Disclaimer
Naruto
© Masashi Kishimoto

Pairing
SasuNaru

Warning
M-Preg, Yaoi, Boy's Love, Sho-ai, Ooc tingkat dewa
Typo(s) bertebaran. Ini udah penyakitku.
Romance/Hurt/Comfort/Angst?

Rate M
Bukan untuk adegan 'lemon'.
Melainkan untuk Hardcore/Scene berdarah.
Muncul sewaktu Naruto melahirkan.

Summary
Naruto Sakit. Dia sekarat.
Menjelang kelahiran bayinya dia berpesan.
'Teme. Jaga anak ini untukku.'

M-Preg, It's Not My Destiny
© Kanami Aya

Status
In-Progres

Chapter 8
Memilih adalah Sebuah Ancaman

Don't Like Don't Read
RnR

.

.

.

Kabar gembira, Fic ini gak berakhir di chapter ini.
Biar lebih kerasa konfliknya.


.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

"Bagaimana keadaannya dok?" Sasuke menggenggam tangan Naruto kuat. Wajahnya tak henti-hentinya memandangi layar yang terpasang di hadapannya.

Monitor yang menampilkan pergerakan anaknya. Meski ia tak mengerti apa yang ia lihat. Entah itu kepala atau pantat. Entah itu kaki atau tangan. Tapi yang ia tahu bahwa anaknya hidup! Anaknya merasa nyaman dalam kandungan Naruto. Bahkan dengan bantuan sonicaid, denyut jantung bayinya sudah bisa didengar olehnya.

Bayi merupakan makhluk kecil yang senang bermain. Bayi mungkin telah menjumpai mainan pertamanya yakni tali pusat, yang akan dengan senangnya ditarik-tarik dan dipegangnya. Atau kadang menimbulkan gerakan menendang, menekuk, meraih, berguling, atau bahkan mengisap ibu jarinya.

"Baik. Panjang dan beratnya sesuai dengan usia kandungan yang memasuki minggu ke 20. Kini panjangnya sekitar 25,4 cm dan beratnya sekitar 260 gram. Jari-jarinya lengkap. Sementara ini tidak ada tanda-tanda kecacatan." Jelas Shizune.

"Benarkah?" Tanya Sasuke antusias. Menyekesampingkan watak stoic nya.

Disampingnya, Naruto hanya menatap sendu Sasuke. Menikmati perubahan raut wajah suaminya. Sengaja membiarkan Sasuke bertingkah layaknya seorang ayah. Terlihat sangat perhatian. Sasuke akan selalu terlihat seperti ini saat menyangkut tentang bayinya.

"Bulan depan jangan lupa periksakan kembali." Shizune mengalihkan topik. Tidak ingin menjelaskan hal yang telah jelas.

"Shizune-san. Boleh aku minta vitamin?" Naruto mencoba duduk di ranjangnya.

"Aku selalu merasa lelah saat membersihkan rumah."

"Kalau begitu lebih baik kau kurangi kegiatanmu itu." Shizune menghadap Naruto. Menyiratkan bahwa perkataannya adalah benar.

"Apa aku perlu menyewa jasa pembantu?" Sasuke ikut menimpali perkataan Shizune. Naruto menggeleng.

"Bukan aku yang ingin melakukannya. Tapi dia." Naruto mengelus sayang perutnya yang mulai membuncit.

Direngkuhnya belakang kepala Naruto. Dikecupnya kening berwarna tan itu. "Aku mohon, kurangilah kegiatanmu itu. Bukan hanya dia yang aku hawatirkan. Tapi kesehatanmu juga."

"Aku merasa bosan jika harus berdiam diri terus di rumah Teme." Kilah Naruto. "Jika aku terus diam. Aku selalu memikirkanmu. Bayangkan! Kau pergi jam delapn pagi dan kembali jam lima sore. Aku kesepian. Aku─" Ucapan Naruto terhenti. Saat dirasakannya tubuh Sasuke mendekat. Meletakan kepalanya tepat di perut Naruto. Merasakan sedikit pergerakan didalam sana. Meraba bagian perut yang terasa menonjol.

"Hei jagoan!" Panggil Sasuke pada si jabang bayi. Sedikit tertawa juga pada tingkahnya. Jelas bahwa dia masih belum tau jenis kelamin calon anaknya─Sasuke dan Naruto sepakat tidak ingin mengetahui kelamin anaknya sampai ia lahir. Tapi dari gelagatnya Sasuke sudah menganggap bahwa anaknya kelak adalah lelaki.

"Apakah kau menyayangi oka-sanmu? Apakah kau tak ingin melihat wajah oka-sanmu? Jika iya. Bantulah otou-san. Otou-san sadar bahwa otou-san belim bisa menjadi suami yang baik baginya. Jagalah oka-san saat otou-san tak bisa di sampingnya. Jangan buat ia merasa lelah. Buatlah kehamilannya justru terasa mudah," Sasuke menyempatkan mencium perut Naruto di tengah curhatannya kepada sang anak.

"─kau tau apa harapan oka-san 'kan? Otou-san kini sedang berusaha mewujudkannya. Mewujudkan keinginan oka-san untuk memiliki rumah di tempat paling indah di negara ini. Kau mau membantu otou-san 'kan?" Sasuke mengepalkan tangannya. Kemudian diarahkan kearah perut Naruto. Seolah sedang adu jotos dengan sang jabang bayi.

Jleb

Sasuke tertawa. Seolah sang anak mengerti dengan perkataannya. Tepat saat kulit tangannya menyentuh perut Naruto. Sasuke dapat merasakan sesuatu menonjol tepat di bagian perut yang menempel dengan kepalan tangannya.

Sebenarnya bukan hal langka. Sebab ia telah mengetahui jika pada usia kehamilan ke minggu delapan belas, bayi dalam kandungan telah dapat mendengar suara dari luar. Ia bahkan bisa terkejut jika suara yang didengarnya muncul dengan tiba-tiba dan dengan inotasi tinggi. Tapi kali ini mungkin memang telepati seorang ayah dan anak sangat kuat.

"Anak pintar." Ucap Sasuke pada akhirnya. Tak lupa ia hadiahkan sebuah ciuman lembut untuk sang anak yang masih berada dalam kandungan Naruto.

"Sudah merasa baikan?" Sasuke beralih menatap Naruto. Yang ditatap hanya menggigit bibir bawahnya dengan memperlihatkan wajah sendu. "Hei." Sasuke menarik belakang kepala Naruto dan menempelkannya di dada bidangnya, saat di lihatnya Naruto mulai menahan tangis "Aku hanya ingin kau ingin yang terbaik untuk istriku dan calon anakku. Bukankah tidak sulit melaksanakan permintaanku? Aku hanya ingin kau lebih beristirahat. Kau bisa melakukannya?" Sasuke merasakan anggukan kepala Naruto di dadanya. "Terimakasih." Sasuke mencium puncak kepala Naruto lembut. Menyalurkan segala perhatiannya.

"Ehem." Dehaman Shizune mengintrupsi kegiatan Sasuke dan Naruto. "Baiklah Naruto-san. Aku akan memberikan takaran vitamin yang sesuai untuk kau konsumsi selama kau hamil. Selebihnya, hanya Narto-san sendiri yang bisa mengontrol. Pergerakan memang di butuhkan selama hamil. Tapi tetap harus memiliki batasan. Jika memang Naruto-san ingin banyak bergerak. Ada saatnya nanti dimana di akhir bulan kedelapan kehamilan kau memang di haruskan banyak bergerak." Shizune menyerahkan coretan resepnya pada Sasuke.

"Sebenarnya tidak ada masalahnya jika Naruto-san meminta vitamin. Karena pada minggu ini mungkin memang Naruto-san akan merasa sulit untuk tidur nyenyak sebab mengalami panas di dalam perut atau gangguan pencernaan. Muncul keluhan seperti mudah lelah, sakit punggung, pegal-pegal dan pinggang atau otot terasa linu." Mendengar paparan Shizune, Naruto hanya menganggukan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Shizune.

"Baiklah kalau begitu kami mohon pamit Shizune-san." Ucap Sasuke seraya menjabat tangan dokter kandungan istrinya tersebut. Disusul dengan Naruto yang ikut menyalaminya.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Sasuke sibuk memilah dokumen-dokumen kerjanya seraya tangannya yang lain sibuk mengetik beberapa rancangan proposal yang harus ia serahkan akhir minggu ini. Semua pekerjaan yang tampak seperti pekerjaan rumah tersebut ia kerjakan di ruang tengah.

Sengaja ia melakukan ini. Agar Naruto merasa bahwa ia tak sendiri. Meski Sasuke sibuk dengan pekerjaan kantor, dengan hal ini ia akan terlihat tetap bersama sang istri, yang kini sedang sibuk di dapur. Menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Naruto.

"Ne Teme? Bahan masakan hanya cukup untuk minggu ini. Maukah kau menememaniku belanja sabtu depan?" Tanya Naruto dari arah dapur beriringan dengan suara pisau yang sibuk memotong sesuatu.

" Hn." Jawab Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop Apple di depannya.

"Hn apa? 'Hn' tidak, apa 'Hn' iya?"

"Hn."

"Aku butuh jawaban yang jelas Teme. Dan itu bukan aksen 'Hn' milikmu itu." Gerutu Naruto kali ini di barengi dengan suara desisan wajan panas bertemu hal basah. Entah apa itu. Bisa sawi. Bisa tomat. Atau hal lainnya.

"Hn. Iya dobe. Sudah puas?" Jawab Sasuke ketus. Meskipun Sasuke tidak dapat melihatnya. Tapi Sasuke yakin bahwa Naruto sedang tertawa 'menang' di dapur sana.

"Setelah itu aku mau membeli sesuatu di toko yang terakhir kita datangi. Kemarin aku tak sengaja lewat sana. Dan aku melihat pakaian yang sangat lucu. Aku ingin membelinya." Kini yang terdengar dari dapur adalah suara piring-piring ditata. Mungkin masakannya telah siap.

"Dimana? Toko tempat kita membeli keranjang bayi?" Sahut Sasuke. Namun matanya kini sedang berkonsentrasi penuh pada pola statis di layar laptopnya. Namun yang terjadi berikutnya sungguh membuatnya menaikan sebelah alisnya.

Naruto yang ia sadari tadi berada di dapur kini sudah berada di depan wajanya. Laptop yang tadi terbuka ditutup paksa oleh Naruto. "Apa?" Tanya Sasuke ketus.

"Aku ingin membeli baju di toko yang terakhir kita kunjungi." Ulang Naruto.

"Beli lagi?" Kini Sasuke benar-benar menjeda pekerjaannya. "Bayi kita masih lama lahirnya Dobe. Buat apa beli sekarang? Baju yang terakhir kau beli saja baru bisa 'dia' pakai saat umurnya sepuluh bulan." Papar Sasuke.

"Ini yang terakhir." Naruto mengatupkan kedua tangannya tepat di depan wajahnya. Pose memlas paling ampuh saat merayu Sasuke.

"Akh. Kuso." Sasuke bangkit dari posisi duduknya. "Aku lapar. Ayo kita makan."

"Bilang setuju dulu Teme." Naruto ikut bangkit dan menyusul Sasuke. "Hei. Jangan acuhkan aku."

"Aku bilang aku lapar." Ujar Sasuke saat langkahnya menuju meja makan terhalangi oleh lengan Naruto yang menahan lengan kemejanya.

"Terakhir kali." Kini Naruto menggunakan jurus matanya.

"Jangan hari ini. Aku sibuk sampai minggu depan." Sasuke kembali melangkah menuju meja makan. Peduli amat kalau ia harus berjalan sedikit terbebani karena harus setengah meyeret Naruto.

"Berarti tiga minggu lagi." Naruto mencoba membuat kesimpulan.

"Aku tidak bilang begitu."

"Tapi kesepakatan sudah bulat."

"Kapan kita buat kesepakatan."

"Baru saja."

"Aku tak ingat mengatakan kata sepakat."

"Bukankah tadi itu artinya sepakat?"

"Aku hanya bilang aku sibuk sampai minggu depan."

"Jadi kau tak bisa menemaniku?" Kini wajah Naruto benar-benar menampilkan aksen kecewa berat. Membuat Sasuke tersenyum melihat wajahnya.

"Aku akan menemanimu." Ucap Sasuke pada akhirnya.

"Serius. Kau tidak membohongiku." Seperti tokoh kartun yang wajah bisa diubah sedemikian cepat. Naruto yang sedetik tadi berwajah musam. Kini kembali sumingrah.

"Tentu. Asal aku diam di mobil." Bukan tanpa alasan ia lebih memilih berdiam diri di dalam mobil. Pasalnya mata para pramuniaga di toko tersebut selalu menampilnkan wajah lapar saat melihatnya.

"Tidak masalah." ucap Naruto pada akhirnya. Kemudian duduk bersebelahan dengan Sasuke di meja makan.

"Ittadakimasu." Naruto mulai memakan masakan tumis sawi putih dengan jamur dan udang didalamnya.

"Sementara disampingnya Sasuke sedang berpikir keras. Biasanya Naruto sangat memaksa dirinya untuk ikut masuk ketempat belanja manapun yang Naruto masuki. Tak peduli bahwaa ia telah protes. Tapi kali ini? Kenap Naruto tidak memaksanya. Apakah benar selentingan yang ia dengar. Bahwa seseorang yang tengah hamil itu akan lebih mencintai bayinya ketimbang pasangannya? Tapi pada akhirnya ia hanya membiarkannya.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Sasuke membuka ruangan yang kelak akan menjadi kamar anaknya. Menyalakan lampu untuk menerangi seluruh bagian kamar. Di sampingnya Naruto ikut menyasikan. Dalam rangkulan tangan kirinya ia dapat melihat raut wajah Naruto yang sama tak sabarnya seperti dirinya, tak sabar melihat tingkah ramai anaknya kelak. Tingkah yang mungkin akan membuat kamar ini terasa 'hidup'.

Dala kamar berukuran tiga kali tiga meter itu memang terasa terlalu luas untuk seorang anak yang bahkan belum lahir. Tapi bukan itu tujuannya. Dari empat kamar yang ada di rumahnya. Sasuke memang memilih kamar ini untuk anaknya kelak. Bukan tanpa alasan, hal ini karena kelakuan Naruto yang mendadak berubah menjadi shopaholic.

Setiap akhir minggu Naruto akan menyeretnya membeli kebutuhan-kebutuhan bayi. Lihat saja ruangan ini sudah siap pakai bahkan anaknya saja belum lahir. Tempat tidur bayi tertata apik di bagian sisi kiri dekat jendela, lengkap dengan tirai penghalau nyamuknya. Lemari pakaian untuk bayi usia 0-4 bulan tertata rapi di laci nomor satu dan laci nomor dua. Sementara laci nomor tiga dan empat adalah pakaian bayi usia 6-10 bulan.

Disamping lemari pakaian terdapat pakaian lain khusus untuk mainan. Tidak tanggung-tanggung. Mainan untuk bayi laki-laki dan perempuan ada disana. Di depan lemari terdapat karpet dengan tekstur bulu halus. dapat digunakan untuk bermain dan mengganti popok anaknya kelak. Dan dari semuanya yang dapat disimpulkan adalah, semua serba berwarna biru. Entah biru tua atau muda. Entah biru terang atau pudar.

"Teme. Apakah kau sudah bisa membayangkannya?" Naruto merapatkan kepalanya di dada Sasuke. "Saat nanti anak kita telah bisa berjalan. Berbicara dan menjadi berisik sepertiku. Mencorat-coret semua sisi tembok." Naruto tertawa malu membayangkan hayalannya sendiri.

"Kalau aku hanya berharap ia akan tumbuh menjadi lelaki sejati sepertiku. Bukan sepertimu. Dari semua yang aku harapkan akan anak kita tiru hanya mata dan senyummu. Selebihnya aku akan berharap ia mewarisiku." Mendengar paparan Sasuke, Naruto lantas mencubit pinggang Sasuke.

"Aduh. Sakit Dobe." Protes Sasuke

"Yah. Sepertinya itu yang terbaik. Hitung-hitung memperbaiki keturunan." Naruto kembali akan merangkul Sasuke, Namun Sasuke mencegahnya. Tangannya ia arahkan untuk menangkup kedua pipi Sasuke.

"Tapi aku tidak keberatan saat dia lebih identik denganmu. Karena aku akan melihatmu kembali tumbuh dalam dirinya. Kembali mencintai dirimu dalam dirinya. Kembali mengajarkan arti cinta yang sesungguhnya. Hingga pada saatnya nanti ia akan dimiliki oleh jodohnya kelak."

"Haha. Kau terlalu jauh Teme. Bahkan dia saja belum lahir. Kau sudah berfikir tentang jodohnya." Tawa Naruto.

"Kau yang memancingku─" Sasuke membatalkan melanjutkan protesnya, saat dilihatnya Naruto melangka menjauh.

"Ne Teme, apakah kita bisa menjadi orang tua yang baik?" Naruto menyisiri pinggiran keranjang bayi dengan tangan kanannya.

Perlahan Sasuke menghampiri Naruto. Di usapnya bahu pemuda yang ia ingat kini akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak. "Bukankah kita memang orangtua yang hebat? Dari semua masalah yang telah kita hadapi, dan kini terbukti kita masih tetap bersama?"

"Justru dari masalah itu, aku merasa kita sangat tidak pantas menjadi orangtuanya. Memutus hubungan keluar? Bukankah itu perbuatan yang kejam? Meski ia memiliki kita. Bukankah tidak mungkin ia menanyakan keluarganya yang lain bukan?" Naruto mengusap perutnya. Menyalurkan rasa bersalahnya pada sang anak.

"Hei." Sasuke menghadapkan pandangan Naruto untuk menatap matanya. "Kita pasti akan menjadi orangtua yang baik. Aku janji." Sasuke menatap dalam safir Naruto. Membuktikan bahwa ia benar-benar bersungguh-sungguh.

Naruto menyentuh wajah sasuke dengan tangan kirinya. "Terima kasih banyak Sasuke. Terimakasih karena telah mencintaiku. Terimakasih karena telah menerima ku apa adanya aku. Terimakasih atas semua pengorbananmu. Aku yakin kau akan menjadi ayah yang baik. Yang hebat untuk anak kita." Naruto mencium kening sasuke lama. Sebagai ucapan terimakasih yang mendalam. Menciptakan pemandangan yang aman menyejukan.

"Kau memancingku lagi?"

"Memacing apa lagi?" Naruto kembali bertanya. Menghilangkan wajah romantisnya beberapa saat lalu dan menggantikannya dengan wajah terheran. Sementara Sasuke melihatnya hanya tersenyum licik.

"Kau seharusnya tau. Jangan terlihat manis saat malam."

"Te-Teme?" Naruto kini mengerti maksud dari perkataan Sasuke.

"Layani aku." Pinta Sasuke. Tegas. Namun tidak memaksa. Jika saat itu Naruto berkata tidak. Ia tidak akan melanjutkan niatnya. Persetan ia harus menyelesaikan masalah pribadi dengan cara apa. Tapi yang keluar dari bibir Naruto bukan kata 'tidak' melainkan 'iya'. 'Iya' dalam artian ikhlas. Rela. Setuju. Karena Naruto sadar ini adalah tugasnya. Kewajibannya.

Dan malam itu. Kembali mereka menyatukan cinta mereka dalam bentuk tindakan. Tindakan yang menyebabkan anaknya kini tumbuh dalam rahim Naruto. Namun saat Naruto mengandung. Sisi dewasa Sasuke lebih terlihat.

Bagaimana cara Sasuke memperlakukan Naruto dalam berhubungan. Bagaimana cara Sasuke berhati-hati. Bagaimana cara Sasuke membuatnya nyaman. Bagaimana cara Sasuke melakukannya tanpa banyak membuat bergerak namun tetap terasa hangat. Bagaimana cara Sasuke mencapai langit tanpa ada rasa sakit. Bagaimana cara Sasuke membuatnya melambung. Semua seolah sudah diatur oleh Sasuke.

Hingga akhirnya ia tertidur di karpet dalam kamar calon anaknya dengan berbantalkan lengan kekar Sasuke. Membuatnya bermimpi indah dalam tidur tenangnya. Dan sebelum kesadarannya hilang. Naruto dapat merasakan kecupan hangat didahinya. Dan ucapan 'Terimakasih banyak'.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Sasuke mengedarkan pandangannya menyusuri seisi ruangan. Namun ia tidak dapat menemukan Naruto. Perlahan ia mengubah posisi tidurnya ke posisi duduk. Satu hal yang kini ia sadari. Yakni sebuah selimut telah bertengger ditubuhnya.

Hal yang janggal karena biasanya ia yang melakukan ini untuk Naruto. Sebagai ucapan terimakasih atas pelayananny. Tapi kini?

Menggunakan toilet yang ada di kamar tersebut. Sasuke keluar dengan lilitan handuk di pinggangnya. Keluar kamar ia mendengar suara dentingngan wajan dan sutil. Dan yang dilihat pertama kalinya adalah sosok Naruto yang tengah memasak. Dan satu pertanyaan melintas di otaknya. Hebat. Bagaimana ia bisa berdiri tegak seperti itu?"

"Kau menjadi semakin rajin memasak sejak kau hamil." Sasuke merangkul Naruto dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu Naruto. "Padahal dulu kau selalu memakan ramen instan."

"Lau mau anak kita aku ganti asi dan bubur TIM-nya dengan ramen?" Celutuk Naruto. Sasuke tertawa.

"Cepat ganti baju. Ini sudah jam tujuh. Setengah jam lagi kau harus berangkat kerja." Perintah Naruto.

"Apapun untukmu. Oka-san." Goda Sasuke sambil mengedipkan matanya. (Sumpah bagian ini gak tau kenapa muncul diotakku. Membayangkan Sasuke bersikap genit seperti ini. Aku pasti dibunuh Om Masashi. Ooc banget!)

"TEME!"

"Haha. Baik-baik. Aku ganti baju." Ujarnya kemudian melangkah pergi.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Ditengah kesibukan kerjanya yang semakin hari terasa semakin padat. Satu e-mail masuk dalam akunnya. Sepintas ia akan mengabaikan apa isi e-mail tersebut. Namun setelah membaca siapa pengerimnya. Sasuke mengurungkan niat awalnya tersebut.

"Ne, Sasuke-kun. Bisakah kau membantuku untuk mengecek beberapa tayangan untuk iklan minggu depan?" Sasuke kembali mengurungkan niatnya saat suara Jirobo mengintrupsi kegiatannya.

"Baiklah." Ucap Sasuke pada akhirnya. Kemudian mengikuti pergerakan anak buahnya tersebut.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Naruto meletakkan ganggang sapu di dinding terdekat. Menghenyikan kegiatan menyapunya. Naruto merasakannya lagi. Perutnya terasa begah dan sesak. Terkadang rasa panas muncul di bagian tengah perutnya. Sebenarnya ia tela tau bahawa usia kehamilan yang terus bertambah akan menyebabkan perubahan besar pada perutnya. Karena rahim akan berkembang sempurna. Hingga menyebabkan rasa sakit di perut.

Tapi entah kali ini rasanya sungguh aneh. Rasanya seperti tersayat didalam. Sakit yang amat sangat. Dengan bersusah payah. Naruto mencoba melangkahkan tubuhnya ke arah buffet. Mengambil bungkusan berwara putuh dan mengeluarkan isinya. Kemudian tanpa bantuan air Naruto langsung meminum pil tersebut. Tujuannya satu. Agar sakitnya cepat mereda.

Mengesampingkan bahwa yang yang diminumnya adalah vitamin dan bukannya obat. Karena orang yang dalam keadaan hamil sangat tidak di ajurkan meminum obat tanpa resep dokter. Semendesak apapun kondisi, jika menginginkan kandungannya dapat terselamatkan.

Sedikit lama hingga akhirnya Naruto merasa mulai merasa baik. Masih sakit. Tapi tak seperti tadi. Namun yang kali ini masih dapat ditahan.

Kring. Kring.

Bunyi telepon mengalihkan pemikiran Naruto dari rasa sakitnya.

"Ya. Keluarga Uchiha Sasuke. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Naruto saat ganggang telepon sudah menyentuh telinganya.

"Naruto-kun?" Panggil sesosok di seberang sana.

"Itachi-nii?" Tebak Naruto.

"Ya. Ini aku. Bagaimana keadaanmu?"

"Baik. Itachi-nii sendiri?"

"Baik."

"Kalau otou-san dan oka-san bagaimana?"

"Mereka baik. Hanya saja otou-san sedikit sakit."

"Sakit apa?" Rasanya Naruto ingin terbang dari Belanda ke Jepang. Ingin rasanya menyalurkan rasa khawatirnya pada sang ayah mertua. Tapi jangankan menemui langsung. Menyampaikan pesannya melalui Itachi saja ia tidak berani.

"Suami mu mana?" Tanya Itachi. Mengalihkan lamunan Naruto.

"Hha? Oh si Teme? Dia masih bekerja. Ada apa Itachi-nii?"

"Tidak ada. Aku dari tadi menghubunginya tapi tak diangkat. Aku kirim pesan ke alamat e-mail nya tapi tidak di balas. Maka dari itu aku menelponmu. Aku minta tolong suruh dia membuka e-mail ku."

"Oh. Iya nanti aku sampaikan."

"Baiklah kalau begitu. Terimakasih banyak Naruto-kun."

"Baik. Sama-sama." Katakan. Katakan Naruto. Debat Naruto di hatinya.

"Sampai jumpa."

"Sampai jumpa juga."

Klek

Seharusnya kau katakan salammu untuk orangutan Sasuke. Bukan diam saja. Naruto masih berdebat dengan hatinya. Merasa kalah, akhirnya Naruto meletakkan ganggang telepon tersebut.

"Akh." Naruto memegang pingangga. Supaya menahan berat tubuhnya.

Lagi. Aku merasakannya. Lagi. Ada apa ini?

Dengan tertatih-tatih Naruto berjalan menuju kamarnya. Dsan menidurkan tubuhnya. Mencoba beristirahat. Mungkin memang tubuhnya butuh istirahat saat ini.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Pekerjaannya benar-benar menumpuk. Bahkan untuk mengalihkan pikiran ke hal lainnya saja tidak bisa. Sungguh. Jika bisa mengeluh. Ia akan mengeluh. Tapi dara Uchiha yang mengalir di dirinya membuang jauh semua perilaku yang semacam seperti itu.

"Sudah jam enam sore. Kau pulanglah Sasuke-kun. Istirahatkan badan dan pikiranmu." Tegur Shikamaru saat dilihatnya Sasuke masih tengah sibuk dengan dokumen di computer LCD nya. Padahal jam kerja sudah lewat satu jam yang lalu.

"Sedikit lagi. Masih banyak desain iklan yang harus aku perbaiki. Lagi pula aku masih belum lelah." Jawab Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer LCD di depannya.

"Kau bahkan mengerjakan hal yang bukan di bagianmu. Kau hanya bertugas mengarahkan dan mengecek. Bukan membuat iklan."

"Aku tahu. Tapi kalau membiarkan kerja mereka tetap seperti ini. Aku yakin tander kaliini tidak akan berhasil. Sudahlah. Kau tak usah menghawatirkan aku. Pulang saja sana."

"Ck. Menduksai. Aku bukan menghawatirkanmu. Tapi istrimu dirumahmu." Saat itu juga ucapan Shikamaru menyadarkan Sasuke. Selama beberapa detik Sasuke menghentikan kegiatannya. Namun kembali mengetik saat ia sadar tujuannya lembur adalah, agar saat dirumah ia akan fokus pada Naruto.

"Pulanglah." Shikamaru menepuk bahu Sasuke yang masih sibuk mengetik. Kemudian melangkah menjauh.

Sedikit lagi. Batin Sasuke. Sedikit lagi selesai. Dan aku akan pulang.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Jam kantor sudah menunjukan pukul delapan saat ia keluar dari ruang kerjanya. Rasanya lehernya kini benar-benar pegal. Menghadap layar komputer berjam-jam pastilah ada dampaknya.

Saat sampai di kediamannya. Dahi Sasuke tak bisa untuk tidak naik sebelah. Bagaimana tidak. Keadaan rumahnya suda seperti tidak berpenghuni. Semua lampu dalam keadaan mati. Tak terkecuali lampu halaman dan ruang tamu. Padahal ini masih jam setengah sembilan malam. Terlalu sore untuk daerah kota seperti Amsterdam.

Sasuke meletakkan bungkusan ayam goreng paket lengkap di meja tamu. Entah mengapa tadi diperjalanan ia berniat membeli makanan tersebut. Bukannya ia bosan dengan masakan Naruto. Hanya saja ia berfirasat jika ia harus membelinya.

Kemudian tangannya meraih sakelar dan menekannya. Seketika lamu ruang tamu dan teras depan nyala bersamaan. Tombol berikutnya untuk lampu halaman.

Sasuke melangkahkan kakinya menuju dapur. Membuka lemari penyimpanan makanan. Dan benar saja. Tak ada makanan disana. Itu artinya Naruto tidak memasak sore ini. Da di lihat dari gundukan sampah di pojokan dapur, Sasuke dapat menyimpulkan bahwa Naruto belum makan.

Aneh. Ini hal aneh lainnya saat kehamilan Naruto. Ia tak akan melewatkan satu momenpun untu tak memasak. Batin Sasuke.

Pada akhirnya Sasuke memilih mengecek keadaan Naruto. Dan ia menemukan Naruto sedang dalam keadaan tertidur di kamarnya.

"Naruto?" Panggil Sasuke seraya menggoyangkan tubuh Naruto. "Hoy Naruto bangun." Ulangnya. Beruntung ia mendapati pergerakan dari Naruto. Jika tidak. Sudah dapat dipastikan ia akan meluncur ke rumah sakit.

"Ehmm. Kau sudah datang Teme?" NAruto menggeliat setelah terduduk. "Jam berapa ini? Aku belum membuat makan malam untukmu."

"Jam sembilan malam." Sebearnya ucapan Sasuke sangat pelan dan datar. Tapi efeknya bagi Naruto sangatlah besar.

"APA? BAGAIMANA AKU BISA TIDUR SELAMA ITU?" Teriaknya histeris. Ia ingat jika ia tidur jam dua siang. Jika di jumlh berarti ia tidur selam tujuh jam. Ia mulai berfikir, ia tidur apa pingsan. Mengingat rasa sakitnya tadi siang.

"Aduh." Naruto mengerang saat merasakan pergerakan di perutnya.

"Sepertinya ia terkejut. Mendengarmu berteriak seperti itu." Sasuke meraba perut Naruto. Dan pergerakan anaknya masih terasa.

"Maaf. Aku belum membuat makan malam."

"Tak apa. Aku sudah membeli makan di luar untuk kita berdua. Sebaiknya ayo kita makan sekarang. Kasian anak kita jika ia tak mendapat asupan hari ini."

"Baiklah." Sasuke membantu Naruto berdiri, saat dilihatnya Naruto sedikit kesusahan untuk bangkit.

"Hari ini, apakah tidak terjadi apa-apa Naruto?" Tanya Sasuke penasaran. Sedikit menyesesal memilih lembur dan membiarkan NAruto sendirian dirumah. Mengurangi perhatian akan apa saja yang mungkin terjadi pada istrinya tersebut.

"Tidak ada. Masalah tidur terlalu lama tadi ungkin efek dari vitamin yang ku minum." Bohong Naruto. Belum saatnya. Batinnya. Mungkin hanya efek kehamilan yang lain. Naruto mengurungkan niatnya untuk bercerita tentang rasa sakitnya.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

"Ah kenyangnya." Ucap Naruto dengan mulut belepotan.

"Bagaimana tidak kenyang? Kau menghabiskan setengah porsiku?" Ujar Sasuke seraya menghilangkan sisa-sisa makanan di bibir Naruto menggunakan tisu.

"Hehe. Ne Teme. Aku hampir lupa. Tadi Itachi-nii menelponku. Dia berpesan untuk membuka e-mail mu." Naruto mulai membereskan peralatan makan.

"Ah iya aku lupa. Tadi memang ada pesan darinya."

"Aku tidak menyangka seorang Uchiha bisa melupakan sesuatu."

"Kau pikir kita bukan manusia? Tidak bisa lupa?"

"Bukan begitu. Aku hanya kasian pada anak kita, saat dia sudah besar kau sudah lupa-luoaan."

"Aku melupakannya karena aku sibuk Dobe. Bukan karena aku sudah tua." Sasuke hampir saja menggunakan nada suara tinggi, andai saja ia tidak ingat ada anaknya dalam diri Naruto.

"HAHAHAHA."

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Sasuke melepaskan tangan kirinya yang sejak setengah jam tadi sibuk mengelus kepala Naruto. Tangan kanannya yang di genggam oleh Naruto ia coba untuk lepaskan secara perlahan. Agar sang istri tidak terbangun. Dengan tingkah bak seorang pencuri, Sasuke mengendap-endap turun dari ranjang.

Kemudian dibukanya laptop miliknya. Dengan menghubungkan ke jaringan WIFI di rumahnya ia log in ke akun miliknya. Dan membuka pesan di antara pesan-pesan yang masuk hari ini. Pesan dari Uchiha Itachi.


from: uchiha_itachi

to:

subject: Penting.

Hai ototou? Bagaimana kabarmu? Aku harap kau baik-baik saja. Begitu juga dengan Naruto. Maaf jika ini mendadak. Tapi aku berharap kau pulang ke Jepang. Lupakan masalahmu dengan otou-san. Jauhkan emosimu. Aku harap kau bisa mengerti. Karena sekarang otou-san sedang masuk rumah sakit. ia terkena stroke.

Aku mohon, pulanglah. Ia embutuhkanmu?


Hatinya tersa sempit. Udara di paru-parunya terasa menipis. Susah bernafas. Bagaimana tidak? Ayahnya diberitahukan terkena stroke! Akibat dirinya! Anak mana yang tidak terpukul mendapati kenyataan seperti ini. Bahkan anak yang telah meninggalkan rumah sekalipun.

Sebenarnya Sasuke ingin terbang ke Jepang saat itu juga. Tapi kembali teringat akan keadaan Naruto, Sasuke mengurungkan niatnya. Naruto tak boleh mengetahuinya. Tidak saat ia mengandung. Hal ini pasti berdampak pada kehamilannya.

Dan pada akhirnya. Sasuke mengambil satu keputusan. Keputusan yang ia harap tidak ia sesali. Dan ia berharap bisa memperbaikinya di masa mendatang.


to: uchiha_itachi

subject: Maaf.

Baik Aniki. Naruto juga bai. Tapi aku mohon maaf. Saat ini aku tidak bisa. Naruto disini membutuhkanku. Dia sedang dalam kondisi yang tidak mungkin bisa aku tinggalkan. Sekali lagi maaf.

Sampaikan saja permohonan maafku untuk oka-san dan otou-san. Sekali lagi maaf.


Dengan sekali tekan tombol 'enter' pesan yang ditulisnya terkirim.

Maaf. Maafkan aku. Batin Sasuke.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

Hari terus berjalan. Kesibukan Sasuke kini benar-benr menyita perhatiannya hingga sedikit kehilangan waktu bersama Naruto. Sementara sakit yang di alami Naruto makin menjadi. Awalnya datangnya acak. Namun semakin lama semakin kerap terjadi

Setiap bangun tidur dan menjelang tidur. Siang atau sore hari. Sakit itu selalu terasa. Seoalah janin dalam rahimnya berbuat sesuatu yang sangat fatal. Perutnya serasa penuh dan tertarik kencang. Sakit. Amat sakit. Itu yang Naruto rasakan.

Selama ini Naruto selalu menyembunyikan rasa sakitnya dalam kamar mandi. Mencoba tidak memancing Sasuke agar tidak menanyakan hal tersebut.

Tapi seorang Sasuke tidak bisa begitu saja di kelabuhi. Pada suatu pagi─ setelah merasa aneh beberapa minggu belakangan ─akhirnya Sasuke mendobrak pintu kamar mandi dalam kamarnya. Dan mendapati Naruto yang mengerang tertahan dengan memegangi bagian perutnya. Keringat telah membanjiri seluruh bagian tubuh Naruto.

"NARUTO." Sasuke dengan sigap menghampiri Naruto. Menahan tubuhnya agar tidak roboh ke belakang. "Naruto betahanlah." Sasuke membopong tubuh Naruto dan membawanya keluar kamar.

"Sakit. Sakit sekali Teme." Keluh NAruto dalam gendongan Sasuke.

"Aku mohon bertahanlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit." Ucap Sasuke mencoba membuat Naruto tenang. Meski tak bisa dipungkiri bahwa dirinya sendiri tak mampu untuk tenang.

"Sa-sakit Teme."

Sungguh. Mendengar erangan Naruto yang seperti ini sungguh menyayat hatinya. Jika ia bisa. Ia ingin memindahkan rasa sakit tersebut ke tubuhnya. Tapi sayang ia tak bisa melakukan apapun untuk meringankan rasa sakit Naruto.

Sekitar dua puluh menit Sasuke sampai di rumah sakit. Dengan teriakan lantang, para perawat langsung bersikap sigap membawa Naruto keruangan UGD.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.

"Naruto dalam keadaan kritis. Nyawanya terancam jika ia tetap mempertahankan kandungannya." Papar Shizune dengan wajah tertunduk. Menyesala kondisi pasiennya.

"Apa maksudnya?" Sasuke refkek berdiri mendengar paparan dokter kandungan di depannya. "KAU BILAK KANDUNGANNYA BAIK-BAIK SAJA. KENAPA SEKARANG KAU BILANG KANDUNGANNYA MENGANCAM NYAWA NARUTO?" Lepas sudah emosi Sasuke.

"Aku tidak tahu jika akan seperti ini pada akhirnya Sasuke-kun." Shizune tetap bersikap professional. Karena ia tahu, emosi tidak bisa di lawan emosi. "Situasinya memang terbalik. Kandungan Naruto tidak bisa dipertahankan. Atau nyawanya yang akan jadi taruhannya."

"Bagaimana bisa?" Sasuke kembali jatuh terduduk. "Kami sangat menyayangi 'dia'. Bagaimana mungkin aku bisa memilih menyingkirkannya? Naruto pasti akan memilih anak kami. Tapi aku tak akan bisa kehilangan Naruto." Satu tetes air mata jatuh dari mata kanan Sasuke. "Ada apa ini sebenarnya?"

"Ikutlah denganku." Shizune menepuk bahu Sasuke. "Akan aku jelaskan juga padanya. Karena ia juga bersangkutan dan berhak tahu."

Meskipun kini ia merasa lunglai dan tak bgisa apa-apa, Sasuke tetap mengikuti langkah Shizune. Menghampiri kamar inap Naruto. Disana ia tak sampai hati jika harus melihat rekasi Naruto jika telah mendengar paparan penjelasan Shizune.

Sasuke tak tahu. Tak tahu harus bagaimana. Ia bingung. Takut. Tak mau membayangkan seperti apa reaksi Naruto nantinya. Karena setelah memasuki kamar Naruto. Maka ia akan mendapati kenyataan baru. Naruto atau anaknya.

.

K-a-n-a-m-i ^.^ A-y-a

.


To Be Continued


Ok fix. Saya tidak jadi menamatkan di chapter ini. Biar lebih kerasa konfliknya.

Oh ya. Maaf ya baru update. Butuh waktu lumayan lama untuk menumbuhkan feel menghadap laptop setelah sebulan lebih gak megang laptop. (Kecuali nugas )

Gimana nih chapter ini? Kurang apa? Sudah bisa menumbuhkan rasa feel lagi sama fanficku ini kah?

Rencananya saya mau make nama Uzuha buat nama anaknya SasuNaru. Artinya -HA. Gimana nih? Apa pakek nama lain? Soalnya nanti kalo pakek Uzuha saya jelasin kenapa mereka ngasih nama itu?

Makasih banyak yang udah support dan tetep ngikutin.


Saatnya balas review

autum panda : Wah maaf. Saya butuh referensi nih. Tugas yang menumpuk juga berpengaruh. Bayinya masih rahasia. Tapi dari potongan-potongan cerita udah kebaja Kalo masalah ending. Liat entar deh. Makasih udah review ya?

humusemeuke : Iya . Makasih udah review ya?

L-Guest : hahaha. Saya butuh referensi nih. Tugas yang menumpuk juga berpengaruh. Iya udah di coba di panjangin. Tapi otak saya cumin segini yam au bagaimana lagi? Ini bukan bahasa jerman. Tapi belanda LOL. Makasih udah review ya?

altaosappire : enggak. disini ia orangtua yang tidak bertanggung jawab. Makasih udah review ya?

mifta cinya : Gak jadi end. HOREEEEE. enggak. disini ia orangtua yang tidak bertanggung jawab. Makasih udah review ya?

Yun Ran Livianda : aduh bingung balas reviemu. Tapi aku makasih banget atas supportnya. Aku akan berikan yang terbaik. Makasih udah review ya?

Arum Junnie : Ok Makasih udah review ya?

reasia95 : Makasih udah review ya?

Tico Michaelis : Gak jaadi ending. Maaf. Makasih udah review ya?

Neko Twins Kagamine : Makasih udah review ya? Endingnya di tunggu aja.

RisaSano : Sepertinya pertanyaanmu akan di jawab di next chap. Makasih udah review ya?

Deathberry45 : Makasih udah review ya? Aku usahain cepet kok

Himawari Ria : Hahah iya kah? Maaf deh. Tapi lain kali aku coba menetraisir. Nyoba doing loh ya? Makasih udah review ya?

uzumakinamekazehaki : Makasih udah review ya?

hanazawa kay : Makasih udah review ya?

Astia aoi : iya Makasih udah review ya?


Minna Makasih ya udah support aku?