pelan. Dan menyebut nama kekasihnya.
"Naruto? Keluarlah. Ada yang mau aku bicarakan." Sasuke sedikit meninggikan suaranya.
Dua menit berlalu. Naruto keluar dengan piyama tidur yang hampir tak beraturan. Naruto memijat kepalanya. Tanda bahwa si pirang terbangun kaget hingga membuatnya pusing.
"Kalau ingin datang sepagi ini, seharusnya kau menginap saja disini. Dasar Teme menduksai." Penolakan Naruto sedikit memgurangi keberanian Sasuke. Ada yang luput dari pandangan Naruto. Motor Sasuke.
"Kau tak menyusruhku masuk Dobe?" Sasuke membuat pemuda bersurai pirang di depannya menaikkan alisnya.
"Masuklah." Naruto yang menyadari perbedaan suasana yang terjadi mendadak kehilangan rasa kantukna. Karena bukan hal biasa Sasuke meminta izin. Sangat bukan Sasuke yang Naruto kenal.
"Aku mandi dulu. Baru habis itu ku buatkan sarapan." Naruto hendak berbalik, namun urung saat di rasakannya ada sentuhan di leher jenjangnya. Sadar kini Sasuke sedang merangkulnya. Mencium leher miliknya seakan Sasuke ingin memilikinya seutuhnya.
"Aku sudah makan Dobe." Sasuke mengakhiri ciumannya. Ia lepatkkan dagunya di bahu sang kekasih.
"Diamlah seperti ini sebentar Dobe. Hanya sebentar. Setelah itu kau boleh mandi." Sasuke memejamkan matanya seolah menghayati suasana. Berusaha membagi kegalauannya pada Naruto.
Naruto menuruti permintaan Sasuke. Ia tak beranjak. Sedikitpun. Perlahan tangannya menggenggam tangan sasuke yang tengah merangkulnya. Berusaha merasakan kegalauan hati Sasuke.
Lima menit berlalu, Naruto yang merasakan rangkulan Sasuke mengendur dan akhirnya terlepas. Berbalik mencoba menatap sang kekasih. Diciumnya dahi Sasuke yang tengah memandangnya lemah.
"Teme, sebaiknya aku mandi dulu. Setelah itu aku janji tidak akan mengganggumu saat kau bercerita." Naruto menuntun Sasuke agar duduk di sofa. Kemudian dengan berat hati ia beranjak ke kamar mandi.
Selesai mandi ia mengikuti kegiatan cepat-cepat milik Sasuke. Kemudian membuat roti panggang isi telur dan tomat dan duduk di sebelah kekasihnya. Perhatian yang ia berikan menjelaskan hilangnya rasa marah yang ia tunjukan pada Sasuke sepulang sekolah kemarin.
"Dobe?" Sasuke mengangkat wajahnya dan menghadap sang mata safir. Namun Naruto hanya terdiam.
"Dobe aku tidak ingin kita sembunyi-sembunyi lagi. Aku ingin mereka tahu kita sepasang kekasih." Sasuke mencoba menaikkan wajahnya.
"Apa?" Naruto terkejut.
"Apa kau benar-benar mencintaiku?" Mata onyx Sasuke melekat pada mata safir Naruto
"Kau meragukan perasaanku Teme?" Naruto membalas tatapan kekasihnya.
"Aku hanya ingin memastikannya Dobe. Aku ingin kejelasan." Di genggamnya lengan dingin Naruto.
"Apa aku harus menciummu baru kau tau aku mencintaimu Teme?"
"Buat apa jika orang lain tak mengetahuinya."
"Apa maksudnya?"
"Apa kau ingin menikah denganku? Terus bersamaku?"
"Apa kau gila Teme? Kita masih siswa."
"Nantinya. Aku tidak akan menikahimu sekarang Dobe."
"Ada apa sebenarnya?" Naruto melepas genggaman Sasuke. Ia bingung dengan atmosfer yang kini dirasakannya.
"Jawab saja. Apa kau ingin menikah denganku Dobe?"
"Teme pertanyaan seperti ini terlalu cepat untuk..."
"Jawab saja Dobe." Sasuke memotong perkataan Naruto.
"Ok. Aku mencintaimu. Dan aku ingin selalu bersamamu Teme." Jawab Naruto tegas.
"Berarti kau mau menikah denganku?"
"Teme. Pernikahan bukan masalah yang mudah. Kau tau percintaan kita saja sudah sebuah penyimpangan. Jika menyangkut pernikahan, kita akan di lecehkan oleh..."
"Siapa?" Sasuke kembali memotong pembicaraan Naruto.
"Siapa?" Naruto mengulang pertanyaan Sasuke. Seolah heran mengapa Sasuke masih bertanya.
"Di lecehkan teman-teman? Guru? Ayahku? Ibuku? Aku gak peduli. Yang aku tau aku cinta kamu Dobe. Persetan dengan mereka semua."
"Teme. Aku ingatkan lagi. Pernikahan bukan hal mudah. Kau mau mempertaruhkan nama keluargamu."
"Aku siap untuk itu Dobe. Aku akan terima bahkan jika aku di keluarkan dari keluarga."
"Teme pikirkan masa depanmu nanti."
"Masa depanku sudah jelas Dobe. Aku menginginkanmu. Asal ada kamu aku gak peduli apapun."
"Aku gak mau kalo kamu menyesal nantinya Teme."
"Aku tak pernah menyesal mencintaimu Dobe."
"Bukan. Teme ku mohon. Aku tak ingin menghancurkanmu."
"Aku kira kamu mencintaiku Dobe."
"Aku memang mencintaimu."
"Kalau kau memang benar-benar mencintaiku, seharusnya kau mengerti keinginanku Dobe. Berani menghadapi resikonya."
"Tapi hal ini bukan hal mudah Teme. Pernikahan bukan pacaran yang bisa sembunyi-sembunyi dan putus begitu saja."
"Karena itu aku menanyakan kejelasannya sekarang Dobe. Aku tak ingin kita hanya sebatas ini." Sasuke menyentuh wajah Naruto.
"Bahkan aku tak bisa memberimu keturunan."
"Aku gak peduli Dobe. Aku peduli. Asal ada kamu."
"Tapi Teme..."
"Kalau kamu gak sanggup. Mending kita sudahi saja..." Sasuke beralih membelai surai pirang Naruto.
"Teme. Aku hanya... hanya..."
"Aku mengerti Dobe. Aku juga bingung. Sakit. Tapi setidaknya kita berbagi sakit." Sasuke merabahkan kepala Naruto di bahunya.
"Tapi aku akan berusaha membuat semuanya mengerti. Aku mencintaimu dan kau mencintaiku itu sudah terlalu cukup untukku." Lanjutnya.
"Aku gak siap Teme. Aku pernah merasakan kesepian dan aku gak mau terjadi lagi." Naruto menitikan air matanya di kerah Sasuke.
"Kamu gak sendirian Dobe. Ada aku." Sasuke mempereraat dekapannya.
"Aku bingun Teme. Aku gak tau harus memulainya dari mana."
"Dari sekarang. Kita akan tunjukkan kalau kita juga pantas di hargai. Dihargai meski sedikit menyimpang. Persetan dengan reaksi mereka. Aku kekasihmu. Dan aku mau mereka tau itu."
"Aku takut Teme."
"Aku juga. Aku juga takut." Sasuke mencium dahi Naruto pelan. Seakan menyemangati Naruto dan dirinya sendiri.
.
.
.
Sasuke dan Naruto memilih memulainya dengan secara berkala. Dimulai dengan secara terus-menerus berangkat dan pulang bersama tepat saat banyak siswa. Makan di meja kantin yang hanya cukup untuk dua orang. Ganti baju olah raga di satu kamar ganti. Sering memperlihatkan kemesraan.
Jika yang satu ingin izin keluar sewaktu pelajaran. Yang lain mengikuti. Dan mereka tidak akan ambil pusing lagi mendengar ocehan orang-orang disekitarnya. Itu jelas membuktikan bahwa hubungan mereka mulai terbaca.
.
.
.
"Sasuke-kun. Nanti anatarkan aku pulang ya? Otou-san sedang rapat. Jadi tidak bisa jemput." Kala itu Sakura kembali mendekati Sasuke.
"Gomen Sakura-chan. Sasuke harus mengantarku pulang." Waktu itu Naruto yang menjawab. Ia tak tega jika harus Sasuke sendirian yang berjuang memperkenalkan hubungan seperti apa yang sedang mereka jalani.
"Baka Naruto. Kau kan lelaki. Masa tidak mau mengalah pada wanita." Sakura mengacak pinggangnya. "Iya kan Sasuke." Sakura mencari dukungan jawaban.
"Maaf Sakura. Aku sudah janji untuk mengantar pulang Naruto pulang. Hari ini. Besok. Dan seterusnya." Jawab Sasuke. Sakura tekejut.
"Jadi kamu lebih memilih dia?" Sakura menunjuk muka Naruto.
"Tentu." Jawab Sasuke mantap seraya menarik pinggul Naruto ke arahnya. Alis Sakura menaik. Bingung. Jijik. Saat melihat senyum manis Naruto. Senang.
"Dasar aneh." Sakura mengibaskan tangannya dan pergi meninggalkan mereka. Marah.
Sasuke hanya mampu mengelus punggung Naruto. Mencoba menguatkannya. Dan dirinya.
.
.
.
Mereka ingin semuanya tahu tentang hubungan mereka secara perlahan. Tidak tergesa-gesa. Meski kini topik SasuNaru mendadak high topic. Mereka tetap menjalaninya dengan perlahan. Tidak lebih dari sekedar pengangan tangan dan rangkulan mesra saat menaiki motor Sasuke. Karena mereka sadar. Mereka masih butuh ijazah SMA. Kini mereka sadar sedikit banyak temannya banyak yang menjahuinya. Para wanita tentu kesal dan iri dengan Naruto. Kalau teman-teman lelaki mereka?
Kini Neji. Kiba. Shino. Shikamaru. Dan sai mulai berani menyinggung hubungan mereka. Seperti kapan lalu.
"Naruto-kun?" Panggil Sai.
"Ada apa?" Naruto menoleh ke arah Sai saat sedang istirahat jam olahraga.
"Aku pernah baca di buku. Kalau pria dan wanita sedang berpelukan mereka di sebut sedang bermesraan. Ciuman dan belaian juga. Tapi kalau yang Naruto-kun lakukan pada Sasuke-kun saat naik motor apa bisa disebut bermesraan juga?" Tanyanya to the point. Naruto hanya diam. Bingung mau jawab apa. Sasuke yang merasa kasian mulai beraksi.
"Tentu." Sasuke yang menjawab. Singkat. Padat. Dan jelas.
"Kenapa kalian sering terlihat mesra?" Tanya Shino.
"Karena kita saling menyayangi." Sasuke kembali menjawab.
"Apa kalian ada hubungan?" Kiba penasaran.
"Kalian penasaran?." Sasku balas bertanya.
"Kami hanya ingin kejelasan." Shikamaru angkat bicara.
"Baiklah." Sasuke menghela nafas. "Naruto?" Panggilnya. Yang merasa hanya menoleh takut-takut.
"Maaf." Ucap Sasuke lirih kemudian menarik leher belakang Naruto mendekatinya. Di kecupnya lembut bibir Naruto namun tetap meninggalkan saivianya disana. Biar lebih akurat!. Ia tak ingin ketahuan yang lain jika terlalu lama mencium Naruto.
Neji, Kiba, Shino, Shikamaru, dan Sai hanya diam. Tidak percaya. Spe-ce-les. Menyaksikan tingkah teman mereka yang sejak mereka kenal adalah lelaki normal. Tapi sekarang?
"Kau serius Sasuke?" Tanya Neji yang sedari tadi diam.
"Tentu. Apa aku harus menciumnya lagi agar kalian percaya?" Tantang Sasuke. Naruto hanya melotot dengan muka merah.
"Tapi kenapa kalian tidak menyatakan langsung kejelasan hubungan kalian?" Kembali Neji yang bertanya.
"Tidak sekarang. Nati."
"Yang penting kau harus tanggung jawab dengan pilihan kalian." Shikamaru menimpali.
"Tentu." Sasuke meraih tangan Naruto dan menggenggamnya.
"Ka-kalian tidak akan membenciku kan?" Naruto angkat suara.
Serempak ke enam pemuda kecuali Sasuke dan Naruto menggeleng. Mengerti keinginan teman-temannya.
"Tersenyumlah Naruto-kun." Sai tersenyum. Entah tulus atau tidak.
"Kau tak pantas jadi pendiam bodoh."
"SHINO?" Hardik Naruto.
"Jadilah Naruto yang berisik."
"NEJI." Hardik Naruto lagi.
"Mulai sekarang jangan ditahan-tahan lagi. Kalau kau ingin mencium Sasuke, lakukan saja. Kita akan tutupi."
"KIBA." Hardik Naruto lagi dan lagi.
"Yoshh. Kau siswa paling penuh kejutan no satu, baka Naruto."
"Arghhhhhh SHIKAMARU. Ada apa sebenarnya dengan kalian?" Hardik Naruto lagi, lagi, dan lagi.
Akhirnya ke tujuh pemuda itu terlihat gembira dan penuh kebahagian. Terasa dari keramaian yang mereka ciptakan di sudut teduh lapangan sekolah mereka. Sahabat yang dengan tulus penuh dukungan untuk sahabatnya.
Waktupun terus berlalu. Tak terasa kini mereka telah menginjak tahun ke tiga di SMA Kosudo. Tahunya para senior. Tahun yang menjadi pintu bagi Sasuke dan Naruto. Pintu yang akan membawa Naruto dan Sasuke menuju masa depan yang mereka pilih. Dan mereka memilih acara lepas pisah sebagai pintu awal masa depan mereka.
.
.
.
Sasuke kini mulai intens mengunjungi rumah kekasihnya. Ia mulai menyusun rencana hidup. Untuk mereka berdua. Karena sudah bisa di pastikan orangtua Sasuke menolak keras hubungan mereka.
Sasuke berinisiatif akan menyatakan kejelasan hubungan mereka saat acara lepas pisah. Saat semua anak angkatannya berkumpul. Saat para guru mengucapkan selamat. Saat terakhir bertemu mereka. Lepas pisah adalah waktu yang tepat bagi Sasuke. Karena ia saat itu ia akan melihat terkekejutan mereka dan tak akan melihatnya lagi.
Setelah itu ia secara dewasa akan memberitahukan pilihan hatinya pada keluarganya. Jika bisa ia akan minta izin menikahinya. Jika tidak ia hanya bisa berpamitan. Sasuke rela memilih hidup di luar asalkan ada Naruto.
Berani mempertaruhkan semuanya demi kebahagian kecilnya. Berani menjadi seorang yang terbuang. Berani melintasi hamparan kaca beling demi pilihan hidupnya..
.
.
.
To Be Continued
Ne Mina...
maaf pendek...
Soalnya habis sakit...
Dari pada g update...
kembali
Author berharap review
