Pertama
Sebagai tanda terima kasih
Balas Review
Yang rela berkorban saya...hehehe
reiasia95
Wow... ampek bingung nulisnya...
tapi tetep makasih...
author jadi tambah semangat
kitsune Riku11
Hehehe... author sudah berusaha sangat keras
untuk update cepat.
Jasmine DaisynoYuki
Makasih sarannya...
aku perbaiki di choa ini
.184
Sangkyu... padahal updatenya 10 hari...
eka.
hanazawa kay
wokeyyy... boss
yuichi dan Sara... Log in dong..
.
.
.
Disclaimer
© Masashi Kishimoto
Pairing
SasuNaru
Warning
M-Preg, Yaoi, Boy's Love, Sho-ai
Romance/ Hurt/Comfort/
Rate M
Bukan untuk adegan 'lemon'
Summary
Naruto Sakit. Dia sekarat.
Menjelang kelahiran bayinya dia berpesan.
'Teme. Jaga anak ini untukku.'
M-Preg, It's Not My Destiny
© Kanami Aya
Status
In-Progres
Chapter 3
Penentuan
Don't Like Don't Read
RnR
.
.
.
Uzumaki Mansion
Sasuke merangkul Naruto erat. Tangannya tak henti-hentinya membelai surai pirang yang sedang duduk di hadapannya. Malam ini dia memutuskan untuk menginap di rumah Naruto. Di ruang tamu Narutolah kini mereka berada. Saling terdiam.
Televisi yang menyala sejak tadi seakan tak ada. Karena memang tayangan yang sedang di siarkan lewat begitu saja. Baik Sasuke meupun Naruto sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Teme. Apa kau tidak takut?" Ucap Naruto seraya menarik tangan Sasuke yang tengah sibuk membelai rambutnya agar teralih erangkul lehernya.
"Takut akan hal apa?" Sasuke meletakkan dagunya di ubun kepala Naruto.
"Besok semuanya akan terjadi. Tidakkah kau merasa sedikit takut Teme?"
"Apakah kamu takut Dobe?" Bukannya menjawab Sasuke malah berbalik bertanya.
"Ini hal kedua yang paling aku takutkan setelah kematian Oka-san." Jawab Narut lirih.
"Kalau begitu, aku tidak takut." Jawab Sasuke tegas namun pelan.
"Kenapa bisa begitu?" Naruto merasa penasaran.
"Kalau aku juga takut. Siap yang akan berani." Sasuke beralih memindahkan kepalanya di bahu Naruto. Mengecupnya pelan. Kemudian melanjutkan pembicaraannya.
"Jujur. Aku juga takut. Aku belum pernah merasa sedewasa ini megambil resiko. Berani bersimpuh menghadap otou-san dan meminta izinnya. Tapi aku yakin akan satu hal Dobe." Ucapan Sasuke menggantung.
"Apa itu Teme?" Ucap Naruto.
"Aku yakin cinta yang tulus pasti akan memiliki jalannya sendiri. Meski sulit. Asal ada kamu. Aku kuat Dobe." Ucap Sasuke tenang.
"Masih bisa menghentikan ini sekarang Teme. Jika kamu masih ragu. Aku rela." Naruto merebahkan kepalanya di kepala Sasuke yang tengah menyandar di bahunya. Sasuke tersenyum pahit.
"Berapa lama kita berhubungan?" Tanya Sasuke.
"Dua tahun. Kenapa Teme." Naruto kembali penasaran.
"Mungkin dua tahun waktu yang singkat untuk sebuah hubungan. Tapi ketahuilah Dobe. Hubungan sesama jenis itu tidak mudah. Bisa bertahan selama dua tahun bukankah kita memang bisa menjaga hubungan ini dengan baik?" Lontar Sasuke.
"Aku hanya mengurangi resiko Teme. Aku tidak ingin ada yang terluka. Baik hati mapun jiwa." Naruto mencoba meyakinkan Sasuke untuk menggagalkan rencananya untu menyatakan kejelasan hubungan mereka saat acsara prom night. Kemudian berlajut untuk meminta izin orang tua.
"Aku harus bicara apa lagi Dobe. Biar kamu percaya sama aku." Sasuke sudah kehabisan kata-katanya.
"Jika ini memang sudah pilihanmu. Sebagai kekasih aku pasti mendukungmu. Tapi aku minta kau janji akan satu hal."
"Apa itu Dobe?"
"Jangan putuskan hubunganmu dengan keluargamu."
"Kau tau itu sulit Dobe. Otou-san pasti menolak hubungan kita."
"Berarti kita tidak akan pernah bisa menikah Teme."
"Kita tidak akan menikah disini. Aku akan membawamu keluar Jepang. Kita akan menikah Belanda. Di sana pernikahan sesama jenis juga di sahkan."
"Meninggalkan orangtuamu?"
"Apapun demi kebersamaaan kita."
"Kau tidak sedih Teme?"
"Kita berbagi kesedihan."
Hening. Hanya ada suara helaan nafas yang keluar dari sepasang kekasih yang kini sedang sama-sama terdiam.
"Dobe?" Panggil Sasuke.
"Kau akan datangkan ke acara prom night?" Sasuke melepas rangkulannya dan menarik Naruto menghadapnya.
"Aku tak punya gaun Teme. Datang dengan Texudo akan terlihat lucu. Dua lelaki bergandengan datang keacara pesta." Naruto mengalihkan pandangannya.
"Aku harap kau datang. Bagaimanapun penampilanmu nanti. Aku akan tetapn menggandengmu." Ucap Sasuke mantap. Di tatapnya matas safir yang sedang berpaling darinya.
"Teme aku..."
"Aku butu kamu. Aku butuh kamu mendukungku nanti DObe. Menghadapi rekasi mereka nanti." Sasuke memotong perkataan Naruto.
"Pulanglah." Perintah Naruto.
"Sepertinya aku sudah bilang. Aku menginap disini Dobe."
"Pulanglah Teme. Aku gak mau jadi penyesalanmu nanti. Tau esok akan jadi hari terakhirmu bersama keluargamu." Di sentuhnya pipi Sasuke. Sayang. Sementara Sasuke hanya terdiam.
"Kalau kamu mau pulang malam ini. Besok aku pasti datang." Ucap Naruto yakin.
Sasuke mencium kening Naruto dan berpamitan. "BAiklah. Aku pulang. Tapi aku berharap bisa menggandengmu di pintu masuk acara pram night besok." Lalu Sasuke berdiri.
"Aku janji." Tangan Naruto masih bertautan dengan tangan Sasuke. Melepasnya secara perlahan.
Kemudian Sasuke mengenakan jaket klannya dan meluar dari rumah Naruto. Menghidupkan motor Ducatinya dan melaju cepat menuju rumahnya.
.
.
.
Uchiha Mansion
Sasuke menguyur seluruh badannya dengan air yang ia atur di suhu dingin. Membasahi seluruh kepalanya berharap mengurangi rasa panas yang timbul di kepalanya.
Kakinya terasa semakin tak ingin beranjak dari kamar mandi yang berada di sudut kamarnya. Terlalu dini untuk takut. Bahkan terlalu dini untuk mandi.
Jam di mejanya sudah menunjukan pukul 06:27. Mengartikan dirinya sudah dua puluh tujuh menit ia berada dikamar mandi. Sasuke bukannya takut dan ingin mundur. Hanya saja seorang sekelas Sasuke juga bisa berharap. Berharap waktu sedikit berjalan pelan atau loncat satu hari.
Mustahil memang. Tapi harus diakui. Ia masih sedikit kurang siap. Masih merasa kurang dewasa untuk berbicara secara matang dengan ayahnya. Fukagu. Karena memang meski Fukagu seorang ayah yang penuh kasih sayang. Ia juga merupakan kepala keluarga yang tegas.
Tak jarang Fukagu benar-benar meng-anak emaskan anikinya saat dirasa Sasuke tidak berkembang secara pesat. Ingat secara pesat. Jika sudah marah Fukagu bisa lebih menakutkan dari ibunya─Mikoto─yang juga tak kalah menakutkan. Maka dari itu, jangan salahkan Sasuke─yang masih berumur sembilan belas tahun─bila merasa takut, merasa sedikit kurang berani menghadapi ayahnya itu.
Merasa cukup Sasuke mematikan air. Dililitkannya handuk untuk menutupi pinggunya. Handuk lain ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Dilangkahkan kakinya yang sedikit basah menuju tempat tidur berukuran besar di tengah kamarnya. Matanya menatap lekat sepasang baju yang tergeletak disana. Texudo.
Kemeja putih. Dasi hitam kecil. Jas hitam panjang. Celana hitam panjang. Sepatu hitam berkilat. Sasuke memakai kemeja putihnya dan celana panjangnya.
Acara wisuda. Beruntung acara lepas pisah di SMA Kosudo tidak mendatangkan orang tua siswa. Sebab acara tersebut murni hanya untuk siswa. Orang tua siswa hanya di datangkan pada acara pembagian ijazah hasil sekolah selama tiga tahun.
Setelah itu para orang tua di perkenangkan pulang. Sementara para siswa─mantan siswa tepatnya─akan segera melaksanakan acara utamanya. Prom Night. Lepas pisahnya siswa senior. Waktunya Sasuke menunjukkan taringnya. Hidupnya. Masa depannya. Pilihannya.
"Sasuke. Kau bisa memakainya?" Tanya Mikoto yang entah tanpa disadari Sasuke sudah berada di belakangnya.
"Hn." Jawab Sasuke sekenanya.
"Tidak di sangka ya? Kau sudah lulus SMA." Ucap Mikoto seraya memasangkan dasi hitam Sasuke.
"Aku bisa memakainya sendiri bu." Sasuke mencoba meraih dasinya. Namun Mikoto menolak.
"Biarkan ibu yang melakukannya. Setelah ini ibu tidak akan bisa memanjakanmu lagi." Ucap Mikoto melanjutkan merangkai dasi Sasuke.
"Ibu?" Panggil Sasuke.
"Apa." Jawab Mikoto sayang.
"Apa ibu juga melakukan hal ini pada Itachi?"
"Melakukan apa?" Mikoto beralih memakaikan jas hitam Sasuke.
"Memanjakan Itachi." Papar Sasuke.
"Itachi anak yang sedikit berbeda. Dia dewasa sebelum waktunya. Ibu tak bisa memanjakan dia seperti memanjakanmu." Mikoto mengibas-ngibaskan tangannya merapikan jas yang telah di kenakan Sasuke.
"Apa aku sekarang masih terlihat seperti anak kecil?" Tanya Sasuke takut-takut.
"Sebesar apapun kau kali ini. Kau tetap Sasuke kecil ibu." Mikoto merapikan rambut sasuke yang sedikit basah.
"Tapi aku sudah dewasa. Setidaknya aku sudah memiliki kartu identitasku sendiri."
"Baiklah. Kau sudah dewasa. Puas?"
"Itu artinya ibu percaya dengan pilihan hidupku nanti?" Tanya Sasuke ragu ragu.
Mikoto menyentuh pipi putra pungsunya. Di usapnya pelan tanda ia sangat menyayanginya.
"Tidak ada orang tua yang tidak percaya pada anaknya. Sayang."
"Meski pilihanku di anggap salah?"
"Asal kau bisa mempertanggungjawabkannya ibu selalu mendukungmu."
"Bagaimana dengan ayah?"
"Seorang ayah pasti akan mendorong anaknya Sasuke."
"Saat Itachi kabur dari rumah. Apa ayah juga sempat marah?"
"Tentu. Tapi sekarang situasinya berubah. Itachi bisa meyakinkan Fukagu mengapa ia memilih mendirikan perusahaannya sendiri. Tanpa mencoba untuk memakai nama Uchiha."
"Ibu?" Panggil Sasuke.
"Apa lagi?" Mikoto mulai bosan juga.
"Aku ingin, mengenalkan, seseorang pada kalian, nanti malam." Ucap Sasuke ragu.
"Benarkah? Syukurlah jika kamu sudah menemukannya" Tiba-tiba alis Mikoto menaik.
"Tapi aku takut bu. Takut dia tidak sesuai."
"Sudahlah jangan di fikirkan sekarang." Mikoto mendorong tubuh Sasuke agar terduduk di kasur.
"Hari ini hari istimewamu. Jangan di rusak sebelum kau bersenang-senang." Mikoto memakaikan sepatu hitam Sasuke. "Bicarakan nanti saja." Lanjutnya.
Setelah itu Mikoto mengecup pelan kening putra bungunya. Lalu keluar. Besiap-siap berangkat untuk menghadiri pemberian ijazah Sasuke bersama suaminya Fukagu.
.
.
.
Acara pemberian ijazah di SMA kosudo berlangsung sederhana. Karena memang isinya hanya cuap-cuap guru dan pemberian selamat kepada sepuluh siswa tebaik.
Ayah dan ibu Sasuke pulang dengan wajah bergembira. Bagaimana tidak. Sasuke menduduki peringkat pertama di sekolahnya. Kalau saja Shikamaru tidak bermalas-malasan sudah dapat di pastikan sang Uchiha hanya bisa berdiam di nomor kedua.
Sebelum pulang Fukagu menyentuh pundak Sasuke dan berkata.
"Aku bangga padamu. Kita akan merayakannya di rumah. Jangan pulang terlalu malam." Ucapnya sebelum masuk ke mobil mewahnya.
Sasuke memandang kepergian ayahnya dengan tatapan kesediha. Ada yang bergejolak di dadanya. Ada yang di takutkannya. Seolah ia berharap ada yang bisa membantunya.
"Maafkan aku ayah. Kebangganmu padaku sebentar lagi pasti akan hilang." Ucapnya lirih.
Fukagu sangat jarang membanggakan Sasuke. Dan kini hal yangselalu di lontarkan untuk kakaknya telah ia capai. Ayahnya merasa bangga padanya.
Tapi keputusan Sasuke sudah bulat. Ia memilih Naruto. Seseorang yang akan di jadikannya pasangan hidup. Ia memilih melepas kebanggaan ayahnya terhadapnya. Memilih untuk sengsara.
.
.
.
Sasuke melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Ia ragu Naruto akan datang atau tidak ke acara prom night SMA Kosudo. Pasalnya waktu acara pembagian ijazah Naruto tak menunjukkan batang hidungnya.
Oleh karena itu. Sasuke berniat menjemput Naruto di rumahnya. Udara sore yang memancarkan warna jingganya yang terang. Dengan sedikit sisa panas matahari yang terasa hangat. Sasuke memberhentikannya mootnya tepat di rumah sang kekasih.
Di ketuknya pintu kayu berwarna light brown namun sang pemilik rumah tak kunjung membukanya. Sasuke berinisiatif memutari rumah Naruto. Tapi tak ada tanda-tanda Naruto ada dirumah. Di lihatnya candela yang sekiranya masih bisa mengintip di dalam. Sepi.
"Kemana dia?" Ucap Sasuke lirih.
Kemudian Sasuke mengkunci ganda motornya. Lalu mencoba mencari Naruto. Yang Sasuke tau, Naruto selalu ke sungan Konoha saat sedang gelisah. Mungkin kali ini Naruto berada disana.
Tak butuh waktu lama untuk kesana. Perjalanan santai hanya membutuhkan waktu selama sepuluh menit. Benar. Sasuke menemukannya disana. Pemuda berambut pirang dengan mata seindah langit di pagi hari. Naruto.
Kini Naruto tengan terduduk menatap sungai di depannya. Secara perlahan Sasuke menghampirinya. Terlihat surai pirang Naruto berkibar tertiup angin. Matanya terpejam merasakan hembusan angin. Bibirnya sedikit terangkat menandakan sang pemilik tidak punya beban. Kemudian Sasuke duduk di sebelahnya.
"Kenapa tadi tidak datang waktu acara pembagia ijazah?" Tanya Sasuke terus terang.
"Kau mau melihatku di tertawakan Teme?" Tanya Naruto balik.
"..." Sasuke terdiam. Tidak mengerti maksud perkataan Naruto.
"Aku bukan siswa pintar sepertimu Teme. Mana berani aku datang untuk melihat reaksi mereka. Aku yakin nilaku yang terburuk." Papar Naruto enjelaskan maksudnya. Sasuke tertawa.
"Aku kira kau tak datng karena takut bertemu orangtuaku." Duga Naruto. Di letakkannya kepalanya di bahu Naruto.
"Itu juga termasuk. Aku masih belum berani." Naruto merebahkan kepalanya di kepala Sasuke. Mata ereka menatap satu objek yang sama. Sungai Konoha. Matahari hari sore entah mengapa terasa indah saat di lihat di air. Pancarannya terlihat lebih indah.
"Menyesal aku memilihmu sebagai kekasihku Dobe. Ternyata hanya segini keberanianmu. Membiarkan aku menderita sendiri." Sebenarnya Sasuke niat bercanda. Tapi Naruto menanggapinya serius.
"Ma-maaf Teme. Aku hanya... hanya..."
Tiba-tiba Sasuke menarik leherr belakang Nruto. Mengecup bibir Naruto. Singkat. Namun cukup membuat wajah Naruto bersemu merah.
"Aku hanya bercanda Dobe. Jangan terlalu di pikirkan." Seringai nakal muncul di wajah Sasuke.
"Ini bukan saatnya bercanda Teme." Hardik Naruto.
"Iya-iya maaf." Sasuke kembali meletakkan kepalanya di bahu Sasuke.
"Acaranya berapa jam lagi?" Tanya Naruto.
"Jam enam malam. Sekarang masih jam lima sore."
"Kita disini dulu baru berangkat tak apa kan, Teme?" Naruto meminta izin.
"Tak perlu ke salon?" Sasuke menaikkan alisnya. Jahil.
"Aku laki-laki." Naruto malas meladeni godaan Sasuke.
"Kalau gitu, kita beli gaun saja?"
"Aku laki-laki Teme. Aku tak butuh ke salon. Apalagi gaun. MENGERTI GAK SIH." Teriak Naruto kencang. Sasuke tertawa. "Kalau kau mau. Kau saja yang pakai gaun." Lanjutnya.
"Aku kan hanya ingin melihatmu cantik Dobe. Memang salah?" Pinta Sasuke.
"Salah!" Sahut Naruto cepat. "Seharusnya dulu aku pilih jadi seme. Bukan uke." Lanjutnya. Sasuke tertawa.
Sasuke memerhatikan penampilan Naruto dari atas hingga ujung seoatunya. Kemeja krem di balut rompi coklat. Celana Hitam. Sepatu Hitam dengan goresan warna coklat. Sederhana. Hal itu yang terlitas di pikiran Sasuke.
"Maaf. Aku hanya ingin menggodamu Dobe. Begini saja sudah cukup. Jika kita berjalan berdua nanti. Masih bisa di jelaskan mana yang uke."
"TEME!"
"Iya-iya. Sudahlah kita berangkat sekrang saja. Lebih cepat lebih baik." Sasuke berdiri seraya mengulurkan tangannya. Naruto menerimanya.
"Nanti jangan jauh-jauh dariku Dobe. Aku tak mau penggemarku memakanmu nanti." Ucapnya seraya menarik tubuh Naruto berdiri.
"Tenang saja. Aku bisa karate." Jawab Naruto antusias sambil memperagakan kemampuannya. Sasuke tersenyum. Kemudian menarik Naruto dalam dekapannya. Bersyukur masih ada hal yang bisa membuat mereka tersenyum.
"Te-Teme. Ma-malu." Ronta Naruto dalam pelukan Sasuke.
"Yup. Kita berangkat sekarang." Ucapnya setelah melpas dekaoannya. Tanpa peduli dengan wajah merah Naruto.
.
.
.
Acara wisuda SMA Kosudo sebenarnya berlangsung dalam dua tahap. Acara pembagian ijazah di laksanakan pagi hari sementara malam harinya untuk prom night.
Karena acaranya di mulai jam enam malam, maka sekarang mulai terlihat bebrapa siswa berdatangan. Umumnya mereka berdatangan dengan kekasihnya. Yang sedang jomblo kebanyakan memilih datang bersamaan. Kesannya biar gak apes-apes banget.
Terlihat Naji turun dari mobil kebanggaannya dengan menggandeng seseorang bercepol dua ala gadis cina. Tenten. Kemudian Shikamaru menyusul dengan Temari sebagai pendampingnya malam itu. Ino setengah terpaksa jalan dengan Choji. Ingat setengah terpaksa. Karena sekarang Choji sudah menjadi pria kurus yang tampan. Hinata yang merasa tak akan bisa menjadi pendamping Naruto terpaksa menerima ajakan Kiba. Karin yang uring-uringan Sasuke mendadak pulang saat acara lepas pisah tadi akhirnya memilih jalan bersama Shino. Sakura dengan verat hati menggandeng Lee saat dirasa tak punya harapan lain. Dan masih banyak linnya.
Tapi kemudian pasangan yang datang berikutnya benar-benar membuat mereka syok. Yang belum tau pastinya. Yang udah tau hanya diam. Apalagi manusia-masnusia yang men-judge dirinya Uchiha Sasuke Fans Club.
Sasuke menghentikan motor Ducatinya tepat di pintu masuk acara. Karena sewaktu menuju kesini Sasuke memacu motornya dengan kecepatan tanggi.
Alhasil Naruto hanya mampu membenamkan kepalanya di punggung Sasuke dan merangkulnya erat. Hal ini terbawa meski kini motor Sasuke telah sukses berhenti dengan selamat. Untuk menyadarkan Naruto. Sasuke menepuk pelan punggung tangan Naruto yang melingkar kuat di pinggulnya.
"Sudah sampai sayang. ayo turun." Ucap Sasuke mencoba terlihat mesra.
Naruto turun dengan takut-takut. Pasalnya kini mereka benar-benar menjadi pusat peraian─perhatian maksudnya. Mata-mata lapar yang menginginkan Sasuke kini beralih menatap Naruto dengan hasrat membunuh.
"Teme aku takut." Ucap Naruto lirih. Sebagai jawaban Sasuke hanya menggandeng erat tangan Naruto menuju pintu masuk.
Ternyata di dalam Susana yang tercipta terasa lebih kisruh. Karin dan Sakura berkcak pinggang menntang Sasuke untuk menjelaskan maksud tingkah lakunya.
"Apa yang ingin kalian ketahui." Tantang Sasuke balik.
"Kenapa kau datang bersamanya?" Tanya Sakura sambil menunjuk hidung Naruto.
"Karena dia pendampingku malam ini. Aku rasa sudah jelas." Sasuke mengarahkan Naruto lebih dekatkearahnya.
"Kenapa harus dia?" Sakura masih tidak terima.
"Karena dia kekasihku." Ucap Sasuke santai.
"Hahahaah. Mana mungkin aku percaya?" Sakura bertahan.
"Mau bukti?" Tantang Sasuke. Sebenarnya Sakura CS terkejut. Takut jika ucapan Sasuke benar. Namun akhirnya Sakura mengangguk takut-takut. Sasuk tersenyum.
"Kamu siap Dobe?" Tanya Sasuke. Naruto mengangguk.
Kemudian Sasuke menarik kepala bagian belakang Naruto. Mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto mengecup bibir bawah Naruto. Kemudian melumatnya.
Naruto tidak tinggal diam. Di balas melumat bibir Sasuke. Mendadak memunculkan salvia di antara ciuman mereka. Kemudian dirasakannya lidah Sasuke meminta izin untuk masuk. Dan Naruto membuka bibirnya.
Adegan yang mereka lakukan cukup membuat semuanya jelas. Keterdiaman mereka meyakinkan Sasuke bahwa ini cukup. Di akhirinya ciuman mereka. Kemudian pergi dari situ.
"Mau kemana?" Tanya Naruto pelan karena heran, namun tetap menurut saat lengannya di tarik.
"Kamu mau jad santaoan mereka? Mereka mengerti kita ada affair saja sudah cukup." Balas Sasuke tak kalah pelan.
Kemudian dengan cepat Sasuke mengambil moto Ducatinya yang terparkir. Menghidupkannya dan menarik Naruto naik di belakangnya. Dan langsung tancap gas. Karena ia rasa para penggemarnya mulai berteriak marah. Sebenernya Sasuke merasa bersaah. Pasalny acara yang seharusnya indah dan meriah, kini sukses ia hancurkan.
.
.
.
Sasuke memarkirkan motornya di luar rumahnya. Ia tidak ingin orang tuanya sadar ia pulang. Di bukanya pintu kayu maple tersebut. Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga. Karena disanalah ia biasa mendapati ibunya─Mikoto dan ayahnya─Fukagu.
Fukagu yang merasa ada kehadiran di dekatnya hanya mampu menaikan alis saat di saat di dapatinya Sasuke tengah berdiri disana. Bukankah acaranya berakhir kam sepuluh malam? tapi kenapa baru jam tujuh malam Sasuke sudah pulang? Batin Fukagu.
"Ayah. Ibu. Ada yang mau aku bicarakan." Ucap Sasuke.
.
.
.
To Be Continued
Wowwww...
ampek bingung sebenernya
yang mau di tulis apa
Review Donggg
