Balas Review dulu ya...
versetta: Ok ok tenang. Makasuh ya udah review...
Shiroi Fuyu : Untuk kali ini aku uasahain di kurangi typonya. Makasih udah di kasih tahu. Udah aku ganti dari Fukagu jadi Fugaku.
irmasepti11 : Iya iya ga papa. Aku tetep makasih udah di review...
laelileleistiani : Maaf-maaf. Soalnya aku ngerasa enakan di chap depan konfliknya..
reiasia95 : Makasih
Jasmine DaisynoYoki: Aku udah coba panjangin. Tapi cuma bisa ampek segini. Makasih udah review.
uzumakinamikazehaki: makasih...
hanazawa kay : Maaf maaf. N makasih..
Ineedtohateyou : Iya maaf... Makasih ya..
eka. : Makasih
Para Guest : Makasih juga...
Silent Reader : Makasih juga..
All : Kalian nafasku # Huekkk digampar
Ok menjawab kenapa telat Update...
karena saya baru selesai UAS...
bayangin...
puasa-puasa UAS...
Masih punya hutang untuk 3 fanfic TBC saya pula...
Udah deh...
Bacotnya kebanyaan...
Happy reading...
.
.
.
Disclaimer
Naruto
© Masashi Kishimoto
Pairing
SasuNaru
Warning
M-Preg, Yaoi, Boy's Love, Sho-ai
Romance/Hurt/Comfort/Angst?
Rate M
Bukan untuk adegan 'lemon'
Summary
Naruto Sakit. Dia sekarat.
Menjelang kelahiran bayinya dia berpesan.
'Teme. Jaga anak ini untukku.'
M-Preg, It's Not My Destiny
© Kanami Aya
Status
In-Progres
Chapter 4
Keputusan
Don't Like Don't Read
RnR
.
.
.
Cerita Sebelumnya
Sasuke memarkirkan motornya di luar rumahnya. Ia tidak ingin orang tuanya sadar ia telah pulang. Di bukanya pintu kayu maple tersebut. Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga. Karena disanalah ia biasa mendapati ibunya─Mikoto dan ayahnya─Fugaku.
Fugaku yang merasa ada kehadiran di dekatnya hanya mampu menaikan alis saat di saat di dapatinya Sasuke tengah berdiri disana. Bukankah acaranya berakhir kam sepuluh malam? tapi kenapa baru jam tujuh malam Sasuke sudah pulang? Batin Fugaku.
"Ayah. Ibu. Ada yang mau aku bicarakan." Ucap Sasuke.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Naruto merangkul erat pria di depannya. Bukan karena alasan dinginnya malam yang merasuk hingga mengigit kulit. Bukan karena matanya mendadak berair akibat dari kencangnya angin bersamaan dengan kencangnya laju motor Sasuke.
Bukan hanya ingin menguatkan kekasihnya. Lebih karena ia sendiri juga takut. Ia sendiri juga butuh pegangan. Butuh sandaran. Butuh seseorang untuk saling menguatkan. Karena jika tidak, Sasuke akan lupa bahwa ia membawa seseorang yang amat berarti di boncengan belakang. Sasuke akan lupa dan semakin memacu motornya dengan kecepatan tinggi.
Cengkraman kuat di jaket tepat di perutnya menyadarkan Sasuke bahwa Naruto juga merasakan hal yang sama dengannya. Tegang. Gugup. Takut. Gelisah. Tak ingin memperburuk keadaan Sasuke menurunkan kecepatan di spidometernya dari angka seratus lebih, menjadi delapan puluhan.
Sasuke menepuk pelan tangan Naruto yang sedang mencengkramnya kuat. Seolah mengatakan. 'Tenang. Aku masih bisa mengendalikan diri.' Dan itu membuat Naruto sedikit mengendurkan rangkulannya.
Sasuke memberhentikan motornya di luar rumahnya. Tepatnya berjarak dua rumah dari rumahnya. Sasuke turun dari motornya dengan cepat. Bahkan sebelum Naruto sempat menegakkan punggungnya yang sedari tadi mengharuskannya membungkuk karena posisi sadel motor Sasuke.
Hal itu menyebabkan Naruto kaget. Ia terlonjak. Kalau saja Sasuke tak langsung menahannya─memeluk lebih tepatnya─mungkin ia telah jatuh. Naruto yang bingung hanya diam.
"Apapun yang terjadi setelah malam ini. Berjanjilah untuk tetap di sebelahku Dobe. Apapun." Ucap Sasuke tepat di telinga Naruto di tengah pelukan Sasuke.
"Aku masih berharap kau tak memilih jalan ini Teme. Meskipun aku juga tak ingin berpindah dari sisimu." Naruto membalas pelukan Sasuke.
"Keputusanku sudah bulat. Mutlak untukku. Tak akan ada yang bisa melarangku. Meskipun itu kau Dobe." Sasuke melepas pelukannya. Kemudian memegang kedua lengan atas Naruto.
"Kau marah padaku yang seperti ini?" Sasuke menatap lekat kedua mata Naruto. Naruto menggeleng.
"Ehem. Mana bisa aku marah setelah perjuanganmu selama ini Teme. Aku hanya menyesal. Setidaknya andai aku adalah wanita. Mungkin tidak akan sesusah ini. Kita tidak akan sesakit ini." Perlahan cairan bening melintas di kedua pipi Naruto. Membuktikan penyesalan yang amat sangat. Mungkin.
"Sst." Sasuke mengusap air mata Naruto.
"Aku terima kamu apa adanya. Aku yang memutuskan memulai hubungan ini dan aku ingin mempertahankannya." Sasuke kembali memeluk Naruto.
"Kuatkan aku Dobe." Pinta Sasuke. Naruto membalas pelukan Sasuke sebagai jawabannya. Meskipun entah, kuatkan dalam arti yang bagaimana.
Semenit beralu Sasuke melepas pelukannya. Ia tidak boleh berlama-lama dalam keadaan seperti ini. Ia ingin menyelesaikannya dengan cepat. Agar setidaknya ada sedikit ketenangan.
Sebelum beranjak, Sasuke kembali memerhatikan wajah Naruto yang terlihat lemah malam ini. Kemudian Sasuke menarik nafas dalam-dalam. Memantapkan hati. Setelah itu ia beranjak meninggalkan Naruto yang masih terduduk di atas motornya. Melangkahkan kakinya menuju kediamannya.
Naruto memandang kepergian Sasuke. Menatap punggung Sasuke yang melai menjauh. Sebenarnya ia tak tega meninggalkan Sasuke berperang sendiri mendiskusikan hubungan mereka kepada orang tua Sasuke. Tapi Sasuke melarangnya. Ia berkilah tak ingin kemarahan orangtuanya akan semakin terpancing jika melihatnya.
"Andai saja Sasuke... Andai saja aku tetap yang dulu... " Air mata Naruto mengalir tanpa bisa ia hentikan. Mengalir seolah ingin menyalurkan kegalauan hatinya yang berkecambuk.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Sasuke berhenti tepat di depan pintu rumahnya. Mencoba menerka-nerka apa yang akan terjadi pada kedua orangtuanya sekiranya ia telah menyampaikan maksudnya. Satu pernyataan yang ia hafal luar dalam tanpa pernah ia sengaja untuk merangkainya.
Dengan ragu Sasuke memutar kenop pintu maple rumahnya. Dengan langkah pendek ia memasuki rumahnya. Dari cahaya yang terpancar dari arah ruang keluarga ia menyadari bahwa ibu dan ayahnya berada di sana.
Di langkahkan kakinya menuju ruang tamu. Sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Sebab, sebenarnya ia sendiri masih belum merasa yakin menghadapi ayahnya itu. Tapi Fugaku memang menyadari kehadiran di sebelahnya. Ia menoleh. Heran mengapa putra bungsunya sudah berada di rumah.
Fugaku bukan orang tua yang ketinggalan perubahan tingkah laku anak asa kini. Ia tahu apa itu arti dari kata prom nigt - lepas pisah. Sekolah memang melegalkan hanya sampai jam sepuluh malam. Wajarnya, karena acara perpisahan mereka pasti memita waktu lebih.
Oleh karena itu ia merasa heran. Jam tujuh malam Sasuke sudah berada di rumah. Jangankan lepas pisah. Hari biasa saja Sasuke biasa pulang paling awal jam sembilan. Tapi ini? Ada apa?.
Mikoto yang awalnya sibuk menganti-ganti channel televesi akhirnya mengikuti arah pandang suaminya. Putra bungsunya. Uchiha Sasuke.
"Sudah pulang? Tadi sempat makan malam tidak? Apa perlu ibu panaskan lagi?" Tanya mikoto halus. Maklum. Keibuan.
"Ayah. Ibu. Ada yang mau aku bicarakan." Ucap Sasuke terus terang. Ia tak ingin hanyut dalam hangatnya keluarga dan lupa akan tujuannya.
"Apa seperti ini caramu jika ingin mengatakan sesuatu pada kami?" Tanya Fugaku tegas.
Sejak kecil ia dan kakanya Itachi sudah di didik dengan amat tegas dalam persoalan tingkah laku dan sopan santun. Salah satunya cara menghadap orang tua jika ingin mengatakan sesuatu. Dan Sasuke melakukannya.
Ia duduk bersimpuh di tatami tepat di hadapan Fugaku. Meletakkan kedua tangannya di atas pahanya. Posisi yang sangat formal. Menandakan keseriusan arah pembicaraan.
Fugaku hanya terdiam. Selain membiarkan anaknya agar terbisa dewasa. Ia juga mengharapkan anakknya berani. Sasuke yang ada perlu 'kan?
"Sebelumnya. Aku ingin menyampaikan bahwa... aku telah menemukan seorang yang akan menjadi pendamping hidupku." Sasuke menundukkan kepalanya saat mengatakan hal tersebut. Mikoto yang terkejut hanya mampu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Pasalnya Mikoto sangat mengetahui bahwa Sasuke tipe orang tidak mudah menerima seseorang di hidupnya. Mikoto masih ingat bahwa Sasuke tak pernah mengenalkan seorang wanita padanya.
"Sebutkan saja. Siapa namanya? Dari marga mana dia berasal. Aku akan memingnya jika sesuai. Asalkan kau menyelesaikan kuliahmu." Ucap Fugaku tegas. Sasuke tersenyum miris mendengarnya. Sesuai? Sesuai yang seperti apa di mata ayahnya itu?
"Naruto." Ucap Sasuke tegas. "Uzumaki Naruto." Ulang Sasuke memperjelas siapa itu Naruto.
"Naruto?" Fugaku menaikan sebelah alisnya. " Teman lelakimu itu?" Fugaku memperjelas ppertanyaannya.
"Iya. Naruto teman lelakiku. Pemuda yang entah dua atau tiga kali main kesini. Pemuda dimana rumahnya selalu menjadi tempatku menginap."
"Jangan bercanda kau SASUKE." Teriak Fugaku. Ia merasa di permainkan.
"Tidak ada yang bercanda sedari tadi ayah." sasuke masih berusaha formal.
"Kau tau arti dari pernyataanmu tadi?" Fugaku menatap lurus putra bungsunya. Sasuke mengagguk.
"Aku sangat mengetahuinya ayah. Karena aku telah berhunbungan selama dua tahun." Sasuke menjelaskan situasi hubungannya dengan Naruto.
"Mau di bawa kemana nama keluargamu ini? Hubunganmu itu tidak WAJAR." Fugaku menekankan suaranya pada kata terakhirnya. Mikoto yang sadar perubahan sikap suaminya hanya berusaha menenangkannya dengan cara mengusap-usap punggung suaminya itu.
"Aku mencintainya ayah. Menyayanginya. Membutuhkannya. Aku ingin melindunginya. Tolong mengerti keadaanku." Hampir pasrah Sasuke mengatakan kalimat itu.
Teringat di benak Sasuke. Bagaimana ia bisa jatuh cinta dan tak bisa lepas dari Naruto.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Flashback (SMA Kosudo. Tahun Ajaran Pertama)
Sasuke merasa geram dengan wanita di depannya. Dengan perasaan marah ia tatap gadis jamboree (merah muda) itu. Matanya sedari tadi tak berhenti melotot.
"Jangan ganggu aku Sakura. Apa itu sulit bagimu." Ucap Sasuke tegas.
Seperti karang yang kuat tersapu ombak. Sakura tetap tertahan meski telah di bentak hingga mencuri perhatian kelas. "Tak usah malu Sasuke-kun. Aku pasti tidak akan menyusahkanmu." Ucap Sakura.
"Aku bilang aku INGIN SENDIRIAAAN." Bentak Sasuke sekali lagi. Kemudian beranjak dari bangkunya.
Sasuke melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Namun seketika langkahnya terhenti. Saat setelah menggeser pintu di dapatinya seorang anak laki-laki yang sangat terlihat lemah di mata Sasuke. Dengan tinggi sebatas hidungnya Sasuke dapat melihat jelas warna rambutnya yang entah mengapa Sasuke yakin bahwa sebenarnya rambut pirang yang terlihat kusam ini sebenarnya memiliki warna yang indah.
Pemuda itu mengadah. Mungkin merasa jalannya terhalangi. Namun hal itu menyebabkan matanya tertangkap oleh Sasuke. Mata sebiru langit cerah kini berubah mendung. Mata yang terlihat ada bekas air mata yang mengering. Yang Sasuke tahu. Bibir seseorang di depannya terlihat luka bebas terlalu lama digigit.
Namun pergerakan di hadapannya menyadarkan Sasuke dari lamunannya. Seolah seseorang di depannya memberi akses baginya untuk keluar. Entah mengapa rasa marah yang menghinggapi dirinya bebrapa saat yang lalu mendadak menghilang, Sasuke kini merasa enggan meninggalkan kelasnya.
"Menyusahkan." Ucap pemuda itu saat Sasuke melintasinya.
"Bodoh." Balas Sasuke sekiranya dapat didengar olehnya.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Awalnya Sasuke merasa masa SMA nya akan terasa membosankan. Seperti yang sudah sudah. Entah hal ini adalah anugerah atau malah justru terasa seperti kutukan. Kepintaran yang dimiliki marganya─Uchiha─juga terjadi padanya. Kalau bukan karena paksaan Itachi agar dirinya bisa punya teman saat sekolah. Sudah pasti Sasuke memilih Home Schooling.
Sasuke sadar diri. Dirinya tak pandai bersosialisasi. Oleh karena itu dia lebih memilih menyendiri dan tak ingin bergabung dalam golongan-golongan pertemanan yang pasti dicari di awal ajaran baru.
Tapi Sasuke menemukannnya. Sesosok pemuda yang dari segimanapun terlihat bahwa ia kesepian. Bukannya tak memiliki teman, tapi─belakang Sasuke mengetahui bahwa nama pemuda itu adalah Uzumaki Naruto─Naruto justru terlihat tetap kesepian saat bersama temannya. Seoalah hidupnya telah berhenti sampai disini saja. Dan itu memicu keinginan Sasuke untuk merangkul Naruto.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Sasuke mengetahui ada tempat yang nyaman jika ingin sendirian di sekolah. Awalnya Sasuke tahu bahwa akses menuju atap sekolah selalu di kunci. Namun Sasuke menemui keganjalan baru-baru ini. Kunci gembok yang terpasang di grendel pintu hanya sebagai pengalih perhatian. Karena nyatanya pintu tersebut masih bisa dibuka─Grendel pintu tidak memiliki pengait─baik dari dalam maupun dari luar.
Tapi ternyata yang memiliki tempat tersebut untuk pertama kalinya bukanlah Sasuke. Tapi Naruto. Awalnya Sasuke tak menyadari saat dirinya tengah bersandar di tepian pagar atap sekolah. Namun suara sesegukan yang ditimbulkan Naruto yang tengan meneteskan airmatanya di tandon─tempat penampungan air─di belakangnya membuyarkan kenyamanan posisinya. Menganggu ketenangannya.
Sasuke menolehkan kepalanya menghadap Naruto. Menyaksikan pemuda pirang itu tengah hanyut dalam posisi memeluk lutut.
"Kalau kabar itu benar. Seharusnya kau tak usah mempedulikan aku. Benar begitu Sasuke?" Tanya Naruto. Sasuke menaikaan sebelah alisnya. Bingung.
"Kabar?" Tanya Sasuke lebih pada dirinya.
"Prince Of Ice. Menggelikan. Kalau kau ingin sendirian. Seharusnya kau tak usah sekolah." Entah mengapa lega rasanya bisa menyalurkan kekesalan. Meskipun Naruto tahu. Sasuke tak ikut ambil andil dalam kehidupannya.
Saat itu, entah mengapa, dengan senang hati untuk pertama kalinya Sasuke mau menjadi tempat sampah. Menjadi pendengar yang baik. Menjadi seseorang yang mau dengan lapang dada menjadi penerima semua cerita-cerita Naruto yang seperti tiada akhir. Dan itu pasti terjadi jika Naruto tak ingat akan jam bel pulang.
Sasuke akhirnya tahu. Latar belakang Naruto. Naruto adalah seorang anak gelap dari pengusaha bernama Namikaze Minato. Ibunya Kushina terpaksa memakai marga darinya─Uzumaki─untuk menamai anaknya. Sebab Minato meminta Kushina untuk menyembunyikan anak hasil hubungan mereka.
Tiga tahun yang lalu. Saat Naruto tepat berumur empat belas tahun. Kushina meninggal. Kanker mulut rahim. Menyebabkan Naruto menjadi anak semi yatim piatu. Secara nyata, memang masih ada Minato, ayahnya. Namun hal itu tak pernah dirasakan Naruto. Bagaimana fungsi seorang ayah, Naruto tak pernah merasakannya.
Sepanjang yang Naruto ingat. Ia selalu hidup berdua dengan ibunya. Namun setelah Kushina meninggal. Minato hanya mampu memberinya biaya hidup. Bukan mengasuhnya. Menganggapnya sebagai anak.
Oleh karena itu Naruto membencinya yang sok ingin menjadi seseorang yang tak membutuhkan orang lain. Kehidupan Naruto amat yang amat berat itulah yang menyebabkan Sasuke sadar. Cara mensyukuri hidup. Dan ia terjebak oleh sosok pirang yang mulai mencuri hatinya. Terjatuh dalam sebuah kata bernama cinta.
Lambat laun ia mau menerima orang lain selain keluarga dan Naruto untuk masuk dalam hidupnya. Oleh karena itu. Naruto sempat menolak keras keinginan Sasuke yang lebih memilih dirinya ketimbang keutuhan keluarga.
End of Flashback
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
"Tidak akan. Aku bukan gay. Begitu pula dengan anakku. Putuskan hubunganmu."
"Tidak akan. Bahkan aku akan menikahinya." Perkataan Sasuke sontak membuat Fugaku dan Mikoto tersentak. Fugaku nyaris bangkit untuk menapar Sasuke jika tidak ditahan oleh Mikoto.
"Lepaskan Mikoto. Aku ingin menghajar anak nakal ini." Fugaku m=berusa melepas cengkraman Mikoto di lengannya. Mikoto menggeleng.
"Putuskan hubunganmu atau tak akan ku anggap kau sebagai anak." Keputusan Fugaku mutlak. Tidak pernah ada perkataannya yang ia ingkari. "Menikahi sesama jenis. Dari marga kalangan bawah. Mau di tarus dimana nama keluargamu ini HAH?"
"Maaafkan aku. Keputusanku juga sudah bulat. Terserah jika ayah akan melepasku dari jajaran Uchiha. Aku tak peduli. Aku akan tetap memilihnya. Kalian tidak bisa memaksaku. Aku sudah dewasa. Tak peduli kalian orang tuaku." Sasuke berkata sembari menahan haru. Membuat bibirnya bergetar.
Fugaku yang mendengarnya langsung bangkit dari duduknya. Dan menampar keras wajah Sasuke. Terlihat dari jejak merah di pipi kanannya.
"ANAK KURANG AJAR. KELUAR DARI RUMHAKU. TAK SUDI AKU MEMILIKI ANAK KELAINAN SEPERTI DIRIMU." Teriak Fugaku dan hendak kembali memuluk Sasuke. Mikoto yang sedari tadi membatu bergegas menghampiri Sasuke. Di peluknya pura bungsunya itu. Berusaha menjadi tameng.
"Jika kau ingin memukulnya. Pukul aku dulu. Aku ibunya. Tak ada yang bisa menyakitinya." Bela Mikoto namun tetap memeluk Sasuke.
"MINGGIR KAU MIKOTO. JANGAN MEMANJAKANNYA. INI AKIBATNYA." Meskipun tak sampai hati menyakiti Mikoto. Fugaku tetap berusaha melapaskan istrinya dari Putra bungsunya.
"Menyingkirlah bu. Aku tak ingin ayah memukulmu juga." Sasuke mencoba melepaskan lengan ibunya yang melingkar erat di lehernya. Namun Mikoto menggeleng. Tanda tidak terima.
"MIKOTO!" Bentak Fugaku. Namun Mikoto tidak menghiraukan bentakan suaminya.
"Lepaskan bu. Aku sudah mengatakan yang apa ingin aku katakan." Sasuke menepuk pelan bahu Mikoto. Namun Mikoto tak merespon. Ia justru menangis sesegukan. Dengan berat hati Sasuke memaksakan diri untuk berdiri. Mikoto yang sadar hanya ikut berdiri.
"Ibu. Lepaskan." Ucap Sasuke Lagi. Akhirnya Mikotopun melepas rangkulannya. Setelah Itu Sasuke membungkukkan badannya. Hormat. Pada Fugaku dan Mikoto.
"Terimakasih atas semuanya. Dan maaf tidak bisa menjadi putra seperti yang kalian inginkan. Sekali lagi. Terima kasih." Setelah itu Sasuke pamit diri dan melangkahkan kakinya ke arah pintu. Mikoto secara reflek mengikuti putranya.
"Mikoto kembali. Atau kau juga ingin ku bentak." Ucap Fugaku marah tanpa menoleh ke arah Sasuke.
"Bentaklah sepuasmu. Dia anakku. Aku masih ingin bersamanya." Mikoto menggenggam tangan Sasuke.
"Ikutilah perkataan ayahmu Sasuke." Pinta Mikoto.
"Maafkan aku ibu. Aku terlanjur mencintainya." Sasuke melanjutkan langkahnya. Dan kali ini ia benar-benar keluar dari rumah. Tepat sebelum pintu rumahnya di tutup, Sasuke mendengar perkataan terakhir dari ayahnya.
"Aku kecewa denganmu. Sasuke." UCap Fugaku. Dan pintu itu resmi di tutup.
"FUGAKU!" Bentak Mikoto hampir histeris.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Sasuke menghampiri Naruto yang seolah tak bergerak dari posisinya sedari tadi. Tanpa disadiri, entah dari kapan airmatanya urun dengan deras.
"Ayah mengusirku Dobe. Ia tidak mengakuiku." Sesampainya disana Sasuke langsung memeluk tubuh kecil kekasihnya itu. Dan menangis seperti anak kecil.
"Maafkan aku Teme. Maafkan aku." Naruto ikut larut. Namun dari jauh terdengar suara hentakan kaki. Saat Sasuke menoleh, ia mendapati ibunya tengah berlari kearahnya.
"Jangan pedulikan ayahmu Sasuke. Bagaimanapun kau tetap putra kami. Ambilah ini untuk simpanan." Mikoto menyerahkan buku tabungan miliknya.
"Pergilah ke rumah Itachi. Ia pasti bisa membantumu. Ijazahmu jangan dilupakan. Kabari ibu kau akan tinggal dimana setelah ini. Ibu pasti akan..."
"Ibu." Potong Sasuke. "Tenanglah. Aku sudanh menyiapkan semuanya dengan baik. Ibu tak perlu hawatir." Sasuke menggenggam tangan wanita yang telah melahirkannya sembilan belas tahun yang lalu. "Tenanglah." Lanjutnya.
Mikoto mengalihkan perhatiannya dan menatap Naruto. Di belainya pipi NAruto yang masih basah oleh air mata.
"Aku juga pasti bahagia jika dicintai oleh seseorang seperti Sasuke. Aku juga pasti tidak akan mencegahnya berbuat begini. Benar 'kan Naruto-kun? Kau juga mencegahnya 'kan?" Mikoto mulai menghapus air mata yang masih mengalir dari mata safir Naruto. Seolah Mikoto mengerti keadaan Naruto.
"Bahagiakanlah dia Naruto. Jagalah dia untukku. Aku tak bisa lebih dari ini. Mau 'kan?" Tanya Mikoto. Naruto mengangguk lemah.
"Ibu sudahlah. Waktuku tak banyak. Ada keberangkatan pesawat yang menungguku." Sasuke menepuk bahu Mikoto.
"Jagalah dia Naruto." Ucap Mikoto sambil memeluk Naruto.
"Aku janji ibu." Entah mengapa ada kebahagian bisa mengucap nama itu lagi.
Mikoto melepas pelukannya dan kembali menghadap putra bungsunya. "Kemana kau akan tinggal?"
"Maaf. Aku tak bisa memberitahukannya."
"Aku mengerti." Di peluknya dengan hangat putra yang masih di anggapnya kecil.
"Dimanapun itu. Aku harap kau bahagia nak."
"Ibu yakin memberikanku ini?" Sasuke mengangkat tabungan milik Mikoto.
"Setidaknya aku masih bisa membantumu sebagai seorang ibu. Kau tenang saja. Fugaku tak mengetahui rekening itu. Dia tak akan bisa memblokirnya."
Sasuke menari nafas panjang. Kemudian berkata. "Kami berangkat bu. Restuilah kami." Kemudian Sasuke mulai menghidupkan motornya dan mulai melaju. Menjahui Mikoto.
Dari kejahuan Mikoto meneteskan airmatanya. "Aku merestuimu nak. Aku selalu merestuimu."
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Sasuke memberhentikan motornya tepat di halaman apartemen Itachi. Dengan perlahan sembari mengandeng Naruto Sasuke memasuki kamar Itachi yang password kamar tersebut sudah di hafalnya.
"Kau benar-benar melakukannya otouto?" Sambut Itachi seolah telah menunggu.
"Kau sudah menyiapkannya onii-san?"
"Semuanya sudah di dalam kopermu. Disana aku sudah menyiapkan villa untuk tempat kau tinggal. Alamatnya ada di dalam paspormu."
"Sangkyu." Sasuke melangkahkan kakinya menuju kebeberapa tas jinjing dan dua koper.
"Kau Naruto-kun, benar 'kan?" Tanya Itachi mengalihkan pandangannya ke arah Naruto.
"Maaf saya belum sempat memperkenalkan diri. Watashi wa Uzumaki Naruto desu. Yoroshiku ne." Naruto membungkukan badannya hormat.
"Naruto. Aku menitipkan adik kecilku padamu."
"Pasti. Aku pasti menjaganya. Aku tak akan meninggalkannya." Ucap Nartuo mantap.
"Aku bangga Sasuke memilihmu."
"Sudahlah onii-san. Aku tak punya banyak waktu." Sasuke menjinjing dua tas jinjing berukuran besar dan menggeret satu koper.
"Kau ingin aku yang mengangkat semuanya Naruto?" Tanya Sasuke usil. Naruto tersenyum dan mulai menjinjing tas jinjing yang paling kecil dan satu koper besar.
"Kami pamit Itachi-san."
Itachi tersenyum melihat Sasuke dan Naruto melagkah menjauh seoralh tak ada beban. Meskipun disayangkan, Itachi mendukung penuh keputusan adknya.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Didalam pesawat Sasuke menyadarkan punggungnya yang tersa lelah. Motor ducatinya ia tinggal di apartemen Itachi. Dan memilih menggunakan taksi menuju bandara.
Di sampingnya Naruto hanya memandang pemandangan di jendela. Di luar pesawat melihat para awak sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri.
"Sasuke?" Panggil Naruto.
"Ada apa Dobe." Sasuke yang merasa lelah tak menolehkan kepalanya.
"Terimakasih telah mencintaiku. Dan maaf atas semua kekacauan ini Teme." Naruto mengusap kenang Sasuke sayang. Sasuke menolehkan kepalannya.
"Aku tak pernah menyesal mencintaimu Dobe. Dan terima kasih telah hadir di hidupku." Ucapan Sasuke membuat Naruto tersenyum. Perlahan Sasuke mendekatkan wajahnya. Dipungurnya bibir bawah Naruto. Di kulumnya lembut. Di pindahkan salvia dari bibirnya ke bibir Naruto. Dan Naruto menerimanya dengan senang hati.
Perjalanan mereka masih jauh. Meski mereka bisa mengatasinya masalah yang ada sekarang. Tapi mereka masi muda. Dan hidup tak selalu berjalan lancar. Pesawat itu akhirnya lepas landas. Membawa mereka terbang ke Belanda. Mencoba kehidupan yang baru.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
To Be Continued
Ehemmm...
apa chap ini bisa mengantikan maafku atas keterlambatanku?
hehehe...
review ya...
Makasih
