Disclaimer
Naruto
© Masashi Kishimoto
Pairing
SasuNaru
Warning
M-Preg, Yaoi, Boy's Love, Sho-ai, Ooc tingkat dewa
Typo(s) bertebaran. Ini udah penyakitku.
Romance/Hurt/Comfort/Angst?
Rate M
Bukan untuk adegan 'lemon'.
Melainkan untuk Hardcore/Scene berdarah.
Muncul sewaktu Naruto melahirkan.
Summary
Naruto Sakit. Dia sekarat.
Menjelang kelahiran bayinya dia berpesan.
'Teme. Jaga anak ini untukku.'
M-Preg, It's Not My Destiny
© Kanami Aya
Status
In-Progres
Chapter 7
zwanger
Don't Like Don't Read
RnR
.
.
.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Cerita Sebelumnya
"Terima kasih ya? Untuk tadi malam." Ucap Sasuke seraya mencium dahi Naruto.
"Jangan mengingatkan aku Teme. Aku malu." Ucap Naruto. Sasuke tersenyum.
"Aku tak akan membahasnya lagi." Sasuke mengalah.
"Teme?" Panggil Naruto.
"Apa?"
"Aku bahagia." Naruto mengatakannya dengan kepala tertunduk malu.
"Aku juga." Balas Sasuke sambil menggengam tangan Naruto.
"Satu lagi."
"Apa?"
"Aku lapar." Ucap Naruto dengan senyum lebar.
"Tunggulah disini. Akan kucarikan ramen." Ucap Sasuke seraya hendak berdiri.
Sasuke keluar hotel dengan perasaan lega. Segar. Bersemangat. Bagaimanapun hal semalam benar-benar memberikan kekuatan lebih untuk memanjakan Naruto pagi hari ini. Sebagai balas rasa budi.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Seperti yang telah di rencanakan. Semua berjalan lancar. Dua minggu mereka habiskan waktu bersama di Keukenhof tepatnya di daerah Lisse.
Bulan madu yang di harapkan akan terasa indah terbayar dengan senyuman yang selalu mampir di bibir Naruto setiap setengah jam bila memingat bagaimana sentuhan-sentuhan yang di berikan oleh Sasuke. Baik disaat pertama, bahkan hingga kini mereka harus meninggalkan kota indah ini. Tiada hari tanpa membuat Naruto menyebut namanya. Dan itu sudah cukup bagi Sasuke.
Sebenarnya jika di tanya, Naruto masih betah berada disini. Masih ingin lebih lama tinggal di area dimana ia bisa menikmati tulip meski hanya berbunga dan mekar setahun sekali.
Tapi rencana-tetaplah rencana. Semanja apapun Naruto meminta untuk tinggal lebih lama tetap saja Sasuke tak mengabulkannya. Alasannya jelas. Dia harus bekerja. Panggilan tumpukan tugas dari dua minggu libur memaksa Suigetsu untuk menegurnya.
Sekali lagi Sasuke masih harus bersukur karena marga dan kakaknya. Kalau bukan karena Itachi mungkin sekarang Sasuke masih bingung mencari pekerjaan. Meski ia menjadi lulusan dari SMA terbaik tak akan mengantarkannya pada pekerjaan yang layak.
Dan bersyukurlah akibat darah Uchiha yang mengalir dalam dirinya membuat ia naik jabatan dengan mudahnya. Kini ia bekerja di bagian Departemen Media (Media Departement). Di departemen yang mengevaluasi, merencanakan dan memilih di media apa, kapan, dan berapa sering pesan iklan itu harus dimuat atau dipasang untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Di departemen ini terdapat Media Planner, Media Buyer, dan Media Director atau Media Manager. Mereka bersama-sama Account Director dan Creative Director ( jabatan Sasuke terdahulu. Masuk departemen kreatif dan berada di bawah Departemen Media ) merancang dan menentukan media strategy.
Maka dari itu. Dengan jabatan di departemen barunya kali ini. Pekerjaan yang akan di tanganinya tidak lagi main main. Seperti halnya dulu yang hanya berkutat dengan komputer. Sebenarnya Sasuke juga masih merasa kurang. Sekaligus tidak tega menolak ajakan Naruto yang sebenarnya ia juga mau. Tapi sekali lagi Sasuke tegaskan, ia harus kembali bekerja.
"Diamlah Dobe. Lain kali kita akan kesini lagi." Sasuke mendelik kesal untuk sekian kalinya saat Naruto menggelanyut manja di lengannya. Menyusahkan dirinya untuk memereskan semua pakaian mereka.
"Lain kali kapan? Jatah liburmu sudah habis di pakai untuk pernikahan." Naruto tetap pada perinsipnya. "Kita tinggal disini ya? Pulang kerja kau langsung kesini." Masih coba merayu.
"Biaya hidup di daerah ini mahal Dobe. Kau mau boros ya?" Sasuke menepis lengan Naruto.
"Ck. Teme aku mohon." Naruto mengatupkan kedua tangannya. Memelas. Sasuke mendesah. Dia paling tidak bisa melihat prilaku Naruto saat benar-benar memohon. Membuatnya terlihat lemah. Membuatnya harus dilindungi. Memaksa Sasuke mengabulakan permintaannya.
"Lain kali. Aku janji. Tapi jangan sekarang. Aku baru naik jabatan. Akan aku tabung agar bisa membangun rumah kita sendiri disini. Bagaimana?" Sasuke mencoba membuat pilihan. Yah sedikit membuat Naruto tenanglah.
"Benarkah?" Tanya Naruto girang. Sedikit melupakan kenyataan bahwa menabung untuk membangun rumah membutuhkan waktu bertahun-tahun.
"Aku janji. Asalkan..." Kalimat Sasuke menggangntung.
"Apa?"
"Layani aku dengan baik saat kita sampai di Amsterdam." Sasuke menarik pinggang Naruto dan mengarahkan ke badannya. Sebelah tangannya menyibak poni yang kini mulai tumbuh menutupi bagian mata Naruto.
"Iets voor u mijn man (Apapun untukmu, suamiku.)" Ucap Naruto sambil mencium singkat bibir Sasuke. Bagahagia. Sangat bahagia. Itulah yang Sasuke rasakan.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Itachi baru melangkahkan kakinya memasuki pelataran apartemnnya saat di sadarinya ayahnya kini tengah berdiri di ambang pintu. Dengan pawakan tegas. Tak luput gaya melipat tangan di depan dada yang menjadi ciri khas seorang Uchiha Fugaku.
"Dimana kau sembunyikan adikmu?" Fugaku bahkan bertanya saat Itachi belum benar-benar keluar dari mobilnya.
"Apa maksud ayah? Aku tak menyembunyikannya." Itahi menjawab santai. Seperti biasanya.
"Jangan bohong. Kau baru pulang dari luar negeri. Negara mana? Belanda? Aku sudah mengecek bekas rumahmu dulu. Tapi Sasuke tak ada. Kau sembunyikan dimana dia?" Fugaku menghampiri putra sulungnya tersebut. Menghadapkan mata onyx yang jelas kentara menurun pada Itachi.
"Jika ayah sudah mengatakan tak menganggpnya anak tepat di hadapnnya. Seharusnya ayah tak usah mencarinya lagi." Itachi tetap pada pendiriannya. Bungkam.
"Jangan lancang kau. Kau mau adikmu berubah menjadi sesat?" Fugaku menaikan alisnya saat mengatakan kata terakhir.
"Tidak ada salahnya jika ia bahagia kan? Dan aku hanya ingin mengatakan bahwa Sasuke kini sudah lebih bahagia dan dewasa." Itachi menyingkir. Meninggalkan ayahnya begitu saja.
"Aku tak peduli. Jika kau sukses dengan cara yang benar. Aku tak mau anakku yang lain keluar dari kebiasan dan peraturan di keluarga kita." Kini jari telunjuk Fugaku ikut ambil dalam pembicaraan itu.
Langkah Itachi terhenti. "Kebiasaan yang mana? Peraturan yang mana? Ayah masih ingin memaksanya menjadi seperti yang ayah inginkan?"
"Ini untuk kebaikannya."
"Kebaikan yang mana? Menjadi mesin bagi keluarga sendiri." Kini Itachi kembali membalikan badannya menghadap Fugaku.
"Aku ingatkan sekali lagi. Jangan lancang kau Itachi!" Rahang Fugaku mengeras.
"Ayah sudah lupa? Terakhir kali ayah memaksakan kehendak, aku hampir memilih meninggalkan keluarga. Hanya saja aku sadar dan kembali. Sekarang lihat! Sasuke juga pergi kan? Apa ayah masih ingin memaksakan kehendak ayah sendiri lagi?"
Fugaku terdiam. Bukan hanya karena tatapan salinan onyx nya tersebut. Tapi juga kata-kata putra sulungnya. Masih teringat jelas di fikirannya saat Itachi dengan dinginnya memilih pergi dari nyamannya rumah karena Fugaku memaksakan sebuah pernikahan bisnis.
Kalau bukan karena Sasuke yang terus-menerus membujuknya kembali ─ kala itu masih duduk di bangku sekolah dasar. Sudah pastu Itachi dengan lantang menyatakan tak akan pernah kembali.
"Kembalikan ia padaku. Aku tak akan mendesaknya lagi."
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
"Badanmu ada yang terasa sakit?" Sasuke membantu Naruto duduk di ranjang mereka. Jam dinding telah menunjukan angka tujuh. Dan Naruto baru terbangun. Sasuke dapat memaklumi. Karena pagi hari setelah 'malam' mereka adalah saat yang menyakitkan bagi Naruto.
Sementara Sasuke? Dia sudah berjaga sejak jam lima pagi tadi. Mandi. Menyiapkan materi untuk hari ini dengan tidak melupakan membaca prosedur yang akan dilaksanakannya di jabatan barunya. Menyiapkan sarapan untuknya dan Naruto tepat pukul setengah tujuh. Dan jam setengah delapan ia sudah harus berada di kantor.
"Kau sudah akan berangkat kerja Teme?" Tanya Naruto setelah melempar senyum menjawab pernyataan Sasuke bahwa ia baik-baik saja.
"Suigetsu telah menelponku. Dia bilang sekarang acara pembukaan selamat datang untuk pegaiwai baru dan yang naik jabatan. Setelah itu akan langsung membahas proyek." Sasuke mundur, kembali memakai dasi yang tadi sempat tertunda.
Pagi ini Sasuke terlihat tampan bagi Naruto. Bohong~ Sebenarnya Sasuke selalu terlihat tampan. Tapi kali ini berbeda. Mungkin karena hari ini Sasuke memakai dasi pemberiannya. Dasi berwarna merah denan motif garis miring yang memanjang. Terlihat kontras dengan kemaja putihnya.
"Boleh ku rapikan?" Tawar Naruto. Meski telah yakin dasinya sudah rapi, Sasuke tetap melangkah mendekati Naruto. Membungkukan badannya agar mudah di capai oleh Naruto tanpa membuat pria bersurai pirang itu banyak bergerak.
Dengan tetap merapikan dasi yang sudah rapi Naruto bertanya. "Aku bosan berada dirumah terus. Boleh aku ikut bekerja?"
"Kita sudah pindah ke Amsterdam Dobe. Bukankah itu sudah cukup?" Sasuke memakai jasnya.
"Tapi aku tetap merasa bosan jika harus menunggumu hingga jam tiga sore." Naruto memunculkan wajah memelasnya. "Aku bisa ikut bekerja denganmu Teme!" Kini jurus mata yang Naruto keluarkan.
"Kau? Di Advertising? Besamaku?" Sasuke menggelengkan kepalanya. Tanda tidak setuju.
"Kenapa?" Tanya Naruto heran.
"Pertama. Dengan tingkah selebormu kau tak akan cocok bekerja di periklanan. Kedua," Sasuke menghentikan langkahnya saat ingin keluar dari kamar mereka. "Aku tak mau memperkenalkanmu sebagai rekan kerja. Mengerti kau Dobe? Dan jangan lupa. Makan sarapan yang aku buat. Jangan hanya Ramen." Sasuke memunculkan watak kerasnya. Sebgai kepala rumah tangga.
Naruto ingin membantah. Sebenarnya sudah banyak alasan yang Naruto rencanakan untuk membuatnya tetap di perbolehkan bekerja. Namun melihat keseriusan Sasuke, niat yang semalam menyala mendadak mati. Menghilang.
"Terserahlah. Aku mau tidur saja." Ucap Naruto akhirnya. Mengalah. Lebih baik beristirahat. Dari pada berdepat dengan kepala batu.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Seperti dugaannya. Hari ini dan kedepannya kesibukan akan menyambutnya. Pada posisi ini anak buahnya akan bertambah. Apalagi anggota-anggota baru yang di bawah naungannya. Sudah dapat dipastikan ia akan menjadi pengajar dadakan.
Sebut saja Karin. Dari tadi ia menjelaskan bagai mana cara kerja di media planner yang ia dapat hanya tatapan lapar darinya. Diberi denah atau alur kerja dalam kerjanya hasilnya hanya muter lagi dari awal. Membuatnya Sasuke mendesah dan mengeluh ingin cepat pulang.
Lain lagi dengan tim di media buyer. Yang terdiri dari Kidomaru, Saskon, Tayuya dan Jirobo. Mereka berasal dari perusahan perdagangan, karena merasa telah ahli, lagaknya menandakan bahwa mereka susah di atur. Dan dengan tegas Sasuke kembali mengatakan. Pada Advertising. Cara kerja Media Buyer sangat berbeda dengan Accounting.
"Ck. Kusso." Keluh Sasuke saat jam istirahat di ruangannya. Ini sudah kesekian kalinya ia mengeluh. Tapi yang membuatnya paling penat adalah tumpukan permintaan iklan yang permintaannya aneh-anaeh. Ide sama namun berbeda. Bukankah kedua kata tersebut berlawanan makna. Jadi dia harus bagaimana?
Belum lagi contoh-contoh iklan dari kesepakatan yang telah di setujui. Tumpukan tersebut harus dia cek untuk selanjutnya dirapatkan, sebelum masuk ke media creative.
Karena kesibukan itulah bahkan ia tak sempat untuk mengisi energi dengan makanan sehat. Sebagai pengantinya ia hanya mengkonsumsi suplemen dan minuman energi.
"Kau mengalami kesulitan?" Tanya Juugo yang dengan kaget menyadarkan Sasuke bahwa ia tak menyadari sekitarnya.
"Sedikit. Untuk masalah dokumen aku pasti bisa mengatasinya. Hanya saja para anggota baru sialan itu yang membuatku lelah tak bisa bernafas." Papar Sasuke seraya memijit kepalanya. Mencoba menyalurkan rasa penat.
"Aku kira Uchiha tak bisa mengeluh. Ternyata aku salah." Juugo meletakan buku pegawai di meja Sasuke.
"Bagaimana aku tak mengeluh. Kalo mereka salah masuk perusahan? Jika harus mengajari mereka satu-persatu dari awal, seharusnya perusahaan tak usah memberi mereka buku panduan. Buang biaya."
Juugo tersenyum melihat sahabatnya sewaktu SMP dulu. "Disitu ada daftar karyawan yang sudah sangat profosional. Kau bisa memilih satu atau dua orang untuk menjadi partnermu di departemen ini."
Juugo yang notabene adalah kaki tangan Suigetsu di perusahannya sudah dapat dipastikan sangat mengenal perusahan ini. Sebagai direktur keuangan ucapannya sudah pasti bisa di percaya.
Sasuke membukan buku tersebut. Dari riwayatnya ia memilih dua orang. "Aku ingin Nara Shikamaru dan Hyuga Neji menghadap padaku." Ucapnya akhirnya.
Juugo tersenyum. "Kau memilih orang yang tepat."
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Sementara di rumah Naruto mencoba menyibukan diri dengan berbagai hal. Dari bersih-bersih. Menata rumah. Berkebun. Memasak. Semua hal yang malas ia kerjan mendadak ia kerjakan. Dan mungkin tidak akan berhenti saat tiba-tiba ia merasa mual.
Di letakkannya ganggang sapu yang tadi dipegangnya. Di tekuknya lutut agar ia bisa duduk dan bersandar. Dapat ia rasakan bahwa kini keringatnya mendadak berukurang besar dan memenuhi dahinya. Tangannyapun serasa dingin dan basah.
"Ada apa ini? Kenapa terasa sangat mual?" Naruto berusaha mengurangi rasa mual dengan cara memijit kepalanya.
Dengan susah payah Naruto berusaha berdiri dan berjalan menuju ruang tengah dimana terdapat telepon rumah. Di tekannya nomor Sasuke. Berkali-kali namun tetap tak ada jawaban.
"Teme. Kau dimana? Cepatlah pulang." Naruto yang merasa kesadarannya mulai menghilang kembali menekan tombol. Namun bukan nomor Sasuke atau kantornya. Tetapi pangilan darurat.
"Aub (Tolong)." Dan kesadarannya mulai hilang.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Jam sudah menunjukan pukul setengah lima sore. Dan Sasuke masih belum beranjak pergi dari kantornya. Hari pertama kerja. Dan ia sudah memiliki deadline. Hal yang benar-benar membuatnya mengabaikan panggilan dari Naruto.
Ia sadar ia salah. Karena seharunya sejak jam tiga tadi ia sudah harus berada di rumah. Sudah pasti Naruto khawatir. Karena ia tak mengabari bahwa ia akan pulang telat. Salahkah ia jika berharap Naruto akan mengerti?
"Sasuke!" Panggil Iruka. Karyawan bagian HRD dengan muka tergesa-gesa. "Rumah sakit Sint Lucas Andreas menelpon. Katanya pemuda bernama Naruto sedang tidak sadarkan diri dan di rawat disana." Dan perkataan Iruka langsung membuat Sasuke meninggalkan semua pekerjaannya.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
"Intramurale ruimte (kamar rawat) 21A-b. Intramurale ruimte 21A-b." Sasuke terus melafalakan kamar tempat Naruto di rawat. Dan langsung memasukinya saat menemukannya setelah berbelok tiga kali di lantai empat gedung rumah sakit.
Disana ia mendapati Naruto tengah berbaring dengan pulasnya. Tidak ada infuse yang terselang. Hal tersebut sedikit membuat Sasuke merasa lega.
Dihampirinya pria yang tadi sempat tak di fikirkannya. Duduk disisi kanannya. Kemudian dibelainya lembut surai pirang Naruto. Mata safir yang tadi terpejam perlahan terbuka.
"Teme?" Panggil Naruto saat kesadarannya benar-benar pulih.
"Ssst. Aku disini." Ucap Sasuke sengan tetap membelai surai pirang tersebut. Sementara tanganny yang lain menggenggam sebelah tangan Naruto.
"Aku baik-baik saja." Naruto berusaha memberitahu keadaannya.
"Aku tahu."
Tak lama waktu berselang, terdengar bunyi ketukan pintu. Kemudian disusul dengan masuknya seorang dokter dengan tag nama bertuliskan Dr. Shizune. Dari namanya Sasuke yakin bahwa Shizune adalah orang jepang.
"Tuan Uchiha?" Sapa Shizune.
"Saya sendiri dok." Jawab Sasuke setelah melepaskan gengamanya.
"Ada yang ingin saya sampaikan. Untuk kalian." Jeda sejenak. Shizune tampak kembali mengawasi Naruto dengan dahi berkerut. Terlihat heran. "Pertama dan yang paling penting. Gefeliciteerd (Selamat). Naruto kini tengah mengandung (zwanger)." Kalimat terakhir dokter muda tersebut sukses membuat Sasuke terkejut.
"Zwanger? (Hamil?)" Ulang Naruto.
"Iya. Aneh memang. Maka dari itu saya butuh kejelasan." Shizune mengeluarkan secarik kertas dan memberikannya pada Sasuke. "Itu adalah keterangan resmi kehamilan."
"Ba-Bagaimana mungkin. Naruto adalah lelaki. Dan aku sudah membuktikannya (Wahaha ?)." Jelas Sasuke. Sementara Naruto hanya terdiam.
"Itulah yang membuat saya heran. Pertama saat Naruto datang dan mengeluh pusing dan mual saya kira dia hanya kelelahan. Tapi Naruto memaksa saya untuk tes kehamilan dan hasilnya positif."
"Bagaimana mungkin? Bukankah yang hamil hanyalah wanita?" Sasuke masih tidak percaya.
"Shizune-san. Tolong cek DNA saya." Ucap Naruto tiba-tiba. Membuat Sasuke dan Shizune menatapnya.
"Baiklah." Ucap Shizune pada akhirnya.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
"Tidak mungkin." Ucap Shizune saat melihat hasil tes DNA Naruto.
"Tolong beritahu saya." Sergah Sasuke.
"Aku tak percaya hal ini bisa terjadi." Tanpa menjawab pertanyaan Sasuke. Shizune bertanya pada Naruto. "Naruto-kun. Apakah kau dulunya seorang wanita?"
"Jadi dugaanku benar." Naruto seolah menjawab pertanyaannya sendiri.
"Naruto jawablah." Cukup. Habis sudah kesabaran Sasuke dengan teka-teki ini.
"Ya. Dulu aku seorang wanita. Aku dilahirkan dengan jenis kelamin wanita. Namaku dulu adalah Naruko. Tapi sejak usia tiga tahun fisikku mulai berubah. Dan saat usia tujuh tahun aku resmi menjadi seorang anak laki-laki. Seorang Naruto. Begitulah yang aku dengar dari ibuku." Jelas Naruto.
"Pantas saja susunan kromosommu tidaklah wajar." Shizune memperlihatkan isi lembaran tersebut dengan meletakkan di meja ruangannya.
"Wajarnya seseorang akan memiliki kromosom xx untuk wanita, dan xy untuk pria. Tapi Naruto berkromosom (x)xy. Dari hasil yang saya baca. Sepertinya Naruto mengalami fail of transgender.
Perubahan jenis kelaminnya mengalami kegagalan. Sehingga saat gen prianya mulai muncul. Gen wanita yang ia bawa sejak lahir tidak dapat sepenuhnya hilang.
Kelebihan unsur kromoson x inilah yang membuat Naruto dapat mengandung. Meski unsur kromosom xy pembawa gen prianya yang lebih dominan. Unsur kromosom x pembawa gen wanitanya tak dapat menghilang dan terbentuk seolah membayangi. Karena unsur kromosom x pembawa gen wanitanya ikut berkembang di bagian dalam. Yakni rahim dan ovarium.
Namun karena Naruto memiliki fisik prianya. Serviks Uteri atau jalan yang membawa sel sperma menuju sel telur berawal dari.." Penjelasan Shizune terhenti. Ia terlihat ragu. "Menjadi satu di anus."
Kasus transgendernya juga menyebabkan proses menstruasi yang biasanya terjadi pada wanita pada kasus Naruto menjadi satu dengan tinjanya. Namun karena anus tidak diciptakan se-elastis vagina saya sarankan untuk kalian memikirkannya apakah akan melanjutkan kandungan atau menggugurkannya. Kini usia andungannya baru delapan hari. Masih bisa jika ingin digugurkan. Karena tidak mungkin melahirkan dari lubang tersebut." Papar Shizune akhirnya.
"Tidak. Aku akan merawatnya. Aku tak akan membunuhnya." Naruto mundur sambil memegangi perutnya yang masih rata.
"Naruto-kun. Kasus ini tak pernah terjadi. Kau akan membahayakan nyawamu." Cegah Shizune.
"Bukankah kita bisa oprasi?" Tawar Naruto.
"Hamil bukanlah hanya perkara melahirkan nantinya. Tapi perkembangannya di dalam rahim juga penting." Lanjut Shizune.
"Aku pasti bisa. Anak ini sudah memilihku menjadi ibunya. Aku tak akan mengecewakannya." Setetes cairan bening mulai jatu turun membasahi pipi Naruto.
"Uchiha-san. Tolong peringatkan Naruto." Shizune berharap bantuan.
"Kita berjanji akan menjadi orangtua yang baik. Saya mendukung apa yang Naruto pilih." Sasuke bersiri dari bangkunya dan membungkuk. "Terimakasih banyak atas perhatiannya." Seelah itu Sasuke merangkul Naruto yang masih sesegukan menangis. Keluar ruangan Shizune.
"Aku tak ingin melepasnya Teme. Aku ingin menjaganya." Ucap Naruto selama perjalanan.
"Aku mengerti. Aku juga akan menjaganya." Balas Sasuke.
Mereka pulang menggunakan taxi karena Sasuke merasa lebih nyaman untuk menenangkan Naruto. Lima belas menit kemudian barulah mereka sampai. Setelah membayar, Sasuke kembali merangkul Naruto. Membawanya masuk dan mendudukannya di sofa.
"Hei Dobe. Lihat aku." Sasuke mengarahkan wajah Naruto padanya. Karena kini Naruto terlihat lemah.
"Aku bilang aku juga akan menjaganya. Apa itu kurang kau fahami Dobe?" Tanya Sasuke lembut.
"A-Apa kau me-menyayanginya? Apa kau menginginkannya?" Tanya Naruto tak kalah lembut.
Sasuke yang mendengarnya beranjak turun dan bersimpuh didepan Naruto. Digengamnya tangan yang terasa dingin itu.
"Ya. Aku menyanginya. Maka dari itu aku akan menjaganya. Karena aku menginginkannya. Dan percayalah Dobe. Aku bahagia. Terima kasih kau akan memberikanku keturunan. Melengkapkan hidupku."
"Kau serius Teme?" Naruto masih merasa tak yakin. "Apakah aku menjijikann?"
"Sssst. Aku terima kamu apa adanya. Dalam keadaan susah maupun senang. Ingat?" Sasuke masih mencoba menenangkan Naruto. Kemudian kepalanya terjulur mencium perut Naruto yang masih rata namun sudah pasti ada diri mereka di dalamnya.
Merasa terharu Naruto memeluk kepala Sasuke dan menciumnya. Merasa ada balasan Sasuke mengadah mencoba mendapatkan bibir Naruto. Dan mereka berciuman. Ciuman yang lembut dan tidak dominan. Terasa sangat nyaman bagi Naruto.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Setelah di yakinkan dengan cukup lama. Akhirnya Shizune mau di ajak berkompromi. Tetap menjaga kehamilan dan merahasiakan keadaan Naruto. Ia tak mau semua orang tau jika ada seorang laki-laki hamil. Termasuk orang tua mereka. Yang mengerti keadaan Naruto hanyalah mereka berdua. Bahkan Itachi kini tidak tahu.
Shizune menyarankan tidak ada aktifitas ranjang selama tiga bulan pertama dan tiga bulan terakhir. Sementara tiga bulan kedua lebih baik dihindari atau setidaknya di kurangi. Mengingat kehamilan Naruto yang tidak normal di takutkan akan berpengaruh.
Dan bagi Sasuke itu berarti tidak ada sex selama kehamilan Naruto. Karena ia telah mengenal sex tidak bercinta selama itu adalah hal sulit. Namun demi Naruto ia rela.
"Kau ingin makan apa hari ini?" Tanya Naruto saat dilihatnya Sasuke sudah bangun.
Ada perubahan besar selama kehamilan Naruto. Seperti halnya bersih-bersih. Naruto mendadak berubah menjadi sosok yang mencintai kebersihan. Jika pada hari biasa ia akan menjadi kebo alias bangun siang. Kini Naruto selalu bangun lebih dulu darinya. Dan jika di tanya kenapa bangunnya pagi sekali. Naruto akan menjawab 'Aku mendadak sering buang air kecil. Jadi susah tidur lagi'.
"Apapun yang tidak membuatmu terlalu lama berdiri." Jawab Sasuke. Mendengarnya Naruto tersenyum. Dan pilihan Naruto jatuh pada tomato omurice. Sejenis masakan nasi goreng yang di balut telur. Khusus untuk Sasuke. Nasi goreng dan telurnya di beri tomat.
Sepuluh menit kemudian makanan terebut telah tertata rapi di meja makan. Lengkap dengan salad buah sebagai penutupnya. Karena semenjak hamil Naruto berubah menjadi pecinta buah dan sayur.
"Sasuke. Sepulang kerja nanti belikan aku jarum pemintal dan benang wol. Aku ingin mulai merajut." Ucap Naruto sat suapan pertama. Sasuke yang mendengarnya menaikan sebelas alisnya tidak yakin. Meski banyak perubahan sikap. Sasuke masih ragu dengan Naruto yang berada di depannya.
"Aku bisa belajar lewat internet atau membayar pelatih. Jangan remehkan aku Teme." Mendengarnya Sasuke hanya menunjukan epresi datar.
Selesai sarapan Sasuke mempersiapkan diri untuk berangkat kerja. Dengan telaten Naruto menyiapkan dasi dan jas Sasuke, lalu membawakan tas jinjingnya kemudian menunggu Sasuke yang tengah emasang sepatu.
"Ik vertrok (aku berangkat)." Ucap Sasuke akhirnya setelah menerima tas jinjingnya.
"Wees voorzichtig op de weg (hati hati di jalan)." Balas Naruto. Setelahnya Naruto hanya mampu memandang punggung Sasuke.
Namun baru lima langkah Sasuke berhenti dan berbalik. Ditatapnya wajah Naruto yang seolah mengatakan jangan pergi atau cepatlah pulang.
Untuk meyakinkan pemikirannya. Sasuke kembali menghampiri Naruto dan mengusap pipi Naruto. Setelah itu ia dekatkan bibirnya dan mengecup lembut kening Naruto. Kemudian berjongkok
"Hati-hati dirumah ya? Otou-san akan cepat pulang. Jangan nakal di dalam sana." Ucapnya sambil mengelus perut Naruto.
"Apakah sudah cukup?" Tanya Sasuke. Dengan pasrah Naruto mengangguk dan tersenyum.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Ibu hamil tetaplah ibu hamil. Tak pedulia ia pria ataupun wanita. Karena rasa ngidam pasti akan muncul. Dan hal itu juga terjadi pada Naruto. Berkali-kali ia menekan tombol next pada remote untuk menganti sakuran televisinya. Pikirannya gelisah. Dari tadi yang ada di pikirannya hanya Sasuke.
Mandi sudah. Bersih-bersih sudah. Berkebun sudah. Membuat makanan siang sudah. Bahkan memasak masakan malampun sudah ia siapkan. Hanya demi mengalihkan rasa ingin bertemu yag amat sangat pada Sasuke.
Dan akhirnya saat jam sudah menunjukan pukul dua siang. Naruto memutuskan akan menjemput Sasuke di kantornya.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Sasuke yang baru akan istirahat sebelum membereskan dokumennya untuk di jadikan 'PR'nya di rumah, kaget mendapati sosok pria berambut pirang yang sangat ia kenal tengah duduk di lobi.
"Dobe?" Sapa Sasuke setengah tak percaya. "Sedang apa kau disini?" Tanya Sasuke.
"Aku ingin bertemu denganmu. Tapi karena takut menganggumu, akhirnya aku memilih menunggumu disini." Jelas Naruto. Dari espresinya Sasuke bisa mengetahui bahwa Naruto terlihat senang dan lega saat mendapatinya.
"Untuk apa? Sebentar lagi juga aku pasti pulang." Sasuke duduk tepat di samping Naruto "Apa kau kelelahan?" Tanya Sasuke. Naruto menggeleng.
"Usahakan jangan terlalu lelah. Kau ingat perkataan Dr. Shizune? Kandunganmu masih dalam tahap rentan." Sasuke memperingatkan.
"Jangan salahkan aku Teme. Salahkan dia!" Protes Naruto sembari mengusap-usap kandungannya. Sasuke tersenyum.
"Ada apa kau kemari?" Tanya Sasuke sabar.
"Entahlah. Mendadak aku ingin melihatmu."
"Kau sudah makan?" Sasaku menyingkirkan helaian rambut yang menurut Sasuke menghalanginya menatap safir biru Naruto.
"Aku sudah masak. Tapi belum ku makan. Mual."
"Cobalah untuk menahannya. Kau tak ingin bayi kita kekurangan asupan 'kan?" Sasuke mengecilkan suaranya saat menyebut 'bayi kita'.
"Aku akan memakannya jika melihatmu. Jika tidak entah rasanya saat mual." Tidak ada salahnya manja pada usami sendiri 'kan? Toh ia sedang hamil. Butuh perhatian lebih.
"Baik-baik. Kita jalan sambil cari makan. Setelah ini aku akan menemuimu lagi. Aku masih ada beberapa urusan." Sasuke mengalah. Kali ini ia harus ekstra sabar menghadapi tingkah Naruto.
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
"Aku mau ini." Tunjuk Naruto pada pedagang manisan yuppi di pinggir jalan.
"Kau mau anak kita obesitas karena kau makan banyak makanan manis?" Cegah Sasuke.
"Kalo begitu aku mau ini." Kini Naruto menunjuk deretan jajanan yang berbumbu pedas.
"Kau ingin membunuhnya?" Sasuke heran dengan pilihan Naruto. "Itu saja." Sasuke menunjuk penjual asinan buah di ujung jalan.
"Mana kenyang Teme?" Protes Naruto.
"Manisan juga gak akan bikin kenyang 'kan?" Bantah Sasuke.
"Baiklah ini saja." Naruto menghampiri pedagang hamburger. "Tolong berikan saya satu porsi dengan tiga lapis daging dan ekstra selada." Pesan Naruto dengan logat Belanda kaku.
"Terima kasih sudah memesan dagangan kami." Ucap sang penjual. "Teman anda terlihat mooi (cantik) tuan." Komentar pedagang tersebut pada Sasuke. Dan sambil meneruskan membuat pesanan Naruto ia melanjutkan. "Tapi lebih baik lain kali panjangkan saja rambutnya. Akan terlihat lebih feminim."
"Dia terlihat seperti wanita?" Tanya sasuke meyakinkan maksud komentar sang penjual.
"Tentu saja. Meski rambutnya seperti pria. Saya masih bisa tau bahwa ia wanita." Jelas sang penjual.
Sasuke memerhatikan penampilan Naruto. Dengan celana panjang yang terbuat dari katun dan t-shirt yang ditutup jaket Naruto sebenarnya masih terlihat seperti pria. Tapi karena rambut Naruto yang mulai memanjang dan berponilah yang menimbulkan kesan tomboy pada diri Naruto.
"Hij is niet mijn vriend. Ze is mijn vrouw (Dia bukan teman saya. Daa istri saya.)" Ucap Sasuke dengan bangga.
"Sorry voor mijn fouten (Maafkan atas kesalahan saya.)" Setelah selesai meracik, sang penjual menyerahkan pesanan Naruto sambil kembali berkata "Deze bestelling voor uw mooie vrouw (ini pesanan untuk istri anda yang cantik.)" Naruto yang mendengarnya hanya tersenyum malu.
Setelah itu mereka pergi menjauh. Karena komentar yang diberikan penjual berger tersebut, dengan yakin Naruto merangkul lengan Sasuke manja. Berharap yang lain akan menganggapnya wanita tomboy juga.
"Aku akan memanjangkan rambut. Ya. Aku akan memanjangkannya." Ucap Naruto selama perjalanan.
Sementara sasuke hanya menuruti tingkah bmanja Naruto dengan merangkul pinggang Naruto. "Yang penting bagiku tiga bulan pertama cepatlah berlalu." Ucapnya.
Naruto yang mendengarnya hanya mencubit lengan Sasuke. "Teme mesum." Ucapnya.
"Kau tak ingin menciptakan Uchuha-Uchiha junior lainnya." Kali ini Sasuke terus menggoda Naruto.
"Cukup. Membayangkan kau akan melakukan 'itu' membuatku mual." Protes Naruto.
"Ok. Ok. Aku tak akan membahasnya." Sasuke mengalah. Dari pada sang calon ibu menolok tak ingin makan. "Kita mau kemana setelah ini?" Tanya Sasuke mengalihkan pembicaraan.
"Toko bayi." Ucap Naruto.
"Untuk apa? Kan masih lama."
"Tapi aku ingin kesana Teme."
"Untuk apa?"
"Kalau kau tak mau biar aku berangkat sendiri!"
"Hn?"
"Jangan dekat-dekat."
"Baiklah kita kesana."
"Yoookaii."
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Naruto menatap isi toko dengan pandangan takjub. Entah mengapa semua terasa indah dan lucu. Naruto tidak memperdulikan tatapan penuh tanda tanya para pegawai.
Dengan langkah tergesa Naruto menghampiri deretan kereta dorong. Ada yang berpenutup. Ada yang terbuka. Dari ukuran besar hingga untuk bayi kembar.
Keranjang bayi dengan model berbeda. Ada yang berpagar rendah dan tinggi. Ada yang bersekat dan tertutup rapat. Ada yang khusus lantai hingga berdipan.
Kemudian bak mandi dengan bentuk lucu. Ada yang biasa hingga berbentuk hewan dan buah. Semua terdiri dari pilihan warna umum. Yakni merah muda, biru, kuning, hijau, dan merah.
Naruto kembali bergegas menuju peralatan bayi lainnya. Ada peralatan makan. Peralatan mandi seperti sisir waslap dan tempat sabun, jangan lupa mainan bebek karet warna kuning cerah.
Tapi yang paling membuat Naruto girang adalah pakain bayi. Pakaian bayi laki-laki kini tidak kalah lucunya dengan pakaian bayi perempuan. Meski variasi bentuk masih lebih banyak untuk bayi perempuan. Dan pilihan Naruto jatuh pada kaos kaki tebal yang dihiasi boneka berbentuk smile di depannya. Membuat kaos kaki tersebut bisa di buat sepatu. Kemudian topi musim dingin yang mungkin baru bisa di gunakan pada bayi usia enam bulan.
"Bolehkah aku memiliki ini?" Ucap Naruto dengan wajah sendu. Namun yang di tanyai hanya menunjukan ekspresi 'cepatlah! kemudian ayo kita pulang'.
"Kita sudah disini mana mungkin tak membeli apa-apa?" Ucap Sasuke terdengar jengah. Naruto tertawa. Pasti Sasuke merasa malu. Karena wajah remajanya pasti di pertanyakan 'apakah sudah punya anak?' membuat Sasuke merasa suntuk.
"Baiklah. Aku akan membelinya."
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
Di sebuah sedan bermerk-kan Range Rover. Terdapat dua pria yang sedang dalam keadaan mood senang dan mood suntuk. Hal itu di karenakan oleh...
"Teme lucu tidak? Ini baju bayi laki-laki. Tapi bisa di pakai buat bayi perempuan. Kalo ini bando. Otomatis untuk bayi perempuan. Yang ini sepatu. Entah kenapa aku pikir anak kita laki-laki. Padahal aku berharap perempuan." Sepanjang perjalanan pulang, Naruto terus mengoceh soal benda yang ia beli.
Mendadak sasuke menyesal mengiyakan Naruto ke toko tersebut. Pasalnya barang yang ia beli masih lama akan di gunakan. Kan mubazir jika rusak karena terlalu lama disimpan.
Belum lagi tingkah para pegawai saat menemani Naruto di kasir. Seolah ia adalah kue tart yang siap di makan. Dan itu membuat Sasuke risih. Dan untuk mengurangi tatapa lapar tersebut. Sasuke bersedia mengurangi tingkat harga dirinya dengan mengganden tangan Naruto mesra selama mengantri.
"Oh ya?" Naruto teringat akan suatu hal. "Benang dan jarum pemintalnya belum beli. Teme kumohon putar balik."
Sasuke yang mendengarnya mendesah. Mengalah. Dan bersabar. "Baiklah. Kita akan beli dimana?" Tanyanya akhirnya.
"Toko yang tadi." Jawab Naruto santai.
"APAAA?"
.
K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a
.
To Be Continued.
Hiyakssss...
Apaan ini? Bersabung dengan tidak elite...
Next Chap adalah konflik utama...
Dan saya beritahukan...
tes tes tes...
Fanfic ini berakhir di chap 8...
Yayyyyyyyy hore ...
Insyaallah tapi
Ya udahlah...
tetp RnR ya?
Balas Review
uzumakinamikazehaki : Makasih udah Review ya...
Deathberry45 : Makasih udah Review ya...
hanazawa kay : Makasih udah Review ya...
Temeiki Ryu :Makasih udah Review ya...
RisaSano : Hahaha Makasih udah Review ya... di tunggu aja ya...
Himawari Wia :Makasih udah Review ya...
reiasia95 : Makasih udah Review ya...
Ayuni Yukinojo : Makasih udah Review ya... Pasti akan ada masalah utamanya. Tapi pihak ketiga tidak ada... Just Sasunaru
DarkLiliy : Makasih udah Review ya...
zaladevita : Makasih udah Review ya...
Vianycka Hime : Makasih udah Review ya...
Qeem : Makasih udah Review ya... Bocorin g ya?
Hacia Hikari : Makasih udah Review ya... Reviewmu sangat memnyemangatiku...
asagi08 :Makasih udah Review ya...
Clasic : Makasih udah Review ya... Bukan... Bukan menma... tapi *sensor*
nurkwang love : Makasih udah Review ya... Makasih tebakannya...
Buad para Silent Rider... sayah butu refresi kalian...
Dan yang udah nebak naruto adalah cewek *SELAMT*
