Ok. Balas Review dulu...
sebagai tanda terima kasih...
Sebelumnya makasih banyak udah terus ngereview dan ngikuti cerita abal ini...
baik yang dari awal review atau yang baru'' ngerebiew...
bagiku kalian adalah nyawaku...
karena tanpa kalian semangatku mengendur...

Oh iya...
Shiroi Fuyu tanya kenapa alurnya cepet banget?
Karena biar ceritanya cepet nikah...
Kenapa kok biar cepet nikah?
Untuk menjawab pertanyaan Uchiha Frea yang nanyak kapan hamilnya...
Dan author dengan sepenuh perasaan geli menjawab...
Tenang aja Uchiha Frea. Naruto pasti hamil kok...

hanazawa kay : Sama-sama. Makasih udah review.
kitsune Riku11 : Masa sih? Ikut terharu deh. Makasih udah review.
njhyerim : Aku usahain cepet updatenya. Makasih udah review.
Deathberry45 : Makasih udah review.. Dn makasih atas segalanya.
Monokurobo : Makasih udah review. Saya ikut terharu.
Neko Twins Kagamine : Makasih udah review.
irmasepti11 : Makasih udah review. Sampai chapter berapa author ga tau. mungkin dua atau tiga chapter lagi.
uzumakinamikazehaki : Makasih udah review. Aku juga iri ama sasuke.
Vianycka Hime : amin. Makasih udah review.
Tobi ChukaChuka : Makasih udah review.
: Makasih udah review.
Uuvai yagami : Makasih udah review.
reiasia95 : iya saia juga terharu. Makasih udah review.
Shiroi Fuyu : Makasih udah review. Sampai chapter berapa author ga tau. mungkin dua atau tiga chapter lagi.
Jasmine DaisynoYuki : Makasih udah review.

Para silent rider juga makasih udah baca...
Oh iya lagi!
Next chap Naruto hamilll...
Yeahhhh... Author jingrak2

.

.

.

Disclaimer
Naruto
© Masashi Kishimoto

Pairing
SasuNaru

Warning
M-Preg, Yaoi, Boy's Love, Sho-ai
Romance/Hurt/Comfort/Angst?

Rate M
Bukan untuk adegan 'lemon'

Summary
Naruto Sakit. Dia sekarat.
Menjelang kelahiran bayinya dia berpesan.
'Teme. Jaga anak ini untukku.'

M-Preg, It's Not My Destiny
© Kanami Aya

Status
In-Progres

Chapter 5
Kehidupan Baru

Don't Like Don't Read
RnR

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Cerita Sebelumnya

"Sasuke?" Panggil Naruto.

"Ada apa Dobe." Sasuke yang merasa lelah tak menolehkan kepalanya.

"Terimakasih telah mencintaiku. Dan maaf atas semua kekacauan ini Teme." Naruto mengusap kenang Sasuke sayang. Sasuke menolehkan kepalannya.

"Aku tak pernah menyesal mencintaimu Dobe. Dan terima kasih telah hadir di hidupku." Ucapan Sasuke membuat Naruto tersenyum. Perlahan Sasuke mendekatkan wajahnya. Dipungurnya bibir bawah Naruto. Di kulumnya lembut. Di pindahkan salvia dari bibirnya ke bibir Naruto. Dan Naruto menerimanya dengan senang hati.

Perjalanan mereka masih jauh. Meski mereka bisa mengatasinya masalah yang ada sekarang. Tapi mereka masi muda. Dan hidup tak selalu berjalan lancar. Pesawat itu akhirnya lepas landas. Membawa mereka terbang ke Belanda. Mencoba kehidupan yang baru.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Perjalanan dari Jepang menuju dataran Eropa memakan waktu hampir tiga jam. Dan hal tersebut membuat Naruto jatuh tertidur. Setelah satu jam pertama penerbangan ia habiskan dengan tersenyum tolol. Sasuke maklu, ini penerbangan perdana Naruto.

Tapi kini giliran sang raven untuk tersenyum-tersenyum sendiri. Bukan karena ini penerbangan pertamanya─karena ia sudah melakukan ini pulihan kali. Tapi lebih pada apa yang ada di sebelahnya kini. Di pandanginya Naruto seperti tak pernah habis rasa kagum akan kekasihnya itu.

Sasuke mengulurkan tangannya membelai helaian surai pirang Naruto. Mengusapnya hingga menyentuh kulit putih di pangkal surai tersebut. Kontras dengan warna kulit di sekujur tubuhnya yang berwarna tan. Kemudian Sasuke memindahkan tangan kananya mengusap pipi Naruto. Mendikte setiap jengka kuitnya. Meraba tiga goresan di wajahnya.

Jika tadi ia berfikir Naruto tersenyum tolol. Kini Sasuke harus merutuki tingkahnya sendiri. Tolah-toleh memeriksa keadaan seperti ingin mencuru sesuatu. Setelah yakin kini ia mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto. Dan dengan singkat mendaratkan bibirnya di bibir kekasihnya. Setelah itu ia akan bersikap tak ada apa-apa. Takut ada yang menagkap basah perilakunya.

Tiga jam penerbangan. Dan dua jam terakhir Sasuke habiskan untuk terus memandang Sasuke. Mencoba menerka kehidupan yang akan di jalaninya kedepan bersama sang 'Dobe'. Menguatkan batinnya bahwa ia bisa. Segala rencana kehidupannya telah ia rencanakan jauh-jauh hari. Tak terkecuali mengapa ia memilih Belanda.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Naruto merasa tubuhnya bergetar oleh sesuatu. Membuat nafasnya tersendat gara-gara pergerakan tubuhnya. Namun sedetik kemudian ia langsung membelalakan matanya lebar. Terbangun seketika dengan kaget. Dan hal itu di sebabkan oleh ulah kekasihnya. Sasuke.

"Bangunlah. Atau kau mau aku menciummu di depan orang-orang ini?" Bisik Sasuke tepat lima detik sebelum reaksinya barusan.

Naruto bangun dengan bulu kuduk bergeridik. Merinding. Membayangkan Sasuke akan menyerangnya di tempat umum.

"Yahhhhh." Itulah kata pertama kali yang Naruto ucapkan saat kedua matanya terbuka lebar. Namun karena reaksi Naruto itulah Sasuke tersenyum.

"Apa senyum-senyum? Kau mengerjaiku ya? Kau mencoret-coret mukaku 'kan? Ia 'kan Teme?" Tanya Naruto seketika. Sasuke menggeleng.

Merasa tidak percaya, Naruto berusaha berkaca pada jendela pesawat. "Terus kenapa kau tertawa?" Tanyanya lagi saat tidak di dapatinya satu coretanpun di wajahnya.

"Karena aku suka padamu." Pernyataan Sasuke sukses membuat Naruto malu. Terbukti dari rona merah di wajahnya.

Tapi hal yang di lakukan Sasuke kemudian, justru membuat Naruto tambah Blushing. Tanpa di duga tangan Sasuke terulur ke arah wajahnya. Naruto kira Sasuke akan mengusap wajahnya. Ternyata Sasuke mencoba mengakses matanya. Dan Naruto terbelalak saat.

"Kau tertidur terlalu lelap Dobe. Sampai banyak begini belekmu." Ucapnya sambil mengacungkan tangan telunjuknya yang penuh akan kotoran mata Naruto.

"Teme!" Hentak Naruto. Malu sekaligus kesal. Sasuke tertawa.

"Cucilah matamu. Sebentar lagi kita mendarat."

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Naruto merentangkan kedua tangannya mencoba merenggangkan otot-ototnya. Menhirup udara segar di Amsterdam Airport Schiphol. Sebuah Bandar udara internasional di Belanda. Udara Belanda (Nederland) kini sedang berada pada suhu dingin normal. Karena saat ini Belanda sedang mulai memasuki musim semi. Sehingga hawa panas dari musim panas masih sedikit terasa. Meskipun demikian, di pagi hari hingga jam sembilan pagi masih bisa di rasakan uap yang keluar dari mulit jika kita bernafas.

Naruto menolehkan kepalanya menghadap kebelakang. Menyaksikan kekasihnya yang kesusahan membawa barang-barang bawaan mereka.

"Teme. Kau lambat sekali." Ucap Naruto tanpa peduli dengan muka Sasuke yang hampir meledak.

"Diam kau. Kalau tidak ingin membantu tak usah komentar. Dasar Dobe bodoh." Bentak Sasuke. Namun sebenarnya tak bisa di bilang bentakan, karena Sasuke malu jika jadi pusat perhatian.

"Hehehe." Naruto hanya tersenyum simpul. Kemudian beranjak mundur menyamai jalan Sasuke.

Di alihkannya salah satu koper dari tangan Sasuke ke tangannya. Dan sebelum mengambil salah satu tas jinjing yang di bawa kekasihnya itu. Naruto sempatkan membetulkan letak kerah beludru jaket Sasuke. Agar sedikit memeberikan kehangatan.

"Dank u. (Terimakasih)" Ucap Sasuke dalam bahasa Belanda.

"Graag gedaan. (Sama-sama)." Ucap Naruto juga dalam bahasa Belanda namun dengan logat yang hancur. Membuat Sasuke tertawa.

"Jangan tertawa kau Teme. Sudah aku bilang 'kan. Bahasa Belanda itu susah. Kenapa sih harus di Belanda?" Ucap Naruto kesal.

"Maaf." Sasuke berusaha menahan tawanya.

"Nanti setelah sampai di rumah kita. Akan ku jelaskan." Ucap Sasuke seraya mulai berjalan kembali.

"Kita punya rumah?" Tanya Naruto bingung. Karena memang rencana pergi ke Belanda adalah seratus persen usul si 'pantat ayam'. Dan Naruto tidak ambil andil sedikitpun.

"Itachi sudah menyiapkannya. Dan kau pasti akan menyukainya." Mereka berhenti di ruang tunggu. Menunggu seseorang.

"Oh ya? Di daerah mana?" Tanya Naruto antusias.

"Aku jawabpun kau tak akan mengetahuinya Dobe." Jawab Sasuke telak. Memunculkan garis-garis hitam di dahi Naruto.

Tak lama kemudian munculah ranger rover evoque putih dan berhenti tepat di depan bangku Sasuke duduk. Disusul dengan keluarnya seseorang bercirikan warna rambut ungu pucat dan rentetan gigi taring. Yang terpikirkan oleh Naruto pertama kali adalah...

'Giginya pasti palasu. AKu yakin dia sebenarnya ompong' Batin Naruto dengan bangganya.

"Heb gewacht? (Sudah lama menunggu?)" Tanya seseorang tersebut.

"Niet. Ik ben hier net. (Tidak. Aku baru sampai.)" Jawab Sasuke sopan.

"Suigetsu. Deze geliefde. (Ini kekasihku) Naruto." Ucap Sasuke seraya menepuk bahu Naruto. Yang di tepuk hanya melongo. Tak mengerti maksut pembicaraan tersebut.

"Naruto. Ini temanku. Suigetsu."

"Ah. Do-domo." Bingung harus berkenalan seperti apa. Akhirnya Naruto memilih menggunakan bahasa Jepang.

"Blij u te ontmoeten. (Senang bisa berkenalan denganmu.)" Ucap Suigetsu seraya menjabat tangan Naruto.

"Ahaa. Gak pa-pa kok. Kita juga baru menunggu sebentar. Iya 'kan Sasuke." Jawab Naruto sambil menoleh pada Sasuke. Meminta bantuan.

"Yang dia katakan bukan permohonan maaf karena membuat kita menunggu. Tapi ucapan senang berkenalan denganmu." Bisik Sasuke tepat di telinga Naruto. Sementara Naruto hanya ber oh ria dan membuang muka.

"Oke. We vertrekken nu. (Kita berangkat sekarang.)" Suigetsu mencoba mengambil beberapa bawaan Sasuke dan Naruto.

"Heel hartelijk bedankt Suigetsu. (Terimakasih banyak.)"

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Perjalanan darat dari Amsterdam menuju Haerlem─tempat yang akan ditinggali Sasuke─membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih. Dan yang di lakukan Naruto sepanjang jalan adalah menunjukan ekspresi senang layaknya ank kecil.

Tak henti-hentinya memandang pemandangan sepanjang jalan. Tangannya ia letakkan di pinggiran kaca jendela. Sesekali mengeluarkan tangannya merasakan hawa di luar. Dan jika Sasuke tak melarangnya, di jamin Naruto juga akan mengeluarkan kepalanya melalui jendela.

Tapi memang tak bisa di pungkiri. Pemandangan ini snguh memanja mata. Pohon-pohon tinggi yang berjejer rapi di pinggir jalan. Kadang ada yang menaik. Kadang menurun. Kincir angin yang selalu terlihat setiap lima ratus meter yang terlewati. Aktifitas warga aslinya yang terlihat baru dan unik. Dan hal itu membuat Suigetsu terpesona.

"Kekasihmu itu sangat lucu Sasuke-kun." Ucap Suigetsu tiba-tiba. Naruto yang mendengarnya menoleh. Merasa ada yang aneh.

"Lho? Suigetsu-kun bisa bahasa Jepang?" Tanya Naruto seketika.

"A-Ano" Suigetsu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sudahlah. Ngaku saja. Batin Suigetsu.

"Oh iya lupa. Maaf Sasuke-kun. Aku kelepasan." Ucap Suigetsu. Mendengarnya Sasuke hanya mendesah pelan.

Usut punya usut. Ternyata Sasuke memang ingin mengerjai Naruto. Dengan menjadikan Suigetsu terlihat seperti orang Belanda sesungguhnya. Dan yang di kerjai ternyata sangat bodoh.

Dan darimanapun Suigetsu terlihat sepeti orang jepang, setidaknya mukanya adalah muka asia. Bukan muka kaukasian. Dan Suigetsu memang seratus persen keturunan Jepang.

"Hehe. Gomen Naruto-kun. Ini semua ide Sasuke." Suigetsu mencoba membela diri dari tatapan mematikan Naruto. Sementara Sasuke hanya melipat kedua tangannya di depan dada. Dan membuang muka. Tidak peduli.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Satu jam berikutnya mereka telah sampai di tempat tujuan. Kini, di depan mereka terdapat sebuah rumah dengan gaya tradisional Belanda kuno yang masih terlihat terawat. Rumah dengan lantai dua dan pagar sebatas dada. Dengan keseluruhan warna putih menghiasi banguan tersebut tampak cocok dengan letaknya yang di pinggir pantai. Tidak terlalu dekat memang. Tapi bau laut dan udaranya masih bisa dirasakan.

Sasuke turun dari mobil seraya mengeluarkan tas-tas jinjingnya. Sementra Suigetsu mengeluarkan dua koper yang di letakkan di bagasi.

"Sepertinya Naruto sangat kelelahan Sasuke." Ucap Suigetsu setelah meletakkan barang-barang Sasuke di depan teras. Dan mendapati Naruto tertidur dengan lelapnya.

"Aku yang lelah. Dari di pesawat kerjaaanya tidur terus. Dasar bodoh" Umpat Sasuke. Sementara Suigetsu hanya tertawa.

"Tolong bukakan pintunya. Akan ku gendong saja dia. Kasihan. Tidurnya terlihat lelap." Sasuke melemparkan kuci rumah dan langsung di tangkap oleh Suigetsu.

"Baiklah." Sasuke membungkukan badannya. Berusaha membopong Naruto di dadanya. Pelan-pelan ia mengangkat Naruto agar tidak membuatnya terbangun. Dan itu bukan perkara sulit. Tubuh Naruto belakangan ini semakin ringan. Mungkin karena banyaknya tekanan.

Setelah berhasil keluar dari mobil Suigetsu. Sasuke berjalan menuju rumahnya yang pintunya telah terbuka. Langkahnya di usahakan sehati-hati mungkin. Dia lebih baik mendapati Naruto tertidur dari pada terus nerenungkan masalah mereka.

Sementara Suigetsu di berlakang Sasuke hanya menunjukan ekspresi terkesan. Tak dibayangkan teman masa SMPnya itu kini bisa berubah. Yang tadinya cuek dan dingin terhadap orang lain. Kini terlihat sangat dewasa dan terkesan melindungi. Meskipun perilakunya menyimpang. Atau dia harus menyebutnya dengan pasangan sesama jenis.

"Barangmu sudah ku masukan semua. Aku taruh kunci rumahmudi atas buffet." Ucap Suigetsu sambil meletakan kunci di atas lemari buffet.

"Ah ya Terimakasih." Sasuke menjawab tanpa menoleh. Karena sekarang konsentrasinya sedang fokus pada anak-anak tangga menuju lantai dua dengan membawa Naruto di gendngannya.

"Sama-sama. Kalau begitu. Aku pulan dulu. Selamat bersenang-senang(?)" Ucap Suigetsu.

Kemudian yang bisa Sasuke dengar adalah bunye 'klek' tanda pintu di tutup. Disusul dengan bunyi mobil yang mulai menjauh. Sasuke meletakan Naruto di sisi kanan ranjang berukuran besar tersebut. Di kecupnya lembut kening Naruto. Setelah itu dia kembali turun untuk membereskan barang-barangnya.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Naruto bangun setelah jam dinding diruangan yang asing baginya menunjukan pukul empat. Ia sampai di bandara pukul sembilan pagi. Di tambah menunggu Suigetsu dan perjalanan selama satu jam setengah berarti pukul sebelas. Dan Naruto menyimpulkan ia tidur selama hampir lima jam lebih. Alhasil, kini lehernya terasa pegal.

Naruto mengedarkan pandangannya menelusuri ruangan yang ia yakin akan menjadi kamarnya. Atau lebih tepatnya kamar untuknya dan Sasuke. Naruto takan heran mengapa ia bisa berada disana. Sudah pasti Sasuke mengendongnya. Dua koper dan tas jinjingnyapun sudah dalam keadaan kosong dan tertata rapi di almari dan buffet-buffet.

"Dasar Mr. Perfect." Ucap Naruto lirih saat di lihatnya taan baju Sasuke sangat rapi.

Naruto turun dari tempat tidur dan menuju lantai bawah dimana ia mendengarkan suara-suara yang terdengar hingga di kamar tadi. Ternyata suara tersebut berasal dari dapur. Dan yang Naruto dapati pertama kali adalah...

Sasuke sedang memasak. Naruto tersenyum simpul. Merasa bahwa pilihan menetapkan hatinya pada Sasuke bukanlah pilihan yang salah. Naruto bisa merasakan bagaimana sayangnya Sasuke padanya. Terlalu ingin melindunginya hingga memilih jauh dari keluarga. Dan yang pasti rela memasak untuknya. Hal yang tak mungkin di lakukan seorang Uchiha Sasuke.

Naruto berjalan perlahan ke arah Sasuke. Di peluknya tubuh Sasuke dari belakang. Dan di letakannya kedua tanganya di perut rata Sasuke. Sasuke yang tidak sadar sedikit terlonjak.

"Sudah bangun?" Tanya Sasuke sambil tetap memasak sesuatu.

"Kenapa kamu gak bangunin aku?"

"Kamu yang tidurnya kayak kebo bodoh. Aku sudah membangunkanmu sejak lama." Ucapan kasar Sasuke membuat Naruto mencibir. Tapi sebenarnya Naruto mengerti Sasuke memerhatikannya. Dan Sasuke menyadari itu.

"Iya iya maaf. Aku tak bermaksud kasar. Tapi kamu memang tertidur sangat lelap Dobe. Mana tega aku membangunkanmu." Ralat Sasuke. Naruto tertawa.

"Sudahlah ayo makan. Aku sudah sangat lapar." Mendengar kata makan Naruto langsung bersorak. Namun setelah melihat sajian makanan yang tehidang di meja makan. Naruto yang tadinya sumringah berubah loyo.

"Emang selain tomat tidak ada makanan yang lain ya?" Tanya Naruto lirih saat di lihatnya di meja ada sup tomat. Tomat goreng. Siomay yang Naruto yakin isinya tomat. Tomat dn brokoli yang di masak jadi satu. Takoyaki versi tomat. Dan nasi goreng tomat.

"Yang ada di kepalaku hanya resep masakan tomat. Bon eetlust. (Selamat makan.)"

Ucap Sasuke penuh kemenangan. Karena Sasuke tahu satu hal. Makan semua makanan yang sudah ada. Atau mau kelaparan. Dan akhirnya Naruto memakannya dengan perasaan kenyang yang cepat menghampirinya.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Rumah yang mereka tempati adalah rumah jadi yang tak perlu mendekorasi dari awal. Tinggal menempati. Mungkin hal ini sudah di atur oleh Itachi. Sehingga. Setelah acara makan serba-serbi tomat selesai. Sasuke memutuskan mengajak Naruto berjalan-jalan.

Sungguh. Ini benar-benar jalan-jalan. Tanpa sepeda. Tanpa motor. Apalagi mobil. Sasuke tega mengajak Naruto berjalan kaki sejauh satu setengah kilometer menuju tepi pantai.

Sampainya di sana matahari sudah hampir tenggelam. Mungkin sekarang pukul lima sore. Naruto bisa merasakan tungkai kakinya yang sakit. Mungkin lecet atau semacamnya. Tapi pemandangan yang disuguhkan sungguh membuat rasa sakitnya hilang.

Angin darat yang berhembus dari darat ke laut mebawa rasa sejuk. Pasir putih yang berkilau tertimpa matahari terlihat seperti berlian. Dan biasan matahari yang terlihat memanjang di lautan. Gradasi langit terlihat sanagat menabjukan. Di mulai dari paling timur yang sudah berlangit gelap hingga di ujung barat yang masih berwarna oranye. Menandakan bahwa hari akan gelap.

"Indah." Ucap Sasuke. Naruto yang mengira kata tersebut untuk pemandangan sunset di depanya hanya ikut menambahkan.

"Iya. Pemandangannya sangat indah. Aku suka." Ucap Naruto melanjutkan kata Sasuke tanpa menoleh.

"Bukan. Kau yang Indah Dobe. Kau sangat terlihat indah di depanku." Ucap Sasuke sambil terus menatap Naruto. Naruto yang mulai menyadari maksut perkataan Sasuke menolehkan wajahnya.

Tapi yang terjadi berikutnya sungguh membuat jantung Naruto berhenti berdetak. Sasuke jatuh terduduk dengan satu kutut menyentuh tanah. Kedua tangannya memegam sebuah kotak dengan dua buah cincin di dalamnya.

Entah kapan Sasuke membawanya. Naruto tidak mengetahuinya. Sebab pakaian yang di kenakan Sasuke sama sekali tidak berkantung. Celana pantai selutut. Kaos v neck polos. Mana mungkin di sembunyikan di dalam bajunya kan? Karena jangankan benda, otot dadanya saja menyembul keluar. Ditambah selama perjalan Sasuke terus mengandeng tangannya.

"Uzumaki Naruto. Will you marry me?" Ucapan Sasuke membuyarkan lamunan Naruto. Naruto bukan orang yang teramat bodoh tidak mengetahui arti kalimat tersebut. Meski nilai bahasa ingrisnya dulu sangat jelek.

Dan setelahnya Naruto hanya bisa mengangguk pasrah. Sasuke yang maklum akan tipe jawaban Naruto─hanya mengangguk. Gak pakek jawab "Oh My God. Yes I Will." atau jawaban "Ya tuhan. Mimpikah aku?"─akhirnya Sasuke hanya bisa memeluk Naruto hangat.

Yah itulah yang dirasakan keduanya. Lamaran pernikahan di pengakhir hari. Di harapkan sebuah hubungan yang akan berlangsung hingga akhir. Pernyataan kasih sayang dan cinta tulus di saat matahari menjejaki keindahannya. Sungguh hal ini tak akan di lupakan Naruto. Dan perlahan airmatanya turun membasahi pipi Naruto dan bahu Sasuke.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Jugo adalah orang kedua yang Sasuke kenalkan pada Naruto. Setelah Suigetsu. Dan mereka berdualah yang akan jadi saksi di pernikahan mereka sebulan lagi. Saat di tanyai mengapa Sasuke terlihat tergesa-gesa dengan hidupnya─Bayangkan. Umur sembilan belas tahun kabur dari rumah karena menjalin hubungan sesama jenis. Kemudian di perparah dengan pernikahan dini.─Sasuke selalu menjawab.

"Apa gunanya punya kasur lebar jika tidak digunakan. Sayangkan kalo dipakai aku sendiri atau Naruto sendiri. Dan jika aku tidur berdua dengannya. Aku yakin tak akan kuat menahan diri melihat tubuh kecilnya itu." Kilah Sasuke kala itu.

Naruto yang ikut mendengarkan hanya mampu memperlihatkan wajah melongo. Bayangkan Sasuke menjawab begitu di depan kedua orang yang baru Naruto kenal.

Setelah itu kesesakan harinya Sasuke langsung aktif bekerja. Sasuke mengaku sih untuk menambah biaya pernikahan. Padahal apa yang mau di biayai? Naruto tak mungkin memakai gaun 'kan? Tak mungkin ke salon? Tak ada undangan yang akan hadir kecuali Suigetsu dan Jugo. Otomatis tak akan memakan biaya pembuatan undangan dan sajian makanan. Tapi bagaimanapun juga Naruto mengiyakan.

Sasuke berkerja di perusahaan milik Suigetsu. Perusahaan advertising atau perusahaan pembuat iklan televisi. Namun khusus untuk perusaan advertising milik Suigetsu hanya bergerak di produk yang telah di kenal. Ia tidak menerima produk baru.

Perusahan yang diberi namaThe Slang Hebi tersebut dulunya di biayayi oleh kakak Sasuke. Sebagai modal utama. Maka dari itu. Suigetsu kini merasa memiliki tanggungan atas Sasuke. Dan Sasukepun tak keberatan menganggap pekerjaannya atas dasar balas budi. Asal ia benar-benar bekerja.

Dulu Itachi menyuruhnya kuliah saja. Tidak usah memikirkan keuangan. Tapi Sasuke menolak. Jika ia ingin kuliah. Ia akan membiayayinya sendiri.

Disisi lain, demi mengisi waktu di rumah saat Sasuke pergi bekerja. Naruto selalu menghabiskan waktunya di rumah pasangan lanjut usia bernama Tsunade dan Jiraya. Alasannya mengapa Naruto mudah akrab dengan mereka adaloah karena mereka ternyata juga orang Jepang.

Dari merekalah Naruto banyak mendapat pelajaran baru. Memasak. Berkebun. Atau membuat sesuatu seperti patung kayu, kincir angin mini, segala sesuatu dari tanah liat. Dan lain sebagainya. Bagi Naruto mereka berdua adalah keluarga barunya. Dan mereka tak keberatan.

Dari Jirayalah ia mengetahui bahwa Tsunade adalah pensiunan dokter di sebuah rumah sakit di Amsterdam. Sayang setelah sekian lama menikah, mereka tetap tak memiliki keturunan. Dan tiba-tiba Naruto ingin mengundang mereka kepernikahannya. Sementara Jiraya sendiri adalah pensiunan dosen di sebuah universitas.

"Naruto, kemarilah. Ada yang ingin aku berikan." Panggil Tsunade saat Naruto tengah sibuk dengan tembikarnya. Ternyata Tsunade ingin memberikan sebuah tudung. Atau hiasan penutup kepala mempelai wanita saat pernikahan. Naruto hanya bisa syok melihatnya.

"Ini adalah hal yang paling indah yang tak ingin ku hilangkan. Karena dengan memakai ini kau akan selalu terlihat sebagai mempelai pengantin. Tak peduli apapun yang kau gunakan." Papar Tsunade seraya memasangkan tudung berenda Ikream dengan manik-manik dan hiasan mawar merah di satu sisinya. Naruto melihat pantulan dirinya di kaca cermin.

Sungguh. Tsunade tidak berbohong. Memakai apapun asalkan ada tudung setiap orang akan terlihat seperti mempelai pengantin. Naruto yang hanya mengenakan celana trining selutut dan kaos pendek biasa masih bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang mempelai pengantin.

"Untukmu. Sebagai hadiah bruiloft (pernikahan)." Ucap Tsunade seraya menyentuh kedua bahu Naruto.

Saat di certakan ia akan menikah dengan Sasuke.], Tsunade tidaklah terkejut. Di Belanda menglegalkan hal tersebut.

"Dank u. Heel hartelijk bedankt (Terima kasih. Terima kasih banyak.)" Ucap Naruto tak bisa menahan air matanya.

"Graag gedaan. (Sama-sama)."

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Sebulan terlewati sudah. Pernikahan akan di laksanakan keesokan harinya. Tidak muluk-muluk. Hanya pernikahan kecil yang akan di laksanakan di gereja setempat. Naruto telah meminta izin agar Tsunade dan Jiraya di undang dalam pernikahan mereka. Dan Sasuke mengizinkannya.

Meskipun tak pernah bertemu dengan mereka, Sasuke merasa telah sangat mengenalnya. Bukan tanpa alasan hal tersebut bisa terjadi. Karena hampir tiap malam saat mereka berdua saja di kamar, Naruto akan dengan bangga menceritakan kegiatan apa saja yang akan ia lakukan berasam kedua pasangan lanjut usia tersebut.

"Kau tau Teme? Jiraya Jii-san itu sangat pintar. Dia terlihat bisa segala hal. Hebat bukan?" Cerita Naruto dengan semangatnya. Sementara di sebelahnya Sasuke yang tengah memeriksa laporan kerjanya hari ini hanya mengendus kesal.

"Oh ya? Lebih hebat mana denganku?" Tantang Sasuke.

"Ya Jiraya Jii-san lah." Jawab Naruto dengan bangganya.

"Hemmm." Rancau Sasuke seraya mengangguk-anggukan kepalanya.

"Kalau begitu menikah saja dengannya. Tak usah denganku." Sasuke menaikan salah satu alisnya. Menantan kekasihnya.

"Haha. Bercanda kok. Sasukeku adalah yang terhebat." Ralat Naruto. Merinding melihat ekspresi Sasuke yang terlihat serius.

"Oh ya, ada yang lupa." Naruto teringat sesuatu. Kemudian ia turun dari ranjangnya dan membuka lemari. Menggunakan tudung yang tadi Tsunade berikan padanya. Di sampirkannya selimut putih hingga sebatas dadanya. Dan bagian bawahnya terjuntai menyentuh lantai.

"Sempurna." Ucap Naruto senang.

"Teme Bagaiman? Pantas tidak?" Tanya Naruto seraya menggerak-gerakan badannya. Seolah berkaca.

Sementara Sasuke hanya memandangnya terpesona. Kehabisan kata-kata untuk menyampaikan pendapatnya tentang Naruto. Dimata Sasuke yang berdiri di depannya kini terlihat bukanlah Naruto yang ia kenal. Seorang pemuda yang sudah di kencaninya selama dua tahun lebih, kini menjelma menjadi seorang wanita dalam pakaian pengantin yang sangat indah.

Meski masih memperlihatkan baju tidurnya. Selimut yang Naruto gunakan benar-benar menyerupai sebuah gaun. Di tambah dengan tudung pengantin di kepalanya. Jika tidak ingat bahwa ini hanya hasil kelakuan Naruto. Sudah dari tadi ia melafalkan janji pernikahannya.

"Aku ingin terlihat seperti pengantin wanita. Walau hanya sekali. Katakan. Akulah mempelai wanita tercantik yang pernah kau lihat Teme. Katakanlah walaupun kau harus berbohong." Ucap Naruto lirih.

Sasuke menyusul turun dari ranjangnya. Di matikannya lampu kamar dan hanya menyisakan terang bulan yang menembus hingga kamarnya. Membuat suasana di dalam semakin terasa romantis. Di hampirinya Naruto yang kini terlihat seperti sosok bidadari di mata Sasuke.

"Kau adalah mempelai tercantik yang pernah aku temui Naruto. Dan aku tak berbohong." Ucap Sasuke seraya membenarkan renda yang sedikit menutupi mata safir Naruto.

"Benarkah?" Tanya Naruto antusias. Di tatapnya mata onyx Sasuke. Mencari kejujuran.

"Tentu my hime. Oh salah. My bride." Sasuke membalas menatap mata sendu Naruto.

"Lakukan! Lakukan janji itu. Aku ingin mendengarnya." Pinta Naruto. Sasuke mengerti maksud Naruto. Sebelum berbicara Sasuke berdeham.

"Saya. Uchiha Sasuke. Bersedia menerima Uzumaki Naruto sebagai seorang istri dan bersedia menemaninya dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, dalam kaya maupun miskin, dan saya akan berjanji untuk setia sampai maut memisahkan kami." Ucap Sasuke sedikit mengubah kata-kata sacral tersebut di karenakan tidak adanya pendeta.

"Saya. Uzumaki Naruto. Bersedia menerima Uchiha Sasuke sebagai seorang suami dan bersedia menemaninya dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, dalam kaya maupun miskin, dan saya akan berjanji untuk setia sampai maut memisahkan kami." Naruto mengikuti perkataan Sasuke.

Kemudian Sasuke menundukan wajahnya. Mencium Naruto singkat. Hal yang akan dilakukan saat mereka sah menjadi suami istri nanti. Ciuman yang singkat namun terasa lembut.

"Sekali lagi." Ucap Naruto saat Sasuke menyudahi ciumannya. Sasuke menyentuh dagu Naruto agar lebih menghadap padanya. Kemudian kembali mencium Naruto. Ciuman yang lebih dalam. Kali ini bukan hanya lembut. Tapi juga terasa basah.

"Sekali lagi." Ucap Naruto lagi saat Sasuke kembali menyudahi ciumannya. Dan Sasuke kembali menciumnya. Ciuman intens yang membawa lidah mereka ikut berperan. Saling memindahkan salvia masing masih. Membuat keduanya susah bernafas.

"Kumohon. Sekali lagi." Ucap Naruto lagi. Namun kali ini jawaban Sasuke adalah membanting tubuh Naruto ke ranjang. Membuat tudung yang di kenakan Naruto terlepas. Keudian Sasuke engunci pergerakan tangan Naruto. Dan kembali mencium Naruto yang pasrah seutuhnya. Ciuman panas yang membuat suhu tubuh mendadak naik.

"Sasuke." Naruto bersusah payah menegur Sasuke bahwa ia masih butuh bernafas.

"Aku tak ingin melakukannya sekarang." Lanjutnya.

"Aku tau. Kau yang memulainya ingat? Aku hanya menurutimu." Ucap Sasuke seraya melepas tangannya dari tangan Naruto.

"Arigatou." Ucap Naruto.

"Kemarilah." Sasuke membawa Naruto dalam dekapannya malam itu. Menyalurkan segalanya. Perasaan senang. Bahagia. Kasih sayang. Cinta. Dan hasrat yang harus tertunda.

Meletakan kepa;a Naruto di dada bidangnya. Sementara di bawah kaki mereka saling bertautan. Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk tertidur. Karena dengan suasana seperti ini semua orang bisa tertidur dengan nyaman.

"Goedenacht mijn vrouw. Ik hou van je. (Selamat tidur istriku. Aku mencintaimu.)" Ucap Sasuke lirih sambil mencium ubun Naruto. Dan akhirnya Sasuke juga ikut jatuh tertidur sambil memeluk kekasihnya. Mereka belum sadar. Jika sekarang merasa bahagia. Esok saat pernikahan mereka, akan terasa lebih bahagia. Dan mereka berharap seperti itu selamanya.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

To Be Continued

Huwaaa...
gimana dengan chap ini...
menyenentuh gak sih? Aku harap iya...

Chap depan mereka nikah...
Dan akan munjul scene dimana Naruto hamil,,,
dan di jelaskan mengapa ia bisa hamil...

Kurang apa sih?
kurang apa? Review dong...
Lumayan buat refrensi

Di tunggu ya minna... chap depan...