Balas Review dulu ya?
Dibaca...
kali ada ngejawab pertanyaan kalian...

reiasia95 Yayyyyy... Aku juga suka sama OOCnya... Hahaha makasih udah review...
Vianycka Hime makasih udah review...
Izca RizcassieYJ hahahaha... aku juga suka... makasih udah review...
Tobi ChukaChuka ini udah di lanjut... Senpai?/ aku newbie... makasih udah review
kitsune Riku11 typos adalah penyakit saya... hahahaha...,. makasih udah review...
Shiroi Fuyu ok ok... review anda adalah pengobat untuk saya... makasih udah review
Claire Farron IS My savior waduh waduh... diikuti aja... makasih udah review
kirei- neko makasih udah review...
RisaSano diikuti aja... makasih udah review...
Temeiki Ryu maaf lama... makasih udah review
Astia Aoi hahahahah... makasih udah review...
uzumakinamikazehaki makasih udah review... pastilah ada 'itu-itu' karena kalo gak ada g bisa mpreg... heheheh... peran Tsunade muncul saat lahiran bayinya Naruto
Monokurobo makasih udah review...
hanazawa kay makasih udah review...
eka. ok... makasih udah review...
Ayuni Yukinojo oh ya? bocorin dong... heheheheh makasih udah review...
Para Guesttt... Makasih udah review...
para silent rider... (kalo ada) makasih udah baca... saya berharap review


.

.

.

Disclaimer
Naruto
© Masashi Kishimoto

Pairing
SasuNaru

Warning
M-Preg, Yaoi, Boy's Love, Sho-ai, Ooc tingkat dewa
Typo(s) bertebaran. Ini udah penyakitku.
Romance/Hurt/Comfort/Angst?

NOTE
Chap ini tidak mengandung adegan seksual yang implicit.
Author hanya mendeskripsikan suasana dan keadaan.
*Bilang aja authornya g sanggup. Inget masih suasana lebaran.*

Rate M
Bukan untuk adegan 'lemon'.
Melainkan untuk Hardcore/Scene berdarah.
Muncul sewaktu Naruto melahirkan.

Summary
Naruto Sakit. Dia sekarat.
Menjelang kelahiran bayinya dia berpesan.
'Teme. Jaga anak ini untukku.'

M-Preg, It's Not My Destiny
© Kanami Aya

Status
In-Progres

Chapter 6
Ik Ben Blij (Aku Bahagia)

Don't Like Don't Read
RnR


.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Cerita Sebelumnya

"Kemarilah." Sasuke membawa Naruto dalam dekapannya malam itu. Menyalurkan segalanya. Perasaan senang. Bahagia. Kasih sayang. Cinta. Dan hasrat yang harus tertunda.

Meletakan kepala Naruto di dada bidangnya. Sementara di bawah, kaki mereka saling bertautan. Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk tertidur. Karena dengan suasana seperti ini semua orang bisa tertidur dengan nyaman.

"Goedenacht mijn vrouw. Ik hou van je. (Selamat tidur istriku. Aku mencintaimu.)" Ucap Sasuke lirih sambil mencium ubun Naruto. Sedikit lama menghirup aroma pinus yang tercium disana. Dan akhirnya Sasuke pun ikut jatuh tertidur sambil memeluk kekasihnya.

Mereka belum sadar. Jika sekarang mereka merasa bahagia. Esok saat pernikahan mereka, akan terasa lebih bahagia. Dan mereka berharap seperti itu selamanya. Ya. Selamanya.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Pagi ini cuaca mencapai suasana puncaknya. Puncak musim semi. Meskipun Belanda termasuk dalam urutan ke dua negara yang memiliki iklim terus berubah-ubah setelah Inggris. Terkadang pagi begitu hangat namun menjelang siang akan hujan deras. Kadang pagi hujan badai siangnya akan panas terik.

Namun semenjak dua hari lalu, cuacanya terbilang normal dan stabil. Dan dari prediksi cuaca serta bercermin pada dua hari sebelumnya. Hari inilah hari puncak sari kesetabilan musijm Semi.

Di tandai dengan tanaman-tanaman yang mumai memekarkan kuncup bunganya. Pohon-pohon yang mulai terhiasi buah. Dan hawa dingin hangat yang berhembus. Namun karena daerah Harlem merupakan dataran dekat pantai. Meski masih sedikit jauh dengan musim panas . Hawa hangat di daerah ini lebih mendominasi.

Karena kehangatan inilah mereka ─ yang di juluki pasangan sesama jenis ini ─ masih betah untuk membiarkan alam sadarnya tertidur. Naruto yang hal terburuknya saat tidur terbiasa menciptakan peta-peta di atas batal bulu angsanya merasa terganggu akan sesuatu. Sesuatu yang mengusik di bagian kakinya.

Naruto terbangun karena merasakan hentakan di kakakinya. Semakin lama semakin keras. Dan semakin lama semakin membuat Naruto kesal. Membuat Naruto terjaga dengan wajah garang.

"Teme! Jangan menendangku terus. Ada apa sih?" Hardik Naruto saat kesabarannya habis. Karena sedari tadi Sasuke terus menendangnya di balik selimut(?).

"Dari tadi belnya bunyi Dobe. Buka pintunya." Ucap Sasuke seya kembali menumpuk bantal di kepalanya. Menghindar dari suara bel yang terus berbunyi.

Naruto turun dari ranjangnya dengan perasaan dongkol. Merasa di bodohi oleh Sasuke. 'Seharusnya kalo Sasuke bangun duluan dia yang harus buka 'kan? Kenapa harus aku?' Batin Naruto.

Tapi sebelum melangkah keluar kamar untuk membetak siapapun yang bertamu sepagi ini ─ Masih jam enam pagi. Disana masih pagi banget loh! ─ Naruto menyempatkan menyubit calon suaminya tepat di bagian pinggang. Kecil dan memelintir. Memaksa kulit putih porselen itu berubah warna.

"AKHHHHH. SAKIT! Dobe? Apa yang kau lakukan?" Hardik Sasuke langsung membuka bantal yang tadi menutupi wajahnya.

"Biarin. Biar kamu juga bagun. Salah sendiri bangunin pakek penyiksaan." Ucap Naruto. Setelahnya ia menjulurkan lidahnya mengejek. Dan membanting pintu keras.

"Sial." Rutuk Sasuke. Rasa sakit di pinggang kanannya benar-benar menghilangkan rasa kantuknya. Di bukanya baju V Neck berwarna biru dongker itu dari tibuhnya. Dan benar saja. Perubahan warna itu sudah terja.

"Dobe! Jangan harap nanti malam kau akan selamat." Bentak Sasuke sekencang-kencangnya. Mencoba menghardik Naruto.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Naruto menuruni tangga dengan cekikikan. Suara Sasuke yang terdengar sangat kesal benar-benar membuat kantuk yang tadi tersisa mendadak hilang. Senang bisa balas dendam.

'Ting tong. Ting tong.' Bunyi bel kembali terdengar.

"Aku pasti membunuhnya. Pasti." Ucap Naruto kesal. Habis mau bagaimana lagi. Bertamu kok gak tau diri. Di gebuk Naruto baru tahu rasa itu orang.

Dan Naruto benar-benar akan melakukannya. Di ambilnya tongkat baseball dari kamar barang. Barulah kemudian ia melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.

"Kau pikir ini jam berapa HAH?" Hardik Naruto bahkan sebelum pintu befcat putih tersebut benar-benar tebuka. Namun sosok yang di temuinya di balik pintu tersebut benar-benar membuatnya diam seketika. Membuat tongkat baseball yang tadi dipegangnya erat kini merusut jatuh di lantai.

"Itachi-nii?" Naruto terperah. Tak percaya bahwa kakak kekasihnya itu akan berada di depannya. Dan yang bisa Itachi tangkap dari penampilan Naruto adalah. Bangun tidur.

Tentu saja. Penampilan Naruto kini tak ayalnya gelandangan mencari makan. Rambut spike berantakan. Baju kusut. Dan sedikit sisa air liur yang mengering di pinggir bibirnya. Ditambah dengan ekspresi keterkejutan Naruto akan kehadirannya hinggan membuat bibir Naruto sedikit membuka. Dan alis yang terangkat tinggi meyakinkan Itachi bahwa Naruto belum sadar betul dari tidurnya.

Dalam hati Itachi berfikir Mengapa adik tololnya itu bisa memilih pasangan hidup seperti Naruto.

"Kenapa bisa disini?" Tanya Naruto tak masih percaya.

"Tentu saja untuk menghadiri pernikahan adikku bodoh." Jawab Itachi dengan nada kesal. Bagai mana tidak? Ia sudah berdiri di depan pintu selama setengah jam lebih. Berdiri seperti orang yang tidak di harapkan.

Jangan lupakan kesendiriannya di bandara menunggu jemputan yang tak kunjung datang selama satu jam. Hingga akhirnya ia memilih menggunakan taksi menuju rumah adik satu-satunya itu.

Salahnya memang? Andai dulu ia memegang kunci cadanagn rumah yang ia berikan pada Sasuke ini. Pastilah ia tak akan terlihat seperti tunawisma yang sedang mencari tempat tinggal.

"Kau tau kita akan menikah. Maksudku menikah hari ini?" Tanya Naruto tak percaya.

"tentu saja. Dia adikku. Segala tentangnya aku pasti tau." Jawab Itachi sedikit bangga.

Mendengar pernyataan Itachi sedikit membuat wajah Naruto memerah. Mau tak mau hatinya bergetar. Terharu. Kakak kekasihnya itu masih bersikap hangat pada Sasuke, meski Sasuke telah berhianat dan meninggalkan keluarganya.

"Arigatou. Itachi-nii." Ucap Naruto seraya melangkah dan memeluk Itachi kuat. Bukti keterharuan dan rasa terimakasih secara bersamaan.

"Mana dia? Biar kubunuh. Semalam aku sudah bilang akan datang besok pagi. Agar menjemputku di bandara tapi malah di tinggal tidur." Masih dalam pelukan Naruto, Itachi mencincing lengan kemejanya hingga siku. memperlihatkan otot tangan yang menjadi. Tanda bahwa ia kesal.

"Ehem. Ehem. Lancang sekali memeluk calon istriku saat aku berada dirumah." Terdengar suara Sasuke yang tengah menuruni tangga. Mendengar perkataan Sasuke Naruto sontak langsung melepas pelukannya.

"Apanya yang lancang HAH? Ku hubungi sejak dari bandara tadi. Hapemu kau jual apa? Kemana saja kau dari tadi? Bergulat di kasur?" Tentu saja ia akan berfikiran ─ You know I mean. Right? ─ seperti itu. Melihat sosok adiknya muncul dengan telanjang dada dan penampilan kusut. Jangan lupakan penjelasan Naruto tadi.

"Hehehe. Masuklah. Aggap rumah sendiri." Ucap Sasuke saat telah tiba di ambang pintu.

"Ini memang rumahku bodoh." Ucap Itachi masih kesal.

"Aku akan buatkan sarapan. Itachi-nii mau mandi dulu apa mau istirahat dulu." Tawar Naruto ramah.

"Mandi. Aku perlu mendinginkan kepala." Itachi dengan lincahnya menuju kamar mandi lantai bahwah. Seperti sudah hafal benar denah rumah ini. Naruto maklum. Sasuke pernah bercerita kalau ini adalah rumah pemberian Itachi. Bekas tempat tinggalnya saat kuliah di Belanda.

"Itachi?" Panggil Sasuke tepat saat sebelum Itachi memegang engsel pintu kamar mandi.

"Apa lagi?" Jawab Itachi malas.

"Kau tidak di ikuti 'kan? Ayah tak kau beritahu 'kan." Tanya Sasuke hati-hati.

"Tenanglah. Aku lebih pandai darimu dalam hal melarikan diri. Tentang Ayah tak usah kau hawatirkan. Tentu saja aku menyembunyikannya. Bahkan dari ibu sekalipun." Ucap Itachi tanpa menoleh.

"Apa dia baik-baik saja?" Sasuke berusaha bertanya sekali lagi.

"Siapa? Ibu? Tentu saja. Dia amat baik-baik saja setelah opname tiga hari." Papar Itachi. Sasuke yang mendengarnya sedikit bergetar.

"Opname? Kenapa kau tak memberitahuku?" Sasuke berkata dengan nada lemah.

"Ku beritahu pun kau tak akan menjenguknya 'kan?" Itachi membalikan badannya. Menatap mata onyx yang terlihat identik dengannya. Mencari kebenaran katanya. Dan tentu saja benar.

"Naruto tolong buatkan aku saja kubis dan onigiri dengan rumput laut di dalamnya." Pinta Itachi mengalihkan perhatian. Naruto yang sedari tadi hanya menjadi pendengar sejati memilih mengangguk dan bergegas membuatkan makanan permintaan calon kakak iparnya itu.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

"Kau bisa memasaknya Dobe?" Tanya Sasuke setelah lima menit yang lalu kembali ke kamar untuk mengenakan pakaian.

"Hanya onigiri. Tidaklah susah. Saat sekolah aku juga sring membuatkannya untukmu Teme." Ucap Naruto seraya memotong gubis menjadi beberapa bagian.

"Yahh~ onigiri tanpa rasa." Mendadak Sasuke merasa ingin bermanja-manja dengan Naruto. Di peluknya tubuh ramping yang akan menjadi pendamping hidupnya beberapa jam lagi. Seakan lupa pagi ini ada orang lain di rumah mereka.

"Tanpa rasa? Masih berani masakanku tak berasa. Kau mau ku cincang ya?" Tantang Naruto sambil mengacungkan pisaunya. Dapat ia rasakan Sasuke di punggungnya sedang tertawa. Menciptakan sensasi geli.

"Aduh Teme. Geli. Kalau kau terus memelukku begini. Mana bisa aku membuat makanan?" Naruto berusa melepaskan lengan kekar kekasinya yang sedang melingkar semakin kuat di pinggangnya. Namun Sasuke seakan tak ingin melepasnya.

"Ehem." Suara Itachi yang berdeham menghentikan aktifitas Sasuke dan Naruto. "Kmar tidur sudah pindak kedapur rupanya." Goda Itachi sambil mengeringkan rambutnya.

Naruto yang merasa kecolongan hanya mendelik marah. Di lepaskannya lengan Sasuke dengan kasar.

"Pergi kau dari sini. Dasar Teme sesat." Ucap Naruto dengan malu-malu. Sasuke yang bisa melihat rona wajah merah di wajah Naruto hanya bisa menahan senyum.

"Sekali lagi." Ucap Sasuke sambil mengikuti permintaan Naruto semalam. Dan kemudian di ciumnya pipi kanan Naruto.

"Kumohon sekali lagi." Ulang Sasuke sambil kembali mendaratkan ciumannya di pipi Naruto. Naruto yang akhirnya sadar maksud Sasuke langsung menghantam kepala Sasuke dengan gubis bulat.

"Akh~" Ringis Sasuke.

"MENJAUH!" Bentak Naruto.

Itachi yang sedari tadi terus melihat kekonyolan adiknya hanya mampu menggelengkan kepalanya. Takjub. Bagaimana bisa Naruto mengubah seoraang penyendiri seperti Sasuke berubah menjadi sosok yang hampir mengarah ke genit. Menghilangkan perasaan sedih sang adik dalam sekejab dan mengubahnya menjadi hangat bahagia.

"Sasuke. Ikutlah denganku." Ajak Itachi saat lamunannya selesai. Sasuke hanya menurut dan mengekor di belakang sang kakak.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Itachi membawanya ke beranda lantai dua. Tepat menghadap bukit gunung yang melintang di sepanjang lautan. Memeberi jarak antara mereka dan Naruto.

"Pemandangan disini tak pernah berubah." Itachi menhembuskan nafasnya meresapi suguhan pemandangan yang ada. Mencoba mengingat kembali masa-masa kuliahnya dulu saat masih tinggal disini.

"Ada apa mengajakku sejauh ini?" Sasuke mengikuti arah pandang Itachi.

"Ambilah ini." Itachi mengeluarkan amplop kecil dari saku celananya Dan mengarahkannya ke Sasuke. amplop berwarna coklat itu langsung Sasuke buka. Dan isinya adalah dua tiket ke Keukenhor dan sebuah kunci.

"Untukmu. Hadiah bulan madu." Jelas Itachi menjawab kebingungan Sasuke.

"Dan ini?" Sasuke mengacungkan kunci sengan nomor 247 sebagai gantungannya.

"Apartemenmu di Amsterdam. Kau pindalah kesana. Jadi kau tak perlu berangkat terlalau pagi saat bekerja di tempat Suigetsu. Kasian jika Naruto harus sering kau tinggal. Dan lagi pula. Aku berniat menjual rumah ini. Hasilnya pakailah untuk tabunganmu saat terjadi sesuatu." Setelah menjelaskan hal tersebut Itachi menepuk punggung Sasuke. Dan kemudian beranjak turun.

"Itachi?" Panggil Sasuke sesaat Itachi benar-benar pergi. "Kenapa kau begitu pedulinya padaku? Tanya Sasuke.

"Kau bukan satu-satunya manusia yang pernah jatuh cinta Sasuke. Aku juga pernah mengalaminya. Aku pasti ingin banhagia bersamanya. Setidaknya andai dia masih hidup. Aku hanya berusaha membuat adikku satu-satunya bahagia. Apa aku salah?" Itachi berbalik bertanya.

Sasuke sempat berpikir. "Tidak. Terima kasih." Ucapan Sasuke menggantung. Seolah ada yang ingin dilanjutkan. Mengerti gelagat adiknya Itachi terpaksa menjelaskan maksudnya.

"Aku tak ingin pernikahanmu batal atau rusak karena ayah. Aku harap dengan di jualnya rumah ini ayah tak punya pemikiran kau tinggal disini. Jadi lebih baik kau cepat pindah." Jelasnya

"Baiklah." Jawab Sasuke akhirnya. "Apa imbalan yang kau inginkan dariku?" Lanjutnya. Itachi hanya tersenyum mendengarnya.

"Hanya satu pintaku." Itachi menggantungkan kata-katanya. "Katakan sensasinya nanti malam. Aku pasti akan mendengarnya." Goda Itachi. Sasuke tersenyum. Kemudian menjitak kepala kakak satu-satunya itu. Dan bersama turun ke lantai bawah.

"Seperti kau tak pernah berhubungan sesama jenis saja."

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

"Dari mana saja kalian?" Tanya Naruto saat mendapati Sasuke dan Itachi baru muncul.

"Hanya urusan sesama lelaki." Jawab Sasuke asal.

"Kau pikir aku bukan lelaki hah?" Naruto menta meja seapik mungkin. Menyediakan makanan-makanan kesukaan para Uchiha tersebut.

"Yah~ tetap saja kau akan berperan sebagai istri." Sasuke duduk di bangku yang telah di tarik menjauh oleh Naruto.

"Tetap saja lelaki." Naruto tetap mempertahankan pendapatnya.

"Naruto. Bolehkutanya tentang sesuatu?" Tanya Itachi yang juga sudah terduduk di salah satu bangku. Naruto mengangguk.

"Mengapa kau yang harus jadi istrinya?" Tanya Itachi yang langsung membuat Naruto terdiam.

Sejak dulu, atau tepatnya sejak ia menjalin hubungan dengan Sasuke. Naruto tak pernah berfikir kenapa ia yang harus menjadi sosok dilindungi. Bukannya melindungi. Menerima. Bukannya memberi.

Yang Naruto tahu hanya ia bahagia menjalin hubungan tersebut dengan Sasuke. Bahagia karena mencintai dan dicintai. Tak peduli peran apa yang akan ia jalani.

"Aku hanya menjadi pelengkap apa yang Sasuke butuhkan dariku. Aku akan menjadi apapun yang membuat dirinya sempurna. Tak peduli akulah yang harus menjadi sosok lain agar membuatnya utuh. Terlepas dari kenyataan aku adalah seorang lelaki. Aku tak akan mempermasalahkan bahwa aku harus merusak hidupku sendiri untuk menjadi tulang rusuknya. Menjadi seorang istri dan mengapdi pada suami. Menjadi lemah dan diasingkan oleh jenisku sendiri. Asal dia bahagia aku terima." Papar Naruto dngan lancar. Seolah penjelasan tadi sudah dihafalnya di luar kepala. Lancar tanpa berfikir.

Sementara Itachi yang mendengarnya berusaha memahami apa yang yang disebut ketulusan. Tidak oeduli makna itu akan keluar dari pasangan normal ataupun sesama jenis. Tak peduli bahwa pernyataan tulus tersebut masih akan di tentang oleh orang-orang.

Itachi sadar akan satu hal. Dirinya kalah dari seseorang yang bahkan besar dari keluarga yang tidak bisa di sebut harmonis. Dulu. baginya, cintanya pada Kurama (Disini Kurama tidak ada hubungan darah sedikitpun dengan Naruto.) hanyalah sebuah kesenangan belaka. Hubungan yang ia cari hanya rasa bahagia. Keindahan masa awal dewasa yang baru menhampirinya.

Tapi bagi Kurama, Itachi benar-benar sosok yang ia harapkan akan terus bersamanya. Hidup dengannya. Mengucap janji sacral bersama. Mati tua pun di harapkan bersama.

Tapi sayang, sekali lagi Itachi menegaskan ia hanya bersenang-senang. Berkeinginan memiliki keluarga dan anak. Membuat sang kekasih ─ yang bahkan tak sempat menjadi mantan tersebut ─ patah hati dan memilih bunuh diri dari pada melihat kekasihnya bahagia dengan orang lain.

"Aku harap kau akan bahagia apapun pilihanmu. Dan terimakasih telah setia menjadi pendamping adikku. Aku bahagia Sasuke memilihmu." Ucap Itachi. Naruto tersenyum.

"Sudahlah. Makan dan lekas lakukan bagianmu." Sasuke yang sedari tadi diam mencoba mengingatkan bahwa waktu telah banyak terlewati. Dengan artian acara utama hari ini akan segera terlaksana.

Pernikahan akan di laksanakan tepat jam sembilan. Selesai sarapan Itachi bergegas menuju gereja untuk mempersiapkan pernikahan. Sementara Sasuke hanya bisa pasrah bersiap seorang diri saat Naruto di culik Tsunade untuk di persiapkan di tempat berbeda.

Selesai memakai setelan tuxedonya Sasuke bercermin. Tampilan seperti ini sudah biasa buatnya. Tapi entah mengapa saat ini Sasuke merasa ada yang berbeda. Sedikit bingung di ungkapkan. Seolah ada yang kurang. Padahal tampilannya benar-benar sempurna.

Celana kain keluaran Channel dan jas hitam panjang yang di bandrol dari Armani,kemeja putih dan dasi hitam panjang yang meghiasi harusnya dapat membuat Sasuke percaya diri. Jangan lupakan sepatu buatan Harmes. Tapi ia tidak. Ada yang kurang. Seolah ia butuh nasehat-nasehat penenang menjelang pernikahannya. Dan Sasuke tertegun.

Ayah. Ya. Dia butuh seorang ayah yang akan senantiasa mengurangi kegelisahan di saat seperti ini. Seorang ayah yang akan mempercayakan tanggung jawab untuknya dalam membangun sebuah keluarga. Seorang ayah yang akan meminta ia menjaga istrinya kelak.

"Ayah."

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Di tempat lain Naruto hanya mampu pasrah setelah kehabisan tenaga berdebat dengan seorang tante-tante bernama Tsunade. Pasalnya Tsunade dengan paksa menyuruh Naruto untuk memakai gaun pengantin yang telah disiapkan.

Tapi Naruto tetap menolah. Merasa kesal karena pikiran─masak mau nikah gak dandan sedikitpun─akhirnya Naruto memilih opsi kedua yang di tawarkan Tsunade. Tetap memakai jas tapi harus dandan.

Lah? Naruto yang merasa kalut tak punya pilihan lain akhirnya memilih di dandani. Dengan syarat, tidak mencolok. Dan Tsunade setuju.

Naruto melihat tampilannya dalam pantulan kaca cermin. Sedikit bingung mendiskripsikan penampilannya kali ini. Setelan bajunya menurut Naruto normal. Celana hitam panjang. Kemeja putih dengan dasi kupu-kupu yang di balut jas hitam panjang.

Yang membuat Naruto bingung harus komentar adalah rambutnya. Jika biasanya rambut pirangnya remodel spike, kali ini rambut pirangnya di tata rapi dengan sedikit model poni di dahinya. Fondation muka membuat wajah tannya kini terlihat cerah. Dan jangan lupakan pewarna bibir warna merah marun.

Sungguh. Andai ia tak memakai jas. Sudah pasti orang-oang akan melihatnya sebagai wanita.

"Cantik bukan?" Tanya Tsunade saat Naruto terpaku sesaat melihat pantulannya tadi.

"Aku lelaki. Aku bukan cantik. Hanya sedikit... manis." Ucap Naruto sedikit malu.

"Sudahlah. Ayo kita berangkat. Tadi pagi Jiraya sudah di jemput oleh kakak calon suamimu itu." Ucap Tsunade seraya mendorong Naruto keluar kamar.

"Untuk apa?" Tanya Naruto polos.

"Nanti kau akan tahu."

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Sasuke berdiri di atas altar dengan wajah bahagia. Tidak meninggalkan kesan tegas yang selama ini melekat di wajahnya. Meski tanpa polesan sedikitpun diwajah putihnya. Pesona tampan dengan rahang keras tetap meninggalkan aksen tampan yang telah di bawanya sejak lahir.

Bahu rata semakin terlihat tegap dengan adanya bantalan spon didalam jasnya. Rambut hitam yang dulu terlihat acak kini diubahnya menjadi model rapi namun tak menghilangkan gaya khasnya. Melawan gravitasi.

Didepannya. Di bangku para pendoa, dapat dilihatnya kedua temannya dan juga kakak kandungnya yang sudah bersedia hadir dalam pernikahannya. Dan dengan senang hati menjadi saksi pernikahannya. Jiraya. Seorang seniman tua mantan seorang dosen yang sering ia dengar dari Naruto kini berubah fungsi menjadi seorang pendeta. Lengkap dengan setelan jas dan kitab yang ia pegang. Sekarang hanya tinggal satu, mempelai pria lainnya.

Entah mengapa. Sasuke merasa waktu berjalan dengan lambat. Sejak jam menunjukan pukul sembilan tepat tadi. Tak henti-hentinya Sasuke menghela nafas panjang. Bahkan lebih panjang ketika ia harus berani menghadap orangtuanya dulu.

Naruto tiba lima belas menit berikutnya. Membuka pintu gereja dari luar dengan di dampingi Tsunade. Menghadirkan sosok pemuda berkulit tan yang kini nampak bercahaya. Sedetik barusan, selama lima detik Sasuke sadar nafasnya terhenti.

Mencoba menatap lekat pemuda yang telah memaksanya berubah untuk menjadikannya seseorang paling bisa dijanga lebih dari siapapun. Tak peduli ia adalah pria. Bagi Sasuke, Naruto adalah permaisurinya.

Naruto melangkah masuk menuju sang pemuda lain yang telah menunggunya dengan setia. Menyerahkan tangan saat pemuda tersebut mengulurkan tangannya. Melempar senyum saat Sasuke mengangguk tanda menyuruhnya mendekat.

Naruto berdiri tegak tepat di hadapan Sasuke yang tengah memandanginya dengan senyuman hangat kepadanya. Dapat di rasakan tangan Sasuke yang hangat menggenggam tangan kecilnya yang terasa dingin karena gugup. Seolah menyalurkan perasaan agar Naruto percaya Sasuke akan menjaganya. Mengajak Naruto pasrah dalam perlindungnya. Memulai sebuah hubungan abadi yang dimulai dengan janji suci.

Sasuke mengangkat sebelah tangannya yang bebas untuk menyingkirkan helaian rambut pirang Naruto yang mendadak rapi dan klimis hari ini. Memindahkan poni yang mendadak muncul dan menutupi dahinya. Perlahan Sasuke mencium dahi Naruto. Bahagia karena akhirnya hari ini akan tiba.

"Bisa dimulai acaranya?" Teguran Jiraya menyadarkan Sasuke dan Naruto bahwa dunia belum menjadi mereka berdua. Sasuke yang merasa bersalah menunduk memohon maaf dan meminta melanjutkan acara.

"Maaf tapi saya harus menerima kejelasan. Disini yang akan berperan sebagai suami siapa. Dan yang berperan sebagai istri siapa. Agar janji sakral ini dapat berlangsung sebagaimana mestinya." Tanya Jiraya dengan bahasa formal.

"Saya yang akan jadi istrinya." Jawab Naruto yakin, mewakili jawaban Sasuke.

"Baiklah kita mulai." Jeda sebentar. "Apakah anda Uchiha Sasuke. Bersedia menerima Uzumaki Naruto sebagai seorang istri dan bersedia menemaninya dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, dalam kaya maupun miskin, dan saya akan berjanji untuk setia sampai maut memisahkan kalian?" Ucap Jiraya seraya menghadap pada Sasuke. Sasuke tak langsung menjawab. Dia tersenyum dan menggenggam kedua tangan Naruto yang memandangnya malu.

"Saya bersedia." Jawab Sasuke tegas tanpa mengalihkan pandangannya pada Naruto.

"Apakah anda Uzumaki Naruto. Bersedia menerima Uchiha Sasuke sebagai seorang suami dan bersedia menemaninya dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, dalam kaya maupun miskin, dan saya akan berjanji untuk setia sampai maut memisahkan kalian?" Ucap Jiraya kali ini menghadap Naruto.

Dengan gengaman kuat dan hangat di tangannya. Naruto mengangguk yakin. "Ya. Saya bersedia." Jawabnya.

"Apakah yang hadir disini ada yang keberatan. Jika ada yang keberatan tolong katakan. Agar pernikahan ini bisa berjalan dengan lancar. Silahkan angkat tangan kalian?" Jiraya bertanya pada saksi yang datang. Itachi. Tsunade. Suigetsu. Dan Juugo menggeleng. Tak ada yang angkat tangan.

"Baiklah. Dengan ini kalian resmi menjadi pasangan suami istri. Silahkan cium pasanagn anda." Ucap Jiraya.

Tanpa rasa malu Sasuke mendekatkan wajahnya sambil menarik belakang kepala Naruto untuk menciumnya. Ciuman pertama mereka yang mereka tunjukan untuk orang lain.

Sasuke mengulum bibir bawah Naruto tanpa ragu. menjilat bahkan menghisapnya. Disisi lain Naruto tak membiarkan Sasuke bermain seindirian. Di sela-sela hisapan bibir Sasuke. Naruto mengecup bibir atas Sasuke yang disediakan untuknya. Saling menghisap. Saling mengulum. Dan saling memindahkan salvia.

Saat dirasakan nafas yang mulai sesak. Naruto menggigit pelan bibir Sasuke. Pertanda ingin menyudahi ciuman mereka. Sebelum menyudahi ciumannya Sasuke kembali mengecup kedua bibir Naruto.

"Kau milikku." Ucap Sasuke seraya mengusap pipi Naruto. Mengecup keing Naruto sekali lagi. Dengan inotasi sedikit lebih lama.

"Semua dariku adalah milikmu. Dan aku yakin akan hal itu." Balas Naruto dengan senyuman.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Tidak ada acara lempar bunga. Tidak ada acara taburan bunga saat pasangan yang baru resmi menikah keluar dari gereja. Tak ada acar perpisahan antara mempelai dengan orang tua. Bahkan tak banyak ucapan selamat.

Tapi ini lebih dari cukup. Naruto tidak meminta lebih. Naruto tak mengharap lebih. Pernikahannya bisa berjalan hikmatpun sudah cukup. Asal ada Sasuke. Naruto menerima semua kesederhanaan ini.

Tepat pada tanggal lima belas Aplil. Mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Bukan tanpa alasan mereka menikah pada tanggal tersebut. Karena jawabannya ada di Keukenhof. Dan perjalan mereka di iringi dengan mobil pemberian Suigetsu. Reng Rofer putih.

"Ini untuk kami?" Tanya Naruto seolah tak percaya. Di depannya kini terparkir mobil putih dengan pernak-pernik pengantar pengantin di depannya Dan dari Suigetsu sendiri ia dengar ini adalah hadiah pernikahan mereka. Lengkap dengan mobil sewaan yang penuh dengan barang-barang mereka. Entah kapan beres-beresnya?

Sementara Itachi dan Sasuke hanya tersenyum. Rencana liar mereka memang belum dibocorkan. Membuat Naruto hanya diam terbingung. Mau kemana mereka?

"Kita berangkat sekarang." Perintah Sasuke. Menyadarkan Naruto dari lamunannya.

"Kemana?" Tanya Naruto polos.

"Bulan madu. Kemana lagi?" Sasuke menaikan alisnya. Sementara yang lain tertawa.

"Memangnya kita mau bulan madu berapa hari? Kenapa barangnya di bawa semua?" Masih berlanjut kepolosan Naruto.

"Seminggu tak akan cukup bagiku bulan madu Dobe." Sasuke mulai ingin mengerjai Naruto. Sementara Naruto hanya membayangkan dengan ngeri. Seminggu kurang? Dia bisa tidak ya?

"Jangan dengarkan dia. Kau akan pindah ke Amsterdam. Itu menjelaskan mengapa barng-barangmu harus dibawa semua. Apa itu sudah cukup?" Itachi menjelaskan dengan sifat dewasanya. Sebenarnya masih banyak pertanyaan Naruto. Tapi akhirnya ia memilih mengangguk mengerti.

Tepat pukul sebelas siang. Mereka meninggalkan kota Haerlem. Menuju tempat baru mereka Amsterdam. Diiringi dengan ucapan 'selamat menempuh hidup baru' dan 'semoga bahagia' yang hanya di lontarkan oleh lima orang. Akhirnya mereka pergi.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Sasuke mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Tapi bisa di bilang cepat. Menuju salah satu hotel di Keunkenhof. Sengaja memang Sasuke tak langsung menuju apartemennya di Amsterdam. Karena itu bagian pengangkut barang. Dan mereka. Bulan madu tentu saja.

Ini adalah pertengahan hari dimana tulip-tulip di belanda tepatnya di Holand selatan bagian Keunkenhof dapat dilihat. Tulip-tulip ini hanya bisa di lihat dari tanggal dua puluh maret hingga delapan belas mei.

Satu jam kemudian mereka sampai di depan Hotel de Duif. Tempat menginap mereka selama di Lisse. Sasuke dengan cekatan menangani masalah kamar yang ternyata telah di boking jauh-jauh hari. Hal ini di tujukan untuk menghindari kehabisan kamar karena telah memasuki musimnya wisatawan.

Dan tak tanggung tanggung. Kamar hotel berukuran enam kali delapan meter dengan kemewahan di dalamnya di sewa dengan jangka waktu dua pekan. Jangan di tanya berapa biayanya dan siapa yang menanggungnya.

Kasur berukuran besar dengan lebar dua setengah meter kali tiga meter menyambut mereka tepat di tengah kamar yang langsung menghadap taman-taman kecil penuh tulip. Menambah keindahannya.

"Kau ingin jalan-jalan dulu. Apa langsung berperang." Ucap Sasuke seraya membopong Naruto di dadanya.

"Ja-Jalan-jalan." Jawaban Naruto dengan wajah malu. Sedikit gugup. Masak langsung ke acara utama.

"Baiklah. Tapi nanti malam harus siap ya?" Tanya Sasuke jahil. Di dudukannya Naruto di pahanya yang kini telah duduk di pinggiran kasur. Sementara Naruto hanya mengangguk lemah.

"Aku cinta kamu Dobe." Ucap Sasuke sembari mencium kening Naruto. Sementara tangan Naruto yang ia lingkarkan di leher Sasuke terus mengusap0usap helaian hitam itu.

"Kau terus-menerus mengucapkannya Teme. Sampai bosan aku." Balas Naruto.

"Aku akan tetap terus mengatakannya. Sampai kapanpun. Tiga kali sehari minimal." Lanjut Sasuke.

"Ya. Ya. Asal jangan menyerangku tiga kali sehari, minimal." Ucapn Naruto. Sasuke tersenyum.

"Apapun untukmu. Mijn vrouw (istriku)." Ucap Sasuke lalu mencium bibir Naruto. Dengan senang ati Naruto membalasnya.

"Kita jalan-jalan sekarang?" Tanya Sasuke. Naruto mengangguk.

"Tapi makan dulu." Rengek Naruto manja.

"Asal jangan ramen pasti aku belikan." Sasuke menyentil hidung Naruto. Naruto mengangguk setuju.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Disinilah mereka. Di sebuah taman di dekat jalan Lisse. Di jembatan yng menghubungkan taman tulip satu dengan taman tulip lainnya. Di antara orang yang lalu lalang menikmati pemandangan ribuan bunga tulip.

Sasuke kini tak akan segan-segan menggenggam tangan Naruto layaknya pasangan lainnya. Menjaga si pria kecil dari senggolan orang yang berlalu lalang. Melintasi jembatan sepanjang lima meter dengan suguhan tulip merah muda kuning dan biru yang di tata sedemikian rupa di bagian kanan. Dan tulip ungu oranye dan putih di bagian kanan. Dan haparan tulip merah sebagai tatan utamanya di ujung jembatan.

Dilanjutkan dengan aksi bersepeda bersama mengitari taman-taman lainnya yang tak kalah indahnya yang jumlahnya lumayan memaksa mereka memilih bersepeda. Sebenarnyasih Sasuke kasian kalau Naruto kecapean. Rencana nanti malam pasti akan batal.

Perjalan mereka di akhiri hingga pas ataman utama. Taman bunga terbesar di dunia. Kini di depan mereka terhampar ribuan bahkan puluhan ribu bunga tulip aneka warna yang terhampar di lahan seluas tiga puluh dua hektar.

"Kau tau mengapa aku memilih Belanda?" Tanya Sasuke saat mereka beristriahat di sebuah pendopo. Naruto menggeleng.

"Aku jatuh cinta pada tempat ini saat sering mengunjungi Itachi sewaktu kuliah dulu. Cita-citaku satu. Membawanya kesini. Seorang yang aku cintai." Sasuke merangkul bahu Naruto.

"Ingat waktu aku memintamu menjadi kekasihku?" Tanya Sasuke lagi. Naruto mengangguk.

"Tulip waktu itu langsung dikirim dari sini."

"Benarkah?"

"Tentu saja."

"Aku tersanjung jika benar begitu." Naruto meletakkan kepalanya di bahu Sasuke. "Kau tak menyesal Teme. Memilihku dan menjadi seperti buronan dalam keluargamu sendiri?" Tanya Naruto.

"Mengapa aku harus menyesal. Kau akan menyemangatiku 'kan?" Sasuke balik bertanya.

"Tentu. Aku sudah janji pada ibumu." Jawab Naruto yakin. Sasuke tersenyum.

"Lalu apa yang harus aku sesalkan Dobe?"

"Aku tak bisa memberiku anak." Tatapan Naruto mendadak sayu.

"Aku tak akan mempermasalahkannya. Kita akan mengadopsinya jika kau mau." Sasuke menarik Naruto dalam dekapannya.

"Iets voor u (Apapun untukmu.)"

"Wil je me kussen? (maukah kau menciumku?)" Tanya Sasuke.

"Apa artinya?" Tanya Naruto.

"Ini artinya." Jawab Sasuke dan langsung mencium Naruto. Ciuman panas di tengah banyak orang. Seolah tak memperdulikan siapapun.

Warning... Entah ini masih di anggap lemon apa enggak. Yang jelas author masih menghindari ini. Tapi aku tetap menjelaskan situasinya. Dibaca untuk teenager masih layak. Menurutku sih...

Sasuke mengehempaskan tubuh Naruto di ranjang ereka. Setelah mengendongnya layaknya pengantin sejak di pintu masuk tadi. Sebenarnya seluruh badan Naruto terasa pegal dan capek. Namun rasa ikhlas saat melayani pasangan hidupnya menjadikan tenaga lain untu Naruto.

Dengan pasrah Nartuo terima saat dengan kasar Sasuke melepas pakaian dari tubuhnya. Menciumi badannya yang dulu hanya berani sebatas bibir dan leher. Menjamah hal yang belum pernah disentuh orang lain. Menciptakan tanda-tanda kepemilikan bahkan dibagian yang tidak wajar.

Dan penyatuan itu terjadi. Sasuke di dalam Naruto. Meghimpit jarak yang tadi tercipta. Menimbulkan rasa yang dulu tak pernah ada. Melayang. Melahirkan bisikan-bisikan penuh dorongan untuk bertindak lebih. Dan Naruto menyukainya.

Diberikannya hal yang bisa membayar sakit yang tadi Naruto terima. Memperoleh balasan setimpal dari apa yang ia berikan. Dan akhirnya Sasuke mencapai apa yang ia cari. Memenuhi bagian yang bisa menampung dalam diri Naruto. Menyalurkan apa yang disebut kepuasa.

Naruto tak kalah bahagia. Dapat dirasakan hal tak pernah di pikirkan olehnya. Dengan sebuah tarikan nafas dan ditahan selama selama beberapa detik. Naruto menyebutkan sebuah nama dengan lantang dan percaya diri. Sasuke.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Naruto menggeliat dalam tidurnya. Dan terbangun saat dirasaknnya sesuatu sedang menyentuh bagian puncak kepalanya. Helaian halus pada rambutnya.

"Goedemorgen (selamat pagi.)" Ucap Sasuke saat Naruto telah berhasil membuka kedua matanya.

"Goedemorgen ook (selamat pagi juga.)" Balas Naruto seraya berusaha untuk duduk.

Sasuke duduk dipinggiran ranjang. Entah kapan ia bangun. Naruto tak sadar. Tapi Sasuke terlihat telah rapi dan bersih. Celana trining dan kaos dongker membalut tubuhnya. Rambut yang basah menandakan bahwa ia telah selesai mandi.

"Jangan duduk dulu. Tetap berbaringlah Dobe." Sasuke menahan usaha Naruto. Awalnya Naruto tak mengerti. Mengapa Sasuke mendadak memanjakannya seperti ini. Tapi saat ia berusaha menggerakkan tubuhnya. Ia tahu jawabnnya.

"Terima kasih ya? Untuk semalam." Ucap Sasuke seraya mencium dahi Naruto.

"Jangan mengingatkan aku Teme. Aku malu." Ucap Naruto. Sasuke tersenyum.

"Aku tak akan membahasnya." Sasuke mengalah.

"Teme?" Panggil Naruto.

"Apa?"

"Aku bahagia." Naruto mengatakannya dengan kepala tertunduk malu.

"Aku juga." Balas Sasuke sambil menggengam tangan Naruto.

"Satu lagi."

"Apa?"

"Aku lapar." Ucap Naruto dengan senyum lebar.

"Tunggulah disini. Akan kucarikan ramen." Ucap Sasuke seraya hendak berdiri.

Sasuke keluar hotel dengan perasaan lega. Segar. Bersemangat. Bagaimanapun hal semalam benar-benar memberikan kekuatan lebih untuk memanjakan Naruto pagi hari ini. Sebagai balas rasa budi.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

To Be Continued.


Maaf ya Minna...
Lama updatenya...
Sampek di PM segala lagi...

Hal ini gara-gara...
Ane sibuk bantuin mama...
biasa...
persipan lebaran...

Untuk next chap...
Naruto hamil...
beserta penjelasannya...

Banyak yang tanya rate M untuk apa...
di summary udah di kasih tau kalo bukan untu lemon...
itu untuk scene berdara...
aku ingin ingin heroic nanti pas Naruto ngelahirin...

Hehe...
ditunggu ya?
Makasih minnaaa