Kepala bersurai merah muda itu perlahan menyembul dari balik pintu rumah keluarga Haruno. Ia mengintip waspada kediaman yang berada di sebelah kiri rumahnya. Setelah merasa keadaan sudah aman, gadis itu berjinjit pelan menuju pintu pagar dan membukanya hati-hati.

Haruno Sakura mengendap-endap berjalan di depan kediaman Uchiha. Ia takut jika si bungsu akan melihatnya dan melakukan hal-hal aneh lagi seperti kemarin. Jadi, ia memutuskan untuk meminimalisir hawa keberadaan agar si bungsu Uchiha tidak menyadari eksistensi gadis itu.

Setelah memastikan keadaan di kediaman Uchiha sepi dan tidak ada tanda-tanda Sasuke keluar dari rumah yang besar itu, Sakura mengambil langkah seribu agar bisa cepat sampai ke stasiun. Tapi, Sakura hanya bisa berencana dan Tuhanlah yang menentukan.

Sejak gadis berwajah cantik itu mengendap-endap di depan kediaman Uchiha seperti seorang pencuri, Sasuke sudah mengawasinya dengan senyum tertahan. Ia memerhatikan tingkah Sakura dari kamarnya yang terletak di lantai dua.

"Apa yang sedang ia lakukan?" gumam Sasuke melihat tubuh Sakura membungkuk di depan pintu pagar rumah Sasuke.

"Heeee, rupanya mau menghindariku?" Sasuke menyeringai melihat Sakura yang lari bagai dikejar hantu.

Pria tampan itupun menyambar blazer sekolah dan memakai tas sambil melesat pergi menyusul gadis idamannya. Sesampainya di lantai bawah, terlihat Mikoto, Fugaku dan Itachi yang sedang sarapan bersama.

"Sasuke, kau tidak sarapan dulu?" tanya Mikoto agak berteriak melihat anak bungsunya melesat bagai anak panah menuju pintu utama.

"Nanti di sekolah. Ittekimasu!"

"Itterasai!" sahut Mikoto, "apa yang terjadi dengannya?" gumam Mikoto bingung.

Itachi tersenyum dan memakan roti panggang di depannya, "Paling menyangkut Sakura-chan,"

"Hn," Fugaku menyahut sambil menyeruput kopi.

Mikoto mendengus tertawa, "Dasar anak itu,"

Setelahnya wanita Uchiha itu mengomeli Fugaku yang tidak mau memakan sarapan dan Itachi yang menjadi penonton kemesraan kedua orang tuanya.

.

.

.

.

.

.

Standard Disclaimer Applied

Warning!

AU, OOC, Typo, Absurd, Miss-Typo

.

.

.

.

.

.

Agresif

By Chocoaddicted

.

.

.

.

.

.

Enjoy!

.

.

.

.

.

.

.

"Fiyuuuhh..."

Sakura mengelap keringat di dahi setelah berhasil masuk ke dalam gerbong kereta. Setidaknya usaha untuk bangun lebih pagi guna menghindari Sasuke berjalan dengan lancar. Semoga ini adalah pertanda baik untuk hari ini, itulah yang diharapkan Sakura.

Tiba-tiba Sakura merasa ada yang mencolek dirinya dan memersilakan gadis itu duduk di kursi yang kosong. Ia tidak sempat memerhatikan orang yang memberikannya tempat duduk karena gadis itu sibuk mengusap keringat dan mengatur napasnya yang lari enam blok dari kediamannya menuju stasiun kereta.

"Terima kasih,"

Gadis itu berucap sambil perlahan mengangkat wajah untuk melihat siapa orang baik hati yang memberikannya duduk. Seketika itu juga wajah Sakura memucat melihat paras aduhai tampan yang baru mandi dan wangi berdiri menjulang di hadapannya.

"Hn,"

"Ke-ke-ke-kenapa kau ada di sini?" tanya Sakura bingung.

Suara Sakura yang terbata terdengar seperti rapper yang sedang batuk. Wajahnya pucat melihat Uchiha Sasuke berdiri dengan cool di hadapannya. Setahu gadis itu tadi ketika ia mengendap di depan rumah Uchiha, rumah tersebut terlihat sangat sepi dan belum ada tanda-tanda akan adanya aktivitas di dalam rumah tersebut.

"Berangkat sekolah," sahut Sasuke datar sambil menatap langsung emerald di bawahnya.

Sakura menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Sial! Gumamnya kesal.

Sementara itu, Sasuke tersenyum miring melihat Sakura yang kehilangan kata-kata.

Berani-beraninya kau menghindariku. Tunggu hukuman dariku, Sakura, batin Sasuke sambil merencanakan banyak hal di otak jeniusnya.

Kereta berhenti di stasiun pertama dan perlahan kendaraan umum itu menjadi penuh. Sakura melihat seorang nenek tidak mendapatkan tempat duduk. Gadis itupun berdiri sehingga ia dan Sasuke berhadapan. Sasuke menaikkan alis sebelah melihat Sakura yang berdiri di depannya.

"Minggir," ucap Sakura ketus.

"Sebaiknya kau duduk," sahut Sasuke datar.

"Ish! Minggir kataku," Sakura mendorong tubuh Sasuke, lalu menghampiri nenek yang berdiri tak jauh dari pintu masuk kereta.

Sasuke diam memerhatikan gadis itu yang sedang bicara pada seorang nenek tua, lalu ia menuntun nenek tersebut hingga duduk di tempat yang diduduki Sakura sebelumnya. Sasuke tersenyum tipis melihat sikap gadis yang lahir di bulan maret tersebut.

"Terima kasih," ujar nenek itu sambil mengelus tangan Sakura lembut.

"Tidak... Tidak... Nenek lebih membutuhkannya," sahut Sakura tersenyum manis membuat wajah Sasuke secara tidak sadar merona tipis.

Sadar akan seseorang yang memerhatikannya, Sakura menoleh dan menangkap basah tatapan kagum Sasuke. Gadis itu bergerak kikuk dan menjauh dari tempat Sasuke berdiri. Sebisa mungkin ia harus menjauh dari pria tampan itu, jika tidak jantungnya bisa meledak kapan saja.

Di stasiun berikutnya, penumpang semakin bertambah banyak hingga saling berdesakan. Sakura bahkan hampir tidak merasa kakinya menapak di lantai kereta. Badannya yang kecil itu mudah terbawa arus lautan manusia. Ia mencoba mencari pegangan, namun seorang pria berbadan besar mendorongnya hingga nyaris berbenturan dengan pintu kereta jika saja seseorang tidak menahan punggungnya dengan tangan yang kekar.

"Terima ka—" Sakura mendongak melihat Sasuke yang ternyata melindunginya. Gadis itu kemudian menunduk malu, "—sih,"

"Hn," Sasuke bergumam sambil memertahankan posisinya agar tidak menghimpit Sakura.

"Apa kereta di Konoha setiap pagi seperti ini?" Sasuke seperti ditampar sandal Itachi ketika mendengar Sakura mengajaknya bicara.

"Hn," sahut Sasuke yang kini melindungi kepala Sakura karena terjadi guncangan di dalam kereta. Sakura merona menyadari Sasuke mencoba melindunginya.

"Tapi, di Suna tidak pernah seperti ini," Sakura menjawab sambil matanya berkeliling dan yang dapat dilihatnya hanyalah kepala manusia.

"Karena Konoha itu ibukota negara,"

"Aku tahu," Sakura menyahut kesal, "tahu begini lebih baik aku tetap di Suna saja," bibirnya mengerucut tanpa disadari.

Sasuke mendengus kesal dan menatap tajam gadis yang tingginya hanya sampai pundak pria itu, "Jangan pernah berpikiran untuk kembali ke sana,"

"Kenapa? Terserah aku—"

CUP!

"Jika kau kembali ke sana, maka aku akan menyeretmu untuk menetap di sini, di sampingku," Sasuke menyeringai melihat wajah merona Sakura karena baru saja pria itu mengecup bibir ranumnya.

"Menyebalkan," Sakura membuang muka sambil meremas kemeja Sasuke menahan malu. Dan Sasuke tersenyum puas melihat reaksi Sakura.

.

.

.

.

.

.

"Akhirnya aku bisa terlepas dari cowok genit itu,"

Sakura menumpu tubuhnya di lutut sambil mengatur napas yang entah kenapa sejak berangkat sekolah seperti habis lari marathon. Ia berdiri tegap dan merapikan seragam sekolah yang terlihat berantakan akibat berdesakan di dalam kereta. Mengingat kereta membuat Sakura merona karena perbuatan Sasuke yang mencium bibirnya di sana. Ia hanya berharap, semoga tidak ada satu pun orang yang melihat perbuatan Sasuke.

Sakura tidak tahu berada di mana dirinya saat ini. Ia hanya berlari sekencang yang ia bisa setelah melihat kesempatan kabur saat Naruto menghampiri Sasuke di loker sepatu. Yang ia pikirkan saat itu hanyalah menjauh dari Sasuke agar bisa menenangkan diri. Dan di sinilah sekarang ia berada, di taman belakang sekolah yang terlihat angker. Hah? Angker?

Bulu kuduk Sakura meremang dan ia berjalan cepat untuk pergi dari tempat itu. Meskipun Sakura terlihat tsundere, tapi gadis itu tetap takut dengan yang namanya hantu. Ia bahkan pernah pingsan karena masuk ke dalam rumah hantu.

"Na... Na... Na..."

Bulu roma Sakura berdiri begitu mendengar senandung seseorang dari sebuah ruangan bertuliskan "Ruang Kesenian". Gadis itu menelan ludah dan tubuhnya seolah tertanam di lantai. Gadis itu melihat sekeliling dan hanya ia sendiri berdiri di lorong yang menghubungkan bangunan utama sekolah dengan taman belakang sekolah tersebut.

"Na... Na... Na..."

Lagi-lagi Sakura mendengar senandung itu. Ia menelan ludah. Tangan gadis itu gemetar memegang erat tali tas punggungnya. Dengan ragu kaki jenjang itu melangkah mendekati ruangan yang terlihat tidak pernah digunakan tersebut.

"Ini masih pagi, tidak mungkin ada hantu," gumam Sakura meyakinkan diri.

Dengan perlahan kakinya mendekati ruangan tersebut dan mengintip dari jendela. Namun, jendela tersebut tertutup debu tebal hingga Sakura tidak dapat melihat lebih jelas siapa yang berada di dalam ruangan tersebut. Terpaksa, gadis itu meraih kenop pintu dengan tangan gemetar. Saat tangannya hendak sampai di kenop berwarna perak tersebut, pintu itu terbuka dari dalam membuat Sakura keget sampai terjatuh duduk di lantai.

"Kyaaaa!"

BRUK!

"Haruno-san, apa yang kau lakukan di sana?" Sasori menatap bingung Sakura yang duduk di depannya dengan posisi aneh.

"A-A-A-Akasuna," cicit Sakura dengan wajah pucat melihat Sasori berdiri di hadapannya dengan membawa sebuah boneka kayu.

"Ternyata kau suka celana dalam berenda ya?" tanya Sasori dengan wajah datar.

"Kyaaaa! Mesum!"

DUAG!

Sasori pun harus merelakan wajahnya yang dilempar tas punggung Sakura yang maha berat itu.

.

.

.

.

.

.

"Maaf,"

Sakura mengucapkan kata itu penuh penyesalan setelah memakaikan plester di hidung Sasori yang terkena material besi dari tas Sakura. Pria itu bahkan mengaduh nyeri saat Sakura menempelkan plester bergambar bintang tersebut.

"Tidak apa-apa. Aku yang salah telah mengagetkanmu," Sasori mengusap tulang hidungya yang agak membengkak, "omong-omong, tasmu isinya apa saja? Itu berat sekali,"

Sakura menutup kotak obat dan memasukkannya kembali ke bufet yang ada dir uang UKS tersebut.

"Um... Aku memasukkan secara asal buku pelajaran ke dalam sana," sahut Sakura, "agar Sasuke tidak berbuat yang macam-macam lagi padaku," tambahnya dalam hati.

"Oh..." Sasori bergumam panjang dan memainkan boneka kayu berbentuk perempuan yang sejak tadi ia pegang.

Sakura melirik boneka tersebut, "Apa yang kau lakukan di ruang kesenian yang sudah tidak dipakai itu, Akasuna-san?" gadis itu duduk di samping Sasori dengan jarak yang tidak begitu dekat.

Sasori menatap Sakura yang duduk di sampingnya, "Sasori,"

"Hah?"

"Panggil aku Sasori," ujar Sasori menatap langsung ke mata Sakura yang tampak jernih, Sakura yang ditatap seperti itu menjadi salah tingkah, "boleh aku memanggil nama kecilmu?"

"Um, boleh," Sakura menggaruk pipinya yang tidak gatal.

Sasori tersenyum, "Hobiku membuat boneka kayu,"

Sakura menoleh cepat dan memandang boneka perempuan di tangan Sasori dengan mata berbinar, "Apa itu kau yang membuatnya?"

Sasori mengangguk memberi jawaban, "Karena membuat boneka kayu itu berisik dan hanya ruangan itu yang jauh dari kegiatan belajar-mengajar, jadi aku menggunakannya setiap pagi,"

"Kau mengingatkanku dengan Gepetto. Jarang sekali aku menemukan laki-laki yang hobi membuat boneka kayu. Hebat!"

"Orang-orang justru memandang aneh diriku," Sasori menunduk dan berhenti memainkan boneka dengan rambut merah muda itu.

Sakura yang merasakan aura suram dari Sasori menjadi serba salah, "Ti-tidak. Kau tidak aneh! Kau justru keren!"

Sasori menoleh dan menatap Sakura dengan matanya yang sendu, "Benarkah?"

Sakura mengangguk antusias, "Ya! Aku justru iri padamu yang memiliki bakat dalam seni. Aku sangat buruk dalam hal tersebut," gadis itu meringis mengingat ketika kecil pernah menggambar wajah Sasuke yang lebih mirip dengan orang-orangan sawah dan saat itu Sasuke cemberut sampai satu hari penuh.

"Kenapa tiba-tiba aku mengingat kenangan bersama lelaki genit itu?" Sakura menggelengkan kepala mengusir pikirannya yang penuh dengan Sasuke.

"Kalau begitu, kau boleh menyimpan boneka ini," Sasori tersenyum dan menyodorkan boneka berpakaian koboi itu pada Sakura.

"Benarkah?"

"Ya,"

"Terima kasih!" Sakura menerima boneka itu dengan cengiran lebar membuat dada Sasori berdetak dengan kencang.

"Kalau diperhatikan boneka ini mirip denganku," Sakura memainkan boneka itu dengan ceria seperti anak kecil.

"Benarkah? Mungkin hanya kebetulan," sahut Sasori dengan senyum yang sulit ditebak.

Teng! Teng! Teng!

Saking asyiknya mengobrol sampai mereka tidak sadar waktu berjalan dengan cepat dan bel masuk pun berbunyi. Sakura memasukkan boneka kayu itu ke dalam tasnya, lalu menggendong tas tersebut tanpa kesulitan. Sasori menatap takjub gadis tersebut yang begitu kuat.

"Sudah bel. Sebaiknya kita kembali ke kelas," ujar Sakura. Sasori mengangguk dan berjalan lebih dulu ke arah pintu.

"Silakan, Tuan Putri," dengan sikap ala pangeran, Sasori membukakan pintu dan memersilakan Sakura berjalan lebih dahulu.

Sakura tertawa, "Terima kasih, Pangeran," sahutnya dengan lagak seorang putri kerajaan.

Mereka berdua jalan beriringan sampai tiba di persimpangan koridor yang memisahkan kelas science dan social.

"Kita berpisah di sini. Semoga kita bisa mengobrol lagi lain waktu," Sasori tersenyum simpul dan berjalan menuju kelasnya. Sakura sendiri hanya menggangguk menyahut ucapan Sasori.

Di sepanjang koridor kelas social masih banyak siswa-siswi yang mengobrol. Sakura memerhatikan punggung Sasori dan telinganya hampir pecah mendengar jeritan-jeritan penuh damba gadis-gadis di sana ketika Sasori berjalan melewati mereka.

"Apanya yang dianggap aneh..." Sakura sweatdrop melihat kelakukan gadis-gadis kelas social yang agresif dan Sasori yang begitu populer.

"Kau ke mana saja?"

"Sasuke!" Sakura mundur beberapa langkah saat Sasuke bicara tepat di belakangnya.

"Cepat masuk! Kau tidak mendengar bel berbunyi?" Sasuke berucap ketus sambil melipat tangan di bawah dada.

"Ya, aku tahu,"

Sakura berjalan hati-hati melewati Sasuke dan langsung berjalan cepat menuju kelasnya. Setelah memastikan Sakura berjalan menuju kelas mereka, Sasuke memandang dalam diam punggung Sasori yang menghilang ke dalam kelas pria itu. Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan pria bersurai raven itu saat ini.

.

.

.

.

.

.

"Ada pengumuman penting sebelum kalian pulang. Minggu depan kita akan study tour ke Suna. Jadi persiapkan diri kalian dan jangan lupa lusa kumpulkan surat izin orang tua! Sampai bertemu besok!" Kakashi mengakhiri kegiatan belajar di kelas Sakura dan satu persatu murid di kelas tersebut pulang ke rumah masing-masing.

Sakura masih memandang surat izin orang tua itu dengan mata berbinar. Ia akan kembali ke Suna! Artinya ia bisa bertemu dengan Gaara. Sepertinya kami-sama sedang berbaik hati pada gadis itu. Sakura tidak sadar bahwa kini ia sedang tersenyum sendiri membuat lelaki yang duduk di sampingnya menautkan alis bingung.

"Mau sampai kapan kau melihat kertas itu terus?"

Suara menyebalkan seseorang membuat Sakura mengalihkan perhatiannya dan memandang sebal Sasuke.

"Sampai aku puas!" sahut Sakura kesal.

Sasuke mendengus, "Sebegitu senangnyakah kau kembali ke negara pasir itu?"

"Tentu saja! Aku akan bertemu dengan Gaara!"

Ups! Sakura keceplosan, ia menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan.

Sasuke duduk dengan tegap dan memandang gadis di depannya dengan tajam, "Siapa itu Gaara?!"

"A-ah! Aku harus pulang cepat! Hari ini ibu memasak tempura udang," Sakura bangkit dari duduknya dan bersiap pergi, namun Sasuke mencengkram pergelangan tangan gadis itu.

"Katakan! Siapa itu Gaara? Apa dia selingkuhanmu?" Sasuke nyaris berteriak. Untunglah kelas sudah sepi hanya tersisa mereka berdua.

Wajah Sakura memerah mendengar pertanyaan Sasuke. Ia merasa malu karena jika Sasuke bertanya seperti itu, maka pria itu menganggap hubungan mereka seperti sepasang kekasih. Sedangkan Sasuke yang melihat wajah merona Sakura salah mengartikan jika gadis itu menyukai Gaara.

"Se-selingkuh apanya! A-aku bahkan tidak memiliki kekasih," sahut Sakura dengan nada memelan di akhir kalimat.

Sasuke bingung dengan jawaban Sakura hingga pegangannya di pergelangan tangan gadis itu mengendur, "Kenapa wajahmu merona seperti itu?!"

Sakura mendengus kesal dan mengempaskan tangannya, "Sudahlah! Lupakan saja!"

"Sakura!" Sasuke mengacak rambutnya gemas melihat Sakura yang pergi dengan langkah cepat keluar kelas.

.

.

.

.

.

.

Sakura melempar tasnya asal dan langsung berbaring di kasurnya yang empuk. Gadis itu menerawang memandang langit-langit kamar. Pertengkaran kecilnya dengan Sasuke tadi di kelas kembali berputar di pikirannya. Kemudian gadis itu mendengus dan memiringkan badan dengan kesal.

"Siapa yang selingkuh dengan siapa? Huh!"

Drrrttt! Drrrrttt!

Sakura merasa ponselnya bergetar. Ia mengambil ponsel dengan warna hijau itu dari saku seragam. Bibirnya tersenyum lebar membaca pesan dari sahabatnya di Suna.

Bagaimana kabarmu?

Sakura segera membalas pesan Gaara.

Baik. Kau sendiri bagaimana?

Tidak lama, balasan Gaara pun tiba.

Aku juga baik, meski di sini sangat sepi tanpamu.

Bagaimana sekolahmu? Apakah semua berjalan lancar?

Membaca balasan dari pria bersurai merah itu, Sakura dengan semangat membalasnya tanpa pikir panjang.

Di sini juga sepi tanpamu.

Sekolahku baik-baik saja jika seseorang tidak datang dan mengacaukan kehidupanku setiap hari. Rasanya aku ingin menggunduli rambutnya yang seperti pantat ayam itu. Atau perlukah aku cat rambutnya menjadi sama seperti rambutku? Aku benar-benar kesal.

Drrrrttttt~ drrrrrttttt~

Sakura agak kaget melihat panggilan telepon dari Gaara tak lama setelah ia menekan tombol send dari aplikasi chatting bernama Line tersebut. Ia segera menekan tombol hijau di ponsel pintarnya dan terdengar suara tawa Gaara yang terdengar keren.

"Kenapa kau tiba-tiba tertawa?" Sakura bertanya bingung.

"Maaf, maaf... Apakah yang membuatmu kesal itu si Sasuke itu?"

Sakura menghela napas kasar, "Bagaimana kau tahu?"

"Karena kau selalu mengatakan rambutnya seperti pantat ayam," sahut Gaara dengan kekehan.

"Kau masih saja mengingatnya," jeda sejenak, "sudahlah lupakan pria aneh itu! Minggu depan sekolahku akan study tour ke Suna!" seru Sakura riang lalu tengkurap menghadap jendela balkonnya yang terbuka.

"Oh ya? Lalu, bisakah kita bertemu? Aku sangat merindukanmu," ada nada bahagia ketika Gaara menyahut ucapan Sakura.

"Tentu saja kita harus bertemu bagaimanapun caranya!" Sakura memamerkan giginya yang putih meski ia tahu Gaara tidak akan bisa melihatnya.

"Aku tidak sabar dengan itu. Baiklah, aku harus berangkat les musik. Kau bersenang-senanglah di sana. Jaa~!"

"Jaa~!" Sakura mematikan panggilan telepon dan tersenyum.

DUG!

Gadis itu menoleh ke arah balkon saat mendengar suara cukup keras dari sana. Seketika ia duduk dan kaget melihat Sasuke berdiri di sana.

"Astaga! Kau membuatku kaget, baka!" Sakura memerhatikan Sasuke yang belum mengganti seragam sekolahnya, "apa yang kaulakukan di sini?!" gadis itu berteriak kesal.

"Aku lapar," sahut Sasuke kalem dengan wajahnya yang datar.

Nyit!

Perempat siku muncul di dahi Sakura.

"Kalau lapar, ya makan!" Sakura menyahut ketus.

"Ibu, Ayah dan Itachi akan pulang terlambat. Di rumah tidak ada makanan,"

Sasuke berjalan mendekat ke arah ranjang Sakura dan merangkak naik ke atasnya membuat Sakura perlahan mundur hingga punggungnya membentur dinding.

"A-a-apa yang kau inginkan?" Sakura berkata gugup dengan wajah memerah karena jarak antara wajahnya dengan wajah Sasuke sangat dekat. Sakura bisa merasakan deru napas pria itu jika dalam jarak sedekat ini.

"Kau ingin aku memakanmu atau membuatkan aku makanan?" Sasuke menjilat bibirnya sensual membuat keringat dingin meluncur dari dahi Sakura.

"Aku akan membuatkanmu makanan!" Sakura dengan cepat mendorong tubuh Sasuke dan lompat dari ranjang. Ia berlari keluar dari kamar meninggalkan Sasuke yang terkekeh melihatnya.

Sesampainya di dapur, Sakura mengatur napas dan menyentuh jantungnya yang berdetak dengan cepat. Melihat mata sayu Sasuke dan lidah pria itu saat menjilat bibir membuat sesuatu berdesir dari dalam diri Sakura. Rona merah pun nampak mewarnai wajah gadis itu.

Tidak, tidak! Ini tidak boleh terjadi! Shanarooooo!

.

.

.

.

.

.

Tidak banyak yang Sakura lakukan di dapur karena semua makanan sudah dibuatkan ibunya sebelum orang tuanya pergi melihat matahari terbenam di pantai Konoha. Beginilah nasib Sakura ketika orang tuanya sibuk bermesraan. Sakura pasti ditinggal seorang diri dengan alasan agar gadis itu tidak mengganggu momen romantis kedua orang tuanya. Sungguh menyebalkan, pikir Sakura. Namun, lebih menyebalkan lagi jika Sakura berada di antara kedua orang tuanya yang sedang kasmaran.

Setelah memanaskan semua makan malam yang dimasak oleh ibunya, Sakura mencuci tangan dan hendak memanggil Sasuke.

"Sasuke! Makan malam sudah siap!" Sakura berteriak dari bawah tangga menunggu Sasuke turun dari kamarnya, namun tidak ada tanda-tanda bahwa lelaki itu akan turun.

"Apa sih yang ia lakukan?" Sakura berdecak kesal dan menaiki anak tangga menuju kamarnya.

"Sasuke, kau tuli ya? Aku memanggilmu dari tadi!" Sakura membuka pintu kamar dan terus mengomel sampai dilihatnya Sasuke sedang tertidur sambil memeluk boneka beruang besar milik gadis itu.

Gadis itu berjalan mendekat dan tersenyum geli melihat wajah polos Sasuke memeluk boneka beruang cokelat tersebut. Tiba-tiba sebuah ide muncul di otaknya. Ia mengambil ponsel yang ada di meja nakas, lalu memotret Uchiha Sasuke yang tertidur begitu pulas. Momen ini tentu tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Andai saja wajah Sasuke bisa sepolos ini jika tidak tidur, Sakura pasti tidak akan menarik urat setiap mereka berinteraksi. Wajah Sasuke yang tertidur ini mengingatkan Sakura dengan Sasuke kecil yang begitu polos. Ia begitu menyukai saat itu, di mana Sasuke tidak bersikap dingin terhadap orang lain. Atau gadis itu yang tidak peka jika Sasuke hanya bersikap hangat pada dirinya seorang saja?

Haruno tunggal itu duduk di pinggir ranjang dan menggoyangkan pelan bahu Sasuke agar pria itu bangun. Bukankah ia yang tadi mengancam Sakura untuk membuatkannya makan malam? Dan sekarang ia malah enak-enakkan tidur seperti ini? Sangat tidak sopan.

"Sasuke, bangun!" Sakura masih berusaha lembut membangunkan bungsu Uchiha itu. Namun, tidak ada pergerakan dari Sasuke.

Perempat siku mulai muncul di jidat Sakura yang lebar.

"Hei! Bangun!" Sakura mulai memukuli Sasuke dengan guling kesayangannya.

"Ugh..."

Sasuke membuka matanya dengan berat hati. Ia menatap tajam Sakura yang mendadak takut merasakan aura tidak bersahabat Sasuke.

"Bisa tidak kau membangunkanku dengan cara lebih lembut?" Sasuke bangun dan duduk di rancang Sakura.

"Aku tadi sudah melakukan hal itu, tapi kau tetap tidur seperti orang mati!" Sakura berkacak pinggang menatap kesal Sasuke.

"Bukankah kau tahu cara yang paling ampuh untuk membangunkanku?" Sasuke menatap emerald Sakura dengan tatapan datarnya. Saat menatap mata Sasuske, Sakura seakan tertarik ke masa lalu.

.

.

.

.

.

.

.

"Sasuke-kun, ayo bangun! Kau sudah berjanji akan menemaniku bermain di taman!"

Sakura kecil mengguncangkan bahu Sasuke beberapa kali. Saat ini ia berada di kamar Sasuke untuk menagih janji sahabatnya yang akan menemaninya bermain di taman dekat rumah mereka sehabis pulang sekolah. Tapi, kenyataannya anak lelaki itu malah tidur siang dengan sangat pulas.

Sakura mencebik kesal dengan bibirnya yang agak maju. Ia naik ke atas ranjang Sasuke dan merangkak di atas tubuh bocah tersebut.

"Sasuke, cepat bangun!" Sakura meninggikan suaranya berharap Sasuke terbangun. Namun, pria itu hanya menggerakkan jarinya untuk menggaruk pelipis.

Sakura kecil menjadi geram. Ia kesal dan sebuah ide melintas di otaknya. Mungkin dengan cara ini Sasuke akan bangun.

Alis Sasuke perlahan bergerak saat merasakan sebuah benda kenyal nan basah bergerak di bibirnya. Benda itu sangat manis seperti bibir Sakura yang selama ini menciumnya. Menyadari hal tersebut, Sasuke dengan cepat membuka mata dan melihat sepasang mata Sakura di atas wajahnya.

Melihat Sasuke sudah membuka matanya, Sakura segera turun dari kasur bocah itu dengan wajah berbinar.

"Ayo, cepat Sasuke-kun! Kita ke taman! Aku tunggu di depan ya!"

Sasuke masih saja berbaring di ranjangnya meskipun Sakura sudah pergi dengan langkah riang. Ia memandang langit-langit kamar dan menyentuh bibirnya dengan jari. Perlahan semburat merah makin menjalar hingga ke telinga. Mulai saat itu, Sakura tahu jurus ampuh membangunkan Sasuke yang sangat sulit dibangunkan ketika tidur.

.

.

.

.

.

.

Ketika bayangan masa lalu itu selesai melintas di otak Sakura, gadis itu langsung menoleh ngeri ke arah Sasuke dengan wajah memerah. Ia melihat seringai menyebalkan tersungging di wajah tampan pria di hadapannya.

"Tidakkah kau ingin mengulangi saat itu lagi?"

Sasuke merangkak di kasur mendekati Sakura yang berdiri di tepi ranjang. Wajah mereka hanya sebatas jengkal tangan, membuat Sakura dapat dengan jelas melihat onyx yang berkilat menggoda.

"Dalam mimpimu!" Sakura mendengus dan pergi dengan menghentakkan kaki.

Sasuke terkekeh melihat kepergian Sakura. Rasanya ia begitu rindu dengan Sakura yang dulu. Sakura yang selalu bertingkah spontan tanpa memikirkan akibat dari hal yang diperbuatnya. Gadis kecil yang begitu imut dan menggemaskan. Bibirnya yang terasa manis saat mengecup bibir Sasuke.

"Kalau begitu, aku akan membuat mimpi itu menjadi nyata, Sakura," Sasuke menjilat bibirnya sendiri membayangkan jika suatu hari nanti Sakura akan melakukan kebiasaannya mencium Sasuke agar pria itu bangun dari tidurnya.

Tidak ada yang tidak mungkin jika Sasuke sudah memantapkan hatinya. Bersiaplah, Haruno Sakura. Akan banyak kejutan manis yang menantimu.

.

.

.

.

.

.

Tsuzuku

.

.

.

.

.

.

.

Terima kasih yang sudah meninggalkan jejak review di chapter sebelumnya. : )

Maaf lama banget updatenya.

Ditunggu review di chapter ini.

Arigatou gozaimasu!

XD